background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Pengaruh Inhalasi NO
2
terhadap Kesehatan Paru
Diah Handayani, Faisal Yunus, Wiwien Heru Wiyono
Bagian Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI / RS Persahabatan Jakarta
PENDAHULUAN
Polusi udara merupakan suatu masalah internasional.
Sumber polutan dari suatu negara dapat saja mencemari negara
di sekitarnya. Kebakaran hutan pada bulan Juli sampai Oktober
1977 di Kalimantan dan Sumatera serta beberapa kawasan lain
di negara kita telah menimbulkan dampak luas di kawasan Asia
Tenggara. World Wildlife Fund (WWF) di awal Juni 1998
menyampaikan bahwa seluruh kerugian akibat kebakaran hutan
tersebut tidak kurang dari 4,4 milyar dolar AS. World Health
Organization (WHO) memperkirakan sekitar 20 juta orang
Indonesia telah terpajan asap kebakaran hutan itu mengakibat-
kan berbagai gangguan paru dan pernapasan.
1,2,3
Dampak buruk polusi udara pada kesehatan mulai banyak
dibicarakan setelah timbulnya beberapa kejadian di Belgia
tahun 1930, di Pennsylvania pada tahun 1948 dan di London
tahun 1952. Pada peristiwa itu terjadi stagnasi udara yang
mengakibatkan peningkatan jumlah bahan polutan di udara dan
angka kematian meningkat tajam. Sebagian besar korban
adalah mereka yang sangat muda, sangat tua atau sebelumnya
telah menderita penyakit paru dan jantung. Kematian umumnya
disebabkan oleh pneumonia, bronkitis, penyakit paru dan
jantung lainnya. Oleh karena itu polusi udara harus menjadi
salah satu perhatian para dokter dan kajian penting bagi dokter
spesialis paru.
2,4
Nitrogen dioksida (NO
2
) di udara merupakan
salah satu polutan yang paling mempengaruhi kesehatan paru.
Polusi udara dan kesehatan
Indonesia sebagai negara berkembang mengalami pe-
ningkatan jumlah tenaga kerja sektor industri. Peningkatan
energi produksi, urbanisasi dan motorisasi menambah masalah
polusi udara. Para ahli memperkirakan bahwa sekitar 60-80%
penduduk perkotaan di dunia menghisap udara yang kualitas-
nya buruk bagi kesehatan, atau setidaknya udara dengan kadar
polutan mendekati nilai ambang batas.
2
Suatu studi di delapan wilayah di Jakarta menunjukkan
hubungan antara jumlah kendaraan dan konsentrasi polutan.
Peningkatan jumlah kendaraan bermotor, sistem transportasi
dan lalu lintas yang tidak memadai, standar emisi yang lemah
serta kurangnya perawatan kendaraan telah menimbulkan
dampak terhadap polusi udara. Hal ini diperburuk dengan
pengendalian polusi udara yang belum memadai. Badan
pengendali dampak lingkungan (BAPEDAL) tahun 1992 me-
laporkan bahwa emisi kendaraan bermotor menyumbangkan
73% NOx sebagai salah satu polutan di udara. World
Bank(1994) melaporkan bahwa diperkirakan pada tahun 2000
polusi udara di kota-kota besar di Indonesia akan meningkat
dua kali lipat dari keadaan tahun 1990, menjadi lima kali lipat
pada tahun 2010 dan sembilan kali lipat pada tahun 2020.
2,5
Polusi udara dapat terjadi di luar (outdoor) dan di dalam
ruangan (indoor). Polusi udara di luar ruangan biasanya terjadi
akibat asap kendaraan bermotor dan asap industri sedangkan
polusi udara di dalam ruangan akibat asap rokok, gangguan
sirkulasi udara di gedung-gedung dan asap dari dapur
tradisional, pemakaian kompor gas serta pemanas ruangan.
Sumber yang terakhir bahkan dapat menghasilkan NO
2
hingga
4 partpermillion(ppm) di dalam ruangan.WHO memperkirakan
sekitar 400-500 juta orang khususnya di negara-negara ber-
kembang saat ini menghadapi masalah polusi udara di dalam
ruangan dan diperkirakan setiap tahunnya dari sekitar 3 juta
kematian akibat polusi udara, 2,8 juta di antaranya akibat
polusi udara dalam ruangan serta 0,2 juta lainnya akibat polusi
udara luar ruangan. Tabel 1 berikut ini menyajikan kontribusi
negara maju dan berkembang dalam mortalitas akibat polusi
udara dalam ruangan sedangkan tabel 2 untuk data di luar
ruangan.
