background image
Identifikasi Intratipik Poliovirus
Djoko Yuwono
Pusat Penelitian Pen yakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Dalam rangka pelaksanaan Global Eradication Programme on Poliomyelitis tahun
2000, pencegahan Poliomyelitis dengan imunisasi menggunakan vaksin Polio Oral Sabin
telah dilakukan secara menyeluruh hampir di seluruh dunia. Akibat penggunaan vaksin
Polio Oral Sabin itu adalah adanya vaccine strain dan wild strain Poliovirus bersama-
sama di alam, terjadinya rekombinasi antara kedua jenis poliovirus, adanya Vaccine
Associated Poliomyelitis Paralysis (VAPP), sehingga perlu dilakukan identifikasi intra-
tipik poliovirus untuk membedakan vaccine strain dan wild strain.
Tujuan artikel ini adalah
.
ingin memberikan gambaran secara ringkas mengenai
perkembangan metoda identifikasi poliovirus yang dilakukan dewasa ini.
PENDAHULUAN
Poliomyelitis adalah suatu penyakit menular-akut dan mu-
siman yang menyerang pusat saraf motorik otak di bagian grey
matter. Poliomyelitis disebabkan oleh infeksi poliovirus dan
mengakibatkan terjadinya paralisis, umumnya menyerang anak
balita, oleh karena itu dahulu disebut juga penyakit infantile
paralysis. Penyakit ini diidentifikasi pertama kali oleh Land-
steiner pada tahun 1901, dengan mengisolasi poliovirus dari
kera, namun dari gambar-gambar di piramida diduga penyakit ini
sudah ditemukan pada zaman Mesir kuno. Penyakit ini terdapat
di seluruh dunia, di daerah tropik umumnya terjadi pada musim
hujan, sedang di daerah subtropik lebih sering terjadi pada musim
panas dan awal musim gugur. Yang menjadi masalah adalah
bahwa penyakit ini dapat berakibat cacat seumur hidup, namun
yang menguntungkan adalah bahwa penyakit ini kini telah dapat
dicegah dengan imunisasi. Vaksin yang dipakai saat adalah
vaksin oral trivalen Sabin, yang berisi virus hidup yang telah
dilemahkan (live attenuated vaccine). Adanya vaksin ini menye-
babkan banyak negara maju bahkan beberapa negara berkem-
bang telah mengalami penurunan angka kesakitan dan kematian
akibat poliomyelitis. Dengan situasi seperti inilah maka kini
WHO juga telah mencanangkan program Eradikasi Global
Poliomyelitis dan pada tahun 2000 nanti diharapkan dunia sudah
akan bebas poliomyelitis; bahkan di kawasan Asia Pasifik sudah
ditargetkan bahwa dalam tabula 1995 sudah harus bebas polio-
myelitis
(1,2)
.
Dengan meningkatnya penggunaan vaksin anti poliomyeli-
tis yang live attenuated ini, maka akan ditemukan virus vaksin
(vaccine strain) dan virus ganas (wild strain) di alam bebas,
namun sebetulnya justru keadaan ini yang merupakan salah satu
keunggulan penggunaan vaksin berisi virus hidup, oleh karena
antara dua jenis virus tersebut saling melakukan interferensi dan
mungkin juga saling melakukan rekombinasi, sehingga dapat
mencegah berkembangnya virus ganas secara alami. Di sisi lain
penggunaan vaksin live attenuated ternyata mempunyai
erugian, walaupun kasusnyalianya dilaporkan 1 dalam setiap 1
background image
juta penggunaan, yaitu terjadinya reverse reaction, suatu keadaan
virus vaksin akan berubah kembali menjadi virus ganas, dan
memang poliomorfisme dapat saja terjadi pada genom virus
vaksin ataupun virus ganas oleh pengaruh faktor lingkungan
(2,3)
.
Sebetulnya hal inilah yang merupakan masalah mengapa harus
dilakukan identifikasi intratipik terhadap poliovirus, yaitu untuk
mengetahui berapa besar perubahan susunan nukleotida dalam
genom sehingga dapat berakibat pada terjadinya perubahan sifat
antigenik poliovirus
(4,5,6)
.
