background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Gambaran Klinis dan Pengelolaan
Ankylosing Spondylitis
Riardi Pramudiyo
Sub Unit Reumatologi, Bag/SMF Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran,
Rumah Sakit Dr Hasan Sadikin, Bandung
PENDAHULUAN
Ankylosing spondylitis adalah penyakit inflamasi kronis
dengan etiologi yang belum/tidak diketahui. Penyakit ini
terutama menyerang kerangka axial, akan tetapi dapat juga
menyerang sendi perifer yang kadang-kadang merupakan
gambaran yang cukup penting bagi ankylosing spondylitis
(1)
.
Pada kasus yang berat, terjadi kalsifikasi perivertebrae yang
akan memberikan gambaran seperti ruas bambu (bamboo
spine)
(2)
.
Ankylosing spondylitis adalah salah satu penyakit yang
termasuk dalam kelompok penyakit spondyloarthropathy.
Penyakit-penyakit yang termasuk dalam kelompok ini adalah
ankylosing spondylitis, reactive arthritis, arthropathy of
inflammatory bowel disease (Crohn disease, ulcerative colitis),
psoriatic arthritis, undifferenciated spondyloarthropathy.
Istilah ankylosing spondylitis pada umumnya telah
diterima dan diakui oleh para pakar kedokteran; berasal dari
bahasa Yunani, dari kata ankylos, yang berarti melengkung dan
spondylos yang berarti vertebra. Oleh karena ankylosing
spondylitis cenderung ditemukan pada stadium lanjut dan
jarang ditemukan pada kasus-kasus ringan, maka diusulkan
untuk diberi nama spondylitis atau penyakit spondylitik.
Penyakit ini melewati suatu proses yang rnenggunakan fasilitas
HLA-B27.
Pada tahun 1850 Brodie mengutarakan gambaran klinik
seorang penderita berumur 31 tahun yang menderita ankilosis
vertebra yang kadang-kadang disertai dengan inflamasi berat
pada matanya. Kemudian pada tahun 1884 Strumpel dari
Jerman melaporkan 2 penderita dengan ankylose pada tulang
vertebra dan juga pada persendian panggulnya. Tak lama
kemudian von Bechterew dari Rusia dan Piere Marie dari
Perancis melaporkan pula penyakit-penyakit yang sama. Pada
tahun 1930-an telah dilaporkan tentang gambaran radiografi
penderita ankylosing spondylitis dan akhirnya pada tahun 1973
telah dilaporkan bahwa penyakit ini berhubungan erat dengan
HLA-B27. (dikutip dari van der Linden, 1997). Pada kesempat-
an ini akan dibicarakan gambaran klinis dan pengelolaan
ankylosing spondylitis.
GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis ankylosing spondylitis dapat dibagi
menjadi manifestasi pada skeletal (kerangka) dan manifestasi
luar
skeletal.
MANIFESTASI SKELETAL
1) Nyeri dan kaku pada pinggang
Nyeri pinggang (low back pain) merupakan keluhan yang
sering pula dijumpai pada masyarakat yang bukan penderita
penyakit ini. Oleh karena itu perlu diketahui bahwa nyeri
pinggang pada ankylosing spondylitis ditandai oleh : 1) dimulai
dengan adanya rasa nyaman di pinggang dan penderita sebelum
berumur 40 tahun; 2) Permulaannya insidious (perlahan-lahan).
3) nyeri menetap paling sedikit selama 3 bulan; 4) berhubungan
dengan kaku pada pinggang waktu pagi hari; 5) nyeri
berkurang/membaik dengan olah raga.
Rasa sakit mula-mula dirasakan pada daerah gluteus bagi-
an dalam, sulit untuk menentukan titik asal sakitnya dengan
permulaan yang insidious. Kadang-kadang pada stadium awal
nyeri dirasakan hebat di sendi sacroiliacs, dapat menjalar
sampai kista, iliaca atau daerah trochanter mayor, atau ke paha
bagian belakang. Nyeri menjalar ini sangat menyerupai nyeri
akibat kompresei nervus ischiadicus. Rasa sakit bertambah
pada waktu batuk, bersin atau melakukan gerakan memutar
punggung secara tiba-tiba.
