background image
HASIL PENELITIAN
Gambaran Histologi
Kelenjar Pankreas
Akibat Pemberian Infus
Daging Buah Pare (Momordica
charantia L.) pada Tikus Putih
M. Wien Winarno, Dian Sundari
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian gambaran histologi kelenjar pankreas akibat pemberian
infus daging buah pare (Momordica charantia L.) pada tikus putih. Bahan uji
diberikan secara oral 1 kali sehari selama 30 hari dengan dosis 625 mg, 1250 mg, 2500
mg, 5000 mg/kg bb, dan sebagai pembanding digunakan akuades. Pengamatan me-
liputi bobot badan hewan, berat basah kelenjar pankreas, dan perubahan morfologi sel-
sel didalam pulau pulau Langerhans.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian infus buah pare pada semua dosis
tidak menunjukkan perbedaan nyata terhadap bobot badan dan berat kelenjar pankreas
(P>0.05). Gambaran jaringan eksokrin di sekitar pulau Langerhans dan morfologi sel-
sel di dalam pulau Langerhans terlihat normal. Sehingga dapat di-simpulkan
pemberian daging buah pare tidak merusak kelenjar pankreas.
PENDAHULUAN
Buah pare (Momordica charantia L.), selain dikenal
sebagai sayuran, juga digunakan sebagai obat tradisional untuk
mengobati batuk, cacingan, malaria, mual dan penambah nafsu
makan.
(1)
Di India digunakan sebagai anti diabetik, rematik,
penyakit hati, dan gangguan pada limpa
(2)
, Sedangkan di
Jepang digunakan sebagai obat pencahar, dan obat cacing
(3)
. Di
Indonesia, saat ini tanaman tersebut banyak juga digunakan
oleh masyarakat sebagai anti diabetik.
Daging buah mengandung momordisin, momordin, asam
trikosanat, asam resinat dan sterol. Ekstrak alkohol 99%
daging buah pare mengandung senyawa glikosida triterpen
kukurbitasin dan senyawa momordisasin. Beberapa hasil pe-
nelitian menyimpulkan perasan buah pare, dapat menurunkan
kadar gukosa darah
(2,3)
.
Sebagai obat untuk menurunkan kadar gula darah (anti
diabetik), tentunya penggunaannya dalam jangka waktu yang
lama dan gambaran histologi dari kenjar pankreasnya belum
diketahui. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian toksisitas
subkronik untuk melihat gambaran histopatogik dari kelenjar
pankreas.
Tujuan penelitian ini, untuk mengetahui apakah infus
daging buah pare dapat mengakibatkan kerusakan pada kelen-
jar pankreas.
Manfaat penelitian ini, diharapkan dapat memberikan
informasi ilmiah toksisitas subkronik infus daging buah pare
terhadap kelenjar pankreas.
BAHAN DAN CARA KERJA
a.
Bahan dan Alat penelitian
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003
14
background image
Bahan
-
40 ekor tikus putih galur Wistar jenis kelamin jantan
dengan bobot badan 180-200 gram.
-
buah pare
-
akuades
-
NaCl fisiologis
-
buffer formalin
-
pewarnaan HE
-
Alat
-
sonde lambung
-
gelas objek dan gelas tutup
-
mikroskop cahaya
-
timbangan analitik
b. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan
Acak Lengkap dengan 10 ulangan, untuk melihat toksisitas
subkronik pemberian infus daging buah pare terhadap kelenjar
pankreas.
c. Cara kerja
1. Pembuatan infus daging buah pare
Pengolahan bahan tanaman buah pare dengan cara di-
keringkan dengan sinar matahari dan dalam lemari pengering
dengan suhu kurang dari 50
°
C dari mendapatkan bobot kering
yang konstan. Bahan digiling dan diayak dengan menggunakan
ayakan Mesh 48, serbuk daging buah pare dibuat infus sesuai
Farmakope Indonesia
(4)
.
2. Penelitian toksisitas subkronik kelenjar pankreas.
Empat puluh ekor tikus putih jantan bobot badan 180-200
Gram diaklitimasi, dan diobservasi untuk melihat kondisi
hewan. Kemudian dibagi menjadi 5 kelompok, masing-masing
kelompok terdiri dari 10 ekor sebagai berikut :
-
Kelompok infus buah pare dosis 625 mg/kg bobot badan.
-
Kelompok infus buah pare dosis 1250 mg/kg bobot badan.
-
Kelompok infus buah pare dosis 2500 mg/kg bobot badan.
-
Kelompok infus buah pare dosis 5000 mg/kg bobot badan.
-
Kelompok kontrol (menggunakan akuades).
Bahan obat diberikan secara oral dengan lama pemberian
selama 30 hari (WHO, 1993). Pada hari ke-31 hewan dimati-
kan, didekapitasi dan diambil kelenjar pankreasnya. Kelenjar
difiksasi dengan larutan buffer formalin 10%, kemudian dibuat
sediaan histologi dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE).
Parameter yang diamati :
-
Bobot badan hewan
-
Berat basah kelenjar pankreas.
