background image
EXTRA GENITAL GONORRHOE
dr. Hari jono Koriosentono
Bagian Ilmu Penyakit Kulit Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret
Sala.
SUMMARY
The extra genital gonorrhoea especially pharyngeal, tonsi-
lar and rectal gonorrhoea have been discussed. Allthough the
gonococcus more susceptible live on the columnar epithelium
such as in the male urethra, para-urethral glands and cervix
uteri of the female, in the some circumstances they can con-
cern oral and pharyngeal mucous membrane, lined by squa-
mous epithelium.
On the variations of sexual contacts such as oro-genital and
digital-genital and a sexual deviation, in the case of homosex-
ual habit, may take a role in that situation.
Occasionally in the rare conditions the gonococcus or it toxins
breaks the bound of the urinary tract, becomes blood borne
and the other forms of the extra genital gonorrhoea.
PENDAHULUAN
Infeksi gonokokus pada organ di luar alat kelamin sudah la-
ma dikenal dan dilaporkan oleh beberapa penulis. Antara
lain pada tahun 1921 LUYS melaporkan kasus Gonoblenorr-
hea yang disertai Blenorrhagi buccale pada bayi yang baru la-
hir. Kemudian tahun 1929
JANET
mengamati tiga kasus
Pharingitis gonorrhoicadiantara wanita tuna susila (WTS) yang
menjadi "reservoir
"
pada mulutnya terhadap Urethritis gonorr
hea yang ditimbulkan diantara para kliennya.
Setelah itu tampaknya ekstra genital gonorrhea terutama pada
mulut dan faring hampir dilupakan. Akan tetapi pada tahun-
tahun terakhir ini dengan meningkatnya penyebaran gonorrhea
dengan pesat, terutama dikalangan kaum muda maka peneliti-
annya mulai mendapat perhatian serius kembali. Beberapa fak-
tor yaitu adanya kontak seksuil secara oro-genital dan ano-geni
tal (pada orang-orang homoseks) diduga merupakan penyebab
terjadinya penyebaran kuman gonokokus melalui sumber in-
feksi faring dan rektum.
Dibawah ini akan dibicarakan mengenai faringitis, tonsilitis
dan proktitis gonorrhoica serta beberapa bentuk ekstra genital
gonorrhea agar supaya kita waspada akan kemungkinan tim-
bulnya penyakit tersebut pada beberapa orang seperti yang
mempunyai kebiasaan hubungan kelamin secara oro-genital ,
homoseksuil dan para WTS.
FARINGITIS DAN TONSILITIS GONORRHOICA
T
HATCHER
dkk (1969) telah menemukan satu penderita
faringitis go diantara 505 anggota tentara yang asimptomatik.
Dan pada penyelidikan B
RO --J ORGENSEN J ENSEN
(1971)
pada penderita genital gonorrhoea, mendapat enam
orang
dari 95 laki-laki (6,3%) dan enam penderita dari 66 wanita
(9,0%) yang menderita tonsilitis gonorrhoica.
O
DEGAARD
dan G
UNDERSEN
pada tahun 1973 telah pula me
nyelidiki 1.440 penderita-penderita go, yang terdiri 450 wani-
ta dan 990 laki-laki, selama tujuh bulan yang datang berobat
pada Departmenet of Venereal Disease, Oslo Hospital. Ternya-
ta didapatkan 51 wanita (11,3%) dan 49 laki-laki (5%) yang
menderita faringitis gonorrhoica.
Terlihat bahwa infeksi gonorrhea pada rongga mulut ini lebih
sering pada wanita dari pada laki-laki.
Di Indonesia oleh
HENDRO
S. dkk (1976) diselidiki dianta-
ra sejumlah WTS di Surabaya yang terdiri WTS liar, terlokalisa-
si dan terselubung. Dari 167 yang diperiksa, 44 menderita
gonorrhea dan delapan diantaranya (18,2%) dengan faringitis
go. Angka ini cukup tinggi mungkin oleh karena penyelidik-
kannya dilakukan dikalangan WTS yang berhubung profesi
nya merupakan sumber utama penularan gonorrhea. Dari data-
data tersebut diatas ternyata insidens faringitis dan tonsilitis
gonorrhoica cukup tinggi, seperti tampak pada tabel I.