Artikel ini bertujuan memberikan gambaran secara garis
besar tentang beberapa metoda identitikasi intratipik terhadap
poliovirus dan kegunaannya bagi eradiksi poliomyelitis dewasa
ini.
STRUKTUR DAN ORGANISASI GENOM POLIOVIRUS
Poliovirus termasuk genus Picornaviridae, mempunyai
simetri kubus ikosahedral, pentamer, dengan diameter 28­30
nm, tidak memiliki envelop. Memiliki sifat termosensitif, resis-
ten terhadap pelarut lemak (ether, khloroform), dipengaruhi oleh
guanidin. Mempunyai genom ssRNA yang bersifat polaritas
positif. Genom panjangnya sekitar75(X) bp, yang terdiri dari satu
ORF (open reading frame) yang mengkode 3 buah protein (P1,
P2 dan P3) yang masing-masing mempunyai fungsi berbeda, P1
mempunyai fungsi menyusun unit struktural virus, yang terdiri
dari Viral Protein (VP) ada VPO: VP1: VP2 dan VP3. yang me-
rupakan antigen determinan poliovirus. P2 mempunyai fungsi
protease terdiri dari protein 2A, 2B dan 2C, serta P3 terdiri dari
protein 3A, M. 3C dan 3D mempunyai fungsi reverse tran-
scriptase dan polimerase. Struktur dan organisasi genom Polio-
virus tipe- I (strain ganas Mahoney) telah digambarkan oleh
Kitamura (1981), Racaniello and Baltimore (1981)
(6)
. Toyoda
dkk. juga telah berhasil menggambarkan sekuens genom Polio
tipe-2 dan tipe-3 strain Sabin.
Perbedaan antara Poliovirus tipe-I, tipe-2 dan tipe-3 tidak
begitu besar, ketiganya memiliki persamaan sekuens nukleotida
antara 25%­50% (Cumakov, 1979), namun analisis dengan
RFLP oleh Nomoto, dkk (1979), menunjukkan adanya perbe-
daan pola pemotongan dengan enzim restriksi. Hal inilah yang
mendorong Toyoda, dkk (1984) melakukan sekuensing terhadap
genom Poliovirus tipe-2 dan tipe-3 (Sabin), ternyata ditemukan
adanya homologi sekuens sebesar 71%. Perbedaannya terletak
pada 5' NCR sampai pada nukleotida 650­760 yaitu pada region
VP4, sehingga digambarkan bahwa ke tiga tipe poliovirus mem-
punyai hubungan genetik yang sangat dekat
(3,7)
.
Atenuasi wild virus menjadi vaccine virus terletak pada per-
hedaan susunan beberapa nukleotida saja. Misalnya perbedaan
antara Poliovirus tipe-I Sabin dan PI/Mahoney (wild strain)
ternyata terjadi pada daerah 5' Noncoding region dan terletak
pada nukleotida nomor 480, namun pengaruhnya hanya bersifat
fenotip dan sangat lemah
(6)
. Sedangkan perbedaan antara polio-
virus vaksin tipe-2/Sabin dan wild strain P2/Lansing terletak
pada daerah 5' Noncoding Region dan pada region yang mengkode
VPI (kapsid), dan 2A, 2B dan sebagian 2C (non kapsid)
(6)
.
Demikian pula pada poliovirus tipe-3, dengan menggunakan
strain Poliovirus tipe-3/Sabin dan P3/Leon diketahui bahwa
attenuasi terletak pada daerah 5'Noncoding region pada nukleo-
tida nomor 472 (Cytosin menjadi Urasil) dan terjadinya substi-
tusi asam amino Serine menjadi Phenilalanin pada asam amino
nomor 91 di daerah kapsid
(5,7,8)
. Penelitian Macadam dkk. (1991)
membandingkan sifat genotip dari P2/Sabin dan P2/117 (suatu
Gambar 1. Struktur dan organisasi genom ssRNA poliovirus tipe-1 Mahoney. Menurut Kitamura (1981)
Dikutip dari : Picornaviridae and Their Replication. In Virology 1990. 2
nd
, Ed. Fields et al Eds
background image
strain revertan neurovirulen) terjadi pada region 5' sampai nukleo-
tida nomor 492, dan perbedaannya terletak pada nukleotida
nomor 437 dan 481: terjadinya substitusi nukleotida Adenin
menjadi Guanin
(6)
.
