background image
20
Pola Kuman Penyebab Diare Akut
pada Neonatus dan Anak
Pudjarwoto Triatmodjo
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Diare hingga kini masih merupakan penyebab utama ke-
sakitan dan kematian pada bayi dan anak-anak. Saat ini morbidi-
tas (angka kesakitan) diare di Indonesia masih sebesar 195 per
1000 penduduk dan angka ini merupakan yang tertinggi di antara
negara-negara di Asean
(1)
. Dampak negatip penyakit diare pada
bayi dan anak-anak antara lain adalah menghambat proses tum-
buh kembang anak yang pada akhirnya dapat menurunkan kuali-
tas hidup anak di masa depan.
Ditinjau dari sudut ctiologinya, diare dapat disebabkan oleh
berbagai faktor di antaranya infeksi mikroba, intoksikasi, ma-
labsorpsi, malnutrisi, alergi, immunodefisiensi. Gejala penyakit
yang ditimbulkan bervariasi mulai dari yang paling ringan sam-
pai dengan yang paling berat. Di kalangan masyarakat luas
gejala penyakit diare dikenal dengan berbagai istilah sesuai
dengan daerahnya antara lain mencret, murus, muntaber, buang-
buang air. Beraneka ragamnya penyebab dan bervariasinya
gejala penyakit yang ditimbulkannya sering menimbulkan kesu-
litan dalam penatalaksanaan diare, sehingga pengobatan yang
diberikan kadang-kadang tidak tepat sesuai dengan etiologinya.
Terapi yang tidak tepat bisa mengakibatkan terjadinya diare ber-
kepanjangan (prolonged diare) atau bahkan berlanjut menjadi
diare khronik (diare persisten). Oleh karena itu mengetahui
secara lebih mendalam faktor-faktor penyebab (etiologi) diare
akan sangat membantu upaya penatalaksanaan diare akut secara
tepat dan tcrarah.
Dalam makalah ini disajikan informasi etiologi dian, akut
pada bayi dan anak-anak, yakni tinjauan dari aspek mikrobiologi
yang diperoleh dari berbagai sumber. Diharapkan informasi ini
dapat membantu para klinisi dalam upaya penanggulangan diare
pada bayi dan anak-anak.
PERKEMBANGAN POLA KUMAN PENYEBAB DIARE
AKUT
Pada dekade tahun 1950 s/d 1970-an, di negara-negara ber-
kembang (termasuk Indonesia) hanya sekitar 20% etiologi diare
akut dapat diketahui. Pada waktu itu penyakit diare akut di ma-
syarakat (Indonesia) lebih dikenal dengan istilah "Muntaber".
Penyakit ini mempunyai konotasi yang mengerikan serta me-
nimbulkan kecemasan dan kepanikan warga masyarakat karena
bila tidak segera diobati, dalam waktu singkat (± 48 jam) pen-
derita akan meninggal. Kematian ini disebabkankarena hilang-
nya cairan elektrolit tubuh akibat adanya dehidrasi. Kemudian
diketahui bahwa penyebab muntaber adalah kuman Vibrio
cholera biotype El-Tor dan sesuai dengan nama penyebabnya
tersebut maka kejadian wabah yang sering terjadi pada waktu
itu lebih populer dengan istilah wabah Cholera El-Tor". Kejadian
wabah cholera El-Tor di Indonesia yang pertama kali diketahui
terjadi di Makasar (Ujung Pandang) pada tahun 60-an dengan
menimbulkan sejumlah kematian. Wabah cholera ini kemudian
diketahui sering terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia.
Berkat pesatnya perkembangan iptek (ilmu pengetahuan
dan teknologi) di bidang mikrobiologi, penemuan baru bidang
etiologi diare taus bermunculan sehingga memperluas wawasan
spektrum etiologi diare akut yang disebabkan oleh mikroba.
Bakteri Escherichia coli yang pada waktu itu dianggap sebagai
mikroba komensal di dalam usus manusia, ternyata beberapa
strain di antaranya diketahui merupakan penyebab diare akut
baik pada bayi, anak-anak maupun orang dewasa. Sekarang telah
dikenal tiga group E. coli sebagai penyebab diare akut yaitu
Entero Toxigenic E. coli (ETEC), Entero Pathogenic E. coli
(EPEC) dan Entero-Invasive E. coli (EIEC). Selanjutnya pada
dekade 1970 s.d 1980-an telah ditemukan beberapa jenis mikroba
background image
21
baru penyebab diare akut pada bayi dan anak-anak. Mikroba
yang dimaksud adalah Rotavirus, Yersinia dan Campylobacter.
