419
| AGUSTUS 2010
PENDAHULUAN
Polip nasi merupakan masalah me-
dis dan masalah sosial karena dapat
mempengaruhi kualitas hidup pende-
rita baik sekolah, kerja, aktivitas harian
dan kenyamanan. Polip nasi merupa-
kan mukosa yang mengalami infl amasi
dan menimbulkan prolaps mukosa di
dalam rongga hidung; dapat dilihat
melalui pemeriksaan rinoskopi de-
ngan atau tanpa bantuan endoskop.
Prevalensi penderita polip nasi be-
lum diketahui pasti karena hanya
sedikit laporan hasil studi epidemiolo-
gi serta tergantung pada pemilih-
an populasi penelitian dan metoda
diagnostik yang digunakan. Di Ame-
rika Serikat diperkirakan prevalensi
penderita polip nasi antara 1-4 % se-
dangkan di Eropa dilaporkan sekitar
1-2 % pada dewasa. Pada anak-anak
sangat jarang ditemukan dan dilapor-
kan hanya sekitar 0,1%.
1-6
Di Indonesia, Sardjono Soejak dan Sri
Herawati (dikutip dari Nurmusa, 1980)
melaporkan penderita polip nasi se-
besar 4.63% dari semua pengunjung
poliklinik THT RS.Dr.Sutomo Surabaya.
Rasio pria dan wanita 2-4 : 1.
Keluhan dan gejala utama yang me-
nonjol dari polip nasi adalah obstruksi
nasi, sehingga sering gejala- gejala
lain terabaikan (overlooked); salah
satu di antaranya adalah gangguan
telinga berupa gangguan fungsi ven-
tilasi dan drainase telinga tengah; pa-
dahal dampaknya berupa rasa tidak
nyaman dapat mengganggu quality of
life penderitanya. Gangguan ini akan
memerlukan penanganan khusus se-
perti parasentesis dan pemasangan
ventilation tube (Grommet / Shepard).
Keluhan akibat gangguan fungsi venti-
lasi dan drainase telinga tengah dapat
dideteksi dengan beberapa pemerik-
saan antara lain Audiometri Nada
Murni (PTA) dan Timpanometri.
Hasil pemeriksaan timpanome-
tri (Audiometri Impedans) menggam-
barkan fungsi ventilasi dan drainase
telinga tengah serta mobilitas mem-
bran timpani. Akibat sumbatan di tuba
Eustachius, tekanan udara dalam tel-
inga tengah akan menurun/berkurang
dibandingkan dengan tekanan udara
luar, sehingga didapatkan hasil timpa-
nogram tipe C. Jika ada cairan efusi
dalam rongga telinga tengah akan
menghasilkan timpanogram tipe B.
Gangguan fungsi ventilasi dan drai-
nase telinga tengah pada penderita
HASIL
PENELITIAN
Hubungan antara Stadium Polip Nasi dengan
Fungsi Ventilasi dan Drainase Telinga Tengah
berdasarkan Gambaran Timpanogram
Iin Fatimah Hanis, Sutji Pratiwi Raharjo,
R. Boy Arfandy, Nani.I.Djufri
Bagian / SMF Ilmu Kesehatan THT-KL, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin /
RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.
ABSTRAK
Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara stadium polip nasi terhadap fungsi telinga tengah berdasarkan peme-
riksaan timpanometri menggunakan Audiometri Impedans tipe AA222.
Subyek dan kerja : Penelitian cross sectional dengan 43 sampel pada 26 pasien polip nasi dari berbagai stadia
yang berobat di RS.Dr.Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Dilakukan prosedur pemeriksaan rinoskopi anterior dan atau
rinoskopi posterior serta nasoendoskopi untuk menetapkan stadium polip nasi, dilanjutkan pemeriksaan audiometri
impedans untuk melihat berbagai tipe timpanogram.
Hasil : Terdapat hubungan tidak bermakna antara stadium polip nasi dengan gambaran timpanogram (p>0.05), ada
hubungan tidak bermakna antara stadium polip nasi dengan fungsi ventilasi dan drainase telinga tengah dan secara
berurutan pada uji asosiasi linier (p>0,05)
Simpulan : Walaupun terdapat hubungan yang tidak bermakna antara stadium polip nasi dengan fungsi telinga tengah,
komplikasi ini tidak boleh diabaikan.
