TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Peranan Faktor-Faktor
Hemodinamik dan Non Hemodinamik
Dalam Mekanisme Patogenik
Hipertrofi Ventrikel Kiri
William Sanjaya, Sunarya Soerianata
Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia / Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta
ABSTRAK
Beberapa bukti terakhir mengungkapkan bahwa beban hemodinamik merupakan
stimulus fundamental untuk memulai kejadian biologis yang menuju ke arah hipertrofi
ventrikel kiri. Genotip, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan faktor lingkungan juga terlibat
dalam perubahan molekular untuk penambahan massa ventrikel kiri. Nilai massa
ventrikel kiri yang tidak sesuai untuk jenis kelamin, ukuran tubuh, dan beban hemo-
dinamik individual berhubungan dengan fenotip resiko kardiovaskular yang tinggi.
Kondisi massa ventrikular yang besar dan tidak sesuai dapat dikenal dari tahap lanjut
perubahan struktur patologis yang mula-mula diinduksi oleh kelebihan beban sampai
melampaui ambang kompensasi. Proses biologis yang menghasilkan massa ventrikel
kiri yang tidak sesuai berhubungan dengan aktifitas berkepanjangan mediator biologi
seperti protoonkogen, faktor pertumbuhan yang lain, neurohormon, dan sitokin.
Kata Kunci : hipertrofi hemodinamik mediator biologi protoonkogen
neurohormon sitokin
PENDAHULUAN
Hipertrofi ventrikel kiri merupakan faktor risiko yang kuat
terhadap berbagai komplikasi penyakit kardiovaskuler yang
meliputi angina pektoris, infark miokard, stroke, gagal jantung
kongestif, dan kematian mendadak;
sedangkan penyebab ter-
sering hipertrofi ventrikel kiri di dalam populasi umum adalah
hipertensi.
1
Hipertrofi otot jantung merupakan suatu bentuk
penyesuaian menahun ventrikel kiri terhadap meningkatnya
beban jantung, baik beban tekanan maupun beban volume, atau
sebagai hasil dari pengaruh faktor-faktor neurohumoral seperti
peningkatan sirkulasi katekolamin, peningkatan konduksi saraf
simpatetik jantung, aktivasi sistem renin-angiotensin-
aldosteron, meningkatnya kadar hormon tiroksin dan per-
tumbuhan.
1,2
Hipertrofi ini meliputi peningkatan volume miosit
jantung karena perubahan diameter, panjang dan volume. Hal-
hal yang berhubungan dengan massa ventrikel kiri meliputi
umur, tekanan darah, penyakit jantung koroner, dan katup,
merokok dan ukuran tubuh. Dalam studi Framingham didapat-
kan bahwa prevalensi hipertrofi ventrikel kiri meningkat sesuai
dengan umur.
1
Hipertrofi dan gagal jantung merupakan kelain-
an kompleks yang melibatkan faktor-faktor genetik, fisiologis,
dan lingkungan.
3
Faktor hemodinamik dalam patogenesis hipertrofi
ventrikel kiri
Saat menghadapi beban hemodinamik, jantung melakukan
kompensasi menggunakan mekanisme Frank-Starling untuk
meningkatkan pembentukan jembatan silang, meningkatkan
massa otot untuk menghadapi beban tambahan, dan mengguna-
kan mekanisme neurohormonal untuk meningkatkan kontrak-
tilitas.
4
Sesuai dengan hukum LaPlace bahwa beban pada semua
bagian otot jantung = (tekanan x jari-jari) / (2 x tebal dinding),
maka beban tekanan pada otot jantung yang menetap dan
Dibacakan pada Dies Natalis Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran ke-
44, 15 September 2001.
Cermin Dunia Kedokteran No. 143, 2004 15
Cermin Dunia Kedokteran No. 143, 2004
16
dalam waktu yang cukup lama, seperti pada hipertensi dan
stenosis aorta, akan menyebabkan serabut otot bertambah tebal
dan massa otot bertambah.
4-5
Sarkomersarkomer yang ter-
susun paralel menyebabkan pelebaran miosit dan menghasilkan
bentuk remodeling hipertrofi konsentrik (penambahan rasio
tebal dinding / ukuran ruang). Karena stres sistolik (beban
akhir) merupakan penentu utama penampilan pemompaan,
maka dibutuhkan normalisasi stres sistolik untuk mempertahan-
kan fraksi ejeksi yang normal.
