background image
Penanggulangan Penyalahgunaan
Narkotika, Psikotropika
dan Zat Adiktif Lainnya (NAPZA)
Drs. Ketut Kusminarno Apt
Staf Direktorat Pengawasan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif
Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Penyalahgunaan Napza merupakan suatu pola pengguna-
an yang bersifat patologik, berlangsung dalam jangka waktu
tertentu dan menimbulkan gangguan fungsi sosial dan oku-
pasional. Istilah Napza (Narkotika, Psikotropika, dan Zat
Adiktif lainnya) lebih tepat dibandingkan dengan istilah
Narkoba karena di dalarn singkatan tersebut tercantum juga
psikotropika, yaitu obat yang biasanya digunakan untuk gang-
guan kesehatan jiwa namun termasuk yang sering disalah-
gunakan dan dapat menimbulkan adiksi.
Napza pada awalnya adalah sejenis obat-obatan tertentu
yang digunakan oleh kalangan kedokteran untuk terapi misal-
nya untuk menghilangkan rasa nyeri. Namun pada per-
kembangannya obat-obatan itu disalahgunakan (abuse) sehing-
ga menimbulkan ketergantungan (adiksi).
Napza dapat dikelompokkan dalam golongan Opiat dan
Non Opiat.
Ada banyak alasan mengapa orang menggunakan Napza;
pada awalnya ada yang hanya mencoba-coba atau sekedar ingin
tahu; lama-kelamaan mengalami ketergantungan;sehingga akan
muncul berbagai masalah dan persoalan. Persoalan yang dapat
muncul antara lain : Kepribadian adiksi, terinfeksi berbagai
penyakit (HIV/AIDS, Hepatitis B, C); reaksi putus obat
(sakaw), pengobatan yang mahal, overdosis (OD), dan lain-
lain. Selain itu seorang pengguna NAPZA akan banyak meng-
alami kesulitan di masa depan serta dalam kehidupan sosialnya.
SEJARAH AWAL
Kurang lebih tahun 2000 SM di Samaria dikenal sari
bunga Papaver somniferum yang kemudian dikenal sebagai
opium (candu). Bunga ini tumbuh subur di daerah dengan
ketinggian 500 meter di atas permukaan laut Penyebaran se-
lanjutnya adalah ke arah India, Cina dan wilayah-wilayah Asia
lainnya.
Cina kemudian menjadi tempat yang sangat subur dalam
penyebaran candu ini (dimungkinkan karena iklim dan keadaan
negeri). Memasuki abad ke XVII masalah candu ini bagi Cina
telah menjadi masalah nasional; bahkan di abad XIX terjadi
perang Candu yang berakhir dengan penaklukan Cina oleh
Inggris dan harus merelakan Hong Kong.
Tahun 1806 seorang dokter dari Westphalia bernama
Friedrich WiIhelm Serturner. menemukan modifikasi candu
yang dicampur amoniak yang kemudian dikenal sebagai
Morfin (diambil dari nama dewa mimpi Yunani yang bernama
Morpheus).
Tahun 1856 waktu pecah perang saudara di Amerika,
morfin ini sangat populer sebagai penghilang rasa sakit akibat
luka-luka perang, menyebabkan sebagian tahanan perang ter-
sebut ketagihan (adiksi), sehingga disebut sebagai "penyakit
tentara".
Tahun 1874 seorang ahli kimia bernama Alder Wright dari
London, merebus cairan morfin dengan asam anhidrat (asam
yang ada pada sejenis jamur), campuran ini ketika diuji coba
pada anjing menyebabkan anjing tersebut tiarap, ketakutan,
mengantuk dan muntah-muntah. Namun tahun 1898 pabrik
obat Bayer memproduksinya sebagai obat dengan nama
Heroin, sebagai obat resmi penghilang sakit (pain killer).
Efek adiksi/ketergantungan heroin jauh melebihi efek
analgesiknya, karena itu penggunaan heroin telah dilarang oleh
WHO sejak tahun 1954.
