background image
TEKNIK
Petunjuk Praktis Trakeotomi
Sardjono Soedjak
Laboratorium/SMF. THT. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo, Surabaya
ABSTRAK
Dipandang dari sudut pendidikan dan dibandingkan dari sudut kesulitannya
maupun kedaruratan maka trakeotomi dapat dibagi atas 4 macam :
1. Trakeotomi biasa (tidak sulit, tidak darurat)
2. Trakeotomi sulit (tetapi tidak darurat)
3. Trakeotomi darurat (tetapi tidak sulit)
4. Trakeotomi sulit dan darurat.
Akan diberikan petunjuk praktis bagaimana mengatasi kesulitan dan kedaruratan
trakeotomi ini. Diberikan pula pitfalls bahaya-bahaya ketika melakukan trakeotomi,
bagaimana mencegahnya dan menanganinya.
Kata kunci : trakeotomi, kesulitan, kedaruratan, "pitfalls"/bahaya-bahaya.
PENDAHULUAN
Untuk para dokter yang baru pertama kali melakukan
trakeotomi diperlukan penderita yang belum sesak dan yang
secara teknis tidak sulit dalam mencari trakea. Untuk trakeo-
tomi berikutnya secara bertahap pada penderita yang makin
sulit atau dalam keadaan darurat. Makalah ini berisi petunjuk
bagaimana melakukan trakeotomi yang sulit dan darurat
(penderita sesak).
TRAKEOTOMI
Umumnya trakeotomi hanya dibagi atas elektif (di-
rencanakan) dan darurat. Tetapi dipandang dari segi pendidik-
an, dari kesulitan dan kedaruratan, trakeotomi dapat dibagi atas
4 macam.
A. Pembagian trakeotomi
Pembagian trakeotomi dipandang dari kesulitan dan
kedaruratannya adalah sebagai berikut. (Tabel 1)
Tabel 1. Jenis trakeotomi
Jenis trakeotomi
Gejala
sesak
Sianosis
Trakea sulit
teraba
Kepala sulit
ekstensi
Dibacakan di Konas XII Semarang, Oktober 1999.
1. Biasa
-
-
-
-
2. Sulit
-
-
+
+
3. Darurat
+
+
-
-
4. Darurat dan sulit
+
+
+
+
1. Trakeotomi biasa
Trakeotomi pada penderita yang tidak sesak dan trakea
mudah dicari, indikasinya :
a) Tumor laring yang belum lanjut (belum sesak), persiapan
biopsi.
b) Tumor pangkal lidah/tonsil, persiapan radiasi atau operasi
(untuk anestesi).
2. Trakeotomi sulit
Di sini trakea sulit teraba, dapat terjadi karena :
a) Trakea letaknya "dalam", sulit dicapai; hal ini karena ada
tumor koli.
b) Kepala sulit ekstensi karena adanya tumor koli.
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000
18
background image
c) Ada jaringan kelenjar tiroid besar di atasnya.
d) Ada pembuluh vena besar karena bendungan disebabkan
oleh tumor koli.
e) Lubang operasi tidak konsisten di garis tengah, karena
asisten memegang haak (pengait) tidak di garis tengah secara
konsisten.
f) Insisi terlalu pendek, lapangan operasi sempit sehingga
sulit meraba trakea.
g) Trakea terdorong ke lateral karena terdesak oleh tumor
koli.
h) Trakea tak teraba karena ada sikatrik bekas trakeotomi
dahulu.
3. Trakeotomi darurat
Darurat karena penderita sesak bahkan mungkin sudah
sianosis; sesak karena lumen sudah menutup jalan napas lebih
dari 90%.
4. Trakeotomi darurat dan sulit
Kombinasi ini bisa terjadi yang sangat membahayakan
jiwa penderita.
B. Indikasi trakeotomi
Dari kepustakaan biasanya ada sederet penyakit sebagai
indikasi, tetapi dipandang dari sudut masalah (problem orient-
ed) sebetulnya dapat dikelompokkan menjadi 4 hal penyebab
obstruksi jalan napas :
1) Tertutupnya jalan napas oleh tumor/parese korda vokalis
abduktor.
