background image
PRAKTIS
Alergi Lateks
pada Pekerja Kesehatan
Teguh Harjono Karjadi
Subbagian Alergi-Imunologi Klinik, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Lateks adalah produk yang dibuat dari bahan karet. Karet
didapat dari getah pohon Hevea brasiliensis yang berasal dari
hutan Amazon di negara Brazil. Lateks merupakan bahan
utama beberapa produk seperti sarung tangan, kateter urin,
tensimeter, karet spuit, peralatan gigi, kondom, berbagai alat
rumah tangga,dan lain-lain.
Alergi terhadap bahan lateks dilaporkan pertama kali pada
tahun 1927 di Jerman berupa urtikaria akibat pemakaian dental
prosthesis. Pada tahun 1980 seiring dengan ditemukannya
AIDS dan penyakit infeksi virus lainnya, maka diperkenalkan
universal precaution, yang menyebabkan penggunaan sarung
tangan lateks meningkat pesat, dan disertai pula dengan pe-
ningkatan prevalensi alergi terhadap lateks.
1,2,3,4
Sebagai gambaran, kebutuhan sarung tangan lateks di
Amerika mencapai 20 miliar pasang selama 1999. Kebutuhan
yang demikian banyak dapat meningkatkan kemungkinan
sensitisasi/alergi lateks pada masyarakat terutama yang bekerja
di bidang kesehatan. Selama ini yang tersering adalah
dermatitis kontak; tetapi antara 1988-1992 di Amerika Serikat
tercatat
±1000 kasus reaksi sistemik (reaksi hipersensitivitas
tipe I / IgE) yang berhubungan dengan alergi lateks, 15 kasus di
antaranya fatal.
4,5
PREVALENSI
Telah banyak penelitian mengenai alergi lateks di luar
negeri, prevalensi sensitisasi lateks pada petugas/pekerja ke-
sehatan 6,9%-30%.
6-11
Di Indonesia telah dilakukan beberapa
penelitian sensitisasi pada pekerja produk lateks dengan pre-
valensi 3,13 ­ 6,3%.
12,13
Prevalensi sensitisasi pada masyarakat umum 0,8-6,4%,
tertinggi pada masyarakat yang sering kontak dengan lateks
seperti donor darah. Pada pasien yang sering mengalami ope-
rasi prevalensi sensitisasi 11,5%, pasien spina bifida prevalensi
mencapai 35-64,5%; pada pasien hemodialisis prevalensi sen-
sitisasi 14,6%.
1,14
Atopi merupakan faktor predisposisi terpenting terjadinya
sensitisasi lateks; pada suatu penelitian, 61% petugas kesehatan
yang positif terhadap sensitisasi lateks merupakan individu
atopi; demikian pula pada pasien spina bifida terlihat gambaran
yang hampir sama.
1,9,15
Penelitian oleh Sub Bagian Alergi-Imunologi Klinik
RSCM-FKUI pada 6 rumah sakit di Jakarta dengan metode
potong lintang (cross sectional), menggunakan kuesioner dan
tes prick atas 600 perawat dan 277 petugas administrasi men-
dapatkan :
1.
Sensitisasi pada 34 orang perawat (5,8%) dan 4 orang
petugas administrasi (1,4%).
2.
Klinis yang dihubungkan dengan paparan lateks pada
perawat :
a.
Rinitis 81 orang (14%)
b.
Dermatitis kontak 21 orang (3,6%)
c.
Urtikaria 47 orang (8,1%)
d.
Batuk-batuk 21 orang (3,6%)
e.
Konjungtivitis 27 orang (4,6%)
f.
Sesak 15 orang (2,5%)
3.
Atopi :
a. 196 (34%) perawat atopi, 21 orang (3,6%) di antaranya
dengan tes prick positif (+).
b. 381 (66%) perawat non atopi, 14 orang (2,3%) di antara-
nya dengan tes prick positif (+).
c. Bila kedua kelompok tersebut dibandingkan maka terdapat
perbedaan bermakna (p=0,008).
