HASIL PENELITIAN
Penelitian Disolusi dan Penetapan
Kadar Kaptopril dalam Sediaan
Generik dan Sediaan Inovator
Pudji Lastari, Janahar Murad, Daroham Mutiatikum, Sukmayati Alegantina
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Sediaan kaptopril dalam bentuk tablet, selain generik juga tersedia dengan nama
dagang. Untuk memasyarakatkan obat generik berlogo (OGB) diperlukan informasi
tentang mutu OGB tersebut guna meyakinkan bahwa mutu obat generik tidak lebih
rendah dari mutu obat padanannya dengan nama dagang. Kondisi ekonomi pada masa
krisis menjadikan harga obat sangat mahal, informasi mutu OGB diharapkan akan
meningkatkan penggunaan OGB oleh praktisi kesehatan dan masyarakat. Untuk itu
diperlukan data laboratorium, antara lain profil disolusi, uji disolusi dan penetapan
kadar sediaan obat tersebut yang merupakan salah satu parameter mutu. Untuk itu
telah dilakukan uji disolusi dan penetapan kadar sediaan generik dan sediaan dengan
nama dagang (inovator) tablet kaptopril 12,5 mg. Uji disolusi dan penetapan kadar
dilakukan menggunakan metode yang tercantum dalam The United States Pharma-
copeia 23, 1995. Pengambilan sampel dilakukan pada semua pabrik yang mempro-
duksi OGB (4 pabrik) dan satu pabrik inovator, dari tiap pabrik diambil 3 sampel.
Hasil uji disolusi tablet kaptopril generik semuanya mempunyai profil disolusi
yang serupa, namun keempatnya memiliki profil disolusi yang berbeda dengan tablet
kaptopril inovator. Kadar tablet kaptopril generik dari 4 pabrik masing-masing
101,82%; 99,99%; 98,49%; 98,89% sedang kadar tablet kaptopril inovator adalah
102,10%. Kadar tablet kaptopril generik dari pabrik A tidak berbeda nyata dengan
kadar tablet kaptopril inovator, sedang kadar tablet kaptopril generik dari pabrik B, C
dan D berbeda nyata dengan kadar tablet kaptopril inovator, tetapi semuanya masih
dalam batas yang dipersyaratkan oleh The United States Pharmacopeia (USP 23)
(1995).
PENDAHULUAN
Kaptopril adalah 1 [(2S)-3-merkapto-2-metilpropionil]-L-
prolina, berupa hablur putih atau hampir putih, bau khas seperti
sulfida, melebur pada suhu 104
°C sampai 110°C. Kaptopril
merupakan obat anti hipertensi yang bekerja secara langsung
dengan menghambat enzim konversi angiotensin. Diabsorbsi
secara cepat 60-65%, absorbsi berkurang 30-40% bila
diberikan bersama makanan, maka harus diberikan 1 jam
sebelum makan, dieksresi melalui ginjal. Kaptopril mengurangi
kadar angiotensin II sehingga terjadi vasodilatasi dan
penurunan tekanan darah.
Kaptopril efektif untuk hipertensi ringan, sedang maupun
berat. Monoterapi efektif sebagai antihipertensi pada sekitar
70% penderita. Pada hipertensi berat dapat ditambah sebagai
vasodilator pada diuretika dan
-bloker. Kaptopril lebih efektif
pada penderita yang lebih muda bila digunakan sendiri. Obat
ini terpilih untuk penderita hipertensi dengan gagal jantung
kongestif. Dosis awal 3x25 mg/hari, setelah satu atau dua
minggu jika perlu bisa ditingkatkan menjadi 3x50 mg/hari.
Efek samping yang sering terjadi adalah batuk kering (10-
20%), lebih sering pada wanita dan pada malam hari. Efek
samping lainnya kulit merah, gangguan pengecap, udem.
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001
10
Untuk mengurangi efek samping dosis dimulai serendah
mungkin dan dinaikkan perlahan-lahan.
Untuk memasyarakatkan obat generik berlogo (OGB)
diperlukan informasi tentang mutu OGB tersebut guna
meyakinkan bahwa mutu obat generik tidak lebih rendah dari
mutu obat padanannya dengan nama dagang; informasi mutu
OGB diharapkan akan meningkatkan penggunaan OGB oleh
praktisi kesehatan dan masyarakat. Untuk itu diperlukan data
laboratorium, antara lain profil disolusi, uji disolusi dan
penetapan kadar sediaan obat tersebut yang merupakan salah
satu parameter mutu. Untuk itu telah dilakukan uji disolusi dan
penetapan kadar sediaan generik dan sediaan dengan nama
dagang (inovator) tablet kaptopril 12,5 mg.
Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan informasi mutu
obat generik berlogo dengan mendapat gambaran mutu tablet
kaptopril produksi pabrik OGB berdasarkan perbandingan
parameter kecepatan melarut (disolusi) dan kadar zat
berkhasiat dengan produk inovator. Pada penelitian ini
dilakukan uji disolusi dan penetapan kadar tablet kaptopril 12,5
mg sediaan generik dan sediaan padanannya dengan nama
dagang (inovator).
