Hasil Pengobatan Gastritis
dengan Traksat empat kali sehari
Dibandingkan dengan
dua kali dua sehari
Sujono Nadi
Sub Unit Gastroenterologi, Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
RSU dr. Hasan Sadikin, Bandung
PENDAHULUAN
Setiap hari sering kita temukan penderita yang datang ber-
obat dengan keluhan di saluran makan bagian atas; misalnya
rasa pedih, panas di daerah epigastrium, mual, kadang-kadang
disertai muntah, rasa panas di perut, rasa kembung, perasaan
lekas kenyang. Semua keluhan tersebut sering menyatakan
adanya penyakit di lambung. Kadang-kadang keluhan yang
diajukan penderita tersebut ringan dan dapat diatasi dengan
mengatur makanan, tetapi kadang-kadang dirasakan berat, se-
hingga ia terpaksa meminta pertolongan pada dokter bahkan
sampai terpaksa diberi perawatan khusus.
Penyakit lambung yang banyak ditemukan di Indonesia,
ialah gastritis. Sedangkan tukak lambung jarang ditemukan,
hanya di beberapa daerah saja misalnya di Sumatra Utara dan
Sulawesi Utara. Hal ini mungkin akibat kebiasaan hidup ma-
syarakat setempat. Telah banyak obat yang beredar guna
mengobati kedua penyakit tersebut. Obat yang terkenal sejak
bertahun-tahun adalah golongan antasida dengan berbagai
macam komposisi. Di samping itu kepada penderita tetap di-
anjurkan mengatur diitnya. Banyak penderita yang dapat di-
sembuhkan dengan pengobatan tersebut di atas, tetapi banyak
pula yang sukar disembuhkan; hal itu mendorong para peneliti
untuk menemukan obat golongan baru, di antaranya obat go-
longan sitoprotektif.
Dikenal dua golongan obat sitoprotektif, yaitu
(1)
:
1.
Golongan prostaglandin E, yang mempunyai sifat selain
sitoprotektif juga anti-sekretorik.
2.
Golongan protektif lokal, yang mempunyai sifat selain
sitoprotektif juga mampu membentuk rintangan mekanik,
sehingga akan melindungi mukosa dari asam dan pepsin.
Golongan Prostaglandin E
Prostaglandin akan merangsang sekresi bikarbonat, dan
memproduksi lendir dari mukosa gastroduodenal, meningkat-
kan aliran darah dari mukosa, serta memperbaharui sel epitel
yang rusak. Pada dosis terapeutik yang diberikan akan me-
ngurangi sekresi lambung baik basal maupun setelah mendapat
rangsangan. Efek samping dari obat ini yaitu sekitar 10% timbul
diare. Mengingat bahwa golongan obat ini juga mempengaruhi
kontraksi uterus, maka merupakan kontraindikasi pada wanita
hamil
(1,2)
.
Golongan Protektif Lokal
Obat golongan ini, selain mempunyai sifat sitoprotektif
juga mampu membentuk rintangan mekanik, melindungi
mukosa terhadap asam dan pepsin. Mekanisme sitoprotektif
meliputi ; membentuk rintangan pada lapisan mukosa, me-
rangsang sekresi bikarbonat oleh epitel, meningkatkan aliran
darah (mikro-sirkulasi) yang adekuat, dan mempercepat ter-
jadinya regenerasi sel yang rusak. Dengan meningkatnya me-
kanisme sitoprotektif tersebut maka kerusakan mukosa dapat
diperbaiki
(3)
.
Beberapa macam obat sering disebut-sebut dapat merusak
mukosa gastroduodenal, di antaranya ; aspirin, obat golongan
anti-inflamasi non steroid, etanol, dan lain-lainnya. Obat-obat
tersebut sering. dipergunakan untuk penelitian pada binatang
percobaan.
Aspirin akan diabsorpsi oleh lambung, bila pH intragastrik
kurang dari 3,5 sehingga akan merusak mukosa lambung.
