background image
ULASAN
Kalkulus
Hubungannya dengan Penyakit
Periodontal dan Penanganannya
Sri Lelyati, S.U.
Bagian Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Hubungan kalkulus dan penyakit periodontal telah sering
dibahas. Kalkulus yang melekat pada permukaan gigi akan
mengintasi gingiva
(1)
.Dahulu orang beranggapan bahwa kalkulus
merupakan penyebab penyakit periodontal. Tetapi ternyata bukan
kalkulusnya yang berperan langsung, akan tetapi yang berperan
adalah bakteri plak pada plak gigi yang melekat pada permukaan
kalkulus
(2)
. Hal ini dimungkinkan oleh struktur permukaan
kalkulus yang kasar sehingga memudahkan timbunan plak gigi
pada permukaan kalkulus.
Dalam praktek sehari-hari, sering dijumpai ketidak sem-
purnaan perawatan kalkulus. Oleh karena itu, dalam makalah
ini akan diuraikan mengenai kalkulus, hubungannya dengan
penyakit periodontal serta penanganannya.
KALKULUS
Rongga mulut manusia tidak pernah bebas dari bakteri dan
umumnya bakteri plak memegang peranan penting dalam me-
nentukan pembentukan kalkulus; pelekatan kalkulus dimulai
dengan pembentukan plak gigi, sedangkan permukaan kalkulus
supragingival dan kalkulus subgingival selalu diliputi oleh plak
gigi.
Kalkulus merupakan suatu endapan amorfatau kristal lunak
yang terbentuk pada gigi atau protesa dan membentuk lapisan
konsentris
(6)
.
Kalkulus disebut juga "tartar" merupakan endapan keras
hasil mineralisasi plak gigi, melekat erat mengelilingi mahkota
dan akar gigi
(3,4,5)
. Selain pada permukaan gigi, kalkulus juga
terdapat pada gigi tiruan dan restorasi gigi dan hanya bisa hilang
dengan tindakan skeling
(3,4,5)
.
- Penelitian morfologi kalkulus menggunakan scanning
electron microscopy (SEM) menunjukkan bahwa kalkulus
supragingival dan kalkulus subgingival kasar dan porus serta
terdapat retensi dan plak gigi
(7,8,9)
. Permukaan luar kalkulus
selalu diliputi oleh organisme-organisme bentuk filamen dan
bulat, sedangkan permukaan dalam kalkulus tidak
(8)
. Ada per-
bedaan jumlah koloni pada plak gigi dengan atau tanpa kalkulus
supragingival
(10)
. Pada plak gigi kelompok kalkulus terdapat
lebih banyak spesies Bacteroides intermedius, Bacteroides me-
laninogenicus serta Capnocytophaga. Organisme yang terdapat
pada plak gigi yang sudah matang juga terdapat pada kalkulus
(11)
;
ditemukan ada 22 mikroorganisme di dalamnya. Bakteri plak
diperkirakan memegang peranan penting dalam pembentukan
kalkulus, yaitu dalam proses mineralisasi, meningkatkan ke-
jenuhan cairan di sekitarnya sehingga lingkungannya menjadi
tidak stabil atau merusak faktor penghambat mineralisasi. Sum-
ber mineral untuk kalkulus supragingival diperoleh dan saliva,
sedangkan kalkulus subgingival dan serum darah
(5)
.
Kalkulus terjadi karena pengendapan ganam kalsium fosfat,
kalsium karbonat dan magnesium fosfat
(5)
. Komposisi kalkulus-
dipengaruhi oleh lokasi kalkulus dalam mulut serta waktu pem-
bentukan kalkulus
(3)
. Pada suatu saat kalkulus dapat cepat terben
tuk, sedangkan pada saat yang lain lambat atau tidak terbentuk
kalkulus
(12)
.
Beberapa macam teori dikemukakan oleh para peneliti
mengenai proses terbentuknya kalkulus, antara lain:
1) Teori CO
2
Menurut teori ini; pengendapan garam kalsium fosfat terjadi
akibat adanya perbedaan tekanan CO
2
dalam rongga mulut
dengan tekanan CO
2
dari duktus saliva, yang menyebabkan pH
Disajikan pada Seminar Perkembangan Pedodontik dan Periodontologi Masa
Kini, yang diselenggarakan oleh PDGI Cabang Bekasi pada tanggal 10 Juli
1993.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 17
background image
saliva meningkat sehingga larutan menjadi jenuh
(3,4,13,14)
.