Antigen lateks
Getah karet alam (natural rubber latex) merupakan ga-
bungan partikel yang mengandung 35% cis 1,4 polysoprene
(karet), 55-60% air, 5-10% bahan lain (protein, karbohidrat,
resin, dan lain-lain) berasal dari pohon Hevea brasiliensis.
Protein yang terdapat dalam getah karet antara 1-1,8% ter-
gantung dari tempat tumbuh, spesies, tempat penyemaian, saat
Dibacakan pada acara Simposium Occupational Diseases & Allergy-Clinical
Immunology, Hotel Millennium Sirih, 22-23 Februari 2003.
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 11
background image
ini telah terdeteksi sebanyak ± 200 jenis; telah diketahui be-
berapa protein yang menyebabkan reaksi alergi (tabel 1).
1,16,17
Selain protein, getah karet mengandung lipid, karbohidrat,
kalium, magnesium, seng, mangan, tembaga, besi.
Sebagian besar protein alergen yang terdeteksi di dalam
karet alam juga terdeteksi pada produk barang jadi lateks,
kadang-kadang dalam keadaan terurai atau bergabung dengan
protein lain sewaktu pengolahan. Selain menambah alergen,
pemrosesan (klorinisasi, enzim pencernaan, pemanasan) juga
dapat mengurai protein alergen menjadi nonalergenik. Dalam
sarung tangan non-ammoniated didapat
± 240 polipeptida,
hanya 25% dari peptida tersebut yang bereaksi dengan IgE
pasien yang alergi terhadap lateks.
3,16
Table 1. Latex allergens and their characteristics
Allergen Subcellular
localization
Hev. b1
Large rubber particles
Hev. b2
Lutoids
Hev. b3
Small rubber particles
Hev. b4
Lutoids
Hev. b5
Cytoplasm
Hev. b01
Lutoids
Hev. b02
Lutoids
Hev. b03
Lutoids
Hev. b7
Cytoplasm
Hev. b8
Cytoplasm
Hev. b9
Cytoplasm
Hev. b10
Mitochondria
Antigen lateks pada sarung tangan dapat menyebabkan
reaksi alergi sistemik melalui paparan langsung pada kulit mau-
pun penyebaran melalui udara yang diperkirakan terbawa oleh
bedak/talk yang ada pada sarung tangan, menyebabkan rinitis,
asma bronkial, reaksi anafilaktik.
18,19,20
Getah karet diolah menjadi bahan baku lateks melalui
proses:
1)
Pengawetan di lapangan. Getah karet yang terkumpul
di-beri amoniak (proses ini menentukan kekuatan lateks).
2)
Penampungan di tangki, bertujuan untuk mendapatkan
lateks yang homogen.
3)
Pengendapan. Lateks diendapkan 24 jam agar terjadi
gumpalan (endapan) kompleks fosfor, amoniak dan magne-
sium. Proses ini bertujuan untuk meminimalkan magnesium
sehingga pada proses sentrifugasi tercapai stabilitas.
4)
Sentrifugasi. Untuk mendapatkan endapan karet
dengan kadar 61-63%.
5)
Homogenisasi. Cream karet yang didapat dari
sentrifugasi dicampur dalam tangki besar, terjadi
homogenisasi.
6)
Pengecekan ulang stabilizer dan penyimpanan.
Setelah proses ini bahan lateks akan diproses lebih lanjut men-
jadi barang jadi lateks.
1,16
PATOFISIOLOGI
Klinis alergi lateks terbanyak adalah reaksi hiper-
sensitivitas tipe I dan sebagian lagi tipe IV (disebabkan oleh zat
penambah dalam pemrosesan lateks menjadi bahan jadi).
Tipe I
Alergen/lateks masuk ke dalam tubuh akan ditangkap oleh
makrofag yang bertindak sebagai APC, setelah diproses maka
antigen akan dipresentasikan ke sel limfosit Th2 melalui ikatan
MHC klas II, selanjutnya sel T akan merangsang sel B untuk
membentuk IgE dan akan terikat pada sel mast, basofil,
eosinofil. Apabila terdapat paparan ulang maka antigen akan
diikat oleh IgE sehingga sel mast/basofil/eosinofil pecah me-
ngeluarkan mediator yang menyebabkan timbulnya keluhan
asma, rinokonjungtivitis, urtikaria, reaksi anafilaksis.
