background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Perlukah Imunisasi Dewasa
Iris Rengganis
Subbagian Alergi-Imunologi Klinik, Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Tujuan imunisasi atau vaksinasi adalah meningkatkan
derajat imunitas, memberikan proteksi imun dengan
menginduksi respons memori terhadap patogen tertentu / toksin
dengan menggunakan preparat antigen non-virulen/non-toksik.
Antibodi yang diproduksi oleh imunisasi harus efektif terutama
terhadap mikroba ekstraselular dan produknya. Antibodi akan
mencegah adherensi atau efek yang merusak sel dengan
menetralisasi toksin (dipthteria, clostridium). IgA berperan di
permukaan mukosa, mencegah virus/ bakteri menempel pada
mukosa (efek polio oral). Mengingat respons imun baru timbul
beberapa minggu, imunisasi aktif biasanya diberikan jauh
sebelum pajanan dengan patogen.
Pencegahan dengan cara imunisasi merupakan kemajuan
besar dalam usaha imunoprofilaksis. Cacar yang merupakan
penyakit yang sangat ditakuti, berkat imunisasi masal, sekarang
telah dapat dilenyapkan dari dunia. Demikan pula dengan polio
yang dewasa ini sudah banyak dillenyapkan di banyak negara.
Pierce dan Schaffner melaporkan kurangnya perhatian
imunisasi pada usia dewasa karena adanya keraguan dari
masyarakat maupun petugas pelaksana pelayanan kesehatan
terhadap keamanan dari vaksinasi, ganti rugi yang tidak
memadai dan belum berkembangnya sistem imunisasi pada
dewasa.
SISTEM IMUN
Pertahanan tubuh terhadap infeksi terdiri dari sistem imun
alamiah atau nonspesifik yang sudah ada dalam tubuh, dan
dapat bekerja segera bila ada ancaman, sedangkan sistem imun
spesifik baru bekerja setelah tubuh terpajan dengan
mikroorgansime ke dua kali atau lebih.
Sistem imun nonspesifik terdiri dari faktor fisis seperti
kulit, selaput lendir, silia, batuk dan bersin, faktor larut yang
terdiri dari faktor biokimia seperti lisozim (keringat), sekresi
sebaseus, asam lambung, laktoferin dan asam neuraminik,
faktor humoral sepeti komplemen, interferon dan CRP,
sedangkan faktor selular seperti sel fagosit (mono-dan
polimorfonukliar), sel NK, sel mast dan sel basofil.
Sistem imun spesifik terdiri dari faktor humoral seperti
berbagai antibodi yang diproduksi sel B dan faktor selular
seperti Th (Th1, Th2, Ts, Tdth dan Tc). Refleks batuk yang
terganggu oleh alkohol, narkotika, kerusakan mekanisme
bersihan saluran napas oleh rokok atau polusi udara merupakan
masalah sehari-hari yang banyak dijumpai dan harus dihadapi
sistim imun. Gagal ginjal atau hati, penggunaan steroid dan
diabetes melitus dapat menurunkan mekanisme bersihan darah
dan risiko infeksi yang lebih berat. Pada infeksi HIV, mieloma
multipel, limfoma terjadi gangguan produksi antibodi. Pada
infeksi berat, penggunaan antibiotik dapat melepas sejumlah
komponen dinding sel yang bahkan dapat memperberat proses
inflamasi.
IMUNISASI PADA DEWASA, USIA LANJUT DAN
LINGKUNGAN PEKERJAAN TERTENTU
Imunisasi pada anak sudah banyak dikembangkan, sudah
ada imunisasi dasar dan program nasional yang sudah dapat
mengeliminasi polio, tetanus neonatorum dan mengurangi
campak, namun tidak demikian halnya dengan imunisasi pada
dewasa dan usia lanjut.
Imunisasi dewasa dianjurkan bagi mereka yang berusia >
12 tahun yang menginginkan mendapat kekebalan misalnya
terhadap influenza, pneumokok, hepatitis A dan B, MMR,
DPT dan DT. Wisatawan yang terpajan dengan bahaya infeksi
perlu mengetahui penyakit-penyakit yang sering terjadi di
negara yang akan dikunjungi. Penyakit-penyakit seperti
poliomielitis, diphteria, tetanus, tifoid, hepatitis A, tuberkulosis
masih merupakan penyakit penting di berbagai negara sedang
berkembang.
