Peningkatan
Mutu Pelayanan
di
Rumah Sakit
Dr. H.R. Walujo Adi MPH
Rumah Sakit Paru-paru, Batu, Malang
PENDAHULUAN
Peningkatan mutu pelayanan rumah sakit dan hasil guna/
dayaguna rumah sakit berkaitan dengan masalah pembiayaan,
perencanaan dan teknologi tepat guna, pengelolaan rumah sakit,
koordinasi lintas sektor dan lain-lain. Salah satu yang terpenting
ialah kemampuan pengelolaan rumah sakit yang harus dilak-
sanakan secara profesional dengan pemahaman, kemampuan
serta ketrampilan akan penerapan fungsi-fungsi managemen
sebagai suatu kesatuan sistim yang bersifat komprehensip.
Pendekatan yang selama ini bersifat Management by
budgeting harus bertahap diubah Management by objective dan
selalu mengarah kepada problem solving approach. Secara luas
ini berarti pengelola rumah sakit harus memahami bahwa rumah
sakit adalah salah satu mata rantai pelayanan kesehatan yang
berperan dalam penanggulangan masalah kesehatan yang ada.
Untuk ini setiap pengelola rumah sakit di Indonesia, mulai ber-
pandangan jauh ke depan, sesuai dengan analisis pembangunan
kesehatan di Indonesia (DEPKES RI 1991) antara lain :
Derajat kesehatan akan menjadi lebih baik bila didukung
oleh upaya-upaya khusus yang berkaitan dengan : Lingkungan,
Upaya kesehatan dan Operasionalisasi dari kebijakan kesehatan
yang jelas dan rinci, dengan memperhatikan issue pada masa
depan yang berupa :
a) Tenaga Kerja
b) Ekonomi
c) Kelestarian KB
d). Pendidikan
e) Kualitas dari peran serta masyarakat untuk upaya kesehatan.
f)
Peran serta swasta di bidang kesehatan.
g) Peran wanita yang bergabung dalam organisasi maupun
perorangan.
Pembiayaan kesehatan harus lebih efektif melalui :
a) Desentralisasi managemen kesehatan.
Makalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI Hospital Expo, Jakarta,
21-- 25 November 1993.
b) Koordinasi lintas sektor.
c) Perencanaan dan teknologi tepat guna untuk rumah sakit.
d) Penelitian dan pengembangan yang mendukung program
kesehatan.
Dari uraian tersebut di atas, maka jelaslah bahwa pen-
capaian tujuan dan terlaksananya fungsi rumah sakit masih ter-
gantung pada managemen, pengelola/direktur serta pendalaman
falsafah negara.
Untuk itu maka penulisan ini membatasi diri hanya pada :
I.
Pandangan terhadap Rumah Sakit di masa depan.
II. Managemen Rumah Sakit di masa depan.
I.
PANDANGAN TERHADAP RUMAH SAKIT DI
MASA DEPAN
Hingga saat ini di Indonesia masih belum ada standardisasi
rumah sakit dan jarang sekali diadakan studi banding antara
rumah sakit (baik umum maupun khusus). Rumah sakit hingga
saat ini, juga di Indonesia, masih dianggap sebagai segalanya
bagi masyarakat dan situasi ini berakibat pemberian kesempatan
dan tanggung jawab khusus. Harapan yang dibebankan kepada
rumah sakit oleh masyarakat baik yang sakit maupun yang sehat,
profesi kesehatan yang bekerja di rumah sakit, pemilik rumah
sakit (baik perorangan, kelompok umum, pemerintah) serta pe-
nguasa (pembuat UU/Aturan) makin bertambah dan kompleks
dari hari ke hari, Rumah sakit menjadi penting, nyata dan mahal
bagi pelayanan kesehatan secara umum; oleh sebab itu dapat
difahami bila dibicarakan dan diteliti lebih sering. Seringkali
harapan dan kebutuhan pengguna rumah sakit berbenturan se-
hingga menempatkan managemen rumah sakit dalam situasi
yang kompleks untuk membuat keputusan. Keputusan yang
tidak mudah biasanya ditempuh cara bertentangan dengan me-
ningkatkan kebutuhan perawatan, di saat yang sama dikeluarkan
dana untuk penyembuhan dan pemberantasan. Dalam keadaan
28
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 91, 1994
Gambar 1 : Model masalah
ini, biasanya rumah sakit disalahkan karena memakai anggaran
yang berlebihan; keadaan ini didapat karena rumah sakit selalu
berusaha segalanya untuk semua, hingga menempatkan dirinya
dalam kedudukan rawan dan kritis.