Tabel 1. Insiden Faringitis Tonsilitis Gonorrhoica dengan pembagi
jenis kelamin.
Jenis kelamin
Negara penulis
pria
wanita
Denmark : Bro--Jorgensen Jensen (1971)
6,3% x)
9%
Norwegia : Odegaard Gundersen (1973)
5%
x)
11,3%
Swedia : Hallqvist Lindgren (1975)
3,6% x)
5,8%
Indonesia : Hendro S. dkk. (1976)
18,2% xx)
Keterangan : x) diantara penderita2 gonorrhea
xx)
--,,-- para WTS dengan gonorrhea.
26
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979
background image
Dignosa didasarkan atas :
(1)
anamnesa, adanya kontak seksuil secara oro-genital de-
ngan partner (fellatio ataupun cunnillingus).
(2)
gejala-gejala klinik, biasanya tidak berbeda dengan gejala
pada faringitis yang disebabkan oleh virus, staphiloko-
kkus dan sebagainya.
Pada 13 kasus tonsilitis gonorrhoica yang diselidiki oleh
B
RO --J ORGENSEN J ENSEN
hanya tiga penderita
yang mengeluh adanya sakit waktu menelan yang timbul
empat hari setelah melakukan cunnillingus. Pada peme-
riksaan : tonsil membesar, dengan eksudat yang putih ke
kuningan. Tidak disertai panas badan dan pembesaran
kelenjar regional.
Penyelidikan oleh H
ENDRO
dkk mendapatkan hanya
seorang dari delapan WTS yang menderita faringitis go,
mengeluh adanya gejala sakit pada waktu menelan.
(3)
Pemeriksaan laboratorium : diambil swab dari faringatau
tonsil dengan menggunakan lidi kapas. Kemudian dita-
nam pada perbenihan Thayer Martin dan dieramkan se-
lama dua kali 24 jam pada suhu 37°C. Dari koloni-kolo-
ni yang dicurigai, kita lakukan tes oxidase, pengecatan
Gram dan tes fermentasi. Disamping itu dari setiap spesi-
men kita buat sediaan langsung dengan pewarnaan Gram.
Apabila dapat diidentifikasi adanya N-gonokokkus, dia-
gnosa dapat ditegakkan.
(4)
Tes serologik : dengan tehnik Gonococcal Fixation Test.
Pengobatan
Tampaknya infeksi gonorrhea pada rongga mulut ini kurang
memberikan respon dengan pengobatan yang biasa digunakan
untuk urogenital gonorrhea.
Dengan dosis dua gram Ampicillin dan satu gram probenecide,
kegagalan berkisar antara 36,25% (B
RO--JORGENSEN J EN-
SEN,
1971) sampai 47% (O
DEGAARD
G
UNDERSEN,
I973).
Pengobatan yang dianjurkan oleh VD Control Division Bureau
of States Services Atlanta (I974). adalah sebagai berikut :
--Penisiline prokain G dalam aqua 4,8 juta U dan satu gram
Probenecide, bila tak berhasil, dengan Tetracyclin HCL, dosis
awal 1,5 gr per oral dilanjutkan 4 x 500 mg/hari sampai em-
pat hari.
Tidak dianjurkan menggunakan Ampsilin atau Spektinomisin
oleh karena kurang efektif (H
ANDERSON,
1974).
Setelah pengobatan pembiakan ulangan dilakukan pada hari
ke tujuh 14 guna follow-up.
PROCTITIS GONORRHOICA
Semenjak
KINSEY
pada tahun 1948 melaporkan untuk per
tama kalinya insidens homoseksuil yang tinggi, maka mulailah
diselidiki kemungkinan penyebaran STD (SexuallyTransmitted
Diseases) terutama gonorrhea, melalui hubungan kelamin yang
tak wajar ini.
0
WEN
- H
ILL
(1972) berpendapat : homosexuil activity is a
major factor in transmission of venereal diseases
"
. Dengan ca -
tatan bahwa penyebaran penyakit kelamin diantara wanita-wa-
nita lesbian walaupun ada namun sangat jarang terjadi.
