background image
Hepatitis B di dalam Keluarga,
Tinjauan Kasus
Sujono Hadi
Sub Unit Gastroenterologi, Laboratorium/UPFIImu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UNPAD/
RSU dr. Hasan Sadikin, Bandung
ABSTRAK
Penelitian prospektif pada kelompok keluarga pengidap/penderita hepatitis virus B
(HVB) selama tiga tahun mulai tahun 1987 sampai akhir tahun 1989, menemukan 95
kasus dengan HBsAg positif. Mereka terdiri atas' 37 wanita dan 58 pria pada saat
pertama kali ditemukan. Umur termuda 28 tahun, dan tertua 67 tahun, dengan umur
rata-rata 42,3 tahun.
Semua kasus tersebut diperiksa HBeAg, dengan hasil 65 negatif, dan 30 positif.
Hasil pemeriksaan dari kelompok keluarga wanita dengan HBsAg positif tetapi HBeAg
negatif, ternyata ditularkan kepada anaknya 37,6%, sedangkan pada kelompok keluarga
laki-laki menularkan kepada anaknya 35,7%. Penularan HVB lebih meningkat bila
disertai HBeAg positif ­ pada kelompok keluarga wanita terjadi penularan 59,4% dan
pada kelompok keluarga laki-laki sebanyak 47,5%. Lebih-lebih lagi bila kedua suami
istri HBsAg positif walaupun HBeAg negatif, akan menularkan HVB sebanyak 86,6%.
Apalagi bila salah seorang di antara kedua suami istri tersebut disertai HBeAg positif,
penularan HVB mencapai 100%.
Dapat diambil kesimpulan bahwa penularan HVB antara keluarga dekat (transmisi
intrafamilial) dapat terjadi secara vertikal maupun horizontal, atau terjadi baik maternal
maupun paternal. Risiko tertulari di dalam keluarga lebih meningkat bila disertai
HBeAg positif apalagi kedua orang tua adalah penderita/pengidap HVB. Semua
keluarga dekat dengan petanda serologis semuanya negatif, harus diberi imunisasi
untuk mencegah terjadinya penularan. Imunisasi sebaiknya dilakukan sedini mungkin,
terutama pada bayi atau anak-anak balita, karena memiliki efektivitas yang tinggi.
PENDAHULUAN
Sampai sekarang hepatitis virus B (HVB) masih tetap me-
rupakan masalah hangat, baik ditinjau secara epidemiologis
maupun secara klinis. Secara epidemiologis HVB tersebar di
seluruh dunia, ditemukan sepanjang tahun, khususnya di
Afrika, Asia Tenggara termasuk Indonesia prevalensinya ter-
golong tinggi, yaitu berkisar antara 6­17%.
'
Sebagaimana diketahui, HVB mudah ditularkan kepada
semua orang dan semua kelompok umur. Percikan sedikit
darah yang mengandung HVB sudah dapat menularkan pe-
nyakit. Dikenal dua macam cara penularan yaitu: penularan
secara horizontal dan penularan secara vertikal. Penularan
secara vertikal ialah merupakan penularan infeksi dari se-
'seorang ibu pengidap/penderita HVB kepada bayinya sebelum
atau pada saat atau beberapa saat setelah persalinan. Sedang-
kan penularan secara horizontal lebih sering ditemukan, yaitu
penularan secara parenteral perkutan dan non-kutan.
2
Oleh
karena itu tidak mengherankan terjadi penularan HVB di dalam
lingkungan penderita/pengidap dengan HBsAg positif,
terutama bagi anggauta keluarga serumah yang selalu
berhubungan langsung.
Berdasarkan latar belakang inilah, maka dilaporkan
penelitian HVB di dalam keluarga.
