background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Pengaruh Infeksi Virus
pada Perkembangan Asma
Adria Rusli, Faisal Yunus, Wiwien Heru Wiyono
Bagian Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta
PENDAHULUAN
Setelah ditemukannya teknik biologi molekular seperti
pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR), hibridisasi in
situ, reverse transcriptase (RT)-PCR dan PCR in situ, banyak
penelitian yang melaporkan virus sebagai penyebab serangan
asma. Infeksi virus dapat bersifat lokal pada saluran napas
seperti Respiratory syncytial virus (RSV) atau bagian dari
infeksi sistemik seperti campak atau cacar air. Infeksi virus
dapat menyebabkan kelainan yang bervariasi seperti common
cold, faringitis, trakeobronkitis, bronkitis atau pneumonia. Ke-
lainan tersebut akhirnya dapat menyebabkan kelainan saluran
napas yang bersifat kronik. Asma merupakan kelainan saluran
napas kronik.
1
Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute tahun
1995, asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas
yang melibatkan berbagai sel inflamasi terutama sel mast,
eosinofil, dan limfosit T. Pada individu yang rentan inflamasi
ini menyebabkan episode berulang mengi, sesak napas, rasa
berat di dada dan batuk pada malam atau pagi hari. Gejala
tersebut biasanya dihubungkan dengan penyempitan saluran
napas yang difus dengan derajat yang bervariasi dan dapat
membaik seluruhnya atau sebagian secara spontan atau dengan
pengobatan. Inflamasi menyebabkan peningkatan kepekaan
(hipereaktiviti) saluran napas terhadap berbagai macam rang-
sangan.
2
Pada tinjauan pustaka ini akan dibahas mengenai epi-
demiologi, patogenesis, respons imun selular infeksi virus dan
hubungan mengi pada anak dengan asma.
EPIDEMIOLOGI
Asma pada anak masih menjadi masalah kesehatan karena
memerlukan biaya yang tinggi, ketidakhadiran di sekolah dan
kunjungan ke rumah sakit yang masih tinggi.
3,4
Kekerapan anak
yang menderita asma di Inggris sekitar 20­33%.
1
Infeksi virus
pada saluran napas merupakan penyebab utama terjadinya
mengi pada anak dan dewasa yang menderita asma yaitu 10-
85% pada anak dan 10-45% pada dewasa.
3
Virus yang me-
nyebabkan infeksi pada saluran napas adalah Respiratory
syncytial virus (RSV), rhinovirus, parainfluensa, adenovirus,
influensa, dan coronavirus
1,5
seperti tampak pada tabel 1.
Tabel 1. Virus saluran napas dan penyakit yang diakibatkan
Tipe Virus
Serotipe
cc
Asma Pneumonia Bronkitis Bronkiolitis
rhinovirus
1-100 +
+++
+++
+ / -
+
+
coronavirus 229E
OC43 ++ ++
influensa
A, B, C
+
+
++
+
parainfluensa 1,2,3,4
+
+
+/-
++
+
RSV A,
B +
+
+ + +++
adenovirus 1-43
+ + ++
+
+
Keterangan :
cc
: common cold
+/-
: jarang
+ : diketahui
++ : sering
+++
: penyebab utama
Dikutip dari (1)
Respiratory syncytial virus merupakan penyebab utama
terjadinya mengi pada anak,
6-12
sedangkan rhinovirus sebagai
penyebab serangan asma akut.
13-16
McIntosh melaporkan 32
anak usia 1-5 tahun yang menderita asma, dari 139 episode
serangan asma ditemukan 58 episode (42%) disebabkan oleh
RSV.
3
Respiratory syncytial virus terdiri atas 2 subtipe yaitu
tipe A dan B, namun tidak ada perbedaan antara keduanya
dalam hal peningkatan insidens mengi atau bronkiolitis.
1
Kira-
kira 60-70% gejala mengi akan menghilang sejalan dengan
bertambahnya usia dan hanya 30% yang akan berkembang
menjadi asma, biasanya pada anak yang sebelumnya sudah
mempunyai faktor atopi.
