background image
HASIL PENELITIAN
Faktor- faktor
yang Mempengaruhi Kesegaran Jasmani
Pelajar SLTA di Jakarta
Ch. M. Kristanti
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Salah satu komponen terpenting dari empat komponen ke-
segaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan, adalah
daya tahan kardiorespirasi. ini adalah kemampuan sistim per-
edaran darah dan pernafasan untuk membagikan oksigen serta
makanan ke otot-otot yang bekerja sesuai dengan kebutuhan
untuk memulihkan tubuh dari efek bekerja dan latihan fisik.
VO
2
memberikan gambaran kemampuan sistim peredaran
darah dan pernafasan seseorang.
Pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas adalah remaja se-
bagai generasi penerus bangsa. Mereka dituntut untuk memiliki
tingkat kesegaran jasmani yang optimal, agar mampu berprestasi
baik dalam pelajaran maupun pekerjaan. Gaya hidup remaja
biasanya melibatkan perilaku berisiko antara lain merokok,
minum alkohol, dan menggunakan obat terlarang yang dapat
menurunkan kesegaran jasmani
(1)
. Berbagai penelitian melapor-
kan bahwa kesegaran jasmani terutama daya tahan kardio-
respirasi pada sebagian besar pegawai negeri, pegawai swasta
dan kelompok usia produktif 30­39 tahun, dan pelajar SLTA di
Jakarta dalam kondisi kurang.
Analisis data sekunder telah dilakukan menggunakan data
hasil penelitian kesegaran jasmani pada pelajar SLTA di Jakarta
1990. Tujuan analisis adalah untuk mengetahui hubungan VO
2
max dengan variabel lain seperti jenis kelamin, umur, Hb, body
mass index (BMI), kegiatan olahraga fisik, kebiasaan merokok
dan minum alkohol. Informasi mengenai status kesegaran jas-
mani pelajar SLTA dapat digunakan sebagai masukan dalam
menyusun strategi program pembinaan dan pengembangan ke-
segaran jasmani remaja yang dilaksanakan melalui jalur sekolah.
BAHAN DAN CARA
Pada penelitian kesegaran jasmani pelajar SLTA di Jakarta
tahun 1990, penilaian daya tahan kardiorespirasi dilakukan me-
lalui pengukuran VO
2
max dengan menggunakan ergometer
sepeda (ciclo ergometty test). Penentuan kriteria menggunakan
metode Astrand
(2)
. Seleksi kasus dilakukan melalui skrining
untuk mengeluarkan responden yang tidak mampu melakukan
tes.
Pengukuran Hb menggunakan metode Cyanmeth dengan
alat Clinpot. Pengukuran berat badan dan tinggi badan dalam
satuan kilogram dilakukan untuk menghitung BMI. Pengukuran
variabel lain menggunakan kuesioner. Variabel kegiatan olah-
raga merupakan hasil perkalian antara frekuensi dan durasi
berolahraga, dalam penelitian ini kontinuitas berolahraga dan
jenis olahraga yang dilakukan tidak diukur. Yang dimaksud
dengan merokok di sini adalah kebiasaan merokok setiap hari
pada seseorang, sehingga pada mereka yang hanya kadang-
kadang merokok dikategorikan tidak merokok. Sedangkan
minum alkohol dalam penelitian ini adalah kebiasaan minum
alkohol pada seseorang, baik kadang-kadang maupun sering.
Dari analisis deskriptif diperoleh frekuensi distribusi ma-
sing-masing variabel. Analisis regresi sederhana digunakan
untuk mengetahui hubungan antara variabel seks, umur, BMI,
kegiatan, kadar Hb, kebiasaan merokok dan minum alkohol
dengan VO
2
max yang merupakan bilangan kontinu. Analisis
regresi linier ganda untuk mengetahui pengaruh berbagai va-
riabel terhadap VO
2
max secara bersama-sama. Analisis ini
menggunakan perangkat lunak SPSS/PC+ versi 4.0.