Dengan diberikan prostaglandin E (PGE
2
) yang mempunyai
sifat sitoprotektif dan anti-sekresi, maka kerusakan tersebut
dapat dicegah atau dihilangkan
(1)
.
Pada binatang percobaan yang diberi aspirin atau indo-
metasin terjadi kerusakan mukosa Iambung disertai berkurang-
nya glikoprotein mukus, dan hipersekresi lambung. Terjadinya
hipersekresi getah lambung dan pepsin atau berkurangnya mikro-
sirkulasi dari lambung menjadi penyebab utama timbulnya lesi
mukosa. Dengan pemberian obat setraksat maka kerusakan atau
Dibacakan pada : Simposiwn Perkembangan Mutakhir Perlindungan Mukosa
Lambung, Padang.
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992
18
lesi tersebut dapat dihindari dan berbeda sekali dengan binatang
percobaan yang tanpa pcngobatan
(4)
.
Pada binatang percobaan lain yang diberi etanol, ke-
rusakan mukosa lambung dapat dicegah dengan memberikan
sukralfat yang mempunyai sifat sitoprotektif
(5)
. Demikian pula
dengan tikus percobaan yang diberi etanol, terjadi kerusakan
mukosa lambung yang dapat dicegah dengan memberi Colloidal
Bismuth Subcitrale (CBS). Karena CBS mcrangsang sintesa
PGE
2
mukosa lambung, berarti pula mempunyai sifat sitopro-
teklil
(6)
.
Yang dapat digolongkan obat sitoprotektif lokal, yaitu ;
sukralfat, pirenzepin, setraksat danColloidal Bismuth Subcitrate
(CBS). Dilaporkan pcngalaman pengobatan dengan obat sito-
protektif khususnya dengan setraksat pact' penyakit lambung.
BAHAN DAN METODE
Bahan
Sebagai bahan penelitian ialah 60 penderita yang di-
diagnosis gastritis secara endoskopis. Mereka terdiri dari 31
wanita dan 29 pria. Umur termuda 18 tahun dan yang tertua 53
tahun, dengan umur rata-rata 41,7 tahun.
Tata Cara
Penelitian ini merupakan uji klinis komparalif pada pen-
derita dengan diagnosis gastritis yang diberikan pengobatan
setraksat dengan dosis empat kali satu kapsul dibandingkan dua
kali dua kapsul schari.
Semua penderita yang mempunyai keluhan nyeri di ulu
hati, pedih, mual, kadang-kadang disertai muntah, mulut
masam, kembung, perasaan lekas kenyang, menjalani pe-
meriksaan endoskopi. Pemeriksaan endoskopi pada 79 kasus
menemukan tanda-tanda gastritis pada 60 kasus yang me-
menuhi syarat untuk diberi pengobatan dengan setraksat; kasus
ini dibagi dalam dua kelompok secara acak.
Kelompok I : mendapat pengobatan setraksat (Traxat®) 4 kali 1
kapsul sehari yang diberikan setelah makan.
Kelompok II : mendapat pengobatan setraksat 2 kali 2 kapsul
yang diberikan setelah makan.
Semua kasus diberikan pengobatan selama 4 minggu.
Selama 4 minggu sejak dimulai pengobatan, semua kasus
diikuti perkembangan penyakitnya. Buat penderita yang berobat
jalan, dianjurkan untuk datang memeriksakan diri seminggu
sekali. Yang diamati ialah : rasa sakit/nyeri di perut atas, rasa
mual, muntah, pedih sebelum dan sesudah makan, perasaan
panas di perut, lekas kenyang, kembung. Di samping itu juga
diamati apakah timbul efek samping, misalnya : timbul tanda-
tanda alergi, obstipasi, bertambahnya anoreksi, pusing.
Pengobatan tidak dilanjutkan bila penderita mengeluh pe-
nyakitnya bertambah berat, atau selama penelitian ini penderita
minum obat lain. Demikian pula penelitian ini dianggap batal
(gugur/drop out), bila penderita tidak bersedia datang untuk
melanjutkan pengobatan, walaupun telah diusahakan untuk di-
adakan kunjungan rumah.