2) Saat ini belum obstruksi/sesak tetapi kelak bisa tertutup
kalau : a) Tumor edem karena diradiasi (tumor korda vokalis/
tosil/pangkal lidah; b) ada perdarahan akibat biopsi.
3) Perlu untuk anestesi karena melalui jalan biasa intubasi
sulit (tumor pangkal lidah/tumor tonsil).
Sebagai tambahan indikasi :
4)
Trakeotomi untuk pengambilan benda asing trakea-
bronkus bila tidak punya bronkoskop.
Ketika batuk, benda asing naik ke stoma, bisa dibatukkan
keluar melalui stoma trakeotomi atau tinggal diambil dengan
pinset kalau benda asing masih berada di stoma.
Contoh kasus :
Setelah penderita diperiksa dengan laringoskopi direkta,
tampak tumor laring yang menutup 80% lumen sehingga perlu
biopsi. Masalahnya : Apakah trakeotomi dahulu baru biopsi,
atau biopsi saja terlebih dahulu, baru trakeotomi tunggu kalau
sesak ?
Ada yang berpendapat : lebih baik trakeotomi elektif dari pada
trakeotomi darurat yang berhasil
(1,2)
. Putney
(3)
menganjurkan
untuk tidak menunda trakeotomi pada keadaan yang akan
menjadi darurat, sebab pada trakeotomi darurat ada kemung-
kinan penderita meninggal dunia. Dalam keadaan darurat lebih
banyak terjadi komplikasi walaupun oleh dokter yang sudah
terlatih
(4)
. Keuntungan lainnya : sebelum sesak dapat dipakai
untuk belajar trakeotomi pertama kali oleh PPDS I. Bila
diduga sebentar lagi akan sesak (kalau lumen tertutup lebih
dari 90%
(5)
, lebih baik ditrakeotomi saja. Seperti Moser's
dictum : "The time to do tracheostomy is when you first think
about it"
(6)
.
Bila akan dilakukan biopsi, padahal lumen laring sudah
tertutup lebih dari 80% (tetapi belum sesak), dilakukan
trakeotomi saja, sebab bila setelah biopsi terjadi perdarahan,
penderita tidak dapat membatukkan darahnya keluar. Pada
tumor laring tidak terjadi proses batuk yang efektif karena
korda vokalis tidak dapat dirapatkan di garis tengah (syarat
untuk batuk efektif); yang dapat terlihat saat trakeotomi,
tampak banyak sekret yang keluar dari stoma trakea.
C. Bagaimana mengatasi trakeotomi sulit
Kesulitan Mengatasinya
1. Sulit mencari trakea
Betulkan posisi kepala, agar trakea teraba
ekstensi kepala maksimal di art oksipito-
atlanto, punggung diganjal bantal.
Gambar 1. Posisi kepala ketika trakeotomi, mengekspose trakea secara
maksimal dengan eksistensi di art atlanto-okipito dan punggung diganjal
bantal.
Kalau letak trakea "dalam"
karena ada tumor koli
2. Kepala sulit ekstensi
karena tumor koli, atau
kalau telentang sesak
3. Ada jaringan tiroid di
alas trakea
4. Ada vena membesar
(karena bendungan)
5. Perdarahan karena insisi
6. Cara memegang "haak"
tidak konsisten sehingga
lubang operasi tidak di-
tengah (Haak = pengait)
Kalau "haak" dilepas,
lubang operasi tertutup,
lubang operasi hilang
- Insisi dari krikoid, sebab ini yang menonjol.
Di bawah krikoid ini trakea ring pertama, baru
dicari ring di bawahnya
(2)
.