Untuk mengurangi hal tersebut di atas, maka rumah sakit di
masa datang haruslah :
1) Mempunyai misi dan tujuan yang jelas.
2) Output
yang dihasilkan serta dampaknya pada pelayanan
kesehatan masyarakat dapat diperhitungkan dan dievaluasi de-
ngan nyata.
3) Biaya yang bersaing dan dapat dijangkau antara lain me-
lalui asuransi, J.P.K.M dan lain-lain.
Rumah Sakit haruslah menggunakan managemen ekonomi
sehingga biaya sepadan dengan pelayanan yang diberikan; atau
bila tidak biarlah organisasi lain yang melaksanakan, sedangkan
pelayanan medik dilakukan oleh organisasi lain pula.
Kita dapat mengharapkan peran serta dan tanggung jawab
masyarakat menjadi besar karena difusi informasi pada masa
kini dan mendatang besar sekali, sehingga kesadaran masyara-
kat lebih besar. Rumah Sakit (Umum dan Khusus) wajib mem-
berikan informasi sejak dini tentang pelayanan yang didapat,
tingkat dan tipe dari perawatan yang ada, kemampuan yang di-
miliki dari segi keahlian-teknologi, keterbatasan mutu yang me-
nyangkut manusia, dana dan bahan. Rumah Sakit mempunyai
peranan sosial penting yang harus dimainkan agar pelayanan
kesehatan secara umum dapat dilaksanakan dan dapat diterima
oleh mereka yang membutuhkan pada masa mendatang dengan
tanggung jawab yang terbagi antara pengusaha dan organisasi
kemanusiaan, pemerintah dan masyarakat pada umumnya.
Penilaian hasil rumah sakit didapat bila kita mengusahakan
dengan sungguh-sungguh 3 (tiga) hal yang utama :
a) Informasi Rumah Sakit yang benar dan akurat.
b) Data statistik yang jujur dan benar.
c) Metode evaluasi yang dinamis.
Dari informasi/data, yang diperoleh oleh Rumah Sakit ialah :
-
Data tentang kepuasan pelayanan.
-
Data mutu pelayanan.
-
Data keterjangkauan biaya.
Data kepuasan relatif mudah didapat, data mutu pelayanan agak
sulit diterapkan, tetapi di Indonesia telah mulai diupayakan
antara lain :
-
Upaya penentuan standar/akreditasi.
-
Review
penerapan indikator tertentu.
Juga upaya untuk mengembangkan dan memasyarakatkan :
Perencanaan Rumah Sakit (SK Dirjen Yanmed 0215/YM/SET/
PPL-III/1993),
Quality Assurance, Risk Management
dan
Total
Care Management Program, Total Quality Management
dan
lain-lain.
Salah satu bentuk nyata adalah pelaksanaan pembenahan rumah
sakit menjadi Instalasi Lembagd Swadana dan mutu dikaitkan
pada :
1) Quality Assurance Program.
2) Process Oriented.
3) Prioritas Utama.
4) Orientasi penderita, termasuk kepuasan terhadap pelayanan
rumah sakit.
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 91, 1994
29
5) Dikaitkan dengan kemampuan profesional.
6) Peningkatan mutu penggunaan alat (efektif/efisien).
7) Tekanan pada :
Risk management
Kepuasan penderita
Penggunaan teknologi tepat guna
Pengendalian infeksi
Quality assurance dalam
program
pendidikan tenaga me-
dik.
II. MANAGEMEN RUMAH SAKIT DI MASA MEN-
DATANG
Dari
model
masalah, posisi
manager
diletakkan pada posisi
sentral. Karena banyak faktor
dan komponen
yang
harus ditangani,
maka seorang
manager
rumah sakit
di
masa datang haruslah
dipersiapkan sebaik mungkin. Saat ini rumah sakit lebih banyak
dikelola secara administratip saj
a,
sehingga
manager
rumah sakit
lebih banyak berperan sebagai
administrator
dari pada
manager.
Di
samping kemampuan
administrator, manager
sesungguhnya mempunyai kemampuan
yang lain :
1) Kemampuan
di
bidang hukum (UUD/UU/Peraturan).
2) Kemampuan
yang
memberi kemungkinan pelaku
di
Rumah
Sakit berperan dalam hal
yang
berkaitan dengan prinsip eko-
nomi dan pendidikan
yang
bermutu, pengalaman dalam praktek
pendidikan berkelanjutan terutama dalam memimpin
staff.
Dalam banyak negara, juga
di Indonesia
kemampuan dan kondisi
tersebut berjalan sebagian; dalam mempersiapkan tenaga
ma-
nager
rumah sakit, belum ada standar tertentu, masih berpegang
pada standar pendidikan dasar dokter (masih dokter umum).
