HASIL PENELITIAN
Kandungan Logam Kadmium dalam
Biota Laut Jenis Kerang-kerangan
dari Teluk Jakarta
Inswiasri, Agustina Lubis, A. Tri Tugaswati
Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Limbah industri, pertanian dan hasil kegiatan manusia lain-
nya yang mengandung logam berat dapat mengkontaminasi per-
airan sungai maupun laut dan akan berakumulasi dalam rantai
makanan (biota) yang berasal dari perairan tersebut.
Berdasarkan pemantauan Puslitbang Oseanologi-LIPI ta-
hun 19741979 diketahui bahwa pencemaran berbagai logam
berat di perairan Teluk Jakarta cenderung meningkat dari tahun
ke tahun
(1,2)
. Hasil pemantauan Teluk Jakarta yang dilakukan
oleh Kantor Pengkajian Perkotaan dan Lingkungan (KP2L) DKI
Jakarta dan tahun 19831990 menyatakan bahwa kandungan
logam berat dalam air laut ternyata cenderung menurun untuk
logam Kadmium (Cd) dan Khrom (Cr), tetapi sebaliknya logam
berat Tembaga (Cu) dan Timah Hitam (Pb) cenderung makin
meningkat. Dinyatakan juga bahwa kandungan logam berat
dalam lumpur laut rata-rata meningkat terus untuk semua logam
(Cd, Cu, Cr dan Pb) dan kadarnya jauh di atas standar inter-
nasiona1
(3)
.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan protein hewani rakyat
Indonesia, kerang-kerangan (jenis moluska bivalvia) merupakan
sumber protein tinggi (± 20%) dan murah harganya serta dapat
dibudidayakan di perairan Indonesia dan perairan tropik lain-
ABSTRAK
Kerang-kerangan yang banyak dibudidayakan di Teluk Jakarta dan sekitarnya me-
rupakan sumber protein bagi masyarakat luas. Selain itu kerang juga dapat merupakan
salah satu mata rantai masuknya logam kadmium (Cd) dalam tubuh manusia. Oleh
karena itu di perairan yang diduga tercemar seperti Teluk Jakarta perlu diperiksa kadar
logam Cd dalam kerang-kerangan untuk melindungi konsumen.
Pemeriksaan logam Cd dengan menggunakan alat Spektrofotometer Serapan Atom
GBC (AAS). Sebelum dideteksi dengan AAS, pengabuan dilakukan dengan meng-
gunakan asam nitrat.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kadar Cd dalam kerang darah lebih tinggi
dibandingkan kadar Cd dalam kerang yang lain. Kadar rata-rata logam Cd dalam kerang
hijau dari tahun 1988/19891992/1993 makin menurun. Kadar rata-rata Cd yang
tertinggi dalam kerang darah adalah 1,06 ± 1,80 ppm.
Teluk Jakarta dan sekitarnya yang digunakan sebagai budidaya kerang harus dihindar-
kan dari pencemaran. Kerang darah lebih baik dipakai sebagai bioindikator karena
mampu menyerap logam Cd lebih tinggi daripada jenis kerang lainnya.
Cermin Dunia Kedokteran No. 103, 1995 19
nya
(4,5,6)
.
Moluska bivalvia dapat mengakumulasi Cd sampai 352 kali
lebih tinggi dan kadar Cd yang terdapat dalam airnya. Tingginya
akumulasi ini berhubungan erat dengan sifat hidupnya sebagai
binatang dasar yang mengambil makanan dengan cara menya-
ring air (filter feeder)
(7)
.
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang
kandungan logam berat Cd dalam kerang-kerangan (moluska
bivalvia) yang banyak dikonsumsi masyarakat DKI Jakarta dan
yang dibudidayakan di Teluk Jakarta dan sekitarnya.
BAHAN DAN CARA KERJA
Kerang (moluska bivalvia) yang diambil adalah kerang
hijau (Mytilus viridus), kerang darah (Anadara viridus), kerang
bulu (Anadara indica) dan kerang putib (Cardium uneda).
Jenis kerang tersebut untuk penelitian ini dibeli dari Tempat
Pelelangan Ikan (TPI) Muara Angke dan Cilincing setiap bulan
sekali selama 10 bulan dalam setahun (tahun fiskal) dari tahun
1988/1989 1992/1993.