Tahun 1960-70-an pusat penyebaran candu dunia berada
pada daerah Golden Triangle yaitu Myanmar, Thailand, dan
Laos, dengan produksi 700 ribu ton setiap tahun. Juga pada
daerah Golden Crescent yaitu Pakistan, Iran, dan Afganistan.
Kemudian menuju Afrika dan Amerika.
Selain morfin dan heroin masih ada lagi jenis lain yaitu
kokain, berasal dari tumbuhan coca (Erythroxylon coca) yang
tumbuh di Peru dan Bolivia. Kokain ini pernah digunakan
untuk penyembuhan asma dan TBC.
KEADAAN DAN MASALAH
Dalam lima tahun terakhir, penyalahgunaan Napza me-
ningkat secara bermakna. Bukan saja jumlah penyalahguna
bertambah banyak tetapi penyebarannyapun menjadi sangat
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 17
background image
meluas dan menghinggapi semua lapisan sosial-ekonomi
masyarakat baik strata sosial ekonomi atas sampai ke paling
bawah. Tidak hanya anak-anak dari keluarga broken home,
tetapi juga anak-anak dari keluarga harmonis, dan dari
kampus-kampus perguruan tinggi sampai kesekolah-sekolah
dasar, bahkan pesantren. Jenis Napza yang digunakannyapun
menjadi sangat beragam.
Jumlah sesungguhnya dari penyalahguna NAPZA di
Indonesia belum diketahui dengan tepat. Data dari Rumah
Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dan Rumah Sakit Polri
menunjukkan bahwa jumlah kunjungan rawat jalan dan rawat
inap meningkat dari ± 1779 pada tahun 1996 menjadi ± 8170
pada tahun 1999; meningkat sebanyak lebih dari 4 kali dalam
tiga tahun. WHO (World Health Organization) memperkirakan
jumlah penyalahguna yang tidak dirawat adalah sekitar sepuluh
kali lebih besar daripada yang sempat dirawat.
Kecenderungan yang menyedihkan adalah bahwa para
penyalahguna muda usia makin banyak dan berasal dari
keluarga miskin. Tindak kriminal dan kekerasan akibat pe-
nyalahgunaan Napza juga cenderung meningkat. Penyebaran
HIV/AIDS melalui penyalahgunaan Napza suntikpun cen-
derung meningkat dengan cepat akhir-akhir ini.
Tindakan hukum terhadap para pengedar, produsen gelap
serta mereka yang terlibat dalam penyalahgunaan Napza di-
rasakan masih sangat ringan, karena sanksinya hanya pidana
penjara maksimal 10 tahun, sehingga ada seorang produsen
Ecstacy yang hanya dijatuhi hukuman 3 bulan penjara.
Kondisi penyalahgunaan NAPZA saat ini dirasakan sudah
sangat serius dan mengkhawatirkan serta mengancam kese-
lamatan negara, mengingat sebagian besar korbannya adalah
generasi muda yang merupakan generasi penerus kita.
BAHAYA PENYALAHGUNAAN NAPZA
Gejala-Gejala Pemakaian Napza Yang Berlebihan
1. Opiat (heroin, morfin, ganja)
-
perasaan senang dan bahagia
-
acuh tak acuh (apati)
-
malas bergerak
-
mengantuk
-
rasa mual
-
bicara cadel
-
pupil mata mengecil (melebar jika overdosis)
-
gangguan perhatian/daya ingat
2. Ganja
-
rasa senang dan bahagia
-
santai dan lemah
-
acuh tak acuh
-
mata merah
-
nafsu makan meningkat
-
mulut kering
-
pengendalian diri kurang
-
sering menguap/ngantuk
-
kurang konsentrasi
-
depresi
3. Amfetamin
(shabu,
ekstasi)
- kewaspadaan
meningkat
- bergairah
- rasa
senang,
bahagia
- pupil
mata
melebar
-
denyut nadi dan tekanan darah meningkat
- sukar
tidur/insomnia
-
hilang nafsu makan
4. Kokain
-
denyut jantung cepat
-
agitasi psikomotor/gelisah
-
euforia/rasa gembira berlebihan
-
rasa harga diri meningkat
-
banyak bicara
-
kewaspadaan meningkat
-
kejang
-
pupil (manik mata) melebar
