254
| MEI - JUNI 2010
PENDAHUlUAN
Kanker merupakan proses yang me-
libatkan banyak faktor baik faktor ge-
netik maupun faktor lingkungan yang
multi-kompleks. Perubahan dari sel
normal menjadi sel kanker (proses
transformasi) diakibatkan oleh peruba-
han struktur/mutasi DNA, ekspresi/
transkripsi mRNA, dan fungsi protein
yang melibatkan beberapa gen. Gen
gen pencetus kanker sebagai faktor
penting yang mengatur kondisi dalam
tubuh secara internal mulai dipelajari
mendalam. Kanker dapat dipicu oleh
ekspresi onkogen (gen pendukung
transformasi sel normal menjadi sel
kanker), atau tidak aktifnya gen yang
berperan sebagai penghalang atau
penekan pertumbuhan kanker (tu-
mor suppressor genes), serta kelainan
pada gen yang berperan pada perbai-
kan DNA (DNA repair genes)
(1, 2)
.
METIlASI DNA DAN EKSPRESI GEN
Sejumlah penelitian mulai mempela-
jari bahwa aktivasi dan inaktivasi gen
yang berperan dalam kanker, salah sa-
tunya akibat proses metilasi DNA pada
gen tersebut. Metilasi sebagai proses
epigenetik tidak mengubah sekuens
DNA bila dibandingkan dengan mu-
tasi yang menyebabkan terjadinya pe-
rubahan struktur DNA. Metilasi meru-
pakan salah satu modifikasi pada DNA
dengan cara penambahan gugus metil
pada posisi ke -5 dari basa sitosin oleh
enzim DNA metiltransferase (DNMTs)
dengan menggunakan donor dari S-
adenosil M-metionin (SAM)
(1)
. Proses
ini umumnya terjadi pada Sitosin (C)
dari CpG dinukleotida di daerah CpG
island. CpG nukleotida adalah untaian
pendek DNA yang banyak mengand-
ung basa sitosin (C) dan basa guanin
(G). Bila persentase CpG dinukleotida
lebih dari atau sama dengan 55 %
maka disebut sebagai CpG island.
Metilasi pada CpG island terjadi se-
lama fase embrionik dan akan dikon-
trol secara teliti setelah memasuki fase
pertumbuhan
(3)
.
Ada kalanya, metilasi DNA juga ikut
berperan dalam mutasi di suatu untaian
DNA. Proses deaminasi menyebabkan
sitosin berubah menjadi urasil (C U).
Perubahan atau mutasi pada DNA ini
dapat diperbaiki oleh agen perbaikan
DNA. Pada kasus metilasi DNA, sitosin
termetilasi (me5C) akan berubah men-
jadi timin (me5C T) dengan adanya
deaminasi. Mesin mesin untuk per-
baikan DNA tidak dapat mengenali
timin sehingga secara tidak langsung
mutasi yang terjadi pada sekuen DNA
tersebut tidak dapat diperbaiki
(1)
.
Hambatan ekspresi gen akan terjadi
bila metilasi terjadi di bagian promo-
tor gen tersebut. Metilasi yang ter-
jadi di daerah selain promotor tidak
akan menghentikan transkripsi gen
walaupun di daerah tersebut banyak
mengandung CpG Island. Inaktivasi
juga tidak terjadi secara langsung
akibat metilasi melainkan karena
adanya penempelan sejumlah protein
di bagian promotor gen tersebut
(4, 5)
.
Pada sel yang normal, sebagian besar
daerah di sekitar CpG islands dimeti-
lasi sedangkan bagian CpG islands di
bagian promotor gen tidak dimetilasi
sehingga memungkinkan proses tran-
skripsi tetap berjalan. Pada sel kanker
terjadi hal yang sebaliknya, CpG is-
lands pada promotor gen dimetilasi
sehingga terjadi inaktivasi gen
(1)
.
