background image
HASIL PENELITIAN
Peran Serta Masyarakat
dalam Penanggulangan Malaria
Menggunakan Kelambu Celup
di Mimika Timur, Irian Jaya
Suhardjo*, Ramly Bandy*, Helper Manalu*, Wita Pribadi**
*) Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
**) Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
ABSTRAK
Pada tahun 1993/1994 telah dilakukan penelitian peran serta masyarakat dalam pe-
nanggulangan penyakit malaria dengan menggunakan kelambu celup di daerah hiper-
endemis Mimika Timur, Irian Jaya.
Tujuan penelitian adalah meningkatkan peran serta masyarakat dalam penanggulang
an malaria dengan menggunakan kelambu atas swadaya.
Penduduk diberikan perlakuan (intervensi) dengan penyuluhan kesehatan melalui
kader setempat, dan dibagikan kelambu kepada semua penduduk dengan sasaran utama
anak < 10 tahun yang kemudian penggunaannya dipantau oleh kader.
Hasil studi menunjukkan bahwa, rata-rata jumlah persentase penggunaan kelambu
secara terus menerus dan rata-rata penggunaan kelambu 6 X > per bulan oleh anak < 10
tahun di Mwapi adalah 36,2% (=63,7%), Hiripau sebesar 40,1% (­65,1%), dan Kaugapu
45,8% (=66,0%). Sementara rata-rata jumlah hari penggunaan kelambu dalam satu bulan
oleh anak < 10 tahun di tiga desa yaitu 21,1 hari. Rincian per desa adalah Mwapi rata-rata
21,6 hari (72,0%), Hiripau 20,8 hari (69,3%) dan Kaugapu 21,0 hari (70,0%).
Dengan demikian penggunaan kelambu oleh anak < l0 tahun d tiga desa, hasil rata-
ratanya kurang lebih sama dan belum memadai. Hal ini menunjukkan perilaku peng-
gunaan kelambu masih rendah, sehingga perlu ditingkatkan penyuluhan kesehatan yang
efektif dan efisien.
PENDAHULUAN
Pulau Irian Jaya termasuk wilayah Indonesia Bagian Timur
(IBT), merupakan salah satu daerah pengembangan pemukiman
transmigrasi di samping daerah-daerah lainnya. Irian Jaya me-
rupakan propinsi yang tergolong muda ini merupakan daerah
endemi malaria.
Penyakit malaria merupakan masalah kesehatan masyarakat
yang penanganannya perlu melibatkan peranserta masyarakat.
Upaya kesehatan memerlukan masukan ilmiah, tidak hanya dari
ilmu kedokteran, dan ilmu kesehatan dalam arti luas, tetapi juga
dan berbagai ilmu lain. Di antaranya, ilmu-ilmu sosial mem-
punyai peranan yang sangat besar
(1)
.
Pada tahun 1993/1994 telah dilakukan penelitian Peran-
serta Masyarakat Dalam Penanggulangan Penyakit Malaria
Dengan Menggunakan Kelambu Yang Dicelup (permetrin) di
Daerah Hiperendemi Mimika Timur, Irian Jaya.
Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan peranserta
dan mengubah perilaku masyarakat dalam hal pengadaan dan
Disajikan pada Kongres Nasional IAKMI VIII tanggal, 9­11 Oktober 1995 di
Yogyakarta.
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997
20
background image
penggunaan kelambu celup. secara mandiri, dalam upaya men-
cegah terjangkitnya malaria.
Penelitian dilakukan secara terpadu antara bidang sosial,
entomologi dan medis
(2)
. Dalam makalah ini hanya disajikan
aspek sosiologis sebagai bagian dan studi multidisiplin, dan
selanjutnya akan dibahas masalah penggunaan kelambu oleh
anak < 10 tahun di daerah penelitian tersebut. Hasilnya di-
harapkan dapat dijadikan informasi dan masukan bagi program
dalam upaya membangun sumberdaya manusia melalui bidang
kesehatan, sebagai wujud pelaksanaan GBHN 1988 yang me-
nyatakan bahwa tunas bangsa, generasi muda perlu dibina men
jadi kader pembangunan yang sehat dan kreatif
(3)
.