2) Teori protein
Pada konsentrasi tinggi, protein koloida saliva bersinggung-
an dengan permukaan gigi maka protein tersebut akan keluar dari
saliva, sehingga mengurangi stabilitas larutannya dan terjadi
pengendapan garam kalsium fosfat
(3,4,5,13,14)
.
3) Teori fosfatase
Fosfatase berasal dari plak gigi, sel-sel epitel mati atau
bakteri. Fosfatase membantu proses hidrolisa fosfat saliva se-
hingga terjadi pengendapan garam kalsium fosfat
(3,4,5,13,14)
.
4) Teori esterase
Esterase terdapat pada mikroorganisme, membantu proses
hidrolisis ester lemak menjadi asam lemak bebas yang dengan
kalsium membentuk kalsium fosfat
(5)
.
5) Teori amonia
Pada waktu tidur, aliran saliva berkurang, urea saliva akan
membentuk amonia sehingga pH saliva naik dan terjadi peng-
endapan garam kalsium fosfat
(3)
.
6) Teori pembenihan
Plak gigi merupakan tempat pembentukan inti ion-ion
kalsium dan fosfor yang akan membentuk kristal inti hidroksi
apatit dan berfungsi sebagai benih kristal kalsium fosfat dari
saliva jenuh
(13)
.
Diketahui ada dua macam kalkulus menurut letaknya terha-
dap gingival margin yaitu kalkulus supragingival dan kalkulus
subgingival. Kalkulus supragingival terletak di atas margin
gingiva, dapat terlihat langsung di dalam mulut, warnanya putih
kekuning-kuningan dan distribusinya dipengaruhi oleh muara
duktus saliva mayor. Kalkulus subgingival terletak di bawah
margin gingiva, tidak dapat terlihat langsung di dalam mulut,
dan warnanya kehitaman
(5)
. Endapan kalkulus supragingival ter-
banyak adalah pada permukaan bukal gigi molar pertama maksila,
dan pada permukaan lingual gigi insisivus pertama dan kedua
mandibula Endapan kalkulus subgingival paling banyak
terdapat pada gigi insisivus pertama dan kedua mandibula, di-
ikuti oleh gigi molar pertama maksila, kemudian gigi-gigi
anterior maksila
(5,12)
.
Pembentukan kalkulus supragingival pada orang Asia (ten-
tara Indonesia) lebih banyak, dan gigi yang terkena juga lebih
banyak dibandingkan dengan orang Eropa (Oslo)
(10)
; perbedaan
pembentukan tersebut tidak disebabkan oleh umur, jenis kela-
min, frekuensi menyikat gigi atau daya abrasif dari pasta gigi.
Diperkirakan perbedaan tersebut karena kebiasaan makan dan
jenis makanannya; beras mengandung silikon yang daya abrasif-
nya rendah sehingga meningkatkan rata-rata pembentukan
kalkulus pada orang Asia. Silika yang ditambahkan dalam ma-
kanan tikus akan meningkatkan pembentukan kalkulus
(10)
.
HUBUNGAN KALKULUS DENGAN PENYAKIT PERIO-
DONTAL
Kalkulus secara langsung tidak berpengaruh terhadap ter-
jadinya penyakit periodontal; akan tetapi karenakalkulus terben-
tuk dan plak gigi yang termineralisasi karena pengaruh kom-
ponen saliva, maka secara tidak langsung kalkulus juga dianggap
sebagai penyebab keradangan gusi (gingivitis). Regio kalkulus
yang telah dibersihkan dan plak gigi dan dipoles permukaannya
ternyata tidak menimbulkan keradangan gusi dibandingkan
dengan regio kalkulus yang tidak dipoles
(15)
.
Banyak faktor yang merupakan predisposisi terbentuknya
plak gigi. Plak gigi dan kalkulus mempunyai hubungan yang erat
dengan keradangan gusi; bila keradangan gusi ini tidak dirawat,
akan berkembang menjadi periodontitis atau keradangan tulang
penyangga gigi, akibatnya gigi menjadi goyang atau tanggal.
