background image
Penggunaan Beta-Blocker
pada Penyakit Kardiovaskuler
dr. Abidin A. Prawirakusumah
Sub-Bagian Kardiovaskuler, Bagian Ilmu Penyakit Dalam ,
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/RS dr: Hasan Sadikin
Bandung
Setelah Ahlquist mengemukakan konsep pembagian resep-
tor sistem adrenergik dalam reseptor alfa reseptor beta,
berkembanglah penyelidikan-penyelidikan obat-obat yang se-
cara spesifik menghambat reseptor-reseptor itu. Obat peng-
hambat reseptor beta, atau yang sering disebut
beta-blocker
bersifat mengurangi atau menghilangkan efek stimulasi pada
reseptor beta oleh katekolamin (noradrenalin dan adrenalin)
yang dihasilkan pada ujung postganglion saraf simpatik dan
pada medula suprarenalis:
Dalam klinik beta-blocker antara lain digunakan untuk
pengobatan beberapa penyakit kardiovaskuler dan ternyata
sangat efektif (1). Di bawah ini akan dibahas masing-masing
keadaan klinik yang dapat diobati/ditanggulangi dengan obat
tsb.
Tachiaritmia kordis
Beta-blocker sangat efektif untuk pengobatan gangguan
irama jantung tachiaritmia yang disebabkan meningkatnya
aktivitas simpatik terhadap jantung atau oleh meningkatnya
konsentrasi katekolamin oleh beberapa sebab, umpamanya
pemberian digitalis, hipoksia, hipokalemi atau hipotensi (2).
Pada beberapa gangguan irama jantung beta-blocker kurang
efektif apabila dipakai sendiri dan harus dikombinasikan
dengan obat antiaritmia lainnya: Di bawah ini terdapat daftar
gangguan irama jantung yang efektif dengan hanya satu macam
beta-blocker dan yang kadang harus dikombinasikan dengan
obat antiaritmia lainnya:
Sangat efektive,
1. Sinus tachikardi
2. Atrial flater dan atrial fibrilasi dengan rapid ventrikular
response:
3. Tachiaritmia oleh karena digitalis
4. Tachiaritmia timbul oleh karena latihan berat, anestesi
atau pemberian katekolamin.
5. Wolff-Parkinson-White Sindrome.
Kombinasi dengan obat antiaritmia
1. Paroxysmal supraventricular tachycardia - dengan quini-
dine
2. Ventricular tachycardia -- dengan quinidine atau lidocai-
ne:
Untuk memperlambat denyut nadi pada sinus tachicardi beta-
blocker tersendiri sangat efektif, demikian juga pada atrial fla-
ter atau fibrilasi dengan rapid ventricular response, tapi biasa-
nya dikombinasikan dengan digitalis yang menghambat pe-
rangsangan pada AV noda (1).
Digitalis dapat menimbulkan gangguan irama jantung berupa
atrial tachicardia dengan AV block atau ventricular extra
systole, untuk mengatasi gangguan ini beta-blocker merupakan
drug-of - choicc asal konscntrasi kalium dalam serum darah
normal (3,4):
Gangguan tachicardi sering terjadi pada kasus dengan Wolff-
Parkinson-White Syndrome; beta-blocker dapat diberikan seba-
gai pencegahan terjadinya tachicardia tersebut (5).
Juga beta-blocker sangat efektive untuk pengobatan tachiarit-
mia yang menyertai suatu latihan berat, anestesi atau pemberi-
an obat katekolamin: Pada paroxysmal supraventricular tachy-
cardia kombinasi beta-blocker dengan quinidine sangat baik
responnya, demikian juga sebagai pengobatan maintenance pa-
da kasus postkonversi dengan defribrilator (6).
Ventricular aritmia yang tidak disebabkan digitalis atau kate-
kolamin biasanya lebih terkontrol dengan kombinasi quinidine
atau xylocaine (7):
Angina pektoris dan intermediate syndrome.
