background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Vitamin A untuk Bayi Berat Lahir
Sangat Rendah (BBLSR)
Bambang Surif *, JS Lisal **
*Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin/
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar
**Bagian Ilmu Kesehatan Anak (Subdivisi Gizi) Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin/
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar
ABSTRAK
Bayi prematur terutama bayi berat lahir sangat rendah membutuhkan dukungan
nutrisi yang spesifik. Vitamin A pada bayi dengan berat lahir sangat rendah sangat
diperlukan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat bronchopulmonary
dysplasia (BPD).
PENDAHULUAN
Bayi prematur membutuhkan dukungan nutrisi yang
khusus oleh karena derajat imaturitas biokimianya yang tinggi,
laju pertumbuhan yang cepat dan dapat terjadi insidens kom-
plikasi medik yang lebih besar. The Committee on Nutrition of
the Academy of Pediatrics (dikutip dari 1) merekomendasikan
diit optimal bayi prematur sebagai diit yang mendukung kece-
patan pertumbuhan sesuai dengan pertumbuhan intrauterina
tanpa mengadakan stres pada fungsi metabolik dan ekskresi.
Beberapa faktor penting yang menentukan kebutuhan
vitamin pada bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) adalah
(a) masa gestasi, yang berhubungan dengan transfer plasenta
dan peyimpanan vitamin tubuh pada saat lahir, (b) vitamin
yang terkandung dalam makanan (ASI atau susu formula) yang
diberikan pada BBLSR, dan (c) volume dan komposisi makro-
nutrien yang terdapat dalam makanannya
(2)
.
Vitamin A adalah vitamin larut dalam lemak yang dikenal
sejak 1912 sebagai suatu zat esensial yang diperlukan untuk
peningkatan pertumbuhan. Vitamin A campuran (retinoid) ter-
dapat dalam 3 bentuk alami, yaitu: retinol, retinaldehide dan
asam retinoat. Retinol (vitamin A alkohol) adalah komponen
diit yang ada dalam bentuk retinil ester dari sumber makanan
hewani dan juga dibentuk in vivo dari prekursornya yaitu beta
karoten yang ada dalam sumber makanan nabati. Retinil ester
merupakan turunan dari proses esterifikasi retinol. Retinal-
dehide yang biasa disebut juga retinal merupakan turunan dari
proses reversibel oksidasi retinol dan bila dikombinasi dengan
berbagai lipoprotein membentuk pigmen visual retina. Sedang-
kan asam retinoat bisa dihasilkan dari proses oksidasi irever-
sibel retinaldehide dalam jaringan
(3)
.
Makalah ini akan membahas berbagai aspek vitamin A
pada BBLSR.
FISIOLOGI
Vitamin A intrauterina
Vitamin A ditransfer dari ibu ke fetus terutama pada masa
gestasi lanjut. Pada masa gestasi awal, vitamin A fetus ditrans-
fer dari ibu transplasenter dalam bentuk kompleks retinol-
Retinol Binding Protein (RBP). Sedangkan pada masa gestasi
lanjut, RBP disintesis dalam hati fetus yang turut berperan
dalam ekstraksi vitamin A dari sirkulasi plasenta. Sumber-sum-
ber lain vitamin A fetus juga berasal dari cairan amnion yang
tertelan dan transfer lipoprotein ibu yang berisi retinil ester.
Mekanisme transfer plasenta ini masih belum jelas.
Rasio konsentrasi vitamin A plasma ibu terhadap plasma
fetus pada keadaan kehamilan normal sekitar 2:1. Pada keadaan
vitamin A plasma ibu menurun atau berkurang, konsentrasi
vitamin A plasma fetus tetap normal bahkan dapat melebihi
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002
14
background image
konsentrasi pada ibu. Pada pemberian vitamin A pada ibu,
konsentrasi vitamin A fetus tetap seperti sebelum pemberian
vitamin A. Mekanisme homeostasis ini sampai sekarang belum
jelas.
