background image
Apa yang dapat dicapai dengan latihan jasmani ?
dr. Oen L.H.
Bagian Biokimia
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jakarta
KATA PENGANTAR
Naskah ini merupakan saduran sebuah karangan yang ditulis oleh
seorang dokter Amerika, John L Boyer MD yang dimuat dalam maja-
lah Consultant, September 1975.
Kapan saudara sebaiknya memberi nasehat kepada pasien-
pasien saudara untuk melakukan latihan jasmani? Apa alasan-
nya? Manfaat apakah yang dapat mereka harapkan dari latihan
jasmani tersebut? Bagaimana manfaat ini dapat diperoleh?
Hanya bila saudara sendiri sudah mengetahui apa yang
dapat dan apa yang tidak dapat dicapai dengan latihan jasmani
baru saudara dapat memberi pasien-pasien saudara segala man-
faat dari cara pengobatan dan pencegahan yang penting ini,
untuk penyakit-penyakit kardiovaskuler.
Perhatian akan segi-segi ilmiah dari latihan jasmani sekarang
semakin bertambah dan memang cukup beralasan. Makin ba-
nyak orang kini yang mengambil langkah-langkah untuk men-
jaga kesehatan jantung serta pembuluh-pembuluh darahnya se-
dangkan mereka yang telah jelas menderita sesuatu penyakit
jantung akan mendapat manfaat pula dari latihan jasmani.
APA YANG TIDAK DAPAT DICAPAI DENGAN LATIHAN
JASMANI?
Kami yakin akan sesuatu hubungan langsung antara inak-
tifitas dan penyakit-penyakit dari sistem sirkulasi.
Tidak dapat dikatakan bahwa inaktifitas adalah penyebab pe-
nyakit-penyakit ini, akan tetapi dapat dikatakan bahwa latihan
jasmani tidak akan menyebabkan penyakit jantung, malahan
kesegaran jasmni sangat membantu dalam
mengatasi kompli-
kasi-komplikasi dari proses penyakitnya.
Dalam suatu penelitian selama 24 bulan dalam suatu labora-
torium telah dicoba menilai efek-efek dari latihan jasmani saja
atas beberapa faktor resiko pada para penderita dengan penya-
kit jantung koroner. Yang dilakukan ialah mengganti pola
hidup para pasien dengan ciri banyak duduk menjadi pola
hidup yang aktip. Tidak diberi petunjuk untuk menurunkan
berat badan atau merubah susunan makanan seperti jumlah
kholesterol yang dimakan dan kebiasaan merokok dibiarkan
seperti semula.
Memang harus diakui bahwa sulit sekali untuk merubah hanya
sebuah faktor saja dalam suatu penyakit yang disebabkan oleh
begitu banyak faktor.
Oleh karena dengan hanya merubah satu variabel saja, seperti
dalam hal ini inaktifitas, maka terdapat kecenderungan bahwa
berbagai segi dalam hidup penderita tadi ikut berobah pula.
Dengan kata-kata lain, mengurangi satu faktot risiko akan
cenderung
memperbaiki juga faktor-faktor risiko yang lain.
Dari penelitian kami tersebut di atas dapat ditunjukkan
bahwa latihan jasmani saja tidak berpengaruh jelas atas kadar
kholesterol, triglyserida,
gula
darah atau asam urat.
Juga dengan latihan jasmani saja akibat-akibat buruk dari
merokok tidak dapat diatasi.
LATIHAN JASMANI DAN HIPERTENSI.
Latihan jasmani memang dapat menurunkan tekanan darah
sewaktu istirahat. Akan tetapi dalam penelitian
kami
tersebut
di atas, latihan jasmani dilakukan bersama-sama dengan peng-
obatan hipertensi. Latihan jasmani bukan merupakan peng-
obatan untuk hipertensi, akan tetapi dapat dipergunakan se-
bagai terapi tambahan untuk penderita-penderita hipertensi.
Saudara jangan heran bila kebutuhan akan obat hipertensi
menurun dalam pengobatan teratur dengan latihan jasmani.
Atas dasar yang sama, hiperkholesterolemia tidak dapat di
atasi dengan latihan jasmani saja. Akan tetapi bersama-sama
dengan perobahan susunan makanan, latihan jasmani akan
menurunkan kadar kholesterol darah.
APA YANG DAPAT DICAPAI DENGAN LATIHAN JAS-
MANI ?
Kesegaran jasmani langsung bermanfaat untuk sistem kar-
diovaskuler, terlepas dari pengaruhnya atas faktor-faktor risiko
yang lain.