METODOLOGI
Sampel terdiri dari tablet kaptopril yang diambil dari semua
pabrik yang memproduksi obat generik berlogo dan satu pabrik
inovator, dari tiap pabrik diambil 3 sampel. Disolusi dan
penetapan kadar tablet kaptopril dilakukan menurut cara yang
tercantum dalam The United States Pharma-copeia 23, 1995.
Disolusi menggunakan alat disolusi tipe 1 dengan kecepatan
putar 50 rpm dan media disolusi asam klorida 0,1 N sebanyak
900 ml. Dalam waktu 20 menit harus larut tidak kurang dari
80% C
9
H
15
NO
3
S dari jumlah yang tertera pada etiket.
Penetapan kadar dilakukan dengan menggunakan metode
kromatografi cair kinerja tinggi menggunakan kolom L1
ukuran 300x3,90 mm, fase gerak campuran air, asam fosfat dan
metanol (449,50 : 0,50 : 500). Laju alir 1,0 ml/menit
menggunakan detektor UV pada panjang gelombang 220 nm.
Larutan baku, ditimbang dengan seksama sejumlah
kaptopril BPFI, kemudian dilarutkan dalam fase gerak hingga
kadar lebih kurang 1 mg/ml. Larutan uji, sebanyak 20 tablet
ditimbang, kemudian diserbukkan, sejumlah serbuk setara
dengan 25 mg kaptopril dimasukkan ke dalam tabung
sentrifuge, ditambah 25 ml fase gerak, sonikasi selama 15
menit, kemudian disentrifuge. Cairan bening adalah larutan uji.
Kemudian disuntikkan secara terpisah sejumlah volume sama
(20 ul) larutan baku dan larutan uji ke dalam kromatograf,
rekam kromatogram dan ukur respon puncak utama. Untuk
menghitung jumlah C
9
H
15
NO
3
S dalam serbuk tablet yang
digunakan dengan rumus:
(Ru)
25 C
Rs
C = kadar kaptopril BPFI dalam mg per ml larutan baku
Ru = Respon puncak larutan uji
Rs = Respon puncak larutan baku
HASIL
Hasil penetapan kadar
Tabel 1. Hasil penetapan kadar zat berkhasiat tablet kaptopril
No.
Nama Produk
Kadar rata-rata (%)
Deviasi standar
1 Generik
A
101,82
2,680
2 Generik
B
99,09
1,877
3 Generik
C
98,49
1,003
4 Generik
D
98,89
0,739
5 Inovator
(E)
102,10
0,908
Hasil penetapan kadar terbesar pada inovator (E) dan hasil
penetapan kadar terkecil pada produk generik C. Kromatogram
dapat dilihat pada lampiran 1 sampai dengan lampiran 16.
Tabel 2. Perbandingan tablet kaptopril generik dengan tablet inovator.
No.
Uraian
perbandingan
Nilai P
95% CI
Keterangan
1
Generik A dengan
Inovator
0,809 -2,287 -
2,860
Tidak berbeda
bermakna
2
Generik B dengan
Inovator
0,005
1,121 - 4,912
Berbeda bermakna
3
Generik C dengan
inovator
0,0001
2,383 - 4,840
Berbeda bermakna
4
Generik D dengan
inovator
0,0001
2,143 - 4,487
Berbeda bermakna
Kadar tablet kaptopril generik A tidak berbeda bermakna
dengan inovator, sedang kadar tablet kaptopril generik B, C
dan D berbeda bermakna dengan kadar inovator.
KESIMPULAN
1.
Kadar zat berkhasiat dari tablet kaptopril generik A, B, C
dan D adalah 101,82%; 99,09%; 98,49%; 98,89%, sedangkan
produk inovator adalah 102,10%. Seluruhnya memenuhi sya-
rat Farmakope.
2.
Hasil rata-rata uji disolusi tablet kaptopril generik A, B, C
dan D dalam waktu 20 menit kaptopril terlarut adalah 96,75%;
96,02%; 91,62% dan 92,94%, dan produk inovator 82,14%.
Seluruhnya memenuhi syarat Farmakope.
S
ARAN
Permasyarakatan obat generik berlogo hendaknya makin ditingkatkan
karena harganya lebih murah dibandingkan dengan produk dengan nama
dagang dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan Farmakope.
Data laboratorium obat generik dapat disebarluaskan melalui brosur baik
oleh prosedur atau melalui buku panduan yang memuat hasil uji laboratorium
obat generik.
Untuk tablet kaptopril karena profil disolusi generik dan inovator berbeda
maka untuk mengetahui lebih lanjut absorbsi obat dalam darah perlu dilakukan
penelitian bioavailabilita
s.
KEPUSTAKAAN
1.
----------. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta. Direktorat Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan Depkes RI. 1995.
2.
----------. ISO Indonesia volume XXX. Jakarta. Ikatan Sarjana Farmasi
Indonesia. 1998.
3.
----------. The United States Pharmacopeia 23. National Formulary 18.
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001 11