Rotavirus ditemukan pertama kali sebagai penyebab diare akut di
Australia tahun 1973
(2)
. Skirrow (1977) pertama kali melaporkan
Campylobacter (dulu disebut Related Vibrio) yang merupakan
bakteri patogen pada diare akut
(3)
.
Dengan bertambahnya beberapa jenis mikroba barn penye-
bab diare akut yang ditemukan maka cakrawala mikrobiologi
penyebab diare menjadi semakin luas dan komplek. Demikian
pula dengan semakin dikembangkannya teknologi pemeriksaan
laboratorium mikrobiologi di negara kita, kemampuan peme-
riksaan etiologi diare dari sudut mikrobiologi meningkat secara
tajam dari 20% pada tahun 1970-an menjadi sekitar 80% pada
tahun 1980-an
(2)
.
Kemudian pada dekade tahun 1980 s/d 1990-an dengan
makin canggihnya teknologi bidang mikrobiologi antara lain
dengan dikembangkannya teknologi pemeriksaan mikrobiologi
dengan metoda DNA-Probe, maka etiologi diare akut telah dapat
diperluas lagi dengan ditemukannya heberapa strain E. call se-
bagai penyebab diare akut pada anak-anak. Dua strain baru E.
coli yang saat ini telah dinyatakan sebagai penyebab diare pada
anak-anak adalah Entero Haemorrhagic E. coli (EHEC) dan
Entero Adherent E. coli (EAEC)
(4)
.
Dan kelompok protozoa telah ditemukn satu spesies baru
yang dinyatakan sebagai agent diare akut pada anak-anak.
Spesies yang dimaksud adalah Cryptosporidium. Sehingga
dengan demikian pada dekade 1990-an ini pola kuman penyebab
diare akut pada bayi dan anak-anak yang penting menurut WHO
(1990) adalah sebagaimana tercantum dalam tabel 1. Di sini
tampak bahwa ada 9 jenis mikroba yang saat ini dianggap penting
sebagai penyebab diane pada bayi dan anak-anak, yaitu dari
kelompok virus adalah Rotavirus. Dari kelompok bakteri adalah
E. coli patogen (ETEC, EPEC, EIEC, EHEC dan EAEC), Sal-
monella non-typhoid, Shigella, Vibrio cholera 01 dan non-01
dan Campylobacter. Dan kelompok protozoa terdiri dari Giardia
lamblia, Entamuba histolytica dan Cryptosporidium
(4)
.
Tabel 1. Berbagai Jenis mikroba penting penyebab diare akut pada
neonatus
(bayi)
dan
anak-anak
(WHO,
1990)
Kelompok
mikroba
Jenis mikroba
(genus)
Spesies/Serotype
I. Vitus
II. Bakteri
1. Rota virus
2. Escherichia sp
­ Rotavirus
­ E. Coli : ­ ETEC
­ EPEC
III. Protozoa
3. Vibrio sp
4. Shigella sp
5. Salmonella sp
6. Campylobacter sp
7. Giardia sp
8. Entamuba sp
9. Cryptosporidium
­ ETEC
­ EHEC
­ EAEC
­ V. cholera 0l
­ S. flexneri
­ S. sonnei
­ S. dysentriae
­ S. boydii
­ Salmonella non-typhoid
­ Campylobacter jejuni
­ Giardia lamblia
­ Entamuba histolytica
­ Cryptosporidium
1) Rotavirus
Rotavirus merupakan penyebab utama diare akut pada bayi
dan anak-anak umur antara 6­24 bulan dengan morbidity rate
untuk daerah Jakarta (1979­1981) sebesar 30,4%
(3)
. Kejadian
infeksi rotavirus meliputi negara-negara di seluruh dunia. Penu-
laran berlangsung secara oro-fekal atau dapat pula terjadi secara
air-borne droplet.
Rotavirus menyebabkan kerusakan epithelium usus kecil
dengan mengakibatkan viii menjadi kasar/tumpul sehingga
kemampuan mengabsorpsi karbohidrat menjadi berkurang,
demikian pula absorpsi air. Aktivitas disaccharidase dan laktase
menurun, sedangkan aktivitas adenyl cyclase tidak berubah;
akibatnya terjadi akumulasi disaccharid di dalam lumen usus
yang menyebabkan diare osmotik. Morfologi intestinal dan akti-
vitas absorpsi karbohidrat akan kembali normal dalam waktu
2­3 minggu.
Rotavirus menyebabkan diare berair disertai demam dan
kadang-kadang muntah. Gejala yang ditimbulkan dapat ringan
sampai diare akut dengan dehidrasi berat dan dapat menimbul-
kan kematian.
