180
| APRIL 2010
PENDAHULUAN
Diperkirakan 20 juta orang dewasa di
Amerika Serikat mengalami penyakit
ginjal kronik.
1
Data tahun 1995-1999
menunjukkan insidens PGK menca-
pai 100 kasus per juta penduduk per
tahun di Amerika Serikat. Prevalensi
PGK atau yang disebut juga Chronic
Kidney Disease (CKD) meningkat se-
tiap tahunnya. CDC (Centers for Dis-
ease Control) melaporkan bahwa da-
lam kurun waktu tahun 1999 hingga
2004, terdapat 16.8% dari populasi
penduduk usia di atas 20 tahun, men-
galami PGK. Persentase ini mening-
kat bila dibandingkan data pada 6
tahun sebelumnya, yakni 14.5%.
2
Di
negara-negara berkembang, insiden
ini diperkirakan sekitar 40 60 kasus
per juta penduduk per tahun.
3
Di In-
donesia, dari data di beberapa bagian
nefrologi, diperkirakan insidens PGK
berkisar 100-150 per 1 juta penduduk
dan prevalensi mencapai 200-250 ka-
sus per juta penduduk.
6
PGK termasuk masalah yang sangat
penting dalam bidang ilmu penyakit
dalam khususnya bagian ginjal hiper-
tensi (nefrologi). PGK yang tidak di-
tatalaksana dengan baik dapat mem-
buruk ke arah penyakit ginjal stadium
akhir atau dikenal sebagai ESRD (End
Stage Renal Disease). Stadium akhir ini
yang juga disebut sebagai gagal ginjal,
membutuhkan terapi pengganti ginjal
permanen berupa dialisis atau trans-
plantasi ginjal. Di seluruh dunia, terda-
pat sekitar satu juta orang penderita
PGK yang menjalani terapi pengganti
ginjal (dialisis atau transplantasi) pada
tahun 1996. Jumlah ini akan mening-
kat menjadi dua juta orang pada tahun
2010.
6
Laporan USRDS (The United
States Renal Data System) pada tahun
2007 menunjukkan adanya peningka-
tan populasi penderita dengan ESRD
di Amerika Serikat dibandingkan tahun-
tahun sebelumnya. Prevalensi pend-
erita ESRD pada tahun 2005 mencapai
1.569 orang per sejuta penduduk. Nilai
ini mencapai 1.5 kali prevalensi pend-
erita ESRD pada tahun 1995.
12
Penderita ESRD membutuhkan biaya
pengobatan yang besar di samping
berkurangnya atau bahkan hilangnya
produktivitas penderita.
5, 6
Oleh sebab
itu, deteksi dini PGK dan penatalak-
sanaan yang tepat terhadap PGK me-
megang posisi kunci agar tidak terjadi
perburukan. Tulisan berikut akan men-
gupas upaya-upaya yang dapat dilaku-
kan untuk memperlambat perburukan
PGK menjadi gagal ginjal.
DEFINISI PGK
Berdasarkan panduan National Kid-
ney Foundation dan kelompok kerja
Kidney Disease Outcome Quality Ini-
tiative (KDOQI), penyakit ginjal kronik
diartikan sebagai berikut:
1
1. Adanya kelainan ginjal berupa ke-
lainan struktural atau fungsional,
yang ditandai oleh kelainan pa-
tologi atau petanda kerusakan
ginjal secara laboratorik atau
kelainan pada pemeriksaan pen-
citraan (radiologi), dengan atau
tanpa penurunan fungsi ginjal
yang ditandai dengan penurunan
laju filtrasi glomerulus (LFG) yang
berlangsung > 3 bulan.
2. Adanya penurunan LFG < 60 ml/
menit per 1.73 m
2
luas permukaan
tubuh (LPT) selama > 3 bulan den-
gan atau tanpa kerusakan ginjal.