Pemeriksaan uji neurovirulensi pada otak kera dari strain
virus tersebut ternyata menunjukkan bahwa perubahan susunan
nukleotida tadi dapat menyebabkan terjadinya perubahan sifat
non neurovirulen menjadi neurovirulen kembali; pada beberapa
strain ditemukan telah hilangnya region yang dapat menye-
babkan terjadinya atenuasi sehingga selamanya akan tetap ber-
sifat sebagai wild virus
(6)
. Dengan adanya kenyataan ini terjadi-
nya kasus Vaccine Associated Poliomyelitis Paralysis (VAPP)
tampaknya merupakan masalah yang tidak bisa diabaikan begitu
saja
(9)
.
IDENTIFIKASI POLIOVIRUS
Sampai saat ini telah diketahui terdapat tiga tipe poliovirus:
Poliovirus tipe-1, strain Burnhilde, Mahoney; Poliovirus tipe-2,
strain Lansing, MEF-2; Poliovirus tipe-3,strain Leon, Saukett,
dan lain-lain.
Untuk mengidentifikasi poliovirus dapat dilakukan dengan
beberapa metoda, namun pada prinsipnya dibedakan sebagai
berikut :
1)
Identifikasi intertipik
Untuk membedakan antara tiga tipe poliovirus tersebut
dengan uji netralisasi terhadap antiserum polio, menggunakan
media kultur jaringan, antara lain sel Vero (sel ginjal kera
Cynomolgus), HEp-2 (human epithelial), RD (sel rhabdosarkoma)
dan kultur jaringan ginjal kera primer (PMK).
2)
Identifikasi intratipik
a) Uji fenotipik
·
Uji rct-40 marker (reproductive capacity at super optimal
temperature); uji ini sebetulnya hanya dipakai untuk membeda-
kan virus vaksin dan virus ganas dalam pengujian mutu vaksin,
sedangkan untuk penelitian pasca vaksinasi tidak dianjurkan.
Prinsipnya adalah penghitungan titer virus pada intervensi suhu
yang berbeda (biasanya pada suhu 37°C dan 40°C).
·
NaHCO
3
(d Marker); prinsipnya adalah pengujian ber-
dasarkan pertumbuhan virus pada konsentrasi NaHCO
3
yang
berbeda. Strain vaksin tidak dapat berkembang biak pada kon-
sentrasi NaHCO
3
rendah (pH asam).
·
McBride test dan Wecker test; prinsipnya adalah peng-
hitungan titer virus setelah dinetralisasikan dengan antiserum
polio poliklonal standar. Strain vaksin akan lebih mudah di-
netralisasi.
·
Uji Netralisasi terhadap antibodi monoklonal; prinsipnya
adalah reaksi virus dengan suatu baterai (pool) antibodi mono-
klonal. Pola reaksi dengan setiap antiserum menunjukkan tingkat
virulensi virus. Dibutuhkan paling tidak 6 tipe antibodi mono-
klonal, berapa persen virus yang dapat dinetralisasikan oleh
antibodi tersebut menunjukkan tingkat virulensi virus.
b) Uji genotipik
·
Uji Hibridisasi DNA (finger printing DNA); prinsipnya
probe DNA (pelacak DNA) yang spesifik dapat disisipkan ke
DNA target.
· RELP (Restriction Fragment Length Polymorphisme) analy-
sis.
Prinsipnya harus dihasilkan dulu cDNA dengan cara meng-
amplifikasi cDNA target dengan PCR. PCR products yang
terbentuk didigest (dipotong) dengan menggunakan aktivitas
ensim endonuklease, misalnya Dde I, Hae III dan Hpa II. Pola
restriksi (terbentuknya band) pada gel elektroforesa menunjuk-
kan perbedaan tipe virus baik secara intratipik maupun intertipik.
· Amplifikasi DNA dengan PCR.
Prinsipnya adalah sintesa cDNA poliovirus dari cetakan
RNA poliovirus dengan bantuan ensim reverse transcriptase.
Kemudian dengan menggunakan primer spesifik untuk sekuens
target yang diinginkan misalnya 5' NCR dengan bantuan ensim
DNA Taq polymerise dilakukan amplifikasi sekuens target.
