HASIL PENELITIAN
Aktivitas Antimutagenik
dan Antioksidan Daun Puspa
(Schima wallichii Kort.)
Didi Jauhari Purwadiwarsa*, Anas Subarnas*, Cucu Hadiansyah**, Supriyatna*
*Jurusan Farmasi, ** Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Universitas Padjadjaran, Bandung.
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian mengenai aktivitas antimutagenik dan antioksidan
fraksi butanol daun puspa (Schima wallichii Korth). Hasil pengujian aktivitas anti-
mutagenik secara in vivo dengan metode uji mikronukleus menunjukkan bahwa
pemberian fraksi butanol daun puspa secara oral mampu menurunkan frekuensi sel
eritrosit polikromatik bermikronukleus (MNPCE) dari apusan sumsum tulang paha
mencit jantan galur Swiss-Webster yang diinduksi dengan siklofosfamid dosis 50
mg/kg secara intraperitoneal. Fraksi butanol dosis 300 mg/kg mampu menurunkan
frekuensi MNPCE sebesar 10,51% sedangkan pada dosis 600 mg/kg memberikan
penurunan sebesar 38,27%.
Pada pengujian aktivitas antioksidan secara in vitro dengan metode NBT, fraksi
butanol daun puspa mempunyai penghambatan reduksi NBT oleh superoksida yang
dihasilkan dari reaksi enzimatis xantin dengan bantuan xantin oksidase. Nilai peng-
hambatan reduksi NBT oleh fraksi butanol daun puspa adalah 68,66% pada konsentrasi
200
µg/ml dan 94,37% pada konsentrasi 400 µg/ml.
Dari hasil pengujian tersebut diperoleh kesimpulan fraksi butanol daun puspa
mempunyai aktivitas antimutagenik dan antioksidan.
PENDAHULUAN
Mutasi merupakan perubahan yang terjadi pada gen atau
pada kromosom. Mutasi dapat dikaitkan dengan timbulnya
beragam kelainan, termasuk penyakit kanker. Selain dapat
terjadi secara spontan, mutasi juga dapat diinduksi oleh ber-
bagai faktor seperti radiasi, senyawa kimia tertentu, dan virus.
Faktor-faktor penginduksi mutasi dikenal sebagai mutagen
(1,2)
.
Salah satu indikator terjadinya mutasi adalah adanya
mikronukleus. Mikronukleus merupakan hasil mutasi dari kro-
mosom utuh yang patah dan kemudian tampak sebagai nukleus
berukuran kecil di dalam suatu sel. Mikronukleus mudah di-
amati pada sel polikromatik eritrosit. Jumlah sel eritrosit
polikromatik bermikronukleus menunjukkan tingkat kerusakan
genetik dalam sistem eritropoitik suatu makhluk hidup
(3)
.
Banyaknya pengunaan bahan-bahan kimia untuk berbagai
keperluan mengakibatkan peningkatan pencemaran bahan-
bahan kimia berbahaya ke dalam lingkungan hidup. Penelitian
toksikologi memberikan informasi bahwa sebagian besar bahan
kimia yang ada bersifat mutagenik
(1,4)
. Meskipun tubuh kita
sudah dilengkapi berbagai mekanisme pertahanan terhadap
mutagen, peningkatan paparan terhadap bahan-bahan kimia
tersebut dapat meningkatkan peluang terjadinya mutasi. Oleh
karena itu diperlukan suatu zat yang dapat mengurangi risiko
terjadinya mutasi oleh mutagen
(5,6)
.
Dugaan keterlibatan oksigen reaktif dalam terjadinya
mutasi terutama dalam bentuk radikal bebas akhir-akhir ini
makin mendapat perhatian para peneliti. Radikal bebas merupa-
kan sebutan terhadap molekul yang mempunyai elektron yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000
18
tidak berpasangan pada kulit terluarnya, sehingga bersifat
sangat reaktif dan dapat merusak komponen-komponen sel, ter-
masuk asam deoksiribonukleat (DNA)
(7)
. Beberapa laporan
menyebutkan bahwa suatu antioksidan, yaitu senyawa yang
dapat menetralkan radikal bebas juga mempunyai aktivitas
antimutagenik
(5,8,9)
.
Upaya pencarian zat antimutagenik banyak dilakukan ter-
hadap bahan alam, juga dari tumbuhan. Puspa (Schima
wallichii Korth) merupakan salah satu tumbuhan tropis
Indonesia
(10)
dan termasuk tumbuhan pakan primata. Ekstrak
metanol daun puspa dilaporkan mempunyai aktivitas anti-
promosi tumor dan antimutagenik
(12)
.