METODOLOGI
Penelitian ini dilakukan di tiga desa yaitu Desa Mwapi dan
Hiripau sebagai desa studi, dan Desa Kaugapu sebagai desa
kontrol. Seluruh rumah dan Keluarga (KK) menjadi responden
di tiap desa.
Dilakukan perlakuan (intervensi) berupa penyuluhan ke-
sehatan dan penggunaan kelambu oleh Tim Sosial Pusat kepada
masyarakat melalui kader setempat yang dilatih lebih dahulu
dengan memakai poster cara penggunaan kelambu. tiap kader
menangani 8 sampai 10 rumah penduduk, dan pelaksanaan tugas
kader sehari-harinya dipantau oleh Kepala Desa (Kades) masing-
masing. Sebagai koordinator umum ditunjuk seorang petugas
dan Puskesmas Kecamatan Mapuru Jaya. Jumlah kader masing-
masing desa adalah:
­ Desa Mwapi = 7 orang
­ Desa Hiripau =
11 orang
­ Desa Kaugapu = 12 orang
Jumlah kader
=
30 orang.
Untuk desa studi, yaitu Mwapi dan Hiripau dibagi kelambu
yang dicelup dengan permetrin, dan desa kontrol (Kaugapu) di-
bagikan kelambu biasa (plasebo).
Kelambu dibagikan ke seluruh rumah dan KK dengan sasaran
utama anak < 10 tahun. Penggunaan kelambu maksimal untuk 3
orang. Jumlah pembagian kelambu disesuaikan dengan kamar
tidur/ruangan yang ada, dan semua rumah harus mendapat ke-
lambu walaupun tidak ada anak < 10 tahun.
Penggunaan kelambu oleh penduduk di tiga desa dipantau
oleh kader tiap 2 X seminggu pada Senin malam dan Kamis
malam antara pukul 19.00­21.00 saat anak-anak sudah tidur.
Kegiatan kader juga dipantau dan dicheck langsung ke
lapangan oleh angota Tim Sosial Pusat setiap 1 bulan sekali.
Hasil monitoring setiap bulan setelah diperiksa oleh Koordinator
umum kemudian dikirim ke Jakarta (Tim Sosial Pusat) melalui
PT Freeport Indonesia, untuk dilakukan pengolahan data secara
deskriptif, kualitatif dan kuantitatif.
HASIL
Data penduduk dari hasil survai tiga desa jumlahnya adalah
1.698 jiwa (=408 KK), terdiri atas Desa Mwapi 518 jiwa (= 123
KK), Hiripau 581 jiwa (=142 KK) dan Desa Kaugapu 599 jiwa
(= 143 KK).
Jumlah keluarga yang memiliki anak < 10 tahun di Mwapi
sebanyak 92 KKA, di Hiripau 96 KKA dan di Kaugapu 93 KKA.
Sedangkan jumlah anak < 10 tahun seluruhnya di tiga desa se-
banyak 596 orang, terdiri atas 188 orang di Mwapi, 186 orang di
Hiripau dan 222 orang di Kaugapu.
Persentase pengadaan dan penggunaan kelambu
Pernyataan responden sebanyak 95,4­98% merasakan bahwa
penggunaan kelambu sudah menjadi kebutuhan dalam keluarga;
data tahun sebelumnya (1992/1993) menunjukkan antara 62,8­
Namun demikian jumlah dan mereka yang bersedia
menyisihkan uang untuk membeli kelambu sendiri ternyata
jianya 40­56,5%, sedangkan data tahun sebelumnya menunjuk-
kan antara 44,9­87,3% Sisanya tidak bersedia dengan alasan
antara lain karena ekonomi belum mampu (Tabel 1). Sementara
kemampuan bagi mereka yang bersedia menyisihkan sebagian
uangnya besarnya antara Rp. 1.000,- sampai Rp. 5.000,-/bulan,
dan ada yang menyatakan jumlahnya tidak tentu.
Tabel 1. Distribusi frekuensi peranserta masyarakat dalam pengadaan
dan
penggunaan
kelambu/bulan
di
tiga
desa
Mwapi
n = 46R
(50%)
Hiripau
n = 65R
(68%)
Kaugapu
n = 51R
(55%)
No. Peranserta
masyarakat
(%) (%) (%)
1 Penggunaan
kelambu
merupakan kebutuhan
keluarga.