Hasil ini spesifik untuk mengidentifikasi vaksin strain, hasil
amplifikasi tergantung jenis primer yang dipergunakan. Diperlu-
kan banyak primer set, paling tidak 3 primer set, untuk masing-
masing tipe virus.
· Sekuens DNA analisis
PCR produk yang dihasilkan dapat dianalisis dengan meng-
gunakan alat komputer dan hasil urutan sekuens nukleotida dapat
diketahui dengan akurat.
PENELITIAN YANG TELAH DILAKUKAN
Penelitian yang telah dilakukan di berbagai negara menun-
jukkan betapa pentingnya pemantauan poliovirus pasca vaksi-
nasi, seperti misalnya di Amerika Serikat dengan melakukan
pemantauan selama 10 tahun dapat diketahui bahwa ternyata
masih ditemukan adanya kasus paralitik VAPP, selain itu juga
dilaporkan adanya kasus-kasus poliomyelitis yang disebabkan
oleh poliovirus ganas yang merupakan virus impor
(9)
.
Dengan melakukan identifikasi intratipik secara molekular
dapat diketahui secara tepat di mana letak perubahan genetik itu
terjadi yang berakibat pada proses atenuasi wild virus menjadi
strain vaksin. Hal ini akan sangat berguna untuk kemungkinan
dilakukan perubahan vaksin secara rasional, teknologi pembuat-
an vaksin serta model dalam metodologi pengujian mutu dan
keamanan vaksin
(7,10)
.
Penggunaan teknik konvensional umumnya dipakai untuk
identifikasi intertipik dan sampai saat ini WHO masih tetap
memberikan rekomendasi untuk penggunaan Uji Netralisasi
terhadap antiserum poliklonal pada media kultur jaringan untuk
mengidentifikasi intertipik poliovirus
(2)
. Sedangkan penggunaan
teknik konvensional untuk identifikasi intratipik poliovirus
(antara lain : McBride test, Wecker test, antibodi monoklonal,
dan lain-lain) ternyata memberikan hasil yang kurang akurat dan
tidak mendetail, tambahan lagi memerlukan ruang dan waktu
yang perlu dipertimbangkan.
Penggunaan teknik RFLP sebetulnya kurang praktis, oleh
karena harus melakukan dua kali pekerjaan, pertama harus
amplifikasi DNA dengan PCR kemudian ke dua melakukan
pemotongan PCR produk dengan menggunakan ensim endo-
nuklease tertentu. Namun keuntungannya adalah pada saat
amplifikasi PCR dapat dipakai suatu primer umum
(11)
.
Penggunaan teknik amplifikasi DNA dengan PCR ternyata
background image
sangat membantu untuk genotyping poliovirus, terutama untuk
diagnosis cepat. Walaupun diperlukan reagensia yang mahal,
teknologi mutakhir dan tenaga terdidik yang terampil. Hasil ter-
akhir yang diketahui adalah bahwa sampai saat ini identifikasi
genotyping hanya dilakukan untuk vaksin strain saja, dengan
menggunakan primer spesifik ini dapat dihasilkan produk PCR
yang besarnya masing-masing 97bp (P1/Sabin); 71 bp (P2/Sabin)
dan 44bp (P3/Sabin), sedangkan untuk wild strain belum dapat
dilakukan oleh karena harus dibuat suatu desain primer spesifik
untuk wild virus
(4)
.
Hasil penelitian di daerah kumuh di DKI Jakarta menunjuk-
kan bahwa dengan cakupan imunisasi sebesar 87% ternyata
ditemukan poliovirustipe-1 yang merupakan strain vaksin, dengan
menggunakan teknik rct-40 marker. Adapun hasil identifikasi
virus yang diperoleh adalah sebagai berikut: 3,8% poliovirus
tipe-1 dan tipe-3;20,2% enterovirus; 3,8% adenovirus dan 8,0%
rhinovirus sedangkan Iainnya 64,2% negatif'''. Hasil penelitian
di Amerika Serikat menunjukkan bahwa total ditemukan kasus
VAPP sebesar 8.0/10.000.000 populasi/tahun dan masih ditemu-
kan adanya kasus poliomyelitis yang disebabkan oleh infeksi
virus ganas yang merupakan virus impor
(9)
.