2,3,5
Tabel 1. Kematian di dunia akibat polusi udara dalam ruangan
( jumlah kematian 2,8 juta/tahun)
(2)
Jenis Persentase
(%)
Negara berkembang (rural) 67
Negara berkembang (urban) 23
Negara maju (rural) 1
Negara maju (urban) 9
Cermin Dunia Kedokteran No. 138, 2003 17
background image
Tabel 2. Kematian di dunia akibat polusi udara di luar ruangan
(jumlah kematian 0,2 juta/tahun)
(2)
Jenis Persentase
(%)
Negara berkembang (urban) 93
Negara maju (urban) 7
Mekanisme pengaruh polusi udara terhadap kesehatan
Bahan polutan dari udara dapat menimbulkan efek lokal
jika kelainan hanya pada satu organ saja dan efek sistemik jika
mengenai satu sistem tubuh tertentu. Efek yang ditimbulkan
juga dapat berupa efek akut dan efek kronik. Polutan dapat
masuk ke dalam tubuh melalui tiga cara yaitu inhalasi, ingesti
dan penetrasi kulit. Mekanisme masuknya polutan dari ber-
bagai sumber hingga menimbulkan efek terhadap kesehatan
manusia dijabarkan dalam bagan 1 di bawah ini.
6
Bagan 1. Skema algoritma proses pajanan polutan terhadap kesehatan
(7)
Inhalasi NO
2
dapat menyebabkan gangguan paru dan
saluran pernapasan, kemudian dapat masuk ke dalam peredaran
darah dan menimbulkan akibat di alat tubuh lain. Terdapat tiga
faktor yang berpengaruh dalam inhalasi bahan pencemar ke
dalam paru, yaitu komponen fisik, komponen kimiawi dan
faktor pejamu (host). Komponen fisik utama adalah keadaan
dari bahan yang diinhalasi apakah berupa debu, gas, uap dan
lain-lain. Ukuran dan bentuk partikel juga berpengaruh dalam
proses penimbunannya di dalam paru, juga kelarutan dan nilai
higroskopisitasnya; komponen kimia juga dapat berinteraksi
secara langsung dengan jaringan sekitarnya. Kelarutan NO
2
dalam air rendah sehingga dapat melewati trakea dan bronkus
mencapai alveoli.
8,9
NITROGEN DIOKSIDA (NO
2
)
Nitrogen dioksida terbentuk dari proses pembakaran ber-
bagai industri dan rumah tangga, melalui proses oksidasi
oksigen dan nitrogen di udara bebas akibat panas tinggi.
Rumah memakai kompor gas memiliki kadar NO
2
lebih tinggi
dibandingkan dengan rumah yang memakai kompor listrik, dan
kadar puncaknya dapat mencapai 2,0 ppm. Nitrogen dioksida
juga didapat pada bangunan kedap udara penyimpan makanan
ternak yang disebut silo. Dalam silo NO
2
terbentuk dari pem-
busukan rumput dan tanaman lainnya, juga tanah yang me-
ngandung nitrogen mengalami oksidasi membentuk NO
2
di
dasarnya. Ketika silo dibuka NO
2
akan keluar sehingga
langsung dapat terhirup dalam konsentrasi tinggi dan me-
nyebabkan efek toksik berat yang dikenal dengan istilah silo
fillers' disease.
9-12
Udara
Air
Tanah
Makanan
Nitrogen dioksida adalah gas toksik, kelarutannya dalam
air rendah, namun larut dalam larutan alkali, karbon disulfida
dan kloroform. Gas ini berwarna coklat kemerahan dan pada
suhu di bawah 21,2
°C akan berubah menjadi cairan berwarna
kuning. Bau NO
2
khas dan mengganggu bahkan dapat meng-
iritasi saluran napas pada konsentrasi 1-3 ppm. Bentuk NO
2
berdisosiasi dengan N
2
O
4
tergantung suhu (N
2
O
4
2 NO
2
).
Pada suhu tubuh, rasio NO
2
: N
2
O
4
adalah 30 : 70. Di dalam
saluran pernapasan NO
2
akan terhidrolisis membentuk asam
nitrit (HNO
2
) dan asam nitrat (HNO
3
) yang bersifat korosif
terhadap mukosa permukaan saluran napas.
9-13
Media sumber pajanan
Transport
Inhalasi
Jalan masuk
Ingesti
Kulit
Konsentrasi ambang NO
2
dan konsentrasinya di beberapa
tempat.
Pajanan
Nilai ambang NO
2
di udara dihitung dalam kadar rata-rata
dalam ppm, karena pengaruh pajanan NO
2
lebih bersifat
kronik. Amerika menetapkan nilai standar NO
2
di udara se-
besar 0,053 ppm (100µg/m
3
) per tahun; metode pengukurannya
dengan cara chemiluminescent. Di Indonesia, seperti bahan
polutan lainnya, pengukuran dilakukan oleh Badan Meteoro-
logi dan Geofisika (BMG). Nilai konsentrasi rerata NO
2
di
Indonesia saat ini sulit didapat karena kondisi geografis
Indonesia belum memungkinkan untuk melakukan pengukuran
di semua wilayah. Data yang diambil pada tahun 1982 di
beberapa kota besar di Jawa dan tahun 1984 di Medan,
Palembang, Manado, Banjarmasin, Pontianak dan Balik Papan
menunjukkan sebagian besar konsentrasi NO
2
masih di bawah
ambang batas polutan, kecuali di Manado di daerah industri
dan lalu lintas padat, hal yang sama di Pontianak dan
Banjarmasin.
