HASIL PENELITIAN
Insiden Preeklampsia Eklampsia
di Rumah Sakit Umum Tarakan
Kalimantan Timur - tahun 2000
I Putu Sudinaya
Bagian Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Tarakan, Kalimantan Timur
ABSTRAK
Dari 1431 persalinan selama periode 1 Januari - 31 Desember 2000 terdapat 74
kasus preeklampsia - eklampsia (5,1%) di RSU Tarakan, preeklampsia 61 kasus (4,2%)
dan eklampsia 13 kasus (0,9%).
Kasus preeklampsia - eklampsia terutama dijumpai pada usia 20-24 tahun dan
primigravida .
Terdapat 7 kematian maternal pada kasus preeklampsia - eklampsia (9,4%).
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Seperti diketahui, angka kematian ibu melahirkan masih
tinggi. Salah satu penyebab utama kematian maternal adalah
preeklampsia - eklampsia.
Preeklampsia - eklampsia merupakan penyakit hipertensi
yang disebabkan oleh kehamilan, yang ditandai dengan hiper-
tensi, edema dan proteinuri masif setelah minggu ke 20 dan
jika disertai kejang disebut eklampsia.
Diagnosis dini dan penanganan yang adekuat dapat men-
cegah kematian ibu akibat preeklampsia - eklampsia.
2. Rumusan
Masalah
a.
Kejadian preeklampsia - eklampsia pada
kelompok umur tertentu.
b.
Penyebab kematian ibu preeklampsia - eklampsia.
3. Tinjauan
Pustaka
Preeklampsia - eklampsia merupakan kesatuan penyakit
yang masih merupakan sebab utama kematian ibu dan sebab
kematian perinatal yang tinggi di Indonesia sehingga diagnosis
dini preeklampsia yang merupakan pendahuluan eklampsia
serta penatalaksanaannya harus diperhatikan dengan seksama
(²)
.
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan secara rutin men-
cari tanda preeklampsia yaitu hipertensi, edema dan proteinuri
sangat penting dalam usaha pencegahan, di samping pe-
ngendalian faktor-faktor predisposisi lain
(1)
.
Etiologi pasti preeklampsia/eklampsia masih belum di-
ketahui. Beberapa teori antara lain memperkirakan faktor-
faktor:
(4)
- Prostasiklin
dan
tromboksan
-
Imunologis
-
Genetik/familial
-
Renin Angiotensin - Aldosteron System (RAAS).
Kriteria diagnosis preeklampsia ringan :
1.
Hipertensi antara 140mmHg/90mmHg atau
kenaikan sis-tolik dan diastolik 30 mmHg/15mmHg.
2.
Edema tungkai, lengan atau wajah, atau kenaikan
berat badan 1 kg/ minggu.
3.
Proteinuri 0,3 g/24 jam atau plus 1-2.
4.
Oliguri.
Kriteria diagnosis preeklampsia berat
(3)
.
Apabila pada kehamilan lebih 20 minggu didapatkan satu atau
lebih tanda berikut: .
1.
Tekanan darah > 160/110 mmHg diukur dalam keadaan
relaks (minimal setelah istirahat 10 menit) dan tidak dalam
keadaan his.
2.
Proteinuri > 5g/24 jam atau +4 pada pemeriksaan
kualitatif.
3.
Oliguri : urine <500 ml/24 jam disertai kenaikan kreatinin
plasma
4.
Gangguan visus dan serebral
5.
Nyeri epigastrium/hipokondrium kanan.
6.
Edema paru dan sianosis.
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003 13
7.
Gangguan pertumbuhan janin intrauterin.
8. Adanya
HELLP Syndrome (Hemolysis, Elevated Liver en-
zyme, Low platelet count).
TUJUAN
1. Mengetahui angka kejadian preeklampsia - eklampsia
berdasarkan umur dan paritas.
2. Mengetahui jumlah dan sebab kematian ibu dengan
preeklampsia - eklampsia.
METODOLOGI
Penelitian dilakukan secara retrospektif selama 1 tahun
terhadap ibu hamil dengan preeklampsia - eklampsia di RSU
Tarakan - Kalimantan Timur periode 1 Januari 2000 sampai 31
Desember 2000.
BAHAN DAN CARA
Data diambil dari register persalinan di RSU Tarakan
Kalimantan Timur periode 1 Januari 2000 sampai 31 Desember
2000.
Data yang dicatat :
1) Usia ibu
2) Paritas
3) Kematian ibu melahirkan akibat preeklampsia - eklampsia.
4) Kematian janin.
Tabel 1. Kasus preeklampsia berdasarkan umur dan paritas.
Paritas
Umur
I II
III
IV
V
VI
VII
VIII
<
20
thn 2 - - - - - - -
(2,7%)
20
24
th
13 2 - - - - - -
(17,5%) (2,7%)
25 29 th
7
6
1
-
-
1
-
-
(9,4%) (8,1%) (1,3%)
(1,3%)
30
34
th 3 4 2 4 1 2 - -
(4,0%) (5,4%) (2,7%) (5,4%) (1,3%) (2,7%)
35
39
th - 1 3 2 2 - 1 1
(1,3%) (4,0%) (2,7%) (2,7%)
(1,3%) (1,3%)
40 th
- - - - - - 1 2
(1,3%) (2,7%)
(Persen = Persentase dari semua kasus preeklampsia - eklampsia selama
periode 1 Januari 2000 - 31 Desember 2000)
Tabel 2. Kasus eklampsia berdasarkan umur dan paritas.