3
Atopi dapat dijumpai pada anak yang terinfeksi campak
atau tidak terinfeksi tuberkulosis (tb). Shaheen tahun 1994
melaporkan sepertiga dari jumlah anak yang menderita campak
di Guinea-Bissau Afrika Barat mempunyai sensitisasi terhadap
alergen lebih besar dibandingkan dengan anak yang mendapat
vaksin campak. Hubungan tidak terinifeksi tb dengan atopi
dilaporkan Shirakawa, 867 anak sekolah mendapat imunisasi
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003 19
background image
BCG pada saat lahir, 6 dan 12 tahun; pada anak dengan respons
tuberkulin kuat mempunyai serum IgE dan sitokin Th
2
rendah
sedangkan sitokin Th
1
meningkat
dikutip dari 8
(gambar 1).
Healthy infant
20
RSV
PIV
Wheezing illness
Resolution
Child or adult
with
asthma
Rhinovirus
Exaceration of asthma
Gambar 1. Hubungan infeksi virus, mengi dan asma
Keterangan :
RSV : respiratory synsytial virus
PIV : parainfuenza virus
TB :
tuberkulosis
Dikutip dari (8)
PATOGENESIS
Sebagian besar anak terinfeksi RSV pada usia kurang dari
2 tahun dan dapat menyebabkan mengi karena
7
:
1.
Terjadi respons imun yang menyebabkan
inflamasi pada individu tertentu.
2.
Anatomi saluran napas diameternya lebih kecil
sehingga hasil reaksi inflamasi akan menyumbat.
3.
Biasanya terjadi penurunan sistem imun yang
akan me-ningkatkan sensitisasi alergen dan tidak aktifnya
respons anti-virus sehingga infeksi semakin berat.
Virus masuk ke saluran napas melalui mukosilier dan
bereplikasi dalam 24 jam pertama. Masuknya virus ke epitel
saluran napas menyebabkan respons imun nonspesifik dini dari
sel epitel dan fagosit serta respons imun dari sel T. Pada
respons imun nonspesifik dini, setelah masuk ke sel epitel virus
akan merangsang sistem proteolisis kappa B dan mengaktifkan
nuclear factor kappa B (NF kappa B) yang selanjutnya akan
mengeluarkan sitokin proinflamasi seperti granulocyte- macro-
phage colony stimulating factor (GM-CSF), interleukin-6 (IL-
6), IL-8, regulated on activation normal T-cell expressed and
secreted (RANTES), dan IL-11.
5,6,8
Dari makrofag akan di-
keluarkan tumour necrosis factor-
(TNF-), IL-8, dan inter-
feron-
(IFN-) yang mempunyai efek antivirus dan proinfla-
masi.
6-8
Pada respon imun seluler sel T yang teraktifasi oleh
virus akan dihasilkan IFN-
, GM-CSF, IL-4, IL-5, dan IL-10
yang akan meregulasi sel efektor dan eosinofil sehingga terjadi
inflamasi,
7,8
seperti tampak pada gambar 2.
Pada bayi baru lahir dari orang tua dengan riwayat atopi
terutama ibunya, didapatkan IL-4 dan IL-5 yang meningkat
dibandingkan dengan bukan atopi. Pada manusia faktor atopi
berhubungan dengan kromosom 5q31- q33 dan 11q. Hubungan
kelainan kromosom 5q dan atopi pertama kali dilaporkan oleh
Marsh (1994) yang mendapatkan pada orang dengan serum
IgE tinggi ditemukan kelainan kromosom 5q. Hal ini dibantah
oleh Kamitani (1997) yang mengatakan tidak ada hubungan
antara kromosom 5q dengan asma atau atopi. Folster (1998)
melaporkan hubungan antara kelainan kromoson 11q pada
orang dengan riwayat atopi dan serum IgE yang tinggi, hal
yang sama dilaporkan juga oleh Shirakawa (1994).
17
Gambar 2. Respons inflamasi infeksi virus pada saluran napas
Epi= epitel, IFN-
= interferon, Mac= makrofag, IL-5= interleukin-5 TNF-
=
tumour necrosis factor-
, GM-CSF= granulocyte macrophage colony stimulat-
ing factor, RANTES= regulated on activation normal T-cell expressed and
secreted .
Dikutip dari (8)
RESPONS IMUN SELULAR
Makrofag
Makrofag dapat ditemukan di mukosa, submukosa saluran
napas dan alveoli. Makrofag di alveoli (makrofag alveolar) me-
rupakan sel terbanyak yang ditemukan pada pemeriksaan
kurasan bronkoalveolar yaitu kira-kira 90%.
