background image
Karsinoma Serviks Uteri Deteksi
Dini dan Penanggulangannya
M. Fauzie Sahli
Sub Bagian Onkologi Ginekologi Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Rumah Sakit Dr Pirngadi, Medan
PENDAHULUAN
Kanker kandungan masih menempati urutan teratas dari
seluruh kanker yang menyerang kaum wanita. Menurut data
Departemen Kesehatan di Indonesia saat ini kanker leher rahim
menempati urutan pertama dari seluruh kanker yang menyerang
penduduk Indonesia. Di samping jumlah penderitanya yang
cukup banyak, ternyata lebih dari separuh penderita kanker leher
rahim ini datang ke fasilitas pengobatan sudah dalam tingkat
(stadium) lanjut. Akibatnya penderita kanker leher rahim ini
memerlukan fasilitas pengobatan yang khusus serta biaya yang
mahal, sebaliknya angka kesembuhan atau ketahanan hidup
lima tahunnya sangat rendah yaitu berkisar antara 20 ­ 40%.
Ada dua faktor pokokyang sangat membantu dalam pe-
nanggulangan kanker leher rahim ini yaitu :
­
Pertama, perjalanan perkembangan penyakit ini telah dapat
diketahui; sebelum menjadi kanker ternyata penyakit kanker
leher rahim ini didahului oleh adanya lesi prakanker yang disebut
Cervical Intraepthelial Neoplasia (CIN) atau Neoplasia Intra-
epitel Serviks (NIS). Lesi prakanker ini berlangsung cukup lama
yaitu memakan waktu antara 10 ­ 20 tahun.
­
Kedua, telah ditemukan metode untuk mendeteksi perubah-
an serviks uteri pads keadaan prakanker dengan pemeriksaan
yang sederhana, murah dan tidak menimbulkan perasaan sakit
yang dikenal dengan nama pemeriksaan Pap smear atau Tes Pap.
Dengan adanya kedua faktor tersebut di atas, kita dapat
melakukan usaha-usaha untuk menemukan kelainan pada ser-
viks uteri dalam tahap prakanker, sehingga kejadian karsinoma
serviks uteri dapat dicegah.
LESI PRAKANKER (NEOPLASIA INTRAEPITEL
SERVIKS)
Secara histopatologi karsinoma serviks terdini dari 2 jenis,
yaitu: jenis karsinoma epidermoid (95%) dan jenis adenokar-
sinoma (5%). Proses perubahan sel kolumner endoserviks men-
jadi sel skuamosa ektoserviks terjadi secara fisiologik pads
setiap wanita yang disebut sebagai proses metaplasia. Karena
adanya faktor-faktor risiko yang bertindak sebagai ko-karsino-
gen, proses metaplasia fisiologis ini dapat berubah menjadi
proses displasia yang bersifat patologis.
Adanya proses displasia inilah yang dinamakan sebagai lesi
prakanker atau disebut sebagai Cervical Intraepithelial Neo-
plasia (CIN) atau Neoplasia Intraepitel Serviks (NIS).
Lesi prakanker serviks tersebut di atas dibagi menjadi :
CIN I : sesuai dengan displasia ringan.
CIN II
sesuai dengan displasia sedang.
CIN III : sesuai dengan displasia berat.
Sehingga perkembangan kanker leher rahim dapat digambarkan
sebagai berikut :
CIN I --> CIN II --> CIN III --> CIS --> Ca invasif.
CIS = Carcinoma Insitu.
Lamanya waktu yang diperlukan untuk perkembangan dari
CIN I atau displasia ringan sampai menjadi karsinoma insitu
dapat dilihat pads tabel 1.
Tabel 1.
Waktu yang Diperlukan oleh Penderita Displasia untuk MenJadi
Karsinoma Insitu
Tingkat Displasia
Waktu (bulan)
sangat ringan
ringan
sedang
berat
82 (t 7 tahun)
58 (± 5 tahun)
38 (± 3 tahun)
12 (± 1 tahun)
Untuk dapat mendeteksi adanya perubahan epitel serviks
14
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi KhususNo. 80, 1992
background image
pada masa lesi prakanker ini maka setiap ibu yang sudah pernah
melakukan hubungan kelamin, diharuskan menjalani pemeriksaan
Pap smear
paling sedikit sekali setahun sampai berusia 65 tahun,
tanpa menunggu adanya keluhan atau gejala lain.
Diagnosis
1)
Melakukan pemeriksaan Pap smear
secara rutin setiap ta-
hun terhadap ibu-ibu
sejak mulai melakukan
hubungan seksual
sampai berusia
65
tahun.
2)
Jika didapatkan hasil Pap smear yang abnormal, harus di-
lakukan pemeriksaan kolposkopi
dan biopsi terarah untuk pe-
meriksaan
histopatologi.