Untuk mengevaluasi berhasil tidaknya pengobatan, di-
gunakan kriteria sebagai berikut :
1.
Semua keluhan menghilang sama sekali > skor 1
2.
Keluhan berkurang > skor 2
3.
Keluhan menetap > skor 3
4.
Keluhan yang dirasakan bertambah berat
atau timbulnya komplikasi > skor 4
Pada setiap kasus, setelah selesai masa pengobatan 4
minggu dilakukan pcmcriksaan panendoskopi kedua untuk
mengcvaluasi hasil pengobatan. Yang diperhatikan dari hasil
endoskopi ialah :
1)
Sembuh sempurna tanpa mcninggalkan bekas di-
golongkan pada skor 1.
2)
Mengalami perbaikan, masih memperilihatkan berkurangnya
tanda-tanda gastritis digolongkan pada skor 2.
3)
Masih menetapnya tanda-tanda gastritis digolongkan
pada skor 3.
4)
Bertambah beratnya tanda-tanda gastritis bila dibandingkan
sebelumnya atau memperlihatkan tanda pendarahan atau terlihat
tukak digolongkan pada skor 4.
Bagan penelitian :
HASIL
Telah dilakukan pemeriksaan panendoskopi atas 79 kasus
yang mempunyai keluhan nyeri, pedih sebelum atau sesudah
makan, perasaan mual kadang-kadang disertai muntah, rasa
panas di epigastrium, lekas kenyang, kembung, kadang-kadang
nafsu makan berkurang. Dari hasil panendoskopi ditemukan 60
kasus dengan tanda-tanda gastritis. Pada sejumlah kasus ini
langsung dibagi dalam dua kelompok, yaitu : kelompok I yang
diberikan pengobatan setraksat dengan dosis 4 kali 1 kapsul
sehari dan kelompok II yang diberikan pengobatan setraksat
dengan dosis dua kali 2 kapsul sehari (tabel 1).
Tabel 1. Diagnosis endoskopi pada 60 kasus
Kelompok
Diagnosis
I II
Jumlah
Gastritis erosiva
Gastritis superfisialis
Gastritis atrofikans
9
15
6
7
16
7
16
31
13
Jumlah 30
30
60
Dari hasil pemeriksaan panendoskopi, dibuat diagnosis
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 19
gastritis erosiva 16, gastritis superfisialis 31 dan gastritis
atrofikans 13 kasus.
Semua kasus diberi pengobatan setraksat dengan dosis se-
suai dengan protokol kerja selama 4 minggu. Seminggu sekali
diamati perkembangan penyakit. Hasil pengamatan dapat di-
lihat pada tabel 2.
Tabel 2. Keluhan penderita selama dan setelah pengobatan setraksat
Minggu 2
Minggu 3
Minggu 4
Keluhan Skor
I II I II I H
Menghilang
Berkurang
Menetap
Bertambah
Tidak datang
1
2
3
4
1
24
5
2
24
4
17
12
1
16
13
1
23
3
4
24
3
3
Tampak bahwa setelah 4 minggu pengobatan pada ke-
lompok I keluhan menghilang sebanyak 23 (skor I), pada ke-
lompok II sebanyak 24. Secara statistik tidak ada perbedaan
yang bermakna.
Dui 60 kasus kasus yang diteliti, ada 7 kasus yang tidal(
datang melanjutkan pengobatan; namun tidal( mempengaruhi
hasil penelitian. Setelah 4 minggu pengobatan kepada semua
kasus dilakukan pemeriksaan panendoskopi ulang untuk meng-
evaluasi hasil pengobatan (Tabe13).
