LAPORAN KASUS
Penyakit Membran Hialin
H. Nuchsan Umar Lubis DSA
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum Langsa. Aceh Timur
ABSTRAK
Penyakit membran hialin merupakan salah satu penyebab gangguan pernapasan pada
bayi baru lahir yang sering terjadi pada kehamilan kurang bulan. Perbaikan surfaktan
paru yang belum sempurna dapat memperbaiki keadaan sindrom gangguan pernapasan
idiopatik (SGPI).
Risiko penyakit membran hialin akan meninggi pada ibu menderita DM. kehamilan
< 37 minggu. lahir dengan bedah Caesar, perdarahan antepartum, asfiksi, serta riwayat
sehelumnya dengan penyakit membran hialin.
Peinberian deksametason intravena pada ibu dengan bayi kurang bulan bermanfaat
mencegah PMH.
PENDAHULUAN
Penyakit membran hialin (PMH) merupakan salah satu
penyebab gangguan pernapasan pada bayi baru lahir. PMH atau
sindrom gangguan pernapasan idiopatik (SUPT) merupakan sa-
lah satu penyebah utama kematian bayi selama periode baru
luhir" Penyakit ini terjadi pada bayi kurang bulan karena
pematangan parunya yang belum sempurna; pada PMH tingkat
pematangan paru lebin berperan terhadap timbulnya penyakit
bila dibandingkan dengan masalah kurang bulan
(2)
; sehingga
dengan pengelolaan yang baik bayi dengan PMH dapat dise-
lamatkan sehingga angka kematian dapat ditekan
(3-4)
. Keber-
hasilan ini dapat dicapai dengan memperbaiki keadaan surfaktan
paru yang belum sempurna dengan ventilasi mekanik, pemberian
surfaktan dari luar tuhuh, asuhan antenatal yang baik serta
pemberian steroid pada ibu kehamilan kurang bulan dengan
janin yang mengalami stres pernapasan
(3-7)
.
Penyakit membran hialin biasanya muncul dalam beberapa
menu setelah bayi lahir yang ditandai dengan pernapasan cepat;
irekuensl lebih dari 60x/menit, pernapasan cuping hidung,
retraksi interkostal, supra sternal, dan epigastrium
(2,8,9)
. Faktor
yang mempermudah terjadinya PMH adalah persalinan kurang
bulan, asfiksia intrauterin, tindakan seksio caesaria, diabetes
melitus,. dan ibu dengan riwayat persalinan kurang bulan se-
belumnya, kelahiran yang dipercepat setelah perdarahan
antepartum, serta riwayat sebelumnya dengan penyakit membran
hialin
(10)
.
Berdasarkan Foto toraks, stadium penyakit membran hialin
adalah sebagai berikut
(8,11)
:
a)
Stadium dini (I); Bercak milier paru dengan diameter 0,6
mm dikenal sebagai pola retikulo granular.
b) Stadium II; Pola retikulo granular disertai bayangan
bronkogram udara sampai lapangan perifer paru kanan dan kiri,
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998 19
batas diafragma kabur.
c) Stadium III; Kedua lapangan paru tampak radio opak dengan
bronkogram udara sampai lapangan perifer paru. Batas jantung
dan diafragma tidak tampak lagi.
d) Stadium IV (akhir); Bercak menjadi satu dan merata disebut
paru putih.
KASUS
Bayi Ny R. laki-laki bangsa Indonesia lahir di RSU Langsa/
Aceh Timur pada tanggal I I Rini 1996, umur 56 jam, terlihat
tanda-tanda sindrom gangguan pernapasan. Bayi dirawat di
Bagian Perinatologi Rumah Sakit Umum Langsa.
Riwayat Persalinan
Lahir dengan pembedahan, alas indikasi plasenta previa,
gawat janin dan letak lintang. Nilai APGAR I menit dan 5 menit
1-3. Berat badan lahir 2450 gram, panjang badan saat lahir 43
cm.
Riwayat keluarga dan kehamilan
Penderita merupakan anak ke 3,Ibu berumur 34 tahun, pen-
didikan sarjana. Ayah berumur 37 tahun, pendidikan sarjana,
pekerjaannya pegawai negeri. Hari pertama haid terakhir tanggal
10-1-1995. Pemeriksaan antenatal 6 kali, hanya minum vitamin
selama haid, penyakit selama hamil tidak ada.
Pemeriksaan fisik
Seorang bayi laki-laki, berat badan 2450 gram, panjang
hadan 43 cm, merintih, sesak nafas, sianosis dan apnu. Setelah
dilakukan resusitasi kardiopulmonal pernapasan menjadi 65 x/
menit. Retleks lemah. Kepala tidak ada kelainan, dada simetris
dan terdapat retraksi di daerah suprasternal, interkostal dan
epigastrium. Jantung dalam batas normal. Pada auskultasi paru
suara pernapasan kurang terdengar. Perut lemas. Hati dan limpa
tidak teraba. Anggota gerak bawah biru.
Foto toraks disimpulkan terdapat penyakit membran hialin
stadium III.
Diagnosis kerja
Neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan, asfiksia
berat, penyakit membran hialin stadium III.
Penatalaksanaan
Penderita dirawat dalam inkubator, diberi IVFD KAEN I B
dengan tetesan 6-12 tetes mikro/menit, oksigen intranasal 1-2
liter/m.Vitamin K1 mg,ampisilin 100 mg/6jam/iv.deksametason
1.5 mg/6 jam/iv.