Absorpsi
Retinil ester dari makanan akan diproses melalui mekanis-
me yang kompleks termasuk dispersi dan emulsifikasi retinil
ester di lambung, diikuti oleh proses hidrolisis dilumen usus
oleh enzim pankreas dan enzim-enzim lainnya serta solubilisasi
retinol ( yang merupakan hasil hidrolisis retinil ester ) dengan
garam empedu. Retinil dalam sel mukosa sebagian besar
diesterifikasi ulang dengan asam lemak rantai panjang. Retinil
ester kemudian disatukan bersama lemak-lemak yang lain dan
apolipoprotein ke dalam partikel kilomikron. Kilomikron
kemudian disekresi oleh sel mukosa usus ke dalam sinus-sinus
lakteal dan masuk ke dalam sistim limfatik melalui duktus
torasikus, selanjutnya diambil dari sirkulasi oleh hati.
Penyimpanan
Sebanyak + 90% dari seluruh vitamin A tubuh disimpan
dalam hati. Pada penelitian yang dilakukan terhadap 25 bayi
prematur yang meninggal dalam 24 jam setelah lahir, didapat-
kan konsentrasi rata-rata vitamin A hati 30 + 13
µg/g (ren-
tangan 2-49
µg/g ). Terdapat persentase yang tinggi (76%)
bayi-bayi prematur pada penelitian ini yang mempunyai
konsentrasi vitamin A hati yang kurang dari 40
µg/g, sementara
sekitar 37% dari bayi-bayi ini mempunyai konsentrasi vitamin
A kurang dari 20
µg/g. Penelitian ini memperlihatkan bahwa
bayi prematur mempunyai simpanan vitamin A dalam hati yang
rendah pada saat kelahiran.
Selain hati, organ lain yang juga merupakan tempat pe-
nyimpanan vitamin A adalah paru-paru. Penyimpanan vitamin
A dimulai pada trimester terakhir kehamilan
(3,5)
.
Metabolisme
Vitamin A didistribusikan ke jaringan dalam bentuk kom-
pleks retinol-RBP yang terikat dengan prealbumin. Peng-
ambilan vitamin A sel tergantung dari adanya reseptor mem-
bran spesifik yang mengenal RBP. Setelah pengangkutan
vitamin A ke membran plasma, RBP kembali ke sirkulasi dan
sebagian dieliminasi oleh ginjal dan sebagian lagi digunakan
kembali untuk pengangkutan vitamin A. Mekanisme yang me-
libatkan prealbumin belum diketahui.
Perpindahan vitamin A dalam sel jaringan melibatkan dua
jenis protein pengikat vitamin A intrasel, yaitu celluler retinol-
binding protein (CRBP) dan celluler retinoic acid-binding
protein (CRBP). CRBP memainkan peran dalam transfer reti-
nol dari membran plasma ke tempat pengikatan spesifik untuk
retinol dalam inti pada beberapa komponen kromatin. CRBP
mungkin terlibat dalam interaksi asam retinoat dalam inti sel.
Mekanisme yang tepat dimana retinol dan asam retinoat mem-
pengaruhi metabolisme inti sel, regulasi penampakan genom
dan induksi diferensiasi jaringan masih dalam penyelidikan.
Ekskresi
Tidak ada tanda-tanda spesifik defisiensi vitamin A pada
bayi seperti buta senja, kornea kering, dermatitis folikularis dan
lain-lain. Pada prinsipnya, konsentrasi serum retinol <0,35
µg/g
umumnya dikatakan sebagai indikator adanya defisiensi
vitamin A, meskipun hubungan langsung konsentrasi retinol
hati dan serum tidak selalu ada
(4)
.
Vitamin A memainkan peranan penting dalam diferensiasi
dan pemulihan sel epitel jalan napas
(3,4,5)
. Defisiensi vitamin A
akan menyebabkan perubahan progresif epitel jalan napas.
