IKHTISAR
Antidepresan Pemicu Disfungsi
Seksual
Myrna Justina
Dokter Umum Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi, Jawa Barat
PENDAHULUAN
Pengobatan psikiatri saat ini telah memberikan sumbang-
sih yang luar biasa dalam penatalaksanaan depresi mayor
selama 2 dekade terakhir ini. Sejak pertengahan tahun 1980an,
telah beredar 9 obat baru yang mewakili 4 kelas obat untuk
pengobatan depresi mayor di Amerika Serikat, yang meliputi
penghambat selektif ambilan serotonin (selective serotonin
reuptake inhibitors / SSRIs - fluoxetine, sertraline, paroxetine,
citalopram), penghambat ambilan serotonin-norepinefrin
(serotonin-norepinephrine reuptake inhibitors / SNRIs-
venlafaxine, mirtazapine), penghambat serotonin
2A
dan
penghambat lemah ambilan serotonin (nefazodone) dan
penghambat ambilan dopamin dan norepinefrin (bupropion).
Perbedaan khasiat klinis antara antidepresan baru dengan
yang lama seperti antidepresan trisiklik dan penghambat
monoamin-oksidase telah terbukti di dalam meta-analisis be-
berapa uji klinis
(1)
.
Meskipun demikian pola efek sampingnya
telah diketahui secara luas dan menjadi topik pembahasan
beberapa literatur
(2-5)
. Salah satu hal yang sangat meng-
khawatirkan akibat pemakaian bahan antidepresan yang umum
adalah disfungsi seksual
(3, 4, 6)
.
D
ISFUNGSI SEKSUAL SEBAGAI PENGARUH NEGATIF
ANTIDEPRESAN
The
Diagnostic and Statistical Manual, Edisi keempat
(DSM-IV)
(7)
menjabarkan disfungsi seksual sebagai gangguan
hasrat seksual dan atau di dalam siklus tanggapan seksual yang
menyebabkan tekanan berat dan kesulitan hubungan antar
manusia. Disfungsi seksual ini dapat terjadi pada 1 atau lebih
dari 4 fase siklus tanggapan yaitu hasrat (libido), bangkitan,
orgasme/pelepasan, dan pengembalian. Meskipun hampir
sepertiga pasien disfungsi seksual terjadi tanpa pengaruh
(penggunaan)obat, beberapa petunjuk mengarahkan bahwa
antidepresan dapat mencetuskan atau membangkitkan disfungsi
seksual
(3, 4, 6)
.
Neurofisiologi fungsi seksual tidaklah sederhana dan
melibatkan beberapa jalur berganda dan neurotransmiter.
Antidepresan dapat mempengaruhi fungsi seksual manusia
melalui beraneka mekanisme. Beberapa studi dan literatur me-
nunjukkan bahwa antidepresan dapat memicu disfungsi
orgasme melalui penghambatan adrenergik alfa,antikolinergik
atau pengaruh serotonergik
(8)
.
Tipe disfungsi seksual yang
dilaporkan meliputi impotensi, penurunan libido, kelainan
ejakulasi pada laki-laki, dan kelainan orgasme pada wanita
(9)
.
Tabel 1
(9)
memerinci insidens disfungsi seksual yang
dilaporkan dari informasi peresepan setiap antidepresan baru
yang beredar sejak tahun 1986. Laporan berbagai literatur
(10-12)
.
mengarahkan dugaan insidensi disfungsi seksual yang dipicu
oleh beberapa antidepresan lebih besar di dalam praktek klinik
daripada yang diperoleh dari informasi peresepan.
Tabel 1.
Laju disfungsi seksual yang disesuaikan dengan plasebo dari
informasi peresepan antidepresan baru yang dipasarkan di
Amerika Serikat
Bahan
Impotensi
(%)
Penu -
runan
libido
(%)
Kelainan
orgasme
pria (%)
Kelainan
orgasme
wanita
(%)
Lain-
lain
(%)
Fluoxetine
2 3
Sertraline 6 14
Paroxetine
3 13 2 10
Citalopram 3
2 6
Venlafaxine 6
2
12
3
Bupropion <1 <1 <1
Nefazodone
1
Mirtazapine
Keterangan:
Diambil dari berbagai hasil uji klinis yang representatif. Data ini tidak
dapat dibandingkan antar uji klinis karena perbedaan kategori dan definisi
disfungsi seksual, serta metodologi pengumpulan data yang tidak seragam.