Demikian pula halnya bagi mereka yang akan melakukan
ibadah haji/umroh penting untuk mewaspadai meningitis dan
influenza. Pada usia di atas 60 tahun, terjadi penurunan sistem
imun nonspesifik seperti produksi air mata menurun,
mekanisme batuk tidak efektif, gangguan pengaturan suhu,
perubahan fungsi sel sistem imun, baik selular maupun
humoral, sehingga usia lanjut lebih rentan terhadap infeksi,
penyakit autoimun dan keganasan. Namun usia lanjut masih
menunjukkan respons baik terhadap polisakarida bakteri,
sehingga pemberian vaksin polisakarida pneumokok dapat
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006
18
background image
dengan efektif meningkatkan antibodi. Penyakit influenza
dapat merusak epitel saluran napas dan memudahkan infeksi
pneumonia bakterial. Oleh karena itu vaksin influenza juga
dianjurkan untuk diberikan kepada golongan usia di atas 60
tahun. Berbagai jenis pekerjaan merupakan risiko terjadinya
infeksi yang berbahaya misalnya karyawan kesehatan terhadap
virus hepatitis B, dokter hewan dan mahasiswa kedokteran
hewan terhadap rabies, mereka yang dalam pekerjaan sehari-
hari terpajan kulit, tulang-tulang hewan terhadap anthrax.
RESPONS IMUN
Imunitas perlu dipacu terhadap jenis antibodi/ sel sistem
imun yang benar. Antibodi yang diproduksi harus efektif
terhadap mikroba ekstraselular dan produknya (toksin).
Antibodi akan mencegah adherens atau menetralisasi toksin.
Imunitas selular (CMI, sel T, makrofag) yang diinduksi
vaksinasi adalah esensial untuk mencegah dan eradikasi
bakteri, protozoa, virus dan jamur intraselular.
Oleh karena itu vaksinasi harus diarahkan untuk
menginduksi baik sistem imun humoral maupun selular.
Terhadap infeksi cacing dipilih induksi Th2 yang memacu
produksi IgE, sedang untuk proteksi terhadap mycobacterium
dipilih respons Th1 yang mengaktifkan makrofag. Antigen
dapat diubah secara artifisial dan antibodi yang diproduksinya
berhubungan dengan epitop yang berubah. Epitop dapat
dihilangkan, ditambah atau diubah.
Cara umum untuk meningkatkan jumlah epitop ialah
dengan menambahkan hapten ke antigen. Ajuvan adalah vaksin
mati terdiri dari molekul kecil yang memerlukan konjugasi
dengan bahan lain/antigen untuk meningkatkan efektivitas,
misalnya aluminium hidroksida. Sel T terdiri dari sel CD4+ dan
CD8+. Sel CD4+ disebut sel Th oleh karena membantu sel B
untuk memproduksi antibodi. Sebaliknya sel CD8+ berfungsi
untuk menghancurkan sel terinfeksi seperti virus dan disebut
sel limfosit sitotoksik (CTL). Vaksin berperan penting dalam
induksi memori pada sel T dan sel B. Untuk merangsang sel
memori hanya diperlukan sedikit rangsangan dari antigen.
Gambar 1. Presentasi antigen dan aktivasi sel T
(2)
JENIS-JENIS VAKSIN
Beberapa jenis vaksin dibedakan berdasarkan proses
produksinya antara lain :
a. Vaksin hidup (Live attenuated vaccine)
Vaksin terdiri dari kuman atau virus yang dilemahkan,
masih antigenik namun tidak patogenik. Contohnya adalah
virus polio oral. Oleh karena vaksin diberikan sesuai infeksi
alamiah (oral), virus dalam vaksin akan hidup dan berkembang
biak di epitel saluran cerna, sehingga akan memberikan
kekebalan lokal. Sekresi IgA lokal yang ditingkatkan akan
mencegah virus liar yang masuk ke dalam sel tubuh.
b. Vaksin mati (Killed vaccine / Inactivated vaccine)
Vaksin mati jelas tidak patogenik dan tidak berkembang
biak dalam tubuh. Oleh karena itu diperlukan pemberian
beberapa kali.
c. Rekombinan
Susunan vaksin ini (misal hepatitis B) memerlukan epitop
organisme yang patogen. Sintesis dari antigen vaksin tersebut
melalui isolasi dan penentuan kode gen epitop bagi sel
penerima vaksin.
d. Toksoid
Bahan bersifat imunogenik yang dibuat dari toksin kuman.