2) E. coli patogen
Di negara-negara berkembang E. coli patogen menyebab-
kan lebih kurang seperempat dari seluruh kejadian diare. Trans-
misi kuman berlangsung seeara water-borne atau food-borne.
Dula dikenal ada 3 grup (kelompok E. coli patogen penyebab
diane yaitu ETEC, EPEC dan EIEC. Sekarang ditemukan 2 grup
yang diketahui pula sebagai penyebab diane yaitu EHEC dan
EAEC.
2.1. ETEC (Entero Toxigenic E. coli)
ETEC adalah E. coli patogen penyebab utama diare akut
dengan dehidrasi pada anak-anak dan orang dewasa di negara-
negara yang mempunyai 2 musim maupun 3 musim.
ETEC menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan ter-
jadinya ekskresi cairan elektrolit tubuh sehingga timbul diare
dengan dehidrasi. Secara immunologis enterotoksin yang di-
hasilkan oleh ETEC sama dengan enterotoksin yang dihasilkan
oleh V. cholera. Enterotoksin ETEC terdiri dari dua macam
yaitu: 1) Labile Toxin (LT) yang mempunyai berat molekul yang
tinggi dan tidak tahan panas (musnah pada pemanasan 60°C
selama 10 menit); toksin inilah yang mirip dengan cholera toxin.
2) Stabile Toxin (ST) yang mempunyai berat molekul rendah,
tahan pada pemanasan dan tidak mempunyai sifat antigenik.
Manusia dapat berperan sebagai carrier kuman ini, yaitu
sebagai pembawa kuman tetapi dia sendiri tidak sakit. Transmisi
kuman dapat berlangsung secara food-borne maupun water-
borne. Di daerah endemik diane seperti halnya Indonesia, ETEC
merupakan juga penyebab utama diane akut yang mirip cholera
serta merupakan penyebab travellers diarrhoea
(3)
.
2.2. EPEC (Entero Pathogenic E. coli)
Di beberapa daerah urban, sekitar 30% kasus-kasus diare
akut pada bayi dan anak-anak disebabkan olch EPEC
(4)
. Meka-
nisme terjadinya diane yang disebabkan oleh EPEC belum bisa
diungkapkan secara jelas, tetapi diduga EPEC ini menghasilkan
cytotoxin yang merupakan penyebab terjadinya diare.
Penyakit diane yang ditimbulkan biasanya self-limited, te-
background image
22
tapi dapat fatal atau berkembang menjadi diare persisten ter-
mama pada anak-anak di bawah umur 6 bulan. Di negara-negara
berkembang, anak-anak yang terkena infeksi EPEC biasanya
adalah yang berumur 1 tahun ke atas.
2.3. EIEC (Enteroinvasive E. coli)
EIEC mempunyai beberapa persamaan dengan Shigella
antara lain dalam hal reaksi biokimia dengan gula-gula pendek,
serologi dan sifat patogenitasnya. Sebagaimana halnya dengan
Shigella, EIEC mengadakan penetrasi mukosa usus dan meng-
adakan multiplikasi pada sel-sel epitel colon (usus besar). Ke-
rusakan yang terjadi pada epitel usus menimbulkan diare berda-
rah. Secara mikroskopis leukosit polimorfonuklear selalu hadir
dalam feses penderita yang terinfeksi EIEC. Gejala klinik yang
ditimbulkan mirip disentri yang disebabkan oleh Shigella.
2.4. EHEC (Enterohaemorrhagic E. coli)
Di Amerika Utara dan beberapa daerah lainnya, EHEC me-
nyebabkan haemorrhagic colitis (radang usus besar). Transmisi
EHEC terjadi melalui makanan daging yang diolah dan dihi-
dangkan secara tidak higienis; tapi dapat pula terjadi secara
person to person (kontak langsung). Patogenitas EHEC adalah
dengan memproduksi sitotoksin yang bertanggung jawab ter-
hadap terjadinya peradangan dan perdarahan yang meluas di
usus besar yang menimbulkan terjadinya haemolytic uraemic
syndrome terutama pada anak-anak.
Gejala karakteristik yang timbul ditandai dengan diare akut,
cramp, panas dan dalam waktu relatif singkat diare menjadi
berdarah. Di negara-negara berkembang kejadian diare yang
disebabkan oleh EHEC masih jarang ditemukan.
2.5. EAEC (Entero Adherent E. coli)
EAEC telah ditemukan di beberapa negara di dunia ini.
Transmisinya dapat food-borne maupun water-borne.