Kata kunci : Polip nasi, Fungsi Ventilasi dan Drainase telinga tengah, Timpanometri.
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 419
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 419
7/23/2010 10:33:04 PM
7/23/2010 10:33:04 PM
421
| AGUSTUS 2010
polip nasi serta gambaran timpano-
gramnya telah dilaporkan oleh P.J.
Hadfi eld, dkk (1999 ), dari 211 pen-
derita kistik fi brosis didapatkan 37%
polip nasi; 193 penderita di antaranya
menjalani pemeriksaan timpanometri,
dan ditemukan otitis media efusi pada
7 penderita ( 3,6 % ).
7
Tujuan Penelitian:
Umum : untuk mengetahui dampak
stadium polip nasi terhadap gang-
guan fungsi ventilasi dan drainase tel-
inga tengah berdasarkan gambaran
timpanogram.
Khusus : untuk mengevaluasi gambar-
an tipe timpanogram pada berbagai
stadium polip nasi serta untuk menge-
tahui besaran dampak stadium po-
lip nasi terhadap fungsi ventilasi dan
drainase telinga tengah berdasar-
kan gambaran timpanogram.
Bahan dan Cara Kerja
Rancangan penelitian ini adalah cross
sectional study; populasi adalah se-
mua penderita polip nasi yang bero-
bat ke RS Dr. Wahidin Sudirohusodo.
Kriteria penerimaan : Penderita polip
nasi (termasuk polip nasi residif), pen-
derita polip nasi dengan atau tanpa
rinitis alergi (alergi ringan-sedang se-
suai kriteria ARIA-WHO 2001), berse-
dia ikut dalam penelitian, membran
timpani utuh dan berusia minimal 15
tahun.
Kriteria penolakan : penderita infek-
si saluran nafas atas dalam 2 minggu
sebelumnya, penderita yang secara
klinis menderita alergi berat menurut
kriteria ARIA-WHO 2001, penderita
hipertrofi adenoid/ adenoid persisten,
penderita tumor sinonasal, karsinoma
nasofaring, deviasi septi yang berat.
Pada semua sampel penelitian dilaku-
kan anamnesis, pemeriksaan otoskopi
serta pemeriksaan fi sis THT lainnya.
Pemeriksaan otoskopi dilakukan untuk
mencari adanya serumen yang dapat
mengganggu hasil pemeriksaan, un-
tuk menentukan ukuran dan bentuk
ujung probe ( probe tip ) yang akan
digunakan serta untuk menilai ada
tidaknya perforasi atau ruptur mem-
bran timpani.
Persiapan. Sebelum timpanometri
dilakukan anamnesis dan pemerik-
saan otoskopi serta pemeriksaan fi sis
THT lainnya. Pemeriksaan rinoskopi
anterior / rinoskopi posterior dan na-
sofaringoendoskopi terlebih dahulu
dilakukan untuk menetapkan stadium
polip nasi saat pengambilan sampel
penelitian.
Teknik Pemeriksaan
Probe dipasangi tip yang sesuai, ke-
mudian dimasukkan ke liang telinga
sedemikian rupa sampai liang telinga
tertutup rapat. Selanjutnya pada alat
timpanometer ditekan tanda yang
bertulis timpanometri, jika pada
probe terlihat lampu hijau menanda-
kan tidak ada kebocoran; gambaran
timpanogram akan terlihat di layar
(monitor ).
HASIL DAN DISKUSI
Didapat 43 sampel dari 26 penderita
polip nasi yang datang ke poliklinik
RS.Wahidin Sudirohusodo dalam ku-
run waktu 4 bulan ( Juli sampai Okto-
ber 2006 ); terbanyak di kelompok
umur 20-29 tahun (32,7%), dengan
rerata umur adalah 34,39 tahun (tabel
1).