Seorang yang telah melakukan latihan jasmani akan dapat
mengerjakan suatu pekerjaan otot lebih efisien dari pada se-
belum latihan tadi.
Pekerjaan tersebut dapat dilakukan dengan jumlah denyut
jantung yang lebih kecil; pada tekanan darah yang lebih ren-
dah dan dengan penggunaan oksigen oleh otot jantung yang
lebih sedikit dari pada seorang yang tidak terlatih. Juga kapasi-
tas untuk penggunaan oksigen meningkat sehingga ia dapat
bekerja lebih baik pada tingkat aktivitas submaksimal. Saudara
dapat katakan kepada pasien, bahwa latihan jasmani yang ter-
atur akan mengurangi rasa takut dan rasa depressi oleh karena
perubahan-perubahan iskemik segmen S--T pada elektrokar-
diogram akan membaik.
Dengan kata-kata lain, latihan jasmani yang dilakukan dalam
waktu lama dan secara teratur akan menyebabkan sistem kar-
diovaskuler bekerja lebih efisien dan oleh karenanya dapat
lebih mudah mengatasi stress fisik.
Cermin Dunia Kedokteran No. 12, 1978
25
background image
Sekarang marilah kita tinjau bagaimana latihan jasmani dapat
memperbaiki jantung, sirkulasi perifer dan sistem saraf sim-
patik!
LATIHAN JASMANI DAN JANTUNG.
Dengan adanya arterografi koroner sekarang, para dokter
dalam klinik telah lebih berorientasi kepada struktur. Kita da
-
pat melihat anatomi dari pembuluh-pembuluh darah koroner,
melihat derajat penyempitannya dan dapat memperkirakan be-
ban fisologik jantung bertalian dengan derajat penyempitannya.
Perlu dibedakan antara pengertian struktur dan fungsi. Me-
mang harus diakui dan dapat terjadi bahwa fungsi fisiologik
ventrikel masih tetap baik walaupun telah terlihat arterios-
klerosis yang luas pada arteriogram koroner. Angina pektoris
merupakan suatu keadaan tidak-seimbang antara kebutuh-
an jantung akan oksigen (fungsi) dan penyediaan sesungguhnya
akan oksigen (struktur); misalnya saja arus darah koroner
dapat saja "normal" dalam kardiomiopati idiopatik, akan
tetapi kebutuhan otot hipertropik jantung ini dapat melebihi
cepat arus pembuluh darah koroner yang sebenarnya adekwat.
Jadi suatu kekurangan fungsionil akan oksigen dapat menye-
babkan angina pectoris pada seorang dengan kardiomiopati
hipertropik. Sebaliknya angina yang timbul pada penyakit
jantung koroner timbul oleh karena pengurangan strukturil
dalam arus pembuluh darah koroner.
ARUS PEMBULUH DARAH KORONER.
Tekanan darah diastolik dalam aorta adalah faktor penentu
untuk besar arus pembuluh darah koroner. Arus maksimum da-
lam arteria koronaria sinistra terjadi dalam diastole dini. Arus ini
meningkat dengan mendadak dan menurun secara perlahan
sewaktu tekanan dalam aorta menurun selama waktu selebih
nya dalam diastole.
Tahanan dalam pembuluh darah koroner juga mempe-
ngaruhi arus darah. Hambatan arus darah dalam pembuluh
koroner dapat disebabkan oleh atheromata dalam pembuluh
darah (arteri) koroner yang agak besar atau dapat juga di
sebabkan oleh kontraksi dari otot-otot dalam pembuluh da-
rah koroner.
Tachycardia dan bradycardia berpengaruh berlawanan atas
arus darah dalam arteriae coronaria; perobahan dalam kece-
patan denyut jantung merobah waktu pengisian selama dias-
tole. Pada tachycardia waktu pengisian ini berkurang sedang-
kan dalam bradycardia waktu diastole bertambah. Kadar he-
moglobin dan saturasi oksigen arterial juga mempengaruhi
oksigenasi otot jantung. Anemia dan hypoxemia merupakan
beban bagi jantung, oleh karena keadaan-keadaan ini memerlu
kan arus darah dalam arteria coronaria yang lebih besar untuk
memberi jumlah oksigen
yang
minimal dibutuhkan oleh otot
jantung. Seorang penderita dengan hematokrit dan saturasi
oksigen yang normal dapat hidup dengan baik dengan arus
darah arteria coronaria yang relatip kurang.
SIRKULASI KOLATERAL.