Pendidikan khusus managemen rumah sakit baru dilaksanakan
dalam bentuk kursus
yang
sangat terbatas. Dasar pendidikan
managemen khusus kesehatan sangat diperlukan untuk menutup
kekurangan serta mengantisipasi keadaan rumah sakit menda-
tang. Antisipasi terhadap masa datang haruslah dianggap se-
bagai tantangan
yang harus
segera dijawab oleh karena :
A) a.
Kemajuan dan perkembangan health care system
di
negara
maju dan cepat.
b. Perubahan demografi.
c. Short-term Hospital lebih banyak diperlukan dari pada Long
term.
d. Kemajuan bidang pengobatan, teknologi medis, biaya, health
services delivery system, sistim informasi dan
lain-lain.
B)
Kebutuhan
yang
meningkat
di
bidang health care services
dikaitkan dengan dana
yang
terbatas. Pengaruh dari pengguna
akhir, penderita dan institusi
yang
membiayai pelayanan kese-
hatan (assuransi dan
lain-lain)
menjadi penting.
C)
Generasi dokter, perawat dan tenaga administrasi
yang
akan
bekerja telah mempunyai pola dan gambaran
yang
baru, sebab
dari pendidikan telah digambarkan, apa dan bagaimana suatu
rumah sakit harus dikelola pada tahun mendatang.
Dari gambaran tersebut
di
atas maka
manager
Rumah Sakit
di
masa datang membutuhkan pendidikan akademik pada ber-
bagai tingkat
(BSc, MSc, Dr).
Gambar 2A. Gambaran hubungan perubahan yang berakibat berubahnya
Rumah Sakit (Organisasi, Pendidikan dan lain-lain)
Gambar 2B.
3 0
Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No. 91, 1994
Pengetahuan yang harus dimiliki oleh Manager Rumah Sakit
SELINTAS PARADIGMA BARU : RISK MANAGEMENT
Secara umum risk management adalah fungsi untuk me-
lindungi modal/dana dari satu institusi agar organisasi tersebut
tetap hidup. Bila keadaan ini diterapkan pada rumah sakit, risk
management berarti menetapkan penekanan pada peningkatan
pelayanan penderita dengan meminimalkan pengaruh/risiko dana,
dikaitkan dengan pelayanan yang diberikan pada penderita atau
yang diperkirakan akan diberikan pada penderita. Selanjutnya
perhatian terhadap pelayanan penderita harus meliputi pertang-
gungjawaban terhadap medical malpractice, peningkatan biaya
keseluruhan dan pertolongan yang tidak sesuai dengan yang
seharusnya.
Melindungi modal/danarumah sakitberarti organisasi rumah
sakit tetap hidup yang pada gilirannya menghidupkan pelayanan
penderita.
Proses risk management (pada Health/Hospital) menekan-
kan pada 3 hal penting :
1) Prioritas pendanaan
Setiap strategi operasional didahului dengan penetapan
prioritas dengan analisis risiko pendanaan, misalnya kebidanan
selalu lebih penting dari dermatologi jika dikaitkan dengan
kemungkinan malpraktek.
2) Medical record sebagai alat utama untuk menganalisis
pelayanan
Bila risiko pengelolaan menyangkut pelayanan penderita,
hasil kerja tersebut adalah medical record yang terisi, terjaga
dengan baik.
3) Integrasi interdisiplin adalah ciri khusus pada setiap
kegiatan organisasi yang terkait di dalam rumah sakit
Gambar 4. Proses peningkatan mutu rumah sakit
Metode
Administratip
Medik
Perawatan
Kepemimpinan
Satuan Tugas
Bekerja dengan semua
sumber yang ada
(Baik secara medik
maupun administratip)
Pengumpulan Data
Review oleh Satuan
Tugas
Biaya/Mutu
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus
No. 9
1, 1994
3
1
PENUTUP
Telah dipaparkan beberapa hal yang perlu diperhatikan da-
lam mengantisipasi masa datang dengan dikaitkan rumah sakit.
Perubahan yang menyangkut demografi, lingkungan hidup,
industrialisasi, pola budaya, pola penyakit dan epidemiologi
perlu diantisipasi lebih dahulu di bidang manajemen rumah
sakit, organisasi dan tatalaksana rumah sakit.
Tanpa perubahan mendasar manajemen dan sumberdaya
manusia, antisipasi yang dilaksanakan akan menbjadi sia-sia,
tidak efektif bahkan menjadi bumerang untuk rumah sakit pada
khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya.
32
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 91, 1994