Pada awalnya rasa sakit tidak menetap dan hanya me-
nyerang satu sisi (unilateral); sesudah beberapa bulan nyeri
biasanya akan menetap dan menyerang secara bilateral disertai
Dibacakan pada : Temu Ilmiah Rematologi 1998, Hotel Millennium, Jakarta
12 Desember 1998.
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000
20
background image
rasa kaku dan sakit pada bagian di bawah lumbal. Rasa sakit
dan kaku ini dirasakan lebih berat pada pagi hari yang kadang-
kadarig sampai membangunkan penderita dari tidurnya. Sakit/
kaku pagi hari ini biasanya menghilang sesudah 3 jam. Di
samping itu kaku/sakit pagi hari ini akan berkurang sampai
hilang dengan kompres panas, olah raga atau aktivitas jasmani
lain
(1,2,3)
.
Pada penyakit yang ringan biasanya gejala timbul hanya di
pinggang saja dan apabila penyakitnya bertambah berat, maka
gejala berawal dari daerah lumbal, kemudian thorakal akan
akhirnya sampai pada daerah servikal : untuk mencapai daerah
servikal penyakit ini memerlukan waktu selama 12-25 tahun.
Penyakit ini kadang-kadang dirasakan sembuh sementara atau
untuk selamanya, akan tetapi kadang-kadang akan berjalan
terus dan mengakibatkan terserangnya seluruh tebrae.
Selama perjalanan penyakitnya dapat terjadi nyeri radi-
kuler karena terserangnya vertebra thorakal atau servikal dan
apabila telah terjadi ankylose sempurna, keluhan nyeri akan
menghilang
(2)
.
2) Nyeri dada
Dengan terserangnya vertebra thorakalis termasuk sendi
kostovertebra dan adanya enthesopati pada daerah persendian
kostosternal dan manubrium stern, penderita akan merasakan
nyeri dada yang bertambah pada waktu batuk atau bersin.
Keadaan ini sangat menyerupai pleuritic pain. Nyeri dada
karena terserangnya persendian costovertebra dan costotranver-
sum sering kali disertai dengan nyeri tekan daerah costosternal
junction. Pengurangan ekspansi dada dari yang ringan sampai
sedang sering kali dijumpai pada stadium awal. Keluhan nyeri
dada sering ditemukan pada penderita dengan HLA-B27 positif
walaupun secara radiologis tidak tampak adanya kelainan sendi
sacroiliaca (sacroiliitis)
(4)
.
3) Nyeri tekan
Nyeri tekan ekstra-artikuler dapat dijumpai di daerah-
daerah tertentu pada beberapa penderita. Keadaan ini disebab-
kan oleh enthesitis, yaitu reaksi inflamasi yang terjadi pada
inserasi tendon tulang. Nyeri tekan dapat dijumpai pada
daerah-daerah sambungan costosternal, prosesus spinosus,
krista iliaca, trochanter mayor, ischial tuberosities atau tumtit
(achiles tendinitis atau plantar fasciitis). Pada pemeriksaan
radiologis kadang-kadang dapat ditemukan osteofit
(5)
.
4) Persendian
Sendi panggul dan bahu merupakan persendian ekstra-
axial yang paling sering terserang (35%). Kelainan ini merupa-
kan manifestasi yang sering dijumpai pada juvenile ankylosing
spondylitis. Kelainan sendi panggul sering dijumpai di negara-
negara Algeria, India dan Mexico.
Pada ankylosing spondylitis yang menyerang anak-anak
antara umur 8-10 tahun, keluhan pada sendi panggul sering
dijumpai, terutama pada penderita dengan HLA-B27 positif
atau titer ANA negatif
(6)
. Sendi lutut juga sering terserang,
dengan manifestasi efusi yang intermitten. Di samping itu sendi
temporomandibularis juga dapat terserang (10%).
MANIFESTASI EKSTRA SKELETAL
Gejala konstitusional seperti : rasa lelah, berat badan me-
nurun dan subfebril sering dijumpai.
