TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Pneumotoraks Ventil
Bambang Kisworo
Kepala Puskesmas Laclubar, Kabupaten Manatuto, Titnor Timur
PENDAHULUAN
Pneumotoraks adalah terdapatnya udara bebas di dalam
rongga pleura, yaitu rongga di antara pleura parietalis dan vise-
ralis. Dalam keadaan normal, rongga ini tidak terisi udara dan
memiliki tekanan negatif sebesar - 11 sampai - 12 cm air pada
waktu inspirasi dan - 4 sampai - 8 cm air pada saat ekspirasi
(1,2)
.
Pada penumotoraks, oleh karena terdapat udara bebas, maka
tekanan di dalam rongga pleura meningkat menjadi lebih positif
dan tekanan normal dan bahkan dapat melebihi tekanan at-
mosfir
(2,3)
. Akibat peningkatan tekanan di dalam rongga pleura,
jaringan paru akan mengempis yang derajatnya tergantung
pada besar kenaikan tekanan, pengembangan jaringan paru sisi
yang sehat terganggu, dan mediastinum dengan semua isinya
terdorong ke arah sisi sehat dengan segala akibatnya
(1)
.
Pneumotoraks, terutama penumotoraks ventil, merupakan
suatu kegawatan medik yang membutuhkan pengenalan dini dan
penanganan secepatnya. Pada pneumotoraks ventil, fistel yang
terbentuk di antara rongga pleura dan bronkus bersifat seperti
katup sehingga udara yang masuk ke dalam rongga pleura pada
waktu inspirasi tidak dapat keluar pada saat ekspirasi. Tekanan
di dalam rongga pleura makin lama makin tinggi, sehingga
dapat mengakibatkan kegagalan fungsi kardiopulmonal akut,
yang pada gilirannya dapat menyebabkan kematian pende-
rita
(2,4)
. Meskipun cara penanganan kegawatan medik ini se-
derhana, banyak nyawa penderita dapat diselamatkan, bila
dilakukan secepatnya
(5)
.
Dalam tulisan ini akan dibahas masalah diagnosis dan
penanganan penumotoraks ventil.
PENGGOLONGAN PNEUMOTORAKS
Pneumotoraks dapat dikelompokkan berdasarkan atas lokasi,
kejadian, derajat pengempisan paru yang terkena dan jenis fistel
yang terjadi. Menurut lokasi, pneumotoraks dibedakan dalam
pnemotoraks parietalis, mediastinalis dan basalis. Berdasarkan
kejadiannya, pneumotoraks digolongkan ke dalam pneumo-
toraks spontan, artifisial dan traumatika. Sesuai dengan derajat
pengempisan jaringan paru, pneumotoraks dapat dibagi atas
pneumotoraks totalis dan parsialis. Sementara menuju jenis
fistel yang terbentuk, pneumotoraks dikelompokkan menjadi
pneumotoraks terbuka, tertutup dan ventil
(1,3,4)
.
Penggolongan yang banyak berkaitan dengan manifestasi
klinik dan penanganan adalah menurut jenis fistel yang ada.
Pada kasus pneumotoraks terbuka, udara bebas keluar masuk
rongga pleura karena terdapat hubungan langsung yang terbuka
antara bronkus atau udara luar dengan rongga pleura; tekanan di
dalam rongga pleura sama dengan tekanan atmosfir. Pada pneu-
motoraks tertutup sudah tidak terdapat aliran udara antara rongga
pleura dengan bronkus atau dunia luar karena fistel sudah ter-
tutup; tekanan rongga pleura dapat sama, lebih tinggi atau lebih
rendah dan tekanan atmosfir. Sedangkan pada pneumotoraks
ventil, udara dan bronkus atau dunia luar dapat masuk ke dalam
rongga pleura pada saat inspirasi tetapi tidak dapat keluar pada
waktu ekspirasi karena terdapat fistel yang bersifat sebagai
katup. Makin lama volume dan tekanan udara di dalam rongga
pleura makin tinggi akibat penumpukan udara di dalam rongga
pleura
(1,2,3,)
. Jenis fistel dapat berubah dan waktu ke waktu;
pneumotoraks terbuka dapat secara mendadak berubah menjadi
pneumotoraks tertutup atau bahkan pneurnotoraks ventil, de-
mikian sebaliknya(3,4).
