Adaptasi terhadap lingkungan meru-
pakan sarat
mutlak suatu organisme
agar dapat bertahan hidup. Rasa nyeri
seperti halnya dengan rasa panas, rasa
raba dan sebagainya, merupakan satu
mata rantai dalam proses adaptasi ter-
sebut. Dapat dikatakan bahwa tugas
utama rasa nyeri ialah memperingatkan
adanya suatu bahaya bagi tubuh; adanya
tanda-tanda permulaan kerusakan jaring-
an yang bila dibiarkan dapat berubah
menjadi kerusakan yang irreversibel. Da-
pat dibayangkan bagaimana keadaannya
bila tidak ada rasa nyeri. Laporan ten-
tang anak-anak yang sejak lahir tidak
memiliki rasa nyeri (congenital insensiti-
vity to pain) menggambarkan tentang li-
dah yang tergigit putus waktu makan,
luka-luka bakar yang berat akibat me-
megang benda yang panas; perforasi
appendix yang tidak disertai rasa nyeri
dan berbagai trauma lain yang menye-
babkan kematian. Padahal seharusnya
keadaan-keadaan itu tidak akan terjadi
bila ada rasa nyeri. Jadi rasa nyeri itu
sangat penting dan berguna sekali. Te-
tapi benarkah selalu demikian?
DILEMA RASA NYERI
Rasa nyeri merupakan tanda adanya
suatu bahaya, tetapi sering terjadi juga
bahwa 'bahaya' telah lewat akan tetapi
rasa nyeri masih menetap. Atau bahkan
tanpa bahayapun, tanpa kelainan pato-
logik yang jelas, timbul rasa nyeri secara
spontan. Jelaslah bahwa dalam hal-hal
tersebut diatas rasa nyeri tadi tidak saja
percuma , akan tetapi malahan merupa-
kan penderitaan yang sia-sia bagi sipen-
derita. Contoh yang sering disebut ialah
Phantom Limb Pain . Pada kira-kira 5
-- 10% dari penderita yang diamputasi
anggota badannya, selama beberapa ta-
hun masih dirasakan nyeri yang hebat
pada bagian tubuhnya yang sudah di-
amputasi, pada bagian tubuhnya yang
sudah hilang, meskipun penyembuhan
lukanya sudah sempurna dan tak ada
saraf yang tergencet. Sebagai contoh,
orang yang telah diamputasi lengannya
mungkin masih merasa nyeri pada jari-
jari tangannya Pada penderita-penderita
dr. E. Nugroho
itu, rasa nyeri dapat timbul spontan atau
akibat
rangsang
yang ringan seperti
sentuhan atau sedikit tekanan pada
ujung potongan tungkainya. Disamping
itu, rangsang dibagian lain dari tubuh
juga
dapat
menimbulkan nyeri pada
phantom limb nya. Pada penderita
amputasi kaki, tekanan pada punggung
atau cocokan jarum pada belakang kepala
dapat
menyebabkan rasa nyeri pada
kakinya. Daerah-daerah hipersensitip itu
diberi nama
trigger zone.
Letak trigger
zone ini berbeda untuk tiap penderita
dan dapat juga tersebar diberbagai tem-
pat ditubuh mereka. Bagaimana hal ini
dapat diterangkan? Untuk mudahnya,
keadaan ini sering dinyatakan sebagai
akibat faktor psikologik. Meskipun pada
beberapa penderita faktor psikologik
memang memegang peranan penting,
faktor psikologik saja belum dapat me-
nerangkan semuanya. Injeksi anestesi
lokal pada daerah-daerah hipersensitip
tersebut atau pada ujung potongan tung-
kainya ternyata dapat menghilangkan
rasa nyerinya. Pada beberapa penderita
rasa nyeri tadi dapat hilang selama be-
berapa jam atau beberapa hari, dan pada
penderita yang lain mungkin rasa nyeri
hilang untuk selamanya. Sugesti saja
atau
penyuntikan plasebo saja tidak
menghilangkan rasa nyeri tersebut. Di-
samping itu penyuntikan dengan anestesi
lokal pada saraf yang salah juga tidak
bermanfaat.
