HASIL PENELITIAN
Patogenisitas Isolat
B. thuringiensis setelah Dikeringkan
pada Suhu Dingin (Lyophilisasi)
terhadap Jentik Aedes aegypti
di Laboratorium
Blondine Ch.P, Umi Widyastuti
Stasiun Penelitian Vektor Penyakit, Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Salatiga
ABSTRAK
Suatu upaya telah dilakukan untuk mengetahui patogenisitas isolat Bacillus thu-
ringiensis setelah dikeringkan pada suhu dingin (lyophilisasi) terhadap jentik nyamuk
Aedes aegypti instar III di laboratorium.
Bacillus thuringiensis israelensis (H-14) yang diproduksi oleh Abbott, dengan
nama dagang Vectobac 12 AS sebagai bahan pembanding, diuji dengan cara yang
sama dengan kelima isolat tersebut.
Hasil pengujian patogenisitas 5 isolat B. thuringiensis terhadap jentik nyamuk Ae.
aegypti instar III, menunjukkan bahwa isolat 44TK mampu membunuh 50 dan 90%
jentik nyamuk tersebut dengan konsentrasi paling rendah dibandingkan dengan isolat-
isolat lain pada 24 jam pengujian (LC50=13,69 ml/100 ml dan LC90=37,84 ml/100ml)
maupun 48 jam pengujian (LC50=11,95 ml/100 ml dan LC90=36,69 ml/100 ml).
Isolat 44 TK membutuhkan konsentrasi 7469 sampai 12230 kali lebih besar di-
bandingkan dengan B. thuringiensis israelensis (H-14), untuk membunuh 50 dan 90%
jentik nyamuk Ae. aegypti instar III.
PENDAHULUAN
Bacillus thuringiensis merupakan salah satu bakteri pato-
gen serangga yang sekarang sudah dikembangkan menjadi
salah satu bioinsektisida yang potensial. Salah satu karakteristik
dari B. thuringiensis adalah dapat memproduksi kristal protein
di dalam sel bersama-sama dengan spora, pada waktu sel meng-
alami sporulasi
(1)
.
Bacillus thuringiensis bersifat kosmopolitan, antara lain di-
temukan pada tanah, soil aquatic system, tempat perindukan
jentik nyamuk ataupun pada jentik nyamuk yang sakit
(2)
.
Laboratorium jazad hayati Stasiun Penelitian Vektor Pe-
nyakit (SPVP), telah berhasil mengisolasi B. thuringiensis dari
tanah dan jentik nyamuk
(3,4)
. Akan tetapi pemeliharaan isolat B.
thuringiensis yang ditemukan cukup kompleks karena me-
nyangkut media, suhu dan pH penyimpanan. Beberapa kultur
bakteri sudah dapat disimpan selama 10 tahun dalam bentuk
kering, sedangkan B. thuringiensis yang telah di "lyophilisasi"
dapat disimpan selama 15 tahun tanpa kehilangan perubahan
warna
(5)
. Banyak metoda yang digunakan untuk pengeringan
kultur B. thuringiensis misalnya pengeringan spora pada kertas
filter, pengeringan suspensi kultur dalam laktose atau dalam
bentuk kering yang bebas lemak dan susu
(5)
.
Dalam penelitian ini kultur isolat B. thuringiensis akan
dipelihara dalam bentuk lyophilisasi. Berdasarkan hal tersebut
di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui patogenisitas
isolat B. thuringiensis setelah dikeringkan pada suhu dingin
(lyophilisasi) terhadap jentik nyamuk Aedes aegypti instar III di
laboratorium.
Disajikan pada Seminar Hasil Penelitian Rutin Stasiun Penelitian Vektor
Penyakit 1996/1997, 24-25 Pebruari 1997 di Salatiga
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
10
METODOLOGI PENELITIAN
A) Bahan
Jazad hayati yang diteliti adalah 5 isolat B. thuringiensis
yang telah di lyophilisasi di laboratorium Mikrobiologi Univer-
sitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Sebelum di lyophilisasi
isolat-isolat tersebut telah diuji patogenisitasnya menurut
metoda Chilcott & Wigley (1988)
(6)
. Sebagai pembanding
adalah B. thuringiensis israelensis (H14) yang diproduksi oleh
Abbott, dengan nama dagang Vectobac 12 AS, USA.
