72
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
Menuju Kloning Terapeutik
Dengan Teknik SCNT
Nfmjob!Tfujbxbo-!!Dbspmjof!Ubo!Tbsekpop-!!Gfssz!Tboesb
Tufn!Dfmm!Ejwjtjpo-!!Tufn!Dfmm!boe!Dbodfs!Jotujuvuf-!!Lbmcf!Qibsnbdfvujdbm!Dpnqboz!Kblbsub-!!Joepoftjb
BCTUSBL
Penggunaan teknik
Somatic Cell Nuclear Transfer
(SCNT), baik dalam penelitian kloning reproduktif maupun klo-
ning terapeutik telah dilakukan oleh para ilmuwan di berbagai negara. Teknologi SCNT meliputi suatu teknologi
rekayasa terhadap sel telur, dengan cara mentransfer inti dari sel donor ke sel telur yang telah dikeluarkan inti-
nya (
enucleated oocyte
). Kedua jenis kloning memiliki kegunaannya masing-masing. Kloning reproduktif berperan
penting dalam pelestarian hewan-hewan langka yang hampir punah. Sedangkan, kloning terapeutik bertujuan
untuk menghindari adanya reaksi penolakan terhadap sistem imun pasien dalam terapi sel punca (
stem cell
) .
Keberhasilan suatu penelitian yang menghasilkan sel punca embrionik monyet dengan teknik SCNT akhir-akhir ini
membawa dunia semakin dekat dengan produksi sel punca embrionik manusia dari sel somatik dewasa sehingga
risiko penolakan terhadap sistem imun akan semakin berkurang. Tentu saja hal ini hanya dapat berkembang apa-
bila permasalahan etika penggunaan sel telur donor dapat teratasi.
QFOEBIVMVBO
Apabila anda mendengar kata "kloning", mungkin yang
terlintas di dalam pikiran anda adalah domba Dolly,
domba yang berhasil diklon oleh Ian Wilmut pada tahun
1996. Pada umumnya, topik pembicaraan tentang klo-
ning cenderung hanya membicarakan mengenai salah
satu jenis kloning, yaitu kloning reproduktif. Domba Dolly
merupakan salah satu contoh dari kloning reproduktif.
Sebenarnya terdapat dua jenis kloning, yaitu kloning re-
produktif dan kloning terapeutik. Kedua jenis kloning ini
merupakan penerapan dari aplikasi teknologi
Somatic
Cell Nuclear Transfer
atau SCNT. Saat ini, berbagai
penelitian yang bertemakan kloning terus berjalan di
tengah maraknya isu etika mengenai hal ini.
Uflojl!TDOU
Teknik SCNT berbeda dengan fertilisasi yang terjadi se-
cara alami (Gambar 1). Pada fertilisasi alami, setelah
mengalami pembelahan meiosis, sel telur dan sel
sperma memiliki materi genetik haploid (n). Terjadinya
pembuahan sel telur oleh sel sperma atau fertilisasi
akan menghasilkan embrio satu sel yang memiliki
materi genetik 2n. Kemudian, embrio ini akan terus
berkembang ke tahapan perkembangan selanjutnya
menjadi 2 sel, 4 sel, 8 sel, 16 sel, dan seterusnya.
Berbeda dengan fertilisasi alami, teknik SCNT merupa-
kan suatu teknik rekayasa sel telur dengan cara men-
transfer inti dari sel donor ke dalam sel telur yang telah
dikeluarkan intinya (
enucleated oocyte
).
Enucleated
oocyte
tidak memiliki materi genetik. Oleh karena itu,
untuk mendapatkan embrio konstruksi yang diploid, sel
telur harus direkonstruksi dengan cara mentransfer
sel somatik (2n) ke dalam
enucleated oocyte
1
. Proses
enukleasi sel telur dapat dilakukan secara mekanik
menggunakan teknik mikromanipulasi. Sedang-
kan, proses introduksi sel donor dapat dilakukan
dengan teknik mikroinjeksi. Keberadaan cytocha-
lasin B (CB) pada medium kultur bertujuan untuk
menghambat sitokinesis atau pembelahan sel
sehingga dapat dihasilkan klon embrio diploid
2
.