1,5,6,13
Pada pengukuran polusi udara daerah
Ciganjur, daerah pemukiman yang cukup jauh dari lalu lintas
padat dan industri dibandingkan dengan Paseban, yang berada
di pusat kota didapatkan tingkat NO
2
di Ciganjur sebesar
18,19
µg/m
3
sedangkan di Paseban 39,57
µg/m
3
. Tidak didapat-
kan perbedaan bermakna pada fungsi paru di antara penduduk
yang tinggal di kedua daerah tersebut.
5
Dosis internal
Dosis efektif biologis
Efek terhadap kesehatan
Pengukuran jangka panjang sejak tahun 1986 sampai 1993
Cermin Dunia Kedokteran No. 138, 2003
18
background image
dengan membandingkan Pulogadung dan Rawasari menun-
jukkan rerata tahunan konsentrasi NO
2
tidak melebihi standar
yaitu 0,05 ppm/ 24 jam dan tidak terdapat perbedaan bermakna
di antara kedua tempat tersebut (Gambar 2).
0
2
4
6
8
10
12
14
16
1986 1987
1988 1989
1990 1991
1992 1993
Years
Nitrogen dioksida (ug/m3)
Gambar 2. Grafik rerata NO
2
tahunan di Rawasari dan Pulogadung
Jakarta Timur (1986-1993)
(5)
EFEK NO
2
TERHADAP KESEHATAN
Pengaruh pajanan NO
2
ditentukan oleh konsentrasi saat
pajanan, proses akut atau kronik serta lama pajanan. Gejala
yang dapat terjadi akibat NO
2
meliputi asfiksi, edema paru,
batuk, sesak, sianosis dan bronkiolitis obliterans. Pajanan
kronik menimbulkan gangguan obstruksi Namun demikian
mekanisme yang mendasari berbagai gangguan di atas belum
jelas. Terdapat variasi hasil dari berbagai studi pajanan NO
2
dalam konsentrasi yang bervariasi maupun yang sama.
9-11,13,14
Pengaruh NO
2
terhadap fungsi paru
Pajanan 1,5 ppm selama 2 jam pada orang sehat tidak
menyebabkan penurunan fungsi paru yang berarti meskipun
studi lain pada orang sehat menunjukkan bahwa pajanan NO
2
1,5-5 ppm meningkatkan tahanan jalan napas dan pada
konsentrasi 2,5 ppm memperlihatkan gangguan fungsi paru
dengan mekanisme yang belum dapat dijelaskan. Untuk pa-
janan NO
2
di bawah 1 ppm masih kontroversial;. sebuah studi
membuktikan peningkatan tahanan jalan napas pada pajanan
NO
2
dengan konsentrasi 0,24 ppm tetapi konsentrasi 0,51 ppm
tidak menimbulkan efek yang sama. Diduga terdapat respons
bifasik, konsentrasi di bawah dan di atas 0,5 ppm akan me-
nimbulkan bronkokonstriksi tetapi pada konsentrasi 0,5 ppm
terjadi bronkorelaksasi.
2,9,15
Studi di California melihat hubungan antara fungsi paru
anak sehat berusia di atas 4 tahun dengan pajanan polusi udara
di beberapa kota tempat tinggal subjek. Didapatkan hubungan
bermakna antara penurunan fungsi paru (volume ekspirasi
paksa detik pertama, VEP1; kapasitas vital paksa, KVP dan
arus tengah, maximal midexpiratory flow (MMEF) serta
(FEF75) dengan pajanan partikel polutan berukuran kurang
dari 10µm (PM10), PM2,5, PM10-2,5, NO
2
dan asam
inorganik. Edward dkk. membandingkan konsentrasi rerata
harian NO
2
di udara bebas dengan fungsi paru. Didapatkan pe-
nurunan fungsi paru dengan rerata penurunan KVP 2,7ml/detik,
VEP1 8,2ml/detik, MMEF 10,7ml/detik dan 23,6ml/detik di
kota dengan konsentrasi NO
2
tinggi.
16, 17
Hazucha dkk. meneliti pajanan NO
2
dan ozon secara
berturut-turut pada perempuan sehat bukan perokok. Didapat-
kan penurunan VEP1 yang bermakna pada pajanan NO
2
dan
ozon, namun pajanan NO
2
saja tidak memberikan efek ini.