Tetapi akhir-akhir ini dilaporkan bahwa baik pada penelitian kli-
nis
(16)
maupun epidemiologis
(11)
ternyata tidak semua gingivitis
selalu berkembang menjadi periodontitis. Penyakit periodontal
bersifat kronis dan destruktif, umumnya penderita tidak menge-
tahui adanya kelainan dan datang sudah dalam keadaan lanjut
dan sukar disembuhkan.
Kalkulus dan gingivitis terdapat lebih banyak pada para
perokok daripada bukan perokok
(17)
. Sedangkan Sheiham
(17)
melaporkan bahwa para perokok mempunyai skor plak, kalkulus
dan derajat penyakit periodontal yang lebih tinggi dibandingkan
dengan bukan perokok.
PENANGANAN KALKULUS
Skeling dan penghalusan akar adalah bagian dari terapi awal
yang paling sering dilakukan. Terapi awal perawatan non bedah
periodontal bertujuan menghilangkan seluruh faktor penyebab
lokal, faktor yang memperberat serta pengaruh faktor lokal
(17)
.
Perawatan non bedah periodontal dilakukan pada kelainan pe-
riodontal dengan poket 4-6 mm. Perawatan ini dapat dilakukan
oleh dokter gigi praktek umum dan dokter gigi puskesmas karena
tidak memerlukan keahlian khusus dan dapat dilakukan dengan
peralatan yang sederhana
(18,19)
.
Skeling adalah suatu tindakan pembersihan plak gigi,kalkulus
dan deposit-deposit lain dari permukaan gigi. Penghalusan akar
dilakukan untuk mencegah akumulasi kembali dari deposit-
deposit tersebut
(5,19)
. Tertinggalnya kalkulus supragingival
maupun kalkulus subgingival serta ketidak sempurnaan peng-
halusan permukaan gigi dan akar gigi mengakibatkan mudah
terjadi rekurensi pengendapan kalkulus pada permukaan gigi.
Skeling subgingiva lebih sulit dilakukan daripada skeling
supragingiva karena sangat diperlukan kepekaan perabaan. Ke-
berhasilan tindakan pembersihan di daerah subgingiva me-
nyebabkan hilangnya peradangan, terjadi penyembuhan lesi
periodontal melalui proses pengerutan gusi serta regenerasi
jaringan periodonsium yang rusak
(5)
.
Skeling dan peaghalusan akar dapat dilakukan mengguna-
kan alat tangan atau alat ultrasonik. Alat-alat tangan yang umum
dipakai adalah skeler sickle, alat kuret, skeler hoe, chisel dan file.
Skeler sickle dipakai untuk membuang kalkulus supragingival,
bila shank nya lurus digunakan untuk gigi anterior dan gigi
premolar, sedangkan bila shank nya contra angle untuk gigi
posterior. Alat-alat kuret digunakan untuk membuang kalkulus
subgingival yang letaknya dalam, penghalusan permukaan
sementum akar dan menghilangkan dinding poket jaringan lu-
nak. Skeler hoe untuk menghaluskan permukaan akar dengan
membuang sisa-sisa kalkulus dari jaringan lunak sementum.
Alat-alat ultrasonik digunakan untuk skeling, kuret dan meng-
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
18
background image
hilangkan stain. Cara kerja alat ini melalui gerakan vibrasi
(5)
.
Alat penghalus permukaan gigi yang umum dipakai adalah
rubber dan brush (sikat), digunakan dengan kecepatan rendah.
Pemakaian bubuk yang mempunyai daya abrasif harus hati-hati,
karena dapat mengiritasi jaringan gigi dan gusi.
Skeling dengan menggunakan alat tangan membutuhkan
ketrampilan tersendiri. Alat ini sederhana, mudah dibawa dan
disiapkan. Skeling dengan cara ini murah dan banyak dilakukan
di lapangan,tetapi tanpa ketrampilan operator bagian tepi gingiva
akan rusak atau sering masih dijumpai adanya kalkulus. Tepi
gingiva rusak oleh bagian tajam dan skeler akibat tekanan serta
arah gerakan yang salah dan tanpa tumpuan jan di tempat yang
tepat sehingga menimbulkan celah gingiva
(22)
. Keadaan ini
mengakibatkan terjadi peradangan dengan rasa perih dan sakit.