-
tekanan darah meningkat
-
berkeringat/rasa dingin
-
mual/muntah
-
mudah berkelahi
-
psikosis
-
perdarahan darah otak
-
penyumbatan pembuluh darah
-
nystagmus horisonta/mata bergerak tak terkendali
-
distonia (kekakuan otot leher)
5. Alkohol
-
bicara cadel
-
jalan sempoyongan
-
wajah kemerahan
-
banyak bicara
-
mudah marah
-
gangguan pemusatan perhatian
-
nafas bau alkohol
6. Benzodiazepin (pil nipam, BK, mogadon)
-
bicara cadel
-
jalan sempoyongan
-
wajah kemerahan
-
banyak bicara
-
mudah marah
-
gangguan pemusatan perhatian
Tanda-Tanda Kemungkinan Penyalahgunaan Napza
a. Fisik
-
berat badan turun drastis
- mata terlihat cekung dan merah, muka pucat, dan bibir
kehitam-hitaman
- tangan penuh dengan bintik-bintik merah, seperti bekas
gigitan nyamuk dan ada tanda bekas luka sayatan. Goresan dan
perubahan warna kulit di tempat bekas suntikan
-
buang air besar dan kecil kurang lancar
-
sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas
b. Emosi
-
sangat sensitif dan cepat bosan
- bila ditegur atau dimarahi, dia malah menunjukkan sikap
membangkang
-
emosinya naik turun dan tidak ragu untuk memukul orang
atau berbicara kasar terhadap anggota keluarga atau orang di
sekitarnya
-
nafsu makan tidak menentu
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
18
background image
c. Perilaku
-
malas dan sering melupakan tanggung jawab dan
tugas-tugas rutinnya
-
menunjukkan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga
-
sering bertemu dengan orang yang tidak dikenal, pergi
tanpa pamit dan pulang lewat tengah malam
-
suka mencuri uang di rumah, sekolah ataupun tempat
pekerjaan dan menggadaikan barang-barang berharga di rumah.
Begitupun dengan barang-barang berharga miliknya, banyak
yang hilang
-
selalu kehabisan uang
-
waktunya di rumah kerapkali dihabiskan di kamar tidur,
kloset, gudang, ruang yang gelap, kamar mandi, atau
tempat-tempat sepi lainnya
-
takut air. Jika terkena akan terasa sakit - karena itu mereka
jadi malas mandi
-
sering batuk-batuk dan pilek berkepanjangan, biasanya
terjadi pada saat gejala "putus zat"
-
sikapnya cenderung manipulatif dan tiba-tiba tampak
manis bila ada maunya, seperti saat membutuhkan uang untuk
beli obat
-
sering berbohong dan ingkar janji dengan berbagai macam
alasan
-
jantung berdebar-debar
-
sering menguap
-
mengeluarkan air mata berlebihan
-
mengeluarkan keringat berlebihan
-
sering mengalami mimpi buruk
-
nyeri kepala
-
nyeri/ngilu sendi-sendi
LANGKAH-LANGKAH PENCEGAHAN PENYALAH
GUNAAN NAPZA
Dalam pencegahan penyalahgunaan Napza, yang perlu
dilakukan adalah :
-
memperkuat keimanan
-
memilih lingkungan pergaulan yang sehat
-
komunikasi keluarga yang baik
-
hindari pintu masuk Napza yaitu rokok
Sedangkan langkah-langkah yang dapat dipersiapkan
dalam pencegahan penyalahgunaan NAPZA antara lain sebagai
berikut :
1) Program Informasi
Hati-hati dalam mengemukakan sesuatu secara sensasio-
nal, karena justru akan menarik bagi mereka untuk menguji
keberaniannya. Teknik menakut-nakuti hanya efektif dalam
keadaan terbatas. Materi dan cara memberikan informasi
hendaklah sesuai dengan penerima informasi.
Suatu pesan yang sama sifatnya misalnya : mass media
akan diterima oleh pelbagai kelompok dalam masyarakat yang
berbeda-beda sehingga bisa diartikan secara berbeda pula
sehingga timbul dampak yang tidak diinginkan.