Jentik nyamuk vektor yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Ae. aegypti, hasil koloni laboratorium.
B) Pelaksanaan
Proses lyophilisasi dilakukan menurut metoda Dulmage et
al (1990)
(5)
. Lima isolat (8TC, 12TL, 22TP, 43TG, dan 44TK)
B. thuringiensis yang ditemukan, diperbanyak dengan cara
membuat kultur pada media NYSMA miring, dan diinkubasi
pada suhu 30°C. Masing-masing isolat diperbanyak menjadi 10
isolat. Pada umur 4 hari kultur dipanen dengan memakai larut-
an garam faal (NaCl 0,85%) steril dan dimasukkan ke dalarn
tabung sentrifus steril. Hasil panenan di sentrifus dengan kece-
patan 3000 rpm selama 20 menit. Supernatan dibuang hingga
yang tertinggal adalah pelet. Ke dalam tabung sentrifus
ditambahkan lagi larutan NaCl 0,85% secukupnya dan sekali
lagi disentrifus dengan kecepatan dan waktu yang sama.
Supernatan dibuang lagi sehingga yang tertinggal pelet. Ke
dalam tabung sentrifus ditambahkan larutan NaCl secukupnya.
Kemudian dengan menggunakan pipet Pasteur suspensi kultur
yang akan di lyophilisasi dipindahkan ke dalam tabung
lyophilisasi dan ditempatkan dalam tempat pengeringan yang
bersuhu -50°C. Kemudian dikeringkan selama 12-24 jam. Apa-
bila pengeringan telah selesai, tabung-tabung lyophilisasi di-
ambil dan dimasukkan ke dalam stoples plastik yang berisi
silicagel, dan disimpan dalam refrigerator (- 4°C) sampai
digunakan.
Pengujian patogenisitas di laboratorium dilakukan menurut
prosedur WHO (1985)
(7)
, untuk mendapatkan konsentrasi isolat
B. thuringiensis efektif (LC50 & LC90) dalam membunuh
jentik nyamuk Ae. aegypti.
Larutan stok dibuat dengan cara menambahkan 1 gram
isolat B. thuringiensis yang telah di lyophilisasi ke dalam
Erlenmeyer berukuran 250 ml, dengan 100 ml Tryptose Phos-
phate Broth (TPB). Inkubasi pada temperatur 30°C selama 48
jam. Kemudian dikocok (shake) pada temperatur kamar selama
48 jam. Sesudah 48 jam, dari larutan stok ini dibuat seri peng-
enceran sampai diperoleh konsentrasi yang dibutuhkan (dalam
ml/100 ml). Pengujian dilakukan dengan menggunakan mang-
kok plastik yang diisi dengan 100 ml aquadest dan 20 ekor
jentik nyamuk Ae. aegypti instar III akhir. Masing-masing
konsentrasi pengujian diulang sebanyak 3 kali. Sebagai kontrol,
mangkok plastik hanya diisi dengan 100 ml aquadest dan 20
ekor jentik nyamuk Ae. aegypti. Pengamatan kematian jentik
nyamuk dihitung selama 24 dan 48 jam pengujian.
Sebagai pembanding untuk pengujian isolat B. thuringien-
sis hasil isolasi laboratorium jazad hayati SPVP, digunakan B.
thuringiensis israelensis (H-14) dengan nama Vectobac 12 AS,
USA
(8)
.