Manifestasi ekstra skeletal lain adalah :
1) Mata
Uveitis anterior akut atau iridocyclitis merupakan mani-
festasi ekstra skeletal yang sering dijumpai (20-30%). Permula-
annya biasanya akut dan unilateral, akan tetapi yang terserang
dapat bergantian. Mata tampak merah dan terasa sakit disertai
dengan adanya gangguan penglihatan, kadang-kadang ditemu-
kan fotopobia dan hiperlakrimasi. Apabila pengobatan ter-
lambat dapat mengakibatkan glaucoma; apabila diberikan
pengobatan sedini mungkin gangguan pada mata tersebut akan
sembuh tanpa cacat sesudah 4-5 minggu. Kelainan mata ini
sering dijumpai pada penderita dengan HLA-B27 positif.
2) Jantung
Secara klinis biasanya tidak menunjukkan gejala. Mani-
festasinya adalah : ascending aortitis, gangguan katup aorta,
gangguan hantaran, kardiomegali dan perikarditis. Gangguan
katup aorta terjadi pada 3,5% penderita yang telah menderita
ankylosing spondylitis selama 15 tahun dan 10% pada penderita
yang telah menderita selama 30 tahun. Gangguan hantaran
terjadi pada 2,7% penderita yang menderita selama 15 tahun
dan 8,5% pada penderita yang telah menderita selama 30 tahun.
Gangguan jantung ini terjadi dua kali lebih sering pada
penderita -yang terserang sendi perifernya
(7)
.
3) Paru-paru
Terserangnya paru-paru pada penderita ankylosing spon-
dylitis jarang terjadi dan merupakan manifestasi lanjut
penyakit. Manifestasinya dapat berupa : fibrosis baru lobus atas
yang progresif dan rata-rata terjadi pada yang telah menderita
selama 20 tahun. Lesi tersebut akhirnya menjadi kista yang
merupakan tempat yang baik bagi pertumbuhan aspergilus.
Keluhan yang dapat timbul pada keadaan ini antara lain : batuk,
sesak nafas dan kadang-kadang hemoptisis.
Ventilasi paru-paru biasanya masih terkompensasi dengan
baik karena meningkatnya peran diafragma sebagai kompensasi
terhadap kekakuan yang terjadi pada dinding dada. Kapasitas
vital dan kapasitas paru total mungkin menurun sampai tingkat
sedang akibat terbatasnya pergerakan dinding dada. Walaupun
demikian residual volume dan function residual capacity
biasanya meningkat.
4) Sistem saraf
Komplikasi neurologis pada ankylosing spondylitis dapat
terjadi akibat fraktur, persendian vertebra yang tidak stabil,
kompresi atau inflamasi. Kecelakaan lalulintas atau trauma
ringan dapat mengakibatkan fraktur vertebra; yang sering ter-
kena adalah C
5
- C
6
dan C
6
-C
7
. Subluksasi persendian atlanto-
aksial dan atlanto-osipital dapat terjadi akibat inflamasi pada
persendian tersebut sehingga tidak stabil. Kompresi, termasuk
proses osifikasi pada ligamentum longitudinal posterior akan
mengakibatkan terjadinya mielopati kompresi; lesi destruksi
pada diskus intervertebra dan stenosis spinal.
Sindrom cauda equina merupakan komplikasi yang jarang
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000 21
background image
terjadi tetapi merupakan keadaan yang serius. Sindrom ini akan
menyerang saraf lumbosakral, dengan gejala-gejala incon-
tinentia urine et alvi yang berjalan perlahan-lahan, impotensi,
saddle anesthesia dan kadang-kadang refleks tendon achiles
menghilang. Gejala motorik biasanya jarang timbul atau sangat
ringan. Sindrom ini dapat ditegakkan dengan bantuan pe-
meriksaan CT scan atau MRI. Apabila tidak ditemukan lesi
kompresi, maka perlu dipikirkan kemungkinan adanya arach-
noiditis atau perlengketan pada selaput arachnoid.