2) Program Pendidikan Efektif
Bertujuan untuk pengembangan kepribadian, pendewasaan
pribadi, meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputus-
an yang bijak, mengatasi tekanan mental secara efektif, me-
ningkatkan kepercayaan diri, menghilangkan gambaran negatif
mengenai diri sendiri dan meningkatkan komunikasi inter-
personal.
3) Program Penyediaan Pilihan yang Bermakna
Konsep ini bertujuan untuk mengalihkan penggunaan zat
adiktif kepada pilihan lain yang diharapkan dapat memberikan
kepuasan, baik fisik maupun psikologik. Kebutuhan yang
dimaksud antara lain kebutuhan "ingin tahu", kebutuhan meng-
alami hal-hal baru dalam hidupnya, kebutuhan terbentuknya
identitas diri, kebutuhan akan bebas berfikir dan berbuat,
kebutuhan akan penghargaan, serta kebutuhan diri diterima
dalam kelompok.
4) Pengenalan Dini dan Intervensi Dini
Mengenal dengan baik ciri-ciri anak yang mempunyai
risiko tinggi akan menggunakan zat, termasuk mereka yang
telah berada dalam taraf eksperimental. Segera memberikan
dukungan moril jika anak mengalami/menghadapi masa krisis
dalam hidupnya. Di sini sangat penting peran guru BP dan
orang tua. Bila tidak teratasi segera dirujuk ke tenaga ahli.
5) Program Latihan Ketrampilan Psikososial
Latihan ini diterapkan atas dasar teori bahwa gangguan
penggunaan zat merupakan perilaku yang dipelajari seseorang
dalam lingkup pergaulan sosialnya dan mempunyai maksud
dan makna tertentu bagi yang bersangkutan.
Yang tergolong dalam pelatihan ini antara lain :
a) Psychological
Inoculation
Dalam pelatihan ini diputar film yang memperlihatkan
bagaimana remaja mendapat tekanan dari pergaulannya agar ia
merokok. Lalu dikembangkan sikap menentang dorongan dan
tekanan untuk merokok itu. Dalam hal ini dikemukakan per-
sepsi yang salah mengenai rokok dan akibat-akibat yang
ditimbulkan oleh rokok baik bagi perokok sesaat maupun
kronis.
b) Personal and Social Skill Training
Kepada remaja dikembangkan suatu ketrampilan untuk
menghadapi problema hidup umum termasuk merokok dan
menyalahgunakan zat. Ketrampilan itu akan menumbuhkan ke-
mampuan mereka untuk menolak suatu ajakan (Just Say "No")
serta mengembangkan keberanian dan ketrampilan untuk
mengekspresikan pendapat sehingga ia terbebas dari bujukan
atau tekanan kelompoknya.
NAPZA dan PENGOBATANNYA
Pengobatan NAPZA:
1) Pengobatan adiksi (detoksifikasi)
2) Pengobatan
infeksi
3) Rehabilitasi
4) Pelatihan
mandiri
Pertolongan Pertama - Overdosis
-
Apabila penderita telah pingsan, baringkan dia di sisi kiri
badannya
- Periksalah agar tidak ada yang menghambat pernapasan-
nya
- Kalau penderita masih bernapas, biarkan terbaring di sisi
kiri badannya dan pastikan berada di posisi aman, termasuk
jalan napasnya. Kemudian cari pertolongan dokter.
-
Gejala-gejala sakaw mencapai puncak dalam 3-5 hari dan
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 19
background image
PENUTUP
hilang setelah 10 hari.
Dengan makin meningkatnya kasus penyalahgunaan Nap-
za di Indonesia, maka keadaan ini sangat memprihatinkan dan
dapat menjadi masalah atau bencana nasional. Oleh karena itu
upaya penanggulangannya harus secara sungguh-sungguh,
profesional, dan mampu mencakup wilayah atau masyarakat
yang luas terutama di daerah-daerah dan kelompok-kelompok
yang rawan akan masalah penyalahgunaan Napza.