- Posisi setengah duduk, baru kepala ekstensi
Usahakan sedapat mungkin ekstensi, sebab
kalau kepala tidak ekstensi sulit mencapai tra-
kea. Kalau terpaksa, insisi paas ring 1-2, kar-
na makin tinggi trakeotomi makin ideal untuk
laringektomi dalam membuat stoma
(8,9,10)
.
- Singkirkan ke atas (cranial) atau ke bawah
(caudal). Kalau tidak bisa, lepaskan dari
dasarnya dengan klem bengkok, lalu di klem
(di kanan dan kirinya), dipotong, dan dijahit.
Di bawah kelenjar tiroid ini biasanya sudah
tampak trakea.
- Sisihkan, kalau perlu diklem, dijahit dan
dipotong.
- Lakukan "insisi" dengan cara "tumpul" ialah
dengan gunting yang dibuka; setelah jaringan
diangkat sedikit dengan pinset anatomi,
dilubangi dan dilebarkan dengan gunting
(12,13)
; perdarahan yang ada dapat di klem jahit atau
kauter.
- Setiap kali "membuka" irisan secara tumpul,
diperiksa (dengan melepas haak) apakah
masih ada di garis tengah.
- Kalau berubah, tempat "insisi" dibetulkan
(diulangi agar tetap digaris tengah)
Gambar 2. Irisan secara tumpul pada setiap lapis harus tetap digaris
tengah agar kalau pengait ("haak") dilepas, lubang operasi tidak
"hilang".
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000 19
background image
Tempat irisan tak
konsisten: haak dilepas,
lubang "hilang"
7. Insisi terlalu sempit,
makin ke bawah akan
semakin sempit.
8. Trakea terdorong ke
lateral, oleh tumor koli.
9. Trakea sulit teraba
karena ada sikatrik
(trakeotomi lama)
- Tempat irisan konsisten di garis tengah
Kalau "haak" dilepas, lubang operasi masih
ada.
- Insisi 4 cm, (1-1 1/2 inch) nanti gampang
dijahit
(14,15,17)
.
- Bila mungkin sebelum operasi dibuat foto
soft tissue PA. Pedoman : insisi dari krikoid,
sebab ini yang teraba, baru menuju ke bawah
sesuai dengan terdesaknya trakea oleh tumor
koli.
- Memakai "haak" yang panjang, sebab trakea
mungkin "dalam".
- Diperiksa dengan jarum
(17)
diisi air, kalau
keluar udara berarti di bawahnya, ada trakea
Sikatrik ditembus saja (dengan insisi), sebab
di bawah sikatrik itu terletak trakea.
D. Bagaimana mengatasi trakeotomi darurat
Darurat ialah penderita dalam keadaan sesak, mungkin
sianosis. Mungkin terjadi Jackson grade 3 atau 4.
Tindakan pertama : pemberian oksigen yang efektif. Pen-
derita gelisah karena hipoksi, jadi jangan diberi sedatif, sebab
penderita harus secara aktif mengambil napas. Beri oksigen
supaya hipoksinya berkurang, sebab dalam keadaan hipoksi
berat dapat terjadi cardiac arrest
(18)
.
Bagaimana pemberian oksigen yang efektif ?
(18)
1) Pasang "nasal prong", penderita biar duduk dulu yang
enak untuk dirinya. Cara ini menaikkan kadar oksigen napas
30%. Dilakukan selama 5-10 menit.
2) Kemudian dipasang masker transparans untuk pemberian
oksigen yang lebih baik aliran oksigen 6-8 lpm. Kadar oksigen
napas menjadi 60%. Dilakukan 10 menit.
3) Baru dipasang masker sirkuit anestesi dengan high flow
oksigen. : 10 lpm. dengan cara ini kadar oksigen napas men-
jadi 100%. Setelah ini penderita akan tenang, dapat dilakukan
trakeotomi secara anaestesi lokal. Jadi prinsip trakeotomi bu-
kan tergesa-gesa mengiris dengan pisau, sebab dalam keadaan
hipoksi berat, pada penderita yang "melawan" tindakan, dapat
terjadi cardiac arrest.