Pemanasan dan penambahan formalin biasanya digunakan
dalam proses pembuatannya. Hasil pembuatan bahan toksoid
yang jadi disebut sebagai natural fluid plain toxoid, dan
merangsang terbentuknya antibodi antitoksin. Imunisasi
bakteriil toksoid efektif selama satu tahun. Bahan ajuvan
digunakan untuk memperlama rangsangan antigenik dan
meningkatkan imunogenesitasnya.
e. Vaksin Plasma DNA (Plasmid DNA Vaccines)
Vaksin ini berdasarkan isolasi DNA mikroba yang
mengandung kode antigen yang patogen dan saat ini sedang
dalam perkembangan penelitian. Hasil akhir penelitian pada
binatang percobaan menunjukkan bahwa vaksin DNA (virus
dan bakteri) merangsang respon humoral dan selular yang
cukup kuat, sedangkan penelitian klinis pada manusia saat ini
sedang dilakukan.
CARA PEMBERIAN VAKSIN
Berbagai macam cara pemberian vaksin (intramuskular,
subkutan, intradermal, intranasal atau oral) berdasarkan pada
komposisi vaksin dan imunogenesitasnya. Sebaiknya vaksin
diberikan di area tempat respon imun yang diharapkan bisa
tercapai maksimal dan terjadinya kerusakan jaringan, saraf dan
vaskular yang minimal. Penyuntikan intramuskular dianjurkan
jika penyuntikan subkutan atau intradermal dapat menimbulkan
iritasi, indurasi, perubahan warna kulit, peradangan, pemben-
tukan granuloma. Risiko pemberian suntikan subkutan pada
jaringan neurovaskular lebih jarang, non reaktogenik dan cukup
imunogenik.
VAKSIN UNTUK ORANG DEWASA
Imunisasi untuk orang dewasa dapat diberikan sebagai
imunisasi ulangan atau imunisasi pertama. Vaksin yang
tersedia untuk orang dewasa cukup banyak (Tabel 1).
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006 19
background image
Tabel 1. Vaksin untuk orang dewasa
Nama vaksin
Macam vaksin
Cara pemberian
Tetanus
Toksoid
IM
Kolera
Bakteri yang dimatikan
IM/SK
Hemofilus influenza
tipe B
Polisakarida IM
Pneumokok
Polisakarida (23 tipe)
IM/SK
Meningokok Polisakarida
(tetravalen)
SK
Tifoid
Bakteri yang dimatikan
Oral dan IM
BCG Bakteri
dilemahkan
ID/SK
Campak Virus
dilemahkan
SK
Parotitis (Mumps) Virus
dilemahkan SK
Polio oral
Virus dilemahkan
Oral
Polio inactivated
Virus tidak aktif
SK(meningkatkan
potensi polio oral)
Rubela Virus
dilemahkan
SK
Yellow fever
Virus dilemahkan
SK
Hepatitis B
DNA rekombinan
IM
Hepatitis A
Virus tidak aktif
IM
Influenza
Virus tidak aktif
IM
Japanese B encephalitis
Virus tidak aktif
SK
Rabies Virus
tidak aktif
IM/ID
Dewasa ini sedang dikembangkan vaksin malaria, dengue,
HIV, H. pylori dan virus papilloma.
Tabel 2. Jadual imunisasi dewasa
Imunisasi dewasa diperuntukkan bagi setiap orang dewasa
(usia >12 tahun) yang menginginkan kekebalan tubuh terhadap
penyakit-penyakit tertentu. Namun ada beberapa kelompok
individu yang berisiko tinggi terhadap penyakit-penyakit
menular tertentu, oleh karena itu sangat dianjurkan untuk
melakukan vaksinasi (Tabel 3).
Tabel 3. Imunisasi dewasa yang dianjurkan
Vaksin Sangat
dianjurkan
Influenza
Usia lanjut > 50 th atau usia < 50 th yang
mempunyai penyakit kronis (asma, diabetes,
jantung, paru dll).
Pneumokok
Usia > 55 th, atau usia 2-64 th dengan
penyakit kronis/risiko tinggi
Demam Tifoid
Mereka yang bekerja di dapur/restoran
Hepatitis A
Mereka yang mempunyai risiko penularan /
wisatawan
Hepatitis B
Semua umur
Campak,Gondong,Rubela
(MMR)
Mereka yang mempunyai risiko penularan
Cacar Air (Varisela)
Mereka yang rentan
Difteri Tetanus (DT)
Mereka yang belum pernah mendapatkan
imunisasi sewaktu anak.