Selama periode delapan bulan telah diselidiki dari 79 laki-laki
homoseks, 26 (34,18%) menderita rectal gonorrhea dan II
(13,9%) terkena faringitis gonorrhoica.
Diagnosa dan cara pemeriksaan
Penderita dengan
"
kness-chest
"
position, kita ambil spesi
men dari rektum dengan kapas yang dimasukkan satu sampai
satu setengah inci. Kapas diulaskan berputar dengan menghin-
dari terkena tinja. Spesimen kemudian ditanam pada perbe-
nihan Thayer Martin.
Diagnosa didasarkan atas identifikasi adanya koloni N. gono-
kokkus. Dan bila perlu dilakukan Gonococcal Fixation Test.
Gejala-gejala
Biasanya penderita tidak mengeluh apa-apa, sehingga di du
ga dari penderita yang asimptomatik ini terjadi penularan.
Gejala-gejala timbul biasanya ada buhungannya dengan rasa ce-
mas setelah hubungan seks, atau adanya "sexual trauma
"
, kela
inan-kelainan pada rektum seperti hemorrhoid, fisura atau
condylomata.
Dari 19 penderita proctitis gonorrhoica yang diselidiki oleh
O
WEN
H
ILL
delapan tak mengeluh apa-apa dan yang la
in didapat gejala-gejala (tabel 2).
Tabel 2.
Gejala-gejala pada Penderita
/Proctitisgonorrhoica
Gejala
Jumlah pend.
tak ada gejala
8
rectal itching
4
rectal fullness
3
rectal burning
3
bloody discharge
3
diarrhea
3
mucoid discharge
2
rectal pain
1
anal warts
1
hemorrhoid
1
Pengobatan
Pengobatan untuk rectal gonorrhea sama dengan yang
dianjurkan untuk genital gonorrhea tanpa komplikasi (oleh
VD Control Devision, Bureu of States Services Atlanta,I974)
sebagai berikut :
· Obat pilihan adalah Penisilin Prokain dalam aqua diberi-
kan intramuskulus dengan dosis 4,8 juta U, sebelumnya
(30 menit) diberikan I gram Probenecide.
Regimen alternatif : bila memilih pemberian peroral dipa-
kai Ampicilin 3,5 gr + 1 gram Probenecide bersama-sama;
atau bila penderita alergi terhadap penisilin, dipakai :
· Tetrasiklin HCL 1,5 gram dosis awal peros disusul 4 x 500
mg /hari selama empat hari.
· Dapat pula digunakan Spektinomisin dua gram parenteralda
lam satu kali suntikan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979
2 7
background image
EXTRA GENITAL GONORRHEA YANG LAIN
Bentuk yang lain dari extra genital gonorrhea dapat disebab
kan karena komplikasi hematogen dari suatu urethritis gonorr-
hoica, yaitu :
· Gonococcal arthritis : timbul beberapa bulan setelah infek-
si gonorrhea yang tidak diobati atau mendapat pengobat
an yang tidak adekwat. Sering hanya mengenai satu sendi
tapi kadang-kadang sebagai poliartritis pada sendi lutut,
dan mata kaki.
· Gonococcal rheumatism : pada keadaan ini dapat terja-
di tenosynovitis, myositis, fasciitis bahkan bursitis dan
periostitis.
· Gonokokkal iritis : terlihat adanya keradangan pada mata
yang disertai rasa nyeri dan fotofobia. Tidak didapatkan
sekret pada konjunctiva dan tampak kemerahan diseki -
tar kornea.
· Keratosis blennorrhagica : lesi pada kulit mula-mula berupa
vesikel yang dapat menjadi pustulae dan krustae. Biasanya
tampak sebagai keratosis yang kering, tebal dan berkrustae
pada telapak kaki dan telapak tangan, namun juga dilain
tempat.
Gonokokus tak dapat ditemukan pada lesi, diduga keadaan
ini sebagai salah satu menifestasi dari R
EITER S
syndrome.