BAHAN DAN METODE
Bahan
Sebagai bahan penelitian ialah 95 kasus dengan HBsAg
positif. Mereka terdiri atas 37 wanita dan 58 pria. Umur ter-
muda 28 tahun, dan tertua 67 tahun dengan umur rata-rata
42,3 tahun. Semua kasus tersebut di atas datang berobat jalan
selama permulaan Januari 1987 sampai akhir Desember
background image
1989 dan tidak memperlihatkan tanda-tanda ikterus.
Tata Cara
Penelitian ini merupakan penelitian prospektif studi kasus.
Tujuan penelitian untuk melihat penularan atau sumber
penularan HVB di dalam keluarga.
Semua kasus yang datang berobat dengan HBsAg positif
atau yang mempunyai riwayat pernah menderita penyakit hati
atau hepatitis diamati atau diperiksa lebih lanjut terhadap
HBeAg, guna melihat infektivitas penyakitnya. Kepada
,
seluruh
keluarga dekat (istri/suami, dan anak-anak) juga diperiksa
petanda serologis terhadap HBsAg, Anti HBs dan HBeAg
dengan menggunakan metode ELISA.
Selain daripada itu juga ditanyakan riwayat orang tua dan
saudara sepupu penderita, apakah ada di antara mereka yang
pernah menderita penyakit hati dengan HBsAg positif, guna
mencari sumber penularan.
HASIL
Dui 95 kasus dei.gan HBsAg positif, ditemukan 65 dengan
HBeAg negatif dan 30 dengan HBeAg positif. Semua keluarga
dekat telah diperiksa petanda serologis terhadap HVB, dan
selanjutnya dibagi dalam dua kelompok, yaitu :
Kelompok Keluarga yang hanya suami/istri dengan HBsAg
Positif
Dari kelompok ini ditemukan 86 kasus yang hasilnya se-
bagai berikut :
·
Mereka dengan HBsAg positif tetapi dengan HBeAg negatif,
sebanyak 59 kasus, terdiri atas 24 wanita dan 35 pria.
·
Mereka dengan HBeAg dan HBeAg positif sebanyak 27
kasus, terdiri atas 9 wanita dan 18 pria.
Selanjutnya diteliti keluarga masing-masing terhadap
petanda serologis, yang dapat dibagi atas 4 sub kelompok,
yaitu :
a)
Istri dengan HBsAg positif dan HBeAg negatif. Jumlah
anak dari 24 kasus ini ialah 53 orang, terdiri atas 25 wanita dan
28 pria. Hasil pemeriksaan petanda serologis dari keluarga sub
kelompok ini tertera pada tabel 1.
Tabel 1. Petanda Serologis dari Keluarga Dekat dari 24 Wanita dengan
HBsAg Positif dan HBeAg Negatif.
n
HBsAg
Anti
HBs
HBeAg
+
+
­
Suami
Anak wanita
Anak laki4aki
24
25
28
­
3
3
8
6
9
­
­
­
Jumlah 77
6
23
Berdasar data di atas yang pernah tertulari HVB 29 orang
(37,6%) yang terdiri 6 HBsAg positif (7,8%) dan 23 Anti HBs
positif. Sisanya itu sebanyak 48 orang dengan HBsAg dan Anti
HBs negatif terdiri atas 16 suami, 16 anak wanita, dan 16 anak
laki-laki yang perlu mendapat vaksinasi.
b)
Suami dengan HBsAg positif dan HBeAg negatif sebanyak
35 kasus, yang mempunyai anak 79 orang terdiri atas 39 wanita
dan 40 pria. Hasil pemeriksaan petanda serologis dari keluarga
sub kelompok ini tertera pada tabel 2.
Berdasar data di atas yang pernah tertulari HVB sebanyak
35 (35,7%) yang terdiri dari 5 HBsAg positif (4,4%) dan 30
Anti HBs positif. Sisanya 79 orang dengan HBsAg dan Anti
Tabel 2. Petanda Serologis dan Keluarga Dekat dari 35 Pria dengan
HBsAg
Positif
dan
HBeAg
Negatif.