PENYEBAB DAN KEKERAPAN PNEUMOTORAKS
Pneumotoraks dapat terjadi tanpa diketahui dengan jelas
faktor penyebabnya (pneumotoraks spontan idiopatik). Bebe-
rapa penyakit yang dapat menyebabkan pneumotoraks adalah
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995
18
tuberkulosis paru, pneumonia, abses paru, infark paru, keganas-
an, asma, dan penyakit paru obstruktif menahun. Bentuk ini
dikenal sebagai pneumotoraks spontan simtomatik. Pneumo-
toraks adakalanya dibuat secara sengaja untuk tujuan diagnostik
dan terapetik
(1)
. Adapun pneumotoraks traumatik terjadi akibat
trauma tembus atau tidak tembus, dan seringkali bersifat iatro-
genik akibat tindakan medik tertentu, seperti trakeostomi, intu-
basi endotrakea, kateterisasi vena sentralis, atau biopsi paru
(1,2,4)
.
Insiden pneumotoraks diperkirakan sebesar 9 per 100.000
orang per tahun. Jenis yang paling banyak ditemukan adalah
pneumotoraks spontan, terutama dijumpai pada penderita laki-
laki dengan badan kurus dan tinggi, berumur 20-40 tahun.
Perbandingan antara laki-laki dan perempuan sebesar 5: 1, dan
lebih banyak terdapat pada hemitoraks kanan, sementara pneu-
motoraks bilateral sebanyak 2 % dan semua pneumotoraks
spontan. Adapun insiden pneumotoraks ventil diperkirakan
sebesar 3-5% dari selurub kasus pneumotoraks spontan
(3,4)
.
DIAGNOSIS
Gejala Klinik
Keluhan utama yang diungkapkan penderita adalah nyeri
dada disertai sesak nafas yang timbul secara iriendadak. Batuk
acapkali juga ditemukan. Rasa nyeri bersifat menusuk di daerah
hemitoraks yang terserang dan bertambah berat pada saat ber-
nafas, batuk dan bergerak. Nyeri dapat menjalar ke arah bahu,
hipokondrium atau tengkuk. Rasa nyeri ini disebabkan oleh
perdarahan yang terjadi akibat robekan pteura viseralis dan
darah menimbulkan iritasi pada pleura viseralis
(1,5,6)
.
Sesak nafas makin lama makin hebat akibat pengempisan
paru yang terkena dan gangguan pengembangan paru yang sehat.
Penderita dapat mengalami kegagalan pernafasan akut, terutama
bila penyakit yang mendasari timbulnya pneumotoraks ventil
adalah asma atau penyakit paru obstruktif menahun. Batuk pada
umumnya tidak produktif, terutama padapneumotoraks spontan
idiopatik. Keluhan lain yang dapat dijumpai tergantung pada
kelainan yang mendasari timbulnya pneumotoraks ventil
(1,3,4)
.
Tanda Klinik
Penderita dapat mengalami kegelisahan, berkeringat dingin,
sianosis, dan syok. Dapat ditemukan hipotensi, nadi lebih dari
140 kali per menit, akral dingin, serta pelebaran pembuluh
darah vena leher dan dada. Tekanan dalam rongga pleura yang
tinggi dan pendorongan mediastinum beserta isinya ke arah sisi
yang sehat akan mengganggu aliran balik darah vena ke dalam
jantung, sehingga curah jantung menurun dan menyebabkan
syok kardial. Perlu diingat bahwa syok juga dapat disebabkan
oleh perdarahan masif di dalam rongga pleura
(2,3,5)
.
Pada inspeksi tampak hemitoraks yang terkena cembung
dengan ruang sela iga yang melebar dan tertinggal pada
pernafasan, iktus kordis bergeser ke sisi yang sehat dan trakea
juga terdorong ke sisi yang sehat. Pada palpasi didapatkan
fremitus suara melemah, iktus kordis dan trakea bergeser ke
sisi yang sehat. Perkusi di daerah paru yang terserang
terdengar hipersonor dan diafragma terdorong ke bawah. Batas-
batas jantung bergeser ke sisi yang sehat. Suara natas pada
auskultasi melemah sampai menghilang pada bagian paru
yang terkena
(1,4,5)
.
Gambaran Radiologik
Terlihat gambaran yang khas; bagian yang berisi udara akan
tampak hiperlusen (lebih gelap) tanpa corakan jaringan paru.
Jaringan paru yang menguncup terlihat di daerah hilus dengan
garis batas yang sangat harus. Juga terlihat mediastinum
beserta isinya terdorong ke sisi yang sehat. Apabila disertai
darah atau cairan, maka akan tampak garis batas mendatar yang
merupakan batas antara udara dan cairan
(3,4,5)
.