Ekstra genital gonorrhea dapat pula sebagai bentuk primer, se-
perti :
· Gonoblennorrhea : (telah dibicarakan pada CDK No. 13/
I978).
· Primary cutaneous gonorrhea : bentuk ini pemah dilapor-
kan oleh P
RAYER
(1973), dimana didapatkan pustula pa-
da jari yang disertai limfangitis dan pembesaran kelenjar re-
gional.
Pada pemeriksaan dengan, pewarnaan Gram, perbenihan
dan
"direct fluorescense antibody
"
didapatkan kuman-go
nokokus. Pada anamnesa, didapatkan adanya kontak
"di
gital-genital" dengan partner seks yang beberapa jam sebe-
lumnya penderita mengalami trauma pada jari tersebut.
RINGKASAN
Telah dibicarakan mengenai ekstra genital gonorrhea teru-
tama faringitis, tonsilitis dan proktitis gonorrhoica.
Walappun kuman-kuman gonokokus lebih mudah hidup diatas
epitel torak seperti pada uretra laki-laki,kelenjar para uretra
dan cervix uteri pada wanita, namun dalam keadaan-keadaan
tertentu kuman tersebut dapat pula menyerang mulut dan
faring yang dilapisi oleh epitel berlapis.
Adanya variasi dalam hubungan kelamin seperti oro-genital
atau digital-genital dan hubungan seks yang tak wajar yaitu
homoseksuil, harus kita pikirkan sebagai penyebab dari keada-
an ini. Selain itu walaupun jarang,penyebaran hematogen dari
kuman gonokok ataupun toksinnyadari genital
gonorrhea
dapat pula menyebabkan bentuk ekstra genital go. yang lain.
KEPUSTAKAAN
1.BRO JORGENSEN JENSEN: Gonococcal Tonsilar Infection,
Brit Med J
4: 660-661, 1971.
2. HALLQVIST. L LINGDREN. S : Gonorrhoea of the throat at a
Venereological Clinic,
Brit J Vener Dis
51 : 395 ­ 397, 1975.
3. HANDERSON. R : Recommended treatment schedules for Gonorr
hoea 1974,
Arch, Derm 111 :
317­320. 1975.
4.HENDRO. S dkk. : Pharyngitrs Gonorrhoica,
KONAS II PADVI,
Surabaya 1976, hal. 842­848.
5. KING. A NICOL. C:
Venereal Diseases.
third ed. ELBS. London,
1975.
6. ODEGAARD GUNDERSEN :Gonococcal Pharyngeal Infection.
Brit, J Vener Dis 49 :
350­352.1973.
7. OWEN HILL:Rectal Pharyngeal Gonorrhoea in Homosexual
men.
JAMA,
220 : 315-1318, 1972.
8. PRAYER. K.M. : Primary extra genital cutaneous gonorrhoea ,
Arch Derm
107 : 112, 1973.
9.THATCHER et al : Asymptomatic Gonorrhoea.
JAMA
210:315
-317, 1969.
10.WILLCOX. R.R :
A Textbook of Venereal Diseases and Treponemato
sis. William Heineman Med. Books Ltd. 2
nd
Ed. London, 1964.
"
Epidemi
"
Penyakit Jiwa : laporan kasus
dr. E. Nugroho
Puskesmas Sepang ,Simin
Kual
a Kurun
Kalimantan Tengah
Summary
Mental disorder, determined as
"
transmitted mental
disease," occuring in Central Kalimanatan in April, 1978,
is reported.
Some teachers and 26 pupils sufferd from this disorder.
Symptoms were crying, delirium, confusion and stupor.
Anamneses and observations on patients concluded and
determined that the disorder was
"
massal hysterical reac-
tions," Chlorpromazine recovered them.
Suatu gangguan jiwa yang dikabarkan bersifat
"
menular"
telah terjadr di suatu daerah di Kalimantan Tengah bulan
April 1978 yang lalu.