Angina pektoris merupakan gejala yang terjadi karena ke-
tidak seimbangan antara kebutuhan oksigen miokard dengan
penyediaan oksigen, umumnya oleh karena berkurangnya alir-
an darah melalui sistem koroner, karena meningkatnya kerja
ventrikel kiri maka kebutuhan oksigen akan meningkat:
Beta-blocker mengurangi kerja ventrikel kiri dengan cara (8):
-- mengurangi kekuatan kontraksi miokard
- mengurangi kecepatan denyut ventrikel
-- mengurangi tahanan sistole ventrikel kiri
Nitrogliserin masih tetap merupakan obat utama pada keadaan
akut dan isosorbide dinitrat dapat dipakai untuk mencegah
serangan angina (9):
Diagnosa intermediate syndrome dibuat apabila sering menga-
lami serangan angina dengan tiap serangan lamanya lebih dari
15 menit atau angina decubitus atau angina dengan post
miokard infark; pada keadaan ini kombinasi kedua obat nitrat
dengan beta-blocker sangat baik untuk mengurangi frekuensi
serangan angina, mengurangi perluasan dari infark dan pence-
gahan tachiaritmia atau ventrikel fribrilasi (10):
Pada keadaan angina disertai kegagalan jantung yang memba-
kat, dapat diberikan digitalis dikombinasikan dengan beta-
blocker.
Cermin Dunia Kedokteran No. 19, 1980 27
background image
Akut miokard infark
Pada akut miokard infark tanpa payah jantung,tanpakardio-
genik shock; tanpa bradikardi atau tanpa AV block total dan
terutama dalam delapan jam pertama, beta-blocker dapat di-
pakai untuk mengurangi perluasan infark (11, 12) dan juga un-
tuk mencegah timbulnya payah jantung post miokard infark
(11), selain itu mencegah kematian mendadak oleh karena
ventricular fibrilasi.
Hipertensi
Lihat naskah / tulisan dalam majalah ini (halaman
9
)
Tirotoksikosis dan Penyakit jantung tiroid
Gejala-gejala pada dewasa muda biasanya berupa keluhan
palpitasi, tachicardi, tidak tahan akan panas, keringat pada te-
lapak tangan, kulit merah hangat, hipertensi sistolik dengan
perbedaan tekanan nadi yang besar, tremor, gugup dan mudah
tersinggung; sedangkan pada orang tua gejala kardiovaskuler
lebih menonjol seperti sinus tachicardi yang tidak diketahui
sebabnya, atrial
fibrilasi dengan rapid ventricular respons
yang tidak berhasil diobati dengan digitalis, paroxysmal
atrial tachicardia, multifocal atrial tachicardi, payah jantung
tanpa ada kelainan jantung, timbul intoksikasi pada dosis ke-
cil digitalis.
Pada pemeriksaan kateterisasi jantung kasus penyakit jan-
tung tiroid menunjukkan kenaikan denyut jantung, kenaikan
kontraksi jantung, kenaikan dari ejeksi ventrikel kiri, kenaikan
kebutuhan akan oksigen dari ventrikel dan meningkatnya alir-
an darah melalui sistem koroner; ini semuanya disebabkan oleh
karena produksi tiroid yang meningkat.
Beta-blocker khususnya mempunyai pengaruh pengobatan
terhadap palpitasi, tachicardi, tremor, rasa cemas dan hiperki-
nesis (1).
Pada orang tua, pemakaian beta-blocker sangat efektif teruta-
ma kalau disertai digitalis dan obat antitiroid (13).
Hyperdynamic Beta-adrenegic State
Pada keadaan ini ditemukan ketakutan, anxietas disertai
keluhan kardiovaskuler umpamanya palpitasi, dalam mana ti-
dak diketemukan kelainan kardiovaskuler baik pada pemerik-
saan fisik ataupun test lainnya. Test dengan pemberian iso-
proterenol menunjukkan peningkatan gejala aktivitas beta adre-
nergik (14).Pemberian beta-blocker akan mengurangi gejala
keluhan kardiovaskuler, keadaan emosi dan tekanan darah
yang tinggi (15).