*) Ttulisan ini merupakan tesis program Pasca Sarjana UI, 1993
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995
24
background image
HASIL
Pelajar yang mampu mengikuti tes sebanyak 1016 orang
sebagian besar (95,5%) berumur 12­19 tahun. Mereka terdiri
dari 54% laki-laki dan 46% perempuan. Daya tahan kardiores-
pirasi pelajar pada umumnya adalah kurang atau sangat kurang
(52,4%), pada laki-laki 52,9% dan pada perempuan 53,2%. Daya
tahan kardiorespirasi sedang terdapat pada 26,1% pelajar; pada
laki-laki 31,2% dan pada perempuan 20,1%; Daya tahan kar-
diorespirasi baik atau baik sekali terdapat pada 21,5% pelajar;
pada laki-laki 17,0% dan pada perempuan 26,7%.
Dengan ketentuan bahwa anemia adalah suatu tingkat kadar
Hb di bawah 12 gram/dl pada perempuan dan di bawah 13 gram/
dl pada laki-laki, maka dijumpai 17,7% pelajar menderita ane-
mia. Proporsi penderita anemia pada perempuan adalah 23,7%,
dan pada laki-laki 12,6%. Proporsi pelajar SLTA yang merokok
hanya 14,7% dan sebagian besar dari mereka (98,7%) laki-laki.
Proporsi pelajar SLTA yang minum alkohol hanya 9,9% dan
sebagian besar dari mereka adalah laki-laki (95,1%). (Tabel I)
Tabel 1. Daya Tahan Kardiorespirasi,Distribusi menurut Golongan Umur,
Kondisi
Anemi,
Kebiasaan
Merokok,
Minum
Alkohol
*)
Laki-laki Perempuan
N
Karakteristik
n % n % n %
Total
548 100.0
468 100.0
1016 100.0
Golongan umur:
13­15 tahun
16­19 tahun
20­23 tahun
42
472
34
7,7
86,1
6,2
40
416
12
8,5
88,9
2,6
82
88,9
46
8,1
87,4
4,5
Daya tahan
Kardiorespirasi:
Sangat kurang
Kurang
Sedang
Baik
Baik sekali
202
82
171
57
36
36,9
15,0
31,2
10,4
6,6
94
155
94
66
59
20,1
33,1
20,1
14,1
12,6
296
237
265
123
95
29,1
23,3
26,1
12,1
9,4
Kondisi:
Anemia
Tidak anemia
69
479
12,6
87,4
111
357
23,7
76,3
180
836
17,7
82,3
Merokok:
Ya
Tidak
147
401
26,8
73,2
2
466
0,4
99,6
149
867
14,7
85,3
Minum alkohol:
Ya
Tidak
96
452
17,5
82,5
5
463
1.0
98,9
101
915
9,9
90,1
Keterangan :
*) Laporan akhir Survei Kesegaran Jasmani siswa SLTA Jakarta, 1990.
Nilai rata-rata daya tahan kardiorespirasi 34,70 ml/kg/menit
dengan variasi antara 10,5­68,4 ml/kgBB/menit. Pada laki-laki
nilai rata-rata 38,0 ml/kgBB/menit; ini Iebih tinggi daripada
perempuan 30,8 ml/kgBB/menit. Kadar Hb rata-rata 13,9 g/dl.
Pada laki-laki kadar Hb rata-rata 14,9 g/dl dengan variasi antara
9,4 ­ 18,5 g/dl. Pada perempuan Hb rata-rata 12,9 g/dl dengan
variasi antara 8,2 sampai 17,8 g/dI. BMI rata-rata 19,2 kg/m
2
,
nilai bervariasi antara 13,2­31,5 kg/m2, nilai BMI rata-rata pada
laki-laki 18,9 kg/m2 dan pada perempuan 19,6 kg/m2. Nilai rata-
rata kegiatan olahraga 33 jam/bulan dengan variasi antara 0­ 163
jam/bulan. Pada laki-Jaki rata-rata kegiatan olahraga (40 jam/
bulan) lebih tinggi daripada pada perempuan (25 jam/bulan. Di-
antara 150 pelajar yang merokok, jumlah batang rokok yang
pernah dihisap bervariasi antara 30 ­ 51840 batang. Jumlah
rokok diisap = lama merokok dalam hari x jumlah batang/hari.
Pada laki-laki rata-ratajumlah batang rokok yang dihisap 4886
batang (Tabel 2).