- Ya
97,8 95,4
98,0
-
Tidak
­
4,6
2,0
- Tidak punya pendapat
2,2
­
­
100
100
100
2 Bersedia
menyisihkan
uang untuk membeli
kelambu.
-
Ya
54,0
40,0
56,5
-
Tidak
41,7
52,3
41,5
- Tidak punya pendapat
4,3
7,7
2,0
100
100
100
Sumber: Laporan Sosiologi Tahun Kedud
(4)
Pembagian kelambu pada penduduk
Sampai pada bulan April 1994, telah dibagikan kelambu
kepada penduduk desa Mwapi sebanyak 202 buah (=518 jiwa,
123 KK, 188 anak), desa Hiripau 226 buah (=531 jiwa, 142 KK,
186 anak) dan desa Kaugapu sebanyak 242 buah kelambu (=599
jiwa, 143 KK,222 anak) (Tabel 2).
Perilaku Penggunaan Kelambu
a) Persentase anak < 10 tahun yang memakai kelambu
Rata-ratajumlah persentase anak < 10 tahun yang memakai
kelambu secara terus menerus per bulan yaitu antara 8­9 kali
monitoring selama periode bulan Agustus 1993 bulan April
1994 di desa Hiripau adalah 40,1% Desa Mwapi, 36,2% dan Desa
Kaugapu 45,8%. Apabila diambil patokan memakai kelambu
sebanyak> 6 X monitoring (= memakai kelambu selama 75%
dalam sebulan) maka untuk ketiga desa diperoleh persentase
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997 21
background image
Tabel 2. Pembagian kelambu di desa Mwapi, Hiripau dan Kaugapu per April 1994
No. Desa
Jumlah
rumah
Jumlah
KK
Jumlah jiwa/
anak
<
10 th
Jumlah
kelambu
Rata-rata
klb/KK
Rata-rata
jiwa/klb
Rata-rata
<
10 th/klb
Rata-rata
klb/rumah
1
Mwapi
75
123
518/188
202 *
1,6 klb
/KK
2,6 jiwa
/klb
0,9 anak
/klb
2,7 klb
rumah
2
Hiripau
91
142
581/186
226 *
1,6 k1b
/KK
2,6 jiwa
/klb
0,8 anak
/klb
2,5 klb
/rumah
3
Kaugapu 95
143
599/222
242 **
1,7 klb
/KK
2,5 jiwa
/klb
0,9 anak
/kib
2,5 klb
/rumah
Jumlah 161 408 1.698/596 670+)
/KK
1,6 klb
/klb
2,5 jiwa
/klb
0,9 anak
/klb
4,2 klb
/rumah
Sumber : Laporan Sosiologi Tahun Kedua
4)
.
Keterangan :
* = Kelambu celup yang dibagikan di desa Mwapi & Hiripau
** = Kelambu biasa (plasebo) untuk desa Kaugapu
+) = Jumlah kelambu celup dan kelambu biasa.
hampir sama yaitu : Mwapi sebanyak 63,7%, Hiripau 65,1% dan
Kaugapu 66,9% (Tabel 3).
Tabel 3. Persentase rata-rata anak < 10 tahun yang menggunakan kelambu,
periode
Agustus
1993
­
April
1994
No. Desa
8-9X
6-7X
1
2
3
Mwapi
Hiripau
Kaugapu
36,2%
40,1%
45,8%
63,7
65,1
66,9
Sumber: Laporan Sosiologi Tahun Kedua
b) Rata-rata jumlah hari penggunaan kelambu oleh anak < 10
tahun per bulan
Rata-rata jumlah hari penggunaan kelambu oleh anak < 10
tahun dan bulan Agustus 1993 sampai bulan April 1994 di tiga
desa kurang lebih sama. Hasilnya menunjukkan desa Mwapi
rata-rata21,6hari(72,0%),Hiripau 20,8hari(69,3%) dan Kaugapu
21,0 hari (70,0%) (Tabel 4).