Perhatian utama mengenai antidepresan sebagai pemicu
disfungsi seksual tertuju pada kelas SSRIs. Hal ini karena kelas
ini memegang peranan utama pengobatan depresi di Amerika
Serikat. Tiga uji klinis acak
(12-14)
telah secara sistematik menilai
disfungsi seksual yang dipicu oleh SSRIs.
Uji klinis acak yang pertama
(12)
membandingkan khasiat
sertraline (dosis rerata 82 mg perhari) dengan citalopram (dosis
rerata 34 mg perhari) pada 400 pasien depresi. Di dalam uji
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 19
klinis ini, kehilangan hasrat seksual dilaporkan sebesar 3,5%
pasien yang mendapatkan sertraline dan 6,5% pasien yang
mendapatkan citalopram, disfungsi ejakulasi 10,5% untuk
sertraline dan 14,4% untuk citalopram, dan disfungsi orgasme
wanita 5% untuk sertraline dan 7% untuk citalopram.
Uji klinis acak yang kedua
(13)
membandingkan khasiat
sertraline (dosis rerata 145 mg perhari), amitriptiline (dosis
rerata 104 mg perhari) dan plasebo pada 448 pasien depresi
rawat jalan. Pasien ditanyai pada interval yang teratur untuk
menilai pengaruh negatif termasuk disfungsi seksual. Khasiat
pengobatan adalah setara pada kedua kelompok pengobatan
aktif dan keduanya lebih unggul daripada plasebo. Insiden
disfungsi seksual pria yang berupa keterlambatan orgasme
primer atau anorgasmia adalah 21% untuk sertraline, 7,7%
untuk amitriptilin, dan 1,4% untuk plasebo.
Uji klinis acak yang lebih kecil
(14)
membandingkan
fluvoxamine (dosis
rerata 102 mg perhari) dan paroxetine
(dosis rerata 36 mg perhari) dalam pengobatan 60 pasien
depresi rawat jalan. Meskipun khasiat pengobatan dilaporkan
setara, kelainan ejakulasi pria dilaporkan 21% untuk paroxetine
dan 7% untuk fluvoxamine, penurunan libido 17% untuk
paroxetine dan 13% untuk fluvoxamine. Karena jumlah
sampelnya kecil, perbedaan yang didapatkan tidak bermakna.
PILIHAN PENGOBATAN DEPRESI PADA PASIEN
SEKSUAL AKTIF
Kecenderungan
disfungsi
seksual akibat penggunaan
SSRIs dan SNRI mengakibatkan banyak klinisi mencari pilihan
pengobatan lain untuk pasien depresi yang masih aktif seksual.
Tiga antidepresan yang beredar sejak tahun 1986 tampaknya
mempunyai laju pengaruh negatif seksual yang lebih rendah
dari SSRIs dan SNRI, yaitu bupropion, nefazodone dan
mirtazapine. Beberapa uji klinis acak telah membuktikan
kesamaan khasiat dengan SSRIs dan keuntungan dalam hal
disfungsi ereksi pada bupropion dan nefazodone, sedangkan
pengalihan pengobatan ke mirtazapine menunjukkan perbaikan
disfungsi seksual pada uji klinis yang tidak acak.
Dalam menghadapi antidepresan pemicu disfungsi seksual,
para klinisi mempunyai beberapa pilihan. Pendekatan pertama
adalah menunggu untuk menentukan apakah gejala mereda
dengan berjalannya waktu atau mengubah dosis bahan yang
digunakan. Pendekatan kedua adalah menyesuaikan dosis naik
atau turun untuk mendapatkan dosis efektif dengan pengaruh
negatif yang minimal. Pendekatan ketiga adalah menjadualkan
interupsi obat, menambahkan bahan lain yang melawan
disfungsi seksual dan mengganti antidepresan lain yang
mempunyai pengaruh negatif yang lebih kecil. Dari ketiga
pendekatan tersebut, pendekatan pertama hanya bermanfaat
pada sekelompok kecil pasien
(15)
.
Beberapa peneliti
(16)
melaporkan pemulihan gejala disfungsi seksual sesaat ketika
dosis antidepresan dititrasi turun untuk mencapai kadar
minimum efektif. Keberhasilan penjadualan libur obat untuk
memulihkan fungsi seksual juga masih terbatas. Penambahan
obat yang melawan disfungsi seksual juga masih belum
terbukti manfaatnya dari uji klinis acak terkontrol. Oleh karena
itu, pengalihan obat tampaknya merupakan pilihan umum.