8
Fungsi makrofag
memfagosit virus melalui TNF
dan INF , selain itu fungsi-
nya mempresentasikan antigen kepada sel T yang selanjutnya
akan mengeluarkan sitokin dan mediator seperti INF
,
RANTES, GM-CSFdan IL-5.
1,8
Limfosit
Pada infeksi virus jumlah limfosit bertambah di jaringan
paru dan sebaliknya menurun di pembuluh darah perifer kerena
terjadi migrasi. Peningkatan jumlah limfosit berbanding lurus
dengan derajat reaktiviti infeksi virus.
6
Respons antigen akan
mengaktivasi Th
2
atau Th
1
dan Th
2
. Percobaan dengan binatang
yang terinfeksi RSV didapatkan aktivasi Th
1
atau Th
2
ter-
gantung pada jenis protein virus. Pada penderita asma yang
terinfeksi rhinovirus 16 didapatkan sitokin Th
1
dan Th
2
yang
Atopy
Early childhood
infections
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003
background image
seimbang banyaknya dalam sputum. Sitokin Th
1
adalah INF
dan sitokin Th
2
adalah IL- 5 yang selanjutnya akan mempeng-
aruhi produksi dan pematangan eosinofil.
1
Sel mast
Sel mast banyak ditemukan pada saluran napas terutama di
epitel bronkus, lumen saluran napas dan membran basalis.
Jumlah sel mast akan meningkat setelah infeksi virus. Sel mast
akan mengeluarkan mediator inflamasi leukotrien (LT)C
4
.
Selama infeksi RSV terjadi peningkatan jumlah LT C
4
yang
berbanding lurus dengan beratnya gejala penyakit. Pada anak
yang menderita bronkiolitis jumlah sel mast meningkat 5 kali
lebih banyak dibandingkan dengan anak yang menderita gejala
penyakit saluran napas atas. Leukotrien C
4
merupakan salah
satu mediator yang menyebabkan bronkokonstriksi pada asma.
1
Eosinofil
Infiltrasi eosinofil di saluran napas merupakan gambaran
yang khas pada penderita asma alergi.
6,8
Pada biopsi epitel
bronkus didapatkan jumlah eosinofil yang meningkat pada
orang normal dan penderita asma yang terinfeksi rhinovirus.
Eosinofil akan meningkat lebih dari 6 minggu pada penderita
asma. Eosinofil berkumpul di saluran napas di bawah pengaruh
IL-5, GM-CSF, IL-8 dan RANTES.
1,18
Granulocyte-macrophage colony stimulating factor mem-
pegaruhi pembentukan eosinofil di sumsum tulang dan mem-
perpanjang umur eosinofil namun jumlahnya tidak meningkat
pada penderita yang terinfeksi virus saluran napas atas. Re-
gulated on activation normal T-cell expressed and secreted
akan meningkat jumlahnya pada sekret hidung anak asma yang
terinfeksi virus. Regulated on activation normal T-cell express-
ed and secreted berfungsi mempengaruhi produksi eosinofil di
sumsum tulang dan memperpanjang umur eosinofil. Pada bina-
tang percobaan diketahui eosinofil mempunyai efek antivirus.
1
Neutrofil
Jumlah neutrofil akan meningkat pada penderita asma dan
bukan asma yang terinfeksi virus. Peningkatan terjadi pada hari
ke 4 dan berbanding lurus dengan IL-8. Interleukin 8 me-
rupakan kemokin yang mengaktivasi neutrofil, limfosit, basofil
dan eosinofil. Pada penderita asma atopi yang terinfeksi
Rhinovirus 16 didapatkan peningkatan IL-8 dan neutrofil pada
kurasan cairan hidung selama masa akut infeksi, kadar
neutrophil myeloperoxidase berbanding lurus dengan beratnya
gejala asma.
1
Wark melaporkan penderita asma yang terinfeksi virus
akan terjadi peningkatan neutrofil yang berbanding lurus
dengan berat serangan asma dan lama rawat di rumah sakit.
Pada penelitian ini, Wark melakukan pengukuran eosinophil
cation protein ( ECP) dan enzym lactate dehydrogenase
(LDH).
5
Natural killer cell (NK cell)
Natural killer cell merupakan sel yang penting dalam
respons imun, fungsinya mengeliminasi sel target termasuk sel
yang terifeksi virus. Natural killer cell dibentuk saat permulaan
infeksi virus namun perannya pada saluran napas penderita
asma belum jelas.