Keadaan yang serupa dijumpai pada
sindroma nyeri post-trauma, yaitu di-
rasakannya rasa nyeri pada daerah bekas
trauma atau bekas operasi yang sudah
lama sembuh. Contoh lain ialah golong-
an neuralgia akibat infeksi virus, diabetes,
defisiensi vitamin dan lain-lain. Pada
neuralgia
post-herpes, beberapa bulan
atau beberapa tahun setelah serangan
akut sembuh masih dapat dirasakan
nyeri pada daerah sepanjang perjalanan
saraf yang terkena. Seperti pada phan-
tom-limb, daerah tersebut bukan saja
daerah dimana nyeri timbul dengan
spontan, tetapi juga merupakan daerah
yang hipersensitip. Pada suatu percoba-
an, sebuah botol berisi air panas di-
tempelkan pada kulit
normal seorang
penderita neuralgia post-herpes. Ia me-
rasa panas, tetapi masih dapat menahan-
nya untuk waktu yang lama. Bila botol
tersebut kemudian ditempelkan pada
daerah yang hipersensitip, maka muia-
mula tidak terasa apa-apa, lalu mulai
terasa hangat, panas, lambat laun terasa
seperti terbakar dan akhirnya penderita
berteriak kesakitan. Pada neuralgia N.
trigeminus,
dapat dijumpai hal yang
aneh. Serangan rasa nyeri justru timbul
oleh rangsang yang halus. Bila daerah
neuralgia ditekan kuat-kuat atau ditusuk
dengan jarum, nyeri yang khas tidak
timbul. Tetapi bila daerah itu disentuh
sentuh secara perlahan terus menerus
selama 15--30 detik, timbullah serangan
rasa nyeri yang hebat.
Dari contoh-contoh diatas terlihat
bahwa rangsang yang ringan saja dapat
menyebabkan reaksi yang hebat. Se-
baliknya trauma yang hebat kadang-
kadang tidak disertai rasa nyeri yang
berarti.
BEECHER (2) dalam peng-
amatannya dimedan perang dunia II,
menemukan bahwa banyak prajurit-
prajurit yang luka parah, setelah sampai
dirumah sakit tidak memerlukan anal-
getika. Dari 215 kasus yang dilihatnya,
hanya 24% yang menyatakan sakit sekali
dan meminta morfin. Rupanya perasaan
lega bahwa mereka telah sampai di-
rumah sakit dengan selamat menyebab-
kan euphoria dalam jiwanya dan rasa
nyerinya tidak begitu dirasakan lagi.
Masih banyak contoh lain: luka-luka
yang didapat sewaktu bersepak-bola se-
ring baru terasa setelah pertandingan
selesai; pukulan-pukulan yang diterima
sewaktu berkelahi mungkin tidak terasa
nyeri pada saat itu, tetapi baru dirasa-
kan sangat nyeri pada malam harinya.
Jadi hubungan antara intensitas rang-
sang nyeri / luas trauma / luas kelainan
patologik dan reaksi terhadap rasa nyeri
itu tidaklah sesederhana seperti yang
kita
perkirakan.
Disamping intensitas
rangsang, masih ada banyak faktor lain
yang menentukan reaksi seseorang ter-
hadap rasa nyeri.
Cermin Dunia Kedokteran No. 5, 1975.
1 9
AMBANG RANGSANG RASA NYERI
Dikenal 2 macam ambang rangsang
untuk rasa nyeri: ambang rangsang dari
persepsi rasa nyeri dan ambang rangsang
dari reaksi atas rasa nyeri.
Ambang rangsang dari persepsi rasa nyeri
ialah intensitas rangsang minimal yang
dirasakan nyeri oleh suatu individu. Dari
penyelidikan yang ada, dinyatakan bah-
wa orang-orang yang sehat mempunyai
kemampuan yang kurang lebih sama
untuk merasakan sakit (=ambang rang-
sang persepsinya kurang lebih sama).