Harm Reduction
HIV menyebar di antara kelompok IDU terutama karena
penggunaan ulang atau bersama jarum suntik dan semprit yang
telah tercemar dengan darah yang mengandung HIV. Alasan
penggunaan jarum suntik bersama sangat berbeda-beda, tetapi
sangat penting untuk diketahui dalam upaya penghentian pe-
nyebaran ini.
Strategi penanggulangan Napza adalah melakukan upaya
agar masyarakat terutama kelompok rawan secara sadar me-
niadakan keinginannya untuk mencoba/menggunakan Napza;
terhadap para pengguna yang telah telanjur menyalahgunakan-
nya ditempuh strategi untuk meminimalkan/meniadakan pe-
ngaruh buruk Napza tersebut.
Empat cara alternatif menurunkan risiko atau harm
reduction.
1) Menggunakan jarum suntik sekali pakai
2) Mensuci hamakan (sterilisasi) jarum suntik
3) Mengganti kebiasaan menyuntik dengan menghirup atau
oral dengan tablet
Untuk itu harus dilaksanakan program penanggulangan
yang komprehensif, meliputi upaya promosi, konseling, peng-
obatan yang adekuat dan rehabilitasi mediko-psikososial/
spiritual.
4) Menghentikan sama sekali penggunaan Napza.
Detoksifikasi
Agar pelaksanaan program itu berlangsung secara ber-
hasilguna dan berdaya guna, maka harus tersedia SDM yang
handal yaitu memiliki pengetahuan yang cukup, mempunyai
ketrampilan yang tinggi, dan mempunyai afeksi yang kuat
untuk melaksanakan tugasnya di bidang penanggulangan pe-
nyalahgunaan Napza.
Detoksifikasi adalah proses menghilangkan racun (narko-
tika dan/atau zat adiktif lain) dari tubuh dengan cara
menghentikan total pemakaian semua zat adiktif atau dengan
penurunan dosis obat pengganti.
Detoksifikasi bisa dilakukan dengan berobat jalan atau
dirawat di rumah sakit. Biasanya proses detoksifikasi dilakukan
terus menerus selama satu sampai tiga minggu, sampai hasil tes
urin menjadi negatif dari zat adiktif.
DAFTAR PUSTAKA
1. Ditjen Penerangan Umum, Bahan Penerangan tentang Obat/Zat Psiko-
aktif dan Adiktif. Sekretariat Penerangan Penanggulangan Penyalahguna-
an Narkotika. Deppen Rl, 1988.
Rehabilitasi
Setelah menjalani detoksifikasi hingga tuntas (tes urin
sudah negatif), tubuh secara fisik memang tidak "ketagihan"
lagi, namun secara psikis ada rasa rindu dan kangen terhadap
zat tersebut masih terus membuntuti alam pikiran dan perasaan
sang pecandu; sehingga rentan dan sangat besar kemungkinan
kembali mencandu dan terjerumus lagi.
2.
Indonesia Australia Specialised Training Project Phase II. Drug Informa-
tion Short Course. Jakarta, 23-27 April 2001.
3. Ketut Kusminarno. Mengapa Heroin/Putaw Sangat Berbahaya. Maj.
Kesehatan Depkes RI 1998; 150.
4. Chadha PV. Hand Book of Forensic Medicine & Toxicology (Medical
Jurisprudence). 1
st
ed. Jaypee Brothers Med Publ (P) Ltd.. 1975.
5. Pudji Hastuti. Peranan Badan Kesejahteraan Sosial Nasional dalam
Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Korban Narkoba, 2000,
Untuk itu setelah detoksifikasi perlu dilakukan proteksi
lingkungan dan pergaulan yang bebas dari lingkungan pecandu,
misalnya dengan memasukkan mantan pecandu ke pusat
rehabilitasi.
6.
Dreisbach RH. Handbook of Poisoning, Twelfth Ed, , Appleton & Lange,
1987.pp. 324 - 28.
7. Sudirman. Dampak Penyalahgunaan Narkotika Psikotropika dan Zat
Adiktif lainya Rumah Sakit Ketergantungan Obat, 1998.
We live by trusting one another
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
20