Framton dkk. meneliti pajanan NO
2
dengan berbagai konsen-
trasi terhadap individu sehat. Dilakukan tiga cara pajanan,
pertama pajanan 0,60 ppm secara kontinu, ke dua 0,50 ppm
dengan puncak intermiten 2 ppm dan ke tiga 1,5 ppm secara
kontinu. Penurunan fungsi paru, KVP dan VEP1 terlihat pada
pajanan 1,5 ppm NO
2
secara kontinu, sedangkan pada dua
prosedur lain tidak terlihat pengaruh yang berarti. Pajanan NO
2
5 ppm selama 10 menit menyebabkan peningkatan tahanan
saluran napas.
9,18,19
Pengaruh NO
2
terhadap aktivitas mukosilier
Pajanan NO
2
terbukti mengurangi aktivitas mukosilier;
diketahui bahwa beberapa gas seperti NO
2
dan ozon dapat
mencapai alveoli dan mempunyai efek toksik langsung ter-
hadap makrofag alveolar yaitu mengurangi daya fagosit dan
aktivitas bakterisidal sehingga meningkatkan kemungkinan
infeksi bakteri. Pajanan NO
2
juga menimbulkan gangguan
sekresi mukus, kerusakan silia dan gangguan imunitas
humoral
28,9,20-22
Terdapat peningkatan virus influenza intranasal pada
pajanan 0, 1, 2 atau 3 ppm NO
2
selama 2 jam, 3 hari berturut-
turut. Angka kejadian infeksi tinggi pada setiap pajanan meski-
pun tidak bermakna dibandingkan kelompok kontrol. Pada
percobaan menggunakan tikus, ditemukan perubahan lapisan
silia dan epitel bronkus akibat inhalasi 2 ppm (3,8 mg/m3)
secara kontinu. Juga terjadi pelebaran alveoli pada pajanan 0,5
ppm NO
2
selama 4 jam sedangkan pada pajanan 0,5 sampai 25
ppm NO
2
selama tiga bulan atau lebih paru berubah seperti
emfisema.
9,14
Heleday dkk.melakukan penelitian in vivo terhadap in-
dividu sehat menggunakan bronkoskopi serat optik, untuk
menilai aktivitas mukosilier. Kontrol dibuat dengan mengambil
data dasar sebelum pajanan NO
2
. Kelompok pertama menjalani
bronkoskopi 45 menit setelah pajanan 1,5 ppm NO
2
selama 20
menit, kelompok ke dua, bronkoskopi 45 menit setelah pajanan
3,5 ppm NO
2
selama 20 menit, kelompok ke tiga bronkoskopi
dilakukan 24 jam setelah pajanan 3,5 ppm NO
2
selama 4 jam.
Pada dua kelompok pertama tidak terlihat aktivitas mukosilier,
sebaliknya terlihat peningkatan aktivitas mukosilier secara
bermakna pada kelompok ke tiga. Disimpulkan bahwa pajanan
NO
2
jangka pendek menimbulkan penurunan aktivitas
mukosilier 45 menit setelah pajanan, efek berlawanan terlihat
24 jam setelah pajanan.
23
Pengaruh NO
2
pada asma
NO
2
bukanlah penyebab asma secara langsung namun
berbagai studi melihat hubungannya dengan eksaserbasi asma.
Penelitian menunjukkan pajanan 0,5 pm NO
2
dan 2 ppm
selama 1 jam terhadap orang sehat meningkatkan respons salur-
an napas terhadap metakolin. Pada penderita asma pajanan 0,30
ppm NO
2
menyebabkan peningkatan respons jalan napas
meskipun tidak berpengaruh terhadap risiko munculnya asma.
Cermin Dunia Kedokteran No. 138, 2003 19
background image
Pemeriksaan cairan bronchoalveolar lavage (BAL) setelah
pajanan NO
2
2 ppm selama lebih dari 4 hari, hanya menunjuk-
kan inflamasi ringan.
8,24
Framton melakukan pajanan dengan konsentrasi ber-
variasi. Pajanan 1,5 ppm NO
2
selama 3 jam meningkatkan
reaktivitas jalan napas terhadap karbakol sedangkan pajanan
0,5 ppm atau diseling dengan puncak konsentrasi 2 ppm dan
0,60 ppm secara kontinu tidak menimbulkan efek yang sama.
Penderita asma memberikan respons peningkatan reaktivitas
yang lebih jelas dibandingkan dengan orang sehat. Pajanan 0,1
ppm NO
2
juga meningkatkan reaktivitas bronkus terhadap
karbakol. Bauer menunjukkan bahwa pajanan 0,30 ppm NO
2
pada penderita asma menyebabkan hiperesponsif terhadap uji
provokasi latihan dan provokasi dengan udara dingin.