Beban volume pada keadaan regurgitasi aorta menahun,
regurgitasi mitral, atau anemi menyebabkan sarkomer berepli-
kasi secara serial dan menyebabkan penambahan volume ven-
trikel. Bentuk remodeling yang dihasilkan adalah hipertrofi
eksentrik (pembesaran ruang dengan penurunan rasio tebal
dinding / ukuran ruang). Bentuk ini merupakan awal kompen-
sasi jantung untuk mempertahankan isi sekuncup.
4
Peningkatan stres dinding dan regangan merupakan rang-
sangan menghasilkan signal yang menyebabkan transkripsi
mRNA untuk meningkatkan protein otot. Reaksi nuklear ini
menghasilkan perlindungan otot jantung terhadap tekanan
dinding yang berlebihan untuk meminimalkan konsumsi oksi-
gen.
2
Secara umum diketahui bahwa signal mekanik memulai
tahapan kejadian biologis menuju ke arah pertumbuhan jantung
yang terkoordinasi; signal ini berbeda antara beban volume dan
beban tekanan. Secara in vivo, dalam beberapa jam setelah
beban tekanan, terjadi peningkatan sintesis rantai berat miosin
sekitar 35%. Sebaliknya pada beban volume yang murni,
penambahan massa ventrikel terjadi akibat penurunan laju
degradasi rantai berat miosin (Gb. 1).
6
Gb. 1. Laju sintesis miosin ventrikel kiri (LV Ks) pada anjing normal
(KONTROL). Anjing dipaparkan terhadap beban tekanan (POL),
dan beban volume (VOL); p<0,05. Laju sintesis rantai berat
miosin bertambah sebagai respon beban tekanan yang mendadak,
sebaliknya hal ini tidak terjadi pada beban volume yang
mendadak.
Dikutip dari 6
Interaksi antara beban otot jantung dan efek biologis
dilengkapi oleh faktor-faktor fisik yang dihantarkan ke dalam
sel oleh coupling mekanik-kimia. Faktor-faktor fisik yang di-
maksud adalah 1) membran protein yang sensitif, termasuk
kanal ion dan pertukaran ion, 2) faktor pertumbuhan, hormon,
dan sitokin yang diinduksi oleh regangan, 3) rangsangan resep-
tor integrin.
6
Transduksi signal biomekanik akut pada model eks-
perimental sering disertai ambilan protein G yang terkait neuro-
hormon (seperti angiotensin II dan endotelin I). Neurohormon
ini mempunyai aktivitas meningkatkan signal yang dicetuskan
oleh kejadian mekanik itu sendiri. Stres biomekanik seperti
hipertensi menahun dan beban tekanan mengaktifkan signal
hipertrofi dan apoptosis secara paralel. Pada waktu yang ber-
samaan, stres biomekanik juga menyebabkan induksi ligan
yang terkait pada gp130 seperti kardiotropin 1. Sitokin ini
terikat pada reseptornya yang mengandung gp130-LIF (faktor
penghambat leukemia) heterodimer, menghasilkan aktivasi
jalur gp130 yang menghambat aksi pada jalur apoptosis. Tanpa
gp130, respon miosit jantung terhadap stres biomekanik ber-
geser ke arah apoptosis, menghasilkan kehilangan miosit fung-
sional dan timbulnya gagal jantung. Pada akhirnya hasil stres
biomekanik tergantung pada keseimbangan antara kedua jalur
tranduksi signal yang berlawanan (Gb. 2).
Gb. 2. Jalur yang terlibat pada hipertrofi, apoptosis, dan survival miosit
selama transisi antara hipertrofi dan gagal jantung sebagai respon
terhadap stres biomekanik.
Dikutip dari 3
Pada hipertrofi beban volume, dilatasi ruang disebabkan
oleh pemanjangan miosit dan perubahan ikatan silang dan
bentuk gelombang kolagen. Pelarutan gelombang kolagen me-
nyebabkan peningkatan elastisitas, penyisipan serat otot, dan
penambahan ukuran ruang. Pelarutan ini berhubungan dengan
aktivasi matriks metalloproteinase (MMPs): famili/kelompok
seng berprotein yang meliputi stromalisin, kolagenase, gelati-
nase, dan MMPs tipe membran.