Manifestasi polip nasi biasanya sete-
lah usia 20 tahun. Pada penelitian ini
sampel dibatasi pada usia 15 tahun
ke atas untuk menyingkirkan kemung-
kinan hipertrofi adenoid; selain itu
fungsi ventilasi tuba Eustachius pada
anakanak kurang efektif dibanding-
kan orang dewasa. Tuba Eustachius
anak-anak lebih pendek dan lebih
lebar serta posisinya lebih horizontal
dibanding orang dewasa sehingga
infeksi saluran nafas berulang dan
pembesaran adenoid akan memu-
dahkan infeksi telinga tengah pada
anak-anak. Adanya hipertrofi adenoid
persisten disingkirkan dengan pemer-
iksaan nasofaringoendoskopi.
Tabel 1. Distribusi menurut kelompok umur
Kelompok Umur (tahun) Frekuensi
%
10-19
9
20.9
20-29
14
32.7
30-39
6
14.0
40-49
3
6.9
50-59
4
9.2
60-69
7
16.3
Total
43
100
Grafi k 1. Distribusi menurut kelompok umur
Distribusi menurut stadium polip
nasi
Tabel 2. Distribusi menurut stadium polip nasi
Stadium Polip Nasi
Frekuensi
%
Stadium 1
2
4.6
Stadium 2
7
16.3
Stadium 3
34
79.1
Total
43
100
Grafi k 2. Distribusi menurut stadium polip nasi
Dari 43 sampel, stadium 3 paling ba-
nyak ditemukan (79.1%) (Tabel 2). Hal
ini mungkin karena meningkatnya sta-
dium polip nasi menyebabkan keluhan
obstruksi makin berat; dan mendorong
penderita berobat. Stadium 1 jarang
ditemukan karena sering diabaikan,
dianggap hanya penyakit rinitis akut
yang akan sembuh sendiri. Di kepusta-
kaan, peneliti tidak mendapatkan data
prevalensi masing-masing stadium
polip nasi.
0
5
10
15
Kelom pok Um ur
2
7
34
0
5
10
15
20
25
30
35
40
Frekuensi
Stadium 1
Stadium 2
Stadium 3
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 421
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 421
7/23/2010 10:33:04 PM
7/23/2010 10:33:04 PM
422
| AGUSTUS 2010
Distrubusi menurut stadium polip
nasi dan tipe timpanogram
Tabel 3 menunjukkan pola tipe tim-
panogram pada penderita polip nasi.
Tipe timpanogram A didapatkan pada
29 sampel (67.7%), tipe timpanogram
As pada 3 sampel (6.9%), tipe timpa-
nogram Ad pada 2 sampel (4.6%), tipe
timpanogram B pada 3 sampel (6.9%)
dan tipe timpanogram C pada 6 sam-
pel (14.0%) .
Pola ini menunjukkan bahwa dari 43
sampel yang diteliti, 34 sampel (79.1%)
dengan fungsi ventilasi dan drainase
telinga tengah normal (tipe timpano-
gram A, As dan Ad), 9 sampel (20.9%)
dengan gangguan fungsi ventilasi te-
linga tengah ( tipe timpanogram B
dan C ), 3 sampel (6.9%) dengan gang-
guan fungsi drainase telinga tengah (
tipe timpanogram B ).
Didapatkan hubungan yang tidak ber-
makna antara stadium polip nasi dan
fungsi ventilasi telinga tengah (p>0,05).