1
Hubungan infeksi virus dan inflamasi saluran napas
Hubungan infeksi virus dan infamasi saluran napas adalah
pada penderita asma yang terinfeksi virus lebih berat gejala
gangguan pernapasannya dibandingkan dengan penderita
bukan asma yang terinfeksi virus. Mekanisme imonologi hu-
bungan ini secara detail belum jelas namun diduga infeksi virus
meningkatkan sensitivitas saluran napas penderita asma. Hipo-
tesis lain tentang patogenesis serangan asma yang disebabkan
infeksi virus dapat dilihat pada table 2.
1
Tabel 2. Hipotesis patogenesis serangan asma karena infeksi virus
Kerusakan epitel
Gangguan bersihan siliar
Permiabilitas meningkat
Kehilangan fungsi proteksi
Produksi mediator
Komplemen
Metabolisme asam arakidonat
Produksi oksigen reaktif
Induksi inflamasi
Sitokin
Kemokin
Aktivasi sel imun
Induksi adesi molekul
Disregulasi Ig E
Ig E total meningkat
Produksi Ig E antivirus
Remodeling saluran napas
Otot polos saluran napas
Fibroblas
Mielofibroblas
Faktor pertumbuhan
Respons saraf
Sensitivitas kolinergik meningkat
Modulasi metabolisme neuropeptid
Disfungsi reseptor
adrenergik
Dikutip dari (1)
Hubungan mengi bayi dan asma
Mengi bayi dapat terjadi jika ada faktor predisposisi se-
perti prematur, fungsi paru yang rendah saat lahir ibu perokok,
sering terinfeksi virus.dan faktor risiko utama infeksi virus
terutama RSV dan terpajan asap rokok. Mengi bayi akan men-
jadi asma bila mempunyai faktor risiko seperti lahir dari ibu
yang menderita alergi atau asma, terpajan alergen, dan faktor
risiko utama infeksi virus terutama rhinovirus dan terpajan asap
rokok,
20
(tabel 3).
Interaksi faktor predisposisi dan faktor risiko sehingga me-
nyebabkan gejala mengi dapat dilihat pada gambar 3.
9
Tabel 3. Hubungan mengi bayi dan asma
Mengi
Bayi Asma
factor
predisposisi
prematur
fungsi paru rendah
ibu perokok
infeksi virus
foktor genetik
ibu
asma
ibu
atopi
dermatitis atopi
alergi makanan
terpajan aeroallergen
faktor risiko
utama
infeksi virus terutama RSV
terpajan asap rokok
infeksi virus terutama RV
terpajan aeroallergen
terpajan asap rokok
Dikutip dari (20)
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003 21
background image
Gambar 3. Interaksi faktor predisposisi dan faktor risiko terjadinya
mengi
Dikutip dari (9)
RANGKUMAN
Infeksi virus dapat menimbulkan gejala mengi pada bayi
usia kurang dari 2 tahun. Virus yang tersering menyebabkan
gejala mengi adalah RSV dan rhinovirus. Mengi akan ber-
kembang menjadi asma bila bayi tersebut mempunyai faktor
risiko seperti atopi, terpajan alergen, terpajan asap rokok,
terinfeksi virus, ibu asma atau perokok. Faktor risiko atopi ber-
hubungan dengan kelainan pada kromosom 5q31-q33 dan 11q.
Masuknya virus ke saluran napas akan mengakibatkan
respons imun nonspesifik sel epitel dengan mengeluarkan
sitokin proinflamasi seperti GM-CSF, IL-6, IL-8, RANTES,
dan IL-11. Dari makrofag akan dikeluarkan TNF-
, INF-, dan
IL-8 yang mempunyai efek antivirus dan proinflamasi. Respons
imun selular infeksi virus akan mengakibatkan sel T me-
ngeluarkan IFN-
, GM-CSF, IL-4. IL-5 dan IL-10. Pada infeksi
virus terjadi peningkatan jumlah makrofag, limfosit, sel mast,
eosinofil dan neutrofil.
KEPUSTAKAAN
1.
Massage SD, Johnston SL. The immunology of virus infection in asthma.
Eur Respir J 2001; 18: 1013-25.
2.