4
Faktor-faktor non hemodinamik dan kaitannya dengan
determinan hemodinamik
Meskipun bukti-bukti terakhir menyebutkan bahwa beban
hemodinamik merupakan rangsangan fundamental untuk me-
mulai tahapan kejadian biologis menuju hipertrofi ventrikel
kiri, faktor-faktor non hemodinamik seperti genotip, jenis
kelamin, ukuran tubuh dan lingkungan yang berkaitan dengan
kebiasaan nutrisi ternyata terlibat dalam tahapan perubahan
molekuler yang akhirnya menghasilkan sintesis protein yang
dibutuhkan untuk meningkatkan massa ventrikel kiri. Genotip
sangat mungkin berperan sebagai stimulus primer dari kons-
truksi arsitektur otot jantung; stimulasi lebih lanjut akan
menentukan derajat pertumbuhan ukuran sel (hipertrofi). Geno-
tip normal dapat diubah oleh transduksi signal stres mekanik -
yang melalui aktivasi protein kinase, tahapan fosforilasi, dan
penampilan immediate-early genes seperti c-fos, c-myc, c-jun
dan Egr-1 - menginduksi peningkatan sintesis protein, dan
respon lambat neurohormon dan gen lokal seperti rantai berat
beta miosin, dan alfa aktin skeletal yang mengubah struktur
jaringan. Perbedaan massa ventrikel kiri karena jenis kelamin
meningkat pada usia remaja dan bertahan pada dewasa.
Perbedaan karena jenis kelamin dipertahankan oleh penambah-
an simetris dimensi ruang jantung dan ketebalan dinding,
sehingga tidak ada perbedaan ketebalan dinding relatif. Ukuran
tubuh, terutama massa tubuh bersih merupakan determinan
yang kuat untuk massa ventrikel kiri baik pada laki-laki mau-
pun wanita, ras kaukasoid maupun negroid. Kerja jantung
sangat erat kaitannya dengan massa ventrikel kiri, demikian
juga halnya ukuran tubuh. Hal ini telah ditunjukkan pada studi
populasi besar dengan tekanan darah dan berat badan normal
sepanjang hidup (Gb. 3).
2
Gb. 3. Hubungan antara massa ventrikel kiri (atas, sumbu y), kerja
jantung ( tengah atas, sumbu X, tengah kanan, sumbu Y), dan
berat badan ( kanan, sumbu X) pada 611 individu dengan tekanan
darah dan berat badan normal (de Simone dkk). Massa ventrikel
kiri erat kaitannya dengan kerja jantung dan ukuran tubuh, dan
kerja jantung erat kaitannya dengan ukuran tubuh. Besaran
hubungan ini sangat mirip, mencerminkan hubungan biologis
linier yang ketat.
Dikutip dari 2
Gambaran Hemodinamik Hipertrofi Ventrikel Kiri
Berdasarkan massa ventrikel kiri pada tingkat beban
hemodinamik saat istirahat, jenis kelamin, dan tinggi badan,
dikenal bentuk hipertrofi ventrikel kiri yang tidak sesuai
(inappropriate LVH = iLVH), jika massa ventrikel kiri ter-
observasi / diperkirakan > 128%. Dibandingkan dengan hiper-
trofi ventrikel kiri yang sesuai (appropriate LVH = aLVH),
iLVH secara independen berkaitan dengan prevalensi penurun-
an fungsi sistolik otot jantung, penampilan fungsi pompa yang
rendah, dan tingginya abnormalitas relaksasi diastolik, sehing-
ga bentuk ini merupakan risiko kardiovaskuler yang lebih
buruk. Pada studi fungsi sistolik dan diastolik ventrikel kiri dan
gambaran hemodinamiknya antara hipertrofi ventrikel kiri yang
tidak sesuai dengan yang sesuai, konsentrik dan eksentrik pada
pasien hipertensi dalam studi Losartan Intervention for End-
point Reduction in Hypertension (LIFE) didapatkan spektrum
fungsi miokardial dan abnormalitas relaksasi ventrikel kiri pada
berbagai bentuk hemodinamik hipertrofi ventrikel kiri (Gb. 4).