Peranan Hipermetilasi DNA pada Kanker
Putri Y. Suyanto, Ahmad R. Utomo, Ferry Sandra
Cancer Division, Stem Cell and Cancer Institute,
Kalbe Pharmaceutical Company, Jakarta, Indonesia
ABSTRAK
Studi berkelanjutan mengenai sejumlah gen yang diduga menjadi inaktif pada kanker membawa pemahaman baru
tentang konsep hipermetilasi yang terjadi pada promotor tumor suppressor genes seperti cyclin dependent kinase
inhibitor 2A (CDKN2A), E-cadherin (CDH1), human mismatch repair gene (MLH1), dan retinoblastoma1 (Rb1). Meti-
lasi merupakan salah satu proses epigenetik yang memungkinkan terjadinya perubahan ekspresi gen tanpa merubah
sekuens DNA sehingga DNA termetilasi dapat digunakan sebagai penanda kondisi dan tahap dari kanker dengan
gabungan pemeriksaan menggunakan teknik IHC. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa hipermetilasi pada promo-
tor tumor suppressor genes berkorelasi dengan aggresivitas dan buruknya prognosis dari sejumlah kanker. Sejumlah
senyawa kimia agen demetilasi yang bekerja sebagai analogi nukleosida seperti 5-Azacytidine, 5-aza-2'-deoxycytidine,
dan Zebularin terbukti mampu menghambat enzim DNMTs dan mengaktivasi kembali gen gen yang inaktif karena
hipermetilasi pada kanker.
Kata-kata kunci : hipermetilasi, kanker, inaktivasi, tumor suppressor gene
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_177 mei ok.indd 254
4/26/2010 10:53:45 AM
255
| MEI - JUNI 2010
Hipermetilasi promotor DNA dan
Inaktivasi Tumor Suppressor Genes
pada Kanker
Metilasi DNA pada tumor suppres-
sor genes di sel normal dapat me-
nyebabkan transformasi sel ke arah
sifat malignant karena hilangnya sifat
alami untuk kontrol pertumbuhan. Se-
jumlah penelitian menunjukkan bahwa
peningkatan mRNA dan biosintesis
protein DNMT1 dan DNMT3B pada
sejumlah tipe kanker berkorelasi de-
ngan hipermetilasi CpG Island yang
berlokasi pada bagian promotor dari
beberapa tumor suppressor genes
seperti cyclin dependent kinase inhibi-
tor 2A (CDKN2A), E-cadherin (CDH1),
human mismatch repair gene (MLH1),
dan retinoblastoma1 (Rb1)
(6)
. Over-
ekspresi DNMT1 dan DNMT3B pada
kanker payudara di manusia berkore-
lasi dengan peningkatan aggresivitas
dari kanker payudara
(7)
. Mekanisme
inaktivasi tumor suppressor genes
yang dikenal dengan Knudson's two-
hit hypothesis menyatakan bahwa
tidak berfungsinya tumor suppressor
genes membutuhkan (1) first hit de-
ngan hilangnya fungsi gen tersebut
di salah satu kopi kromosom melalui
mutasi yang diturunkan (hereditary,
or germline mutation), (2) second hit
dengan hilangnya daerah kromosom
di sel somatik yang mengandung kopi
yang lain dari gen tersebut (Loss of
Heterozygosity or LOH)
(1, 3)
. Dengan
ditemukannya proses metilasi di tu-
mor suppressor gene, maka metilasi
pun bisa menjadi faktor second hit.
Dengan demikian, syarat Knudson Hy-
pothesis terpenuhi dalam menginak-
tivasi gen tersebut, ketika salah satu
dari kopi kromosom sudah termutasi
atau sudah mengalami LOH.
Ada dua dugaan mekanisme peng-
hambatan transkripsi melalui metilasi
pada promotor DNA
(1, 7)
. Mekanisme
pertama menyatakan bahwa metilasi
DNA menghambat secara langsung
melalui pengikatan faktor transkripsi
seperti AP-2, c-Myc, E2F dan NFkB
pada binding site dalam sekuen pro-
motor. Pada mekanisme ini, CpG Is-
land berada di dalam sekuen promo-
tor. Mekanisme represi yang kedua
menyatakan terjadi pengikatan pro-
tein spesifik untuk metilasi DNA pada
m
5
CpG dinukleotida. Metilasi DNA
membutuhkan protein m
5
CpG-binding
(MeCP) dan m
5
CpG-binding domain
(MBD) yang akan menempel pada
DNA termetilasi dan akan mencegah
terjadinya transkripsi
(7)
.
Sejumlah penelitian menunjukkan
bahwa hipermetilasi dan inaktivasi
transkripsi ditemukan pada 33 % kasus
kanker payudara, 60 % kanker prostat,
23 % sel karsinoma dari ginjal, dan 92
% cell line dari kanker kolon
(8)
. Gen
gen yang mengalami hipermetilasi
pada sejumlah kasus kanker dapat di-
lihat pada tabel 1.
(6, 9, 10)
.
