Etoposide (Vp-16)
- Sitostatik Oral untuk Kanker Paru
Achmad Hudoyo
Bagian Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas IndonesialUPF Paru
Rumah Sakit Umum Pusat Persahabalan, Jakarta
PENDAHULUAN
Pengobatan kanker paru tergantung dari jenis dan derajat
kanker paru. Pada derajat atau stadium I dan I1, pilihan terbaik
adalah operasi. Pengobatan pada stadium III atau IV dapat berupa
radioterapi dan sitostatika.
Di RSUP Persahabatan, Jakarta yang merupakan pusat
rujukan untuk penyakit paru di Indonesia, hanya 11 dari 125
(< 10%) penderita kanker paru menjalani pembedahan pada
tahun 1987 (stadium I dan II). Ini terjadi karena penderita datang
dalam keadaan terlambat, yakni pada derajat III atau IV
(1)
. Pada
stadium III dan IV ini hanya dapat dilakukan radioterapi atau
kemoterapi atau kombinasi radioterapi dan sitostatika.
Pemberian obat sitostatika sering tidak disukai oleh pende-
rita, karena banyak menimbulkan efek samping dan pemberian-
nya yang melalui infus. Selain itu bagi yang kurang mampu
tentu saja merupakan hambatan utama, karena umumnya obat-
obat sitostatika harganya mahal (di RSUP Persahabatan, ke-
banyakan penderita yang mendapat sitostatika adalah peserta
Askes atau yang mendapat bantuan dari Yayasan Kanker Indo-
nesia).
Obat sitostatika yang relatif masih baru, bernama Etoposide
atau Vp-16 ini memiliki kelebihan dapat diberikan per oral yang
tidak berbeda efektivitasnya dibanding pemberian per infus,
sehingga mempunyai harapan lebih banyak dipilih oleh pende-
rita kanker paru yang tidak mau menjalani pengobatan dengan
cam lain.
PENEMUAN Vp-16 SEBAGAI SITOSTATIKA
Pada mulanya, obat yang terkandung pada tumbuh-tum-
buhan famili Beriberidacceae ini digunakan oleh orang-orang
Indian di Amerika dan beberapa suku di pegunungan Himalaya
sebagai obat pencahar dan obat cacing. Dikenal 2 macam turn-
buhan yang termasuk Beriberidacceae, yaitu Podophyllum pe-
latum dan Podophyllum emodi yang mengandung zat beracun
podophyllotoxin yang dapat membunuh cacing. Pada tahun
1966 setelah diekstrasi dan disintesis secara kimiawi didapatlah
Etoposide atau Vp-16-213 yang setelah dianalisis, ternyata
mempunyai efek dapat menghambat pertumbuhan sel-sel neo-
plastik.
Pada tahun 1973 telah dipublikasikan hasil riset fase II oleh
organisasi riset kanker Eropa yang tclah berhiisil menggunakan
obat ini untuk pengobatan stadium lanjut leukemia akut. Selain
itu dilaporkan juga obat ini dapat digunakan untuk kanker-
kanker lain, seperti Hodgkin's, melanoma, payudara, testis,
tiroid dan kanker ginjal
(1)
. Obat ini belum digunakan untuk terapi
kanker paru, sampai Tucker dick melaporkan keberhasilannya
mengobati kanker paru jenis sel kecil
(3)
.
KOMPOSISI DAN MEKANISME KERJA
Etoposide atau Vp-16 adalah derivat semisintetik dari podo-
phyllotoxin yang mempunyai rumus kimia C29H32013 dengan
berat moleku1588,57. Obat ini berupa bubuk atau kristal putih,
larut dalam kloroform atau metanol dan sedikit larut dalam
alkohol
(2)
.
Mekanisme kerja podophyllotoxin seperti colchicine dan
vinca alkaloids, yaitu menghambat metaphase sell-sal kanker.
Awal aksi kerjanya mengganggu sistem enzimatik DNA
(4,5)
.
DOSIS DAN CARA PEMBERIAN ETOPOSIDE ORAL
Dosis per oral yang dianjurkan 50 mg/m2 per hari, dcngan
dosis ini bioavailabilitas yang dicapai cukup bcsar (91 96%).
Setiap siklus diberikan selama 21 hari. Siklus berikutnya diberi-
kan pada hari ke-28. Dengan cara ini konsentrasi minimal dalam
plasma cukup dapat dipertahankan sebesar 1 ug/ml
(6)
.
Untuk memantau efek samping pada sistim hemopoetik
dilakukan pemeriksaan setiap minggu berupa pemeriksaan Hb,
leukosit dan trombosit. Bila toleransi cukup baik, siklus dapat
diulang sampai 6 kali (± 6 bulan), atau 1 sekuen. Selanjutnya
sekuen inipun dapat diulang sampai seberapa mampu penderita
menerimanya.
PEMBERIAN ETOPOSIDE PADA KANKER PARU
Etoposide per oral dapat diberikan pada kanker paru, baik
karsinoma sel kecil (small cell carcinoma) maupun bukan sel
kecil (non small cell carcinoma); dapat sebagai obat tunggal
maupun kombinasi dengan obat sitostatika lainnya.
