Nyeri pada Penyakit Keganasan
dr.
Susworo
Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
RSCM, Jakarta.
Penyakit neoplasma ganas pada tingkatan dini jarang sekali
menimbulkan keluhan nyeri. Inilah yang sering menyebabkan
kelainan ini terdeteksi sudah dalam keadaan lanjut. Sekalipun
tidak semua penyakit keganasan ini menimbulkan keluhan
nyeri ("cancer pain"), tetapi apabila keadaan ini terjadi maka
hal ini akan merupakan masalah tersendiri.
Angka Kejadian
Angka kejadian kami peroleh dari kepustakaan luar negeri,
terutama dari Amerika Serikat.
Beberapa penulis mengatakan bahwa kurang lebih 40%
dari penderita kanker stadium
"
intermediate" mengalami
nyeri-sedang atau hebat akibat proses penyakitnya, sedangkan
hal ini akan dialami oleh 60% -- 80% penderita-penderita
stadium lanjut.
Parkes (1) telah menanyai sebanyak 276 istri atau suami
penderita kanker yang meninggal, mengenai nyeri yang pernah
dialami oleh pasangan mereka selama hidupnya. Didapat
hasil-hasil sebagai berikut :
· Pada penderita yang dirawat di rumah sakit 40% tidak
mengalami nyeri atau nyeri ringan, 38% nyeri sedang dan
22% nyeri hebat atau sangat hebat.
· Sedangkan penderita-penderita yang tidak dirawat di rumah
sakit didapatkan angka-angka 31% tanpa nyeri atau nyeri
ringan, 21% nyeri sedang dan 48% nyeri hebat atau sangat
hebat.
Setiap lesi keganasan di tubuh bisa menimbulkan keluhan
nyeri ini, tersering, dan biasanya lebih hebat lagi dari yang lain,
apabila terjadi di tulang. Foley dick. (2) mengumpulkan angka-
angka timbulnya nyeri pada tiap keganasan.
Lokalisasi Lesi
%
tulang
85
mulut rahim
85
lambung
65 -- 75
paiu-paru
50 -- 70
genito urinaria wanita
70
pankreas
70
genito urinaria pria
60 -- 70
payudara
55 -- 70
usus kecil
60
ginjal
55
kolon
-
rektum
50 -- 60
lekemia
5
Untuk Indonesia belum didapatkan angka-angka semacam
ini tetapi agaknya tidak jauh berbeda kecuali bahwa di dalam
tabel ini tidak terdapat karsinoma dari nasofaring yang jum-
lahnya relatif tinggi untuk Indonesia.
Efek psikologi dan fisiologi
Sternbach (3) pada penelitiannya mendapatkan bahwa efek
fisiologik dan psikologik yang ditimbulkan akibat nyeri yang
kronik adalah sama,tidak tergantung dari penyebabnya. Tetapi
sekalipun mempunyai patofisiologik yang sama, Bonica(4)
menekankan bahwa nyeri akibat proses keganasan mempunyai
impak fisiologik lebih besar.
Kemunduran fisik berlangsung lebih cepat pada penderita-
penderita ini oleh karena diperberat dengan nafsu makan
yang menurun, nausea dan vomitus serta kadang-kadang
kesulitan tidur yang disebabkan penyakitnya sendiri atau
karena tindakan pengobatan.
Menurut Woodforde dan Fielding (5), penderita-penderita
kanker dengan nyeri ini juga mengalami reaksi emosional,
kecemasan (anxiety), depresi, hipokhondria serta neurosis
yang lebih menonjol dari pada kasus-kasus bukan keganasan.
Dinyatakannya pula bahwa penderita-penderita tersebut mem-
berikan respons yang kurang baik terhadap pengobatan nyeri.
Bond (6) menemukan bahwa tingkat hipokhondria ini lebih
tampak pada penderita kanker dengan keluhan nyeri dari pada
tanpa nyeri. Tetapi keadaan ini segera berubah apabila keluhan
nyeri tersebut bisa diatasi dengan tindakan.
Sebagai akibat nyeri yang berkepanjangan akan didapatkan
penurunan aktivitas fisik dan sosial yang progresif. Akibatnya
di Amerika, nyeri yang khronik dan mengakibatkan
"
disa-
bility" ini dinilai telah menimbulkan problem bukan saja di
bidang kesehatan tetapi juga perekonomian nasional.