Tabel 2. Distribusi Keadaan dan Kemampuan Fisik, Gaya Hidup
Satuan
Mean
SD
Mini-
mum
Maksi-
mum
N
VO
2
max
­ Laki-laki
­ Perempuan
ml/kgBB/menit 34,7
38,0
30,8
8,8
8,4
7,6
10,5
14,4
10,5
68,4
68,4
62,0
1016
548
468
Haemoglobin
­ Laki-laki
­ Perempuan
gram/dl
13,9
14,9
12,9
1,8
1,6
1,5
8,2
9,4
8,2
18,5
18,5
17,8
1016
548
468
BMI
­ Laki-laki
­ Perempuan
kgBB/m
2
19,2
18,9
19,6
2,2
2,1
2,3
13,2
13,4
13,2
31,5
31,5
26,8
1016
548
468
Kegiatan
olahraga
­ Laki-laki
­ Perempuan
jam/bulan
33,2
39,9
25,4
32,6
36,5
25,1
0
0
0
163
163
160
1016
548
468
Jumlah rokok
­ Laki-laki
­ Perempuan
batang 4827,8
4885,7
540
7714,4
7750,3
254,6
30
30
360
51840
51840
720
150
148
2
Variabel jenis kelamin, umur, hemoglobin, dan BMI ber-
pengaruh terhadap daya tahan kardiorespirasi. Perbedaan nilai
VO
2
max di antara laki-laki dan perempuan sebesar 7,19 ml/
kgBB/menit. Setiap kenaikan nilai BMI sebesar I kg/m
2
diikuti
dengan penurunan VO max sebesar 1,30 ml/kgBB/menit. Setiap
2
kenaikan kadar Hb 1 gram/dl diikuti dengan kenaikan VO
2
max
0,73 ml/kgBB/menit. Setiap kenaikan umur 1 tahun diikuti
dengan penurunan VO
2
max sebesar 0,46 ml/kgBB/mer
Variabel gaya hidup meliputi jumlah batang rokok yang
pernah dihisap, kebiasaan minum alkohol, dan kegiatan olahraga
berpengaruh terhadap VO
2
max. Penurunan nilai VO
2
max se-
besar 2,99 ml/kgbb/menit pada pelajar yang minum alkohol.
Setiap peningkatan kegiatan olahraga 1 jam/bulan diikuti dengan
peningkatan nilai VO
2
max sebesar 0,04 ml/kgbb/menit. Setiap
peningkatan jumlah batang rokok sebanyak I batang diikuti
dengan kenaikan nilai VO
2
max sebesar 0,0002 ml/kgbb/menit
(Tabel 3).
Analisis data menggunakan model regresi linier ganda
tanpa memasukkan variabel minum alkohol danjumlah batang
rokok, karena pada analisis bivariat nilai r cukup kecil.
Dengan memasukkan 5 komponen sekaligus, nampak kon
tribusi variabel seks, umur, Hb, BMI dan kegiatan terhadap
model sebesar 25% ke lima variabel yaitu seks, umur, kadar
haemoglobin, BMI dan kegiatan berpengaruh terhadap nilai VO
2
max (sig T<0,05). Terdapat perbedaan nilai VO
2
max sebesar 7
ml/kgbb/menit antara laki-laki dan perempuan (B = 6,9975).
BMI berpengaruh terhadap nilai VO2 max; setiap kenaikan nilai
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995 25
background image
Tabel 1. Hubungan antara Komponen Gizi, Gaya Hidup dengan VO
2
max.
Variabel R2 B
SE
B Beta
sigT
Seks 0,1648
7,1923
0,5085
0,4059
0,000
(konstan)
30,8208
0,3734
0,000
Umur 0,0048
­0,4644
0,2095
­0,0694
0,026
(konstan)
42,7335
3,6310
0,000
Hb 0,0234
0,7342
0,1488
0,1531
0,000
(konstan)
24,4452
2,0961
0,000
BMI 0,1062
­1,3006
0,1184
­0,3259
0,000
(konstan)
59,6941
2,2916
0,000
Jumlah batang 0,0049
1,8253E­04 8,1399E­05 0,0702
0,025
rokok (konstan)
34,5739
0,2823
0,000
Minum alkohol 0,0103
­2,9976
0,9221
­0,1016
0,001
(konstan)
37,3998
0,8750
0,000
Kegiatan 0,0176
0,0375 0,0088 0,1325
0,000
(konstan)
33,8417
0,3409
0,000
BMI sebesar 1 kg/m
2
diikuti dengan penurunan VO
2
max sebesar
1,05 ml/kgbb/menit (B = 1,0455). Urnur berpengaruh terhadap
nilai VO
2
max, setiap kenaikan umur 1 tahun diikuti dengan
penurunan VO
2
max sebesar 0,47 ml/kgbb/menit (B= ­0,4681).