Tipe IV
Alergen lateks setelah kontak dengan kulit akan merusak
sel langerhans yang menyebabkan sel tersebut matang serta
berubah fungsi sebagai APC, akan membawa antigen lateks ke
kelenjar limfe untuk dipresentasikan ke sel ThI melalui ikatan
MHC klas II. Ikatan ini akan mengeluarkan berbagai sitokin
antara lain IL-2, IFN
, MAF/MIF yang menyebabkan :
1)
Sel T akan berproliferasi dan teraktivasi.
2)
Makrofag akan teraktivasi.
3)
Sel keratinosit dirangsang untuk mengekspresikan MHC II
dan ICAM -1.
Hal tersebut di atas menyebabkan terjadinya inflamasi di
kulit.
21,22
Sensitisasi dan jalan masuk alergen
Dari awal kontak dengan alergen lateks sampai timbulnya
gejala klinis diperkirakan membutuhkan waktu 3 bulan - 20
tahun. Kontak dengan alergen terjadi di mukosa (mulut, vagina,
uretra, rektum), dermis, parenteral yang kemudian menye-
babkan gejala klinis. Masuknya alergen melalui dermis dan
saluran napas, menyebabkan reaksi sistemik yang lebih ringan
daripada masuknya alergen melalui mukosa dan parenteral;
kematian akibat reaksi alergi sistemik yang disebabkan lateks
yang tercatat oleh FDA sebagian besar karena balon pada
pemeriksaan barium enema. Hubungan antara sensitisasi dan
HLA didapat pada HLAOR4 dan DQ8.
3,23,24,25
GEJALA KLINIS
Respon klinis alergi tipe I (cepat) terjadi setelah 15 menit
sampai 2 jam pasca paparan alergen, berbeda dengan alergi
obat yang memerlukan waktu beberapa menit setelah terpapar.
Klinis yang terjadi :
1.
Kutaneus
: pruritus, eritema, rash tak spesifik, urtika-
ria
2.
Mata
: konjungtivitis, angioedema
3.
Hidung :
rinitis
4.
Bronkus
: edema faring, bronkospasme, takipnoe
5.
Gastrointestinal : kram perut, mual, muntah, edema usus
(bowel).
6.
Kardiovaskular : takikardi, hipotensi, shock, kematian
Respon klinis alergi tipe IV (dermatitis kontak) terjadi 48 -
72 jam setelah alergen kontak dengan kulit. Kelainan kulit/
dermatitis akan menjadi kronis bila paparan kontak alergen
berlangsung lama dan berangsur-angsur hilang bila kontak
dihentikan. Reaksi hipersensitif ini disebabkan oleh bahan
kimia aditif dan akselerator (thiuram, karbamat, amines dan
benzotiazol) pada proses pembuatan sarung tangan.
Yang tersering menyebabkan reaksi alergi pada petugas
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004
12
background image
kesehatan adalah pemakaian sarung tangan dan barang karet
(seperti kateter, dll) saat melakukan tindakan dan pemeriksaan
kesehatan.
1,2,4,26
Reaksi silang
Alergi lateks mempunyai reaksi silang secara serologis dan
klinis dengan buah-buahan seperti advokat, pisang, kiwi,
pepaya, kentang, tomat.
Epitop antigen di karet yang bereaksi silang dengan buah-
buahan dapat dilihat dalam tabel 2.
1,16,27
DIAGNOSIS
Dimulai dengan anamnesis tentang paparan dan hubungan-
nya dengan klinis, lama kerja, frekuensi pemaparan, riwayat
pembedahan (riwayat reaksi alergi pada operasi sebelumnya),
riwayat alergi buah-buahan, riwayat penyakit alergi, keluarga
atopi.
Pemeriksaan fisik sesuai dengan klinis yang timbul.
Pemeriksaan tambahan patch test, skin test (prick test,
intradermal test), tes provokasi (menggunakan sarung tangan,
jari atau paparan inhalasi) atau IgE spesifik (RAST)
1,4,16
KESIMPULAN
1)
Alergi lateks akan lebih sering dijumpai di kalangan
pekerja kesehatan.
