background image
EKSTRAKSI CATARACT
dr Aslim D Sihotang, dr H T Adnin
Bagian Penyakit Mata
Fakuitas Kedokteran Universitas Sumatra Utara/
Rumah Sakit Umum Pusat Profinsi
Medan.
PENDAHULUAN
Cataract ialah suatu pengeruhan lensa crystalina yang
datangnya seiring dengan datangnya ketuaan. Hal ini sebenar-
nya merupakan salah satu tanda bahwa seseorang telah men-
jadi tua sama seperti datangnya uban di kepala. Tetapi cataract
dijumpai juga pada umur yang lebih muda bahkan pada bayi-
bayi yang baru lahir.
Sebenarnya belum ditemukan tindakan pencegahan terha-
dap cataract tetapi pada taraf permulaan sering bisa diatasi
dengan mengoreksi visus menggunakan kaca mata. Namun
akhirnya perlu juga dilakukan tindakan yang optimal untuk
seterusnya mencegah terjadinya kebutaan yaitu dengan mela-
kukan operasi pengeluaran lensa yang telah mengeruh itu
( Cataract extraction).
Kemajuan-kemajuan yang penting telah didapat pada abad
terakhir ini sehingga hasil ekstraksi cataract menjadi lebih
baik dan ini menimbulkan keyakinan pada penderita bahwa
tindakan operasi akan sangat menolong penglihatannya.
Akan tetapi tidak selalu didapat hasil yang memuaskan.
Masih dapat terjadi komplikasi-komplikasi yang menyebabkan
penglihatan penderita tidak seterang yang diharapkan, terutama
pada penderita cataract yang berpenyakit lain seperti Diabetes,
trauma dan sebagainya.
Pada tulisan ini akan kami sampaikan hasil-hasil ekstraksi
cataract di bagian penyakit Mata FK--USU / RSUPP Medan
dengan segala komplikasi yang ditemukan serta hasil akhir se-
telah diberi kaca mata.
BAHAN PENYELIDIKAN DAN CARA KERJA
Kasus-kasus dalam tulisan ini diambil dari penderita-pen-
derita cataract yang berkunjung ke Bagian Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara selama kurang
lebih tiga tahun ( Januari 1974 sampai Januari 1977).
Yang dimaksud dengan cataract pada tulisan ini adalah
cataract congenitalis (dari lahir sampai umur 20 tahun)
cataract juvenilis (dari umur 20 tahun sampai 40 tahun)
cataract senilis yang terjadi pada umur 40 tahun keatas dan
cataract traumatica yang terjadi karena trauma.
Ekstraksi cataract dilakukan setelah indikasi dipenuhi, yaitu
( 1 ) Visus satu perenam puluh dengan proyeksi cahaya
positif.
( 2 ) Fundus reflex negatif.
( 3) Tidak ada infeksi pada mata.
( 4) Tensi oculi normal ( sampai dengan 25 mm ).
( 5) Tensi sanguinis normal ( sekitar 160/80).
( 6) Tidak dijumpai KP yang aktif.
( 7) Anel test tidak dijumpai sumbatan.
( 8) Pada penderita DM, reduksi urine sudah negatif.
Sehari sebelum operasi penderita harus tinggal dirumah sakit
untuk persiapan operasi dan pemberian premedikasi. Premedi-
kasi yang diberikan pada cataract senilis ialah cocktail yang
terdiri dari campuran phenobarbital 100 mg, pethidin 50 mg
dan largactil 25 mg. Bila tensi oculi sedikit meninggi diberi
Diamox 3 x 250 mg. Selanjutnya bagi penderita cataract
congenitalis sebagai anestesi diberi Ketalar 2mg/kg BB. Demi-
kian juga pada sebagian penderita cataract juvenilis.
Sementara itu pada penderita cataract senilis setelah diberi
cocktail, diberi juga retro bulbair Novocain 4% dan sub cutan
Novocain 2%.
Fiksasi bola mata dilakukan dengan benang pada sclera sebelah
temporal bagi mata kanan dan sebelah nasal pada mata kiri.
Adakalanya dilakukan fiksasi dengan pincet saja. Sebelum
dimulai membuka cornea dilakukan massage pada bola mata
sampai tensi oculi menunjukan skala 10 pada tonometer
Schiotz.
Untuk lapangan operasi pada cataract congenitalis biasanya
dipakai eye speculum sedang pada cataract juvenilis dan senilis
dipakai benang pada margin palpebra superior dan inferior
disamping simpul pada tendon musculus rectus superior.