Teknik pemeriksaan Pap smear :
Dua hari menjelang pemeriksaan, ibu dilarang melakukan
senggama
maupun memakai obat-obatan yang dimasukkan ke
dalam liang senggama. Waktu yang baik untuk pemeriksaan
adalah beberapa hari setelah selesai menstruasi.
Ibu dalam posisi litotomi, dipasang spekulum vagina tanpa
menggunakan pelicin, dan tanpa melakukan periksa dalam se-
belumnya. Setelah portio ditampakkan, maka spatula Ayre di-
tempelkan pada portio uteri dengan bagian yang lebih panjang
dimasukkan ke dalam canalis cervicalis, lalu spatula diputar 180°
searah jarum jam. Lendir yang didapat dioleskan pada objek
gelas, lalu difiksasi atau direndam dalam larutan alkohol 96%.
Sediaan dapat dikirim secara basah (tetap direndam dalam alkohol)
atau dikirim secara kering dengan mengeringkan sediaan setelah
direndam dalam alkohol lk. setengah jam.
Selanjutnya sediaan tadi dikirim ke Ahli Patologi Anatomi
untuk diperiksa.
Adapun jawaban yang akan kita peroleh dari ahli Patologi
anatomi biasanya adalah :
Kelas I
:
Normal.
Kelas II
:
Sel atipik/proses radang.
Kelas III :
Mencurigakan ganas (Displasia ringan, sedang dan
berat).
Kelas IV :
Dijumpai sel ganas jumlah sedikit.
Kelas V :
Dijumpai sel ganas jumlah banyak.
Keterangan :
--
Kelas
I dan II, tergolong
smear
yang negatif.
-
Kelas III, mencurigakan ganas, yang harus dijajaki lebih
lanjut dengan pemeriksaan kolposkopi dan biopsi. Di dalam
kelas
III inilah lesi
prakanker biasanya terdeteksi.
- Kelas IV dan V, tergolong
smear
yang positif.
Akhir-akhir ini dengan adanya kemajuan interpretasi peme-
riksaan
Pap smear,
seorang patolog telah dapat langsung meng-
interpretasikan hasil
Pap smear
tanpa menggunakan kelas-kelas
'seperti di atas; sehingga jawaban hasil pemeriksaan Pap smear
saat ini
sering kita jumpai sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
i6.
7.
8.
Jika di jumpai hasil yang abnormal yaitu mulai dari kelas III
ke atas (displasia ringan dan selanjutnya), maka pasien harus
melakukan pemeriksaan kolposkopi dan biopsi untuk memasti-
kan diagnosis dan penanganan selanjutnya. Pemeriksaan sitologi
Pap smear
yang abnormal tidak boleh dijadikan dasar untuk
pengobatan, sehingga perlu dilakukan biopsi untuk pemeriksaan
histopatologi yang merupakan pemeriksaan final untuk mene-
gakkan diagnosis; barulah berdasarkan hasil pemeriksaan histo-
patologi tersebut dilakukan tindakan pengobatan.
Ada beberapa kasus yang tidak hanya memerlukan biopsi
serviks tetapi juga memerlukan bedah konisasi diagnostik.
Indikasi bedah konisasi diagnostik :
1.
Lesi tidak tampak seluruhnya dengan pemeriksaan
kolposkopi.
2.
Lesi dicurigai berada di endoserviks.
3.
Kesenjangan antara hasil
Pap smear
dan basil histopatologi
sediaan biopsi.
Pengobatn lesi prakanker :
Pada keadaan CIN I dan CIN II, jika lesinya kecil dapat di-
lakukan krioterapi, namun jika lesinya luas dilakukan tindakan
elektrokoagulasi.
Pada CIN III, jika fungsi reproduksi masih dibutuhkan,
dapat dilakukan bedah konisasi, dan jika fungsi reproduksi sudah
tidak dibutuhkan lagi, dilakukan histerektomi simpel.
KARSINOMA SERVIKS UTERI
Karsinoma serviks uteri merupakan perkembangan lanjut
dari Neoplasia Intraepitel Serviks (NIS); di sini jelas dijumpai
sel-sel ganas pads epitel serviks, bahkan telah menginvasi ke
dalam stroma serviks.
Penyebab
Sampai saat ini penyebab kanker leher rahim belum diketahui
secara pasti. Namun sudah ditemukan beberapa faktor risiko
yang ada pads wanita yang memudahkan terserangnya kanker
leher rahim.
Di samping itu juga karena akhir-akhir ini kejadian kanker
leher rahim banyak dikaitkan dengan infeksi dari Human Pa-
pilloma Virus (HPV), yang penularannya melalui hubungan
seksual (Sexually transmitted diseases), maka timbul istilah
-
adanya pria risiko tinggi untuk menimbulkan kanker leher rahim
pads isterinya.
Yang tergolong wanita risiko tinggi adalah :
1.
Kawin/bersenggama pertama kali pads usia di bawah 20
tahun, terutama jika di bawah 16 tahun.
2.
Sosial ekonomi yang rendah.
3.
Higiene seksual yang tidak baik.
4.