Pengamatan kami di Indonesia, efek psikologik ini lebih
tampak pada penderita-penderita dengan tingkat pendidikan
yang lebih tinggi. Hal ini dimungkinkan karena penderita-
penderita dari kalangan yang berpendidikan rendah tidak
menyadari akan fatalitas penyakit ini. Mereka ini hanya men-
derita secara fisik oleh karena perasaan nyerinya saja. Perbe-
daan ini tidak begitu menonjol untuk negara-negara maju,
dimana tingkat pendidikan masyarakatnya sudah mencapai
keadaan yang hampir homogen.
Patofisiologi
Bonica (7) membagi etiologi nyeri pada penyakit kanker
16
Cermin Dunia Kedokteran No. 26, 1982
atas 3 golongan besar, yaitu :
(i) nyeri yang disebabkan langsung oleh proses neoplastik,
baik primer maupun metastase.
(ii) nyeri yang timbul sebagai akibat pengobatan.
(iii) nyeri timbul bersamaan dengan proses neoplastik, tetapi
tidak ada hubungan langsung antara keduanya (
"
coin-
cidental").
Menurut penulis tersebut angka rata-rata timbulnya nyeri
akibat proses neoplastik kurang lebih 75%. Dari jumlah terse-
but maka terbanyak adalah akibat proses metastase pada
tulang, atau tumor primer pada tulang (osteosarkoma). Nyeri
ini akan diperberat lagi apabila timbul komplikasi fraktur
dari tulang yang terkena. Nyeri ini bisa berlokasi di tempat
lesi, seperti tumor-tumor atau metastase di iga, atau dipro-
yeksikan ke suatu tempat di tubuh seperti terjadi pada metas-
tase di tulang panggul.
Nyeri ini bersifat menetap bahkan sering-sering progresif.
Hal ini mungkin disebabkan rangsangan pada nociceptor di
dalam periosteum, yang ambang rangsangnya menurun akibat
diproduksinya prostaglandin. (Prostaglandin adalah suatu zat
yang selalu dihasilkan pada semua proses keganasan yang
melibatkan tulang).
Penekanan pada jaringan syaraf sering menyebabkan gangguan
sensorik serta motorik. Infiltrasi tumor pada pleksus brakhialis
akan menyebabkan nyeri radikuler pada bahu dan lengan serta
sering di-asosiasikan dengan parestesia pada daerah-daerah
segmen C8 -- T
1
.
Penderita-penderita keganasan traktus genitourinaria serta
kolon sering mengalami infiltrasi sel-sel tumor ke dalam plek-
sus sakralis. Nyeri yang ditimbulkan dalam hal ini mula-mula
terasa di punggung sebelah bawah serta paha yang kemudian
menjalar ke tumit. Sedangkan infiltrasi pada pleksus sakralis
sebelah bawah akan mengakibatkan nyeri pada pertengahan
perineum yang diikuti dengan menurunnya faal sensorik
daerah tersebut.
infiltrasi tumor pada pembuluh darah serta getah be
ning juga
kadang-kadang akan menimbulkan nyeri. Nyeri ini merupakan
akibat vasospasme serta limfangitia (8). Sifat nyeri yang diaki-
batkannya adalah difus
dan tidak mengikuti distribusi
saraf perifer.
Akibat obstruksi pada suatu saluran. oleh sebab apapun,
termasuk oleh tumor, akan timbul nyeri viseral yang kadang-
kadang menyerupai kolik. Keadaan ini bisa terjadi pada tumor-
tumor dari ureter dan kandung seni, gaster, usus halus atau
kandung empedu. Bila tidak dilakukan koreksi terhadap
obstruksi ini maka kontraksi dari otot polos, proksimal dari
sumbatan, makin hebat.
Salah satu akibat dari lanjutnya proses keganasan adalah
terjadinya jaringan nekrosis. Hal ini disebabkan karena pertum-
buhan neoplasma yang terlalu cepat sehingga jaringan yang
terletak di sebelah sentral dari tumor tersebut tidak mendapat
vaskularisasi yang cukup. Jaringan nekrosis ini, selain menim-
bulkan bau yang mengganggu bagi penderita maupun sekeli-
lingnya, juga akan mengakibatkan nyeri. Nyeri akan diperberat
apabila jaringan ini terinfeksi oleh kuman-kuman. Keadaan
ini sering terjadi pada keganasan-keganasan yang terjadi di
daerah mulut, lidah atau gusi, kavum nasi, orofaring, juga
kadang-kadang di payudara.
