background image
Penetapan Golongan Darah, Hb Darah
dari Donor dan Cross Matching terhadap
Donatur dan Resipien
yang Dipersiapkan untuk Transfusi
Dra. Yovita Lisawati, Apt.
Bagian Farmasi, Universitas Andalas, Padang
ABSTRAK
Telah dilakukan tinjauan penetapan golongan darah, Hb darah dari donatur dan cross-
matching terhadap donatur dan resipien yang dipersiapkan untuk transfusi di Dinas
Transfusi Darah ­ PMI Cabang Padang.
Hasil yang didapat menyatakan bahwa pemeriksaan terhadap calon donatur masih
cukup baik;'kadar Hb darah lebih baik ditentukan secara Hb-meter dibandingkan dengan
cara berat jenis (memakai larutan CuSO
4
dan cross-matching untuk 20 sampel yang
diperiksa, memberikan hasil negatif (tercampur dengan baik).
PENDAHULUAN
Darah yang sangat penting bagi tubuh manusia terdiri dari
plasma darah dan butir-butir darah; jika salah satu unsur tersebut
tidak ada, maka darah tidak akan melaksanakan tugasnya. Ma-
nusia dewasa normal mempunyai darah sebanyak 8­10% dari
berat badannya, jadi kira-kira 5 liter untuk laki-laki dan 4 liter
untuk wanita
(1,2,3)
. Berkurangnya volume darah dalam tubuh
akibat luka, kecelakaan, operasi, anemia dan lain-lain dapat di-
tanggulangi dengan transfusi sebagai terapi supportif
(3)
.
Transfusi adalah suatu proses pemberian darah yang berasal
dari seseorang yang diberikan langsung melalui vena penerima
yang membutuhkannya
(1,3)
. Transfusi dapat dilaksanakan bila
memenuhi persyaratan; untuk donatur ditentukan umur, berat
badan, golongan darah sistem ABO, tekanan darah, Hb darah
dan riwayat penyakit. Untuk resipien ditentukan golongan
darah dan cross-match antara darah donatur dan resipien.
Apabila persyaratan tersebut telah dipenuhi, maka transfusi
dapat dilaksanakan.
Mengingat pentingnya transfusi sebagai terapi, penetapan
golongan darah dan persyaratan lain yang harus dipenuhi agar
transfusi berjalan dengan baik, dilakukan penelitian mengenai
hal tersebut pada Dinas Transfusi Darah ­ PMI Cabang Padang.
Juga diharapkan penelitian ini dapat menunjang ilmu praktis di
bidang Farmasi dalam pmeriksaan laboratorium klinik dan
kriminalitas.
PELAKSANAAN PERCOBAAN
A) Penetapan Golongan Darah (sistem ABO)
1)
Ambil 1 tetes serum anti A, anti B dan anti AB.
Campurkan dengan 1 tetes serum sampel memakai ujung kaca.
Goyang dengan membuat gerakan melingkar.
2)
Amati, bila terjadi aglutinasi berarti reaksi positif, atau
sebaliknya (Gambar 1).
B) Penetapan Kadar Hb darah
a) Penetapan berat jenis
1)
Darah sampel diteteskan pada larutan CuSO
4
0,5% yang
berat jenisnya ± 1,051.
2)
Amati, bila terbenam langsung, maka kadar Hb tersebut
memenuhi syarat sebesar 12,5 g%. (Dengan tanda positif pada
tabel 1).
b) Cara sahli (Hb meter)
1) Dalam tabung pengencer haemometer masukkan 5 tetes HCl
0,1%. Catat waktunya dan segera dialirkan 0,02 ml darah dari
pipet haemoglobin. Jangan terjadi gelembung udara. Terjadi
warna coklat tua.
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994
16
background image
Tabel
1.
Data
Donatur
yang
Memenuhi
Syarat
dan
Crossmatching antara Donatur dan Resipien (20 sampel)
Hb darah
Rhesus
No.
No. Kantong
darah
Umur
(th)
B. Badan
(kg)
BJ Sahli
GoL darah
donor
Tek. darah
donor
GoL darah
resipien
Donor Resipien
Coombs
test
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
229/1495050
230/1495150
231/1506485
233/1495230
237/1497102
238/1506032
241/0646632
243/0642454
246/1755966
262/1495639
263/0646325
265/1495639
266/1495499
269/1494761
363/0645329
364/0648962
365/I­1499478
366/1505433
368/1495507
370/1505407
38
52
32
19
21
25
26
34
35
24
31
23
23
26
30
25
28
30
36
24
51,5
63,0
54,5
47,5
64,0
50,5
46,5
66,0
54,0
49,0
67,0
49,0
76,0
65,0
64,0
56,0
54,5
64,0
71,0
47,0
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
12,9
13,2
14,3
13,4
13,1
15,2
12,3
12,7
12,8
14,3
13,5
13,6
14,0
13,8
12,8
14,6
13,1
12,5
13,0
12,4
0
A
B
0
B
A
C
AB
A
C
0
0
A
AB
A
0
AB
B
0
0
160/100
130/80
120/80
130/90
150/100
120/80
125/80
130/85
140/90
120/80
130/90
145/85
125/75
130/90
125/80
120/80
150/90
155/95
120/80
120/60
0
A
B
0
B
A
0
AB
A
0
0
0
A
AB
A
0
AB
B
0
0
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
Catatan
: - Kadar
Hb
memenuhi
syarat
adalah
12,5
- 16,5
gram
%.
Coombs
test
negatif darah
tercampur
baik.
2) Encerkan dengan air setetes demi setetes sarnbil diaduk-
aduk, amati persamaan warna selama 5 menit. Lalu baca kadar
haemoglobin (tabel 1).