Haemoglobin berpengaruh terhadap nilai VO
2
max, setiap ke-
naikan kadar Hb 1 gramldl diikuti dengan penurunan VO
2
max
0,31 ml/kgbb/menit (B = ­0,3116). Setiap peningkatan kegiatan
olahraga I jam/bulan diikuti dengan peningkatan nilai VO
2
max
sebesar 0,02 ml/kgbb/menit (B 0,0209) (Tabel 4).
Tabel 4. Kontribusi 5 Variabel terhadap Nilai VO
2
max
Variabel
B
SE B
Beta
T
Sig T
Seks
BMI
Kegiatan
Umur
KadarHb
(konstan)
6,9975
­1,0455
0,0209
­0,4681
­0,3116
62,9795
0,5943
0,1124
0,0079
0,1866
0,1559
4,1045
0,3949
­0,2620
0,0738
­0,0699
­0,0650
11,774
­9,304
2,633
­2,507
­1,999
15,996
0,0000
0,0000
0,0086
0,0123
0,0459
0,0000
Keterangan :
R2 = 0,2504
Sig F = 0,0000
PEMBAHASAN
Data penelitian tidak memisahkan jenis kegiatan olahraga
aerobik atau anaerobik; kebiasaan merokok relatif masih baru,
maka yang dapat dilihat adalah efek akut merokok.Pada peneliti-
an ini, tes dilakukan di Pusat Kesehatan Olahraga; responden di
bawah pimpinan guru dijemput dengan bis, sehingga pelajar
yang mempunyai kebiasaan merokok tidak mempunyai kesem-
patan untuk merokok selama dalam perjalanan ke tempat peme-
riksaan dan juga selama beberapa jam menunggu giliran tes
sehingga efek akut tidak bisa dilihat. Dicoba untuk menganalisis
pengaruh dose response rokok terhadap VO
2
max, dengan jum-
lah sampel pelajar SLTA merokok yang kecil (14,7%). Informasi
tentang dosis alkohol yang diminum tidak dikumpulkan,
sedangkan kebiasaan minum relatif masih baru, sehingga pada
generasi muda masalah yang mungkin ada adalah efek akut
intoksikasi dan masalah penampilan yang tidak stabil. Desain
penelitian ini dirancang untuk tujuan deskriptif dan dicoba untuk
melakukan analisis lebih lanjut yaitu untuk mengetahui faktor-
faktor yang berpengaruh terhadap nilai VO
2
max.
Pelajar SLTA yang merokok hanya 14,7% dan sebagian
besas dari perokok adalah laki-laki. Walaupun variabel jumlah
batang rokok berpengaruh terhadap VO
2
max (sig T = 0,025 1,
r =0,0702 dan B = 1,8253E-04), namun pengaruhnya kecil. Yang
ingin dilihat adalah pengaruh dose response rokok terhadap
nilai VO
2
max, namun di sini tidak begitu tampak (B = 1,8253E-
04; R = 0,0702), salah satu kemungkinannya adalah karena
jumlah sampel merokok yang kecil.
Proporsi pelajar yang minum alkohol hanya 9,9% dan se-
bagian besar adalah laki-laki (95,14%). Kebiasaan minum alkohol
berpengaruh terhadap nilai VU max, namun secara substansi
pengaruh ini tak berarti (r2 = 0,0049). Kedua variabel ini tidak
disertakan dalam analisis multivariat.
Sebesar 52,4% remaja pelajar SLTA Jakarta mempunyai
daya tahan kardiorespirasi dalam kondisi" kurang". Hal ini
merupakan masalah. Nilai VU max pada laki-laki dan perem-
puan berbeda sebesar 7 ml/kgbb/menit. Perbedaan ini cukup
berarti.