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
EaLV
CaLVH
EiLVH
CiVH
%
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
EaLVH
CaLVH
EiLVH
CiLVH
%
Gb. 4. Panel atas : Diagram batang memperlihatkan persentase pasien
dengan fungsi miokardial rendah dalam hubungannya dengan
hipertrofi ventrikel kiri yang eksentrik atau konsentrik, sesuai
atau tidak sesuai. Semua nilai p < 0,01.
Panel bawah : Diagram batang memperlihatkan persentase pasien
dengan abnormalitas relaksasi ventrikel kiri dalam hubungannya
dengan hipertrofi ventrikel kiri yang eksentrik atau konsentrik,
sesuai atau tidak sesuai. Nilai p = 0,03.
Dikutip dari 7
Basis Molekuler Hipertrofi Kardiovaskuler Peranan
Neurohormonal dan Sistem Renin Angiotensin
Jalur yang menghasilkan pertambahan massa ventrikel kiri
kebanyakan melibatkan ekspresi segera regangan terinduksi
dari protoonkogen dan transkripsi neurohormon intramio-
kardial (angiotensin II, aldosteron, endotelin, bradikinin, dan
sebagainya).
2
Neurohormon angiotensin II selain mempunyai
aktivitas hemodinamik seperti vasokonstriktor langsung, sim-
Cermin Dunia Kedokteran No. 143, 2004 17
patomimetik, retensi natrium melalui pelepasan aldosteron,
juga mempunyai aksi mitogenik sebagai faktor pertumbuhan
langsung (Gb. 5)
2,8
. Sangat menarik karena ternyata semua
komponen sistem renin angiotensin ditemukan lokal dalam
jaringan kardiovaskuler.
8
Meskipun sistem renin-angiotensin telah lama dikenal se-
bagai sistem hormonal, sekarang diketahui bahwa semua
komponen RAS disintesis di dalam sistem kardiovaskuler.
Beberapa bukti menunjukkan bahwa sistem renin-angiotensin -
yang meningkat pada hipertrofi kardiovaskular - berperan
dalam aktivitas hemodinamik, mitogenik, dan pertumbuhan.
Secara umum diketahuinya faktor-faktor pertumbuhan ab-
normal yang memerantarai hipertrofi kardiovaskuler me-
nyebabkan timbulnya pandangan baru mengenai mekanisme
seluler pada perjalanan penyakit ini.
Gb. 5. Skema jalur intraseluler: cara angiotensin II (Ang II) dan hormon
vasoaktif lain seperti katekolamin atau vasopressin dapat
menstimulasi ekspresi protoonkogen selain DNA, RNA, dan
sintesis protein. Angiotensin II yang berikatan dengan reseptor
spesifiknya, mengaktifkan `receptor-operated (ROP) Ca
2+
channels' (Ca
2+
- CH) dan meningkatkan influks Ca
2+
. Fosfolipase-
C (PLC) pada reseptor Ang II pada gilirannya menghidrolisis
membran plasma fosfoinostid (sebagian besar fosfatidilinositol-
4,5-bifosfat (PIP
2
), menghasilkan 1,2 diasilglyserol (DG) dan
inositol-1,4,5-trifosfat (IP
3
). IP
3
dan DG memobilisasi protein
kinase C (PKC). Fosforilasi protein yang berhubungan dengan
PKC (P-P) dan peningkatan Ca
2+
bebas intrasel menginduksi
ekspresi protoonkogen (seperti : fos, myc, dan jun). Selanjutnya
protoonkogen ini terlibat dalam regulasi pertumbuhan sel
abnormal pada penyakit kardiovaskuler.
Dikutip dari 8
Pengaturan mediator pertumbuhan sel yang meliputi
sitokin, hormon pertumbuhan (GH), dan faktor pertumbuhan 1
seperti insulin (IGF-1), juga berperan penting dengan mem-
pengaruhi pertumbuhan dan komposisi otot jantung. Mediator
ini juga terlibat dalam regresi yang menyebabkan transisi dari
hipertrofi ventrikel kiri tipe kompensasi ke arah perubahan
struktur otot jantung berat yang menuju ke gagal jantung.