Untuk suatu individu, variasi ambang
rangsang ini dari hari kehari sedikit sekali.
Ambang rangsang dari reaksi atas rasa
nyeri ialah intensitas minimal dari rang-
sang nyeri yang menimbulkan suatu re-
aksi pada individu tersebut, baik reaksi
yang disadari maupun
.
yang tak disadari.
Jadi suatu rangsang nyeri dengan intensi-
tas tertentu mungkin sudah dirasakan/
dipersepsi sebagai rasa nyeri, akan tetapi
belum menyebabkan timbulnya suatu
reaksi. Bila rangsang nyeri terus diberi-
kan dengan intensitas yang makin lama
makin tinggi, maka akan timbul suatu
reaksi; bila ini diteruskan lagi akan tiba
suatu saat dimana individu tersebut tak
dapat menahan rasa nyerinya lebih lama
lagi. Ini disebut batas kemampuan in-
dividu tersebut untuk menahan rasa
nyeri (pain tolerance level). Ambang
rangsang dari reaksi atas rasa nyeri dan
kemampuan menahan rasa nyeri sangat
bervariasi pada berbagai individu dan
pada individu yang sama dalam berbagai
keadaan. Salah satu faktor yang mem-
pengaruhinya adalah faktor etnik. Orang
Indian Amerika terkenal sebagai orang
yang sedikit sekali mengeluh meskipun
disiksa.
Tubuh mereka dapat disiksa,
akan tetapi mereka jangan dihina. Bila
mereka tertawan musuh dan tidak di-
siksa, ini justru berarti menghina mereka.
Salah satu kebiasaan mereka yang ter-
kenal ialah SUN DANCE. Dalam
suatu upacara keagamaan seorang pe-
muda tampil untuk diiris kulit dadanya
didua tempat, 2 potong besi berbentuk
kail kemudian dikaitkan pada daging
dadanya dan melalui kail ini pemuda
tersebut digantung pada tonggak sambil
menghadap
matahari untuk beberapa
lama. Meskipun wajah mereka berkerut-
kerut dalam usaha menekan rasa sakit,
akan tetapi tak ada keluhan keluar dari
mulutnya (upacara ini dilarang oleh
pemerintah Amerika Serikat sejak kira-
kira tahun 1923).
Untuk suatu golongan etnik yang sama,
pendidikan orang tua sejak kecil sangat
mempengaruhi reaksi atas rasa nyeri.
Ada keluarga yang gaduh bila anaknya
jatuh atau luka sedikit saja. Ada juga
keluarga yang tidak memberi simpati
dan perhatian pada luka-luka yang kecil.
Pengalaman-pengalaman
masa lampau
tadi ikut membentuk pola reaksi atas
rasa nyeri pada waktu dewasa. Selain
hal-hal diatas, arti dari rasa nyeri untuk
individu tersebut juga menentukan re-
aksinya.
Seorang anak yang dipukul
pantatnya dalam permainan akan ter-
tawa, tetapi pukulan yang sama sebagai
hukuman oleh orang tuanya akan di-
rasakan sakit dan ia akan menangis.
Seorang suci yang dibakar sebagai akibat
keyakinan agamanya dapat menunjukkan
semacam ektase karena ia yakin akan
masuk surga. Di India terdapat banyak
fakir yang menyiksa diri dengan ber-
bagai cara untuk memperoleh kesucian.