Hipermetilasi DNA dan Deteksi
Kanker
Besarnya peranan metilasi pada proses
gene silencing dari tumor suppressor
genes di berbagai kasus kanker mem-
bawa pada suatu pemikiran, bahwa
terjadinya metilasi bisa digunakan un-
tuk mendeteksi kanker. Metilasi DNA
terjadi pada tahap awal dari pemben-
tukan kanker dan terlihat di berbagai
macam jaringan tumor. Metilasi DNA
sendiri digolongkan stabil secara
kimia dan relatif mudah didapat seba-
gai penanda kanker
(1)
. Sumber metilasi
DNA dapat diperoleh dari serum yang
mengandung banyak DNA di samp-
ing dari hasil biopsi jaringan tumor.
Sejumlah sampel biologi yang men-
gandung DNA tumor seperti darah,
cairan tubuh, semen, urin, dan tinja
dari pasien dapat digunakan sebagai
sampel untuk analisis
(6)
.
Analisis yang dilakukan untuk kanker
prostat, menunjukkan bahwa hiperme-
tilasi 4 panel gen, GSTP1, RAR
, TIG1,
APC ditemukan berkorelasi 100% den-
gan kanker tersebut. Gabungan anali-
sis 4 panel gen di atas dengan anali-
sis histologi memberikan ketepatan
97% untuk deteksi kasus adenocarci-
noma prostat jika dibandingkan den-
gan analisis histologi saja yang hanya
memberikan ketepatan 64%
(6, 11)
.
Metilasi DNA yang diambil dari sekret
vagina dapat digunakan untuk deteksi
kanker endometrium
(6)
. Deteksi 3 gen,
DAPK1, RAR
, TWIST1 dari sampel
cervical neoplasia memberikan spesi-
fisitas hingga 95% bergantung pada
tahapan tumornya (74% untuk kanker
invasif, dan 52% untuk cervical intra-
ephitelial neoplasia dan carcinoma in
situ
(6, 12)
.
Hipermetilasi dapat dijumpai pada ta-
hap awal kasus kanker payudara tetapi
tidak dijumpai pada tahap kanker
payudara jinak dan pada payudara nor-
mal. Gen DAPK, APC, dan RASSF1A
ditemukan pada 94 % kasus tumor
payudara dan 76 % berkorelasi dengan
sampel dari DNA serum
(6, 13, 14)
.
Kasus hipermetilasi berhubungan da-
lam prognosis beberapa penyakit mi-
salnya metilasi E-cadherin berhubun-
gan dengan disease free survival (DFS)
kanker lambung dan carcinoma lidah
nodul positif
(6, 15)
. Protein E-cadherin
berperan dalam perlekatan sel epitel,
hipermetilasi gen ini memacu pada
pembentukan tumor dan resiko me-
tastasis. Hipermetilasi gen ATM yang
berperan untuk perbaikan DNA ber-
korelasi dengan peningkatan radio-
sensitivitas pada cell line tumor col-
orectal
(6)
.
AGEN DEMETIlASI DNA
Inhibitor metilasi DNA dapat digo-
longkan menjadi tiga golongan be-
sar berdasarkan mekanisme kerjanya
untuk menghambat enzim DNMT
yaitu analogi nukleosida, analogi non
nukleosida, dan antisense oligonuk-
leosida. Analogi nukleosida misalnya
5-Azacytidine, 5-aza-2'-deoxycytidine,
dan Zebularin, sedangkan analogi non
nukleosida seperti Procainamine dan
Procain
(16)
. Golongan analogi nukleo-
sida lebih dulu dikembangkan sehing-
ga lebih banyak diteliti dibandingkan
dengan golongan analogi non nukle-
osida. Mekanisme kerja secara detail
golongan analogi non nukleosida be-
lum banyak diketahui pasti
(17)
.
Agen demetilasi 5-Azacytidine dan
5-aza-2'-deoxycytidine dalam dosis
rendah tidak menghambat prolif-
erasi sel tetapi mampu menghambat
DNMT. 5-Azacytidine dan 5-aza-2-
'-deoxycytidine telah disetujui peng-
gunaannya oleh FDA untuk pengo-
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_177 mei ok.indd 255
4/26/2010 10:53:47 AM
257
| MEI - JUNI 2010
Tabel 1. Gen gen yang umumnya termetilasi pada kanker di manusia dan peranannya dalam pembentukan tumor
(6, 9, 10)
.