Pada hari kedua perawatan didapatkan sesak napas ber-
tambah. Untuk mencegah kelelahan, oksigen intranasal dinaikkan
menjadi intermiten 5 1/menit, pembersihan jalan napas serta
dilakukan pernapasan ambu bag. Pemeriksaan analisis gas darah
tidak dilakukan karena alatnya tidak ada. Pemeriksaan darah tepi
menunjukkan Hb 19,1 g/dl, gula darah 79 mg% trombosit 32.400/
mm
3
. Bayi melemah, kedua kaki kebiru-biruan dan agak
mengeras. Kesan pada waktu itu terjadi sepsis. Fungsi lumbal
tidak dilakukan karena keadaan umum tidak baik.
Pada hari ketiga perawatan keadaan umum penderita ber-
tambah buruk, kesadaran menurun sampai sopor. Pada waktu
itu diputuskan untuk meneruskan terapi. Pada pukul 14.00WIB
penderita mengalami bradikardi dan dilakukan resusitasi
kardiopulmonal. Usaha ini tidak berhasil dan pada pukul 14.15
WIB bayi tersebut meninggal
ANALISIS KASUS
Pada kelompok kehamilan risiko tinggi, seperti pada kasus
ini kesejahteraan janin mungkin terancam apabila dibiarkan
berlangsung aterm. Di lain pihak, tindakan terminasi pada
kehamilan kurang bulan sering dihadapkan kepada risiko PMH,
oleh karena itu penentuan saat yang optimal dalam melakukan
tindakan terminasi kehamilan akan mengurangi angka morbiditas
dan mortalitas neonatal akibat PMH. Pemeriksaan maturitas janin
prenatal, khususnya maturitas paru sangat penting artinya dalam
upaya mengurangi kejadian PMH seperti uji buss, (uji kocok,
uji Clements)
(10)
.
Diagnosis penyakit membran hialin ditegakkan berdasarkan
riwayat kehamilan kurang bulan, nilai APGAR I menit 1 dan 5
menit 1-3, pemeriksaan fisik serta into toraks.
Hal yang memperberat penyakit ini ialah adanya asfiksi
intrauterin yaitu perdarahan antepartum dan letak lintang
(10)
.
Sianosis pada neonatus dapat disebabkan oleh banyak hal. Bila
dengan pemberian oksigen 100% sianosis hilang berarti
penyebabnya adalah kelainan paru, sedangkan jika menetap
mungkin sekali kelainan jantung menjadi penyebab
(12)
.
KEPUSTAKAAN
1. Levin DL. Hyaline Membrane Disease. Dalam. A Practical Guide to
Pediatric Intensive Care, 2nd ed. St. Louis, Toronto: Princeton. 1984
22232.
2. Stahlman MT Hyaline membrane disease. Dalam: Avery. Neonatology,
2nd ed. Philadelphia, Toronto: Lippincott 1981: 37688.
3. StarkAR, Hyaline membrane disease. Dalam: Cloherty 1P, Stale AR. reds)
Manual of Neonatal Cart. Boston: Little Brawn. 1985: 16773.
4. French NP Identification and management of RDS in the neonate.
Disampaikan pada Kongres Nasional Perinasia II. Surabaya 2729 Mare,
1986.
5. Fujiwaa T, Child S,WatanabeY.Maeta H. Morita T, Abe T. Artificial
surfactant therapy in hyaline membrane disease. Lancet 1980; 12: 549.
6. Hallman M. Nerrh T. larvenpoa AL, Boynton B, Mannahao F, Gluck L.
Moore T. Edwads D. Exogenous human syndrome : A. Randomized
prospective clinical trial. I Pediatr 1985; 106 96369.
7. Menit TA, Hallman M.Holcomb, Strayer D, Bloom B, Revak S. Cochrane
CG. Human Surfactant treatment of severe respiratory distress syndrome :
pulmonary effluent indicators of lung infartionon. J Pediatr 1986; 108:
74148.
8. Behrmon R):, Kliegman RM. Hyaline Membrane Disease, Dalam: Nelson
Textbook of Pediatrics 13th ed. Philadelphia: WB Saunders 1987 :
39498.
9. Karim YA. Penanggulangan idiopatik respiratory distress syndrome,
Dalam: Hassan R, Tjokroncgom A. (ed.) Pengobaan intensif - anak.
Jakarta: FKUI, 1982: 8288.
10. Karsono B. Pencegahan Penyakit Membrane Hialin. SindromGawat Nafas
pada Neonate. Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Kesehatan
Anak XXXIII. Takata 89 Juli 1991: 1924.
11. Tamaela LA. Aspek Radiologis Sindrom Gawat Nafas Bayi Baru Lahir.
Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Kesehatan Anak XXXIII.
Jakarta 89 Juli 1991 : 2530.
12. Sukman IF. Sastroasmoro S. Penyakit dan pemeriksaan Fisis Kardio
Vaskuler pada Neonatus. Pengenalan Dini dan Tatalaksana Penyakit
jantung Bawaan Pada Neonates. Pendidikan Kedokleran Berkelanjutan
Ilmu Kesehatan Anak XXXIII FKUI, Jakarta 1991 : 489.
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998
20