Kankerparu jenis karsinoma sel kecil (KPKSK) merupakan
jenis kanker paru yang paling ganas, karena sifatnya yang
mempunyai pertumbuhan dan metastasis paling cepat. Apabila
kanker paru jenis sel kecil ini dibiarkan, secara statistik rata-rata
umur penderita hanya ± 3 bulan. Kanker jenis ini mempunyai
sifat sangat sensitif terhadap pemberian kemoterapi, jadi apa-
bila diberikan pengobatan dengan sitostatika akan memberikan
respon yang baik dan akan meningkatkan kualitas hidup serta
daya tahan hidup penderita.
Dari beberapa penelitian telah dibuktikan pemberian eto-
poside oral memberikan manfaat pada pengobatan terhadap
kanker paru jenis karsinoma sel kecil ini. Pemberian etoposide
oral yang dikombinasi dengan obat lain memberi respon sebesar
51 82%, sedang etoposide oral sebagai obat tunggal memberi
respon 23 80%
(6,7)
.
Smit dkk
(8)
dalam penclitiannya terhadap penderita KPKSK
yang berumur lebih dari 70 tahun dan mendapat etoposide oral
sebanyak 12 siklus mendapatkan response rate sebesar 71%
serta angka rata-rata daya tahan hidup 9 bulan bagi penderita
kanker yang menyebar, serta 16 bulan bagi penderita dengan
kanker yang masih terbatas.
Pemberian sltostatika untuk karsinoma paru jenis bukan sel
kecil memang masih kontroversial. Kanker paru jenis ini pada
stadium III dan IV, secara statistik sisa umur penderita ± 6 bulan,
jarang yang dapat bertahan hidup sampai 1 tahun. Pemberian
radioterapi maupun kemoterapi tidak banyak mengubah angka
tahan hidup ini, tetapi pada penderita dengan kanker yang belum
tumbuh besar dan menyebar pemberian kemoterapi dapat mem-
beri harapan.
Davis dkk
(9)
mengobati 39 penderita kanker paru jenis ini
dengan kombinasi sitostatika yang mengandung etoposide,
mendapatkan respon sebesar 39% dan angka tengah tahan
hidup sebesar 340 hari atau > 11 bulan. Peneliti-peneliti lain yang
menggunakan etoposide oral sebagai obat tunggal mendapatkan
response rate sebesar 7 27%
(6,7)
.
EFEK SAMPING
Seperti obat-obat sitostatika lainnya, etoposide yang diberi-
kan secara oral juga memberi efek samping, akan tetapi karena
diberikan dengan dosis rendah maka efek samping yang terjadi
tidak begitu akut. Dari penelitian terhadap 341 kasus yang
mendapat etoposide oral di jumpai efek samping sebagai berikut:
alopesia (67,5%), anoreksia (41,1%), nausea (38,1%), vomitus
(12,6%), diare (6,7%), stomatitis (6,2%), malaise (13,5%), demam
(4,7%), rash (3,2%) dan neuropati puffer
KESIMPULAN
Etoposide atau Vp-16 adalah sitostatika baru yang dapat
digunakan untuk kanker paru. Obat ini dapat diberikan secara
oral sehingga mempunyai kelebihan dibanding sitostatika lain-
nya, dan memungkinkan lebih banyak diterima oleh penderita-
penderita kanker pant stadium lanjut di Indonesia.
KEPUSTAKAAN
1. Anwar Jusuf. Kanker Pam, Diagnosis dan Terapi. Dalam Faisal J. dkk (Eds)
Pulmonologi Klinik. Bagian Pulmonologi FKUI, 1992.
2. Anti Tumor Agent. Laster, Etoposide preparation. Nippon Kayaku Co Ltd.
3. Tucker RO, Ferguson A, Van Wyk C. et al. Chemotherapy of small
cellCaof the lung with Vp-16-231. Cancer 1978; 41: 1710-4.
4. Wozniali AJ, Ross WE. DNA Damage as basic for H dimethyl of epipodo-
phylotoxin cytotoxicity. Cancer Res 1983; 43: 120-4.
5. GriederA, MaurerR, Stahelin H. Effect of an epipodophylotoxin derivate
on macromolecular synthesis and mitosis in mastocytoma cells in vitro.
Cancer Res 1974; 34: 1788-93.
6. Greco AF. Chronic Oral Etoposide. Bristol Myers Squibb Co, 1991.
7. Oral Etoposide Low Dose Administration. Nippon Kayaku, 1993.
8. Smit EF, Comey DN, Harford P et al. A phase II study oral etoposide in elderly
patients with small cell lung cancer. Thorax 1989; 44: 631-3.
9. Davis S, Tonato N, Crino L, Colozza MA et al. Cisplatin, etoposide and
mitomycin in the treatment of non-small cell Ca of the lung. Cancer 1986;
58: 1018-9.