Sebagai kelanjutan dari hasil penelitian tersebut, dalam
rangka usaha mengisolasi senyawa aktif antimutagenik serta
untuk mengetahui kemungkinan adanya aktivitas antioksidan;
maka dilakukan penelitian yang terfokus pada pengujian akti-
vitas antimutagenik dan antioksidan fraksi butanol daun puspa.
BAHAN DAN METODE
Hewan Percobaan
Mencit (Mus musculus) putih jantan galur Swiss-Webster
didapat dari Laboratorium Struktur dan Perkembangan Hewan
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Padjadjaran, usia 7-9
minggu, berat 22,5 - 27,5 gram, kandang plastik dengan alas
sekam (4-6 ekor). Suhu ruang hewan percobaan 23-25 °C,
kelembaban 70-85%, dan cahaya diatur dengan regulator 12
jam terang dan 12 jam gelap. Pakan mencit berupa pelet-789
dan minuman dari air ledeng yang masing-masing diberikan
secara ad libitum.
Bahan Kimia
Bahan kimia yang dipakai dalam penelitian ini adalah
fraksi butanol dari ekstrak metanol daun puspa (Hutan
Pangandaran, Ciamis), Siklofosfamid (Wako Pure Chemical
Industries, Ltd. Jepang).
Fraksi butanol pada pengujian aktivitas antimutagenik di-
suspensikan dengan PGA (1% b/v) dalam akuades, sedangkan
pada pengujian aktivitas antioksidan dilarutkan dalam DMSO.
Siklofosfamid dilarutkan dalam larutan NaCl fisiologis.
Ekstraksi dan Fraksinasi
Serbuk daun puspa (650 gram) diekstraksi dengan metanol
(3x24 jam), dan ekstrak metanol kemudian dipartisi dengan
campuran etil asetat - air (3 : 1). Lapisan air diekstraksi dengan
n-butanol sehingga diperoleh lapisan air dan lapisan n-butanol.
Lapisan n-butanol kemudian diuapkan hingga diperoleh fraksi
butanol kering yang akan dipakai dalam pengujian.
Uji Mikronukleas - dengan penginduksi siklofosfamid
Pengujian aktivitas antimutagenik menggunakan metode
uji mikronukleus
(3)
dengan modifikasi. Perlakuan diberikan dua
kali sesuai dengan cara Ghaskadbi dkk.
(5)
Mencit dipuasakan dahulu selama kurang lebih 18 jam.
Setelah pemberian suspensi fraksi butanol secara oral (sebagai
kontrol diberikan suspensi PGA tanpa fraksi butanol), siklo-
fosfamid (50 mg/kg bb., i.p.) disuntikkan pada mencit 30 menit
kemudian. Setelah 24 jam mencit diberi lagi suspensi fraksi
butanol dan siklofosfamid dengan dosis yang sama. Enam jam
setelah pemberian siklofosfamid yang kedua, mencit dibunuh
dengan cara dislokasi leher dan dibedah untuk diambil kedua
tulang pahanya.
Sumsum tulang diaspirasi dengan semprit yang berisi NaCl
fisiologis, selanjutnya disentrifugasi pada kecepatan 1000 rpm
selama sepuluh menit. Sebagian supernatan yang dihasilkan di-
buang dengan menggunakan pipet pasteur, sisanya dibuat pre-
parat apusan pada kaca objek yang kemudian dikeringkan
selama dua hari pada suhu kamar.
Preparat ini diwarnai dengan pewarna Giemsa menurut
cara Gollapudi & Kamra (1979)
(13)
. Dari preparat tersebut
diamati jumlah sel eritrosit polikromatik bermikronukleus
(MNPCE) di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000 kali,
untuk setiap 1000 sel eritrosit polikromatik (PCE). Penghitung-
an dilakukan oleh dua orang dan setiap kelompok perlakuan
menggunakan lima ekor mencit.
Data dianalisis dengan analisis variansi, dan sebaran t-
Student untuk menguji perbedaan antara dua rata-rata.
Uji NBT - sistim xantin/xantin oksidase
Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode
Nitroblue Tetrazolium (NBT) dengan kit pereaksi SOD seperti
yang telah dilakukan oleh Murakami dkk. (1996). Kit tersebut
mengandung lima pereaksi (Rl-R5). Rl mengandung buffer
fosfat 0,1 M dengan pH 8, xantin 0,40 mmol/1 dan zat pem-
bentuk warna nitroblue tetrazolium (NBT) dengan kadar 0,24
mmol/l. R2 mengandung enzim xantin oksidase 0,049 unit/ml.
R3 mengandung buffer fosfat 0,1 M dengan pH 8 yang
digunakan untuk melarutkan enzim. R4 merupakan pereaksi
kontrol yang mengandung buffer fosfat 0,1 M pH 8. Sedangkap
R5 adalah penghenti reaksi yang mengandung natrium dodesil
sulfat 69 mmol/1.