(9)
5) Gangguan ginjall
Nefropati (lgA) telah banyak dilaporkan sebagai kom-
plikasi ankylosing spondylitis. Keadaan ini khas ditandai oleh
kadar 1gA yang tinggi pada 93% kasus disertai dengan gagal
ginjal 27%.
(1,10)
PEMERIKSAAN JASMANI
Pemeriksaan jasmani, pada awalnya tidak menunjukkan
kelainan yang jelas, selama perjalanan penyakitnya akan ter-
lihat mulai dari perubahan gerak dan postur tubuh. Hal-hal lain
yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan jasmani adalah
sebagai berikut :
1) Sikap/postur tubuh
Selama perjalanan penyakitnya, sikap tubuh yang normal
akan hilang. Lordosis lumbal yang menghilang umumnya
merupakan tanda awal. Apabila vertebra cervical terserang,
maka pergerakan leher akan terbatas serta menimbulkan rasa
nyeri. Leber penderita mengalami pergeseran ke depan dan hal
ini dapat dibuktikan dengan cara : penderita diminta berdiri
tegak, apabila terjadi pergeseran maka occiput tidak dapat
menempel pada dinding.
2) Mobilitas tulang belakang
Tulang belakang merupakan bagian tubuh yang harus
diperiksa dengan seksama. Pertama kali yang diperiksa adalah
apakah ada keterbatasan gerak. Biasanya ditemukan adanya
keterbatasan gerak pada tulang vertebra lumbal, yang dapat
dilihat dengan cara melakukan gerakan fleksi badan ke depan,
ke samping dan ekstensi.
Tes Schober atau modifikasinya, berguna untuk men-
deteksi keterbatasan gerak fleksi badan ke depan. Caranya :
penderita diminta untuk berdiri tegak, pada prosesus spinosus
lumbal V diberi tanda (titik), kemudian 10 cm lurus di atasnya
diberi tanda ke dua. Kemudian penderita diminta melakukan
gerakan membungkuk (lutut tidak boleh dibengkokkan). Pada
orang normal jarak kedua titik tersebut akan bertambah jauh;
bila jarak kedua titik tersebut tidak mencapai 15 cm, hal ini
menandakan bahwa mobilitas tulang vertebra lumbal telah
menurun (pergerakan vertebra lumbal mulai terbatas). Di
samping itu fleksi lateral juga akan menurun dan gerak putar
pada tulang belakang akan menimbulkan rasa sakit.
3) Ekspansi dada
Penurunan ekspansi dada dari yang ringan sampai sedang,
sering dijumpai pada kasus ankylosing spondylitis stadium dini
dan jangan dianggap sebagai stadium lanjut. Pada pengukuran
ini perlu dilihat bahwa nilai normalnya sangat bervariasi dan
tergantung pada umur dan jenis kelamin. Sebagai pedoman
yang dipakai adalah : ekspansi dada kurang dari 5 cm pada
penderita muda disertai dengan nyeri pinggang yang dimulai
secara perlahan-lahan, harus dicurigai mengarah ke adanya
ankylosing spondylitis. Pengukuran ekspansi dada ini diukur
dari inspirasi maksimal sesudah melakukan ekspirasi
maksimal.
(1)
4) Enthesitis
Adanya enthesitis dapat dilihat dengan cara menekan pada
tempat-tempat tertentu antara lain : ischial tuberositas, troc-
hanter mayor, processus spinosus, costochondral dan manu-
briosternal junctions serta pada iliac fasciitis plantaris juga
merupakan manifestasi dari enthesitis.
5) Sacroiliitis
Pada sacroiliitis penekanan sendi ini akan memberikan
rasa sakit, akan tetapi hal ini tidak spesifik karena pada awal
penyakit atau pada stadium lanjut sering kali tanda-tanda ini
tidak ditemukan. Pada stadium lanjut tidak ditemukan nyeri
tekan pada sendi sacroiliaca oleh karena telah terjadi fibrosis
atau, bony ankylosis.
DIAGNOSIS
Manifestasi klinis ankylosing spondylitis dimulai pada
waktu dewasa dan sedikit sekali yang dimulai sesudah umur 40
tahun.