Aplikasi dari teknologi SCNT adalah pada peneli-
tian kloning reproduktif dan juga kloning terapeu-
tik. Perbedaan tahapan antara fertilisasi alami,
kloning reproduktif, dan kloning terapeutik dapat
dilihat pada gambar 2. Pada perkembangan se-
cara normal (A), zigot diploid terbentuk setelah
Gambar 1. Perbedaan antara fertilisasi alami dan SCNT.
Hasil Penelitian
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
73
terjadi fertilisasi. Kemudian, zigot akan membelah
sampai terbentuk blastosit yang akan menempel pada
dinding uterus sampai akhirnya berakhir pada proses
melahirkan. Pada kloning reproduktif (B), sel donor
yang berupa sel somatik (2n) diintroduksikan ke
enu-
cleated oocyte
. Keberhasilan proses aktivasi embrio
konstruksi secara kimiawi atau mekanik mengakibat-
kan terjadinya proses pembelahan sampai ke tahap
blastosit. Kemudian, embrio "dititipkan" ke
surrogate
mother
untuk dilahirkan secara normal. Sedangkan,
pada kloning terapeutik (C), setelah embrio mencapai
tahapan blastosit, embrio dikultur secara
in vitro
un-
tuk didiferensiasikan menjadi berbagai jenis sel untuk
kegunaan terapeutik.
Lmpojoh!sfqspevlujg
Kloning reproduktif mengandung arti suatu teknologi yang
digunakan untuk menghasilkan individu (hewan) baru. Ge-
netika hewan klon tidak seluruhnya memiliki kesamaan
dengan sang induk
1
. Dengan menggunakan teknik SCNT,
persamaan genetika hewan klon dengan induknya hanya
terletak pada inti DNA donor yang berada di kromosom.
Hewan klon juga memiliki material genetik lainnya yang
berasal dari DNA mitokondria di sitoplasma
1
.
Teknologi kloning reproduktif dapat digunakan untuk
mencegah terjadinya kepunahan hewan-hewan langka
ataupun hewan-hewan sulit dikembangbiakkan. Na-
mun, laju keberhasilan teknologi ini sangatlah rendah.
Domba Dolly merupakan satu-satunya klon yang ber-
hasil lahir setelah dilakukan 276 kali percobaan (3)
4,5
.
Semasa hidupnya, Dolly mengalami kanker paru-paru
dan artritis, dan kemudian meninggal pada usia 6 ta-
hun. Padahal, usia rata-rata domba pada umumnya
mencapai 11-12 tahun
6
.
Gambar 3. Domba Dolly,
hewan mamalia pertama yang
berhasil diklon oleh Ian Wilmut
pada tahun 1996. Dolly menin-
ggal dengan cara disuntik mati
(lethal injection) pada tanggal
14 februari 2003. Sebelum
kematiannya, Dolly menderita
akibat kanker paru-paru dan
artritis yang dialaminya
6
Sampai saat ini, hewan klon yang berhasil diproduksi
jumlahnya cukup banyak, di antaranya adalah domba,
sapi, kambing, kelinci, kucing, dan mencit
1,7
. Sementa-
ra itu, tingkat keberhasilan kloning masih rendah pada
hewan anjing, ayam, kuda, dan primata
1,7
.
Masalah yang kerap kali timbul dalam kloning reproduk-
tif adalah biaya dan efisiensinya. Penelitian dalam klo-
ning reproduktif membutuhkan biaya yang sangat
tinggi dan tingkat kegagalannya tinggi. Di samping
tingkat keberhasilan yang rendah, hewan klon cende-
rung mengalami masalah defisiensi sistem imun serta
sangat rentan terhadap infeksi, pertumbuhan tumor,
dan kelainan-kelainan lainnya.
Penyebab timbulnya berbagai masalah di atas adalah
adanya kesalahan saat pemrograman material ge-
netik (
reprogramming
) dari sel donor
8
. Kesalahan
pengkopian DNA dari sel donor atau yang lebih dikenal
dengan sebutan
genomic imprinting
akan mengakibat-
kan terjadinya perkembangan embrio yang abnormal.
Berbagai contoh abnormalitas yang terjadi pada klon
mencit adalah obesitas
9
, pembesaran plasenta (
pla-
centomegally
)
10
, kematian pada usia dini
11
.
