background image
HASIL PENELITIAN
Efek Antidiare Infus Daun Kesembukan
(Paederia foetida L) pada Tikus Putih
dan Toksisitas Akutnya pada Mencit
Sa'roni, Pudjiastuti, Adjirni
Pusat Penelitian dan Pen gembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan R. Jakarta
diare pada tikus putih sehingga
ABSTRAK
Infus daun Kesembukan (Paederia foetida L) dapat mengurangi kontraksi usus
terisolasi pada tikus putih. ini merupakan salah satu indikasi bahwa daun Kesembukan
mungkin dapat dipakai sebagai obat antidiare non spesifik pada manusia. Oleh karena itu
dilakukan penelitian efek antidiare infus daun Kesembukan pada tikus putih untuk men-
dukung penelitian yang sudah dilakukan, sehingga dapat dipakai sebagai obat antidiare
rut cara P. Bass. Untuk menentukan besarnya
, dilakukan penelitian toksisitas akut pada
f
daun kesembukan termasuk bahan yang
bobot badan tikus mempunyai efek antidiare
gram bobot badan.
PENDAHULUAN
Kontraksi usus yang lebih kuat dan normal merupakan salah
satu penyebab diare . Kontraksi tersebut dapat disebabkan oleh
sangan zat kimia, protein asing atau mikroba
(1)
rang
infus daun kesembukan (Paederia foetida L) untuk menurunkan
kontraksi usus terisolasi pada tikus merupakan petunjuk bahwa
daun kesembukan mungkin dăpat dipakai sebagai obat antidiare
non spesifik pada manusia.
Oleh karena itu dilakukan penelitian efek antidiare infus
daun kesembukan pada tikus putih yang dibuat diare dengan
oleum ricini menurut cara P. Bass
(1)
. Untuk menentukan besarnya
penelitian serta untuk mengetahui keamanan pemakaian bahan
dilakukan penelitian toksisitas akut pada mencit menurut cara
Weil C.S
(3)
.
Diharapkan infus daun kesembukan mempunyai efek anti-
dapat menambah data penelitian
dalam usaha pemakaian daun kesembukan
BAHAN DAN CARA
Bahan Percobaan
Daun Kesembukan (Paederia foetida L) diperoleh dan Balai
Penelitian Tanaman Obat Tawangmangu. Bahan dikeringkan
dalam lemari pengering pada suhu tidak lebih dari 50°C sampai
dapat dibuat serbuk. Serbuk dihaluskan dan diayak dengan
ayakan Mesh 48, selanjutnya dibuat infus sesuai dengan Farma-
kope Indonesia Edisi III
(4)
.
Hewan Percobaan
Untuk penelitian antidiare digunakan tikus putih berasal
(1)
. Adanya efek
yang sudah dilakukan
sebagai obat diare pada manusia.
non spesifik pada manusia. Penelitian menu
dosis serta untuk mengetahui keamanan bahan
mencit menurut cara Weil C.S. -
Hasil penelitian menunjukkan bahwa in us
tidak toksik dan pada dosis 432 mg/100 gram
yang sama dengan difenoksilat 0,25 mg/l00
background image
dari Puslitbang Gizi, Badan Litbangkes. Dep.Kes. strain Wistar
Derived. Bobot sekitar 150 gram, jenis kelamin betina. Untuk
penelitian toksisitas akut digunakan mencit berasal dari Pus-
litbang Penyakit Menular, Badan Litbangkes, Dep Kes. Bobot
sekitar 25 gram, jenis kelamin jantan.
Percobaan Toksisitas Akut
Tahap I
Disediakan 6 kelompok mencit @ 3 ekor. Setiap kelompok
diberi bahan percobaan dengan dosis kelipatan 10, diberikan
secara i.p (intraperitonial). Observasi dilakukan setiap jam dan
kematian dihitung sesudah 24 jam. Bila sesudah 24jam tidak ada
seekorpun mencit yang mati, maka dosis penjajagan diperbesar.
Tahap II
Disediakan 5 kelompok mencit @ 5 ekor. Setiap kelompok
diberi bahan dengan dosis terkecil mendekati dosis di mana ada
kematian 2 ekor, sedang dosis terbesar mendekati dosis di mana
ada kematian di atas 2 ekor pada kelompok penjajagan. Sesudah
24 jam dihitung jumlah kematian tiap kelompok. Komposisi
jumlah kematian dicocokkan dengan daftar Well C.S dan besar
LD dihitung dengan rumus Weil C.S.
Percobaan Efek Antidiare
Dosis infus daun Kesembukan ditentukan berdasarkan be-
sarnya LD
50
pada mencit. Dosis 14,32 mg/100 gram bobot badan
tikus, Dosis II 43,2 mg/l00 gram bobot badan tikus dan Dosis III
432 mg/l00 gram bobot badan tikus. Pembanding difenoksilat
0,25 mg/l00 gram bobot badan tikus dan blangko akuades 1 ml/
100 gram bobot badan tikus.