Dalam keadaan sesak penderita menarik napas kuat-kuat,
yang justru akan membuat lebih sesak
(19)
. Penderita diminta
menarik napas perlahan-lahan saja, toh sudah diberi oksigen.
Setelah diberikan oksigen, penderita tenang, dapat ditidurkan
dengan posisi yang ideal, trakeotomi dapat dikerjakan.
E. Bagaimana kalau penderita sudah sianosis
Dalam keadaan sianosis, kematian dapat cepat terjadi
kalau tidak ditangani dengan serius. Sambil diberikan oksigen,
dalam keadaan sangat darurat dapat dikerjakan :
1. Krikotiroidotomi
Dibuat irisan di kulit secara horizontal terlebih dahulu di
antara krikoid dan tiroid, baru trocar mudah dimasukkan
(2,4)
.
Trocar akan sulit dimasukkan secara langsung sebab kulitnya
"tebal". Setelah diinsisi dapat dilebarkan dengan klem arteri
untuk memasukkan trocar atau kanule kecil
(12)
. Krikotiroido-
tomi ini hanya tindakan sementara, untuk memasukkan oksi-
gen, harus dilanjutkan dengan trakeotomi seperti biasanya.
2. Bronkoskopi
Dapat dilakukan pada midline paralisis.
Bronkoskopi merupakan tindakan yang sulit pada tumor
laring yang baru sesak kalau lumen sudah tertutup 90%. Jadi
sulit diterobos dengan bronkoskop yang kecilpun; keadaan ini
bisa terjadi sebab tumor tumbuh perlahan-lahan; dan penderita
beradaptasi dengan bernapas secara perlahan-lahan, sehingga
tidak sesak.
3. Insisi trakeotomi darurat secara Jackson
(16)
Trakea dipegang dengan jari telunjuk dan ibu jari tangan
kiri supaya lebih menonjol, kemudian dilakukan satu irisan
langsung dalam, sampai trakea. Perdarahan diharapkan tidak
ada. Kalau ada perdarahan biarkan saja, yang paling penting
segera mencapai trakea untuk memasukkan kanule
(12)
.
F. Bahaya-bahaya dalam trakeotomi (Pitfalls in
tracheotomy)
Dalam tindakan trakeotomi juga ada "pitfalls"="lubang
perangkap"/bahaya-bahaya yang perlu dihindari.
Bahaya Pencegahan-penanganan
1. Perdarahan
·
Di garis median tak ada arteri besar
(5)
jadi usahakan
operasi tetap di garis median
·
Lubang operasi dibuka secara tumpul dengan me-
makai gunting yang dibuka setelah jaringan dijepit
dengan klem anatomis dan dilubangi dengan
gunting
(11)
.
·
Pembuluh darah vena yang membesar karena ben-
dung an tumor koli dapat dihindari dengan "haak"
=pengait.
·
Perdarahan kecil yang ada segera dihentikan dengan
klem jahit (kalau ada waktu)
·
Arah gunting tegak lurus, tidak boleh ujungnya
masuk : bahaya perdarahan. tidak boleh ke arah la-
teral, sebab bisa menyebabkan pneumothorax
2. Pneumothorax
·
Terjadi kalau lapangan overasi ke lateral kopula
paru tertusuk, terjadi penumothorax
·
Operasi tetap dijaga di garis tengah.
3. Esofagus teriris
·
Ketika mengiris trakea dengan pisau
4. Emfisema
·
Tetjadi kalau luka operasi terlalu besar ketika ins-
pirasi, udara masuk : emfisem. Stroma besar boleh
saja biar mudah mencari trakea, tetapi kelak harus
dijahit
(7,14)
. Jahitan jangan terlalu ketat
(13)
.
·
Emfisema juga tejadi kalau memegang "haak"/
(pengait) dengan diangkat, sehingga, udara terhisap
masuk ke dalam jaringan, apalagi kalau penderita
sangat sesak
(20)
.