Parameter yang dijadikan sebagai tolak ukur keber-
hasilan dalam SCNT adalah kemampuan sitoplasma
pada sel telur untuk mereprogram inti dari sel donor
dan juga kemampuan sitoplasma untuk mencegah ter-
jadinya perubahan-perubahan secara epigenetik sela-
ma dalam perkembangannya
12
. Dari semua penelitian
yang telah dipublikasikan, tercatat hanya sebagian ke-
cil saja dari embrio hasil rekonstruksi (menggunakan
sel somatik dewasa atau fetal) yang berkembang men-
jadi individu muda yang sehat, dan umumnya laju ke-
berhasilannya kurang dari 4%
12
.
Lmpojoh!ufsbqfvujl!ebo!tfm!qvodb
Kloning terapeutik dengan menggunakan teknologi
mbar 2. Perbedaan antara fertilisasi alami,
kloning reproduktif, dan kloning terapeutik
3
.
74
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
SCNT merupakan
bagian dari terapi
sel punca yang ber-
tujuan untuk meng-
hindari adanya
reaksi penolakan
terhadap sistem
imun pasien pada
saat dilakukan tera-
pi. Dalam beberapa
dekade terakhir, mi-
nat terhadap peneli-
tian sel punca terus
meningkat tajam.
Sel punca memiliki
potensi yang sangat
menjanjikan untuk
terapi berbagai pe-
nyakit sehingga me-
nimbulkan harapan
baru untuk mengo-
batinya. Sampai saat
ini, ada 3 golongan
penyakit yang dapat
diatasi dengan peng-
gunaan sel punca
13
,
di antaranya
adalah:
1. Penyakit
au-
toimun
, con-
toh penyakit
lupus.
2. Penyakit
d e g e n e r a -
tif, contoh
stroke
, Par-
kinson, Al-
zhimer.
3. Penyakit kanker, contoh leukemia.
Sel punca embrionik sangat plastis dan mudah dikem-
bangkan menjadi berbagai macam jaringan sel, seperti
neuron, kardiomiosit, osteoblast, fibroblast, dan sebagai-
nya. Oleh karena itu, sel punca embrionik dapat digu-
nakan untuk transplantasi jaringan yang rusak
14
. Selain
itu, sel punca embrionik memiliki tingkat imunogenisitas
yang rendah selama belum mengalami diferensiasi
15
.
Salah satu cara untuk menghindari terjadinya
graft ver-
sus host disease
(GVHD) adalah dengan menggunakan
sel punca embrionik dengan sel somatik yang bersum-
ber dari pasien itu sendiri sehingga tidak akan ada pe-
nolakan lagi terhadap sistem imunnya
15
.
Dengan menggunakan teknologi SCNT, sel punca em-
brionik yang dihasilkan akan identik dengan induknya
(dalam hal ini adalah
pasien itu sendiri).
Hal itu mengakibat-
kan tidak akan ada-
nya reaksi penolakan
terhadap sistem
imun pasien apabila
dilakukan transplan-
tasi. Secara teoritis,
teknik SCNT memi-
liki potensi besar
dalam dunia kese-
hatan karena dapat
dipergunakan untuk
transplantasi berba-
gai organ dan jari-
ngan pada manusia.
Secara singkat taha-
pan untuk melaku-
kan kloning terapeu-
tik pada manusia
(Gambar 4) adalah
mengambil biopsi
sel somatik dari
tubuh pasien dan
inti dari sel so-
matik tersebut
ditransfer ke
dalam sel telur
donor yang telah
dikeluarkan inti-
nya (
unfertilized
enucleated oo-
cyte
)
16
. Sel telur
hasil manipulasi
dikultur sampai
ke tahapan ter-
tentu dan setelah mengalami berbagai proses akan di-
dapatkan sel punca embrionik. Sel punca embrionik ini
diarahkan perkembangannya menjadi suatu jaringan
atau organ tertentu yang akan dapat digunakan un-
tuk transplantasi jaringan atau organ dan tidak akan
mengalami rejeksi sistem imun pada pasien itu sendiri
(
immunologically compatible transplant
)
16
.
Proses produksi sel punca embrionik melalui teknik
SCNT dapat dijelaskan secara rinci pada gambar 5
17
.
Dengan menggunakan bantuan mikroskop, perge-
rakan sel telur ditahan dengan
holding pipette
. Ke-
mudian, DNA dari sel somatik pasien (yang berada di
dalam
injection pipette
) diintroduksikan ke dalam sel
telur
enucleated
. Sel telur hasil manipulasi dikultur se-
cara
in vitro
menjadi blastosit selama 5-6 hari. Lalu,
Gambar 4. Kloning terapeutik pada manusia
16
.