PENUTUP
Identifikasi intratipik diperlukan untuk membedakan strain
vaksin dan wild strain poliovirus, terutama untuk memantau
Gambar 2. Pola restriksi ensim endonuklease HaeIII, DdeI dan HpaII
terhadap
berbagai
strain
poliovirus
hasil
isolasi.
peredaran poliovirus pasca imunisasi. Oleh WHO dianjurkan
bahwa hanya laboratorium referens saja yang perlu melakukan
identifikasi intratipik poliovirus, terutama yang telah memiliki
sarana laboratorium yang memadai. Sedangkan laboratorium
propinsi cukup dapat melakukan isolasi dan identifikasi inter-
tipik poliovirus saja. Dengan identifikasi intratipik secara biologi
molekular dapat diketahui dengan tepat di region mana terjadi
substitusi nukleotida sehingga berakibat pada terjadinya atenuasi
Gambar 3. Hasil amplifikasi DNA dengan teknik PCR terhadap RNA
poliovirus
Sabin
strain.
Dikutip dari : Chen Fu Yang, et al. Virus Research. 1991. 20: 159-179.
M; Marker. S1; S2; S3: Sabin tipe-1 97bp, tipe-2 71bp dan tipe-
3
44bp.
Dikutip dari : Balanant J. et al. Virology 1991. 184: 645­654.
UC: uncutting.1W: Wild str. Polio-1., S1: Sabin-1. 2W: Wild str.
tipe-2.
2L:
Lansing-2.;
3Le:
Leon-3;
S3:
Sabin-3.
Cermin Dunia Kedokteran No. 100, 1995 19
background image
poliovirus. Hal ini akan sangat berguna dalam melakukan pe-
rencanaan suatu komposisi vaksin secara rasional dan teknologi
produksi vaksin serta metodologi pengujian mutu dan keamanan
vaksin.
KEPUSTAKAAN
1 . NN. Manual for The Virological Investigation of Poliomyelitis. Expanded
Program on Immunization and Division of Communicable Diseases.
WHO/ EPIJCDS/Polio/90.1.
2. Melnick JL. Enteroviruses. In: Virology. Fields BN. et at (eds.) 2nd ed.
New York: Raven Press 1990. p. 549­598.
3. Ruckert RR. Picornaviridae and Their Replication. In: Virology. Fields
BM, Knipe DM, (Eds.) 2nd. ed. New York: Raven Press 1990. p. 510­514.
4. Chen Fu Yang et at. Detection and Identification of Vaccine Related
polioviruses by The Polymerase Chain Reaction. Virus Research 1991; 20:
159­179.
5. Evans DMA et at. Increased neurovirulence associated with a single
nucleotide change in a non coding region of the Sabin type 3 poliovaccine
genom. Nature 1985; 314: 548­553.
6. Macadam AJ et at. The 5' noncoding region of the type 2 Poliovirus
Vaccine Strain contains determinants of attenuation and temperature
sensitivity. Virology 1991; 181: 451­458.
7. Toyoda H et at. Complete Nucleotide Sequences of all Three Polioviruses
Serotype Genomes. Implication for genetic relationship, gene function and
Antigenic Determinants. J Mol. Biol. 1984; 174: 561­85.
8. Westrop GD et al. Genetic Basis of Attenuation of the Polio type 3 Oral
Poliovirus Vaccine. J. Virol. 63:3; 1338­1344.
9. Strebel PM et al. Epidemiology of Poliomyelitis in the United States One
Decade after The Last Reported Case of Indigenous Wild Virus Associated
Disease. Clinical Infectious Diseases, 1992, 14: 568­579.
10. Itoh H. Domestic Production of Oral Poliomyelitis Vaccine. In: Proc
Internat Symp Virus Vaccine in Asian Countries, August. 25­27, 1984. p.
75­82.
11. Balanant J. The Natural genomic variability of poliovirus analyzed by a
restriction fragment length polymorphism assay. Virology 1991; 184:
645­654.
12. Djoko Yuwono. Penyebaran Poliovirus di Daerah Kumuh di DKI Jakarta.
Kumpulan Laporan Penelitian Puslit. Penyakit Menular Badan Litbang
Kesehatan. Departemen Kesehatan RI. 1991.
It's nice to get up early in the morning, but it's nicer to lie in bed
(Sir Larry Lauder)