Fraksi butanol dibuat sebagai larutan persediaan (LP)
dengan konsentrasi 16 dan 32 mg/ml. Enzim dalam R2 diencer-
kan dengan R3 dengan perbandingan 1:100 (RE). Disediakan
empat kelompok tabung Effendorf (TI - T4) dan dilakukan
prosedur pengujian sebagai berikut, pada suhu di bawah 10
°C.
T1 (sampel) diisi 12,5 ml LP, 250 ml R1, dan 250 ml RE. 72
(blanko) diisi 12,5 ml DMSO, 250 ml R1, dan 250ml RE. T3
(sampel-blanko) diisi 12,5 ml LP, 250 ml R1, dan 250 ml R4.
T4 (blanko-blanko) diisi 12,5 ml DMSO, 250 ml R1, dan 250
ml R4. Keempat tabung Effendorf tersebut serta R5 diinkubasi
pada penangas air dengan suhu 37 °C selama 20 menit. Kemu-
dian dilakukan pengukuran serapan cahaya dengan spektro-
fotometer pada panjang gelombang 560 nm. Pengujian tersebut
dilakukan tiga kali.
Data dinilai dengan menggunakan rumus persen peng-
hambatan reduksi NBT.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Efek fraksi butanol daun puspa terhadap frekuensi
MNPCE
Seperti terlihat pada Tabel l atau Gambar 1, rata-rata
frekuensi MNPCE permil PCE pada kontrol, fraksi butanol
dosis 300 dan 600 mg/kg masing-masing adalah 74,2
± 13,08;
66,4 ± 13,20; dan 45,8
± 13,66. Dengan demikian pemberian
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 19
fraksi butanol daun puspa dosis 300 dan 600 mg/kg masing-
masing memberikan penurunan frekuensi MNPCE sebesar
10,51% dibandingkan. terhadap kontrol. Dari hasil analisis
statistik, dosis 600 mg/kg memberikan efek yang signifikan
(p<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa fraksi butanol daun
puspa dapat menghambat efek mutagenik dari siklofosfamid.
Tabel 1. Nilai rata-rata sel eritrosit polikromatik yang mengandung
mikronukleus (MNPCE) untuk seluruh kelompok perlakuan.
Perlakuan Dosis PCE
MNPCE
MNPCE permil
PCE
Rata-rata
± SD
Kontrol
-
000
371
74,2
± 13,08
Fraksi butanol
300
5000
332
66,4
± 13,20
Fraksi butanol
600
5000
229
45,8
± 13,66*
* Signifikan, dibandingkan terhadap kontrol (p<0,05)
Tabel 2. Nilai penghambatan reduksi NBT pada pengujian aktivittis
antioksidan berdasarkan serapan cahaya (A) rata-rata dari
blanko (B1), blanko-blanko (B1-B1), sampel (S), dan sampel-
blanko (S-B1) pada panjang gelombang (
) 560 nm.
Serapan cahaya rata-rata
pada 1560 nm
Konsentrasi fraksi
butanol (
µg/ml)
A
B1
A
B1-B1
A
S
A
S-B1
Persentase
penghambatan
reduksi NBT
200
0,2840
0,1117
0,217
0,1630
68,66%
400 0,2840
0,1117
0,1647
0,1550
94,37%
Gambar 1. Grafik nilai rata-rata frekuensi sel eritrosit polikromatik ber-
mikronukleus (MNPCE) untuk seluruh kelompok perlakuan
pada pengujian aktivitas antimutagenik. (*Signifikan, diban-
dingkan terhadap kontrol (P<0,05)
Menurut Czyzewska & Mazur (1995)
(15)
siklofosfamid
menginduksi pembentukan mikronukleus melalui metabolit
aktifnya yang bersifat pengalkilasi, yaitu mustard fosforamida,
akrolein, dan 4-hidroksisiklofosfamid. Senyawa pengalkilasi
tersebut dapat berikatan dengan berbagai gugus fungsi kom-
ponen sel, termasuk terhadap basa-basa DNA. Selain itu dapat
juga terjadi peristiwa pindah silang (cross-linkung) DNA.
Reaksi reaksi tersebut antara lain mengakibatkan patahan rantai
DNA yang diduga menyebabkan terjadinya patahan kromosom
dan dapat terlihat sebagai mikronukleus. Metabolisme siklo-
fosfamid juga dilaporkan menyebabkan peningkatan radikal
anion superoksida dan hidroksil
(16)
yang mungkin ikut berperan
dalam menginduksi pembentukan mikronukleus. Senyawa aktif
antimutagenik yang terdapat pada fraksi butanol daun puspa ini
belum diketahui secara pasti, diduga termasuk ke dalam se-
nyawa fenolik yang mekanisme aktivitas antimutageniknya
mungkin berkaitan dengan aktivitas antioksidan
(12)
.