Cornea dibuka pada cataract congenitalis dengan discici
sedang pada cataract juvenilis dilakukan dengan metoda
VON GRAEFES dan McLEAN dengan variasi-variasinya yang
tergantung dari kondisi camera oculi anterior, seluas 150-J80
0
.
Selanjutnya dilakukan penjahitan cornea sclera dengan tiga
atau lima ikatan silk 6/0. Kemudian dilakukan iridectomi,
biasanya mulai dengan basal (perifer), apabila didapat kesulitan
pada pengeluaran lensa maka diteruskan dengan Key Hole
atau total iridectomi. Iridectomi ini biasanya dilakukan satu
yaitu pada jam 12.
Setelah benang cornea sclera dilonggarkan maka lensa dike-
luarkan dengan Hook dan pincet atau dengan kryophak. Apabi
la terdapat kesulitan pada pengeluaran lensa, biasanya diberi-
kan chemotripsin lebih dahulu atau dipakai spatel untuk mem-
bebaskan bagian-bagian yang lengket.
Cermin Dunia Kedokteran
No.
13.1978
21
background image
Setelah lensa dikeluarkan iris direposisi dan benang cornea
sclera dikuatkan. Untuk metoda McLEAN conjunctiva dijahit
kontinu dengan silk 6/0.
Sebelum mata ditutup dilakukan spooling camera oculi
anterior dengan SBSS atau aqua bidest dan apabila camera
oculi anterior dangkal dimasukan udara. Mata dibersihkan
lalu ditetesi pilocarpin 2% dan dioleskan salep anti biotika,
kemudian ditutup dengan kasa dan dop yang dibuka setiap ha-
ri untuk mengganti kasa dan sekaligus melihat hasil perkem-
bangan sementara. Untuk pemeriksaan ini dipakai ukuran
penghitungan jari sampai jarak satu meter.
Selanjutnya hari ke IV pasien duduk, hari ke V--VI jalan,
bila tak dijumpai komplikasi hari ke-X pasien dipulangkan
setelah dilakukan pemeriksaan funduskopi dan benang cornea
sclera dibuka setelah seminggu kemudian.Kaca mata diberikan
setelah tiga bulan post ekstraksi.
Tabel I: Jumlah penderita cataract.
Wanita
Pria
Jumlah
Cataract congenital
5
13
18
Cataract juvcnilis
11
I2
23
Cataract senilis
170
112
282
Cataract traumatica
­
5
5
Jumlah
186
I42
328
Tabel II : Jumlah penderita cataract uni dan bilateral.
Uni lateral
Bilateral
Jumlah
Cataract congenital
1
2
3
Cataract juvenilis
5
9
14
Cataract senilis
89
103
192
Cataract traumatica
5
­
5
Jumlah
100
I14
214
Dari tabel I dan II terlihat bahwa dari seluruh jumlah pen-
derita cataract ternyata cataract senilis mencapai I92 dari 214
penderita(89,7%). Cataract juvenilis hanya 6,5% dan cataract
traumatica 2,3% serta cataract congenital hanya 1,5%.
Perbandingan cataract uni lateral dan bilateral tidak begitu
menyolok yaitu 46,7% dan 53,3%. Perbandingan yang menyo-
lok terdapat pada cataract traumatica dimana unilateral sam-
pai 100% sedang pada cataract juvenilis 38,4% berbanding
61,6%. Pada cataract congenitalis unilateral 33,3% sedang
yang bilateral 66,7%.
Dari tabel II dapat dilihat bahwa perbandingan cataract
pada pria dan wanita adalah 186:142 berarti 56,7% dan 43,3%.
Cataract cases in two hospital in Bangkok by community, age and sex
1957 I959 ( H S HALEVI )
Community
Thai
Chinese
Indian
male fcmale
male female
male female
40 ­ 49
64
57
I6
18
1
1
50­59
147
184
50
46
7
­
60 ­ 69
218
219
79
52
8
5
70 +
146
151
43
28
4
­
Total
575
629
188
144
20
6
Hal ini terjadi karena cataract yang terbanyak adalah cataract
senilis dan disini terbanyak pada wanita sedang cataract
congenitalis justru laki-laki 71,6%. Sedang cataract juvenilis
seimbang. Cataract traumatica terdapat seluruhnya pada laki-
laki, hal ini terjadi karena sebagian besar pekerja adalah laki-
laki. Perbandingan yang terdapat pada data diatas hampir sama
dengan perbandingan yang terdapat pada orang Thai tetapi
terbalik pada orang Cina dan India seperti yang digambarkan
oleh H S HALEVI dkk.