Perubahan-perubahan ini termasuk necrotizing tracheobron-
chitis pada stadium awal defisiensi dan metaplasia skuamosa
pada stadium lanjut. Perubahan patofisiologi ini akan menye-
babkan: (a) kehilangan sekresi normal sel goblet dan sel
sekretori yang lain, (b) kehilangan homeostasis air normal yang
melewati epitel trakeobronkial, (c) kehilangan silia yang me-
rupakan predisposisi terjadinya atelektasis rekuren dan infeksi
jalan napas, dan (d) penyempitan lumen dan kehilangan
distensibilitas jalan napas yang akan mengakibatkan pening-
katan resistensi jalan napas
(3)
.
Bayi prematur yang rentan terhadap penyakit paru akut,
subakut dan kronik mempunyai risiko terhadap penyakit paru
yang disebut bronchopulmonary dysplasia (BPD). Diagnosis
BPD berdasarkan kebutuhan suplementasi oksigen, gejala-
gejala respiratorik dan gambaran radiologik abnormal paru
yang khas yang menetap sampai setelah 28 hari sesudah lahir.
Meskipun bentuk defisiensi yang sebenarnya tidak dikenal
secara klinik, BBLSR dengan insufisiensi pernapasan berat dan
atau BPD mempunyai konsentrasi retinol plasma yang sangat
rendah
(1,2,3)
. Tabel 1 memperlihatkan vitamin A plasma dan
retinol binding protein (RBP) pada bayi-bayi baru lahir
(3)
.
Table 1. Plasma vitamin A and Retinol ­ Binding Protein (RBP) at Birth
in Neonates
(3)
Group
Gestation
(weeks)
Birthweight
(g)
Vitamin A
(
µg/dl [µmol/L)
RBP mg/dl
[
µmol/L)
Term
23.9+10.2.2 *
3.6 + 1.1 *
(n = 32 )
37 - 42
2,600 - 4,080
[ 0.84 + 0.36 ]
[ 1.72 + 0.53 ]
Preterm
16.0 + 6.2
2.8 + 1.2
(n = 36 )
24 - 36
570 - 2,640
[0.56 + 0.22]
[1.34 + 0.57]
p
< 0.001
< 0.001
Keterangan: * Rata-rata
±
SD.
KEBUTUHAN VITAMIN A
Oleh karena cadangan yang sedikit pada waktu lahir,
BBLSR dengan pertumbuhan yang cepat membutuhkan jumlah
vitamin A lebih banyak dibanding dengan bayi cukup bulan
untuk menjamin penyimpanan yang adekuat dalam jaringan.
Tabel 2
(1)
memperlihatkan kebutuhan nutrisi sehari untuk
BBLSR dengan mengutamakan cara pemberian (enteral atau
parenteral). Terdapat dua perbedaan besar pada pemberian
vitamin parenteral dibandingkan enteral, yaitu: (a) dengan cara
intravena, infus berkesinambungan dan (b) tidak melewati hati.
Hal ini dapat meningkatkan pengeluaran beberapa vitamin
melalui ginjal, yang disatu pihak dapat mengurangi resiko
keracunan tapi di pihak lain dapat mengubah kapasitas tempat
penyimpanan hati dan biotransformasi vitamin
(2)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002 15
background image
Nutrisi parenteral diindikasikan untuk dukungan nutrisi
awal pada semua BBLSR dan akan dilanjutkan sampai pem-
berian enteral dapat melengkapi kekurangan untuk mening-
katkan pencapaian berat
(1)
.
Table 2. Nutritional requirements for premature infants weighing fewer
than 1.000 g.