Keluarga n
HBsAg
Anti
HBs
HBeAg
+
+
+
Istri 35
­
10
­
Anak wanita
39
2
9
­
Anak laki-laki
40
3
11
­
Jumlah 114
5
30
­
HBs negatif terdiri atas 25 istri 28 anak wanita dan 26 anak
laki-laki yang perlu mendapat vaksinasi.
c)
Istri dengan HBsAg dan HBeAg positif sebanyak 9 kasus,
yang mempunyai anak 23 orang, terdiri atas 13 wanita, dan 10
pria. Hasil pemeriksaan petanda serologis dari keluarga sub
kelompok ini tertera pada tabel 3.
Tabel 3. Petanda Serologis dari Keluarga Debt dari 9 kasus Wanita
dengan HBsAg dan HBeAg Positif.
Keluarga n
HBsAg
Anti
HBs
HBeAg
+
+
+
Suami 9
­
3
­
Anak wanita
13
3
6
1
Anak laki-laki
10
2
5
­
Jumlah 32
5
14
1
Berdasar data di atas jumlah yang pernah tertulari sebanyak
19 orang (59,4%), yaitu 5 dengan HBsAg (+) (15,6%), bahkan
salah seorang anak wanita disertai HBeAg (+), dan 14 dengan
Anti HBs positif. Sisanya 13 orang dengan HBsAg dan Anti
HBs negatif terdiri atas 6 suami, 4 anak wanita, dan 3 anak
laki-laki yang perlu mendapat vaksinasi.
d)
Suami dengan HBsAg dan HBeAg positif sebanyak 18
kasus yang mempunyai anak 43 orang terdiri atas 20 wanita
dan 23 pria. Hasil pemeriksaan petanda serologis dari keluarga
dekat sub kelompok ini, tertera pada tabel 4.
Tabel 4. Petanda Serlologis dari Keluarga Dekat dari 18 kasus pria
dengan HBsAg dan HBeAg Positif.
Keluarga n
HBsAg
Anti
HBs
HBeAg
Istri
Anak wanita
Anak laki-laki
18
20
23
­
3
4
6
7
9
-
-
-
Jumlah 61
7
22
­
Berdasar data di atas dari 61 orang keluarga penderita yang
pernah tertulari HVB sebanyak 29 (47,5%) terdiri atas 7
dengan HBsAg positif dan 22 dengan Anti HBs positif. Sisanya
32 orang dengan HBsAg dan Anti HBs negatif, terdiri atas 12
istri, 10 anak wanita dan 10 anak laki-laki yang perlu mendapat
vaksinasi.
Kelompok Keluarga dari Suami dan Istri dengan HBsAg
Positif
Dari kelompok ini ditemukan 9 kasus yang hasilnya se-
bagai berikut
·
Suami dan istri dengan HBsAg positif tetapi HBeAg negatif
ada 6 kasus.
·
Suami dan istri dengan HBsAg positif tetapi salah seorang di
antaranya dengan HBeAg positif 3 kasus.
Cermin Dunia Kedokteran No. 68, 1991
12
background image
a)
Suami dan istri dengan HBsAg positif tetapi HBeAg negatif
6 kasus mempunyai anak 15 orang terdiri atas 6 wanita dan 9
laki-laki. Hasil pemeriksaan petanda serologis tertera pada
tabel 5.
Tabel 5. Petanda Serologis Putra dan Putri dari 6 Suami Istri dengan
HBsAg Positif dan HBeAg Negatif.