Umumnya, kesegaran jasmani tidak berpengaruh banyak
pada penyediaan darah untuk otot jantung. Latihan jasmani
tidak banyak merobah arus pembuluh darah koroner dan
juga tidak mempengaruhi pembentukan kolateral-kolateral
arteriae coronaria.
Perbedaan tekanan biasanya merangsang pembentukan
kolateral vaskuler. Kolateral-kolateral lebih mudah terbentuk
bila lumen arteri mengecil sampai 2/3 kali. Oleh karena pe-
nyempitan ini menyebabkan perbedaan tekanan. Oleh karena
latihan jasmani tidak menaikkan jumlah darah yang menuju
ke jantung, maka latihan jasmani tidak dapat melumerkan
(mencairkan) bercak-bercak arteriosklerotik atau meniadakan
suatu proses arteriosklerose yang telah berlangsung.
KONSUMSI OKSIGEN.
Penderita perlu diyakinkan bahwa efek utama dari latihan
jasmani ialah bukan berbentuk strukturil akan tetapi fungsi-
onil yaitu : latihan jasmani akan memperbaiki kebutuhan
dan penggunaan oksigen oleh jantung. Faktor penentu dalam
konsumsi oksigen oleh otot jantung ialah tekanan dalam
jantung selama kontraksi sistole. Sewaktu tekanan menaik,
konsumsi oksigen ikut menaik pula. Tekanan intramiokardial
atau tekanan dinding ventrikel sama
besar dengan tekan-
an darah sistolik dikalikan dengan radius dari jantung atau
dengan kata-kata lain sama besar dengan tekanan darah dikali
kan dengan besar jantung.
Kecepatan denyut jantung dan pemendekan maksimal
dari serat-serat miokardium mempengaruhi juga kebutuhan
akan oksigen. Konsumsi oksigen oleh otot jantung tergantung
dari interaksi dari faktor-faktor yang disebut di atas. Dengan
kata-kata lain, betapa keras jantung bekerja tergantung dari
cardiac output dan tekanan darah dalam arteri. Bila tekanan
dalam arteri meningkat, jantung harus bekerja lebih keras
untuk mencapai cardiac output yang sama besar. Oleh karena
itu kebutuhan akan oksigen meningkat pula.
Konsumsi oksigen oleh otot jantung dapat dihitung secara
mudah dengan mengalikan denyut nadi dan tekanan darah
sistolik. Latihan jasmani yang berakibat penurunan kecepat
an denyut jantung dan tekanan darah sistolik, akan menurun-
kan angka hasil perkalian ini. Sebagai akibat, otot jantung
yang terlatih membutuhkan lebih sedikit oksigen untuk se-
suatu beban tertentu dan membutuhkan jumlah oksigen
yang kurang pula untuk pekerjaan fisik atau aktivitas. Dapat
diberitahukan kepada penderita bahwa kegunaan latihan jas-
mani ialah dapat merobah jantung sedemikian rupa sehingga
dapat bekerja lebih banyak dari pada yang biasanya dilaku
kan.
FUNGSI METABOLIK JANTUNG.
Aktivitas adenosin trifosfat dari aktomiosin jantung dan
aktivitas miosin meningkat dengan latihan jasmani dan besar
peningkatan ini berhubungan langsung dengan intensitas dan
lama berlangsungnya latihan tersebut. Peningkatan peranan
molekul-molekul miosin dapat menerangkan mengapa jantung
yang terlatih dapat bekerja lebih efisien dari pada yang tidak
terlatih. Ini merupakan penyesuaian intrinsik yang terpenting
dari miokardium terhadap latihan jasmani.
Jadi latihan jasmani akan mengurangi kebutuhan jantung
akan oksigen melalui penurunan jumlah beban yang harus
dikerjakan, selain itu juga memperbaiki fungsi metabolik
dari miokardium. Dapat dikatakan bahwa manfaat latihan
26
Cermin Dunia Kedokteran No. 12, 1978
background image
jasmani ialah merangsang jantung untuk mempergunakan
energi secara lebih efisien.
MANFAAT-MANFAAT UNTUK BAGIAN PERIFER.
Jantung yang terlatih berdenyut lebih lambat, yang mung-
kin sekali disebabkan oleh akibat latihan jasmani atas pembu-
luh-pembuluh darah perifer.
Otot skelet yang telah terlatih lebih mudah mengekstraksi
oksigen dari darah. Otot-otot terlatih dapat melaksanakan
sejenis beban submaksimal dengan arus darah yang lebih se-
dikit. Hal ini menunjukkan suatu peningkatan kapasitas meng-
ekstraksi oksigen dari darah. Kadar mioglobin, suatu pigmen
pernafasan dalam jaringan otot,meningkat juga dalam otot
yang terlatih. Ini berakibat penggunaan oksigen secara lebih
efisien oleh otot-otot skelet pula.