Faktor yang sangat penting dan banyak
diselidiki
akhir-akhir ini ialah faktor
emosi. BEECHER, juga dari pengalaman-
nya dimedan perang, menyatakan bahwa
banyak kasus diklinik yang sebenarnya
lebih memerlukan sedasi dari pada anal-
gesia. Dalam kasus-kasus itu, kecemasan
timbul tidak hanya sebagai akibat lang-
sung dari rasa nyerinya, akan tetapi
timbul juga kecemasan akan akibat se-
kunder dari penyakitnya seperti cacat
badan, beban ekonomi bagi keluarga
atau ketakutan akan kematian. Untuk
menguji pengaruh kecemasan atas rasa
nyeri,
telah
dilakukan beberapa per-
cobaan oleh CHAPMAN dkk (3). Dalam
2 percobaan ia membandingkan penga-
ruh plasebo, aspirin dan diazepam atas
rasa nyeri akibat pemasangan tourniquet
pada lengan (submaximum effort tour-
niquet technique). Disini rasa nyeri aki-
bat iskemia jaringan bersifat kontinue,
berlangsung lama dan makin lama makin
hebat. Diharapkan bahwa rasa nyeri di-
sini akan menimbulkan tingkat kecemas-
an yang tinggi. Ternyata hasil-hasil me-
nunjukkan bahwa orang-orang percoba-
an yang telah diberi
10 mg diazepam
dapat menahan sakit lebih lama dari
pada mereka yang memakan 600 mg
aspirin atau plasebo. Dalam percobaan
ketiga, dipakai dolorimeter Hardy-Wolff
Goodell, suatu alat yang dapat diatur
untuk memancarkan panas melalui ra-
diasi kesuatu tempat dikulit yang telah
dihitamkan dengan tinta. Berbeda de-
ngan tourniquet, rasa nyeri disini relatip
tidak disertai dengan kecemasan karena
rangsang hanya diberikan selama 3 detik.
Jadi yang dinilai disini pada hakekatnya
adalah hanya segi sensorisnya saja atau
kepekaan persepsi terhadap rasa nyeri
itu. Ternyata diazepam tidak menunjuk-
kan perbedaan yang bermakna diban-
dingkan dengan plasebo. Dari percobaan-
percobaan diatas, dapat diambil kesim-
pulan bahwa diazepam memang dapat
mengurangi rasa nyeri dengan menekan
segi emosi dari rasa nyeri itu. Plasebo
sendiri oleh beberapa orang percobaan
dinyatakan dapat mengurangi rasa nyeri
(4). Analisa yang teliti menunjukkan
bahwa sebenarnya ambang rangsang dari
persepsi rasa nyeri tidak dipengaruhi oleh
plasebo, akan tetapi orang percobaan
tersebut menjadi lebih enggan untuk
menyatakan persepsinya sebagai rasa
nyeri (pengaruh central control).
TEORI RASA NYERI
MELZACK & CASEY mengajukan
konsep tentang adanya 3 jenis aktivitas
SSP (susunan saraf pusat) akibat rangsang
nyeri yang telah sampai di otak.
1. Sensoris-diskriminatip
dengan dasar
sistem proyeksi spinothalamicus ke
thalamus bagian ventrobasal dan cor-
tex somatosensoris. Aktivitas ini ber-
hubungan dengan persepsi rasa nyeri,
pengenalan intensitas rangsang dan
lokasi dari rangsang.
2. Emosi-motivasi yaitu yang berhubung-
an/menimbulkan affek yang tidak
menyenangkan sehingga mendorong
orang tersebut untuk bereaksi; untuk
menghindarkan rangsang dan mencari
pertolongan. Dasar aktivitas ini ialah
sistem limbic dan formatio-reticularis.
3. Kontrol pusat (central control) yang
merupakan proses pada neocortex
dan dipengaruhi oleh pengalaman ma-
sa-lampau, sugesti, hipnotis, plasebo
dan lain-Iain.
Ketiga aktivitas tersebut saling mem-
pengaruhi,
Dengan konsep ini dapat
diterangkan mengapa rangsang yang ri-
ngan
dapat menimbulkan reaksi yang
hebat bila penderita sedang cemas. Se-
baliknya, bila ada rangsang yang hebat
tetapi bersamaan dengan itu ada pe-
ngontrolan pusat yang kuat (seperti pada
orang Indian dan fakir yang diceritakan
diatas), reaksi hampir tak ada.