Tabel 3. Hasil panendoskopi ulang
Kelompok
Hasil panendoskopi
Skor
I II
Jumlah
Sembuh sempuma
Perbaikan
Tidak ada perbaikan
Memberat
Tidak datang
Menolak
1
2
3
4
21
4
4
1
22
3
3
2
43
7
7
3
Jumlah
30
30
60
Dari 60 kasus gastritis, 7 kasus tidak datang melanjutkan
pengobatan dan 3 kasus menolak untuk dilakukan pemeriksaan
endoskopi ulang. Hasil pemeriksaan endoskopi ulang menun-
jukkan 21 kasus dari kelompok I dan 22 kasus dari kelompok II
sembuh sempurna, (skor I); tidak ada perbedaan bermakna.
Dari hasil pengamatan, tidak terlihat efek samping yang
timbul pada kedua ketompok baik selama maupun setelah peng-
obatan setraksat dihentikan.
PEMBAHASAN
Sering ditemukan penderita yang mempunyai keluhan
nyeri dan perasaan panas di epigastrium dengan berbagai ge-
jala lainnya. Semua keluhan tersebut memperlihatkan adanya
kelainan saluran makan bagian atas, tukak peptik serta tumor
dan.lain-lain.
Di negara kita, yang sering ditemukan ialah tanda pera-
dangan dari lambung dan duodenum, berupa gastritis, duodenitis
atau gastroduodenitis. Telah banyak obat yang beredar untuk
mengobati peradangan tersebut; masing-masing mempunyai
khasiat dan efek samping sendiri.
Dengan perkembangan zaman, main banyak ditemukan
obat dengan khasiat yang lebih baik tetapi memiliki efek samping
yang serendah-rendahnya. Setraksat yang termasuk obat yang
sudah banyak beredar di Indonesia, mempunyai sifat me-
ningkatkan mikrosirkulasi mukosa lambung dan mencegah
timbulnya kerusakan jaringan kapiler pada membrana mukosa;
jadi, mempunyai peranan penting untuk melindungi kerusakan
jaringan mukosa
(7,8)
. Dengan demikian maka obat ini tidak hanya
bermanfaat untuk mengobati tukak peptik saja, tetapi berman-
faat juga terhadap gastritis akut dan kronis
(9,10,11)
.
Penelitian klinis komparatif telah dilakukan pada 60 pen-
derita gastritis; dari kelompok I yang mendapat pengobatan
setraksat 200 mg 4 kali sehari ditemukan 23 dari 26 kasus
(88,5%) keluhannya menghilang (skor 1) dan 3 kasus menyata-
kan keluhan berkurang (skor 2). Keadaan semacam ini juga
dialami pada kelompok II yang mendapatkan pengobatan
setraksat 2 kali 400 mg sehari, yaitu 24 dari 27 kasus (88,8%)
menyatakan keluhan menghilang sama sekali (skor 1) dan 3
kasus termasuk skor 2. Jelas bahwa tidak ada perbedaan yang
bermakna.
Perbaikan klinis yang nyata pada kedua kelompok diperkuat
dengan hasil pemeriksaan panendoskopi. Dui 60 kasus yang
diperiksa panendoskopi ulang sebanyak 50 kasus (7 tidak me-
lanjutkan pengobatan dan 3 menolak pemeriksaan panendoskopi
kedua) hasilnya: kelompok I yang mencapai skor 1 sebanyak
21 dari 25 kasus (84%), dan skor 2 sebanyak 4, demikian pula
panendoskopi pada kelompok II, yang mencapai skor 1
sebanyak 22 dari 25 kasus (88%), dan skor 2 sebanyak 3 kasus.
Jadi hasil penelitian panendoskopi ulang juga tidak ada per-
bedaan yang bermakna antara kedua ketompok.
Tampak jelas penderita gastritis baik yang akut maupun
kronis bila diberi pengobatan setraksat dengan dosis 4 kali sehari
bila dibanding dengan pengobatan setraksat dengan dosis 2 kali
dua (dua diberikan pagi dan dua diberikan malam hari) sehari
mempunyai efektivitas yang sama serta tidak ada perbedaan
yang bermakna. Apalagi dari hasil pemantauan efek samping
selama dan setelah pengobatan dihentikan tidak ditemukan ke-
lainan akibat pemberian obat. Jelas bahwa penderita dengan
sindrom dispepsia baik tanpa tukak maupun dengan tukak peptik
dapat diberi setraksat 4 kali sehari atau 2 kali 2 sehari. Hasil
penelitian ini analog dengan penelitian terdahulu
(8,10,11)
. Bila
ditinjau dari segi praktis, pemberian obat 2 kali 2 lebih mudah
dilaksanakan oleh para penderita yang berobat jalan, bila di-
bandingkan dengan pemberian obat 4 kali sehari karena ke-
biasaan bangsa kita waktu makan tiga kali sehari; lagi pula se-
ringkali penderita lupa minum obat untuk yang ketiga kalinya.