Sampai saat ini dikenal beberapa macam cara pengobatan
penyakit kanker, yaitu pembedahan, radioterapi, kemoterapi.
Pengobatan ini bisa tunggal ataupun merupakan kombinasi
dua atau lebih regimen. Ternyata pada 20%penderita-penderita
yang mendapat pengobatan, timbul keluhan nyeri yang bukan
disebabkan penyakit yang dideritanya, tetapi justru oleh pe-
ngobatan yang telah didapatkannya.
Beberapa penderita yang mengalami mastektomi atau tora-
kotomi kadang-kadang mengeluh nyeri pada daerah operasinya
1 atau 2 bulan pasca tindakan. Selain itu juga terdapat dises-
tesia pada jaringan parut yang disertai hiperestesia di sekeli-
lingnya. Menurut Wall (9) akibat terputusnya jaringan saraf,
terjadilah daerah-daerah yang hipersensitif terhadap tekanan
serta norepinefrin, terutama pada bagian proksimal dari saraf
yang terluka. Akibat dari keadaan tersebut adalah bahwa
singgungan ringan atau bahkan stress emosional yang selalu
mengakibatkan pelepasan katekolamine di dalam darah akan
menirnbulkan perasaan nyeri. Pada beberapa penderita sering
kita lihat, adanya usaha untuk membatasi pergerakan dar
i sen-
di bahu. Apabila hal ini berlangsung terus, tanpa mendapat
penerangan yang baik serta usaha fisioterapi, maka bisa timbul
ankilosis sendi bahu ("frozen shoulder
"
), atrofi dari tangan
("disuse") serta distrofi dari refleks simpatetik. Mempunyai
patofisiologik yang sama adalah pada pasca operasi radikal
dari kelenjar-kelenjar leher (radical neck dissection).
Obat khemoterapi yang dikatakan bisa menimbulkan gang-
guan pada saraf sensorik adalah dari golongan vinca alkaloid,
seperti vincristine dan vinblastine. Dengan dosis yang bisa
menimbulkan efek antineoplastik barulah efek nyeri berupa
polineuropati yang simetrik timbul (10). Disestesia sering tim-
bul pada tangan dan telapak kaki.
Lebih banyak lagi adalah khemoterapi yang mengakibatkan
efek samping berupa mukositis pada selaput lendir mulut,
bibir, farings serta kadang-kadang di kavum nasi.
Efek lanjut dari radiasi dosis tinggi adalah timbulnya fibro-
sis. Apabila fibrosis ini timbul di sekitar pleksus saraf maka
bisa timbul nyeri di daerah yang dipersarafinya.
Nyeri di sini sering disertai parestesia. Kadang-kadang akibat
fibrosis ini terjadi pula limfedema di daerah distal dari proses
fibrosis tersebut. Misalnya fibrosis dari pleksus lumbosakral
akan menghasilkan nyeri disertai perubahan motorik dan
sensorik serta limfedema di kedua tungkai.
Radiasi di daerah lipatan atau di daerah dengan kelenjar
keringat
yang banyak, seperti aksila, inguinal, perineal dan
lain-lain, sering memudahkan timbulnya lecet kulit daerah
yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena daerah
yang
basah atau lipatan mendapat dosis yang relatif lebih tinggi
daripada sekitarnya. Tidak jarang timbul herpes zoster pasca
radiasi, neuralgia yang ditimbulkannya di sini. sama seperti
kasus-kasus herpes lain yang timbul bukan karena radiasi.
Radiasi yang mengikutsertakan medula spinalis karena letak-
nya yang berdekatan dengan lesi yang kita sinar, seperti pada
karsinoma nasofaring dengan metastase kelenjar leher, bisa
mengalami mielitis karena radiasi.
Keadaan yang ringan adalah apa
yang dinamakan tanda dari
L hermitte; pada keadaan ini apabila penderita menundukkan
kepalanya timbul perasaan seperti terkena arus listrik pada
bagian distal dari daerah medulla yang mendapat radiasi.