Anak n
HBsAg
+
Anti HBs
+
HBeAg
+
Wanita
Laki­laki
6
9
2
2
3
6
­
­
Jumlah 15 4 9 ­
Berdasar data di atas 13 dari 15 orang (86,6%) yang pemah
tertulari HVB terdiri atas 4 dengan HBsAg positif dan 9 dengan
anti HBs positif. Sisanya sebanyak 2 orang dengan HBsAg dan
anti HBs negatif yang perlu mendapat vaksinasi, yaitu anak
wanita 1 dan anak laki-laki 1 orang.
b)
Suami dan istri dengan HBsAg positif, dan salah seorang di
antaranya dengan HBeAg positif sebanyak 3 kasus, mempunyai
anak 11 orang terdiri atas 5 wanita, dan 6 laki-laki. Hasil
pemeriksaan petanda serologis tertera pada tabel 6.
Tabel 6. Petanda Serologis Putra dan Putri dari 3 Suami Istri dengan
HBsAg Positif dan Salah Seorang diantaranya dengan HBeAg
Positif.
Anak n
HBsAg
+
Anti HBs
+
HBeAg
+
Wanita
Laki-laki
5
6
2
4
3
2
­
1
Jumlah 11 6 5 1
Berdasar data di atas, 11 dari 11 orang anak (100%) anak
pernah tertulari HVB, terdiri 6 orang dengan HBsAg positif,
bahkan salah seorang putra disertai HBeAg positif, dan 5 orang
dengan anti HBs positif.
Riwayat Keluarga
Semua kasus tersebut di atas diusahakan untuk diketahui
riwayat keluarganya (masing-masing orang tua suami/istri),
paman dan bibinya, kakak atau adik dari kasus tersebut).
Walaupun demikian hanya 11 kasus saja yang dapat mem-
berikan data riwayat keluarga yang berkaitan dengan HVB.
Dari sebelas kasus tersebut dapat dilaporkan tiga contoh kasus.
a) Seorang ibu dengan HBsAg positif dan HBeAg negatif se-
bagaimana terlihat pada bagan 1 di bawah ini.
Dari bagan 1 tersebut di atas, tampak seorang ibu dengan
HBsAg positif mmpunyai anak laki-laki dengan anti HBs
positif. Dari riwayat keluarga yang dapat ditelusuri ternyata ibu
dari kasus ini juga mempunyai HBsAg positif, tetapi Saudara-
saudara lainnya semua petanda serologis yang negatif.
Sedangkan dari keluarga pihak suami tidak ada seorangpun
yang pernah menderita hepatitis, dan pemeriksaan petanda
serologis terhadap HVB hasilnya negatif.
b) Seorang bapak dengan HBsAg positif dan HBeAg juga
positif, sebagaimana terlihat pada bagan 2 di bawah ini.
Berdasar bagan 2 di atas, tampak seorang bapak dengan
HBsAg dan HBeAg positif yang ditemukan mempunyai anak
4 orang, dua di antaranya dengan anti HBs positif. Kedua
orang tuanya telah meninggal dunia, ibu penderita ini telah
meninggal dunia yang penyebabnya tidak diketahui serta
tidak pernah menderita hepatitis. Sedang bapak penderita
menderita kanker hati primer (KHP). Saudara kandung pen-
derita salah seora 1g yaitu kakak perempuan juga telah me-
ninggal dunia diduga karena kanker hati, dan salah seorang
kakak laki-laki mempunyai anti HBs positif. Pemeriksaan
petanda serologis istri penderita menemukan anti HBs positif
dengan titer cukup tinggi. Semua keluarga (kakak, adik dan
kedua orang tua) dari pihak istri memperlihatkan petanda
serologis terhadap HVB negatif.
c) Riwayat keluarga dari suami istri dengan HBsAg positif,
dan istri juga dengan HBeAg positif, sebagaimana terlihat pada
bagan 3 di bawah ini.
Cermin Dunia Kedokteran No. 68, 1991 13
background image
Berdasar bagan 3 di atas, tampak seorang bapak yang di-
temukan pada saat penelitian dengan HBsAg positif, tetapi
HBeAg negatif. Riwayat keluarga penderita ibu penderita
ditemukan HBsAg positif, tetapi bapaknya telah meninggal
dunia karena sirosis hati. Mempunyai empat saudara, salah
seorang kakak wanita juga dengan HBsAg positif, sedang dua
orang lain (adik perempuan dan adik laki-laki) telah mem-
punyai anti HBs positif yang belum pernah mendapat vaksi-
nasi. Salah seorang kakak laki-laki perlu mendapat vaksinasi
karena HBsAg dan anti HBs negatif.