Tabel 4. Persentase rata-rata jumlah hari penggunaan kelambu oleh anak
< 10 tahun, periode Agustus 1993 ­ April 1994
No. Desa
Hari
Rata-rata
1
2
3
Mwapi
Hiripau
Kaugapu
21,6
20,8
21,0
72,0 %
69,3 %
70,0 %
Sumber: Laporan Sosiologi Tahun Kedua
c) Efek samping penggunaan kelambu
Untuk mengetahui adanya efek samping (keluhan) yang
dirasakan oleh penduduk pengaruh dan penggunaan kelambu
celup, maka selama 3 bulan pertama telah dilakukan pengamat-
an terhadap sejumlah responden yaitu 113 orang penduduk desa
Mwapi dan 111 orang di desa Hiripau. Adapun jenis keluhan
yang dirasakan dan pengakuan mereka umumnya merasa panas;
yaitu 23,3% diakui oleh penduduk Mwapi dan 73% oleh pen-
duduk Hinipau. Keluhan lainnya yaitu sesak nafas, batuk, sakit
kepala, gatal dan lain-lain, namun jumlahnya relatif kecil. Hasil
pengamatan penggunaan kelambu di tiga desa selama tiga bulan,
dari mereka yang menyatakan merasa dingin, sejuk dan nyaman,
hanya terdapat di desa Mwapi dan Hiripau persentasenya ma-
sing-masing desa adalah 3 8,9% dan 8,7%. Sedangkan responden
yang menyatakan tidak ada keluhan yaitu sekitar 32,5% di desa
Mwapi dan 26% di Kaugapu.
d) Hambatan terhadap pen ggunaan kelambu.
Hambatan yang dijumpai berkenaan dengan penggunaan
kelambu pada umumnya adalah pemeliharaan kelambu oleh
penduduk kurang baik. Terdapat kerusakan kelambu setelah
enam bulan mencapai rata-rata 66,9% untuk ketiga desa. Di desa
Mwapi rusak sekitar 65,7%, di Hiripau 60,2 dan di Kaugapu
74,9%.
Jenis hambatan yang banyak kaitannya dengan perilaku
penduduk yang sifatnya kurang menguntungkan dalam peng-
gunaan kelambu antara lain:
­ Kebiasaan penduduk membuat asap-asapan di dalam rumah
­ Kebiasaan penduduk membawa kelambunya ke pantai/kebun
­ Kebiasaan anjing piaraan dibiarkan masuk ke tempat tidur
­ Anak-anak dibiarkan bermain dalam kelambu (siang/malam)
­ Rumah tidak bersih sehingga banyak tikus dan kecoa
­ Kelambu digunakan melebihi maksimal (>3 orang)
­ Pengaruh menonton televisi umum di tempat terbuka
­ Mobilitas penduduk yang tinggi.
PEMBAHASAN
Sebagaimana telah disebutkan, kegiatan yang dilakukan
tahun 1993/1994 adalah melakukan intervensai di tiga desa :
Mwapi dan Hiripau sebagai desa studi serta Kaugapu sebagai
desa kontrol. Di tiga desa diberikan perlakuan (intervensi) yang
sama berupa penyuluhan kesehatan dan penggunaan kelambu;
desa studi mendapat kelambu celup, sedangkan desa kontrol
memperoleh kelambu non celup (plasebo).
Jumlah kelambu celup yang telah dibagikan (Tabel 2)
adalah sebanyak 428 buah; rinciannya sebagai berikut:
·
Desa Mwapi 202 buah kelambu dengan jumlah jiwa 518
orang, 123 kepala keluarga, menghuni sebanyak 75 buah rumah.
Termasuk dalam keluanga tersebut anak < 10 tahun sebanyak 188
orang. Sehingga pembagian kelambu secara rata-rata di desa
Mwapu adalah 2,7 kelambu/rumah, 2,6 jiwa/kelambu dan 0,9
anak/kelambu (Tabel 2).
·
Desa Hinpau mendapat kelambu sebanyak 226 buah,
dengan jumlah jiwa 581 orang, 142 kepala keluarga, menghuni
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997
22
background image
rumah sebanyak 91 buah. Di dalamnya terdapat 186 anak < 10
tahun. Dengan demikian, secara rata-rata untuk desa Hiripau di-
peroleh angka rata-rata 2,5 kelambu/rumah, 2,6 jiwa/kelambu
dan 0,8 anak/kelambu (Tabel 2).