Skeling menggunakan alat ultrasonik sekarang sudah ba-
nyak dilakukan di Indonesia. Pengaruh dan pemakaian alat ultra-
sonik serta pemolesan permukaan ggi dengan mesin berkece-
patan tinggi (jet) mengakibatkan jaringan gigi turut terambil, se-
hingga bakteri dapat masuk ke tubulus dentin yang terbuka
(10,20)
.
Jadi penggunaan harus dengan tekanan ringan dan mengenai
sedikit mungkin daerah. Pada ujung alat ultrasonik terdapat
semprotan air yang bertujuan untuk menghilangkan panas yang
umumnya terjadi akibat vibrasi ultrasonik, selain itu juga ber-
fungsi sebagai pembersih permukaan gigi
(5)
.
Beberapa peneliti membandingkan skeling menggunakan
alat tangan dan alat ultrasonik. Mereka menyimpulan bahwa
skeler ultrasonik efektif membersihkan deposit bakteri sub-
gingival pada permukaan gizi. Pada pemeriksaan mikrobiologi
diperlihatkan bahwa pembersihan daerah subgingival dengan
alat ultrasonik dapat merubah komposisi mikrobia pada plak
gigi
(23)
. Beberapa peneliti menyimpulkan bahwa tidak ada per-
bedaan data mikroskopik
(21)
, juga antara penggunaan alat ultra-
sonik dan alat tangan
(10)
.
Cara penanganan yang lain terhadap kalkulus, dan tidak ka-
lah pentingnya, adalah pencegahan. Cara pencegahannya yaitu
dengan menghambat pembentukan kalkulus pada tingkatan plak
gigi serta menghambat proses mineralisasi. Pencegahan pem-
bentukan kalkulus dapat dilakukan dengan mengurangi terjadi-
nya akumulasi plak gigi yang berperan dalam proses kalsifikasi.
Pencegahan bisa dengan penyuluhan kesehatan jaringan perio-
dontal, pemakaian obat kumur atau pasta gigi yang bersifat
antiseptik.
Pembentukan plak gigi dapat dikurangi dengan pemakaian obat
kumur
(22,23)
; pemakaian larutan 0,2% chlorhexidine sebagai
obat kumur selama satu minggu dapat menghambat pertumbuh-
an plak gigi sampai 85%
(23)
. Bila dibandingkan dengan larutan
0,1% hexetidine (Bactidol®), maka larutan 0,2% chlorhexidine
(Minosep®) lebih efektif untuk menghambat pertumbuhan plak
dan keradangan gusi
(24)
. Peneliti lain melaporkan bahwa pema-
kaian pasta gigi yang mengandung zinc sitrat dapat mengurangi
pertumbuhan bakteri plak sampai 30%
(10)
. Dengan demikian
diharapkan pembentukan kalkulus juga dapat dihambat.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kalkulus tidak berperan secara langsung terhadap penyakit
periodontal, tetapi yang berperan adalah plak gigi yang terdapat
pada permukaan luar kalkulus. Karena permukaan kalkulus
kasar dan porus maka memudahkan plak gigi melekat pada
permukaan kalkulus.
Pencegahan terhadap terbentuknya kalkulus bertujuan
mengurangi jumlah massa bakteri yang berperan dalani proses
kalsifikasi, antara lain dengan penyuluhan atau pemberian obat
kumur. Perawatan terhadap kalkulus dapat dilakukan mengguna-
kan alat tangan atau alat ultrasonik. Dalam perawatan tersebut
perlu diperhatikan bahwa permukaan mahkota dan akar gigi
telah bebas dan kalkulus supragingival maupun subgingival,
dan permukaan gigi harus halus. Dalam hal ini ketrampilan
operator serta pemilihan alat yang benar dan sesuai memegang
peranan penting untuk keberhasilan perawatan penyakit perio-
dontal.