Konsep aktivitas SSP ini dapat mem-
bantu menerangkan beberapa segi rasa
nyeri, tetapi belum dapat menerangkan
rasa nyeri patologik seperti pada neural-
gia N. trigeminus dan sebagainya. Untuk
ini MELZACK & WALL mengajukan
suatu teori yang terkenal, yang disebut
TEORI PENGONTROLAN PINTU (gate
control theory) :
2 0
Cermin Dunia Kedokteran No. 5, 1975.
UNTUK PASIEN ANDA, DAPAT DIPAKAI CARA-CARA LAIN UNTUK MENGURANGI RASA SAKITNYA :
1. Turunkan persepsi rasa nyerinya dengan d-propoxyphene + aminopyrine, atau
2. Tekanlah emosi-motivasi nya, karena inilah yang mendorongnya untuk meminta
pertolongan pada anda. Diazepam sangat berguna untuk ini.
3. Yakinkan dia akan khasiat obat yang anda berikan (central control).
®
ATAU DAPAT JUGA ANDA
.
LAKUKAN KETIGA-TIGANYA SEKALIGUS DENGAN MEMBERI P R O P A I N.
Komposisi: tiap kapsul PROPAIN mengandung d-propoxyphene
HCI, 50 mg; Aminopyrine, 200 mg dan Diazepam 2,5 mg.
Indikasi :
untuk menghilangkan dengan cepat segala rasa sakit,
baik yang akut maupun yang kronik, misalnya gejala-gejala
influenza, lumbago, rheumatik, neuralgia, kolik ginjal, kolik
biliair, luka bakar, nyeri post-operasi dan post-trauma.
Kontraindikasi: hipersensitivitas terhadap d-propoxyphene HCI
atau komponen lain dalam obat ini. Catatan: aminopyrine
dapat menyebabkan agranulositosis pada beberapa penderita
yang hipersensitip.
Dosis
:
harus disesuaikan dengan rasa sakitnya. Dosis umumnya
1 kapsul 3--4 kali sehari.
Radix dorsalis
Gambar 1 : Potongan melintang dari medulla spinalis. Diambil dari
WILSON ME (1).
Seperti kita ketahui, serabut-serabut
saraf sensoris dapat dibagi dalam be-
berapa jenis serabut, tergantung dari
diameternya. Yang berhubungan dengan
rasa nyeri ialah serabut A dan C saja.
Serabut A berdiameter besar dan ber-
myelin; kecepatan penghantaran rang-
sang dalam serabut ini tinggi, kira-kira
120 m/detik untuk diameter yang ter-
besar. Sebaliknya, serabut C diameter-
nya kecil dan tak bermyelin. Kecepatan-
nya menghantarkan rangsang juga ren-
dah, 1
m/detik untuk serabut C yang
terkecil. Serabut A masih dapat dibagi
lagi dalam beberapa subgroup, yaitu A,
A , A , dan A
. Dari subgroup ini
yang berhubungan dengan rasa nyeri ha-
nya A dan A saja. Serabut A
mem-
punyai ambang rangsang yang rendah.
sedangkan serabut-serabut A
dan C
mempunyai ambang rangsang yang tinggi,
jadi hanya menghantarkan rangsang de-
ngan intensitas tinggi saja (rangsang
traumatik). Tetapi terdapat bukti-bukti
bahwa beberapa serabut A dan C juga
dapat menghantarkan rangsang dengan
intensitas rendah. Jadi sentuhan atau ra-
baan (rangsang dengan intensitas rendah)
akan menyebabkan aktivitas dalam semua
jenis serabut saraf; akan tetapi tidak me-
rangsang seluruh serabut A
dan C,
melainkan hanya sebagian saja. Makin
tinggi intensitas rangsang makin banyak
serabut yang dirangsang. Pada intensitas
yang sangat tinggi barulah dapat di-
rangsang beberapa serabut tertentu dari
A
dan C. Rasa nyeri baru dirasakan
bila serabut-serabut ini terangsang.