Umur berpengaruh terhadap nilai VO
2
max. Setiap kenaikan
umur I tahun diikuti dengan penurunan VO
2
max sebesar 0,47
ml/kgbb/menit. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan
bahwa umur mempengaruhi daya tahan kardiorespirasi. Hanya
di sini penurunan terjadi pada periode umur yang lebih awal
dibanding teori yang mengatakan penurunan mulai terjadi pada
usia 20­30 tahun
(6)
.
Hb berpengaruh terhadap VO
2
max namun pengaruhnya
kecil. Setiap kenaikan kadar Hb 1 g/dl diikuti dengan penurunan
VO
2
max sebesar 0,31 ml/kgbb/menit. Hal ini tidak sesuai
dengan teori.
BMI berpengaruh terhadap VO
2
max. Setiap kenaikan 1 kg/
m
2
BMI, diikuti dengan penurunan VO
2
max sebesar 1,00 ml/
kgbb/menit atau terjadi penurunan nilai VO
2
max sebesar 10 ml/
menit untuk setiap kelebihan berat badan 10 kg. Penurunan ini
cukup berarti.
Kegiatan olahraga berpengaruh terhadap nilai VO
2
max,
namun pengaruhnya kecil. Setiap peningkatan kegiatan olahraga
1 jam/bulan diikuti dengan peningkatan nilai VO
2
max sebesar
0,02 ml/kg/menit.
Dari analisis regresi linier ganda, variabel seks, umur, BMI,
Kegiatan olahraga dan Hb dapat menjelaskan 25% dari variasi
variabel VO
2
max. Hal ini menunjukkan bahwa variasi VO
2
tidak banyak ditentukan oleh variabel tersebut. Hal ini mungkin
disebabkan oleh desain dan pengukuran variabel dalam studi
tidak dilakukan dengan teliti, sehingga sulit untuk mengungkap
peranan berbagai variabel terhadap VO
2
max.
Dari nilai beta diketahui bahwa seks mempunyai pengaruh
terbesar (Beta = 0,3949), kemudian BMI (Beta = 0,2620), se-
dangkan pengaruh variabel lainnya kecil. Salah satu hipotesis
yang dapat diungkap dan analisis ini adalah kegiatan olahraga
dan BMI diduga merupakan faktor yang sangat menentukan daya
tahan kardiorespirasi. Studi yang lebih teliti perlu dilakukan
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995
26
background image
untuk mengungkapkan peranan variabel kegiatan olahraga, BMI
dan Hb terhadap VO
2
max.
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995 27
KEPUSTAKAAN
1. Nieman DC. The Sports Medicine Fitness Course. Bull PubI Co, 1986. hal.
19, 34, 56, 162, 178.
2. Heyward VH. Designs for Fitness. New York: Macmillan PubI Co, 1984;
Hal. 4,5.
3. Casperson CJ, Powell KE, Christonson GM. Physical Activity. Exercise
and Physical Fitness: Definitions and Distinctions for Health Related
Research, Public Health Reports 1985; 100: p. 128.
4. Wilmore JH. Design issues and alternatives in assessing physical fitness
among apparently healthy adults in a health examination survey of the
general population. In : Assessing Physical Fitness and Physical Activity
in Population-Based Surveys. DHHS Pub. No. (PHS) 89-1253, 1989. hal.
109.
5. Williams J. Personal matters, drinking, smoking, and sex. Dalam: Basic
Book of Sports Medicine, 1978; I.O.C. hal. 369.
6. Moeloek D. Dasar Fisiologi Kesegaran Jasmani dan Latihan Fisik. Ke-
sehatan dan Olahraga. Jakarta: FKUI 1985, hal. 3, 4.
7. Direktorat Bina Upaya Kesehatan Puskesmas. Depkes RI. Naskah Infor-
masi Kesegaran Jasmani., 1993/1994.
8. Badan Litbangkes, Puslit Ekologi Kesehatan. Laporan akhir Survei Ke-
segaran Jasmani pada anak SLTA di Jakarta, 1990.
9. Ratna B dkk. Kesegaran Jasmani Murid SLTA di DKI Jakarta. Bul Penelit
Kes 1992; 20(1).
10. Astrand P0, Kaare R. Textbook of Work Physiology, Physiological Bases
of Exercise. 1986; p.297
11. WHO. Nutritional Anaemias. Report of a WHO Group of Experts, Geneva:
1992; No. 503, p. 6.
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995 2