Anamnesis dan pemeriksaan jasmani yang teliti amat ber-
manfaat dalam menegakkan diagnosis ankylosing spondylitis.
Dari anamnesis yang perlu diperhatikan adalah : 1) adanya
kaku dan nyeri pinggang inflamasi; 2) adanya riwayat keluarga
dengan ankylosing spondylitis.
Nyeri pinggang merupakan hal yang sering dijumpai
dalam masyarakat dan pada umumnya disebabkan oleh karena
noninflamasi atau faktor mekanis yang tidak spesifik. Akan
tetapi nyeri pinggang pada ankylosing spondylitis mempunyai
ciri-ciri yang khas yaitu :
1) Permulaan rasa tidak nyaman pada punggung dimulai
sebelum umur 40 tahun.
2) Permulaan timbulnya secara perlahan-lahan.
3) Menetap paling sedikit selama 3 bulan.
4) Disertai dengan rasa kaku pagi hari.
5) Membaik dengan latihan/olah raga.
Adanya riwayat nyeri punggung inflamasi dapat dipakai
sebagai alat/sarana diagnostik. Nyeri pinggang inflamasi telah
dilaporkan mempunyai sensitivitas 95%, dan spesifisitas antara
85-90% untuk diagnosis ankylosing spondylitis.
Adanya riwayat keluarga dengan ankylosing spondylitis
membantu menegakkan diagnosis.
Diagnosis definitif dapat ditegakkan dengan bantuan
pemeriksaan radiologis, yaitu adanya sacroiliitis bilateral akan
tetapi sacroiliitis yang ringan atau sedang sering sukar dilihat.
Pemeriksaan laboratorium, biasanya laju endap darahnya
tinggi, tanpa kelainan biokimia yang lain, dan sering ditemukan
HLA-B27 positif.
Untuk memudahkan menegakkan diagnosis telah dibuat
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000
22
background image
kriteria-kriteria tertentu; umumnya berdasarkan atas gejala
klinis dan pemeriksaan radiologis. Kriteria diagnostik pertama
yang dibuat adalah kriteria Roma yang dibuat pada tahun 1961,
kemudian disusul dengan munculnya kriteria New York pada
tahun 1966 dan akhirnya muncul kriteria yang terakhir yaitu
kriteria New York yang mengalami modifikasi pada tahun
1984.
Modifikasi kriteria New York (1984) terdiri dari :
1) Nyeri pinggang paling sedikit berlangsung selama 3 bulan,
membaik dengan olah raga dan tidak menghilang dengan
istirahat.
2) Keterbatasan gerak vertabra lumbal pada bidang frontal
rnaupun sagital.
3) Penurunan relatif derajat ekspansi dinding dada terhadap
umur dan jenis kelamin.
4) Sacroiliitas bilateral grade 2-4.
5) Sacroiliitis unilateral grade 3-4.
Diagnosis ankylosing spondylitis definitif apabila terdapat
sacroiliitis unilateral grade 3-4 atau sacroiliitis bilateral grade
2-4 disertai dengan salah satu gejaia klinis di atas.
PERMASALAHAN DIAGNOSTIK
Ankylosing spondylitis merupakan penyakit yang awal
mulanya terjadi secara perlahan-lahan dan kadang-kadang tidak
menunjukkan gejala khas. Oleh karenanya sering kali kita
menghadapi permasalahan dalam menegakkan diagnosis, an-
tara lain, apabila :
1) Pada pemeriksaan rontgen tidak ditemukan sacroiliitis
Pada umumnya para dokter enggan membuat diagnosis
ankylosing spondylitis bila pemeriksaan rontgen tidak terbukti
adanya sacroiliitis. Perlu diketahui bahwa pada kenyataannya
sanak-saudara penderita ankylosing spondylitis yang menun-
jukkan gejala khas kadang-kadang dalam jangka waktu yang
lama pada pemeriksaan radiologis tidak menunjukkan sacro-
illiitis. Adanya sacroiliitis pada pemeriksaan rontgen sering
ditemukan pada penderita ankylosing spondylitis, akan tetapi
hal ini bukan berarti manifestasi dini atau manifestasi yang
harus ada pada penyakit ini.