Urutan penelitian sebagai berikut:
·
Tikus diadaptasikan dengan lingkungan laboratorium selama
1 minggu.
·
Satu hari sebelum percobaan tikus dipuasakan, selanjutnya
dikelompokkan menjadi 5 kelompok @ 3 ekor. Satu kelompok
diberi akuades sebagai blangko, satu kelompok diberi difenoksi-
lat sebagai pembanding dan tiga kelompok masing-masing diberi
infus bahan dosis I, dosis II dan dosis III. Semua perlakuan di-
berikan secara oral.
·
Satu jam setelah perlakuan semua tikus diberi oleum ricini
2 ml/ekor secara oral.
·
Dilakukan observasi konsistensi feses menurut kriteria P.
Bass
(1)
setiap 30 menit selama 8 jam.
·
Percobaan diulang minimum 5 kali.
Dari observasi konsistensi feses dapat ditentukan saat mulai
diare, frekuensi diare selama pengamatan dan jumlah tikus yang
mengalami diare.
HASIL
Hasil penelitian toksisitas akut infus daun Kesembukan
mempunyai harga LD
50
43,52 (33,54 ­ 55,67) mg/100 gram bobot
badan secara i.p pada mencit. Hasil penelitian efek antidiare infus
daun kesembukan pada Tabel 1 menunjukkan saat mulai diare,
Tabel 2 frekuensi diare selama pengamatan,Tabel 3 jumlah tikus
yang mengalami diare sampai jam ke-2 dan Tabel 4 jumlah tikus
yang mengalami diare sampai jam ke-3. Tabel dianalisis dengan
Anova dan t-test(5).
Tabel 1. Saat mulai diare dalam menit, setelah tikus diberi oleum ricini
Ulangan
Perlakuan
I II
III
IV
V
Rata-rata
A.
Difenoksilat
0,25 mg/100 g. bb.
250
260
290
230
250
256 ± 21,91
B. Akuades
1 m1/100 g. bb.
80
90
100
100
100
94 ± 8,94
C. Infus Bahan
4,32 mg/100 g. bb.
160
120
110
130
110
126 ± 20,74
D. Infus Bahan
43,2 mg/ 100 g. bb.
130
220
110
160
150
154 ± 41,59
E. Infus Bahan
432 mg/100 g. bb.
240
280
220
250
260
250 ± 22,36
Tabel 2. Frekuensi diare selama pengamatan setelah tikus diberi oleum
ricini
Ulangan
Perlakuan
I II
III
IV
V
Rata-rata
A.
Difenoksilat
0,25 mg/100 g. bb.
0 3
1 3
0 0
1,0
0 7
0,7 ± 0,52
B. Akuades
I ml/ 100 g. bb.
3 3
3 0
4,0
2 3
2,7
3,1 ± 0,64
C. Infus Bahan
4,32 mg/100 g. bb.
3,0
2 7
2,0
3 0
2,3
2,6 ± 0,44
D. Infus Bahan
43,2 mg/ 100 g. bb.
2,3
1 3
1,7
2 3
1,3
1,8 ± 0,50
E. Infus Bahan
432 mg/ 100 g. bb.
1,7
1,0
1,0
1,3
0,7
1,14 ± 0,38
Tabel 3. Jumlah tikus yang mengalami diare sainpai jam ke-2 setelah
tikus
diberi
oleum
ricini
Ulangan
Perlakuan
I II III IV V
Jumlah
A.
Difenoksilat
0,25 mg/ 100 g. bb.
0
0
0
0
0
0
B. Akuades
1 ml/ 100 g. bb.
3 3 3 3 3
15
C. Infus Bahan
4,32 mg/ 100 g. bb.
2
3
3
2
3
13
D. Infus Bahan
43,2 mg/ 100 g. bb.
2
0
3
1
2
8
E. Infus Bahan
432 mg/ 100 g. bb.
0
0
1
0
0
1
Tabel 4. Jumlah tikus yang mengalami diare sampai jam ke-3 setelah
tikus
diberi
oleum
ricini
Ulangan
Perlakuan
I II III IV V
Jumlah
A. D1fenoks1lat
0,25 mg/ 100 g. bb.
1 1 1 1 1
5
B. Akuades
I ml/ 100 g. bb.
3 3 3 3 3
15
C. Infus Bahan
4,32 mg/ 100 g. bb.
2 3 3 3 3
14
D. Infus Bahan
43,2 mg/ 100 g. bb.
2 1 3 3 2
11
E. Infus Bahan
432 mg/ 100 g. bb.