2)
Diagnosis alergi lateks ditegakkan dengan anamnesis,
pemeriksaan jasmani dan pemeriksaan tambahan (tes prick, tes
patch, IgE, dan lain-lain).
3)
Atopi, lama kerja, frekuensi kontak, merupakan faktor
predisposisi terjadinya alergi lateks.
4)
Pencegahan berupa penghindaran kontak dengan lateks
pada individu yang mempunyai riwayat alergi terhadap barang
lateks (balon, karet gelang, kondom, dan lain-lain) atau mem-
punyai riwayat alergi terhadap buah-buahan.
Table 2. Hevea proteins sharing epitopes with structural homologies
similar to protein from other sources
Allergen
Protein from Other Sources
Hev b 1
Papain (5 identical trimers and 2 identical tetramers)
Hev b 2
Endo-1,3
-glucanases (N. tabacum, tomato, potato)
Hev b 3
47% sequence homology with P.ev b 1
Hev b 5
Kiwi, bulkwheat and potato acidic proteins (e.g.
kiwi fruit pKIWI501 protein and potato stolon tip
protein)
Hev b 6.02
Wheat germ agglutinin, ragweed, lectins (barley,
rice), class I endochitinases (avocado, banana,
chestnut...) (PRP3 family)
Hev b 6.03
Pathogenesis-related proteins (win I, win 2 in
potato, CPB20 and PRP4 in tobacco; Gly m in
soybean, DRP Zea mays), metalloproteinase from
Bacillus subtilis
Hev b 7
Patatin (Solanaceae: potato (Sol t 1), tomato,
tobacco
Hev b (profilin)
Tree, grass and weed pollen, banana, etc.
Hev b 9
(Enolase)
Enolase of Ricinus communis (Euphorbiaceae) and
Cladosporium herbarum (Cla h 6), tomato
Hev b 10
(Mn-superoxide
dismutase)
MnSOD in Aspergillus fumigatus (Asp f 6)
Hevamine
(class III chitinase)
Chitinases/lysozymes (fig, papaya, avocado, banana,
cucumber)
Lysozyme Fig,
papaya
Triosephosphate
isomerase
Triosephosphate isomerase in spinach, tomato, rice
and Arabidosis thaliana
Diagram diagnosis tersangka alergi terhadap lateks:
Riwayat dan kriteria standar untuk lateks
Positif
Negatif
SPT/IgE spesifik (+)
Simtomatik
alergi lateks
SPT/IgE spesifik (-)
Dermatitis
SPT/IgE spesifik (+)
Klinis (-)
SPT /IgE spesifik (-)
Hindari lateks
Patch test
Tes provokasi
(menggunakan sarung
tangan, dll)
Penggunaan
lateks aman
Positif : identifikasi kontak alergi
Negatif : terapi sebagai iritan
dermatitis
Positif : hindari lateks
Negatif : pencegahan primer
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 13
background image
KEPUSTAKAAN
1.
Didier E. IgE-mediated allergy from natural rubber latex. Belgium: The
UCB Institute of Allergy, 2000.
2.
Slater JE.Allergy reactions to natural rubber. Ann Allerg 1992;68:203-11.
3.
Slater JE. Latex allergy. J Allerg Clin Immunol 1994;94: 139-49.
4.
Sussman GL, Beezhold DH. Allergy to latex rubber. Ann Intern Med.
1995; 122:43-6.
5.
Charous BL, Blanco C, Tarlo S et al. Natural rubber latex allergy after 12
years: Recommendations and perspectives. J Allerg Clin Immunol 2002;
109: 31-4.
6.
Garabrant DH, Schweitzer S. Epidemiology of latex sensitization and
allergies in health care workers. J Allerg Clin Immunol 2002;110:S82-95.
7.
Kibby T, Akl M. Prevalence of latex sensitization in a hospital employee
population. An Allerg Asthma & Immunol 1997; 78: 41-4.
8.