Masing-masing kerang tersebut dicuci (dibersihkan dari
lumpur) dan dikeluarkan dagingnya daging dan beberapa ke-
rang (± 5 g) kemudian dibungkus dengan alumunium foil untuk
disimpan dalam freezer sebelum analisis lebih lanjut.
Sekitar 5 gram daging kerang dipanaskan dalam oven pada
suhu 105°C selama 24 jam untuk menghilangkan kadar airnya.
Setelah didinginkan dalam desikator, ditimbang kembali dan
dicatat beratnya. Analisis dilakukan dengan cara dry digestion
dengan menambahkan 5 ml HNO pekat ke dalam contoh kering
dan dipanaskan kembali dengan hot plate pada suhu 500°C,
sampai terbentuk abu yang berwama putih atau kuning muda.
Sete!ah pengabuan sempurna ditambah dengan 15 ml HNO
3
encer (1%) dan selanjutnya diperiksa dengan alat Spektrofoto-
meter Serapan Atom (AAS) pada panjang gelombang 228,8 nm
dengan nyala udara asetilen".
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini berjalan dari tahun 1988/1989 1992/1993.
Jumlah contoh kerang yang diambil dapat dilihat dalam tabel 1.
Tabel 1. Jumlah Contob Kerang yang Diambil dari Teluk Jakarta pada
Tahun
1988/1989
1992/1993
Jenis Kerang
Tahun
Kerang Hijau Kerang Darah Kerang Bulu Kerang Putih
198811989 22
30
36
8
1989/1990 26
25
28
-
1991/1992 40
36
42
5
1992/1993 34
40
37
19
Keterangan: * = tidak diambil contoh
Jumlah contoh tidak selalu sama tergantung keadaan Tem-
pat Pelelangan Ikan (TPI). Kadang-kadang 4 jenis kerang terse-
but ada di TPI dan kadang-kadang tidak semuanya ada. Khusus
untuk kerang putih sering tidak ditemukan di TPI. Karena itu
pada tahun 1989/1990 kerang putih tidak diambil contohnya.
Namun tahun berikutnya contoh kerang putih diambil lagi untuk
dibandingkan hasilnya. Dari contoh kerang yang diambil, hasil
pemeriksaan kadar logam Cd dapat dilihat dalam Tabel 2.
Tabel 2. Kisaran Kadar Logam Cd (ppm) per Berat Basah dalam Kerang
dari
Teluk
Jakarta
pada
Tahun
1988/19891992/1993
Jenis Kerang
Tahun
Kerang Hijau Kerang Darah Kerang Bulu Kerang Putih
1988/1989 tt-4.14
tt-9,35
tt-1,58
tt
(n) (22) (30) (36) (8)
1989/1990
0,04-0,17
0,04-1,44 0,04-1,16
(n) (26) (25) (28) -
1991/1992 tt-0,77 0,03-6,90 tt-4,01 0,02-0,08
(n) (40) (36) (42) (5)
1992/1993 tt-0,39
tt-0,78
tt-0,86
tt-0,35
(n) (34) (40) (37) (19)
Keterangan:
tt = tidak terdeteksi
* = tidak diperiksa
n = jumlah sampel
Dari Tabel 2 terlihat bahwa kadar maksimum Cd yang ter-
deteksi dari tahun ke tahun sangat berfluktuasi untuk semua jenis
kerang. Hal ini mungkin disebabkan karena contoh kerang yang
diambil dari TPI tidak diperhatikan besarnya (ukurannya) atau
umurnya. Menurut Bryan
(8)
variasi akumulasi logam dalam ke-
rang disebabkan oleh faktor-faktor individu yang bervariasi
misalnya ukuran kerang. Hutagalung
(9)
menyebutkan bahwa
kadar logam Hg dan Cd dalam kerang hijau selalu menurun
secara bermakna dengan naiknya ukuran kerang. Kadar Hg dan
Cd yang relatif paling tinggi ada dalam kerang yang ukurannya
paling kecil. Bila dibedakan menurut jenis kerang, kelihatan
bahwa kadar maksimum Cd dalam kerang darah relatif lebih
tinggi daripada kadar Cd maksimum dalam kerang yang lain.