Oleh Gate Control Theory, dinyata-
kan bahwa rangsang yang sampai di
medulla spinalis menyebabkan interaksi
berbagai serabut saraf dalam cornu
posterior.
Cornu posterior ini secara
anatomik-fisiologik dapat dibagi dalam
beberapa lamina. Yang sangat penting
untuk rasa nyeri ialah lamina II dan III
yang disebut sebagai substansia gelatinosa
(SG) dan lamina V. Serabut saraf perifer
berakhir pada SG dan lamina V tersebut.
Tugas SG ialah menghambat lamina V,
sedangkan tugas lamina V sendiri ialah
meneruskan rangsang nyeri keotak atau
kelengkung refleks setempat.
Aktivitas A akan merangsang lamina V
dan juga merangsang SG. SG ini ke-
mudian menghambat lamina
V.
Akibat-
nya eksitasi lamina V oleh A
ini
hanya betlangsung sebentar. Rangsang
traumatik
yang dihantarkan melalui
A
dan C juga merangsang lamina V;
tetapi karena serabut ini juga mengham-
bat SG, maka hambatan pada lamina V
hilang sehingga eksitasi lamina V ber-
langsung lama. Dengan kata lain, neuron-
neuron dalam SG berfungsi sebagai pintu
yang mengatur banyaknya rangsang yang
mencapai lamina V untuk diteruskan
keotak. Pintu ini dapat terbuka atau
tertutup tergantung dari keseimbangan
antara perangsangan oleh
A
dan
oleh A
+ C.
Belum diketahui dengan pasti apakah
perangsangan lamina V oleh A
dan C
akibat rangsang dengan intensitas rendah
(rabaan) juga sama kuatnya dibanding-
kan dengan perangsangan oleh A
dan
C itu akibat rangsang traumatik.
Dalam praktek sehari-hari, misalkan
lengan terpukul dan terasa nyeri, maka
ada kecenderungan untuk memijit-mijit
atau mengurut-urut lengan tersebut. De-
ngan pijitan itu jumlah serabut A
yang
terangsang akan makin banyak sehingga
rangsangan pada SG (hambatan pada
lamina
V) juga makin besar dengan
akibat nyeri berkurang. Hal yang serupa
dapat kita lihat pada seorang anak yang
jarinya teriris pisau. Biasanya anak ter-
sebut secara tak sadar akan menekan
daerah sekitar luka itu; dengan pe-
nekanan ini serabut A
yang terang-
sang juga makin banyak. Mungkin me-
kanisme ini dapat menerangkan populer-
nya cara pengobatan dengan kerikan/
kerokan dan pijitan di Indonesia. (khu-
sus mengenai pijitan, Dr. Soeparman
telah mengajukan teorinya yang baru
yaitu : the Reversible Hidden Scar
Theory.)
Terdapat juga bukti-bukti bahwa di-
samping rangsang-rangsang yang berasal
dari kulit, serabut afferen yang mem-
bawa rangsang nyeri dari otot dan viscera
juga berkumpul pada lamina V. Ini mem-
bantu menerangkan mekanisme referred
pain. Misalkan serabut saraf dari jantung
dan serabut afferen dari lengan ber-
kumpul pada sel-sel yang sama pada
lamina V, maka nyeri pada jantung akan
dirasakan dilengan juga.
Aktivitas lamina V juga dipengaruhi
oleh informasi dari pusat-pusat yang
Gambar 2
Skema dari teori pengontrolan pintu. (+) = perangsangan, ( ) = penghambatan.
Diambil dari
WILSON ME (1).
2 2
Cermin Dunia Kedokteran No. 5, 1975.
lebih tinggi. Pengaruh ini dapat berupa
perangsangan atau penghambatan.