19,24
Pada percobaan hewan, diketahui bahwa proses inflamasi
akibat NO
2
melibatkan peningkatan jumlah neutrofil, makro-
fag, sel mast dan limfosit. Berhasil dibuktikan bahwa pajanan
NO
2
2 ppm selama 6 jam meningkatkan neutrofil pada cairan
BAL. Heleday dan Becker masing-masing menunjukkan pe-
ningkatan neutrofil pada cairan BAL orang sehat 24 jam
setelah pajanan 3,5 ppm NO
2
sambil latihan ringan dan 16 jam
setelah pajanan 2 ppm NO
2
selama 4 jam.
18
Sandstrom dengan
pajanan 2,25-5,5 ppm NO
2
selama 20 menit memperlihatkan
peningkatan sel mast dan limfosit sesuai dengan peningkatan
konsentrasi. Pada konsentrasi di bawah 2 ppm tidak didapatkan
perubahan apapun pada cairan BAL.
24
Solomon menunjukkan pajanan 4 jam NO
2
2 ppm selama 3
hari berturut-turut pada orang sehat meningkatkan persentase
neutrofil dibandingkan dengan inhalasi udara terfiltrasi, dengan
perbandingan 10,6 % dan 5,3%. Pada cairan BAL juga terjadi
penurunan persentasi sel T-helper dengan perbandingan 55,9%
dan 61,6%, pada pemeriksaan darah perifer tidak terjadi
perubahan leukosit atau limfosit.
23
Hipotesis lain diuji oleh
Hasan dkk. secara in vitro menggunakan kultur sel epitel
bronkus manusia (human bronchial epithelial subjects,
HBECs) orang sehat dibandingkan dengan HBECs orang asma.
Secara in vivo sel tersebut dipajankan dengan NO
2
dengan
konsentrasi 200 ­ 400 ppm selama 24 jam dengan kontrol
pajanan terhadap udara bersih. Didapatkan perbedaan ber-
makna pengeluaran interleukin 8 (IL-8) dan soluble inter-
cellular adhesion molecule (sICAM-1) di antara kedua
kelompok, tetapi pajanan 100 ­ 400 ppm selama 6 jam tidak
menimbulkan respons yang sama; sehingga disimpulkan bahwa
NO
2
berperan dalam meningkatkan pelepasan mediator infla-
masi dari sel epitel bronkus terutama pada orang asma.
25
Kadar beberapa polutan di Barcelona, Helsinki, Paris dan
London tahun 1986-1992 dibandingkan dengan kedatangan
pasien asma anak dan dewasa ke instalasi gawat darurat (IGD);
didapatkan peningkatan bermakna kunjungan pasien asma
dewasa ke IGD sesuai dengan peningkatan kadar NO
2,
juga
pasien anak di musim dingin.
26
Pajanan NO
2
, maupun kom-
binasi dengan ozon meningkatkan respons saluran napas
terhadap inhalasi alergen pada subjek atopi, sehingga memicu
eksaserbasi asma. Studi eksperimental menunjukkan bahwa
polutan di udara dapat berinteraksi dengan aeroallergen di
atmosfir dan di saluran napas sehingga meningkatkan efek
alergi.
25
INTOKSIKASI NO
2
Kecelakaan yang terjadi pada September 1966 di sebuah
perusahaan zat kimia memberikan gambaran efek akut dan
lambat intoksikasi NO
2
tanpa campuran zat lain. Empat orang
petugas pemadam kebakaran menghirup asap NO
2
yang keluar
akibat kebocoran di pabrik tersebut. Sepuluh menit setelah
pajanan, salah seorang berusia 49 tahun merasa sakit kepala
ringan dan batuk kering yang keras dan 20 jam kemudian
pernapasannya memendek, demam 38,9ºC, mengi dan ronki
ditemukan di seluruh lapangan paru disertai gambaran edema
paru. Kemudian kesadaran menurun, semikoma dan kondisinya
memburuk. Perawatan pertama di rumah sakit meliputi pembe-
rian kortikosteroid, aminofilin intravena untuk mengurangi
bronkospasme dan digitalis untuk mengatasi gagal jantung
membantu pasien tetap bertahan. Pada hari keduabelas pasien
kembali demam, menggigil, nafas memendek dan batuk darah.
Foto toraks mendapatkan gambaran nodul berukuran buah ceri
tersebar di seluruh lapangan paru dan bertahan selama 5
minggu. Pasien mengeluh sesak, dan kapasitas difusinya
menurun.
Mekanisme intoksikasi diduga karena akumulasi neutrofil
dan berkurangnya elastisitas paru. Marmut yang terpajan 30
ppm NO
2
mengalami penurunan elastin paru dan kolagen pada
hari keempat dan kesepuluh. Elastin tidak kembali ke tingkat
normal hingga pajanan NO
2
dihentikan. Selama pajanan,
neutrofil berakumulasi secara cepat dalam paru; diduga
neutrofil membawa elastase keluar.