Setraksat telah dikenal sebagai obat untuk menyembuhkan
berbagai macam tipe tukak peptik baik yang akut maupun yang
kronis
(7,12)
. Karena obat ini mempunyai khasiat melindungi
mukosa lambung terhadap kemungkinan terjadinya kerusakan
dan meningkatkan aliran darah di sekitar lesi, maka memper-
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992
20
cepat penyembuhan. Hal ini telah dibuktikan pada percobaan
binatang dan penelitian klinis pada penderita tukak lambung dan
duodenum
(7,9,12,13,14)
. Sebagaimana diketahui, gastritis adalah
juga merupakan lesi mukosa lambung yang dapat disebabkan
oleh berbagai macam penyebab; maka setraksat juga berkhasiat
untuk dapat menyembuhkannya. Hal ini terbukti dari penelitian
penulis pada sekelompok penderita gastritis akut dan kronis
yang mendapat pengobatan, menunjukkan penyembuhan sem-
purna pada sebagian besar penderita.
Pada penelitian ini tidak ditemukan efek samping yang
mungkin timbul, misalnya : tanda-tanda alergi, perasaan nyeri
perut yang hebat, obstipasi, muntah-muntah serta sakit kepala
setelah makan obat.
Berdasarkan penelitian ini dan hasil penelitian dari para
peneliti terdahulu, jelas bahwa setraksat sangat bermanfaat
untuk mengobati gastritis akut dan kronis tanpa timbulnya efek
samping.
Suatu penelitian lain, pada 29 tikus albino yang telah di-
puasakan selama 24 jam sebelumnya, diberi obat untuk melihat
efek PGE
2
di mukosa lambung
(1,5)
.
Binatang percobaan itu dibagi dalam 3 kelompok, yaitu :
Kelompok I : Sebagai kontrol diberi simetidin sebanyak 9 ekor.
Kelompok II : Mendapat obat indometasin dan setraksat 20 mg/
kg sebanyak 10 ekor.
Kelompok III: Mendapat obat indometasin dan setraksat
dengan dosis 300 mg/kg, sebanyak 10 ekor.
Satu dan 3 jam kemudian setelah pemberian obat, tikus
dibunuh dan diteliti konsentrasi PGE di mukosa lambung.
2
Hasil
penelitian memperlihatkan bahwa pemberian indometasin (ke-
lompok II) menurunkan konsentrasi PGE
2
di mukosa lambung
baik 1 dan 3 jam setelah pengobatan. Sedangkan pada kelompok
III pemberian setraksat dapat menghambat kerja indometasin
terhadap penurunan kadar PGE
2
di mukosa.
Sifat sitoprotektif dari setraksat ini dibuktikan pada per-
cobaan binatang lain yang diberi berbagai macam obat, antara
lain ; reserpin, serotonin, fenilbutazon, aspirin. Temyata efek
setraksat mempunyai sifat melindungi dan menghambat kerja
dari obat-obat tersebut, sehingga kerusakan mukosa lambung
dapat dicegah
(10,16)
.
Untuk mengobati tukak lambung, telah dilakukan penelitian
dengan cara menyemprotkan secara langsung larutan setraksat.