1 0 1 0 0
2
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996 19
background image
PEMBAHASAN
Harga LDS
50
infus daun kesembukan setelah diekstrapolasi ke
oral pada tikus putih menurut Paget & Barnes
(6)
sebesar 302.470
mg/kg bobot badan. Menurut Gleason M.N
(7)
harga LD
50
yang
lebih besar dari 15.000mg/kg bobot badan secara oral pada tikus
putih dapat digolongkan ke dalam golongan bahan yang tidak
toksik (practically non toxic substances). Pengamatan bahan
terhadap tingkah laku mencit jantan dan betina menunjukkan
adanya efek menurunkan suhu normal, abduksi dan ataksia.
Dari gejala tersebut berarti infus daun kesembukan mempunyai
pengaruh terhadap susunan saraf pusat maupun susunan saraf
otonom.
Analisis parameter yang diukur (saat mulai diare, frekuensi
diare, jumlah tikus yang mengalami diare sampai jam ke-2 dan
jumlah tikus yang mengalami diare sampai jam ke-3) menunjuk-
kan bahwa infus dosis 4,32 mg/tOO gram bobot badan dapat
dikatakan betum menunjukkan efek antidiare karena ada beda
sangat nyata dengan difenoksilat dan tidak beda dengan akuades,
meskipun di antara parameter ada yang menunjukkan beda
sangat nyata dengan akuades (jumlah tikus yang mengalami
diare). Infus dosis 43,2 mg/100 gram bobot badan dibandingkan
dengan akuades sudah menunjukkan ada efek antidiare meski-
pun masih beda sangat nyata dengan difenoksilat. Infus dosis 432
mg/l00 gram bobot badan menunjukkan saat mulai diare dan
frekuensi diare sama dengan difenoksilat, sedang jumlah tikus
yang mengalami diare masih ada beda dengan difenoksilat. Dari
analisis data kelihatan adanya peningkatan efek pada dosis yang
semakin besar. Pada dosis 4,32 mg/100 gram bobot badan belum
menunjukkan efek antidiare, dosis 4,32 mg/100 gram bobot
badan menunjukkan adanya efek antidiare yang lebih nyata
sedang pada dosis 432 mg/100 gram bobot badan menunjukkan
efek antidiare yang paling nyata dibandingkan dosis penelitian
yang lain.
Daun kesembukan terutama mengandung skatol dan in-
dol
(2,8)
. Senyawa-senyawa turunan indol ada yang berpengaruh
terhadap susunan saraf pusat maupun susunan saraf otonom
(2)
.
Mungkin senyawa indol atau turunannya inilah yang bekerja
terhadap susunan saraf otonom dan mempengaruhi kontraksi
usus
(2)
sehingga menimbulkan efek antidiare pada tikus.
KESIMPULAN
Infus daun kesembukan (Paederia foetida L) termasuk ba-
han yang tidak beracun (practically non toxic substances). Infus
daun kesembukan sampai dosis 432 mg/100 gram bobot badan
menunjukkan efek antidiare non spesifik pada tikus putih yang
masih lebih Iemah dibandingkan dengan difenoksilat 0,25 mg/
100 gram bobot badan. Terdapat adanya hubungan antara besar-
nya dosis dengan efek antidiarenya.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ditujukan kepada Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi
serta seluruh staf Kelompok Program Penelitian Obat Tradisional yang telah
membantu sejak perencanaan penelitian hingga selesai.
KEPUSTAKAAN
1. Bass Petal. Measurement of Fecal Output in Rats. Am J Digest Dis 1972; 17:
925­7.
2. Yulianti Rahayuningsih. Pengaruh infus daun kesembukan (Paederiafoetida
L) terhadap kontraksi duodenumtikus putihbetinaterisolasi. Jurusan Farmasi
ITB 1980.
3. Weil CS. Tables for Convenient Calculation of Median Effective Dose and
Instructions in Their Use. Biometrics 1952; 8: 249­63.
4. Departemen Kesehatan RI. Farmakope Indonesia t III, Jakarta, 1979.
5. Nainggolan M. Experimental Design I. FP. USU. Medan, 1965.
6. Paget GE. Barnes JM. Dalam: Laurence DR, Bacharach AL. Evaluation of
Drug Activities. Pharmacometrics Vol I. London: Academic Press, 1964. p.
161­162.
7. Gleason MN Cs. Clinical Toxicology of Commercial Products. Baltimore:
William & Wilkins Co. 1969. p. 3­4.
8. Mardisiswojo S, Radjakmangunsudarso H. Cabe Puyang Warisan Nenek
Moyang I & II. Jakarta: PT. Karya Wreda, 1975.
Delay of justice is injustice
(Landor)
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996
20