Gambar 2. Grafik nilai penghambatan reduksi NBT pada pengujian
aktivitas antioksidan.
Efek fraksi butanol daun puspa terhadap reduksi NBT
Seperti terlihat pada Tabel 2 atau Gambar 2, fraksi
butanol daun puspa pada konsentrasi 200 dan 400 mg/ml mem-
punyai nilai persentase penghambatan reduksi NBT oleh super-
oksida dari reaksi enzimatis xantin dengan bantuan xantin
oksidase masing-masing sebesar 68,66° dan 94,37%. Hasil ini
menunjukkan bahwa fraksi butanol daun puspa mempunyai
aktivitas antioksidan seperti superoksida dismutase (SOD).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengujian mikronukleus secara in vivo
dan pengujian NBT secara in vitro, diambil kesimpulan bahwa
fraksi butanol daun puspa mempunyai aktivitas antimutagenik
dan antioksidan.
KEPUSTAKAAN
1. Moutschen, J. Introduction to Genetic Toxicology. New York : John
Wiley & Son; 1985.
2. Mulyadi. Kanker, Karsinogen, Karsinogenesis dan Antikanker. Edisi I.
Yogyakarta: PT. Tiara Wacana; 1996.
3.
Schmid, W. The micronucleus test. Mutation Res. 1975; 31, 9-15.
4.
Wild, D. Cytogenetic effects in the mouse of 17 chemical mutagens and
carcinogens evaluated by the micronucleus test 1978; 56 : 319-27.
5. Ghaskadbi, S., Rajmachikar S, Agate C, Kapadi AH., Vaidya VG.
Modulation of cyclophosphamide mutagenicity by vitamin C in the vivo
rodent micronucleus assay. Teratogenesis, Carcinog. Mutagen 1992; 12,
11-3.
6.
Kong Z, Liu Z, Ding B. Study on the antimutagenic effect of pine needle
extract. Mutation Res. 1995; 347, 101-4.7.
7. Halliwell B. Free radicals, antioxidants, and human disease : curiosity,
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000
20
cause, or consequence? Lancet, 1994; 344 : 721-4
13. Gollapudi B, Kamra OP. Application of a simple Giemsa-staining method
in the micronucleus test. Mutation Res. 1979; 64, 45-6.
8. Shiraki M, Hara Y, Osawa T, Kumon H, Nakayama T, Kawakishi S.
Antioxidative and antimutagenic effect of theaflavin from black tea.
Mutation Res. 1994; 323 ; 29-34.
14. Murakami A, Ohura S, Nakamura Y, Koshimizu K, Ohigashi H. I'-
acetoxychawicol acetate, a superoxide anion generation inhibitor,
potently inhibits tumor promotion by 12-O-tetradecanoylphorbol - 13
-acetate in ICR mouse skin. Omcology 1996; 53 : 389-91.
9. Rompelberg CJM, Stenhuis WH, de Vogel N, van Osenbruggen WA,
Schouten A, Verhagen H. Antimutagenicity of eugenol in the rodent bone
marrow micromucleus test. Mutation Res. 1995; 346 : 69-75.
15. Czyzewska A, Mazur L. Supressing effect or WR-2721 on micronuclei
induced by cyclophosphamide in mice. Teratogenesis, Carcinog. Mutagen
1995; 15 : 109-14.
10. Heyne K. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid III. Jakarta: Yayasan
Sarana Wana Jaya. 1987; 1367.
11. Koshimizu K, Murakami A. Hayashi H,Ohigashi H, Subarnas A,
Gurmaya KJ, Ali AM. Biological activities of edible and medicinal plant
from Indonesia and Malaysia 1998; submission,to publication.
16. Ramu K, Perry CS, Ahmed T, Pakenham G, Kehrer JP. Studies on the
basis for the toxicity of acrolein mercapturates. Toxicol. Appl.
Pharmacol, 1996; 140 : 487-98.
12. Pramana N. Aktivitas Antimutagenik Ekstrak Metanol Daun Puspa
(Schima wallicihii Korth.) dan Fraksi-fraksinya dengan uji Mikronukleus
pada Tikus Wistar. Skripsi. Jurusan Farmasi FMIPA Universitas
Padjadjaran Bandung 1998.
17. Wagner H, Lacaille-Dubois MA. Recent pharmacological results on
bioflavonoids. In S. Antus, M. Gabor & K. Vetschera (Eds) : Flavonoids
and bioflavonoids. Vienna : 9
th
Hungarian Bioflavonoids Symposium
1995; 53-7.
70% terumbu karang di Indonesia rusak
-
40% rusak berat.
Tinggal sekitar 7% yang masih sangat bagus.
Semua karena :
- ketidak tahuan manusia dan
- kerakusan ulah manusia !
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 21