Gangguan ini menimpa sekitar 26 murid sekolah dan beberapa
guru, dengan gejala menangis, mengamuk dan tak sadarkan
diri.
q
Kasus. -- Jalannya peristiwa ini didapat dari alloanamnesis
dari beberapa orang yang melihat kejadian tersebut. Peristiwa
ini terjadi di daerah/pedalaman Kalimantan Tengah, di desa
Tangkahen. Waktu itu diadakan pertandingan segetiga antara
murid-murid sekolah SMP dari desa Tangkahen, Bawan dan
Sepang Kota. Ketiga desa itu masing-masing terpisah oleh ja-
rak beberapa puluh kilometer. Dalam pertemuan itu dipertan-
dingkan beberapa cabang olah raga, antara lain volley dan se-
pakbola. Pertandingan volley dimenangkan oleh SMP Sepang
Kota, sedangkan sepak-bola dimenangkan oleh SMP Bawan.
Pada pagi hari sebelum peristiwa itu terjadi, SMP Sepang Kota
bertanding melawan SMP Tangkahen dan SMP Sepang Kota
keluar sebagai pemenang, sehingga menjadi runner-up untuk
cabang sepakbola.
Malam harinya, ketika akan diadakan malam perpisahan,
didapatkan bahwa murid-murid SMP Sepang Kota tidak mun-
28
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979
background image
cul di tempat pertemuan.
Ternyata terjadi kegaduhan di tempat murid-murid Sepang
Kota berkumpul. Murid-murid menangis semua, sebagian ber-
teriak-teriak, beberapa murid lainya mengamuk. Seorang guru
datang untuk menenangkan mereka, tetapi dia ketularan se-
hingga ikut menangis. Beberapa orang memegang murid yang
mengamuk dan membawanya ke lain tempat. Tetapi ketika
mengangkat orang itu, orang yang memegangnya juga ketu-
laran. Seorang guru SMP Tangkahen yang ikut memegangi
murid tersebut mengatakan bahwa dia merasa kejang dan
tercekik. Tidak diketahui dengan pasti berapa orang yang
telah ketularan akibat memegang murid-murid itu.
Peristiwa selanjutnya juga tidak diketahui dengan pasti o-
leh penulis, tetapi sebagian besar murid-murid yang terkena
penyakit itu sembuh. Tinggal lima orang yang masih menga-
muk dan dibawa kembali ke desa, Sepang Kota. Mereka dipu-
langkan ke rumah masing-masing, tetapi mereka selalu berusa-
ha berkumpul kembali dan mengamuk, mereka mengancam
akan kembali ke Tangkahen untuk memukul penduduk
Tangkahen.
Seluruh penduduk yakin bahwa kejadian itu bukan peristi-
wa biasa, tetapi merupakan black-magic yang dilakukan oleh
Tangkahen. Oleh sebab itu dukun-dukun dipanggil untuk
melawan kekuatan gaib itu. Rupanya masalah ini tetap tidak
terselesaikan sehingga terpaksa dilaporkan pada pihak kepoli-
sian. Polisi sulit mencari siapa yang melakukan black-magic
itu. Yang dapat dilakukan hanyalah meminta pada masyarakat
Tangkahen agar yang merasa membuat black-magic itu mena-
rik ilmunya kembali.
Penulis mendengar cerita tentang peristiwa ini dua hari
setelah kejadian, yaitu waktu berkunjung ke Sepang Kota. Pa
da waktu itu diceritakan bahwa semua telah sembuh, ke-
cuali seorang murid yang masih sakit. Penulis ditanyai apakah
ini termasuk kasus kedokteran atau tidak, dan apakah ada
obatnya. Murid itu kemudian dibawa menemui penulis.
Hasil pemeriksaan
Penderita adalah seorang pemuda, berbadan tegap, berumur
sekitar 1 8 tahun. Ia dapat berjalan sendiri dan tampak tenang.
Keadaan umum baik, kesadaran compos-mentis, tidak tampak
sakit. Penderita kooperatif, ekspresi mukanya wajar, orientasi
baik. Tetapi ia menyatakan tak tahu akan apa yang telah terja-
di pada dirinya dan lupa akan semua kejadian di Tangkahen.