Usaha Memperlambat Perburukan
Penyakit Ginjal Kronik
ke Penyakit Ginjal Stadium Akhir
M. Adi Firmansyah
PPDS Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta
ABSTRAK
Penyakit ginjal kronik (PGK) dapat mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif. Bila tidak ditatalaksana
dengan baik, dapat terjadi penyakit ginjal stadium akhir atau end stage renal disease (ESRD). ESRD harus mendapat-
kan terapi pengganti ginjal permanen.
T
idak semua penderita PGK tahap awal akan mengalami perburukan menjadi
gagal ginjal. Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhinya dan intervensi dini terhadap faktor-faktor ini, dapat
memperlambat progresi PGK. Kontrol ketat glukosa darah, kontrol tekanan darah, pengobatan penyakit dasar, modi-
fikasi gaya hidup, penurunan proteinuria, pembatasan asupan protein, dan koreksi anemia adalah contoh upaya-
upaya yang dapat dilakukan untuk memperlambat progresifitas PGK.
Kata Kunci: penyakit ginjal kronik, penyakit ginjal stadium akhir, upaya perlambatan progresifitas.
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK Edisi 176 ok.indd 180
3/22/2010 4:44:04 PM
181
| APRIL 2010
Derajat PGK
NKF-KDOQI mengajukan pengelom-
pokan PGK ke dalam 5 stadia, dimulai
dari stadium 1 (paling ringan) hingga
stadium 5 (paling berat) berdasarkan
nilai laju filtrasi glomerulus (LFG) per
luas permukaan tubuh.
1,3,4
Perhitungan
nilai laju filtrasi glomerulus menggu-
nakan persamaan Cockcroft-Gault se-
bagai berikut:
ETIOLOGI
PGK memiliki etiologi yang bervariasi
dan tiap negara memiliki data etiologi
PGK yang berbeda-beda. Di Amerika
Serikat, diabetes melitus tipe 2 meru-
pakan penyebab terbesar ESRD.
3,7
Hipertensi menempati urutan kedua
(tabel 2). Di Indonesia, menurut data
Perhimpunan Nefrologi Indonesia
(2000), glomerulonefritis merupakan
46.39% penyebab gagal ginjal yang
menjalani hemodialisis. Sedangkan di-
abetes melitus, insidennya 18,65% dis-
usul obstruksi / infeksi ginjal (12.85%)
dan hipertensi (8.46%).
3
Tabel 1. Klasifikasi derajat penyakit ginjal kronik.
1
Derajat
Keterangan
Nilai LFG
(ml/menit/1.73 m
2
)
1
Kerusakan ginjal dengan LFG normal atau
> 90
2
Kerusakan ginjal dengan LFG ringan
60 89
3
Kerusakan ginjal dengan LFG sedang
30 - 59
4
Kerusakan ginjal dengan LFG berat
15 - 29
5
Gagal ginjal
< 15
LFG ml menit
m
usia tahun
Berat badan kg
Kreat
( /
/ .
) (
(
))
( )
1 73
140
2
=
-
×
iininserum mg dL
perempuan
(
/
)
. (
)
×
×
72
0 85
bagai faktor yang mempengaruhinya
dan intervensi dini terhadap faktor-
faktor ini dapat memperlambat pro-
gresi PGK ke arah gagal ginjal.
6
Perlambatan penurunan nilai LFG per
tahun dapat bermanfaat bagi pasien
(gambar 1). Perubahan nilai LFG tahu-
nan dari semula 5 mL/menit/1.73 m
2
menjadi 2 mL/menit/1.73 m
2
, secara
teori dapat memperpanjang kehidu-
pan hingga 30 tahun bebas dialisis
pada penderita PGK berusia 25 ta-
hun.
5
Oleh karena itu, intervensi untuk
mengubah penurunan nilai LFG per
tahun penting dilakukan.
Gambar 1. Kurva teori
yang menunjukkan
manfaat perubahan
penurunan nilai LFG per
tahun, diukur dalam ta-
hun tanpa dialisis, yang
dapat dicapai dengan
mengurangi secara ber-
tahap penurunan nilai
LFG. ESRD=end-stage
renal disease; LFG=laju
filtrasi glomerular.