-
Gambaran histopatologik kelenjar pankreas (5)
HASIL
1. Pengaruh infus buah pare terhadap bobot badan
Untuk mengetahui pengaruh pemberian infus daging buah
pare terhadap bobot badan tikus putih setelah pemberian 30
hari dilakukan dengan cara mengurangi bobot akhir dengan
bobot awal, sehingga didapatkan pertambahan bobot badan
(Gambar 1).
32
32.62
28.87
27.62
38.37
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
1
2
3
4
5
Dosis
Pe
rtambahan berat
Keterangan :
Dosis 1 = 625 mg/kg bb.; Dosis 2 = 1250 mg/kg bb
Dosis 3 = 2500 mg/kg bb.; Dosis 4 = 5000 mg/kg bb. dan D5 = Akuades.
Gambar 1. Rata-rata pertambahan bobot badan (dalam gram)
Rata-rata pertambahan bobot badan, terlihat perbedaan
antara kelompok perlakuan dibanding dengan kelompok
kontrol (Gambar 1). Pertambahan bobot terbesar terjadi pada
pemberian akuades, diikuti pemberian dosis 1250 mg, 625 mg
1250 mg dan 5000 mg/kg bb. Tetapi Setelah dilakukan uji
statistik menggunakan anova tidak terlihat adanya perbedaan
yang nyata antara kelompok perlakuan. (P>0.05) (Tabel 1).
Tabel 1. Analisa varian satu arah
F-tabel
Sumber
keseragaman
df JK KT
F-hit
5%
1%
Perlakuan k-1
Galat k (n-1)
Total
4
35
39
559,1
2284,5
2843,6
139,77
65,75
2,14 2,64
3,83
Keterangan : F tabel > F hitung
Tabel 2. Rata-rata berat kelenjar pankreas (dalam mg)
Ulangan
Dosis
625 mg/kg
bobot badan
Dosis
1250 mg/ kg
bobot badan
Dosis
2500 mg/kg
bobot badan
Dosis
5000 mg/ kg
bobot badan
Akuades
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
53
62
62
74
74
44
107
55
79
77
75
64
85
75
68
66
38
68
73
54
36
43
96
46
85
80
66
63
72
70
60
56
44
117
55
31
69
75
45
54
Rata-
rata
66,37
a
73,62
a
56,75
a
69,00
a
61.25
a
Keterangan : huruf yang sama, pada kolom yang berbeda tidak berbeda nyata
(P>0,05).
2. Pengaruh infus buah pare terhadap berat kelenjar
pankreas.
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003 15
background image
Untuk mengetahui pengaruh pemberian infus daging buah
pare terhadap berat kelenjar prostat tikus putih setelah pem-
berian 30 hari dilakukan penimbangan organ tersebut.
Rata-rata berat kelenjar pankreas, terlihat perbedaan berat
antara kelompok perlakuan dibanding dengan kelompok kontro
(Tabel 2) memperlihatkan dosis 2500 mg/kg berat kelenjar
lebih ringan diikuti dosis akuades,625 mg, 5000 mg, dan 1250
mg/kg bb.
Setelah dilakukan uji statistik menggunakan anova tidak
terlihat adanya perbedaan yang nyata antara kelompok per-
lakuan. (P>0.05) (Tabel 3).
Tabel 3. Analisa varian satu arah
F-tabel
Sumber
keseragaman
df JK KT
F-hit
5%
1%
Pelakuan k-1
Galat k (n-1)
Total
4
35
39
1388,5
11602,5
12991,6
347,1
331,50
1.04 2,64
3,83
Keterangan : F tabel > F hitung
3. Pengaruh infus buah pare terhadap histopatologi
kelenjar pankreas.
Pengaruh pemberian infus daging buah pare terhadap sel
kelenjar pakreas tikus putih setelah pemberian 30 hari, dilaku-
kan pengamatan terhadap jaringan eksokrin disekitar pulau
Langerhans dan morfologi sel-sel yang terdapat didalam pulau
Langerhans terutama sel
.
Hasil pengamatan memperlihatkan pada semua bahan yang
diuji terutama pemberian dosis 5000 mg/kg bb. jaringan
eksokrin disekitar pulau Langerhans nampak normal. Demiki-
an juga Sel-sel didalam pulau Langerhans tidak terlihat meng-
alami perubahan (normal). Sel-sel yang terlihat baik bentuk dan
ukuran lebih kurang sama. Inti bundar dan vesikuler dengan
sitoplasma terlihat proporsional teradap besar inti (Gambar).
Sel-sel didalam pulau Langerhans terutama sel
dengan
pewarnaan HE tidak dapat dibedakan dengan sel yang lain,
hanya dapat dibedakan dari letaknya yaitu ditengah-tengah
pulau Langerhans.
PEMBAHASAN
Pengaruh infus buah pare sampai dengan pemberian 5000
mg/kg bb tidak berpengaruh terhadap bobot badan. Hal tersebut
menunjukkan bahwa bahan uji tidak toksik dan mem-pengaruhi
organ tubuh, sehingga tidak mempengaruhi meta-bolisme
tubuh. Penelitian tersebut sesuai dengan penelitian yang
dilakukan Wahjoedi B. (1987), menyatakan bahwa pem-berian
infus buah pare dosis 2000 mg/kg bb. yang diberikan selama 3
bulan tidak mempengaruhi organ dalam hewan per-cobaan.