Larutan stok dibuat dengan cara menambahkan 1 gram B.
thuringiensis israelensis yang telah di lyophilisasi ke dalam
Erlenmeyer berukuran 250 ml yang sudah diisi dengan 100 ml
TPB. Inkubasi pada temperatur 30°C selama 48 jam. Kemudian
dikocok (shake) pada temperatur kamar selama 48 jam. Se-
sudah 48 jam, dari larutan tersebut diambil 0,1 ml dan ditambah
dengan 99,9 ml aquadest. Dari larutan stok ini selanjutnya
dibuat seri pengenceran sampai diperoleh konsentrasi yang
dibutuhkan. Prosedur selanjutnya sama dengan pengujian isolat
B. thuringiensis di laboratorium.
Untuk menentukan nilai LC50 dan LC90 digunakan ana-
lisis probit
(9)
.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengujian patogenisitas isolat B. thuringiensis setelah
di lyophilisasi terhadap jentik nyamuk vektor Ae. aegypti instar
III disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Patogenisitas isolat B. thuringiensis setelah di lyophilisasi ter
hadap jentik nyamuk Ae. aegypti instar III di laboratorium.
Jentik nyamuk Ae. aegypti instar III
Isolat
24 jam
48 jam
LC 50
(ml/100 ml)
LC 90
(ml/100 ml)
LC 50
(ml/100 ml)
LC 90
(ml/100 ml)
8 TC
52,98
105,95
38,50
77,00
12 TL
28,59
57,17
22,53
45,05
22 TP
34,20
68,39
16,67
37,33
43 TG
17,13
62,88
14,32
49,83
44 TK
13,69
37,84
11,95
36,69
Bti (H-14)
0,0016
0,0031
0,0016
0,0030.
Hasil analisis probit menunjukkan bahwa isolat 44TK
mampu membunuh 50 dan 90% jentik nyamuk Ae. aegypti
dengan konsentrasi paling rendah, dibandingkan dengan isolat-
isolat yang lain. Patogenisitas isolat 44TK, selama 24 jam
pengujian, menunjukkan bahwa konsentrasi 13,69 dan 37,84
ml/100 ml, mampu membunuh jentik nyamuk Ae. aegypti ber-
turut-turut sebesar 50% dan 90%. Sedangkan pada 48 jam
pengujian, dibutuhkan sebesar 11,95 dan 36,69 ml/100 ml.
Isolat tersebut dibandingkan dengan B. thuringiensis
israelensis (H-14), maka Bti jauh lebih efektif membunuh 50%
dan 90% jentik nyamuk Ae. aegypti. Nilai LC50 dan LC90
isolat 44TK ternyata 7469 sampai 12230 kali lebih besar di-
bandingkan dengan pembanding Bti yaitu LC50=0,0016
ml/100 ml dan LC90=0,0031 ml/100 ml pada 24 jam peng-
ujian. Pada 48 jam pengujian nilai LC50=0,0016 ml/100 ml
dan LC90=0,0030 ml/100 ml. Melihat hasil yang diperoleh,
maka penelitian ini perlu dilanjutkan dengan cara meningkat-
kan konsentrasi isolat B. thuringiensis sehingga diharapkan
dapat diperoleh isolat yang mempunyai konsentrasi mendekati
standar (pembanding Bti). Selain itu dilanjutkan dengan peng-
ujian patogenisitas isolatisolat setelah di lyophilisasi selatna 1
minggu, 2 minggu, 3 minggu dan seterusnya, dengan tujuan
untuk mengetahui efektivitas dari isolat-isolat tersebut. Hasil
pengujian patogenisitas berbagai isolat B. thuringiensis ter-
hadap jentik nyamuk Ae. aegypti sangat bervariasi, karena
adanya berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001 11
patogenisitas isolat-isolat tersebut. Salah satu faktor adalah
perbedaan serotipe di antara isolat isolat yang diuji, dapat
mempengaruhi patogenisitasnya. Misalnya B. thuringiensis
serovar israelensis, menunjukkan patogenisitas tinggi terhadap
jentik nyamuk, dibandingkan dengan 13 serotipe lain yang
menunjukkan patogenisitas tinggi terhadap jentik Lepidop-
tera
(10)
. Oleh karena itu test serologi dari isolat-isolat tersebut
perlu dilakukan untuk mengetahui serotipenya. Selain itu pato-
genisitas dapat dipengaruhi oleh kebiasaan dan perilaku makan
jentik, formulasi (khususnya tingkat pengendapan/sedimentasi)
serta adanya toksin di daerah makan jentik (larval feeding
zone)
(11)
. Berdasarkan faktor daerah makan jentik (larval feed-
ing zone), jentik Ae. aegypti biasa mengambil makanan di
dasar dan dinding penampungan air
(12)
.
