ULASAN
Aktivitas Antimikroba Plasma
Semen
Rochman Na'im
Jurusan Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan
Institut Pertanian Bogoi Bogor
PENDAHULUAN
Plasma semen merupakan kombinasi sekresi semua kelenjar
asesori kelamin, sebagian besar berasal dari prostat (13-33%)
dan vesika seminalis (46-80%), sedangkan sisanya berasal dari
kelenjar bulbouretralis Cowper, uretra1 Litter dan cairan ampulla
serta epididimis
(1)
.
Plasma semen selain memiliki fungsi fisiologis (sebagai
pembawa spermatozoa), juga memiliki aktivitas antimikroba.
Dibandingkan dengan fungsi fisiologisnya, aktivitas antimikroba
dan plasma semen relatif masih belum diketahui dengan baik.
Lebih dari 80% sampel semen telah menghambat pertumbuhan
bakteri Staphylococcus aureus. Daya hambat tersebut tidak
tergantung pada konsentrasi spermatozoa yang dibawa, apa-
kah azoospermia (ketiadaan spermatozoa dalam semen),
oligospermia (spermatozoa dalam jumlah di bawah normal) atau
normospermia (jumlah spermatozoa norma1)
(2)
. Substansi yang
diduga bertanggungjawab terhadap aktivitas antimikroba semen
adalah senyawa amin (spermine) dan protein (seminalplasmin).
SENYAWA AMIN
Sekret kelenjar prostat merupakan salah satu sumber poli-
amin paling banyak dan plasma semen. Sekret kelenjar prostat
hewan anjing memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan
Staphylococcus aureus, Staphylococcus albus, Escherichia coli,
Bacillus aureus, Neisseria meningitidis, Neisseria gonorrhoeae,
Micrococcus lysodeikticus, Streptococcus faecalis, Aerobacter
aerogenes, Shigellaflexneri dan Salmonella typhimurium
(3-6)
.
Faktor aktivitas antimikroba dalam semen ada dua, yaitu
faktor yang tahan panas dan faktor tidak tahan panas. Bila
semen dan sekret prostat manusia dipanaskan sampai 100°C
selama 30 menit, maka aktivitas antimikrobanya terhadap
Micrococcus lysodeikticus akan hilang tetapi tidak terhadap
mikroorganisme yang lain
(5)
. Aktivitas tersebutjuga akan hilang
bila semen dan sekret prostat didialisis. Proses tersebut me-
nunjukkan bahwa faktor-faktor yang aktif menghambat per-
tumbuhan bakteri memiliki berat molekul yang rendah
(3)
.
Spermine memiliki aktivitas antimikroba terhadap S. albus,
S. aureus, E. coli, Lactobacillus casei, Bacillus anthracis, S.
flexneri, Corynebacterium hofmanii, Streptococcus hemolyticus,
N. gonorrhoeae, N. meningitidis, dan berbagai spesies Saccha-
romyces, Debaryomyces dan Rhodotorula
(7)
.
Daya hambat optimum spermin tercapai dalam suasana
alkalis. Sebaliknya akan menurun pada beberapa kondisi
temperatur rendah (6°C), adanya garam-garam inorganik, asam-
asam nukleat dan lesitin
(7)
.
Spermine juga menghambat multiplikasi bakteriofag dengan
cara mencegah perlekatannya pada sel host atau berinteraksi
dengan DNA-fag. Pertumbuhan sel-sel kanker pada hewan per-
cobaan mencit juga dapat dihambat oleh spermine dan amine
oksidase
(8)
. Diduga faktor aktif yang menghambat sel kanker
tersebut adalah produk oksidasi dan spermine
(9)
. Produk oksidasi
yang sama juga menghambat pertumbuhan Mycobacterium
tuberculosis, Trypanosoma equiperdum, S. aureus dan E. coli
(10)
.
Keadaan ini memungkinkan produk oksidasi yang terbentuk
melalui proses metabolisme bakteri menjadi faktor yang ber-
tanggungjawab terhadap sifat bakterisidal.
PROTEIN SEMEN
Seminalplasmin merupakan protein semen yang dikonfir-
masikan sebagai agen antimikroba. Seminalplasmin sapi telah
diketahui menghambat sintesis RNA pada spermatozoa segera
setelah kontak, tetapi pengaruhnya terhadap sintesis protein
tidak terlihat. Protein ini menghambat pertumbuhan berbagai
mikroorganisme, yaitu E. coli B, E. coli K 12, E. coli 160.37,
Enterobacter aerogenes, Streptococcus faecalis, Cryptococcus
neoformans, Salmonella lyphimurium, Candida albicans 1, Can-
dida albicans clin, Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus,
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996 19
Saccharomyces cerevisiae SM 202, S. cerevisiae YV 1160, Pro-
teus vulgaris dan Pseudomonas aeruginosa
(11,12)
.