Pada percobaan binatang untuk melihat mekanisme
terjadinya bronkitis kronik, pajanan NO
2
konsentrasi kurang
dari 1,0 dan 10,0 ppm menimbulkan kerusakan sel di regio
sentriasinar. Terjadi cedera pada silia dan sel sekretorik
membran bronkiolus dan sel epitel alveolar tipe 1 pada
bronkiolus. Cedera sel diikuti oleh metaplasia sel sekretorik,
epitelnya berubah dari datar menjadi kuboid. Terlihat sel
inflamasi di dinding dan lumen bronkioli.
27
Pajanan NO
2
dengan konsentrasi 150 ppm selama 30 sampai 60 menit dapat
menyebabkan kematian akibat edema laring yang menutup
saluran napas sehingga terjadi asfiksia.
9
Silo fillers' disease
Pada tahun 1956 dilaporkan seorang petani mengalami silo
fillers' disease. Petani dapat terpajan NO
2
bila masuk ke dalam
silo setelah 1 minggu pengisian, bahkan kadang terjadi
meskipun hanya mendekati silo tanpa membukanya. Gambaran
klinis fase awal tergantung kepada konsentrasi. Bila inhalasi
NO
2
tidak lama dan konsentrasi rendah hanya menimbulkan
gejala respiratorik ringan. Pada fase ke dua muncul batuk
dengan sputum berbusa dan sesak napas, dalam 1-2 jam kemu-
dian dapat terjadi edema paru dan sianosis disertai takipnea,
takikardi, ronki dan mengi di seluruh paru. Sesak dan batuk-
batuk selama beberapa jam dapat bertahan 2-3 minggu
meskipun gejala lain membaik. Pada fase ini pasien terkadang
menggigil dan demam.
9,10,13
Gambaran radiologis pada tingkat awal bervariasi, mulai
dari gambaran normal sampai tanda-tanda edema paru.
Sebagian besar kasus menunjukkan gambaran nodul berukuran
buah ceri tersebar di seluruh lapangan paru pada fase awal.
Cermin Dunia Kedokteran No. 138, 2003
20
background image
Gambaran nodul kemudian hilang, pada fase kedua hanya
terlihat gambaran infiltrat milier seperti penyebaran hematogen
tuberkulosis. Pemeriksan fungsi paru pada fase awal menun-
jukkan pengurangan volume paru dan kapasitas difusi. Saturasi
oksigen juga menurun pada fase kedua. Beberapa kasus
menunjukkan kapasitas difusi yang rendah, dengan perbaikan
yang lambat hingga 2 sampai 6 bulan.Gambaran patologis lesi
akut menunjukkan edema mukosa luas dan eksudasi sel
inflamasi. Kapiler alveoli melebar, terisi cairan dan sel darah.
Lesi lanjut menunjukkan gambaran bronkiolitis. Bronkus dan
bronkiolus terbungkus oleh sel-sel inflamasi dengan fibrin
mengisi seluruh lumen. Biopsi paru serial pada satu pasien
menunjukkan bahwa lesi tersebut akan menghilang dalam 6
bulan dengan meninggalkan kolagen interstisial dan dilatasi
alveoli.
Penatalaksanaan silo fillers' disease sesuai dengan gejala,
diikuti dengan pemberian kortikosteroid. Hal yang penting
adalah pencegahan dengan memberikan informasi terutama
kepada pekerja resiko tinggi seperti petani atau peternak di-
sertai peringatan bahaya di silo dan menjauhkan anak-anak dari
silo. Kematian dapat terjadi baik pada awal maupun fase kedua
peyakit ini. Bila pasien mampu bertahan pada tahap ini, dalam
2-3 minggu pasien dapat sembuh.
PENATALAKSANAAN
Saat ini belum ada terapi antidot spesifik terhadap intok-
sikasi akibat inhalasi gas beracun. Penatalaksanaan pertama
akibat pajanan akut inhalasi gas toksik adalah memindahkan
pasien dari daerah pajanan, resusitasi pengamatan tanda vital
dengan observasi ketat. Jika terjadi efek pada saluran napas
bawah perlu kewaspadaan meskipun penderita tidak menunjuk-
kan gejala apapun karena mungkin masih berada pada kondisi
edema paru laten. Pemeriksaan meliputi uji fungsi paru,
saturasi oksigen (oksimetri) atau tekanan parsial oksigen
berdasar analisis gas darah. Pemeriksaan foto toraks sebaiknya
dilakukan dalam 8 jam setelah pajanan.
9-11,13-14
Jika didapatkan vertigo, mual, tanda-tanda iritasi saluran
napas bawah mungkin terjadi edema paru, dan memerlukan
kortkosteroid intravena. Meskipun gejala edema paru minimal
(sesak napas, batuk progresif, tanda radiologik edema paru)
pasien harus dirawat di ruang rawat intensif.