Caranya 400 mg tepung setraksat dilarutkan dengan 0,9% garam
fisiologis dan disemprotkan di sekitar tukak. Sebelum diberikan
pengobatan setiap 10 menit sampai 40 menit diamati aliran
darah mukosa sekitar tukak. Dari hasil pengamatan terdapat
pertambahan aliran sckitar tukak sctelah 10 mcnit dan men-
capai puncak pada menit kc 20, kemudian mcnurun mcnjadi
normal
(17)
. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa setraksat
mempunyai peranan penting memperbaiki mikrosirkulasi lam-
bung.
Sclain daripada itu, setraksat sebagai obat sitoprotektif
lokal, dapat digunakan untuk mcncegah timbulnya kelainan
mukosa lambung akibat pcmberian obat antirematik.
KEPUSTAKAAN
1.
Lam SK. Cytoprotective Agents Come of Age. Naskah Lengkap. Kursus
Penyegaran dan Temu Ahli dalam Bidang Gastroenterologi-llcpatologi.
Jakarta 2 April 1988.
2.
Robert A, Nezamis JE, Lancaster AY, et al. Cytoprotection by pro-
toglandin in rats. Prevention of gastric necrosis produced by alcohol, HO,
NaOH, hypertonic NaCl and thermal injury. Gastroenterol 1977; 77:
433-43.
3.
Hadi S. Aspek klinik pengobatan sitoprotektif pada Tukak Peptik dan
Gastritis. Simposium Ulkus Peptikum dan Gastritis. Semarang, 28 Mci
1988.
4.
Asano M, Kurebayashi Y, Shimoda K et al. Effect of Cetraxate on acute
gastric mucosal lesions. Jap J Clin Med 1983; 60: 193-6.
5.
Temawski A, Hollander D, Gergely H, et al. Comporison of Antacid,
Sucralfate, Cimetidine, and Ranitidine in protections of the gastric mucosa
against ethanol injury. Am J Med 1985; 79 (Suppl 2 c): 19-23.
6.
Hall DWR, Van den Hoven WE. Protective properties of Colloidal
Bismuth Subcitrate on gastric mucosa. Scand J Gastroentorol 1986; 21:
1113 (Suppl 122).
7.
Asano M, Kurebayashi Y, Shimoda K et al. Effect of Cetraxate on acute
gastric mucosal lesions. Jap J Gin Exp Med; 1983; 60: 193-6.
8.
Yamagata M, Miura K. Therapeutic effect of Cetraxate against acute
gastritis and acute exacerbation of chronic gastritis. Drug Res 1983; 33:
1191-5.
9.
Murakami M, Nakamura W. Effect of Cetraxate of mucosal blood flow.
Symp. 7th Asian Pacific Congr Gastroenterology. Excerpta Medica 1985:
29-31.
10.
Kim BS. A Clinical trial on Cetraxate in acute gastritis in Korea. Satellite
Symp. 7th Asian Pacific Congr Gastroenterology. Excerpta 1985: 29-31.
11.
Morise K, Hayawaka M, Kasugami K et al. Effect of Cetraxate on erosive
gastritis. Jap Pharmacol Ther 1982; 10: 111-9.
12.
Asaka M, Saito M, Yamashiro Metal. Clinical effect of Cetraxate on acute
gastric disease. J Med Pharn Sciences 1985; 13: 159-62.
13.
Laurete HC. Comparison of Cetraxate plus antacid with Cimetidine for
treatment of duodenal ulcer. Satellite Symp. 7th Asian Pacific Congr
Gastroenterology. Excerpta Medica. Jakarta 1985: 23-6.
14.
Kun BS, Kim MS. Effect of Cetraxate on PGE
2
concentration in gastric
mucosa of rats. Cetraxate Satellite Symp. Seoul: October 13th, 1988.
15.
Nakamura N, Nagao F. Effect of Cetraxate on healing and recurrence of
acetic acid-induced ulcer in rats. Cetraxate Satellite Symp. Seoul: October
13th, 1988.
16.
Wang TH, Chuang CN. Early changes of gastric mucosal blood flow by
spraying Cetraxate locally and its predictability of gastric ulcer healing.
Cetraxate Satellite Symp. Seoul: October 13th, 1988.
It is nice to be important, but it is more important to be nice
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 21