Tarlo SM, Sussman GL, Holness DL. Latex sensitivity in dental students
and staff: a cross-sectional study. J Allerg Clin Immunol 1997; 99: 396-
401.
9.
Douglas R, Czarny D, Morton J, O'Hehir RE. Prevalence of IgE-
mediated allergy to latex in hospital nursing staff. Aust NZ J Med
1997;27:165-9.
10.
Vandenplas O, Delwiche JP, Evrard G et al. Prevalence of occupational
asthma due to latex among hospital personnel. Am J Respir Crit Care
Med 1995;151:54-60.
11.
Yassin MS, Lierl MB, Fischer TJ, O'Brien K, Cross J, Steinmetz C.
Latex allergy in hospital employees. Ann Allerg 1994; 72: 245-9.
12.
Ariestina HRA. Reaksi sensitisasi alergen lateks pada Kelompok
Terpajan dan Tidak Terpajan serta Faktor-Faktor yang Berhubungan
(Disertasi). FKUI, Jakarta 2002.
13.
Baratawidjaja KG, Sukmana N, Baratawidjaja IR, Darwis A, Jusuf L,
Hendrata AP. A Study of latex hypersensitivity among latex glove factory
workers. 5
th
West-Pacific Allergy Symposium. 7
th
Korea Japan Joint
Allergy Symposium 1997. June 11-14;215-20.
14.
Bernardini R, November E, Lombardi E, Mezzetti P, Cianferoni A, Danti
AD et al. Prevalence of and risk factors for latex sensitization in patients
with spina bifida. J. Urol. 1998; 160: 1775-8.
15.
Liss GM, Sussman GL, Deal K, Brown S, Cividino M, et al. Latex
allergy: Epidemiological study of 1351 hospital workers. Occup Environ
Med 1997; 54(S): 335-42.
16.
Kurup VP, Fink JN. The Spectrum of immunologic sensitization in latex
allergy. In: Johansson SGO ed. Eur J Allerg and Clin Immunol 2001; 56:
1-12.
17.
Jaeger D, Kleinhans D, Czuppon AB, Baur X. Latex-specific protein
causing immediate-type cutaneus, nasal, bronchial, and systemic
reactions. J Allerg Clin Immunol 1992;89:759-68.
18.
Tomazic VJ, Shampaine EL, Lamanna A, Withrow TJ, Adkinson NF,
Hamilton RG. Cornstarch powder on latex products is an allergen carrier.
J Allerg Clin Immunol 1994; 93: 751-8.
19.
Tarlo SM, Sussman G, Contala
20.
A, Swanson MC. Control of airborne latex by use of powder-free latex
glove. J Allerg Clin Immunol 1994; 93: 985-9.
21.
Beezhold D, Beck WC. Surgical glove powder bind latex antigens. Arch
Surg. 1992; 127: 1354-7.
22.
Roitt I, Brostoff I, Male D. Hypersensitivity type IV. In: Roitt (ed).
Immunology. 4
th
ed. London: Mosby; 1996. pp.25.1-25.12.
23.
Baratawidjaja KG. Bab VII:Reaksi hipersensitivitas. Dalam: Imunologi
Dasar. ed 3. Jakarta: Penerbit FKUI 1996, 76-97.
24.
Poley GE, Slater JE. Latex allergy. J Allerg Clin Immunol 2000; 105:
1054-62.
25.
Nguyen DH, Burns MW, Shapiro GG, Mayo ME, Murrey M, Mitchell
ME. Intra operative cardiovascular collapse secondary to latex allergy. J
Urol 1991; 146: 571-4.
26.
Ownby DR, Tomlanovich M, Sammons N, McCullough J. Anaphylaxis
associated with latex allergy during barium enema examinations. AJR
1991; 156: 903-8.
27.
Hesse A, Hintzerstern JV, Peters KP, Koch HU, Hornstein OP. Allergic
and irritant reactions to rubber gloves in medical health services. J Am
Acad Dermatol 1991; 25: 831-9.
28.
Blanco C, Carrillo T, Castillo R, Quiralte J, Cuevas M. Latex allergy :
clinical features and crossreactivity with fruits.
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004
14