Diagnosis Tumor Otak dengan MRI
Dr Arman Adel Abdullah
Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia /
RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Bloch dan Pureell pada 1946 menemukan prinsip dasar MRI
yaitu inti atom (proton) akan bergetar dalam medan magnit.
Penemuan ini dikembangkan terus menerus oleh para ahli fisika
dan elektro sehingga pada tahun 1980 aplikasinya dalam ilmu
kedokteran dipakai secara besar-besaran terutama di negara yang
sudah maju seperti Amerika Serikat dan negara Eropa Barat dan
Jepang. Di Indonesia baru September 1990 untuk pertama kali
dilakukan di RSEM yang kemudian diikuti oleh RS Pertamina
dan Husada.
Dalam mendiagnosis suatu tumor otak, selain klinis, pe-
ranan radiologi sangat besar. Dahulu angiografi, kemudian CT
Sean dan terakhir MRI; terutama untuk tumor-tumor di daerah
fossa posterior, karena CT Sean sukar mendiagnosis tumor otak
akibat banyaknya artefak, sekalipun dengan kontras. Dengan
MRI suatu tumor dapat dengan jelas tervisualisasi melalui di
potongan 3 dimensi, sehingga memudahkan ahli bedah saraf
untuk dapat menentukan teknik operasi atau menentukan tumor
tersebut tidak dapat dioperasi mengingat risiko/komplikasi
yang akan timbul.
Melalui MRI, suatu jaringan menunjukkan sifat-sifat
karakteristik tertentu pada gambar Tl dan T2 maupun proton
density. Intensitas jaringan tersebut biasanya berbeda pada gam-
bar Tl dan T2, kecuali lemak, darah segar, kalsifikasi, maupun
peredaran darah yang cepat. Dengan melihatgambarTl maupun
T2 dapat ditentukan karakteristik suatu tumor apakah tumor
tersebut padat, kistik, ada perdarahan, kalsifikasi, nekrosis mau-
pun lemak dan lain-lain. Intensitas jaringan tersebut mulai dari
hipo, iso dan hiper intensitas terlihat jelas pada T1 dan T2.
Pada umumnya tumor otak path Tl mempunyai gambaran
hipo intensitas dan pada T2 menjadi hiper intensitas, bahkan
dengan adanya perbedaan intensitas tumor yang kurang di-
bandingkan udem perifokal pada T1 dan T2, dapat didiagnosis
suatu tumor seperti pada glioblastoma. Kalsifikasi tidak baik
dilihat dengan MRI, karena sedikit sekali mengandung air
sehingga baik pada T1 maupun T2 akan temp memberikan
gambaran hipo intensitas. Kalsifikasi lebih baik dilihat dengan
CT Sean. Udem perifokal yang biasa pada tumor memberikan
mass effect dapat dengan jelas sekali terlihat pada T1 hipo
intensitas sedangkan pada T2 menjadi hiperintensitas. Tumor
dengan perdarahan subakut dan kronik dapat dengan jelas dilihat
pada T1 hiperintensitas dan T2 tetap hiperintensitas (subakut);
sedangkan perdarahan akut lebih jelas dengan CT Sean daripada
MRI.
Tumor-tumor yang berasal dari saraf (sehwanoma, neuroma
dan neurinoma) serta tumor-tumor lokal (tumor hipofisis, chor-
doma, glomus tumor) sama sekali tidak mempunyai udem peri-
fokal. Tumor-tumor oligodendroglia sedikit mempunyai udem
perifokal maupun mass effect dan banyak mengandung kalsi-
fikasi.
ZAT KONTRAS
Pada umumnya pemeriksaan MRI tanpa kontras sudah dapat
memvisualisasikan suatu massa. Akan tetapi pada tumor otak,
pemberian kontras sangat membantu suatu diagnosis. Dengan
kontras dapat dibedakan antara tumor dengan udem, jaringan
parut maupun sisa tumor bila sudah pernah dioperasi. Kontras
yang digunakan ialah Gadolinium DTPA (Diet hylene Triamine
Pentaacetic Acid) dengan dosis 0.2 mg/kgBB yang disuntikkan
intravena. Untuk perbandingan selalu dipakai parameter Tl
tanpa kontras dengan T1 dengan kontras. Pada umumnya se-
Dirajikan data. Simporirrn Tumor Otak, 20 Jdi 1991 di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992 19
sudah pemberian kontras suatu tumor akan terjadi penyangatan
(enhancement).
ISTILAH PADA MRI
T1 : Longitudinal relaxation time
(mempunyai TR pendek dan TE yang pendek).
T2 : Tranversal relaxation time
(mempunyai TR panjang dan TE yang panjang).
TR : Repetition times
TE : Echo delay times
IR : Inversion recovery.
Proton density : bagian dari T2 (mempunyai TR panjang dan
TE yang pendek).
KENDALA PADA MRI
1.
Alat mahal (biaya pemeriksaan tinggi).
2.
Waktu pemeriksaan cukup lama.
3.
Pasien yang mengandung metal tak dapat diperiksa (alat
pacu jantung, protese, clips).
4.
Pasien emergency akibat kecelakaan lalu lintas tak dapat
diperiksa bila memakai alat pernafasan buatan/tabung 0
2
.
5.
Klaustrofobi (takut akan ruang sempit) perlu anestesi.
KESIMPULAN
Dengan MRI + kontras Gadolinium DTPA diagnosis tumor
otak dapat lcbih jelas (sensitivitasnya tinggi dibandingkan CT
Sean) baik untuk tumor supratentorial dan khusus fossa poste-
rior. Potongan dapat menghasilkan tiga dimensi sehingga me-
mudahkan ahli bedah saraf inencntukan teknik operasi.
KEPUSTAKAAN
1.
Arran Adel Abdullah. Resonansi Magnctik. Radiologi Diagnostik, Balai
Penerbit FKUI Jakarta, 1989.
2.
Kazner E, Wende S, Gmmme 'lip, Stochdorphg 0, Felik R, Claussen C.
Computer and Kemspintomographie lntrakranieller tumoren. Berlin,
Heidelberg: Springer Verlag, 1981.
3.
IissnerJ, Seiderer M. Klinisehe Kemspintomographie, Stuttgart:
Ferdinand Enke Verlag, 1987.
4.
Stark DD, Bradley WG. Jr. Magnetic Resonance Imaging. Washington
D.C: C.V. Mosby Company, 1988.
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992
20