Mau dkk (1988) menemukan bahwa 27% penderita dengan
kemungkinan ankylosing spondylitis, dengan sendi sacroiliaca
normal pada awal penelitian, akan menjadi ankylosing spondy-
litis definitif disertai kelainan sendi sacroiliaca (sacroiliitis)
pada pemeriksaan radiologis, 5 tahun kemudian.
(13)
2) Nyeri dada tanpa kelainan lain
Kadang-kadang penderita penyakit ini mengalami nyeri
dinding dada yang berulang tanpa kelainan sendi sacroiliaca
pada pemeriksaan radiologis atau tanpa adanya tanda-tanda
nyeri lumbal inflamasi. Nyeri dinding dada akan bertambah
pada waktu batuk atau bersin dan keadaan ini sangat me-
nyerupai dan khas untuk nyeri pleura (pleuritic pain).
3) Umur
Walaupun ankylosing spondylitis jarang timbul pada umur
50 tahun, akan tetapi late onset of ankylosing spondylitis dapat
terjadi. Penyakit dengan permulaan yang terlambat ini pada
awal penyakitnya secara klinis kerangka aksial (axial skeleton)
mungkin tidak terserang, akan tetapi terjadi oligoartritis dengan
jumlah sel yang sedikit pada cairan sendinya disertai pitting
edema pada ekstremitas bawah.
Disamping itu juvenile onset of ankylosing spondylitis juga
tidak jarang ditemukan. Kasus ini sering menunjukkan artritis
perifer dan enthesitis. Pada penderita usia muda pada umumnya
ditemukan laju endap darah yang tinggi, anemia dan hiper-
gamma-globulinemia dibanding dengan penderita usia dewasa.
Artritis perifer pada kasus ini sering kali berat dan meng-
akibatkan cacat
(6)
.
PENGELOLAAN
Pengelolaan pada penyakit ankylosing spondylitis dapat
dibagi dalam tiga kelompok, yaitu :
1) Ankylosing spondylitis tanpa keluhan nyeri dan kaku
Kebanyakan penderita penyakitnya ringan, tanpa meng-
ganggu aktivitas sehari-hari. Dalam hal ini obat-obatan belum
diperlukan, akan tetapi olah raga harus dilakukan secara rutin
untuk memelihara kelenturan persendian dan mencegah ter-
jadinya osifikasi sendi.
Manifestasi ektra skeletal yang paling sering adalah uveitis
atau iridosiklitis. Keadaan ini biasanya dapat dikendalikan
dengan steroid tetes mata untuk mengendalikan inflamasi yang
terjadi dan perlu obat untuk melebarkan pupil untuk mencegah
timbulnya glaukoma.
2) Ankylosing spondylitis disertai keluhan rasa nyeri dan
kaku
Tujuan/sasaran pengobatan pada ankylosing spondylitis
adalah : menghilangkan rasa sakit/kaku, capai dan memelihara
sikap tubuh dan fungsi jasmani. Hal ini dapat dicapai dengan
cara memberikan obat-obatan, latihan dan penyulahan/
penerangan.
·
Obat-obatan
Obat-obatan terutama untuk mengobati keluhan atau gejala
yang ada dan keluhan penderita telah teratasi atau hilang, obat-
obatan dapat dihentikan. Jadi obat-obatan diberikan untuk
menghilangkan rasa sakit agar penderita dapat melakukan
mobilitas atau latihan dengan baik dan teratur.
Obat-obatan yang diberikan antara lain adalah :
a) Obat-obatan anti inflamasi non steroid.
Obat-obatan yang tergolong dalam kelompok ini sangat
luas dipakai untuk mengatasi rasa sakit. Hasilnya pada umum-
nya cukup memuaskan. Salah satu obat OAINS yang telah
lama dipakai dan konon dalam pemakaian jangka lama dapat
menghambat terjadinya osifikasi skeletal adalah phenyl-
butazon, akan tetapi pemakaian dalam jangka waktu yang lama
harus hati-hati karena efek samping hematologik yang dapat
terjadi.