Secara rinci penanganan pasien iritasi saluran napas bawah
meliputi
9
:
1.
anamnesis riwayat perjalanan penyakit
2.
observasi keadaan klinis secara ketat
3.
pemeriksaan radiologik (0, 8, 24 jam setelah pajanan)
4.
uji fungsi paru (minimal kapasitas vital dan kapasitas
difusi, atau lebih lengkap, jika mungkin pada 0, 8, 24 jam)
5.
terapi inhalasi kortikosteroid (awal 5 semprot dari 200
µg,
kemudian 2 semprot setiap 5-10 menit) juga kortikoseroid iv
(0,25 ­ 1g prednisolon)
Tujuan utama terapi adalah menekan perkembangan
edema paru dengan pemberian kortikosteroid secepat mungkin.
Pada kasus yang tidak jelas, penatalaksanaan agresif lebih baik.
Pemberian antibiotik berdasarkan adanya tanda inflamasi,
meskipun hasilnya meragukan lebih baik tetap diberikan.
Oksigen diberikan jika terdapat tanda-tanda hipoksia. Ventilasi
mekanik secara umum dilakukan jika frekuensi napas lebih dari
30 kali permenit dan tekanan parsial oksigen di bawah 55
mmHg. Komplikasi berat edema paru adalah acute respiratory
failure (acute respiratory distress syndrome, ARDS). Pola
penatalaksanaan inhalasi toksik dapat dilihat pada gambar 3.
Pencegahan pajanan zat toksik sangat penting dan dapat
dilakukan antara lain dengan memberikan informasi tentang
NO
2
dan pertolongan pertama pada intoksikasi akibat inhalasi
NO
2
terutama kepada pekerja berisiko tinggi, memasang tanda
peringatan khusus di tempat kerja yang potensial menghasilkan
NO
2
terutama dalam konsentrasi tinggi, desain ruangan dengan
ventilasi yang cukup sehingga mencegah NO
2
terkonsentrasi di
dalamnya.
Inhalasi gas toksik yang menimbulkan iritasi saluran
napas atas
Tidak ada keluhan
Sindrom iritasi
Terapi dan observasi
Gambar 3. Skema penatalaksanaan setelah inhalasi gas toksik
(28)
RANGKUMAN
Polusi udara merupakan masalah penting karena pengaruh-
nya bagi kesehatan terutama kesehatan paru. NO
2
merupakan
salah satu bahan polutan yang penting dengan konsentrasi
standar NO
2
0,53 ppm.
1.
Inhalasi NO
2
dapat menimbulkan penurunan fungsi paru,
memicu eksaserbasi asma, meningkatkan frekuensi infeksi ter-
gantung konsentrasi dan cara pajanan. Pada konsentrasi tinggi
dapat menyebabkan cedera paru hingga edema paru dan dapat
Terapi dan rawat
Perbaikan
Pulang
Pulang sesudah perawatan
Perburukan
Rawat
Inhalasi gas toksik yang menimbulkan iritasi
saluran napas bawah
Tidak ada keluhan
Keluhan tidak
spesifik
Tanda edema paru
jelas
Observasi
Terapi profilaksis
Tanda edema (-)
Tanda edema paru
Pulang
Cermin Dunia Kedokteran No. 138, 2003 21
background image
menimbulkan kematian.
2.
Penatalaksanaan inhalasi maupun intoksikasi NO
2
ber-
tujuan mencegah dan mengatasi edema paru dengan pemberian
kortikosteroid
3.
Pencegahan terhadap inhalasi dan intoksikasi NO
2
lebih
baik dan sangat penting
KEPUSTAKAAN
1.
Aditama TY, Mangunnegoro H, Tugaswati T. Polusi SO2, NO2 dan
ozon. Paru 1994; 3: 15-7.
2.
Aditama TY. Penilaian polusi udara. J Respir Indon 1999; 19: 4-5.
3.
Aditama TY. Dampak asap kebakaran hutan pada paru & pernapasan.
Jakarta: Yayasan Penerbitan Ikatan Dokter Indonesia, 1999. p. 1-5.
4.
Balmes JR, Tager I. Air pollution. In: Murray JF, Nadel JA, eds.
Textbook of respiratory medicine. 3
rd
ed. Philadelphia : WB Saunders
Co.; 2000. pp. 1886, 1893-6.
5.
Mangunnegoro H, Sutoyo DK. Environmental and occupational lung
diseases in Indonesia. Respirology 1996; 1:85-91.
6.
Marcelo B, Paulo HN, Saldiva, Pope AC, Capelozzi VL. Respiratory
changes due longterm exposure to urban level air pollution. Chest 1998;
113: 1312-8.
7.
Bascom R, Bromberg PA, Costa DA, Devlin R, et al. Health effects of
outdoor air pollution. Am J Respir Crit Care Med 1996; 153: 5,6,12-3.