Gen
Peranan dalam Pembentukan Tumor
Jenis Tumor
APC
Proliferasi sel, migrasi sel, reorganisasi sitoskeletal, stabilitas kromosom
yang tidak terkontrol
Payudara
Paru - paru
Esophageal
BRCA1
Gangguan perbaikan DNA dan aktivasi transkripsi
Payudara
Ovarium
CDKN2A/p16
Menghambat proliferasi sel
Gastrointestinal
Kepala dan leher
Non-Hodgkin lymphoma
Paru - paru
DAPK1
Menghambat apoptosis
Paru - paru
E-cadherin
Meningkatkan proliferasi, invasi dan metastasis
Payudara
Tiroid
Lambung
ER
Resistensi untuk estrogen
Payudara
Prostat
GSTP1
Hilangnya kemampuan detoksifikasi metabolit dari bahan - bahan
karsinogen
Prostat
Payudara
Renal
hMLH1
Gangguan perbaikan DNA dan mutasi gen
Kolon
Lambung
Endometrium
Ovarium
MGMT
Gangguan perbaikan DNA dan resistensi obat
Paru - paru
Otak
p15
Proliferasi sel yang tidak terkendali
Leukemia
Lymphoma
Sel karsinoma squamosa paru - paru
RASSF1A
Hilangnya regulator negatif untuk kontrol proliferasi sel melalui fase G1-S
Paru - paru
Ovarium
Ginjal
Nasofaring
Rb
Kegagalan menghambat transkripsi gen - gen untuk replikasi DNA dan
pembelahan sel
Retinoblastoma
VHL
Gangguan stabilitas RNA melalui degradasi RNA yang berikatan protein
Renal
Keterangan: APC, adenomatous polyposis coli; BRCA1, breast cancer 1; CDKN2A/p16, cyclin dependent kinase 2A; DAPK1, death associated protein kinase 1; ER,
estrogen receptor; GSTP1, glutathione S-transferase P1; hMLH1, Mut L homologue 1; MGMT, O-6 methylguanine-DNA methyltransferase; RASSF1A, Ras association
domain family member 1; Rb,retinoblastoma; VHL, von Hippel-Lindau.
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_177 mei ok.indd 257
4/26/2010 10:55:02 AM
258
| MEI - JUNI 2010
serta hanya mempengaruhi rata-rata
6 macam gen dari 13.300 gen yang
terdemetilasi dibandingkan pada sel
fibroblast normal
(20)
.
DAFTAR PUSTAKA
1. Herman J, Baylin S. Gene silencing in cancer in
association with promoter hypermethylation.
N Engl J Med 2003;.349: 2042-2054.
2. Baylin S. DNA methylation and gene silencing
in cancer. Nat Clin Pract Oncol., 2005; 2: S4-
11,
3. Yang X, Yan L, Davidson N. DNA methylation
in breast cancer. Endocr Relat Cancer 2001; 8:
115-127,
4. Fiegl H, Millinger S, Goebel G, Muller-Holzner
E, Marth C, Laird PW, Widschwendter M.
Breast Cancer DNA Methylation Profiles in
Cancer Cells and Tumor Stroma: Association
with HER-2/neu Status in Primary Breast Can-
cer. Cancer Res. 2006; 66: 29-33,
5. Krueger KE, Srivastava S. Posttranslational
Protein Modifications: Current Implications for
Cancer Detection, Prevention, and Therapeu-
tics. Mol Cell Proteomics 2006;5: 1799-1810,
6. Paluszczak J, Baer-Dubowska W. Epigenetic
diagnostics of cancer--the application of DNA
methylation markers. J Appl Genet2006; 47:
365-375,
7. Luczak M, Jagodzinski P. The role of DNA
methylation in cancer development. Folia His-
tochem Cytobiol 2006; 44: 143-154,
8. Gilbert J, Gore S D, Herman JG, Carducci MA.
The Clinical Application of Targeting Cancer
through Histone Acetylation and Hypomethy-
lation. Clin Cancer Res 2004;10: 4589-4596.
9. Das PM, Singal R. DNA Methylation and Can-
cer. J Clin Oncol 2004; 22: 4632-4642,
10. Robertson K. DNA methylation, methyltrans-
ferases, and cancer. Oncogene 2001;20: 3139-
3155,
11. Tokumaru Y, Harden SV, Sun D.-I, Yamashita
K, Epstein JI, Sidransky D. Optimal Use of a
Panel of Methylation Markers with GSTP1 Hy-
permethylation in the Diagnosis of Prostate
Adenocarcinoma. Clin Cancer Res.2004;10:
5518-5522,
12. Feng Q, Balasubramanian A, Hawes SE, Toure
P, Sow PS, Dem A, Dembele B, Critchlow CW,
X, L, Lu H, McIntosh MW, Young AM, Kiviat
NB. Detection of Hypermethylated Genes in
Women with and Without Cervical Neoplasia.