C) Penetapan Golongan Rh Darah Donor dan Resipien
1)
Ambil 1 tetes darah donatur dan 1 tetes darah resipien.
Masing-masing ditambahkan 1 tetes serum anti D, kemudian
goyang dengan membuat gerakan melingkar.
2)
Amati, bila terjadi aglutinasi dinyatakan Rh positif dan
sebaliknya (tabel 1).
D) Cross-Matching
Untuk menentukan zat antibodi yang bebas dalam serum
resipien yang menyebabkan tidak tercampurnya darah dari
donatur, dilakukan 3 fase pada suhu kamar; inkubasi pada tem-
peratur 37°C anti globulin fase (Coombs test). Cara ini
dilakukan secara minor dan mayor.
Fase I :
Keempat tabung di atas dikocok-kocok, biarkan pada suhu
kamar selama 15 menit atau langsung putar 1000 rpm selama 1
menit, amati reaksi terhadap haemolisis dan aglutinasi. Bila
reaksinya negatif, maka diteruskan ke fase 2.
Fase 2 :
Keempat tabung diinkubasi pada temperatur 37°C
a) Untuk tabung I dan III (albumin medium) boleh 15 menit.
b) Untuk tabung II dan IV (saline medium) hams 1 jam. Dalam
hal ini kita dapat memilih a atau b. Setelah masa inkubasi
masing-masing tabung cukup, baca reaksinya secara
makroskopis tanpa diputar, kemudian baca aglutinasinya secara
mikroskopis. Bila hasilnya negatif, teruskan ke fase 3.
Fase 3 :
Dari keempat tabung, cuci selnya 3-4 kali dengan saline.
Pada pencucian terakhir supernatan dibuang, biarkan sel ter-
suspensi lagi oleh sisa-sisa saline. Kemudian tabung I dan III
atau II dan IV tambah masing-masing dengan 1 tetes Coombs
serum. Lalu aduk. Kemudian putar dengan kecepatan 1000 rpm
selama 1 menit. Amati adanya reaksi aglutinasi secara
makroskopis dan mikroskopis (tabel 1).
Reaksi aglutinasi (penggumpalan) yang terjadi baik pada
penetapan golongan darah (sistem ABO), Rh dan Cross-match-
ing dapat diketahui sebagai berikut :
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 17
background image
Tabe1 2. Efek yang Timbul pada Resipien Setelah Transfusi (dari hasil
pemeriksaan
dokter)
Sampel
No. Efek-efek
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
Suhu naik 1°C
Suhu naik 2°C
Menggigil
Gatal-gatal
Reaksi setelah
beberapa jam
Reaksi datangnya
segera
Nyeri
Hb urine
Sakit kepala
Sesak nafas
Henti jantung
Darah yang tidak
memberikan efek
+
­
­
+
+
­
­
­
­
­
­
+
­
­
+
­
+
­
­
­
+
­
­
+
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
+
+
­
­
­
­
­
+
­
­
­
+
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
+
+
Catatan : ­ (negatif) = tidak terjadi
+
(positif) =
terjadi
HASIL
Golongan darah donatur yang memenuhi syarat didapatkan
20 sampel, golongan darah A sebanyak 5 sampel, golongan B se-
banyak 3 sampel, golongan 0 sebanyak 9 sampel dan golongan
AB sebanyak 3 sampel. Berdasarkan golongan darah donor ini
dilakukan cross-matching dengan darah penderita yang mem-
punyai golongan yang sama. Selanjutnya untuk golongan darah
Rh, didapatkan semua sampel mempunyai Rh positif dan untuk
resipien juga golongan Rh-nya positif.
Untuk cross-matching antara darah donor dan resipien di-
dapatkan reaksinya negatif, berarti darah bercampur dengan
baik.
KESIMPULAN
1)
Pemeriksaan terhadap calon donatur cukup baik walaupun
masih dititikberatkan pada pemeriksaan fisik dan wawancara.
2)
Penetapan kadar Hb darah secara Hb meter lebih baik di-
bandingkan penetapan kadar secara berat jenis.
3)
Cross-matching negatif berarti darah donatur atau resipien
tercampur dengan baik, maka transfusi dapat dilaksanakan
dengan baik.
SARAN
Pengambilan darah donatur dipisahkan dari kantong darah
untuk menghindari kontaminasi udara dan menjamin sterilitas.
KEPUSTAKAAN
1.
Guyton AC. Text Book of Medical Physiology, second ed, Illustrated.
Philadelphia and London: WB Saunders Co 1976. p. 88­96.
2.
Harper HA. Review of Physiological Chemistry, 17th ed. California:
Lange Med Publ 1977. p. 188­226.
3.
Mollison PL. Blood Transfution in Clinical Medicine, sixth ed. Oxford,
London, Edinburg, Melbourne: Blackwell Scient Publ 1979. p. 114­15.
4.
Arndt-Hanser A. Coombs Primer, Biotest Serum Institute GmbH. D-6500
Mainz, Federal Republic of Germany, 1977. p. 4­26.
5.
Falcomer DS. Introduction to Quantitative Genetics. New York: The
Ronald Press Company 1972. p. 16-7.
6.
Gandasoebrata R. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta: Dian Rakyat
1974. Hal 1113, 52­56.
7.
Gall P, Hand G, Coombs RRA. Clinical Aspect of Immunology, seconded,
Blackwell Scient Publ 1968. p. 102­8.
8.
Gilmore LO. Dairy Cattle Breeding. Chicago, Philadelphia. New York: JB
Lipponcott Co 1952. p. 279­89.
9.
Greenwalt TJ. Padaogenesis and Management of Hemolytic Transfusion
Reaction. Seminar in Hematology. (April) 1981; 18(2): 91­2.
Praise makes good men better and and bad men worse
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994
18