Penanganan
Setelah diagnosis pneumotoraks ventil ditegakkan, maka
harus segera dilakukan tindakan `kontra-ventil" untuk menye-
lamatkan nyawa penderita. Sebuah jarum atau Abbocath ber-
ukuran besar harus segera ditusukkan ke dalam rongga pleura
pada ruang sela iga ke dua linea mideo-klavikularis untuk
mengeluarkan udara dan dalam rongga pleura. Apabila ragu-
ragu terhadap kebenaran diagnosis, jarum dapat dihubungkan
dengan semprit. Jika memang benar, maka penghisap (piston
semprit) akan terdorong atau udara di dalam rongga pleura akan
mudah dihisap
(3,5)
. Bahaya tertusuknya paru tidak perlu dihirau-
kan, karena tidak berarti dibandingkan dengan hasil yang di-
peroleh melalui tindakan tersebut pada pneumotoraks ventil
(3)
.
Pada pangkal jarum selanjutnya dapat diikatkan kondom yang
bagian ujungnya telah diinsisi berbentuk seperti huruf V sebagai
klep kontra-ventil sederhana
(1)
. Dengan tindakan kontra-ventil,
pneumotoraks ventil diubah menjadi pneumotoraks terbuka
(3)
.
Pangkal jarum juga dapat dihubungkan dengan selang infus
dan bagian ujung selang lainnya dimasukkan ke dalam botol
berisi air kira-kira 2 cm di bawah permukaan air, sehingga
menjadi sebuah Water Sealed Drainage (WSD) mini
(1,5)
. Jika
WSD dapat berfungsi dengan baik, maka akan terlihat
keluarnya gelembung-gelembung udara ke permukaan air.
Selanjutnya penderita dapat segera dikirim ke rumah sakit agar
mendapatkan penanganan yang lebih baik serta pemeriksaan
lebih lengkap untuk menemukan kemungkinan penyakit yang
mendasari timbulnya pneumotoraks. Semua penderita
kegawatan medik ini harus dirawat di rumah sakit
Di rumah sakit selanjutnya dilakukan pemasangan WSD,
dengan sistem satu, dua atau tiga botol Pada sistem satu botol,
ujung selang dan rongga pleura dimasukkan ke dalam botol
yang berisi air. Jika ujung selang tidak berada di dalam air,
udara dari luar dapat masuk ke dalam rongga pleura. Pada WSD
sistem dua botol terdapat satu botol tambahan untuk mengum-
pulkan cairan yang tidak mempengaruhi botol dengan selang
yang terdapat di bawah permukaan air. Sementara pada sistem
tiga botol terdapat botol kontrol penghisap yang tekanannya
dapat diatur sesuai dengan tekanan rongga pleura yang diingin-
kan
(7)
. Keberhasilan penanganan pneumotoraks dengan WSD
dipengaruhi oleh pemeliharaan WSD; ujung selang tidak jarang
tergantung di atas permukaan air, sehingga udara dan luar
justru mengalir masuk ke dalam rongga pleura
(3)
.
Selang WSD dapat dimasukkan ke dalam rongga pleura
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995 19
Karena tetrasiklin dapat menimbulkan rasa sakit yang hebat,
maka pemberian bahan ini sebaiknya didahului dengan pem-
berian analgesik
(1,4,5)
.
melalui ruang sela iga ke 2 linea mid-klavikularis atau ruang
sela iga ke 7, 8 atau 9 linea aksilaris media. Setelah daerah
penusukan yang terpilih dibersihkan, selanjutnya dilakukan
anestesi lokal dengan lidokain 1%. Untuk mendapatkan efek
anestesi lokal yang memadai biasanya diperlukan waktu sekitar
510 menit. Insisi kulit dilakukan secara transversal selebar
kurang lebih 2 cm sampai subkutis dan kemudian dibuka secara
tumpul dengan kiem sampai mendapatkan pleura parietalis.
Pleura ditembus dengan gunting tajam yang ujungnya
melengkung sampai terdengar suara aliran udara (tanda pleura
parietalis telah terbuka). Selang dimasukkan ke dalam trokar
dan kemudian dimasukkan bersama-sama melalui lubang pada
kulit ke dalam rongga pleura. Apabila dipakai selang tanpa
trokar, maka ujung selang dijepit dengan klem tumpul untuk
mempermudah masuk nya selang ke dalam rongga pleura. Jika
posisi selang sudah benar, kulit di sekitar selang dijahit dengan
jahitan sarung guling dan sisa benang dililitkan pada selang
(7,8)
.