Memang hasil percobaan belum dapat diterapkan pada
manusia, tetapi paling tidak dengan percobaan ini dapat dilihat
atau ditemukan indikasi kearah akibat negatif.
Pengaruh terhadap berat kelenjar pankreas sampai dengan
pemberian dosis terbesar 5000 mg/kg bb. tidak berpengaruh
atau tidak menyebabkan membesar atau mengecilnya kelenjar
tersebut. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa pemberian infus
daging buah pare sampai dengan dosis 5000 mg/kg bb. tidak
menyebabkan efek toksik terutama terhadap kelenjar pankreas.
Pulau Langerhans di kelenjar pankreas merupakan kum-
pulan sel ovoid yang tersebar diseluruh pankreas. Di dalam
pulau tersebut terdapat beberapa jenis sel berdasarkan sifat
pewarnaan dan morfologinya. Ada lebih kurang 4 jenis sel
yaitu. Sel
, , , dan sel f. Sel jumlahnya terbanyak di dalam
kelenjar pankreas hampir 60-75%. Sel
merupakan sumber
insulin. Insulin bekerja pada keadaan atau kadar glukosa yang
tinggi dan sifatnya menurunkan kadar glukosa yang tinggi
menjadi normal. Kelainan fungsi sel-sel
dapat menyebabkan
penyakit Diabetes melitus. Hiperplasia atau adanya neoplasia
dari sel
dapat mengakibatkan sindroma hiperinsulinisme
yang ditandai dengan adanya hipogli-kemia
(8,9)
.
Gambaran histologi dari kelenjar pankreas akibat pemberi-
an infus daging buah pare, sel-sel didalam pulau Langerhans
tidak terlihat mengalami perubahan (normal). Sel-sel
didalam
pulau Langerhans dengan teknik pewarnaan Hematoksilin
Eosin (HE) sulit dibedakan dengan sel-sel yag lain. Junquira,
LC dan J Carneiro (1992), mengatakan untuk melihat sel-sel
sebaiknya menggunakan teknik pewarnaan victoria-blue.
Dengan pewarnaan tersebut sitoplasma mem-punyai granula
yang seragam berwarna biru, sedang untuk sel-sel
sito-
plasmanya terlihat granula bula yang yang tidak seragam
berwarna kemerahan .
KESIMPULAN
Pada pemberian infus daging buah pare (Momordica
charantia L.) dosis 625 mg,1250 mg, 2500 mg dan 5000 mg/kg
bobot badan, jaringan eksokrin di sekitar pulau Langerhans dan
morfologi sel-sel di dalam pulau Langerhans tidak mengalami
perubahan; sehingga dapat disimpulkan bah-wa pemberian
daging buah pare tidak toksik terhadap kelenjar pankreas.
KEPUSTAKAAN
1.
Mardisiswojo Sudarman, Harsono Rajakmangunsudarso. Cabe Puyang
Warisan nenek Moyang 2. Balai Pustaka Jakarta, 1987.
2.
Dixit VP, Khana P, Bhargava SK. Effect of Momordica charantia L.
Fruit Extract on the Testiscular function of Dog. J.Med. Plants Res.
1978; 34: 280.
3.
Okabe H. et al. Studies on the Constituents of Momordica charantia L.
Isolation and Characterization of Momordicaside A and B, Clycosides of
a Pentahydroxy Cucurbitane Triterpen. Chem. Pharm. Bull. 1980; 28:
2753.
4.
Departemen Kesehatan RI. Farmakope Indonesia II, 1984.
5.
Arthur W. Ham, David HC. Histology. Eighth Edition. JB Lippincote
Company USA, 1979.
6.
WHO. Research Guidelines for Evaluating The Safety and Efficacy of
Herbal Medicines. WHO Regional Office for the Western Pacific Manila,
1993.
7.
Wahjoedi B. dkk. Toksisitas sub kronik buah pare (Momordica charantia
L.) pada tikus putih. Buletin Penelitian Kesehatan 1987 Vol. 15 No. 2:
51-5.
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003
16
background image
8.
WF Ganong. Buku ajar Fisiologi Kedokteran (terjemahan). Ed. 14.
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1992.
9.
Bowman WC, MJ Rand. Texbook of Pharmacology. Black-well
Scientific Publications, Oxford, London, Edinburg, Melbourne : 1980.
10.
Junquira LC, Carneiro J. Histologi Dasar. (Basic Histology). Edisi 3.
Diterjemahkan oleh Adjidarma. Penerbit EGC. Penerbit Buku
Kedokteran, Jakarta, 1992.
Keterangan :
PL = pulau Langerhans
D = duktus interlobularis
SA = sel asiner
K = kapiler darah
Gambar 2. Gambaran kelenjar pankreas tikus putih (pembesaran 100x)
dosis 5000 mg/kg bb.
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003 17