Cermin Dunia Kedokteran No. 26, 1982
17
Keadaan ini biasanya reversibel.
Prinsip Pengobatan
Tiga cara utama pendekatan penanganan nyeri karena
proses keganasan adalah sebagai berikut (7) :
(a) pengobatan kausal yaitu dengan obat atau tindakan untuk
menghilangkan tumornya.
(b) pengobatan simptomatik terhadap nyerinya tanpa meng-
hiraukan penyebabnya.
(c) paling ideal adalah kombinasi
(a)
dan
(b).
Pengobatan anti-kanker mencakup :
1. operasi, baik kuratif maupun simptomatik, termasuk disini
eksisi dari tumor, kastrasi, adrenalektomi atau hipofisek-
torni, operasi bypass: misalnya pembuatan anus praeter
pada obstruksi tumor di rektum, dekompresi tumor pada
medulla spinalis, serta masih banyak lagi tindakan operasi
dengan tujuan simptomatik.
2. Operasi dengan tujuan simptomatik. Terapi radiasi yang
paling banyak mengurangi perasaan nyeri adalah pada
tumor-tumor yang mengadakan metastase pada
tulang,
dekompresi akibat penekanan tumor ganas pada vena cava
dan lain-lain.
3. Pengobatan hormonal.
4. Khemoterapi.
5. Imunoterapi yang pada saat ini di negara-negara maju
sedang hangat-hangatnya dicoba.
Apabila dengan cara-cara tersebut diatas tidak didapatkan
hasil yang memuaskan, maka cara pengobatan harus segera
dialihkan. Pilihan metoda pengobatan sekarang adalah menghi-
. langkan simptom atau mengurangi keluhan penderita tanpa me-
mikirkan tumornya.
Bonica (4) membagi cara pengobatan ini menjadi :
a. obat-obatan : analgesik non narkotik, sedativa, psikote-
rapi serta bila perlu narkotika.
b. memblokir saraf-saraf yang bersangkutan dengan menyun-
tikan anestetikum lokal atau bila diperlukan menghilangkan
nyeri untuk waktu yang lama dengan agen neurolitika.
c. tindakan bedah saraf. Termasuk disini adalah kordotomi,
yaitu tindakan menghambat impuls-impuls serabut saraf
yang berasal dari traktus spinothalamikus lateral pada
daerah servikal atau torakal (11).
d. metoda psikologi dalam hal ini termasuk psikoterapi,
cara hipnosa dll.
KEPUSTAKAAN
1. Parkes CM. Home or hospital ? terminal care as seen by survi-
ving spouse. JR Coll Gen Pract 1978; 28 : 19 -- 30.
2. Foley KM. Pain syndromes in patients with cancer. In : Advances
in Pain Research and Therapy, vol 2, edited by JJ Bonica N York:
Raven Press. 1979; 59 -- 75.
3. Sternbach RH. Pain patients, traits and treatments, N York:
Academic Press. 1974; 17.
4.
Bonica JJ. Organization and function of pain clinic. In : Advances
in Neurology vol 4, N York: Raven Press. 1979; 433 -- 443.
5. Woodforde JM, Fielding JR. Pain and Cancer. In : Pain, Clinical
and Experimental Perspectives. Mosby St Louis 1975; 332 -- 336.
6. Bond MR. The relation of pain to the Eysenck Personality Inven-
tary, Cornell Medical Index and Whitley Index of Hypochondri
Br J Psychiatry 1971; 119: 671 -- 678.
7. Bonica JJ. Cancer Pain. Monogr Ser Eur Organ Res Treat Cancer
1981;7:87--115.
8. Bonica JJ. The management of Pain. Philadelphia: Lea Febiger
1953.
9. Wall PD, Gutnick M. Ongoing activity and peripheral nerves:.
the physiology and pharmacology of impulses originating from a
neuroma. Exp Neuro 1974; 43 : 580 -- 593.
10.
Rosenthal S, Kaufman S. Vincristine neurotoxity. Ann Intern
Med 1974; 80: 733 -- 737.
11.
Long DM. Relief of Cancer Pain by Surgical and Nerve Blocking
Procedures. JAMA 1980; 244: 1759 -- 2761.
18
Cermin Dunia Kedokteran No. 26, 1982