Pada uji asosiasi linier (Linear-by-linear
Association) ditemukan hubungan
tidak bermakna antara stadium polip
nasi dan tipe timpanogram (p>0,05)
Polip nasi dengan fungsi ventilasi teli-
nga tengah normal didapatkan pada
34 sampel (79.1%) (Tabel 4), Pada
seluruh sampel polip nasi stadium 1
(2 - 4.6%) didapatkan fungsi ventilasi
telinga tengah normal. Pada 7 pen-
derita polip nasi stadium 2 hanya 1
sampel yang terganggu fungsi venti-
lasi telinga tengahnya. Penderita po-
lip nasi stadium 3, 34 orang (79.1%),
8 di antaranya mengalami gangguan
fungsi ventilasi telinga tengah, den-
gan perbedaan yang cukup tinggi ( >
10% ). Artinya ada trend linear, makin
tinggi stadium polip nasi, makin besar
kemungkinan mengalami gangguan
fungsi ventilasi telinga tengah; tetapi
pada asosiasi linier (Linear-by-linear
Association) ditemukan hubungan
tidak bermakna antara stadium polip
nasi dan fungsi ventilasi telinga tengah
(p>0,05) ; hal ini mungkin karena tidak
memperhitungkan sumber dan lokasi
polip, bisa berasal dari sinus ethmoid
2
0 0 0 0
6
0 0 1 0
21
3 2 2
6
0
5
10
15
20
25
jumlah
1
2
3
Stadium Polip Nasi
Tipe A
Tipe As
Tipe Ad
Tipe B
Tipe C
2
0
6
1
26
8
0
5
10
15
20
25
30
Jumlah
1
2
3
Stadium Polip Nasi
Fungsi Ventilasi Telinga tengah Normal
Fungsi Ventilasi Telinga tengah Abnormal
Gra k 3. Distribusi menurut stadium polip nasi dan tipe timpanogram
Tabel 3. Distribusi menurut stadium polip nasi dan tipe timpanogram
Stadium
Polip
Nasi
Tipe Timpanogram
Tipe A
Tipe As
Tipe Ad
Tipe B
Tipe C
n
%
n
%
n
%
n
%
n
%
Tabel 4. Distribusi menurut stadium polip nasi dan fungsi ventilasi telinga tengah
Stadium Polip
Nasi
Fungsi Ventilasi TelingaTengah
Total
Normal
(-100 daPa s/d +100 daPa)
Abnormal
(< -100 daPa )
n
%
n
%
n
%
1
2
4.6
0
0
2
4.6
2
6
14.0
1
2.3
7
16.3
3
26
60.5
8
18.6
34
79.1
Gra k 4. Distribusi menurut stadium polip nasi dan fungsi ventilasi telinga tengah
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 422
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 422
7/26/2010 5:31:17 PM
7/26/2010 5:31:17 PM
423
| AGUSTUS 2010
atau dari sinus maksillaris yang meluas
ke koana. Gangguan fungsi ventilasi
telinga tengah pada sampel mungkin
disebabkan polip nasi yang meluas ke
arah nasofaring dan menyumbat lang-
sung ostium tuba Eustachius. Alasan
lain, karena selama penelitian hanya
dilakukan satu kali pengamatan.
Distribusi menurut stadium polip
nasi dan fungsi ventilasi telinga
tengah.
Tabel 5 menunjukkan 40 ( 93.1%) pen-
derita polip nasi dengan fungsi draina-
se telinga tengah normal dan 3 (6.9%)
penderita dengan fungsi drainase te-
linga tengah abnormal, 2 pada sam-
pel polip nasi stadium 3 dibanding
1 pada sampel polip nasi stadium 2.
Perubahan ini tidak sejalan dengan
gangguan fungsi ventilasi telinga
tengahnya. Ini menunjukkan bahwa
yang terganggu lebih dahulu adalah
fungsi ventilasi baru kemudian fungsi
drainase telinga tengah.
Adanya trend linear seharusnya dii-
kuti hubungan linier, tetapi pada aso-
siasi linier (Linear-by-linear Associa-
tion) terdapat hubungan yang tidak
bermakna antara stadium polip nasi
dan fungsi drainase telinga tengah
(p>0,05).
2. Mackay IS, Naclerio RM. Guidelines for the
management of Nasal Polyposis, In : Mygind
N, Lidholdt T(eds.) Nasal Polyposis, An Infl am-
matory disease and its treatment. Copenha-
gen : Munksgaard,1997 : 177-80
3.
Drakee-Lee A B, Nasal Polyps, In : Kerr AG (ed).
Rhinology, Scott-Brown's Otolaryngology,6th
ed,Vol.4,Oxford : Reed Educational and Pro-
fessional Publ. Ltd,1997,4/10/1-6
4.
Van der Baan B. Epidemiology and Natural His-
tory, In : Mygind N, Lidholdt T eds, Nasal Poly-
posis, An Infl ammatory disease and its treat-
ment, Copenhagen, Munksgraad, 1997 : 13-6
5. Archer S M. Nasal Polyps, Non Surgical Treat-
ment. . accessed 2002: 1-11
6. Vento S. Nasal Polypoid Rhinosinusitis- Clinical
Course and Etiological Investigations, Depart-
ment of Otorhinolaryngology- Head and Neck
Surgery, University of Helsinki, Finland, Haart-
maninkatu 4E, Helsinki, On May 4
th
, 2001,13-33.