Patogenitas EAEC terjadi karena kuman melekat rapat-
rapat pada bagian mukosa intestinal sehingga menimbulkan
gangguan. Mekanisme terjadinya diare yang disebabkan oleh
EAEC belum jelas diketahui, tetapi diperkirakan menghasilkan
sitotoksin yang menyebabkan terjadinya diare. Beberapa strain
EAEC memiliki serotipe seperti EPEC. EAEC menyebabkan
diare berair pada anak-anak dan dapat berlanjut menjadi diare
persisten
(5)
.
3) Vibrio cholera 01
V. cholera 01 menyebabkan diare akut pada semua golong-
an umur. Cholera merupakan penyakit endemik di negara Asia
(termasuk Indonesia) dan Afrika. Di daerah endemik penyakit ini
ditemukan sekitar 5-10% yakni berdasarkan pada penderita yang
berobat ke rumah sakit. Cholera ini lebih sering menyerang anak
umur 2-9 tahun; tetapi di daerah bukan endemik cholera lebih
banyak menyerang golongan umur dewasa muda. Penularan
kuman dapat berlangsung secara water-borne maupun food-
borne. Penularan dengan cara kontak person to person dilaporkan
jarang terjadi.
Patogenitas V. cholera bersifat non-invasif, kuman me-
nempel dan berkembang di bagian mukosa usus halus dan meng-
hasilkan enterotoksin yang menstimulir terjadinya eksresi cairan
elektrolit tubuh sehingga timbul diare dengan dehidrasi. V.
cholera 01 mempunyai 2 biotipe yaitu El-Tor dan Klasik. Selain
itu V. cholera juga mempunyai 2 serotipe yaitu Ogawa dan Inaba.
Diare yang terjadi dapat ringan sampai berat. Pada diare
yang berat dapat terjadi dehidrasi berat dan shock, kematian
dapat terjadi dalam waktu sekitar 48 jam bila tidak segera diobati.
4) Shigella
sp
Shigella sp paling banyak menyebabkan diare invasif pada
anak-anak dan hanya sekitar 10% menyebabkan diare akut pada
anak-anak balita. Penularan kuman paling sering terjadi secara
kontak langsung (person to person) dengan dosis infeksi yang
rendah yaitu 10
1
-10
2
organisme. Di samping itu penularan dapat
pula terjadi secara food-borne maupun water-borne.
Patogenitas Shigella bersifat invasif, yakni menyerang sel-
sel epitel usus besar (colon), menyebabkan kematian sel dan tim-
bul borok sehingga terjadi kerusakan epitel usus dan perdarahan.
Shigella juga menghasilkan sitotoksin dan neurotoksin yang
menambah patogenitas kuman. Shigdla mempunyai 4 serotipe
yaitu S. flexneri yang paling banyak ditemukan di negara-negara
berkembang, S. sonnei banyak ditemukan di negara-negara maju,
S. dysentriae menyebabkan epidemi dengan kematian yang
tinggi, S. boydii yang jarang ditemukan.
Infeksi Shigella menyebabkan diare invasif disertai dengan
gejala demam, nyeri perut dan tenesmus, feses berdarah dengan
banyak mengandung leukosit. Shigella terutama menimbulkan
serangan hebat pada bayi.
5) Salmonella
non-typhoid
Di banyak negara berkembang, diare akut yang disebabkan
oleh Salmonella tidak begitu besar. Terutama di daerah urban
diare pada anak-anak yang disebabkan oleh infeksi Salmonella
sekitar 10%. Transmisi kuman terjadi secara meat-borne, yaitu
melalui makanan yang berasal dari hewan seperti daging, unggas,
telur, susu; tetapi dapat pula terjadi secara water-borne.
Patogenitas Salmonella bersifat invasif yakni menyerang
bagian epithelium dari ileum. Salmonella menghasilkan entero-
toksin yang menyebabkan diare berair. Bila selaput lendir men-
jadi rusak, diare yang terjadidisertai darah.
Ada 2000 serotipe Salmonella dan 6-10 di antaranya di-
ketahui menimbulkan gastroenteritis. Diare yang ditimbulkan
biasanya disertai dengan gejala-gejala mual, demam dan nyeri
perut. Di samping menyebabkan diare berair, Salmonella juga
menyebabkan mencret (exudative diarrhoea) yang ditandai oleh
hadirnya leukosit di dalam feses. Di beberapa negara telah di-
temukan strain Salmonella yang resisten terhadap ampisilin,
khloramfenikol, dan sulfametoxazol-trimetoprim.