Sering ganti pasangan seksual.
5.
Sering melahirkan dengan jarak yang pendek.
Yang tergolong pria risiko tinggi adalah :
1.
Riwayat adanya kanker penis (alat kelamin).
2.
Riwayat kanker leher rahim pada isteri.
3.
Sosial ekonomi rendah.
4.
Menderita penyakit hubungan seksual, terutama kondiloma
penis.
Normal smear.
Atipik/proses radang.
Displasia ringan.
Displasia sedang.
Displasia berat.
Karsinoma insitu.
Karsinoma mikroinvasif.
Karsinoma invasif.
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
15
background image
Gejala klinik
Lesi prakanker dan lesi kanker stadium awal sering tidak
menampakkan gejala yang menyolok. Sering mengalami kepu-
tihan yang biasanya dianggap sebagai hal yang normal. Dapat
mengalami perdarahan pasca senggama (contact bleeding),
kadang-kadang keluar cairan berbau busuk dari vagina. Pada
keadaan lanjut dapat terjadi menometrorhagia, nyeri panggul/
lumbosakral, badan pucat dan kurus, edema tungkai, hematuri
atau melena, gejala-gejala metastasis di tempat lain.
Biasanya kematian disebabkan oleh karena gagal ginjal
yang disebabkan obstruksi ureter bagian distal oleh massa tumor.
Stadium klinik
Stadium 0 : Karsinoma
insitu.
Stadium I : Proses terbatas pada uterus, ekstensi ke korpus uteri
tidak diperhitungkan.
Ia : Proses belum terdeteksi secara klinis. Diagnosis
ditegakkan berdasarkan pemeriksaan patologi.
Ia.1.:Minimal stromal invasion.
Ia.2 : Invasi proses dengan kedalaman 5 mm atau kurang,
dari membrana basalis, dan penjalaran secara horizontal 7 mm
atau kurang.
Ib : Proses lebih besar dari Ia.2.
Stadium II : Proses telah menginvasi keluar uterus, tapi belum
mencapai dinding panggul dan sepertiga distal vagina.
IIa : Tanpa invasi ke parametrium.
IIb : Dengan invasi ke parametrium.
Stadium III : Proses menyebar ke dinding panggul, dan/atau
melibatkan sepertiga distal vagina, dan/atau menyebabkan
hidronefrosis atau gangguan fungsi ginjal.
IIIa : Proses melibatkan sepertiga distal vagina, tanpa ekstensi
ke dinding panggul.
IIIb : Proses sampai ke dinding panggul, dan/atau menye-
babkan hidronefrosis, atau gangguan fungsi ginjal.
Stadium IVa : Proses menginvasi ke mukosa kandung kemih
atau rektum, dan/atau ekstensi keluar pelvis minor.
Stadium IVb : Metastasis jauh.
Diagnosis
Ditegakkan :
1)
Pemeriksaan
Pap smear
rutin.
2)
Kolposkopi.
3)
Biopsi dengan/tanpa kolposkopi.
4)
Konisasi.
5)
Gejala klinik.
Diagnosis pasti adalah berdasarkan hasil pemeriksaan histo-
patologi hasil biopsi atau konisasi.
Pengobatan
Pada stadium
insitu
dan stadium Ia dengan
early stromal
invasion,
di
mana fungsi reproduksi masih dibutuhkan dapat
dilakukan bedah konisasi. Namun jika fungsi reproduksi tidak
dibutuhkan lagi, harus dilakukan ekstrafasial histerektomi.
Pada stadium Ib sampai IIa, dilakukan histerektomi radikal
dan limfadenektomi pelvis. Bagi penderita stadium Ib-IIa
dengan kontraindikasi tindakan operasi, dapat diberikan terapi
radiasi.
Sedangkan pada stadium IIb dan seterusnya tindakan pem-
bedahan sudah tidak mungkin dilakukan lagi
(inoperable),
se-
hingga pada kasus-kasus ini pengobatan yang diberikan adalah
radioterapi, kemoterapi atau gabungan antara radioterapi dan
kemoterapi.
KEPUSTAKAAN
1. Azis MF, Syamsuddin S, Kampono N. Cervical Intraepithelial Neoplasia and
its management. Indon J Oncol 1990; 2: 47-55.
2. Berek IS, Hacker NF. Practical Gynecologic Oncology, Baltimore: Williams
Wilkins, 1989.
3. Disaia PJ, Creasman WT. Clinical Gynecologic Oncology, St Louis: CV
Mosby, 1981.
4. Gusberg SB, Shingleton HM, Deppe G. Female Genital Cancer. New York:
Churchill Livingstone, 1988.
5. McGuire WL. Gynecologic Oncology. Boston: Martinus Nijhoff Publ,
1983.
6. Syamsuddin S. Manual Prekanker dan Kanker Serviks Uterus. Bagian
Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UniversitasIndonesia, Jakarta,
1985.
It is when we forget ourselves that we do things that will be
remembered
1 6
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992