(1)
Pada kasus-kasus dengan keluhan kaku sendi pagi hari,
pada umumnya pemberian OAINS ditingkatkan pada sore atau
malam hari atau dapat ditambah dengan obat lain.
b) Sulfasalazin
Pemakaian sulfasalazin pada ankylosing spondylitis ber-
dasarkan atas hubungan yang erat antara inflammatory bowel
disease dengan spondyloarthropathy, dan sulfasalazine terbukti
cukup efektif untuk pengobatan inflammatory bowel disease.
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000 23
background image
Sulfasalazin telah dicoba untuk mengobati penderita ankylosing
spondylitis dan ternyata cukup berhasil dalam mengurangi/
menghilangkan kaku pagi hari, rasa sakit dan menurunkan
kadar lgA dalam darah serta dapat mencegah terjadinya uveitis
yang berulang
(1)
.
Penyakit ini mempunyai manifestasi skeletal dan ekstra
skeletal. Manifestasi skeletal berupa : nyeri/kaku tulang bela-
kang, nyeri dada, nyeri tekan pada tempat tertentu, nyeri sendi
lutut dan bahu, sedang manifestasi ekstra skeletal dapat tetjadi
pada organ jantung, paru-paru, sistem saraf dan ginjal. Perlu
anamnesis untuk mencari adanya nyeri pinggang inflamasi dan
riwayat keluarga. Pemeriksaan jasmani yang perlu diperhatikan
adalah postur tubuh, mobilitas tulang punggung, ekspansi
dinding dada, adanya enthesitis dan sacroiliitis.
·
Latihan
Antara tahun 1920-1930-an, ankylosing spondylitis
dianggap sebagai variant dari artritis reumatoid, maka terapi
yang diberikan adalah istirahat dan plaster jackets atau brace,
dengan asumsi bahwa proses inflamasi tersebut akan berhenti
apabila sendi yang sakit termasuk tulang punggung diistirahat-
kan. Akan tetapi kenyataannya hal ini akan membawa petaka,
tulang punggung maupun sendi lain yang terserang akan lebih
cepat menjadi anakylose, kaku dan tidak dapat dipakai secara
efektif.
Salah satu kunci keberhasilan dalam pengelolaan anky-
losing spondylitis adalah mobilitas, padahal penderita pada
umumnya mengalami pergerakan yang sangat terbatas karena
rasa sakit dan kaku. Oleh karena itu sangat perlu diberikan
obat-obatan untuk menekan rasa sakit agar penderita dapat
melakukan latihan-latihan dengan baik dan teratur
(14)
. Latihan
yang dianjurkan adalah berenang (hidroterapi) atau latihan
berkelompok yang dipimpin oleh seorang fisioterapist untuk
menjaga agar mobilitas vertebra thoracolumbal tetap baik. Di
samping itu olah raga yang lainnya dapat pula dilakukan
seminggu paling sedikit 2 kali selama 3 jam tiap kali olah
raga
(1)
.
Untuk menegakkan diagnosis diperlukan anamnesis peme-
riksaan jasmani yang dibantu dengan pemeriksaan radiologis
untuk menentukan apakah data tersebut memenuhi kriteria
New York tahun 1984.
Masalah dapat terjadi dalam menegakkan diagnosis bila
tidak ditemukan sacroiliitis pada pemeriksaan radiologis; nyeri
dada tanpa kelainan yang lain; umurnya terlalu muda atau
terlalu tua.
Pengelolaan pada penyakit tanpa keluhan : olah raga seca-
ra rutin tanpa obat, dan bila dengan keluhan : obat-obatan,
latihan secara teratur dan penerangan; dan bila telah terjadi
gangguan fungsi : operasi.
KEPUSTAKAAN
1. Van der Linden S, Ankylosing Spondylitis. In: Kelly W, Harris ED,
Ruddy S, Sledge CB. Eds. Textbook of Rheumatology. 5
th
ed,
Philadelphia-London-Toronto-Sydney-Tokyo : WB Saunders Co 1997;
pp : 969-82.