KOMPLIKASI
Komplikasi-komplikasi yang terjadi dapat dilihat pada tabel
III.
q
COA yang
dangkal.Camera
oculi yang dangkal terjadi pada
62 penderita dan 50 penderita diantaranya terjadi pada waktu
operasi sedang sisanya terjadi pada hari I--V. Komplikasi C O A
yang dangkal ini bila terjadi waktu operasi maka diinjeksikan
SBSS dan bila tak berhasil diberi udara. Sementara yang terja-
di pada hari I--V biasanya diberi Acetasolamide ( Diamox )
2 x 250 mg dan dua atau tiga hari setelah pemberian tersebut
kita lihat C O A telah membaik kembali.
q
Prolapsus
vitreus.
Terjadi pada 3I penderita (9,4%). Sebagian
besar terjadi ketika operasi dan enam diantaranya sesudah hari
I--V. Kejadian ini biasanya disebabkan oleh penjahitan cornea
sclera yang kurang kuat serta pasien yang batuk-batuk dan ge-
lisah. Untuk menghindari ini dianjurkan pada pasien yang
gelisah diberikan obat penenang. Angka ini dibandingkan
Tabe III : Komplikasi-komplikasi operasi cataract.
Komplikasi Jumlah
Waktu operasi
hari
I­V
hari
V­X
Prolapsus vitreus
31
25
6
Hyphaemia
I1
­
11
C O
A dangkal
62
50
I2
­
Infeksi intra
oculi 5
4
1
Butir-butir Elshing­
­
5
Iris prolaps
6
5
1
Gluacoma
3
3
Ablatio retinae
­
­
­
Nastar
80
­
70
I0
dengan yang didapat oleh F I
CAIRD
dkk cukup besar (lihat
tabel V) dimana mereka hanya mencatat 26 pasien dari 1141
atau 2,3%. Hal ini mungkin disebabkan anestesi yang baik
(anestesi umum) serta jahitan cornea sclera yang lebih banyak
(5--8 simpul).
q
Hyphaemia,
juga merupakan komplikasi yang terjadi pada
11 penderita dan semuanya terjadi pada hari I--VI (3,3%),
angka ini dibanding dengan yang didapat oleh F I CAIRD
cukup kecil yaitu 207 dari II41 penderita (19%), sedang
DE
VOE mendapat 21%,
NUTT 0%,
TOWNES dan CASEY 10,5%
sedang GRAEVES 24%.
q
Iris prolaps.
Terjadi pada enam orang, berarti 1,8%. Dimana
lima diantaranya terjadi pada hari I--V sedang yang seorang
lagi terjadi pada hari V--X. Angka ini hampir serupa dengan
yang didapat oleh F I CAIRD yaitu 1,8% atau 2I dari II41
penderita.
q
Infeksi intra ocuii (Uveitis).
Terjadi pada lima penderita
(I,5%). Empat diantaranya terjadi pada hari 1--V sedang
yang seorang lagi pada hari V--X. Juga angka ini hampir sama
2 2
Cermin Dunia Kedokteran No.
13. 1978
background image
dengan yang didapat oleh F I
CAIRD
tetapi
TOWNES
dan
CASEY
mendapatkan 5% sedang
NUTT
12%;
BECKET
dan
HOOBS 1,5% serta
KIRMANI
mendapat angka yang tinggi
yaitu 17%.
q
Glaucoma. Merupakan komplikasi yang paling sedikit kami
jumpai yaitu hanya tiga penderita atau tidak sampai 1%, sedang
F I
CAIRD
mendapatkan I,3%. Komplikasi-komplikasi lain ti
dak tercatat dalam status.yang dibuat.
Tabel V
Komplikasi operasi cataract ektraksi yang dijumpai oleh
F I CAIRD. Jumlah operasi 1141.
Early post operative
Jcnis komplikasi
Jumlah penderita
Prosen
Prolapsus vitreus
Hyphaema
Iris prolaps
Choroidal dctachement
Dclaycd healling
lritis
late post operative
26
207
21
31
5
19
2,3
19
1,8
2,7
0,4
1,7
%
%
%
%
%
%
Jenis komplikasi
Jumlah pcnderita
Proscn
Glaucoma
15
1,3 %
Retinal detachement
11 1 %
Pcrdarahan corpus vitrcus
2
0,2
%
Corneal dystrophy
6
0,6
%
epithelial downgrowth
6
0,6 %
Ophthahnia sympathica
3
0,3
%
Tabel V1 :
Frekwensi hyphaema dan iritis menurut beberapa peneliti.