Hasil pemeriksaan petanda serologis istri penderita 'me-
nemukan HBsAg dan HBeAg positif. Kedua orang tua dari
pihak istri telah meninggal dunia, bapaknya karena KHP,
sedangkan ibunya tidak tahu penyebabnya. Istri penderita
mempunyai dua saudara, kakak laid-laki juga telah meninggal
dunia karena KHP, sedang adik perempuan masih hidup
dengan HBsAg positif tetapi HBeAg negatif.
Keluarga kasus ini mempunyai empat orang anak, dua
orang telah meninggal dunia. Anak perempuan meninggal
dunia karena hepatitis kronis pada usia 13 tahun, dan anak laki-
laki meninggal karena KHP pada usia 15 tahun yang waktu
masa anak-anak pernah menderita hepatitis. Dua puteranya
masih hidup dengan HBsAg positif dan HBeAg negatif.
PEMBAHASAN
Hepatitis virus B (HVB) sampai saat sekarang masih tetap
menarik perhatian untuk diadakan penelitian, pengobatan,
pengelolaan serta pencegahan karena penyakit ini dapat me-
nimbulkan berbagai _ macam manifestasi klinis, mulai dari
hepatitis akut, pengidap virus, hepatitis kronis yang dapat
berkembang_menjadi sirosis hati rnaupun kanker hati primer
(KHP).
Di seluruh dunia diperkirakan terdapat 316 juta orang
pembawa virus dan sekitar 70 juta penderita bermukim di Asia
Pasifik. Secara epidemiologi HVB tersebar di seluruh dunia,
dan ditemukan sepanjang tahun, khususnya di Afrika. Asia
Tenggara termasuk Indonesia prevalensinya tergolong tinggi
yaitu berkisar antar. 6-17%.
'
Berdasarkan hasil pengolahan data
selama dua tahun (mulai 1985 sampai dengan 1986), dari
laporan 10 cabang Laboratorium Prodia di seluruh Indonesia
yang memeriksa HBsAg secara ELISA pada 40.035 orang,
ditemukan 17,78% positif. Dari sejumlah penderita tersebut di
atas yang diperiksa HBeAg sebanyak 2.128 orang dan
ditemukan positif sebanyak 30,7%.
3
Berarti angka penderita
yang sangat infektif cukup tinggi.
3
Penyakit HVB mudah dapat ditularkan kepada semua
orang, dan semua kelompok umur secara menyusup, percikan
sedikit darah yang mengandung HVB sudah dapat menularkan
penyakit. Pada umumnya cara penularan HVB adalah
parenteral. Semua penularan HVB diasosiasikan dengan
transfusi darah atau produk darah, melalui jarum suntik.
Tetapi setelah ditemukan berbagai bentuk dari HVB,
makin banyak laporan tentang cara penularan lainnya. Hal ini
disebabkan karena HVB dapat ditemukan dalam setiap cairan
yang dikeluarkan dari tubuh penderita atau pengidap penyakit,
misaln_'a melalui: darah, air liur, air seni, keringat, air mani, air
susu .bu, cairan vagina, air mata, dan lain-lain. Oleh karena itu
dikenal cara penularan perkutan dan non-kutan, di samping itu
dikenal pula penularan horizontal dan vertikal.
2
'
4
Penularan
horizontal sering ditemukan, yaitu yang dapat ditularkan
kepada sekitar penderita, baik laki-laki maupun wanita. Pe-
nularan vertikal dapat diartikan penularan dari seseorang ibu
pengidap/penderita HVB kepada bayinya sebelum persalinan,
pada saat persalinan dan beberapa saat setelah persalinan.