Dissecting Thoracic Aortic Aneurisma
Terdapatnya hubungan antara lumen aorta dengan tunica
media dari aorta, secara longitudinal, mengakibatkan dinding
aorta menjadi rapuh kemudian dapat terjadi ruptura dan ke-
matian oleh karena perdarahan.
Gejala-gejalanya :
umumnya pada orang tua atau dewasa muda
pendcrita hipertensi
keluhan sakit dada atau abdomen bisa menjalar ke extrimitas
terdapat pulsasi sternoclavicular joint
pada foto thorax terlihat distorsi aorta
pada aortography akan terlihat lesi pada dinding aorta.
Selama tidak memungkinkan tindakan operasi, pada keadaan
akut penanggulangan cara medicamentosa dengan mengurangi
tekanan/pulsasi dari jantung pada dinding aorta dapat mence-
gah kerusakan lebih lanjut atau ruptur dinding aorta.
Obat yang terpilih ialah trimethaphan secara intravena, tetapi
oleh karena kerja obat ini sangat pendek dan potensinya
pada cairan intravena terbatas selama 24 -- 48 jam, maka obat
seperti guanethidine, methyldopa, reserpine atau beta-blocker
dapat diberikan.
Penggunaan beta-blocker pada kasus ini selain sebagai obat
pembantu dari obat trimethapan juga untuk mencegah keru-
sakan lebih lanjut dengan mengurangi stroke volume dan daya
kontraksi ventrikel kiri tanpa mengurangi aliran darah pada
pembuluh koroner, otak atau ginjal.
Idiopathic Hypertrophic Subaortic Stenosis (IHSS).
Gejala umumnya ialah angina, sesak nafas, dizziness syn-
cope dan pembesaran ventrikel kiri. IHSS ialah kardiomiopati
yang terutama mengenai septum interventrikular sehingga me-
nyebabkan obstruksi jalan keluar darah dari ventrikel kiri.
Beta-blocker tidak mengubah hemodinamik, hanya mengu-
rangi tekanan dalam ventrikel kiri, akibatnya frekuensi angina
dan sifatnya akan berkurang demikian juga dengan gejala-
gejala lainnya.
Pheochromocytoma
Tumor ini mengakibatkan bertambahnya sekresi adrenalin
dan noradrenalin yang mengaktifkan kedua reseptor alfa dan
beta, akibatnya terjadi hipertensi, tachicardi dan gangguan
irama jantung (16).
Obatnya yang tepat sebetulnya ialah phenoxybenzamine,
sedangkan beta-blocker digunakan untuk mengobati gangguan
irama jantung.
Mengenai efek samping kontraindikasi pemakaian beta-
blocker, baca bagian lain dalam edisi ini (halaman 9).
Kesimpulan
1. Beta-blocker merupakan obat yang potent untuk pengobatan
terhadap atrial aritmia dan tachiaritmia oleh karena digitalis atau
penyakit jantung koroner.
Joga efektif untuk menekan ventrikel extra systole karena produksi
katekolamin yang meningkat seperti pada pheochromocytoma.
2. Kombinasi dengan golongan nitrat, mengurangi frekuensi dan
lamanya serangan angina.
3. Mencegah perluasan daerah infark pada akut miokard infark.
4. Mencegah perluasan medial dissecting, pada dissecting thoracic
aortic aneurysm.
5. Pada tirotoksikosis dan hyperdynamic beta-adrenergic state (neuro-
circulatory asthenia) beta-blocker baik digunakan untuk meng
hilangkan gejala gangguan kardiovaskuler.
6. Mengurangi gejala dan frekuensi dari angina, sesak nafas, syncope
atau dizziness pada idiopathic hypertrophy subaortic stenosis
7. Dan harus ingat bahwa pemakaian beta-blocker ada efek
samping
ataupun kontraindikasinya umpamanya payah jantung, bradikardi,
AV block dan astma bronchial.
Daftar pustaka dapat diminta pada redaksi.
2 8
Cermin Dunia Kedokteran No. 19, 1980