8.
Aditama TY. Polusi udara dan kesehatan paru. Paru 1991; 11: 3-5.
9.
Waldbott GL. Source and actions of pollutans. In: Waldbott GL, ed.
Health effects on environmental pollutants. 2
nd
ed. St Louis: CV Mosby;
1978. p.91-2.
10.
Ross AS, Seaton A, Morgan C. Toxic gasses and fumes. In: Morgan C,
Seaton A, eds. Occupational lung disease. 3
rd
ed. Philadelphia: WB
Saunders Co.; 1995. p.580-4.
11.
Schepers GWH. Allergenic occupational air pollutants. In: Frazier MA.
ed. Occupational asthma. New York: Van Nostrand Reinhold Co.; 1980.
p. 326-7.
12.
Parmeggiani L.Nitrogen dioxide. In: Parmeggiani L, ed. Encyclopaedia of
Occupational Health and Safety. 3
rd
ed. Geneva: International labour
office; 1983. p.1458.
13.
Bates DV. Occupational lung diseases. In: Lamsback W, ed. Respiratory
function in disease. 3
rd
ed. Philadelphia: WB Saunders Co; 1989. p. 324-
32.
14.
Swartz DA, Balski CA. Toxic inhalation. In: Fishman AP, Elias JA,
Fishman JA, Grippi MA, et al. eds. Fishman's Pulmonary Disease and
Disorders. 3
rd
ed. New York: McGraw-Hill; 1998. p.928-34.
15.
Hazucha MJ, Follinsbee LJ, Seal E, Bromberg PA. Lung function
response of healthy women after sequential exposures to NO2 dan O3.
Am J Respir Crit Care Med 1994; 150: 642-7.
16.
Avol EL, Gauferman WH, Tan SM, Peters JM. Respiratory effects of
relocating to areas of differing air pollution levels. Am J Respir Crit Care
Med 2001; 164: 2067-72.
17.
Gauderman WJ, McConnel R, Gilliand F, London S, et al. Association
between air pollution and lung function growth in Southern California
children. Am J Respir. Crit Care Med 2000; 162: 1383-90.
18.
Framton MW, Morrow PE, Cox C, Gibb FR, et al. Effects of nitrogen
exposures on pulmonary function and airway reactivity in normal human.
Am Rev Respir Dis 1991; 143: 522-7.
19.
D'Amato G, Liccardi G, D'Amato M. Environmental risk factors
(outdoor and climatic changes) and increased trend of respiratory allergy.
J Investig Allerg Clin Immunol 2000; 10: 123-8.
20.
Bates DV. Effects of air pollutants on the lung. In: Lamsback W, ed.
Respiratory function in disease. 3
rd
ed. Philadelphia: WB Saunders Co.;
1989. pp.169-70.
21.
Yeates DB, Mortensen J. Deposition and clearance. In: Murray JF, Nadel
JA, eds. Textbook of respiratory medicine. 3rd ed. Philadelphia: WB
Saunders Co; 2000. p.372.
22.
Solomon C, Christian DL, Chen LL, Welch BS, et al. Effect of serial-day
exposure to nitrogen dioxide on airway and blood leukocytes and
lymphocyte subsets. Eur Respir J 2000; 15: 922-8.
23.
Helleday R, Huberman D, Blomberg A, Stenjeberg N, et al. Nitrogen
dioxide exposure impairs the frequency of the mucociliary activity in
healthy subjects. Eur Respir J 1995; 8: 1664-8.
24.
Sandstrom T. Respiratory effects of air pollution: experimental studies in
humans. Eur Respir J 1995; 8: 976-95.
25.
Byram H, Sasford JR, Abdelaziz MM. Effect of ozone and nitrogen
dioxide on the release of proinflammatory mediators from bronchial
epithelial cells of nonatopic nonastmathic subjects and atopic astmathic
patients in vitro. J Allergy Clin Immunol 2001; 107: 287-94.
26.
Sunyer J, Quenel P, Ponce-de-Leon A, Ponka A, et al. Urban air pollution
and emergency admissions for asthma in four European cities: the
APHEA Project. Thorax 1997; 52: 760-5.
27.
Piquette CA, Rennard SI, Snider GL. Chronic bronchitis and emphysema.
In: Murray JF, Nadel JA, eds. Textbook of respiratory medicine. 3d ed.
Philadelphia: WB Saunders Co; 2000. p.1213-5.
28.
Nowak D, Hoppe P. Acute exposure to toxic agents. In: Grassi C,
Brambilla C, Costabel U, Fishman, AP, et al, eds. Pulmonary diseases.
London: McGraw-Hill International Ltd; 1999.p.303-10.
Every brave man is a man of his word
(Corneille)
Cermin Dunia Kedokteran No. 138, 2003
22