TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Nyeri Dada dan Makna Klinisnya
Edi Sugiyanto
Rumah Sakit Islam Sunan Kudus, Kudus
PENDAHULUAN
Penderita dengan keluhan nyeri dada sering dijumpai pada
praktek sehari-hari. Keluhan ini sering menimbulkan rasa ka-
watir pada penderita akan adanya gangguan pada organ vital di
dalam dada seperti jantung, paru dan lain-lain, sedangkan dari
pihak dokter, keluhan nyeri dada bukanlah merupakan persoalan
yang sederhana. Dokter perlu mengadakan evaluasi untuk me-
nentukan penyebab nyeri dada, apakah penyebabnya tunggal
ataukah masih ada penyebab yang lain, apakah penyebabnya
merupakan keadaan gawat atau tidak.
Memahami patogenesis terjadinya nyeri dada serta makna
klinisnya secara baik akan membantu menentukan diagnosis
lebih tepat dan selanjutnya akan mengarahkan kepada terapi
yang lebih rasional. Tulisan berikut akan menyoroti tentang
patogenesis beberapa jenis nyeri dada dan makna klinisnya.
PERSARAFAN
Rasa nyeri di daerah dada dan perut dipengaruhi oleh saraf
intercostales (T112), Nervus sympathicus, N. panasympathicus.
1) Nn. Intercostales
a) Sensorik Nn. intercostales seperti yang digariskan derma-
toma.
b) Saraf motorik yang menguasai otot-otot dada dan perut
seperti tersebut di bawah ini.
Th1 - 12 Musculi intercostales externa.
Musculi intercostales interna.
Th6 - 12 Musculus rectus abdominalis.
Th5 - 12 Musculus obliquus externus abdominis externa.
Musculus obliquus externus abdominis interna.
L1 - 2 Musculus cremaster.
2) Susunan saraf otonom:
Rasa nyeri alat dalam, berhubungan dengan susunan saraf
otonom.
a) Rasa nyeri jantung :
Rasa nyeri pada penyakit jantung biasanya dirasakan dari
Th1 4, yang dinamakan serabut sensorik atau viseral aferen.
Badan sel berada di dalam ganglion akan posterior, serabut saraf
akan mengikuti nervus cardiacus (symphaticus), ujung cabang-
cabang para symphaticus dan nervus Vagus membentuk plexus
candiacus.
b) Rasa nyeri perut :
Rasa nyeri perut yang disebut rasa nyeri alat dalam biasanya
dirasakan dan Th5 12. Badan sel saraf ini berada di dalam
ganglion akar posterior dan bersatu dengan nervus splanchnicus.
Pada rasa nyeri jantung atau perut, bila ganglion symphaticus
diblok, jalanan transmisi tersebut akan terputus, sehingga meng-
hilangkan rasa sakit.
KAUSA NYERI DADA
Nyeri dada dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab.
Lokasi nyeri dada tergantung derivat segmental saraf aferen.
Berbagai penyebab nyeri dada dapat dilihat pada Tabel 1.
GAMBARAN KLINIS
Meskipun penyebab nyeri dada demikian banyak, namun
yang akan dibahas di sini adalah beberapa jenis nyeri dada
yang sering dijumpai dalam praktek sehari-hari yaitu:
1) Jantung
·
Nyeri angina pektoris yaitu suatu sindrom klinis terjadinya
sakit dada yang khas yaitu seperti ditekan atau terasa berat di
dada yang seringkali menjalar ke lengan kiri. Rasa sakit tidak
lebih 10 menit dan dengan istirahat rasa sakit menghilang. Letak
rasa sakit biasanya di sternum atau sub sternum, kadang men-
jalar ke punggung, rahang, leher. Kadang rasa sakit seperti di
epigastrium, gigi dan bahu. Rasa sakit seperti ditekan benda
berat, seperti dijepit, atau perasaan tak enak.