INDIKASI
Indikasi penggunaan vaksin pada orang dewasa didasarkan
kepada riwayat paparan, risiko penularan, usia lanjut,
imunokompromais, pekerjaan, gaya hidup dan rencana
bepergian
Riwayat pajanan : Tetanus toksoid
Risiko penularan : Influenza, Hepatitis A., Tifoid, MMR
Vaksin
Dosis ke I
Dosis ke II
Dosis ke III
Booster/
dosis
penguat
Influenza
Satu dosis diberikan setiap tahun
Pneumokok
Satu dosis diberikan 5 tahun sekali
Demam
Tifoid
Satu dosis diberikan 3 tahun sekali
Hepatitis A
Wisatawa
internasio
nal
6-12 bulan
setelah dosis
ke I
Tidak perlu
Tidak perlu
Hepatitis B
Segera
mungkin
1 bulan
setelah dosis
ke I
5 bulan
setelah dosis
ke II
Diulang tiap
5 tahun
(1 dosis),
bila HbsAg
(-)
Campak,
Gondong,
Rubela
(MMR)
Segera
mungkin
> 28 hari
setelah dosis
ke I
Tidak perlu
Tidak perlu
Cacar air
(Varisela)
Segera
mungkin
> 28 hari
setelah dosis
ke I
Tidak perlu
Tidak perlu
3 dosis primer jika belum diberikan pada
saat anak
Difteri
Tetanus
(DT)
Segera
mungkin
1-2 bln
setelah dosis
ke I
6-12 bln
setelah dosis
ke II
Setiap 10
tahun sekali
cukup 1
dosis
Usia lanjut : Pneumokok, Influenza
Risiko pekerjaan : Hepatitis B, Rabies.
Imunokompromais : Pneumokok, Influenza, Hepatitis B.
Hemophili
Rencana bepergian : Japanese B encephalitis, Tifoid,
Hepatitis A, Meningitis
EFEKTIVITAS
Sebagian besar vaksin yang beredar mempunyai efektivitas
tinggi namun penggunaannya masih rendah, sehingga
peningkatan jumlah penggunaan akan dapat mencegah
kematian.
KEAMANAN DAN STABILITAS
Selain efektivitas perlu juga diperhatikan keamanan dan
stabilitas vaksin. Vaksin pada umumnya stabil selama 1 tahun
pada suhu 4
o
C, sedangkan bila disimpan pada suhu 37
o
C hanya
dapat bertahan 2-3 hari.
Persoalan yang dapat timbul pada penggunaan vaksin:
1. Vaksin bakteri/virus yang dilemahkan
a. Proses untuk melemahkan bakteri / virus kurang
mencukupi
b. Mutasi
ke
bentuk
wild type
c. Kontaminasi
d. Penerima vaksin imunokompromais
2. Vaksin bakteri / virus yang dimatikan
a. Kontaminasi
b. Reaksi alergi atau autoimun
c. Proses mematikan bakteri / virus kurang memadai
3. Vaksin plasmid DNA dapat menimbulkan toleransi atau
autoimun.
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006
20
background image
VAKSINASI MASSAL
Di Amerika Serikat campak, rubela dan hepatitis B
dianggap sebagai penyakit yang mungkin dapat dieradikasi.
Untuk eradikasi diperlukan upaya pencegahan penularan
termasuk imunisasi. Agar imunisasi dapat berdampak besar
terhadap pemutusan rantai penularan penyakit diperlukan
vaksinasi massal yang dapat menjangkau sebagian besar
masyarakat. Di Amerika Serikat pada layanan imunisasi untuk
orang dewasa untuk mencapai Healthy People 2000 ternyata
pencapaian vaksinasi influenza dan pneumokok untuk usia 18
sampai 64 tahun masih di bawah sasaran (kurang dari 60 %).
Namun demikian selama tahun 1989 sampai 1993 proporsi
penduduk Amerika Serikat berusia di atas 65 tahun yang
menjalani vaksinasi influenza meningkat dari 33% menjadi
52% sedangkan vaksinasi pneumokok meningkat dari 15%
menjadi 28%. Untuk kelompok-kelompok kulit putih non
Hispanik sasaran vaksinasi untuk influenza berhasil dicapai
pada tahun 1997, sedangkan sasaran Healthy People 2010
adalah 90%.