Berdasar cara penularan HVB tersebut d3 atas, maka
dikenal kelompok risiko tinggi yang mudah tertulari, yaitu:
1)
Bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif, apalagi bila
disertai HBeAg positif, sudah pasti akan tertulari.
2)
Lingkungan penderita/pengidap dengan HBsAg positif ter-
utama anggota keluarga/mereka yang serumah yang selalu
berhubungan langsung.
3)
Tenaga medis, paramedis, petugas laboratorium yang selalu
kontak langsung dengan darah pen derita HVB.
4)
Calon penderita bedah, gigi, penerima transfusi darah,
pasien dialisa, dan lain-lain.
5)
Mereka yang hidup di daerah endemis HVB dengan pre-
valensi tinggi.
Dari kelompok risiko tinggi yang menarik perhatian adalah
butir I dan 2 tersebut di atas, sebagaimana yang dilaporkan oleh
para peneliti terdahulu.
5,6
. Demikian pula pernah dilaporkan pe-
nelitian Julius dkk (1981) di desa Talang Sumatera Barat yang
menemukan penularan intra familial (suami-itri,ibu-anak, bapak-
anak, arftar saudara) sebanyak 25,8%, yang kemungkinan di-
sebabkan oleh karena transmisi secara vertikal dan kontak antar
keluarga dekat
7
. Laporan selanjutnya dari hasil penelitian Wibowo
dkk (1984) yang mencari prevalensi HBsAg di antara keluarga
penderita hepetitis virus yang dirawat di RSUP Sanglah Den-
pasar, menemukan 37,68% keluarga dengan HBsAg positif, terdiri
atas 35,29% suami dan 38,46% istri.
8
Selanjutnya laporan
penelitian Jnlius(1990) pada 212 keluarga penderita penyakit
Cermin Dunia Kedokteran No. 68, 1991
14
background image
hati menemukan 35% dengan HBsAg positif, bila dibanding-
kan dengan keluarga bukan penderita penyakit hati menemukan
5,9%, dan pada keluarga populasi normal ditemukan 8,3%
dengan HBsAg positif.
9
Dari hasil penelitian sendiri pada 95
kasus yang ditemukan HBsAg positif, terlihat jelas penularan
antar keluarga dekat penderita.
Penularan tersebut dapat berupa transmisi vertikal maupun
horizontal yang sexing kontak antar keluarga dekat yang dapat
terlihat jelas pada tabel dan bagian riwayat keluarga. Penularan
dapat secara maternal maupun paternal. Lebihlebih mudah
terjadi penularan pada suami dan
`
istri dengan HBsAg positif
dan salah seorang di antaranya dengan HBeAg positif,
sebagaimana terlihat pada tabel 6 dan bagan 3.
Selain daripada itu risiko infeksi pada bayi dari seorang
ibu pengidap HBsAg yang tanpa gejala menunjukkan angka
yang bervariasi antara 10­80%; apalagi bila si ibu tadi disertai
HBeAg positif
1,2,4,e
Dengan demikian dapat disimpulkan
adanya·suatu lingkaran setan, sebagaimana terlihat pada gb. 1.
Gb. 1 Lingkaran Setan penularan HVB.
Lingkaran setan seperti tersebut di atas juga dapat di-
temukan di bagan 1 dan 3 dari penelitian ini. Infeksi pada bayi
dapat terjadi bila ibu menderita hepatitis akut pada trimester III
atau bila ibu adalah pengidap HBsAg. Apalagi bila si ibu
tersebut disertai HBeAg positif. Transmisi virus dari ibu ke
bayi dapat terjadi pada masa intrauterin, pada masaperinatal
atau postnatal
4,10
Perjalanan HVB pada bayi yang tertulari berbeda dengan
orang dewasa, umumnya mempunyai prognosis buruk. Hampir
sepertiga bayi tersebut akan menderita penyakit hati kronis
yang menjurus ke arah sirosis hati atau KHP pada masa akhir
hidupnya
4,10,11
, sebagaimana tampak jelas pada bagan 3 dari
hasil penelitian ini.