KEPUSTAKAAN
1. Feldman RS, Bravacos JS, Rose CL. Association between smoking
different tobacco products and penodontal disease indexes. J. Periodontol.
1982; 54: 553­562.
2. Sheiham A. A Review of Methods of Prevention and control of Penodon
tal Disease. International Conference Workshop on Research in the
Biology of Periodontal Disease. Chicago, Illionis, 1977.
3. Manson JD. Periodontics. 3rd ed. London: Henry Kimpton Publishers,
1975; 27­30.
4. Grant DA, Stem lB. Everett FG. Periodontics. 5th ed. St. Louis, London:
CV. Mosby Co, 1979; 152­170.
5. Carranza FA. Glickmans Clinical Periodontology. 7th ed. Tokyo: Igaku
Shoin/Saunders, 1990.
6. Coolidge ED, Hine MK. Periodontology. 3rd ed. Philadelphia: Lea and
Febiger, 1958; 141­160. ­
7. Mandel I, Gaffar A. Calculus Revisited. A Review J. Clin Periodontol.
1986; 13: 249­57.
8. Baumhammers A, Conway JC, Saltzberg D, Matta RK. Scanning Electron
Microscopy of Supragingival Calculus. J. Periodontol. 1973; 44: 92­95.
9. Friskopp J, Hammarstrom L. A comparative, Scanning Electron Micro
scopy Study of Supragingival and Subgingival Calculus. J. Periodontol.
1980; 51: 553­562.
10. Ten Cate JM. Recent Advance in The Study of Dental Calculus. Oxford
University Press. Tokyo, 1989.
11. Prayitno SW. A Comparison of The Periodontal Health of Two Groups of
Young Adult Indonesian and Characterizatipn of Advanced Periodontal
Disease. Thesis Ph.D. Wales. United Kingdcm, 1990.
12. Schroeder NE. Formation and Inhibition of Delital Calculus. Vienna: Hans
HuberPubl. 1969; 15­18.
13. Macphee T. Essentials of Periodontology and Periodontics. 3rd ed.
Melbourne: Blackwell Scient. PubI. 1979; 42­68.
14. Allen, Mc. Fall, Hunter. Periodontics for Dental Hygienist. 3rd ed.
Philadelphia: Lea and Febiger, 1980; 72­7.
15. LoeH, Theilade E, Jensen SB. Experimental Gingivitis in Man. J. Periodon-
tol. 1965; 36: 177­87.
16. Lindhe J, Hamp SE, Loe H. Experimental Periodontitis in Beagle Dog. J.
Period. Res. 1973; 8: 1­10.
17. Prayitno SW. Periodontologi, Cabang Ilmu Kedokteran Gigi, Peranannya
Dąlam Menunjang Pembangunan Nasional Bidang Kesehatan. Pidato
Pengukuhan, 1993.
18. Rateitschak EM. Color Atlas of Periodontology. New York, Stuttgart,
Georg. Thieme Verlag, 1985.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 19
background image
19. Sunarto H, Sukardi Al. Tehnik Perawatan Non Bedah pada Poket 4-6 mm.
Buku Naskah llmiah KPPIKG IX, 1991; 351­54.
20. Dewi Nurul M. Keadaan latrogenik yang umum teijadi dalam Bidang
Periodontologi. Buku Naskah llniiah KPPIKG IX, 1991; 417­19.
21. Baehni P, Thilo, Pemet D, Effect of Ultrasonic and Sonic Scalers on Dental
Plaque Microflora in vitro and in vivo. J. din. Period. 1992; 19: 455­59.
22. Prijantojo. Penurunan Radang Gingiva dengan Pemakaian Larutan 0,2%
Chlorhexidine sebagai Obat Kumur. Buku Naskah Kongres PDGI1 Se-
marang, 1992.
23. Prijantojo. Hambatan Pembentukan Plakoleh Larutan 0,2% Chlorhexidine
sebagai Obat Kumur. Buku Naskah Ilmiab KPPIKG IX, 1991; 355­61.
24. Prijantojo. Perbandingan Pengaruh Chlorhexidine dan Hexetidine terhadap
Radang Gingiva secara JUinis. Buku Naskah Ilmiah KPPIKG IX, 1991;
240-49.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
20