PENYAKIT AUTOALERGI
PADA SISTIM TRAKTUS REPRODUKSI PRIA
Imunologi pada mulanya hanya
mempelajari aspek-aspek yang berhu-
bungan dengan kekebalan terhadap ku-
man penyakit. Akan tetapi dewasa ini
ilmu tersebut telah berkembang sedemi-
kian rupa sehingga mencakup hal yang
sama sekali tidak ada hubungannya
dengan kekebalan seseorang. Penyakit
autoimun, atau lebih tepat untuk dika-
takan penyakit autoalergi, adalah salah
satu faset bidang imunologi - akan
tetapi mengandung pengertian yang ber-
tentangan dengan kekebalan atau im-
munity . Pada keadaan ini, maka kom-
ponen-komponen imun seseorang, baik
yang termasuk imunitas humoral - yaitu
zatanti, maupun imunitas seluler - yaitu
sel limfosit sensitip, yang dibentuk di-
dalam tubuh justru menyebabkan suatu
malapetaka bagi orang yang bersang-
kutan.
Dahulu, sebelum imunologi ber-
kembang seperti sekarang ini, dikira
bahwa doktrin
PAUL EHRLICH
ten-
tang horror autotoxicus yang berisi
pengertian bahwa tubuh kita tidak per-
nah dan tidak akan mengadakan suatu
respons imun terhadap komponen ja-
ringan tubuhnya sendiri, dapat diper-
tahankan. Doktrin tersebut ternyata,
berdasarkan fakta klinik serta penyeli-
dikan pada binatang percobaan, seka-
rang telah usang; immunological ma-
chinary tubuh ternyata dapat mem-
bentuk zatanti terhadap antigen tubuh-
nya sendiri.
Sir F.M. BU
R NET,
seorang ahli imu-
nologi, telah membagi antigen dalam
dua golongan besar, yaitu self antigen
dan not-self antigen . Dalam kondisi
yang normal, maka self antigen tidak
pernah dapat merangsang sel-sel imuno-
logik yang kompeten untuk membuat
zatanti. Hal ini disebabkan karena di
dalam tubuh terdapat suatu fenomena
imunobiologik
yang dikenal sebagai
self recognition dan self tolerance
terhadap antigen tubuhnya sendiri. Se-
baliknya, pada keadaan-keadaan terten-
tu, ke dua mekanisme itu dapat ter -
Arjatmo Tjokronegoro
Bagian Biologi
FKUI.
Jakarta
ganggu serta tidak berfungsi; dan seba-
gai manifestasinya, terjadilah apa yang
kita kenal sebagai penyakit autoimun
atau autoalergi.
Sebab-sebab daripada kegagalan
tubuh dalam "melihat" suatu self anti-
gen sebagai not-self antigen , sehingga
terjadi penyakit tersebut, ialah karena:
1. adanya barier anatomik, yaitu yang
memisahkan self antigen dengan sel-
sel imunologik tubuh, yang tergang-
gu.
2. adanya reaksi silang antara zatanti,
yang dibcntuk terhadap not-self an-
tigen , dengan self antigen .
3. adanya perubahan susunan kimiawi
self antigen , umpamanya
karena
terinfeksi virus dll., sehingga tidak
lagi dikenal sebagai antigen tubuh-
nya sendiri.
4. adanya keabnormalan daripada sis-
tem imunologik tubuh itu sendi-
ri.
Dewasa ini, di pusat-pusat riset
mengenai infertilitas manusia, para sar-
jana sedang giat mempelajari adanya
penyakit autoalergi pada traktus repro-
duksi pria. Autozatanti terhadap ja-
ringan testis maupun sperma tidak se-
harusnya dibentuk, akan tetapi fakta-
nya, baik secara eksperimen pada bi-
natang percobaan maupun secara klinik
sebagai kasus infertilitas pria, banyak
ditemukan serta dilaporkan orang.
Berdasarkan hipotesa clonal se-
lection yang mengatakan bahwa, pada
waktu clone daripada sel-sel pemben-
tuk zatanti dibentuk, sistem traktus
reproduksi pria belum matang serta
dikelilingi oleh selapis blood testis-
barrier , sehingga akibatnya semua an-
tigen bagian tubuh ini akhirnya dikenal
sebagai not-self antigen . Bila dikemu-
dian hari terjadi suatu kerusakan barrier
anatomik tersebut, umpamanya akibat
proses peradangan, trauma mekanik dll..
sehingga timbul ekstravasasi sperma,
maka dengan segera tubuh akan meng-
adakan suatu respons imun dan mem-
bentuk zatanti terhadapnya.
Hingga, sekarang, para sarjana te-
lah terbuka matanya dan sadar bahwa
dari kumpulan zatanti terhadap sperma
atau seminal plasma itu terdapat ber-
bagai macam aktivitas. Adanya zatanti
yang sanggup mengumpalkan sperma-
yang disebut sperm--agglutinating anti-
body ; ada yang sanggup menghentikan
pergerakan sperma motil - yang disebut
sperm--immobilization antibody ; dan
ada pula yang sanggup menghancurkan
serta mematikan sperma - yang disebut
sperm--cytotoxic antibody .
Di samping ini, secara eksperimen
maka penyuntikan sperma autologus
atau jaringan testis autologus ke dalam
tubuhnya sendiri, akan menyebabkan
penyakit yang dikenal sebagai auto-
allergic aspermatogenesis orchitis . Ke-
adaan ini diduga bukan disebabkan oleh
adanya zatanti, melainkan oleh timbul-
nya respons imun yang bersifat seluler
( cell-mediated immunity ). Di samping
proses spermatogenesis yang terhenti,
di dalam tubulus seminiferus itu dite-
mukan banyak sel radang,-sel-sel yang
merusak jaringan testis.
q
KEPUSTAKAAN
1. HEKMAN A. and RUMKE Ph. :Antigens
of semen and autoimmunity against sper-
matozoa in infertile men. In: Proc.
Se-
rono Symposia, Vol.5
edits. Maneini RE
and Martini L London, Academic Press,
1974, p. 249.
2. RUMKE Ph. :The spermatozoa and testes
in allergic disease. In:
Clinical Aspects
of Immunology 2nd ed.
edits. Gell PGH
and Coombs RRA London, Blackwell
Scientific Public., 1968, p. 1143.
3. .SAMUEL T, KOLK AHJ, RUMKE Ph
and VAN LIS JMJ. :Autoimmunity to
sperm antigens in vasectomized men.
Clin
Exp Immunol
21 : 65, 1975.
4. SHULMAN S. :Antigenicity and Autoim-
munity in sexual reproduction: A review.
Ciin Exp Immunol
9 : 267, 1971.
Cermin Dunia Kedokteran No.
6, 1976.
2 5