·
Sedangkan pembagian kelambu biasa (plasebo) diperuntuk-
kan bagi desa Kaugapu sebagai desa kontrol. Jumlah kelambu
yang telah dibagikan kepada semua keluarga di Kaugapu adalah
242 buah yang meliputi 599 jiwa, 143 kepala keluarga, 95 buah
rumah dan 222 anak < 10 tahun. Sehingga rata-rata jumlah ke-
lambu yang diperoleh penduduk Kaugapu adalah 2,5 kelambu/
rumah, 2,5 jiwa/kelambu dan 0,9 anak/kelambu (Tabel 2).
Dengan demikian pembagian kelambu tersebut merata dan
memenuhi kriteria yang telah ditentukan, dengan angka rata-rata
kurang lebih sama bagi masing-masing.
Sasaran utama pembagian dan penggunaan kelambu adalah
anak < 10 tahun, karena itu pengolahan datanya difokuskan pada
hasil monitoring kader pada tiap Senin malam dan Kamis malam,
atas penggunaan kelambu oleh anak < 10 tahun. Dalam Tabel 3
disajikan persentase rata-rata/bulan anak < 10 tahun yang meng-
gunakan kelambu secara terus menerus per bulan; di Mwapi
adalah 36,2% dan yang menggunakan 6 X ke atas rata-rata
63,7%. Di desa Hiripau rata-rata/bulan penggunaan kelambu
secara terus menerus menunjukkan 40,1% dan yang mengguna-
kan 6 X ke atas mencapai 65,1%. Sedangkan desa Kaugapu, rata-
rata persentase anak < 10 tahun yang menggunakan kelambu
secara terus menerus/bulan adalah 45,8% dan yang mengguna-
kan sebanyak 6 X ke atas adalah 66,9%.
Data pada Tabel 3 tersebut memberikan informasi rata-rata/
bulan yang hampir sama untuk ketiga desa baik yang mengguna-
kan secara terus-menerus dalam satu bulan (monitor sebanyak
8­9 kali), (MWP = 36,2%, HRP = 40,1% dan KGP = 45,8%),
maupun yang menggunakan sebanyak 6 kali ke atas (=75% dari
satu bulan) yaitu : (MWP = 63,7%, HRP = 65,1% dan KGP =
66,9%). Data tersebut menunjukkan bahwa perilaku pengguna-
an kelambu oleh anak < 10 tahun secara rata-rata hampir sama
dan tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Dengan de-
mikian data tersebut dapat menggambarkan bahwa pengaruh
intervensi penyuluhan kesehatan bagi ketiga desa adalah sama.
Rata-rata jumlah hari penggunaan kelambu dalam satu bu-
lan oleh anak < 10 tahun bagi ketiga desa hampir sama (berbeda
tidak bermakna). Tabel 4 menunjukkan rata-rata penggunaan
kelambu di desa Mwapi per bulan adalah 21,6 hari (72,0%), di
Hiripau adalah 20,8 hari (69,3%) dan Kaugapu 21,0 hari (70,0%).
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hasil tersebut mem-
berikan gambaran pengaruh intervensi penyuluhan kesehatan
bagi ketiga desa adalah sama.
Data pada Tabel 4 memberikan informasi rata-rata jumlah
hari penggunaan kelambu/bulan bagi ketiga desa hanya se-
banyak 21,1 hari (tiga minggu dalam satu bulan). Berarti satu
minggu sisanya tidak menggunakan kelambu. Hari-hari itu
mungkin digunakan ke pantailke tempat lain atau tidur di rumah
tetapi tidak menggunakan kelambu. Sehingga sisa waktu satu
minggu tersebut menjadi peluang besar bagi anak tergigit nya-
muk malaria, yang menyebabkan terkena sakit malaria.