Angina pektoris ada 3 macam yaitu :
a) Angina pektoris stabil, timbul sakit dada bila melakukan
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997
22
Tabel 1. Klasifikasi anatomik nyeri dada (modifikasi dari Prout & Cooper,
1987)
1. Jantung
a. Miokardium (iskemia, infark, miokarditis)
b. Perikardium (perikarditis)
c. Katup (prolaps katup mitral, insufisiensi aortalstenosis)
2. Struktur intratoraks yang lain
a. Saluran bronkopulmonal dan pleura (pneumonia, pleuritis, tumor,
pneumothoraks)
b. Esofagus (refluks esofagitis, hiatus hernia, tumor dan spasme) c.
Aorta(aneurisma)
d. Mediastinum (emfisema, tumor atau infeksi nodus limfatikus dan
struktur mediatinum yang lain)
e. Diafragma (tumor, radang)
3. Jaringan leher dan dinding dada
a. Kulit dan kelenjar mammae (herpes zoster. mastitis) b. Otot (mialgia
interkostal)
c. Tulang (trauma, neoplasma, artritis)
d. Medula spinalis dan serabut syaraf (radang dan lesi kompresi)
4. Struktur abdomen
a. Lambung dan duodenum (ulkus dan neoplasma lmbung) b. Hepar dan
saluran empedu (kolesititis) c. Pankreas (pankreatitis)
d. Peritoneum
e. Limpa
f. Ginjal
g. Usus besar
aktifitas fisik sampai kapasitas tertentu dan menghilang bila
istirahat.
b) Angina pektoris tidak stabil, angina pektoris yang datang
pertama kali, angina pektoris makin lama makin berat, pre-
infarction angina
c) Prinzmetal angina yaitu rasa nyeri dada justru pada saat
istirahat disertai ST segmen elevasi pada pemeriksaan EKG.
·
Nyeri infark miokard akut (IMA) adalah nyeri dada yang
terjadi akibat kerusakan (nekrosis) otot jantung akibat aliran
darah ke otot jantung terganggu. Rasa nyeri pada IMA terjadi
karena rangsang kimiawi atau mekanik pada ujung reseptor
saraf. Rangsang ini melalui serabut aferen simpatis ke ganglion
simpatis, radiks posterior menuju medula spinalis Th15. Di sini
impuls aferen simpatis bertemu dengan impuls somatik struktur
thoraks. Hal ini merupakan dasar terjadinya cardiac referred
pain. Impuls berjalan melalui traktus spinotalamikus ke talamus,
dan menuju kortex serebri sehingga terdapat sensasi rasa sakit.
Keluhan nyeri dada akibat IMA adalah sebagai berikut :
lokasi nyeri dada bisa substernal, prekordial, epigastriurn. Nyeri
dada menjalar ke lengan kiri, leher dan rahang. Lamanya nyeri
dada lebih dari 30 menit. Kualitas nyeri dada berupa seperti di-
tekan, diremas, atau terasa berat. Nyeri dada tidak hilang dengan
istirahat atau pemberian nitras sublingual. Dapat disertai palpi-
tasi, sesak nafas, banyak keringat dan pucat. Meskipun pada
umumnya nyeri dada IMA merupakan nyeri dada yang berat,
tetapi pada Framingham Study dijumpai 25% penderita IMA
tanpa keluhan nyeri dada (silent myocardial infarction) yaitu
terutama pada penderita diabetes melitus.
·
Nyeri karena perikarditis dirasakan restrosternal juga,
tetapi biasanya bertambah sewaktu berbaring terlentang dan
membaik kalau duduk tegak atau sedikit membungkuk. Pada
waktu bernafas dalam, nyerinya bertambab. Perasaan tak enak di
dada yang disertai perasaan seperti letih, nafas pendek, jantung
berdebar-debar, dan takikardi; perasaan tidak tenang dapat
disajikan oleh pasien dengan prolaps katup mitral.
2) Struktur intratoraks yang lain
·
Nyeri pleural akibat penyakit paru yang menyebabkan kaku
pleura. Nyeri dirasakan dada samping secara unilateral, ber-
tambah karena pernafasan; sedangkan gerakan badan tidak mem-
pengaruhinya. ini berbeda dengan nyeri miofasioskeletal yang
bertambah karena pernafasan dan juga gerakan otot atau skelet.