Upaya untuk meningkatkan jumlah orang yang dapat
divaksinasi antara lain melalui :
1. Meningkatkan kepedulian petugas kesehatan
2. Meningkatkan kemampuan pelayanan kesehatan dalam
menyediakan vaksin
3. Menyediakan vaksin yang murah, aman, efikasi tinggi dan
mudah dijangkau
4. Menyediakan pendanaan, baik oleh pemerintah maupun
asuransi (Medicare membiayai vaksin influenza dan
pneumokok sejak 1993)
5. Menyelenggarakan acara khusus seperti Pekan Peduli
Imunisasi Dewasa (di Amerika Serikat setiap bulan
Oktober)
6. Memantau kinerja program imunisasi nasional
7. Meningkatkan penelitian dalam bidang pelaksanaan
vaksinasi .
Dokter mempunyai peran penting dalam memberikan informasi
kepada penderita tentang manfaat imunisasi.
PENGEMBANGAN PROGRAM IMUNISASI UNTUK
ORANG DEWASA DI INDONESIA.
Profesi kedokteran di Indonesia perlu mengkaji imunisasi
yang perlu dijalankan oleh orang dewasa di Indonesia.
Perbedaan pola penyakit infeksi serta kemampuan masyarakat
di Indonesia dan negara maju mengakibatkan kita tidak dapat
begitu saja menerapkan rekomendasi yang dikeluarkan oleh
negara maju. Untuk dapat membuat kebijakan sendiri yang
sesuai dengan taraf kesehatan dan kemampuan masyarakat
diperlukan penelitian yang cukup luas dan memerlukan waktu
lama; namun beberapa langkah dapat dimulai seperti :
1. Pengumpulan informasi pola morbiditas maupun mortalitas
penyakit infeksi di Indonesia.
2. Pengumpulan informasi mengenai imunisasi dewasa dari
berbagai sumber seperti MMWR, CDC, WHO dll.
3. Menjalankan advokasi tentang manfaat imunisasi pada
lembaga pendanaan kesehatan : askes dll.
4.
Mendirikan serta memperbanyak model pelayanan
imunisasi dewasa yang melayani imunisasi perorangan.
5. Melaksanakan penelitian mengenai efektivitas dan efek
samping .
6. Menginformasikan hasil-hasil penelitian ke pada pemerin-
tah dan masyarakat.
7. Menyusun kebijakan bersama profesi lain dan pemerintah.
KEPUSTAKAAN
1.
Imunisasi Dewasa. Modul Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2001.
2.
Ada G. The Immunology of Vaccination. Dalam : Plotkin SA, Orenstein
WA (eds). Vaccines. 3rd Ed. Philadelphia : WB. Saunders Co. 1999. p.
28-71.
3.
Djauzi S. Imunisasi untuk Orang Dewasa. Siang Klinik Bagian Ilmu
Penyakit Dalam FKUI/RSUPNCM. November 2000.
4.
Baratawidjaja KG. Imunoprofilaksis. Dalam : Imunologi Dasar. Jakarta
: Balai Penerbit FKUI; 2000. h. 226-58.
5.
Prevention of pneumococcal disease : Recommendations of the
Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). MMWR
1997;46(RR-81):1-24.
6. Gardner
P,
Schafner W. Immunization of Adult. N.Engl.J.Med.
1993;29:1252-8.
7.
Goodman JW. The Immune Response. In: Sites DP, Terr AI (eds).
Basic Clincal Immunology 5
th
Prentice-Hall International New Jersey
1991:34-44.
8.
Roitt I, Brostoff J, Male D. Vaccination. In: Immunology 4
th
ed.
London: Mosby. 1996;19.1-9.
9.
Johnson AG. Immunization. In: High Yield Immunology. Philadelphia :
Lippincort William & Willkin. 1995:137-45.
10. Hyde
RM. Immunization. In: Immunology 3
rd
ed. Philadelphia: William
& Wilkins. 1995;137-45.
11.
Ryan ET, Kain KC. Health Advice and Immunization for Travelers. N
Engl J Med 2000;8:1716-24.
12.
Zimmerman ZRK, Ahwesh ER. Vaccines for Persons at High Risk
Teaching Immunization for Medical Education (TIME) Project
(abstract). J Farm Pract 2000;49:551-63
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006 21

Document Outline