McConnell WD, Holgate ST. The definition of asthma: its relationship to
other chronic obstructive lung diseases. In: Clark TJH, Godfrey S, Lee
TH, Thomson NC eds. Asthma, 4
th
ed. New York. Oxford University
Press Inc; 2000, p. 1-25.
Infeksi virus dan terpajan zat iritan
3.
Sheth KK, Busse WW. Respiratory tract infection and asthma. In:
Gershwin ME, Halpern GM eds. Bronchial asthma, 3
th
ed. New Jersey.
Humana Press Inc; 1994, p. 481-512.
Atopi
4.
Johnston SL, Pattemore PK, Sanderson G, Smith S, Campbell MJ,
Josephs LK, at al. The relationship between upper respiratory infections
and hospital admissions for asthma: A time- trend analysis. Am J Respir
Crit Care Med 1996; 154: 654-60.
hiperreaktiviti saluran napas
Inflamasi
5.
Wark PAB, Johnston SL, Moric I, Simpson JL, Hensley MJ, Gibson PG.
Neutrophil degranulation and cell lysis is associated with clinical severity
in virus- induced asthma. Eur Respir J 2002; 19: 68-75.
6.
Welliver RC. Immunologic mechanisms of virus- induced wheezing and
asthma. J Pediatr 1999; 135: S14-9.
penurunan fungsi paru dan
diameter saluran napas
konginital
7.
Gern JE, Busse WW. The role of virus infections in the natural history of
asthma. J Allergy Clin Immunol 2000; 106: 201-12.
8.
Gern JE. Viral and bacterial infections in the development and
progression of asthma. J Allergy Clin Immunol 2000; 105: S497-502.
mengi
9.
Kattan M. Epidemiologic evidence of increased airway reactivity in
children with a history of bronchiolitis. J Pediatr 1999; 135: S8-13.
10.
Carlsen KH, Sterk PJ. Infection: friend or foe to the development of
asthma? Eur Respir J 2001; 18: 744-7.
11.
McBride JT. Pulmonary function changes in children after respiratory
syncytial virus infection in infancy. J Pediatr 1999; 135: S28-32
12.
Peebles RS, Hashimoto K, Collins RD, Jarzecka K, Furlong J, Mitchell
DB, et al. Immune interaction between respiratory syncytial virus infec-
tion and allergen sensitization critically depends on timing of challenges.
The J Infect Dis 2001; 184: 1374-9.
13.
Papi A, Papadopoulos NG, Degitz K, Holgate ST, Johnston SL.
Corticosteroids inhibit rhinovirus- induced intercellular adhesion
molecule- 1 up- regulation and promoter activation on respiratory
epithelial cells. J Allergy Clin Immunol 2000; 105: 318-26.
14.
Cheung D, Dick EC, Timmers MC, Klerk EPA, Spaan WJM, Sterk PJ.
Rhinovirus inhalation causes long- lasting excerssive airway narrowing in
response to methacholine in asthmatic subjects in vivo. Am J Respir Crit
Care Med 1995; 152: 1490-6.
15.
Fraenkel DJ, Bardin PG, Sanderson G, Lampe F, Johnston SL, Holgate S.
Lower airways inflammation during rhinovirus colds in normal and in
asthmatic subjects. Am J Respir Crit Care Med 1995; 151: 879-86.
16.
Parry DE, Busse WW, Sukow KA, Dick CR, Swenson C, Gern JE.
Rhinovirus- induced PBMC responses and outcome of experimental
infection in allergic subjects. J Allergy Clin Immunol 2000; 105: 692-8.
17.
Koppelman GH, Meijer GG, Blecker ER, Postma DS. Genetics of
asthma. In: Clark TJH, Godfrey S, Lee TH, Thomson NC eds. Asthma,
4
th
ed. New- York. Oxford University Press Inc; 2000, p. 146-74.
18.
Ehlenfield DR, Cameron K, Welliver RC. Eosinophilia at the time of
respiratory syncytial virus bronchiolitis predicts childhood reactive
airway disease. Pediatrics 2000; 105: 79-83.
19.
Irvin CG. Interaction between the growing lung and asthma: Role of early
intervention. J Allergy Clin Immunol 2000; 105: S540-6.
20.
Heymann PW, Zambrano JC, Rakes GP. Virus-induced wheezing in
children. Immunology and Allergy Clinics of North America 1998; 18:
25-45
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003
22