Ingredient (unit/day)
Enteral
Parenteral
Water (ml/kg)
(1)
150 - 200
120 -150
Energy (kcal/kg)
(2)
110 - 130
90 - 100
Protein (gr/kg)
(3)
3 - 3.8
2.5 - 3.5
Carbohydrates (g/kg)
8 - 12
10 - 15
Fat (g/kg)
3 - 4
2 - 3.5
Sodium (mEq/kg)
2 - 4
2 - 3.5
Chloride (mEq/kg)
2 - 4
2 - 3.5
Potassium (mEq/kg)
2 - 3
2 ­ 3
Calcium (mEq/kg)
(4)
120 - 230
60 ­90
Phosphorus ( mEq/kg)
60 - 140
40 ­ 70
Magnesium (mEq/kg)
8 - 15
5 ­ 7
Iron (mg/kg)
(5)
2 - 4
0.1 - 0.2
Vitamin A (U)
(6)
700 - 1500
700 ­ 1500
Vitamin D (U)
400
40 ­ 160
Vitamin E (U)
(7)
6 - 12
2 ­ 4
Vitamin K (mcg)
7 - 9
6 ­ 10
Vitamin C (mg)
20 - 60
35 ­ 50
Vitamin B1 (mg)
0.2 - 0.7
0.3 - 0.8
Vitamin B2 (mg)
0.3 - 0.8
0.4 - 0.9
Vitamin B6 (mg)
0.3 - 0.7
0.3 - 0.7
Vitamin B12 (mg)
0.3 - 0.7
0.3 - 0.7
Niacin (mg)
5 - 12
5 ­ 12
Folate (mcg)
(8)
50
40 ­ 90
Biotin (mcg)
6 - 20
6 ­ 13
Zinc (mcg/kg)
800 - 1000
400
Copper (mcg/kg)
100 - 150
20
Selenium (mcg/kg)
(9)
1.3 - 3
1.5 ­ 2
Chromium (mcg/kg)
0.7 - 75
0.2
Manganese (mcg/kg)
10 - 20
1
Molybdenum (mcg/kg)
0.3
0.25
Iodine (mcg/kg)
30 - 60
1
Kebutuhan vitamin A yang direkomendasikan bersama
dengan beberapa nutrisi lain diperlihatkan pada tabel 2
(1)
.
RINGKASAN
Beberapa aspek vitamin A termasuk transpor vitamin A
intrauterin, absorpsi, penyimpanan, metabolisme, ekskresi,
defisiensi dan kebutuhan vitamin A pada BBLSR telah diurai-
kan secara singkat.
Terdapat hubungan erat antara vitamin A dan broncho-
pulmonary dysplasia (BPD) pada bayi berat lahir sangat rendah
(BBLSR) - pemberian vitamin A pada BBLSR dapat menurun-
kan insidens BPD.
KEPUSTAKAAN
1.
Pereira GR. Nutritional care of the extremely premature infant. In: Pereira
GR, Georgieff MK, Eds. Clinics in perinatology. Philadelphia, London,
Toronto: WB Saunders Co,1995; 22:61-73.
2.
Specker BL, DeMarini S, Tsang RC. Vitamin and mineral
supplementation. In: Sinclair JC, Bracken MB, Eds. Effective care of the
newborn infant; Oxford, New York, Tokyo: Oxford University Press,
1992; 161-2.
Keterangan:
1.
For immediate postnatal initiation of fluid therapy.
2.
Adjust according to weight grain and stress factors.
3.
Shenai JP. Vitamin A. In: Tsang RC, Lucas A, Uauy R, Zlotkin S, Eds.
Nutritional dees of the preterm infant; Baltimore, Hongkong, London:
Williams & wilkins, 1986; 87-97.
3.
Requirements increase with increasing degree of prematurity.
4.
Inadequate amount in total parenteral notrition solutions becaue of risk of
precipitation.
4.
Orzalesi M, Lucchini R. Vitamins for very low birthweight infants. In:
Salle BL, Swyer PR, Eds. Nutrition of the low birthweight infant; New
York: Nestle nutrition workshop series, 1993; 32:153-63.
5.
Initiate at 2 weeks of age. Higher values recomended for erythropoietin
therapy.
6.
Supplementation might reduce incidence of bronchopulmonary dysplasia.
5.
Wahlig TM, Georgieff MK. The effects of illness on neonatal metabolism
and nutritional management. In: Pereira GR, Georgieff MK, Eds. Clinics
in perinatology; Philadelphia, London, Toronto: WB Saunders Co, 1995;
22:77-93.
7.
Supplementation might reduce severity of retinopathy of prematurity.
8.
Not present in oral multivitamin supplement.
9.
Not present in standard trace element solution for neonates.
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002
16