7. Hadfi eld P J. Prevalence of nasal polyps in
adults with cystic fi brosis, In Clinical Otolaryn-
gology, Blackwell Science Ltd 2000,25 : 19-22
8. Meek RB, Middle Ear, Eustachian Tube, Infl a-
mation/Infection,ed. Goldsmith AJ, accessed
March 22,2006
9. Kuppersmith RB. Eustachian Tube Function
and Dysfunction, Baylor College of Medicine.
www// Wikipedia.com,accessed July 11,1996.
10. Bess FH. Tympanometry in Just Second. ac-
cessed July 13, 2006
11. Snow JB, Ballenger JJ. Tympanometry, Diag-
nostic Audiology and hearing aid. In: Otorhi-
nolaryngology Head and Neck Surgery, 15th
ed. Ballenger JJ (ed.) Williams & Wilkins, Lon-
don 1996 :957
12. R.Sedjawidada. Bahan-bahan yang perlu dibi-
carakan dalam lokakarya Audiologi. Himpu-
nan Naskah Lokakarya Audiologi, Ujung Pan-
dang, Bagian THT FIIK UNHAS, 1978 :3
13. Mappangara B. Impedance Audiometry. Him-
punan Naskah Lokakarya Audiologi, Ujung
Pandang, Bagian THT FIIK UNHAS,1978 :59-85
14. Margaretha. Nilai Audiometri Impedans pada
Evaluasi Gangguan Fungsi Pendengaran,
Karya Akhir dalam Penyelesaian Pendidikan
Spesialis I, THT,1986
15. Operation Manual. The AA222 Tympanometer
and Audiometer, Audio Traveller AA222, Valid
from serial no. 128998 and software version
1.09116, 65416-vers 05/2005
16. Nur Musa M. Lokasi Pangkal Pertumbuhan Po-
lip Hidung dan Sinus. Paranasalis pada orang
dewasa.Karya Akhir dalam penyelesaian Pen-
didikan Dokter Spesialis I THT-KL 1993
0
1
2
2
6
32
0
10
20
30
40
Jumlah
1
2
3
Stadium Polip Nasi
Fungsi Drainase
Normal
Fungsi Drainase
Abnormal
Tabel 5. Distribusi menurut stadium polip nasi dan fungsi drainase telinga tengah
Stadium
Polip Nasi
Fungsi Drainase Telinga Tengah
Total
Normal
(0.2 -2.5 ml)
Abnormal
(<0.2ml atau >2.5 ml)
n
%
n
%
n
%
Grafi k 5. Distribusi menurut
stadium polip nasi dan fungsi
drainase telinga tengah
SIMPULAN
a. Didapatkan pola distribusi tipe
timpanogram pada penderita po-
lip nasi .
b. Didapatkan hubungan tidak ber-
makna antara stadium polip nasi
dengan tipe timpanogram, fungsi
ventilasi dan drainase telinga
tengah.
SARAN
1. Walaupun hubungan antara sta-
dium polip nasi dengan fungsi
ventilasi, fungsi drainase dan tipe
timpanogram telinga tengah tidak
bermakna, dampak polip nasi ter-
hadap telinga tengah tidak dapat
diabaikan.
2. Agar hasil penelitian ini dapat
menjadi data awal hubungan
antara polip nasi dengan fungsi
ventilasi, fungsi drainase dan tipe
timpanogram, diperlukan peneli-
tian lanjutan menggunakan sam-
pel yang lebih besar, penelitian
eksperimental pada binatang atau
penelitian dengan melihat sumber
polip pada manusia.
KEPUSTAKAAN
1. Arfandy RB. Pola penanganan polip hidung.
Simposium Penanganan Alergi dan Polip Hi-
dung, Makassar : Perhati-KL Cabang Sulselra
2001 : 1-7
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 423
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 423
7/23/2010 10:33:06 PM
7/23/2010 10:33:06 PM