Gambar 5. Proses produksi sel punca embrionik
17
.
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
75
inner cell mass
diisolasi dan dikultur di cawan petri se-
hingga akan berkembang menjadi sel punca embrio-
nik yang memiliki profil imunologi yang sama dengan
pasien.
Lmpojoh!ufsbqfvujl!qbeb!!nbovtjb
Pada tahun 2005, Perry me-
review
hasil penelitian
Hwang dkk yang telah berhasil menghasilkan sel pun-
ca embrionik dengan menggunakan teknik SCNT
18
.
Pada penelitian tersebut dilaporkan bahwa Hwang dkk
mentransfer inti sel somatik dari 11 donor (8 pria dan
3 wanita) yang berusia 2-56 tahun, ke dalam sel telur
yang telah dibuang materi genetiknya. Donor yang di-
pilih memiliki kondisi-kondisi yang berpotensi dilakukan-
nya terapi sel punca, di antaranya adalah
congenital
hypogammaglobulinemia, spinal cord injury,
dan
ju-
venile diabetes
. Produksi sel punca embrionik hanya
berhasil dicapai dengan menggunakan sel somatik
yang be-rasal dari 9 donor. Akan tetapi, ketika dilaku-
kan analisis independen terhadap data tersebut, telah
diketahui bahwa ternyata sel punca embrionik yang
dihasilkan bukan merupakan sebuah hasil kloning sel
punca embrionik manusia melainkan dihasilkan akibat
terjadinya
partenogenesis
19
. Sejak saat itu,
belum ada lagi peneliti yang melaporkan
keberhasilan produksi sel punca embrionik
manusia.
Fujlb!ebmbn!lmpojoh
Dalam penelitian sel punca, perlu diperhati-
kan juga masalah etika yang timbul dan juga
keterkaitannya dengan hukum yang berlaku
di negara bersangkutan. Menurut sumber-
nya, sel punca dapat diklasifikasikan menjadi
3 jenis, yaitu
adult stem cells,
sel punca yang
berasal dari
aborted fetus
, dan sel punca
dari
preimplanted embryo
.
Pada proses assisted reproduction dengan
cara
in vitro fertilization
(IVF), embrio dihasil-
kan dengan cara pembuahan yang dilakukan
di dalam laboratorium (
in vitro
). Kemudian,
1-2 embrio yang dihasilkan akan ditransfer
ke dalam uterus. Namun, seringkali em-
brio yang telah dihasilkan tidak ditransfer
ke dalam uterus sehingga seseorang yang
memiliki "kelebihan" embrio tersebut diha-
dapkan pada 3 pilihan, yaitu menyumbang-
kan embrio ke pasangan infertil, menyum-
bangkannya untuk kegiatan penelitian, atau
mendestruksi embrio itu sendiri
20
.
Berbagai batasan-batasan dalam peng-
gunaan embrio untuk kegiatan penelitian
adalah bahwa wanita tidak seharusnya mengalami sik-
lus ovulasi tambahan untuk mendapatkan embrio, juga
diharuskan adanya batasan yang jelas antara wanita
yang mengikuti program IVF dan wanita yang memang
secara sukarela menyumbangkan sel telurnya untuk
kepentingan penelitian SCNT
21
.
Pada umumnya, sel telur yang diisolasi diperoleh me-
lalui proses stimulasi pertumbuhan folikel-folikel dalam
ovarium. Proses ini meliputi proses injeksi hormon
penstimulasi secara subkutan setiap hari selama 7-10
hari
21
. Penentuan lokasi sel telur yang akan dikumpul-
kan diperoleh dengan panduan alat USG transvaginal
dan sel telur akan diisolasi melalui proses aspirasi sel
telur dengan menggunakan jarum (Gambar 6).
Nfmbohlbi!nfovkv!lmpojoh!ufsbqfvujl
Pada tahun 2007, Reuters melaporkan bahwa Alan
Trouson dari Stem Cell Research Monash University
berhasil memproduksi 2 grup sel punca embrionik dari
embrio monyet. Sementara itu, Shoukhrat Mitalipov dari
Oregon National Primate Research Centre
di U.S juga
berhasil memproduksi sel punca embrionik yang dilaku-
Gambar 6. Proses pengambilan sel telur donor dengan menggunakan panduan USG
dan jarum aspirasi secaratransvaginal
21
.