·
Nyeri pulmonal
Dapat timbul akibat emboli pulmonum atau pneumotoraks,
dapat terasa di dada atau di samping toraks yang terasa meng-
hebat pada waktu inspirasi. Nyeri pleural dan nyeri pulmonal
hampir serupa, dibedakan dari pemeriksaan fisik.
·
Nyeri esofagal yang timbul pada esofagitis akibat hernia
hiatus dirasakan retrosternal dan sekitarnya. Tidak jarang otot
dath juga terasa nyeri. Sikap terlentang biasanya membangkit-
kan atau memperkuat nyeri esofagal.
·
Nyeri akibat aneurisma aortae disekans terasa seperti nyeri
yang tajam di dada atau di punggung yang menjalar dari atas ke
bawah sesuai dengan tempat robeknya dinding aorta.
3) Jaringan leher dan dinding dada
·
Nyeri herpes zoster
Infeksi virus herpes zoster melanda ganglion spinale dan
juga radiks dorsalis, bahkan kornu posterior pun dapat terlibat
juga. Para penderita yang mengidap herpes zoster adalah orang-
orang yang kesehatan tubuhnya sedang menurun dan umumnya
yang sudah setengah tua. Herpes zoster sering timbul sebagai
penyakit interkuren, yaitu suatu penyakit yang bangkit sewaktu
menderita penyakit tertentu.
Adapun gambaran gejala prodromalnya adalah sebagai
berikut: kesehatan umum terganggu oleh perasaan tidak enak
badan yang ringan, adakalanya pasien melaporkan secara
spontan adanya daerah tubuh yang "paling tidak enak' atau yang
"paling sakit' di daerah punggung atau dada. Satu sampai tiga
hari setelah itu akan timbul gelembung-gelembung (vesikulae)
herpes zoster di sepanjang perjalanan saraf perifer yang berinduk
pada ganglion spinale tertentu. Pada umumnya hanya sesisi saja,
berkelompok dan tidak melewati garis tengah dada. Setelah
vesikulae pecah dan berulserasi dan akhirnya kering, penderita-
nya dapat dianiaya oleh nyeri yang tidak terhingga di daerah
vesikulae yang sudah sembuh itu. Tidak jarang nyeri yang hebat
sudah dirasakan sewaktu vesikulae itu belum sembuh. Nyeri
hebat itu dikenal dengan neuralgia postherpetik.
Gambaran tentang nyeri itu hampir selalu sama, yaitu seperti
kulit dibakar, disayat atau seperti ditusuk-tusuk; hilang timbul
tanpa sebab yang menentu. Sehani bisa timbul puluhan serangan,
bahkan sewaktu tidur.
·
Nyeri miofasial yaitu nyeri yang berasal dari unsur miofasial
dinding dada.
Sindrom nyeri fasial torakalis yang sering dijumpai dalam
praktek sehari-hari adalah: Sindrom kostostemalis atau kosto-
khondritis, Sindrom sternalis, Sindrom ujung iga atau rib-tip
syndrome.
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997 23
Etiologi sindrom-sindrom tersebut di atas dapat bersifat.
rematoid yang sukar untuk ditetapkannya. Ansietas adalah
umum bagi para penderita dengan nyeri dada seperti ini; namun
demikian tiada seseorang menderita nyeri miofasial hanya
karena ansietas. Sering juga nyeri miofasial disebabkan oleh
faktor salah guna, seperti bekerja pada posisi yang tidak sehat
secara berkepanjangan. Trauma juga termasuk faktor etiologik
yang umum.
·
Sindrom kostosternalis
Gambaran klinisnya adalah nyeri setempat di dada yang
bersifat miofasial seperti nyeri tekan pada sambungan-sam-
bungan kostosternal. Juga penekanan pada otot interkostal di
dekat tempat yang nyeri tekan dirasakan sebagai nyeri. Nyeri ini
akan cepat sembuh dengan suntikan kortison-anestetik setempat.