KESIMPULAN
Isolat B. thuringiensis (44TK) mampu membunuh jentik
nyamuk Ae. aegypti instar III dengan konsentrasi paling ren-
dah dibandingkan dengan isolat-isolat yang lain (LC50=13,69
ml/100 ml dan LC90=37,84 ml/100 ml pada 24 jam pengujian,
LC50=11,95 ml/100 ml dan LC90=36,69 ml/100 ml pada 48
jam pengujian).
Untuk membunuh 50% dan 90% jentik nyamuk Ae. Ae-
gypti dibutuhkan konsentrasi isolat 44TK, 7469 sampai 12230
kali lebih besar dibandingkan dengan B. thuringiensis israel-
ensis.
Penelitian perlu dilanjutkan, sehingga dapat diperoleh
konsentrasi strain lokal yang mendekati standar intemasional.
UCAPAN TERIMA KASIH
Kami mengucapkan terima kasih kepada DR. Sustriayu Nalim, Pjh.
Kepala Stasiun Penelitian Vektor Penyakit yang telah membimbing dan
memberi saran-saran sehingga selesainya makalah ini. Ucapan terima kasih
juga kami sampaikan kepada rekan-rekan di laboratorium jazad hayati SPVP
atas bantuan yang yang diberikan.
KEPUSTAKAAN
1.
Ali AS. Analisis Strain Bacillus thuringiensis secara serologi: Kumpulan
Makalah Seminar Bacillus thuringiensis. Jakarta, 20 Januari. 1994. 12h.
2.
Lee HL. Isolation and evaluation of two isolates of Bacillus thuringiensis
for the control of mosquitoes of public health importance in Malaysia.
Mosq. Borne. Disease. Bull. 1998; 5(3-4): 39-47.
3. Blondine Ch.P, Widyastuti U.Isolasi Bacillus thuringiensis dari tanah
pada pohon di Kotamadya Salatiga. Pros Seminar Ilmiah dan Kongres
Nasional Biologi X. Bogor. 1991.
4. Blondine Ch.P, Widyastuti U, Widiarti. Isolasi Bacillus thuringiensis
dari larva dan pengujian patogenisitaspya terhadap larva nyamuk vektor.
Bull. Penelit. Kes. 1992; 20(3): 20-4.
5.
Dulmage T, Yousten AA, Singer S, Lacey LA. Guidelines for Production
of Bacillus thuringiensis H-14 and Bacillus sphaericus. 1990. UNDP/
WORLD BANK/WHO. 58p.
6. Chilcott CN, Wigley PJ. Technical note: an improved method for
differential staining of Bacillus thuringiensis crystals. Letters in Appl
Microbiol 1998; 7: 67-70.
7. WHO. Informal consultation on the development of B. sphaericusas a
microbial larvicide. TDR/BCV/Sphaericus/85.1985; 3: 1-24.
8. Anonim.
Testing
protocol:
Laboratory Bioassay for vectobac Bacillus
thuringiensis israelensis.
9.
Finney DJ. Probit analysis 3
rd
ed. Cambridge University Press, London.
1971.
10. WHO. Data sheet on the biological control agent Bacillus thuringiensis
serotype H-14. WHO/VBC/79. 750. 1979. 13p.
11. Aly C, Mula MA, Xu Bo-Zhao, Schnetter W. Rate of ingestion by
mosquito larvae (Diptera, Culicidae) as a factor in the effectiveness of a
bacterial stomach toxin. J. Med. Entomol. 1988; 25(3): 191-196.
12. Becker N, Djakaria S, Kaiser A,Zulhasril O, Ludwig HW. Efficacy of a
new tablet formulations of an Asporogenous strain of Bacillus
thuringiensis israelensis against larvae of Aedes aegypti. Bull. Soc.
Vector Ecol. 1991; 16(1): 1-7.
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
12