·
Radioterapi
Telah dicoba pemakaian radioterapi untuk ankylosing
spondylitis, ternyata menimbulkan efek samping lekemia atau
kanker kulit. Dengan ditemukannya dosimetri, dilaporkan
bahwa komplikasi ini jarang terjadi.
(1)
2. Parker CW. Seronegative HLA related arthritis. In : Parker CW Ed.
Clinical Inununology Vol II. Philadelphia, London, Toronto: WB
Saunders 1980; pp : 753-73.
3.
Haslock I. Ankylosing spondylitis. In : Dippe PA, Bacon PA, Bamji AN,
Watt 1 Eds. Atlas of clinical rheumatology. Gower Medical Publisher,
London, New York : 1986 ; pp: 12.1-12,12.
·
Penerangan/penyuluhan.
Penderita harus diberi penerangan tantang sifat dan per-
jalanan penyakit agar program pengelolaannya dapat dilaksana-
kan dengan baik dan penuh kesadaran, sehingga tidak menim-
bulkan cacat jasmani. Dengan demikian penderita dapat
melakukan kegiatannya sehari-hari tanpa memerlukan bantuan
orang lain dan percaya dirinya akan besar, sehingga mampu
untuk mencari nafkah baik untuk dirinya sendiri maupun untuk
keluarganya.
4. Van der Linden S, Khan MA, Rentsch HU. Chest pain without
radiographic sacroiliitis in relatives of patients with ankylosing
spondylitis. J Rheumatol, 1988; 15 : 836-9.
5.
Mander M, Sikupson JM, Mclellan A. Studies with an enthesis index as a
method of clinical assessment in ankylosing spondylitis. Ann Rheum M,
1987; 46 : 197-202.
6. Burgos-Vargas R. Naranjo A, Castillo J. Ankylosing spondylitis in the
Mexican Mestizo : Patten of disease according to age at onset. J
Rheumatol 1989 ; 16 : 186-91.
7. Graham DC, Smythe HA. The carditis and aortitis of ankylosing
spondylitis. Bull Rheum Dis 1958; 9 : 171-4.
8. Boushea DK, Sundstrom WR. The pleuropulmonary manifestation of
ankylosing spondylitis Semin Arthritis Rheum 1989; 18 : 277-81.
3) Ankylosing spondylitis disertai gangguan fungsi
9. Tyrre1 PNM, Davies AM, Evans N. Neurological disturbances in
ankylosing spondyfitis. Ann Rheum Dis. 1994 ; 53 : 714-7.
Apabila sendi panggul terserang dan menimbulkan cacat
jasmani yang sangat menganggu penderita dalam melakukan
aktivitas sehari-hari, maka perlu dilakukan tindakan operasi.
Demikian pula apabila terjadi deformitas lain misalnya defor-
mitas fleksi yang mengakibatkan penderita tidak dapat melihat
lurus ke depan, perlu tindakan operasi untuk membetulkan
deformitas tersebut.
10. Lai KN, Li PKT, Hawkins B, et al. IgA nephropathy associated with
ankylosing epondylitis. Occurrence in women as well as in men. Ann
Rheum Dis, 1989; 48 : 435-7.
11. Calin A, Porta J, Fries JF, Schurman DJ. Clinical history of a screen test
for ankylosing spondylitis. JAMA 1977; 237 : 2613-4.
12. Van der Linden SM, Fahrer H. Occurrence of spinal pain syndrome in a
group of apparently healthy and physically fit sportsmen (orienteers).
Scand J Rheumatol 1988; 17 : 475-81.
13. Mau W, Zeidler H, Mau R, et al. Clinical feature and prognosis of
patients with possible ankylosing spondylitis : Results of a 10 year
follow-up. J Rheumatol, 1980 ; 1109-14.
KESIMPULAN
Ankylosing spondylitis adalah penyakit inflamasi kronis
dengan etiologi yang belum diketahui, dan menyerang terutama
pada persendian kerangka aksial dan juga sendi perifer.
14. Hart FD. Practical problem in rheumatology. Singapore, Hongkong : PG
Publishing Pte Ltd 1984.
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000
24