2
Di dalam kohort Progetto Ipertensione Umbria Monitor-
aggio Ambulatoriale (PIUMA), IGF-1 dilaporkan berasosiasi
secara independen dengan massa ventrikel kiri. Dalam studi
dengan tikus, mRNA IGF-1 jantung ditingkatkan oleh angio-
tensin II melalui mekanisme hemodinamik dan non hemo-
dinamik serta mengatur perubahan struktural jantung yang
terjadi pada hipertensi. Telah ada bukti-bukti efek langsung GH
dalam respon ventrikel terhadap sejumlah rangsang fisiologis
dan patologis yang meningkatkan beban jantung. Jalur GH/
IGF-1 juga dapat membantu menerangkan hubungan antara
kegemukan, peningkatan tekanan darah, perkembangan hiper-
trofi ventrikel kiri, dan sindrom metabolik. Insulin yang mem-
pengaruhi banyak jalur biologi dalam metabolisme glukosa,
juga mempunyai efek hemodinamik (vasodilatasi) dan me-
rupakan faktor pertumbuhan yang poten. Baik resistensi insulin
dan status hiperinsulinemi mempunyai konsekuensi pada
sistem kardiovaskuler, meskipun dapat tidak independen untuk
demografi dan korelasi hemodinamik yang lain. Mekanisme
tidak langsung pengaruh insulin terhadap pertumbuhan otot
ventrikel kiri berhubungan dengan kemampuannya meningkat-
kan retensi natrium, dan selanjutnya bersama dengan stimulus
penting lain untuk pertumbuhan ventrikel kiri.
9
KESIMPULAN
Pertumbuhan ventrikel kiri tergantung dari beban hemo-
dinamik yang dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan.
Reaksi individual ventrikel kiri terhadap stimulus hemodinamik
berhubungan dengan kemampuan menghasilkan tahapan ke-
jadian yang dimulai pada tingkat membran sel, yang selanjut-
nya meningkatkan produksi faktor pertumbuhan. Kemampuan
ini sangat mungkin di bawah kontrol genetik, tetapi juga secara
independen berkaitan dengan besarnya ukuran tubuh dan peng-
aruh hormon-hormon spesifik yang berperan sebagai pengatur
pertumbuhan.
KEPUSTAKAAN
1.
Pluim BM, van der Laarse A, Vliegen HW, Bruschke AVG., van der
Wall EE. Pathology versus Physiology. In: Left Ventricular Hyper-
trophy. Kluwer Academic Publ. 1999. p 69.
2.
de Simone G, Pasanisi F, Contaldo F. Link of nonhemodynamic factors to
hemodynamic determinants of left ventricular hypertrophy. Hypertension
2001; 38: 13-8.
3.
Epstein FH. Signaling pathways for cardiac hypertrophy and failure. N.
Engl J Med 1999; 341: 1276-83.
4.
Lorell BH, Carabello BA. Left ventricular hypertrophy. Pathogenesis,
detection and prognosis. Circulation 2000; 102: 470-9.
5.
Schipperheijn JJ. Hypertrophy and Hypertension. In: Left Ventricular
Hypertrophy. Kluwer Academic Publ. 1999. p.55.
6.
Van der Laarse A, Ruwhof C, van Wamel JET, van der Wall EE,
Bruschke AVG. Etiology of Left Ventricular Hypertrophy. Pathology
versus Physiology. In: Left Ventricular Hypertrophy. Kluwer Academic
Publ. 1999. p.10.
7.
Palmieri V. Left ventricular function and hemodynamic features of
inappropriate left ventricular hypertrophy in patients with systemic
hypertension: The LIFE Study. Am Heart J 2001; 141: 784-91.
8.
Paul M, Ganten D. The Molecular basis of cardiovascular hypertrophy.
The Role of the Renin-Angiotensin System. J. Cardiovasc Pharmacol.
1992; 19 (Suppl. 5): S51-S58.
9.
Verdecchia P, Reboldi G, Schillaci G, Borgioni C, Ciucci A, Telera MP
et al. Circulating Insulin and Insulin Growth Factor-1 are Independent
Determinants of Left Ventricular Mass and Geometry in Essential
Hypertension. Circulation 1999; 100: 1802-7.
Cermin Dunia Kedokteran No. 143, 2004
18