Efek samping dan penggunaan kelambu pada tiga bulan
pertama terbanyak adalah panas, yaitu 23,3% di Mwapi, 73,0%
di Hiripau dan Kaugapu 11,6%. Tetapi menurut pengamatan tim
berdasarkan perilaku mereka sehari-hari maka keluhan tersebut
bukan merupakan efek samping akibat menggunakan kelambu
(celup), melainkan karena pengaruh asap-asapan dalam rumah
yang biasa mereka buat tiap malam atau mungkin tidurnya ber-
desak-desakan dalam satu kelambu karena kebiasaan memakai
kelambu melebihi kapasitas (melebihi tiga orang). Hal ini pula
yang antara lain menyebabkan kelambu cepat rusak.
Keluhan-keluhan lainnya dapat diabaikan, karena relatif
sangat kecil. Sebaliknya banyak juga responden yang menyata-
kan tidak ada keluhan, bahkan merasanyaman. Jumlahnya cukup
banyak. Yang merasa nyaman 8,7%­38,9% dan yang tidak ada
keluhan 26,0%­32,5%. Keluhan-keluhan yang tercatat setelah
bulan Juli 1993, ternyata makin berkurang bahkan sampai tidak
ada keluhan lagi. Jadi agaknya terjadi proses adaptasi. Data ini
menunjukkan bahwa penggunaan kelambu celup tidak menim-
bulkan efek samping dan dapat diterima oleh masyarakat.
Kerusakan kelambu disebabkan oleh berbagai perilaku yang
kurang baik dan anggota rumah tangga. Peranserta masyarakat
dalam upaya pengadaan dan penggunaan kelambu secara man-
diri (swadaya masyarakat) belum dapat diharapkan dalam waktu
dekat, karena keadaan ekonomi yang sangat lemah, di samping
masih adanya perilaku masyarakat yang negatif (kurang men-
dukung).
KESIMPULAN
1) Data penlaku penggunaan kelambu oleh anak < 10 tahun di
tiga desa rata-rata dapat dikatakan kurang lebih sama dan belum
memadai (± 40%).
2) Rata-rata jumlah hari penggunaan kelambu dalam satu
bulan oleh anak < 10- tahun di tiga desa hampir sama, yaitu
sekitar 21,1 hari. Angka ini dianggap belum memadai. Sisa
waktu kurang lebih 1 minggu tidak menggunakan kelambu
kemungkinan mendapat peluang besar untuk digigit nyamuk
yang dapat menyebabkan terkena sakit malaria.
3) Efek samping penggunaan kelambu celup tidak ada. Peng-
gunaan kelambu celup dapat diterima oleh masyarakat.
4) Peranserta masyarakat dalam upaya pengadaan dan peng-
gunaan kelambu atas swadaya masyarakat belum dapat diharap-
kan dalam waktu dekat karena tingkat sosial, ekonominya belum
memungkinkan. Perubahan perilaku ke arah yang positif memer-
lukan proses yang panjang dan lama.
SARAN
·
Penyuluhan kesehatan dan penggunaan kelambu perlu di-
tingkatkan dan digalakkan secara teratur dan berkesinambungan.
·
Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga ber-
sama-sama dengan sektor lain perlu ditingkatkan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997 23
background image
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak, yang telah mem-
bantu pelaksanaan penelitian dan penulisan makalah ini.
Ucapan terima kasih disampaikan pula kepada PT. Freeport Indonesia
Company, yang telah memberikan bantuan berupa dana dan fasilitas lainnya
dalam pelaksanaan penelitian tersebut.
KEPUSTAKAAN
1. Koentjaraningrat, AA. Loedin, (1985). Ilmu-ilmu Sosial Dalam Pembangun-
an Kesehatan, PT. Gramedia, Jakarta.
2. Garis-garis Besar Haluan Negara Tahun 1988.
3. Santoso, Sapardiyah SS dkk. Penanggulangan Penyakit Malaria dengan
partisipasi Masyarakat di Daerah Hiperendemi, Mimika Timur, klan Jaya
Laporan Sosiologi, Tahun Pertama, April 1992­ April 1993.
4. Bandy MR dkk. Peranserta Masyarakat Dalam Penanggulangan Penyakit
Malaria Dengan Menggunakan Kelambu Yang Dipoles di Daerah Hiper
endemis, Timika, Irian Jaya , Laporan Sosiologi, Tahun Kedua, April
1993­ April 1994.
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997
24