Nama peneliti
Jumlah operasi
hyphacma
dalatn prosen
lritis
dalam proscn
Dc Voe (1942)
413
21
NUTT (I953)
TOWNES dan CASEY
50
112
(1955)
1844
10,5
5
BECKETT dan HOBES
(I96I)
I35
6
1,5
GREAVES (1962)
130
24
4
KIRMANI (I964)
I00 13
17
F I CAIRD (I965)
1141
19
1,7
%
Tabel Vll :
Visus setelah operasi dan setelah diberi kaca mata.
Visus
Jumlah
Prosen
6/12 atau lebih
97
30,1
%
6118 sampai 6/60
195
56,7
%
kurang dari 6/60
53 1
4,2
HASIL
Dari tabel VII terlihat bahwa akhir dari operasi cataract
menunjukan 56,7% dari seluruh penderita mempunyai visus
antara 6/60 sampai 6/ I8 sedang yang mempunyai visus 6/ 12
atau lebih hanya 30,1%. Dan penderita dengan visus 6/60
atau kurang adalah 14,2%. Mengapa visus hanya sampai 6/60
atau kurang ? Belum didapat jawaban yang pasti. Menurut
beberapa penulis hal ini disebabkan oleh berbagai faktor anta-
ra lain :
· Oleh karena komplikasi operasi
1,0 %
· Penyakit mata lainnya
2,3 %
· Penyakit-penyakit lain
0,4 %
· Tidak diketahui
1,2 %
KESIMPULAN
q
Cataract yang paling banyak dijumpai adalah cataract
senilis yaitu 89,7% diikuti oleh cataract juvenilis 6,5% ;
cataract traumatica 2,3% dan cataract congenitalis 1,5%.
q Perbandingan cataract unilateralis dan bilateralis adalah
46,7% berbanding 53,3%.
q Ratio cataract pada wanita dan pria adalah 56,7% berban-
ding 43,3%.
q
Komplikasi yang terbanyak adalah Nastar sebesar 24,5%
dan komplikasi yang paling sedikit terjadi adalah Glaucoma
yaitu I,3%. Sedang komplikasi lain adalah C O A yang dangkal
19,6% ; Prolapsus vitreus 9,4%;Hyphaema 3,3% ; Iris prolaps
1,8%, dan infeksi intra oculi (Uveitis) 5%.
q
Hasil operasi yang didapat berturut-turut adalah visus
antara 6/18 dan 6/60 sebanyak 56,7% ; visus 6/12 atau lebih
30,I% dan visus kurang dari 6/60 sebanyak 14,2%.
KEPUSTAKAAN
1.
ARRUGA H : Ocular Surgery. 3th ed Mc Grow Hill Co. New
York, 1962.
2.
ALEXANDER A : Stcrility of thc aqueous humor
following
cataract surgcry. Am J of Ophthal 74 (1): 49, 1972.
3.
ADLER FRANCIS HEED : Texthook of ophthalmology. 7th
cd. W B Saunders. Philadelphia, 1962.
4.
ALLEN JAMES H : May s manual diseases of the eye
24th
cd. The Williams Wilkins Co. Baltimore, 1968.
5.
BEASLEY F J : Iris Rctraction by suture during cryo extraction.
Arch J of Ophthal 81 (5):653, 1969.
6
BERENS : The eye and its diseases. Sec ed. W B Saundcrs Co.
Philadelphia, 1962.
7.
CAIRD F I: Cataract extraction and diabetes. British J of
Ophthal 49:461, 1965.
8.
DUKE ELDER S : Parsons diseases of the eye. 15th ed. J A
Churchill Ltd London, 1970.
9.
FLUSEL J T Limbal wound healing after cataract extracrion.
Arch J of Ophthal 81 (5) : 653, 1969.
10.
HALVI H S : Hospitalized senilis cataract in different Jcwish
community in Isracl. British J of Ophthal 46:285,1962.
11.
JARDINE P : Simultan bilateral cataract extraction. British
JofOphthal49 (7) : 337-392, I965.
12.
PAUL A C et al : Gonioscopy during surgery for aphakic eyes.
Am Jof Ophthal 74(4):571,1972.
13.
PATEN DAVID : Clinical Symposia 26(3), 1974.
14.
SIHOTA G S : Scleral ledge in cataract incission. Am J of
Oph-
thal 47(9):567,1959.
15.
VAUGHAN D et al: General Ophthalmology . 6th
ed. Lange
med Publications. Co Ltd. San Francisco, 1975.
mohon perhatian !!
Beritahukanlah kepada kami bila anda pindah alamat!!!
Dan jangan lupa memberikan juga alamat lama anda.
Cermin Dunia Kedokteran No. I3. 1978
23