Berdasar hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut :
1)
Penularan HVB antar keluarga dekat (transmisi intra-
familial) dapat terjadi secara vertikal maupun horizontal.
2)
Penularan maternal dapat terjadi pada ibu dengan HBsAg
positif, apalagi bila disertai HBeAg positif angka kejadiannya
lebih meningkat, yang transmisinya dapat secara vertikal
maupun horizontal.
3)
Penularan paternal terjadi secara horizontal sebagai akibat
lebih sering kontak langsung antar keluarga.
4)
Pada keluarga yang kedua suami istri mempunyai HBsAg
positif apalagi disertai HBeAg, sudah pasti semua anaknya
akan tertulari.
5)
Oleh karena itu perlu sekali bagi mereka yang hidup di
keluarga dekat diperiksa petanda serologis terhadap HVB. Dan
bila ditemukan semua petanda serologis negatif perlu sekali
diberi imunisasi untuk mencegah penularan. Imunisasi
sebaiknya dilakukan sedini mungkin, yaitu terutama pada bayi
yang baru lahir dari kelompok keluarga pengidap/pen-
derita HVB.
KEPUSTAKAAN
1.
Beasley RP. Hepatitis B Virus as the Etiologic Agent in Hepatocellular
Carcinoma. Epidemiologic Consideration. Hepatology 1982; 2 218­66 S.
2.
Deinhart F, Gust ID. Viral Hepatitis. Bull WHO 1982 : 661.
3.
Hadi S. Petanda Serologis Infeksi Hepatitis B di Beberapa Kota Besar di
Indonesia. Naskah Lengkap KOPAPDI VII. Ujung Pandang 1987 : 557­
66.
4.
Gaiety RJ, Schoertzer IL. Viral Hepatitis type B during Pregnancy, the
Neonatal Period and Infancy. J Pediatr 1977; 90 : 368­74.
5.
Ohbayashi A, Okuchi K, Mayumi M. Familial Clustering of
Asymptomatic Carier of Australian Antigens and Patients with Chronic
Liver Disease or Primary Liver Cancer. Gastroenterology 1972; 62 : 618­
23.
6.
Chen DS, Sung JL. Vertical and Intra-familial Transmission of Hepatitis B
Virus. Proc 5th Asian Pacific Congress of Gastroenterology. Singapore
1976 : 68­72.
7.
Julius, Sanin N, Hanif. Survai Hepatitis B Antigen Orang Dewasa pada
Suatu Masyarakat Pedesaan di Sumatera Barat. Naskah Lengkap
KOPAPDI V. Semarang 1981; 1 : 347­53.
8.
Wabawa IDN, Bakta IM, Suhardjojo T, dkk. Prevalensi Hepatitis Surface
Antigen pada Suami-Istri Penderita Hepatitis Virus Akut. Naskah Lengkap
KOPAPDI VI. Jakarta 1984; 2 : 1322­29.
9.
Julius. Intra-familial Spreading of Viral Hepatitis B Infection in Family of
Livei Diseases. Abstract. VIIth Biennial Scientific Meeting of APASL.
Jakarta. February 19­21, 1990 : 55.
10.
Boxall AEH, Tarloro MJ, Flewett TH. Transmission of HBsAg from
Mother to Infant in Four Ethnic Groups. BMJ 1978, i : 949­52.
11.
Hoofnagle JH, Alter HJ. Chronic Viral Hepatitis. In: Vyas GN, Dienstag
JL, Hoofnagle JH, (eds.): Viral Hepatitis and Liver Disease.
Orlando:Grune­Stratton Inc. 1984. bal. 97­114.
Cermin Dunia Kedokteran No. 68, 1991 15