Setelah didesak oleh penulis untuk mengingatnya kembali
penderita tampak berpikir sebentar. Kemudian ia memejam-
kan matanya dan berteriak-teriak. Tangannya mengepal dan
tinjunya diacung-acungkan. Masyarakat yang ada disekitar
tempat itu mengatakan bahwa penyakitnya kumat kembali.
Orang-orang tak berani menyentuhnya karena takut ketularan.
Tetapi ada satu orang yang berani. Setelah memejamkan mata
dan mengerahkan ilmunya, dia memegang kepala si penderita
selama beberapa menit.
Setelah agak tenang, dia dibawa masuk ke kamar. Di si-
tu penderita masih membuat kegaduhan, tetapi kontak psikik-
nya masih ada. Ia meminta rokok, meminta dipijat dan lain-
lain.
Diagnosis dan pengobatan
Dari anamnesis dan pengamatan pada penderita itu, didapat-
kan kesan hysterical reaction. Diberikan dua tablet chlorpro-
mazine 25 mg yang segera diminum oleh penderita. Setelah se-
tengah jam tidak ada perubahan, diberikan satu tablet lagi.
Penderita mulai mengantuk, tetapi beberapa kali bangun dan
berteriak-teriak lagi. Sementara itu dukun-dukun masih ikut
mengobati dengan cara mereka sendiri. Keesokan harinya pen-
derita sembuh. Pengobatan dengan chlorpromazine .diteruskan
sampai hari itu saja. Penyakitnya tidak kumat lagi.
Diskusi
Dalam buku-buku psikiatri kuno dapat ditemukan laporan-
laporan mengenai
"
epidemi psikosis ". Sebagai contoh, antara
abad ke I1 dan ke I 5, di Eropa sering terjadi epidemi ganggu-
an jiwa berupa "St. Vitus dance ". Orang-orang yang terkena
penyakit ini -berkumpul di sekeliling gereja, menari-nari dan
bernyanyi terus menerus selama beberapa hari sampai mereka
kehilangan kesadaran akibat kelelahan. Contoh lain, dan ini
dianggap oleh A
RIETI
sebagai yang terpenting, ialah lycan-
thropy. Sampai sekarang gangguan ini dikabarkan masih adadi
daerah pedalaman Italia. Orang-orang yang terkena gangguan
itu menganggap dirinya berubah menjadi binatang, terutama
srigala, dan bertingkah laku seperti kelompok srigala. Selama
mereka berada dalam keadaan itu banyak yang melakukan
kejahatan, oleh sebab itu banyak pula yang ditangkap dan di-
hukum mati. Meskipun ini dilaporkan sebagai epidemi psikosis
tetapi
sebenarnya,
suatu psikoneurosis, suatu histeria
massal. Lingkungan masyarakat yang masih percaya penuh pa-
da takhayul, tingkat pengetahuan masyarakat yang rata-rata
masih rendah, serta kepribadian yang kurang stabil merupakan
faktor predisposisi untuk terjadinya reaksi tersebut.
Di alam moderen ini fenomena histerik sering timbul di
antara peserta kelompok politik ekstrim, atau dalam suatu ke
lompok agama/kepercayaan dalam upacara mereka. Dilaporkan
juga kasus-kasus histeria massal pada sekolah-sekolah khusus
wanita.
Dalam kasus murid SMP Sepang Kota ini, yang menarik
ialah bahwa seolah-olah histeria massal yang terjadi itu tidak
didahului oleh faktor pencetus, tidak didahului oleh pidato-
pidato atau upacara-upacara lain, dan tanpa pemimpin. Kalau
fenomena histerik itu dimaksudkan sebagai jalan keluar dari
konflik kejiwaan dan untuk mencetuskan rasa permusuhan ke-
luar, hal ini juga sukar dimengerti, karena dalam pertandingan
dengan SMP Tangkahen mereka menang.
Faktor predisposisi yang tampaknya memegang peranan
ialah : kelelahan, rasa solidaritas kelompok yang tinggi, dan
mungkin juga kepribadian yang kurang stabil, sehingga bila ada
satu orang yang menangis, yang lain ikut menangis tanpa se-
bab yang nyata.
bersambungan ke halaman..............................34
Cermin Dunia Kedokteran No. 15. 1979
29