76
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
kan dengan menggunakan teknik SCNT. Beliau menggu-
nakan sel kulit sebagai donor sel somatik yang berasal
dari monyet resus jantan yang berumur 10 tahun, lalu
ditransfer ke sel telur yang telah dienukleasi. Mitalipov
juga telah berhasil mendiferensiasikan sel punca embri-
onik tersebut menjadi sel jantung dan neuron
22
.
Penemuan ini menunjukkan bahwa teknologi kloning
terapeutik sudah sangat memungkinkan untuk dapat
diaplikasikan kepada manusia. Keberhasilan Mitalipov
membuat para ilmuwan semakin dekat kepada produk-
si sel punca embrionik manusia dengan menggunakan
teknik SCNT sehingga mengurangi risiko terjadinya
penolakan imun pada terapi sel punca. Para ilmuwan
berharap bahwa nantinya
kloning terapeutik
(meng-
gunakan sel punca embrionik manusia) akan dapat
diaplikasikan ke berbagai penyakit, seperti
sclerosis,
cardiac illnesses, spinal damage
, dan sebagainya.
Ebgubs!Qvtublb
1. U.S Department of Energy Office of Science. Cloning fact sheet. Hu-
man Genome Project Information. http://www.ornl.gov/hgmis
2. Kishigami S, Wakayama S, Thuan NV dkk. Production of cloned mice
by somatic cell nuclear transfer. Nat Protoc. 2006;1(1):125-38.
3. Fischbach GD, Fischbach RL. Stem cells: science, policy, ethics. J Clin
Invest. 2004;114(10):1364-70
4. Campbell KHS, McWhir J, Ritchie WA, Wilmut I. Sheep cloned by
nuclear transfer from a cultured cell line. Nature.1996;380:64-6.
5. Wilmut I. Dolly's false legacy. Time.1999;153(1):74, 76-77.
6. Wilmut I. Dolly ~ her life and legacy. Cloning Stem Cells. 2003;5(2):99-100
7. Mullins LJ, Wilmut I, Mullins JJ. Nuclear transfer in rodents. J Physiol.
2004; 554(1):4-12.
8. Solter D. Imprinting. Int J Dev Biol. 1998;42(7):951-4.
9. Tamashiro KLK, Wakayama T, Akutsu H dkk. Cloned mice have an obese
phenotype not transmitted to their offspring. Nat Med. 2002;8:262-7.
10. Tanaka S, Oda M, Toyoshima Y dkk. Placentomegaly in cloned mouse
concepti caused by expansion of the spongiotrophoblast layer. Biol
Reprod. 2001;65(6):1813-21.
11. Ogonuki N, Inoue K, Yamamoto Y dkk. Early death of mice cloned from
somatic cells. Nat Genet. 2002;30(3):253-4.
12. Wilmut I, Beaujean N, de Sousa PA dkk Somatic cell nuclear transfer.
Nature. 2002;419:583-6.
13. Virgi S. Dasar-dasar stem cell dan potensi aplikasinya dalam ilmu ke-
dokteran. Cermin Dunia Kedokt. 2006;153:21-25.
14. Setiawan B. Aplikasi terapeutik sel punca embrionik pada berbagai
penyakit degeneratif. Cermin Dunia Kedokt.2006;153:5-8.
15. Hoffman LM, Carpenter MK. Characterization and culture of human
embryonic stem cells. Nat Biotechnol. 2005;23(6):699-708
16. Lanza RP, Cibelli JB, West MD. Human therapeutic cloning. Nat Med.
1999;5(9):975-7.
17. Mollard R. Somatic Cell Nuclear Transfer (SCNT) or therapeutic clon-
ing. ISSCR. http://www.isscr.org/public/therapeutic_cloning.pdf
18. Perry A. Progress in human somatic cell nuclear transfer. N Engl J
Med. 2005; 353(1):87-8.
19. Snyder EY, Loring JF. Beyond fraud stem cell research continues. N
Engl J Med. 2006;354(4):322-4.
20. Byrne JA, Gurdon JB. Commentary on human cloning. Differentiation.
2002;69(4-5):154-7.
21. Steinbrook R. Egg donation and human embryonic stem cell research.
N Engl J Med. 2006;354(4):324-6.
22. Taylor R. Scientists move closer to human therapeutic cloning. Re-
uters. http://www.sciam.com