Torakotomi adalah operasi pembukaan rongga toraks ke-
mudian dilanjutkan dengan penjahitan fistel pada pleura. Operasi
ini diindikasikan pada kasus pneumotoraks kronik, pneumo-
toraks yang berulang 3 kali atau lebih, pneumotoraks bilateral,
serta jika pemasangan WSD mengalami kegagalan (paru tidak
mengembang atau terjadi kebocoran udara yang menetap
(1,4)
.
PROGNOSIS
Prognosis pneumotoraks ventil dipengaruhi oleh kecepatan
penanganan dan kelainan yang mendasari timbulnya pneumo-
toraks. Hampir semua penderita dapat diselamatkan jika pe-
nanganan dapat dilakukan secara dini
(1,3)
. Sekitar separuh kasus
pneumotoraks spontan akan mengalami kekambuhan. Tidak
ditemukan komplikasi jangka panjang setelah tindakan pe-
nanganan yang berhasil
(4)
.
Apabila setelah pemasangan WSD paru tidak dapat
mengembang dengan baik, maka dapat dilakukan penghisapan
secara berkala atau terus menerus. Tekanan yang biasanya
digunakan berkisar antara -12 sampai -20 cm air
(1,5)
.
PENUTUP
Pneumotoraks ventil merupakan suatu kegawatan medik
sehingga perlu diketahui dan diatasi secara dini. Dengan pe-
nanganan yang tampaknya sederhana, yaitu tindakan kontra-
ventil, banyak nyawa penderita kegawatan ini dapat diselamat-
kan.
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada pemasangan
WSD adalah empiema, laserasi paru, perforasi diafragma,
selang masuk ke dalam subkutan, perdarahan akibat ruptur
arteri interkostalis dan edema paru akibat pengembangan paru
yang mengempis secara mendadak
(3,7,8)
.
KEPUSTAKAAN
Pencabutan WSD
1. Koentjahja, Abiyoso, Agung S, Muktyati S. Pneumotoraks dan Penatalak-
sanaannya. Kumpulan Makalah Simposium Dokter Umum Gawat Darurat
Paru, Surakarta, 3 Juli 1993; 3945.
Setelah paru mengembang, yang ditandai terdengarnya
kembali suara nafas dan dipastikan dengan foto toraks, maka
selang WSD diklem selama 13 hari. Pengembangan paru
secara sempurna selain dapat dilihat pada foto toraks biasanya
dapat diperkirakan jika sudah tidak terdapat undulasi lagi pada
selang WSD. Apabila setelah diklem selama 13 hari paru tetap
mengembang, maka WSD dapat dicabut. Pencabutan selang
WSD dilakukan dalam keadaan ekspirasi maksimal
(3,5)
.
2. Suwento R, Fachruddin D. Emfisema Mediastinum dan Pneumotoraks
Pasca Trakeostomi. ORLI 1991; XXII (4): 10312.
3. PDPI Cabang Jakarta. Pneumotoraks. Kumpulan Makalah Seminar
Penanggulangan Keadaan Darurat pada Paru dan Saluran Pernafasan,
Surakarta, 8 November 1986; 115.
4. StafferJL. Spontaneous Pneumothorax. In: SchroederAS. et al (ed).
Current Medical Diagnosis and Treatment. Connecticut, USA: Appleton &
Lange 1989; 1899 1.
5. Suryatenggara W. Pneumotoraks. Dalam: Yunus, F. dkk (ed). Pulnionologi
Klinik. PB FKUI, 1992; 185187.
Pleurodesis dan Torakotomi
Pleurodesis adalah tindakan melekatkan pleura panietalis
dengan pleura viseralis untuk mencegah kekambuhan pneumo-
toraks. Tindakan ini dilakukan dengan memasukkan bahan
kimia tertentu, seperti glukosa 40% sebanyak 20 ml atau tetra-
siklin HCI 500 mg dilarutkan dalam 2550 ml garam faal.
6. Tjandrasusilo H. Nyeri Dada. Kumpulan Makalah Simposium Dokter
Umum Gawat Danirat Paru, Surakarta, 3 Juli 1993; 2 126.
7. Syafiuddin T. Pemasangan Selang Toraks. Majalah Dokter Keluarga,
1992; 11(1): 6770.
8. Lubis HNU. Penatalaksanaan Efusi Pleura pada Anak. Majalah
Kedokteran Indonesia, 1991; 14(10): 62226.
Paradise is always where love dwe1ls
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995
20