·
Emfisema juga dapat terjadi kalau kanule terIalu
kecil, udara masuk di sekitarnya.
5. Cardiac arrest
·
Tetjadi kalau hipoksi yang lama dan penderita
meronta-ronta, adrenalin meningkat
(11)
. Usahakan
mengurangi hipoksi tersebut, monitor keadaan
jantungnya, kalau tetjadi bradikardi dapat terdengar
dari suaranya
6. Stenosis trakea
·
Terjadi kalau trakeotomi tinggi (ring 1-2); sebaiknya
ring 2-3 atau 3-4
(13,15)
.
7. Paradoxal apnea:
karena pusat per-
napasan terbiasa
dengan hipoksi
kalau mendapat
oksigen banyak
malah apnea.
·
Dihindari dengan oksigenasi pratrakeotomi
Bila kanule sudah terpasang, pemberian oksigen
harus bertahap.
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000
20
background image
RINGKASAN
Symposium on Otolaryngologic and Head and Neck Emergencies in The
Otolaryngologic Clinics of North America, WB Saunders Co 1979; pp
351-73.
Telah disajikan pembagian trakeotomi dipandang dari segi
pendidikan, yang mengutamakan keadaan penderita yang sulit
dan darurat.
5.
Tucker JA. Obstruction of the major pediatric airway-in Symposium on
Otolaryngology and Head and Neck Emergencies. Otolaryngologic
Clinics of North America WB Saunders Co 1979; pp 329-31.
Telah diberikan pula petunjuk bagaimana mengatasi
kesulitan tersebut : kesulitan dalam mencari trakea, dan dalam
keadaan darurat kalau penderita sesak dan sianosis. Diberikan
pula pitfalls = bahaya-bahaya ketika melakukan trakeotomi.
Semua ini dalam upaya menolong penderita yang mengalami
kesulitan obstruksi jalan napas yang hanya satu itu.
6. Bradley PJ. The obstructed airway in Scott' Brown Otolaryngology
Butterworths London : 5
th
ed Kerr AG Ed; p 161.
7.
Grillo HC, Mathisen DJ. Tracheotomy and its complications in Sabiston
DC Textbook of Surgery. Philadelphia, London : 14
th
ed WB Saunders
Co, 1991; pp 1704-9.
8.
Gerling PG, Hammelburg EM. Keel Neus en Oorhelkunde. Haarlem: de
Erven F Bohn NV, 1971; pp 235-9.
9.
Tabah EJ. Diseases of the Face Mouth and Neck in Mosley HF Textbook
of Surgery, 3
rd
ed CV Mosby Co, 1959; pp 371-3.
KEPUSTAKAAN
10. Becker W, Naumann HH, Pfaltz CR. Ear Nose and Throat Diseases,
Stuttgart New York: Georg Thieme Verag, 1988; pp 446-7.
1.
Lore JM. An Atlas of Head Neck Surgery Philadelphia, London : WB
Saunders Co, 1962; pp 32-5.
11. de Wit G. Inleiding in de Keel Neus Oorhellkunde Erven J Bijleveld,
Utrecht : 2de druk 1968; p 209.
2. Weisler MC. Tracheotomy and intubation in Baily BJ Head and Neck
Surgery Otolaryngology Vol 1 JB Lippincott Co Philadelphia 1993;
pp711-24.
12. Still PM. Laryngology in Scott Brown's Otolaryngology. Butterworths
5
th
ed London; 155-68.
13. Seid AB, Thomas GK. Tracheotomy in Parparella Otolaryngology. 2
nd
ed
WB Saunders Co, 1980; p 3006.
3.
Putney FJ. The larynx and trachea in Christopher's Texbook of Surgery,
Philadelphia, London : Davis ed 6
th
, WB Saunders Co, 1956; pp 337-8.
4.
Linscott MS, Horton WC. Management of Upper Airway Obstruction in
Tiap satu menit, di dunia
8 orang meninggal
akibat penyakit
yang berhubungan
dengan merokok !
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000 21