Teori pengontrolan pintu ini dapat
menerangkan mekanisme rasa nyeri pa-
tologik. Pada phantom-limb, banyak se-
rabut afferen yang hilang. Bila lebih
banyak serabut A
yang rusak
dari
pada A
dan C, maka hambatan lamina
V oleh SG berkurang. Ini berakibat bah-
wa rangsang raba dan rangsang-rangsang
lain dengan intensitas kecil dapat me-
nimbulkan eksitasi lamina V tanpa ham-
batan. Nyeri spontan diterangkan se-
bagai berikut. Rangsang-rangsang yang
dihantarkan lewat serabut A
dan C
dan tidak disadari seperti sentuhan kain,
ditambah dengan rangsang dari viscera
dan otot, akan terus menerus merang-
sang lamina V. Rangsang ini akan di-
jumlahkan (summasi) dalam lamina V,
dan bila melewati batas tertentu, maka
akan diteruskan keotak dan dialami rasa
nyeri secara spontan.
Untuk neuralgia N. trigeminus, ANDER-
SON mengemukakan bahwa kerusakan
sebagian dari serabut afferen N. tri-
geminus menyebabkan aktivitas epilepti-
form pada nucleus N. trigeminus. Ke-
rusakan ini mungkin disebabkan oleh
infeksi pada gigi. Akan tetapi penyelidik-
an lebih lanjut masih harus dilakukan.
Mengapa suntikan procain dapat meng-
hilangkan rasa nyeri pada phantom-limb
dan neuralgia sekarang juga dapat di-
terangkan. Procain akan menghambat
seluruh serabut saraf yang ada. Akibat-
nya ialah jumlah rangsang yang men-
capai lamina V sangat berkurang sehingga
tidak melebihi batas, oleh karena itu
tidak diteruskan keotak/pusat yang lebih
tinggi. Jadi siklus rangkaian terputus.
Pada beberapa penderita siklus ini dapat
terputus untuk selamanya.
Disamping pintu pengontrol pada
tingkat medulla spinalis, akhir-akhir ini
diajukan juga teori tentang adanya pintu
pintu pengontrol pada tingkat-tingkat
yang lebih tinggi yaitu pada formatio
reticularis dan hipothalamus.
KESIMPULAN
Hubungan antara rangsang nyeri dan
reaksi terhadap rasa nyeri itu tidaklah
demikian sederhana seperti yang sering
diperkirakan.
Untuk sementara teori MELZACK,
WALL & CASEY dianggap cukup untuk
menerangkan beberapa segi rasa nyeri.
Pengetahuan tentang adanya interaksi
antara berbagai serabut afferen serta
informasi descendens dari otak, penting
untuk pengobatan dalam klinik.
Perlu diingat juga bahwa tidak semua
jenis rasa nyeri yang belum diketahui
etiologinya, adalah akibat faktor psiko-
logik saja. Masih banyak faktor lain lagi
yang belum diketahui.
Penyelidikan tentang rasa nyeri masih
harus dilanjutkan.
KEPUSTAKAAN
1. WILSON M.E.: The neurological mecha-
nisms of pain.
Anesthesia 29 :
407421,
1974.
2. BEECHER H.K. : Anxiety and
Pain.JAMA
209: 1080, 1969.
3. CHAPMAN R.C, FEATHER B.W.: Effects
of Diazepam on Human Pain Tolerance
and Pain Sensitivity.
Psychosom Med 35 (4): 330339, 1973.
4. FEATHER B.W. et al: effects of a placebo
on the perception of painful radiant heat
stimuli.
Psychosom Med
34 (4):
290294,
1972.
5. MELZACK R.: the puzzle of pain. Middle-
sex, Penguin, 1973.
6. SOEPARMAN : Pain, The Reversible
Hidden Scar (undated).
"
Mintalah upahmu waktu penyakitnya
sedang hebat-hebatnya, karena bila telah
sembuh pasien itu pasti melupakan apa
yang telah kau perbuat bagi dirinya".
ISAAC JUDEUS (AD 845 -- 940)
MIALGIN
cream
Cermin Dunia Kedokteran No. 5, 1975.
2 3