Kadar rata-rata logam Cd dalam kerang dapat dilihat dalam
Tabel 3.
Tabel 3. Kadar Rata-rata Cd (ppm) Per Berat Basah Dalam Kerang dari
Teluk
Jakarta
pada
Tahun
1988/19891
992/1993
Jenis Kerang
Tahun
Kerang Hijau Kerang Darah Kerang Bulu Kerang Putih
1988/1989
0,33 ± 0,90
1,06 ± 1,80
0,28 ± 0,41
0,002 ± 0
(n) (22) (30) (36) (8)
1989/1990
0,06 ± 0,03
0,26 ± 0,32
0,17 ± 0,22
(n) (26) (25) (28) -
1991/1992 0,14±0,17 0,26±0,34 0,80±1,35 0,05±0,03
(n), (40) (36) (42) (5)
1992/1993
0,05 ± 0,09
0,17 ± 0,17
0,16 ± 0,24
0,09 ± 0,11
(n) (34) (40) (37) (19)
Keterangan:
n = jumlah sampel
* = tidak diperiksa
Dari Tabel 3 terlihat bahwa kadar rata-rata Cd dalam kerang
dari tahun ke tahun sangat berfluktuasi untuk kerang hijau dan
kerang bulu. Sedangkan kadar rata-rata Cd dalam kerang darah
kelihatan makin menurun. Kadar rata-rata Cd dalam kerang putih
paling kecil dibandingkan kadar rata-nata Cd dalam kerang yang
lain.
Cermin Dunia Kedokteran No. 103, 1995
20
DalamTabel 3 terlihat pula bahwa harga standar deviasi lebih
besar dari harga mean. Hal ini dapat terjadi karena sampel yang
diambil terlalu kecil jumlahnya dari sampel yang diambil dari
TPI tidak diketahui dari mana asalnya (belum tentu berasal dari
satu lokasi yang sama) sehingga kisarannya besar sekali.
Kadar logam Cd dalam kerang yang terdeteksi pada peman-
tauan ini dibandingkan dengan standar kadar logam Cd maksimum
yang diperbolehkan yaitu 0,2 ppm
(10)
; persentase contoh yang
kadar Cd nya melebihi standar dapat dilihat dalam Tabel 4.
Tabel 4. Persentase Contoh Kerang dengan Kadar Cd Melebihi Standar
pada
Tahun
1988/19891992/1993
Jenis Kerang (%)
Tahun
Kerang Hijau Kerang Darah Kerang Bulu Kerang Putih
1988/1989 22,73
70,00
38,89
0
(n) (22) (30) (36) (8)
1989/1990 0
34,61
25,00
(n) (26) (25) (28) -
1991/1992 13,15
42,10
50,00
27,03
(n) (40) (36) (42) (5)
1992/1993 8,82
37,50
27,03
11,11
(n) (34) (40) (37) (19)
Keterangan:
* = tidak ada contoh
n = jumlah sampel
Dari Tabel 4 terlihat bahwa persentase contoh kerang de-
ngan kadar Cd melebihi standar untuk kerang darah lebih tinggi
daripada jenis kerang lainnya. Sedangkan kalau dilihat dari tahun
ke tahun, sangat berfluktuasi. Untuk kerang hijau selama peman-
tauan 4 tahun kelihatan prosentasenya makin menurun.