J. Natl. Cancer Inst., 2005; 97: 273-282,
13. Dulaimi E, Hillinck J, de Caceres II, Al-Saleem
T, Cairns P. Tumor Suppressor Gene Promoter
Hypermethylation in Serum of Breast Cancer
Patients. Clin Cancer Res. 2004;10: 6189-6193
14. Hoque MO, Feng Q, Toure P, Dem A, Critch-
low CW, Hawes SE, Wood T, Jeronimo C,
Rosenbaum E, Stern J, Yu M, Trink B, Kiviat NB,
Sidransky D. Detection of Aberrant Methyla-
tion of Four Genes in Plasma DNA for the De-
tection of Breast Cancer. J Clin Oncol. 2006;24:
4262-4269,
15. Waki T, Tamura G, Tsuchiya T, Sato K, Nishi-
zuka S, Motoyama T. Promoter Methylation
Status of E-Cadherin, hMLH1, and p16 Genes
in Nonneoplastic Gastric Epithelia. Am J
Pathol.2002;161: 399-403.
16. Peedicayil J. Epigenetic therapy--a new devel-
opment in pharmacology. Indian J Med Res.,
2006;123: 17-24,
17. Issa J.-P. J. DNA Methylation as a Therapeu-
tic Target in Cancer. Clin Cancer Res. 2007;13:
1634-1637,
18. Dowell JE, Minna JD. Cancer Chemotherapy
Targeted at Reactivating the Expression of
Epigenetically Inactivated Genes. J Clin On-
col.2004; 22: 1353-1355,
19. Yoo CB, Cheng JC, Jones PA. Zebularine: a
new drug for epigenetic therapy. Biochem.
Soc. Trans.2004; 32: 910-912,
20. Cheng JC, Yoo CB, Weisenberger DJ, Chuang,
J, Wozniak C, Liang G, Marquez VE, Greer S.
Orntoft TF, Thykjaer T, Jones PA. Preferential
response of cancer cells to zebularine. Cancer
Cell 2004; 6: 151-158
batan neoplasma (myelodysplastic
syndrome). Limitasi dari analog nukle-
osida ini adalah memerlukan inkorpo-
rasi DNA dan sintesis DNA aktif, jadi
terbatas pada sel yang hipo-proliferasi
(termasuk yang berpotensial sebagai
cancer stem cell)
(17)
, tidak stabil dalam
bentuk larutan dan harus diberikan
secara parenteral atau subkutan, serta
berefek samping myelosupresi
(1)
, atau
menimbulkan efek hipometilasi pada
beberapa gen pertumbuhan
(18)
. Secara
in vitro obat di atas terbukti mampu
mengurangi aktivitas DNMT1, DN-
MT3A dan DNMT3B pada konsentrasi
mikromolar dan menginduksi deme-
tilasi dari CDKN2A, RB1, MLH1, dan
tumor suppressor gene lainnya pada
sel kanker. 5-Azacytidine akan difos-
forilasi oleh uridin-sitidin nukleotida
kinase menjadi 5-Azacytidine difosfat
yang dapat direduksi oleh ribonukle-
otida reduktase menjadi 5-aza-deoxy-
cytidine difosfat yang akan inkorporasi
dengan DNA. 5-aza-deoxycytidine
nukleosida dari DNA membentuk ika-
tan kovalen dengan DNMT sehingga
terjadi inaktivasi enzim ini. Perlakuan
5-aza-deoxycytidine pada HCT116 sel
kanker kolon manusia menunjukkan
adanya penurunan aktivitas DNMT1
sehingga menginduksi ekspresi MLH1
dan menyebabkan penghentian per-
tumbuhan sel
(7)
.
Zebularine merupakan alternatif ked-
ua setelah 5-Azacytidine dan 5-aza-
2'-deoxycytidine
(19)
. Obat ini relatif
lebih stabil dan memiliki waktu paruh
kurang lebih 44 jam pada 37°C di PBS
pada pH 1.0 dan kurang lebih 508 jam
pada pH 7.0 sehingga memungkinkan
untuk dibuat sediaan oral. Penelitian
menunjukkan pemberian obat ini se-
cara oral pada nude mice yang ditrans-
plan dengan sel tumor manusia dapat
menyebabkan demetilasi dan reakti-
vasi gen p16. Zebularine juga memi-
liki efek sitotoksik yang lebih rendah
baik secara
in vitro maupun in vivo.
Pemberian Zebularine sebagai terapi
lanjutan setelah 5-aza-deoxycytidine
dapat mencegah terjadinya remeti-
lasi DNA
(19)
. Perlakuan Zebularine in
vitro pada sel kanker T24, HCT-15,
CFPAC-1, SW48, dan HT-29 menunjuk-
kan adanya penurunan level DNMT,
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_177 mei ok.indd 258
4/26/2010 10:55:02 AM