6) Campylobacter
jejuni
Di berbagai negara, Campylobacter jejuni menyebabkan
5-15% diare pada bayi. Di negara-negara berkembang puncak
insiden terutama adalah pada usia di bawah satu tahun (batuta).
Transmisi kuman dapat berlangsung secara food-borne, dapat
pula terjadi secara person to person (kontak langsung).
Patogenitas Campylobacter dengan invasi pada bagian
ileum dan usus besar dengan menghasilkan 2 jenis toksin yaitu
sitotoksin dan heat-labile toxin. Diane yang ditimbulkan biasa-
nya seperti disentri dengan feses berdarah dan berlendir yang
muncul sesudah diare berlangsung selama sehari atau beberapa
hari. Muntah biasanya tidak ada dan gejala demam selalu dengan
background image
temperatur yang rendah. Diare berair yang ditimbulkan oleh
infeksi Campylobacter kasusnya kecil.
7) Giardia
lamblia
Distribusi G. lamblia meliputi berbagai negara di dunia. Pre-
valensi infeksi G. lamblia pada anak muda di beberapa negara
mencapai 100%. Anak-anak umur 1­5 tahun (balita) adalah yang
paling umum terinfeksi G. lamblia. Transmisinya dapat ber-
langsung secara food-borne ataupun water-borne, serta dapat
pula terjadi secara oro fecal. Infeksi G. lamblia terjadi pada usus
besar, tetapi mekanisme patologinya belum jelas diketahui; pada
beberapa kassus terlihat terjadi kerusakan pada bagian epitel
usus halus. G. lamblia dapat menyebabkan diare akut atau diare
persisten; kadang-kadang menyebabkan malabrospsi dengan
feses berlemak, sakit perut dan kembung
(5)
.
Infeksi G. lamblia kebanyakan asimtomatik sehingga men-
imbulkan kesulitan untuk mendeteksi kapan G. lamblia menye-
babkan diare.
8) Entamuba
histolytica
Distribusi E. histolytica meliputi berbagai negara di dunia.
Prevalensi infeksi E. histolytica sangat bervariasi. Penyakit lebih
banyak terjadi pada usia dewasa, penderita laki-laki lebih banyak
ditemukan.
Patogenitas E. histolytica adalah menyerang bagian mukosa
dari usus besar yang menyebabkan kerusakan intestinal sehingga
menimbulkan rangsangan neurohumoral yang menyebabkan
pengeluaran sekret dan timbul diare. Kira-kira 90% infeksi E.
histolytica adalah asimtomatik, jarang terjadi pada anak kecil
atau bayi, tetapi biasanya menyerang anak yang sudah besar dan
dewasa muda.
Diare yang ditimbulkan umumnya adalah diare persisten
dengan tinja berdarah. Pada beberapa kasus, E. histolytica dapat
bersarang di hati dan menyebabkan abses hati.
9) Cryptosporidium
Di negara-negara berkembang kasus Cryptosporidia pada
anak-anak dengan diare adalah berkisar antara 5­15%. Trans-
misi Cryptosporidia melalui fekal-oral. Patogenitas Cryptospo-
ridium adalah menempel pada permukaan mikrovili dinding usus
dan menyebabkan malabropsi akibat kerusakan bagian mukosa.
Karakteristik infeksi Cryptosporidium adalah diare akut/diare
berair terutama pada pasien dengan daya tahan tubuh yang lemah
atau menurun.
KEPUSTAKAAN
1. Sunoto. Peran setts Perguruan Tinggi dalam Meningkatkan Kualitas Hidup
Anak melalui Program Pemberantasan Penyakit Diare. Pidato Pengukuhan
Guru Besar Tetap dalam Tim Kesehatan Anak pada FKUI di Jakarta, 9-11-
1991.
2. Suharyono, Koiman I. Penelitian penyebab mikrobiologi (Rotavirus dan
Enterobacteria) penyakit diare akut di klinik (1974­1982). Proc Pertemuan
llmiah Penelitian Penyakit Diare di Indonesia, Jakarta, 21­23 Oktober
1983. Hal. 199-211.
3. Simanjuntak CH, Hasibuan MA, Siregar LO, Koiman I. Etiologi
Mikrobiologi Penyakit Diare Akut. Bull Penelit Kes 1983; XI (2): 1-9.
4. WHO. CDD/Ser 80.2. 1990. A Manual for the Treatment of Diarrhoea for
Use by Physicians and Other Senior Health Workers. 1990. p. 30-32.
5. WHO. Persistent Diarrhoea in Children in Developing Countries: Memo-
randum From a W HO Meeting. Bull World Health Organization. WHO
1988; 66(6): 709-17.
Great men expand with opportunity, small men swell