Paritas
Umur
I II
III
IV
V
VI
VII
VIII
<
20
thn 1 - - - - - - -
(1,3%)
20
24
th
4 2 1 - - - - -
(5,4%) (2,7%) (1,3%)
25
29
th
2 - 1 - - - - -
(2,7%)
(1,3%)
30
34
th
1 - - - - - - -
(1,3%)
35
39
th
- - - 1 - - - -
-
(1,3%)
40 th
- - - - - - - -
(Persen = Persentase dari semua kasus preeklampsia - eklampsia selama
periode 1 Januari 2000 -31 Desember 2000).
Tabel 3. Kasus preeklampsia - eklampsia berdasarkan paritas
Paritas
I II III
IV
V
VI
VII
VIII
Jumlah
33 15 8 7 3 3 2 3 74
(44,5%) (20,2%) (10,8%) (9,4%) (4%) (4%) (2,6%) (4%) (100%)
(Persen = Persentase dari semua kasus preeklampsia - eklampsia selama
periode 1 Januari 2000 - 31 Desember 2000).
Tabel 4. Kematian maternal pada eklampsia.
Usia ibu
Jumlah
Kematian
Penyebab
< 20 th
-
-
20-24 th
3
Edema paru
25-29 th
-
-
30-34 th
1
Edema paru
35-39 th
2
Edema paru (1), GGA+ Edema paru (1)
40 th
1
Edema paru
HASIL
Selama periode 1 Januari 2000 sampai 31 Desember 2000
didapatkan 1431 persalinan, baik fisiologis maupun patologis.
Kasus preeklampsia - eklampsia didapatkan 74 kasus, 61
kasus preeklampsia (4,2%) dan 13 kasus eklampsia (0,9%).
Kematian maternal akibat eklampsia 7 orang (0,49%)
(tabel 4).
Pada persalinan dengan preeklampsia - eklampsia terdapat
4 kasus IUFD, 2 kasus gemelli.
PEMBAHASAN
Tabel 1 menunjukkan bahwa kasus preeklampsia ter-
banyak pada usia 20 - 24 tahun, terjadi pada kehamilan pertama
(17,5%); kasus eklampsia juga lebih banyak pada usia 20 - 24
tahun dan kehamilan pertama (5,4%) (tabel 2).
Preeklampsia - eklampsia lebih sering terjadi pada usia
muda dan nulipara diduga karena adanya suatu mekanisme
imunologi di samping endokrin dan genetik; dan pada kehamil-
an pertama pembentukan blocking antibodies terhadap antigen
plasenta belum sempurna, yang makin sempurna pada kehamil-
an berikutnya
(4)
.
Preeklampsia juga terjadi pada usia 35 tahun (13 kasus).
Hal tersebut diduga akibat hipertensi yang diperberat oleh ke-
hamilan, karena insiden hipertensi meningkat di atas usia 35
tahun
(5)
.
Kematian maternal karena eklampsia disebabkan oleh
edema paru (6 kasus) serta oleh edema paru dan gagal ginjal
akut (1 kasus). Edema paru terjadi akibat aspirasi pneumoni
akibat kejang disertai muntah dan gagal jantung akibat hiper-
tensi berat. Gagal ginjal akut karena nekrosis tubuler, namun
lebih sering karena perdarahan
(5)
.
Faktor-faktor yang berperan pada kematian maternal kare-
na eklampsia di RSU Tarakan:
1.
Pengetahuan yang rendah sehingga seringkali penderita
dibawa ke rumah sakit sudah dalam keadaan kejang.
2.
Persalinan yang ditolong oleh dukun menyebabkan pen-
derita eklampsia terabaikan sehingga dirujuk dalam keadaan
gawat.
3.
Transportasi.
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003
14
Adanya kendala transportasi menuju RSU Tarakan terutama
dari daerah terpencil.
4.
Kurangnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan
kehamilannya ke bidan atau ke dokter.
Terdapat 2 kasus preeklampsia dengan gemelli. Diduga
karena adanya peningkatan tropoblast (hyperplacentosis)
(3)
.
Kematian bayi dalam kandungan / IUFD (4 kasus), biasanya
akibat hipoksia intra uterin dan prematuritas
(1)
.
KESIMPULAN DAN SARAN
1) Preeklampsia - eklampsia sering terjadi pada usia muda
dan nullipara.
2) Kasus kematian pada ibu dengan eklampsia lebih banyak
karena edema paru.
KEPUSTAKAAN
1.
Manuaba, IBG. Penuntun Diskusi Obstetri dan Ginekologi untuk Maha-
siswa Kedokteran, EGC, Jakarta, 1995; 152-3.
2.
Wiknjosastro H dkk. Ilmu Kebidanan ed. ke tiga cetakan keempat,
Yayasan Bina Pustaka, Jakarta, 1997; 22: 281-301.
3.
Ansar MD. Hipertensi dalam kehamilan. Satgas Gestosis POGI,
Surakarta, Juni 1991.
4.
Wibisono. Kematian perinatal pada Preeklampsia. FK UNDIP Semarang,
1997; 6-12.
5.
Pritchard JA. Mc Donald PC, Gant NF. Williams Obstetrics. Penerjemah
Hariadi R. Airlangga University Press Surabaya, 1997; 773-804.
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003 15