Nyeri miofasial ini adakalanya meluas ke seluruh dada dan lebih
terasa pada nafas dalam. Nyeri miofasial ini biasanya hilang
timbul dan bisa berlangsung beberapa hari, bulan bahkan ber-
tahun-tahun bila tidak diobati.
·
Sindroma sternalis
Penderita biasanya mengeluh tentang nyeri di dinding dada.
Mereka dapat menyatakan dengan spontan bahwa nyeri yang di-
rasakan berasal dari unsur miofasial dinding dada. Lokasi nyeri
adalah di otot sternalis, dan pada penekanan di titik trigger terasa
nyeri di dada kedua sisi. Adapun titik trigger adalah sinkondro-
sis sternalis.
·
Sindrom ujung iga (rib-tip syndrome)
Penderita dapat sebagai pasien akut atau gawat, karena di-
serang nyeri sangat hebat di ujung anterior iga ke sepuluh. atau
ke delapan/ke sembilan. Nyeri di ujung iga itu bergandengan
dengan adanya hipermobilitas iga yang bersangkutan.
Sesaat terasanya nyeri hebat itu terdengarlah bunyi klek.
Hal ini disebabkan oleh tergelincirnya iga dan sinkondrosisnya.
Penekanan pada ujung iga yang bersangkutan membangkitkan
nyeri hebat tersebut.
Sindrom ini biasanyadisebabkan oleh trauma langsung atau
tidak langsung, seperti memutar badan pada posisi yang tidak
sesuai, misalnya belajar tenis atau mengambil tas di tempat du-
duk mobil belakang sambil memutarkan badan karena duduk di
belakang setir. Yang terjadi adalah subluksasi kartilago kosta.
Suntikan kortison anestesik di dalam otot interkostal dekat ujung
iga yang terkena dan pemberian NSAID dapat menyembuhkan
sindrom tersebut, namun sewaktu-waktu dapat kambuh.
4) Struktur abdomen
·
Nyeri panas di dada (heartburn) adalah suatu bentuk gang-
guan pencernaan. Sebetulnya istilah heartburn adalah kurang
sesuai karena sebetulnya keadaan penyakit tidak berhubungan
dengan jantung; tetapi memang perlu untuk membedakannya
dengan gejala penyakit jantung murni seperti angina pektoris.
Adapun gejala heartburn adalah rasa panas seperti terbakar
di dada di bagian belakang ujung tulang dada atau bagian atas
perut; rasa terbakar tersebut mungkin menjalar ke atas dan ke
bawah seperti gelombang. Pada keadaan berat mungkin men-
jalar sampai ke samping dada dan ke atas ke arah leher. Penyakit
yang mendasari bisa ulkus peptikum, gastritis, pankreatitis,
kolesistitis dan lain-lain.
PENUTUP
Telah diungkapkan beberapa jenis nyeri dada dan faktor-
faktor yang mendasari; selanjutnya untuk menentukan diagnosis
yang lebih tepat sebagian masih perlu pemeriksaan fisik maupun
pemeriksaan penunjang yang sesuai.
KEPUSTAKAAN
1. Sutikno, Suharjono, Darmoyo B. Nyeri dada pada infark miokard akut.
Dalam Hadinoto 5, Setiawan eds. Nyeri, pengenalan dan tata laksana. FK.
UNDIP, Semarang 1993. 155160.
2. Sidharta P. Sakit neuromuskuloskeletal dalam praktek umum. PT Dian
Rakyat. Jakarta 1983. 163180
3. Lee AS dkk. Panduan Kesehatan Keluarga. Yayasan Essentia Medica 1995.
266267.
4. Hoesodo SK. Memelihara jantung sehat dan menjaga jantung sakit, Citra
Budaya, Jakarta 1982.
5. Satyanegara. The theory and therapy of pain. PT Panca S. Jakarta 1972.
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997
24