Oleh beberapa penyelidik telah ditemukan kenaikan sebe-
sar 60% dalam kadar protein mitokondria yang disertai juga
dengan peningkatan jumlah cytochrome C sampai dua kali
lipat dalam otot yang terlatih. Penemuan ini menunjukkan
suatu kenaikan dalam penggunaan enzim-enzim dalam mito-
kondria dan dalam siklus asam sitrat untuk metabolisme oksi-
datip. Hasilnya ialah lebih sedikit dihasilkannya asam laktat
dan lebih sedikit digunakan glikogen oleh otot yang terlatih.
Adaptasi metabolik ini dapat menerangkan pengurangan rasa
capai dan peningkatan daya tahan otot.
EFEK SISTEM SARAF SIMPATIK
Latihan jasmani mempengaruhi sistem saraf simpatik me-
lalui sedikit-dikitnya dua cara, yaitu (i) pengurangan kecepat
an denyut jantung. Bradycardia yang terdapat pada jantung
yang terlatih dapat dianggap sebagai suatu penurunan tonus
sistem saraf simpatik. (ii) jantung yang terlatih lebih sedikit
mengambil dan menyimpan katekholamin dalam tiap gram
jaringan dibanding dengan jantung yang tidak terlatih. Kedua
hal ini berakibat suatu penurunan akan kebutuhan oksigen
oleh jantung.
EFEK LAIN DARI LATIHAN JASMANI.
Miokardium yang terlatih akan bereaksi lebih efisien
terhadap suatu kebutuhan oksigen yang meningkat. Dalam
jantung yang tidak terlatih atau penyakit jantung koroner
mekanisme pelindung ini tidak bekerja dengan sempuma
dan ini berakibat hipoksia miokardium.
Pengurangan berat badan merupakan efek penting pula
dari latihan fisik. Hasil suatu penelitian menunjukkan bahwa
bila seorang pria dengan berat badan sebesar 85 kilogram ber-
lari sejauh lebih kurang 2 kilometer dalam waktu 8 menit
maka ia akan membakar 175 kalori. Bila kegiatan fisik ini
dilakukan secara teratur, tanpa disertai penambahan kalori,
maka orang tersebut akan kehilangan berat badan sebanyak
5 kilogram dalam setahun. Manfaat tidak terletak dalam
besar pengurangan berat badannya, akan tetapi lebih berupa
perobahan dalam jumlah lemak tubuh. Seorang berpola hidup
dengan banyak duduk akan dapat mengurangi berat badannya
melalui diet akan tetapi dalam hal ini jaringan ototnya diubah
menjadi jaringan lemak, sedang seorang yang aktip kehilang-
an simpanan lemaknya.
Seorang yang langsing cenderung untuk memiliki kadar le-
mak dalam darah yang rendah. Seorang yang aktip secara
fisik dan yang memperhatikan jumlah asam lemak jenuh yang
dimakan akan lebih mudah mencapai kadar kholesterol normal
dari pada seorang dengan pola hidup banyak duduk.
Sebenarnya dapat diharapkan bahwa bila seseorang sudah
berkemauan untuk mengurangi satu faktor risiko maka orang
tersebut selanjutnya akan memperhatikan faktor-faktor risiko
penyakit jantung koroner yang lain.
Dan inilah alasan yang paling penting bagi Saudara untuk
menganjurkan pasien-pasien melakukan latihan fisik. Jalan ke
jantung seseorang ialah melalui latihan fisik! Berilah nasihat
ini dan bila ini disertai dengan alasa
n-alasan yang masuk akal,
saudara akan heran bercampur gembira atas hasil yang dapat
dicapai.
DON T RISK YOUR GOOD MEDICAL REPUTATION !
Always have a few ampoules of K A L M E T H A S O N E
·
ready to save life in
emergency cases :
o ANAPHYLACTIC SHOCK
o STATUS ASTHMATICUS
o HEPATIC COMA
PEMPHIGUS VULGARIS
COMPOSITION :
each ampoule contains Dexamethasone Sodium Phosphate
equivalent to Dexamethasone Phosphate ........................ 4.0 mg
DOSAGE:
I.V. or I.M. dose ranges from 4 to 20 mg depending on
the severity of the disease.
PRESENTATION:
Boxes of 3 ampoules of 1 ml KALMETHASONE
injections.
Cermin Dunia Kedokteran No. 12, 1978
27