Kelompok ahli melaporkan aktifitas pengalihan obat sebesar
25% dari SSRIs ke bahan lain karena alasan disfungsi seksual,
meskipun kadang-kadang khasiat pengobatannya belum
seefektif SSRIs/SNRIs untuk penyakit tertentu yang ber-
sangkutan.
PENUTUP
Dari berbagai studi terkontrol telah diketahui antidepresan
dapat memicu disfungsi seksual terutama pada kelompok yang
umum digunakan. Meskipun belum diteliti secara rinci,
peningkatan laju putus obat dan penurunan kepatuhan berobat
jelas akan meningkatkan kegagalan pengobatan pada pasien-
pasien yang aktif seksual. Selain itu pengaruh negatif ini jelas
mempunyai dampak pada biaya pengobatan, karena pilihan
yang lain lebih mahal, selain juga memerlukan bahan untuk
melawan disfungsi seksual ini. Kelompok tertentu ini jelas
memerlukan perhatian yang lebih besar, oleh karena itu perlu
formula farmasi dan organisasi perawatan untuk menentukan
bahan lini pertama dengan pengaruh negatif yang paling kecil,
mudah tersedia, dan setara dengan bahan yang lain.
KEPUSTAKAAN
1. Anderson IM. Selective serotonin reuptake inhibitors versus tricyclic
antidepressants: a meta-analysis of efficacy and tolerability. J Affect
Disord 2000; 58: 19-36.
2. Preskorn SH. Comparison of the tolerability of bupropion, fluoxetine,
imipramide, nefazodone, paroxetine, sertraline and venlafaxine. J. Clin.
Psychiatr. 1995; 56(Suppl 6): 12-21.
3.
Rosen RC, Lane RM, Menza M. Effects of SSRIs on sexual function: a
critical review. J. Clin Psychopharmacol 1999; 19: 67-85.
4. Dewan MJ, Anand VS. Evaluating the tolerability of the newer
antidepressants. J Nerv Ment Dis 1999; 187: 96-101.
5.
Goldstein BJ, Goodnick PJ. Selective serotonin reuptake inhibitors in the
treatment of affective disorders-III. Tolerability, safety, and
pharmacoeconomics. J Psychopharmacol 1998; 12(Suppl): S55-87.
6. Piazza LA, Markowitz JC, Kocsis JH. et al. Sexual functioning in
chronically depressed patients treated with SSRI antidepressants: a pilot
study. Am J Psychiatr. 1997; 154: 1757-9.
7. Diagnostic and Statistical Manual for Psychiatric Disorders. Edisi
keempat. Washington, DC: American Psychiatric Association, 1994.
8.
Zajecka J, Fawcett J, Schaff M, Jeffries H, Guy C. The role of serotonin
in sexual dysfunction: fluoxetine-associated orgasm dysfunction. J Clin
Psychiatr. 1991; 52: 66-8.
9. Physicians' Desk Reference. Edisi ke-55. Mortvale, NJ: Medical
Economics Co., Inc., 2001.
10. Patterson WM. Fluoxetine-induced sexual dysfunction (letter). J Clin
Psychiatr.1993; 54: 71.
11. Herman JB, Brosman AW, Follack MH, Falk WE, Biederman J,
Rosenbaum JF. Fluoxetine-induced sexual dysfunction. J Clin Psychiatr.
1990; 51: 25-7.
12. Ekselius L, von Knorring LEG. A double-blind study comparing
sertraline and citalopram in patients with major depression treated in
general practice (Abstract). Eur Neuropsychopharmacol 1997; 7(Suppl):
S147.
13. Reimherr FW, Chouinard G, Cohn CK, et al. Antidepressant efficacy of
sertraline: a double-blind, placebo- and amitriptyline-controlled,
multicenter comparison study in outpatients with major depression. J Clin
Psychiatr. 1990; 51(Suppl B): 18-27.
14. Kiev A, Feiger A. A double-blind comparison of fluvoxamine and
paroxetine in the treatment of depressed outpatients. J Clin Psychiatr.
1998; 58: 146-52
15. Montejo-Gonzales AL, Llorca G, Izquierdo JA, et al. SSRI-induced
sexual dysfunction: fluoxetine, paroxetine, sertraline, and fluvoxamine in
a prospective, multicenter, and descriptive clinical study of 344 patients.
J Sex Marital Ther 1887; 23: 176-94.
16. Harvey KV, Balon R. Clinical implications of antidepressant drug effects
on sexual function. Ann Clin Psychiatry 1995; 7: 189-201.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
20