Proses pembunuhan E. coli oleh seminalplasmin berlang-
sung selama 3-8 jam dan laju pembunuhan mikroorganisme
tergantung pada konsentrasi seminalplasmin. Dalam konsentrasi
yang tinggi seminalplasmin berfungsi sebagai bakteriosida dan
pada konsentrasi rendah sebagai bakteriostatika
(13,14)
.
Tabel 1. Pengaruh Seminaiplasmin pada Pertumbuhan Berbagai Mikro
organisme
Jenis. Mikroorganisme
Pengaruh Seminalplasmin pada
Pertumbuhan
E. coli B
E. coli K12
E. coli 160.37
Enterobacter aemgenes
Streptococcus
.
faecalis
Cryptococcus negformans
Salmonella typhimurium
Candida albicans I
Candida albicans clin
Bacillus subtilis
Staphylococcus aureus
Sacchammyces cerevisiae SM 202
S. cerevisiae YV 1160
Proteus vulgaris
Pseudomonas aeruginosa
Penghambatan (25-40; 100)'
1
Penghambatan (25-40; 100)
Penghambatan (40; 100)
Penghambatan
Penghambatan (100; 100)
Penghambatan (25; 100)
Penghambatan (100; 100)
Penghambatan (40; 99)
Penghambatan (100; 99)
Penghambatan (20; 100)
Penghambatan (20; 100)
Penghambatan (240; 100)
Penghambatan (14; 100)
Penghambatan (5; 100)
Penghambatan (20; 100)
Keterangan:
*) Nilai pertama menunjukkan konsentrasi seminalplasmin (ug per ml kultur
bakteri); nilai kedua menunjukkan persentase penghambatan pertumbuh-
an bakteri pada konsentrasi seminalplasmin tersebut (nilai pertama)
KEPUSTAKAAN
1. Polakoski et al. Biochemistry of Human Seminal Plasma. In: Human Se-
men and Fertility Regulation in Men (Ed): ESE Hafez. 1976.
2. Rozansky R, Gurevitch J, Brezezinsky A, Eckerling B. J. Lab. Clin. Med.
1949; 34: 1526-1529.
3. Gupta SN, Perkash I, Agarwal SC, Anand SS. Invest. Urol. 1967(5): 219-
222.
4. Gurevitch J, Rozansky R, Weber D, Brezezinsky A, Eckerling B. Am. J.
Clin. Pada. 1954(4): 360-365.
5. Taylor PW, Morgan HR. Surg. Gyn. Obstet. 1952(94): 662-668.
6. Youmans GP, Liebling J, and Lyman RY. J. Infect. Dis. 1938(63): 117-
121.
7. Tabor H, Tabor CW, Rosenthal SM. Annu. Rev. Biochme. 1961(30): 579-
604.
8. Bachrach U. Annu. Rev. Microbiol. 1970(24): 109-134.
9. Boyland B. Biochem. J. 1941(35): 1283-1288.
10. Hirsch JO. J. Expt. Med. 1953(97): 327-344.
11. Prasad KSN, Bhargava PM. md. J. Biochem. Biophys. 1982(19): 75-85.
12. Rao VN, Reddy ESP, Torriani A, Bhargava PM. FEBS Lett. 1983(152): 6-
10.
13. Reddy ESP, Das MR, Reddy EP, Bhargava PM. Biochem. J. 1983(209):
183- 188.
14. Sheit KH, Reddy ESP, Bhargava PM. Nature 1979(279): 728-731.
English Summary
(Sambungan dari halaman 4)
(ETL), PSDL of Japan, where NPL
dosimeter was calibrated, pro-
vides exposure calibration factor
(N
x
) for NPL dosimeter in the
range photon energies from 50
kV until Co-60 beams, but
without Cs-137 beams. Calibra-
lion factor of Cs- 137 beams was
obtained by applying a linear in-
terpolalion method corrected for
attenuation originated from wall
and build-up cap detector.
Equalions to be used to calculate
calibration factor of Cs-137
beams for several radiotherapy
ionization chamber are pre-
sented in this paper.
Cermin Dunia Kedokt. 1996; 112:57-9
St
A thing is not bad if we understand it well
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
20