Makanan yang banyak mengandung logam Cd adalah jenis
kerang-kerangan, hati dan ginjal
(11)
. Padahal kerang juga me-
rupakan sumber protein tinggi (± 20%), oleh karena itu banyak
dibudidayakan untuk mencukupi kebutuhan protein berasal dari
ikan. Karena Cd tidak berguna bagi tubuh dan bersifat akumu-
latif, masukan logam Cd dalam tubuh manusia perlu dibatasi
supaya tidak menimbulkan gangguan kesehatan. Menurut
Schroeder, masukan tiap hari logam Cd dalam tubuh manusia
berkisar antara 0,0180,20 mg
(11)
. Kadar rata-rata Cd dalam
kerang yang tertinggi adalah 1,06 ± 1,80 ppm (Tabel 3) dan
konsumsi rata-rata ikan segar untuk masyarakat Indonesia yang
tinggal di perkotaan adalah 0,253 kg/kap/minggu
(12)
. Bila di
asumsikan bahwa konsumsi ikan segar tersebut semua berasal
darijenis kerang (untuk mengantisipasi masyarakat yang tinggal
di daerah budidaya kerang), maka masukan harian logam Cd
maksimum bila orang makan kerang darah dengan kadar Cd rata-
rata 1,06 ppm adalah 0,038 mg. Masukan Cd tersebut baru ber-
asal dari kerang. Menurut Suzuki
(13)
kadar Cd rata-rata dalam
beras yang dihasilkan di Pulau Jawa adalah 0,03 1 ppm. Bila 1
orang setiap hari makan 1 kg beras, maka masukan harian logam
Cd adalah 0,03 1 mg (berasal dari beras). Dari segi makanan
protein (dengan konsumsi makanan 2.179 cal/orang/hari) porsi
makanan pokok (termasuk beras) adalah 5060%, porsi ma-
kanan protein hewani 15%. Masukan Cd harian akan menjadi
0,069 mg (masih dalam batasan menurut Schroder). Tetapi ma-
sih penlu diperhatikan masukan Cd dan sumber lain seperti
sayuran, minuman, rokok dan sebagainya.
KESIMPULAN
Teluk Jakarta yang digunakan untuk budidaya kerang harus
dihindarkan dari pencemaran agar dapat melindungi kesehatan
konsumen kerang. Kerang darah menyerap Cd lebih tinggi dari
jenis kerang yang lain, oleh karena itu kerang darah akan lebih
baik bila dipakai sebagai bio-indikaton dibandingkan jenis ke-
rang lainnya.
Kadar rata-rata Cd dalam kerang hijau dari tahun 1988/
19891992/1993 cendenung makin menurun.
KEPUSTAKAAN
1. Hutagalung HP, Hamidah. Kandungan Logam Berat dalam Beberapa
Perairan Laut Indonesia. Dalam Kondisi Lingkungan Pesisir dan Laut di
Indonesia. 1982.
2. Sofyan Yatim dkk. Distribusi Logam Berat pada Permukaan Air Laut di
Teluk Jakarta. Laporan Penelitian PAIR Batam, Jakarta. 1978.
3. Kantor Pemantauan Perkotaan dan Lingkungan DKI Jakarta. Pemantauan
Teluk Jakarta. 1982.
4. Sivalingan PM. Aquaculture of the Mussel Mytilus viridus. Linnaeus in
Malaysia. Aquaculture 1977; 11: 297.
5. Chen FY. Preliminary Observation ofMussel Culture in Singapore. ASEAN
1977; 77/Fa.EG.AIDoc.WP.17: 73.
6. Maria Goeretti Lily Panggabean. Tinjauan tentang Masa Depan Budidaya
Kerang-kerang Jenis Pangan di Indonesia. Dibawakan dalam Seminar
Ekologi Laut dan Pesisir I di Jakarta 2729 November 1989.
7. LIPI, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. Status Pencemaran
Laut di Indonesia dan Teluk Peniantauannya. Dalam Proyek Penelitian dan
Pengembangan Sumber Daya Laut dan Air Tawar. Jakarta. 1991.
8. Bryan GW. Trace Element Content and Body Size in Molluscs. Nature
1974; 251:31114.
9. Hutagalung HP. Mercury and Cadmium Content in Green Mussel. Mytilus
viridus L. from Onrust Waters, Jakarta Bay. Bull. Environ. Contam.
Toxicol. 1989; 42: 81420.
10. Zook EG et at. National Marine Fisheries Service Preliminary Survey of
Selected Seafood for Mercury, Lead, Cadmium and Arsenic Content. J.
Agric Food Chem. 1976; 24.
11. Casarett and Doull's Toxicology. The Basic Science of Poisons, Second
Ed. Macmillan Publ Co, Inc. New York. 428.
12. Biro Pusat Statistik. Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia
1993, Buku I.
13. Suzuki, Shozuke et al. Human Ecological Survey in Rural West Java in
1978 to 1982. Nissan Science Foundation. Tokyo, Japan 1985; p. 15564.
Cermin Dunia Kedokteran No. 103, 1995 21