5
Laju filtrasi glomerulus < 60 ml/menit
per 1.73 m
2
, sebanding dengan nilai
kreatinin serum > 1.5 mg% untuk laki-
laki dan > 1.3 mg% untuk perempuan.
6
Penderita dengan nilai kreatinin serum
> 2 mg/dL atau LFG < 50 ml/menit,
sebaiknya dirujuk ke dokter spesialis
penyakit dalam atau konsultan ginjal
hipertensi. Penderita dengan kondisi
seperti ini cenderung cepat menga-
lami penurunan fungsi ginjal, oleh kar-
ena itu pemeriksaan LFG dianjurkan
dilakukan setiap tiga bulan.
1
Sering penderita PGK dengan nilai
LFG 60% tidak merasakan apa-apa
(asimtomatik) meskipun kadar urea
dan kreatinin serum sudah meningkat.
Keluhan biasanya muncul saat nilai
LFG turun menjadi 30% berupa badan
lemah, penurunan nafsu makan dis-
ertai mual, nokturia, dan berat badan
menurun.
3
Bila LFG terus turun hingga
di bawah 30%, mulai muncul gejala
dan tanda uremi seperti anemi, teka-
nan darah meningkat, pruritus, mual
muntah, gangguan metabolisme P dan
Ca, gangguan keseimbangan air, dan
gangguan keseimbangan elektrolit
(Na dan K). Penderita PGK juga cend-
erung rentan mengalami infeksi.
3,8
Bila
LFG sudah di bawah 15%, penderita
harus mendapatkan terapi pengganti
ginjal permanen. Pilihan dapat berupa
dialisis (hemodialisis atau dialisis peri-
toneal) atau transplantasi ginjal.
1,3,4
Banyak studi menunjukkan pentingnya
deteksi dini dan tata laksana PGK yang
tepat untuk mengurangi progresifitas
ke arah gagal ginjal.
3,9
Tidak semua penderita PGK tahap
awal akan mengalami perburukan
menjadi gagal ginjal. Terdapat ber-
Tabel 2. Penyebab Utama Penyakit Ginjal Kronik di Amerika Serikat
3
Penyebab
Nilai LFG
(ml/menit/1.73 m
2
)
Diabetes melitus
- tipe I (7%)
- tipe II (37%)
Hipertensi dan penyakit pembuluh darah besar
Glomerulonefritis
Nefritis interstitialis
Kista dan penyakit bawaan lain
Penyakit sistemik (contoh lupus dan vaskulitis)
Neoplasma
Tidak diketahui
Penyakit lain
44%
27%
10%
4%
3%
2%
2%
4%
4%
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK Edisi 176 ok.indd 181
3/22/2010 4:44:07 PM
182
| APRIL 2010
PATOFISIOLOGI
Progresifitas Fungsi Ginjal
Penyebab utama perburukan fung-
si ginjal adalah adanya hiperfiltrasi
glomerulus. Penurunan jumlah nefron
(sebagai filter) dalam ginjal terjadi seir-
ing perjalanan penyakit ginjal kronik.
Nefron yang tersisa akan mengalami
adaptasi struktural dan fungsional.
Adaptasi ini menyebabkan perubahan
hemodinamik dan non-hemodinamik
yang akan menyebabkan glomerulo-
sklerosis. Kondisi akan merusak nefron
yang tersisa.
6,10
(gambar 2).
UPAYA MENCEGAH PERBURUKAN
Dengan memahami penyebab PGK
dan faktor-faktor yang mempengaruhi
perburukan fungsi ginjal, dapat diten-
tukan upaya-upaya pencegahan pro-
gresifitas gangguan fungsi ginjal.
Pengobatan penyakit yang men-
dasari
Beberapa penyebab PGK dapat dio-
bati atau dikontrol. Sebagai contoh,
masalah obstruksi saluran kemih dapat
diatasi dengan meniadakan obstruksin-
ya, nefropati karena diabetes dengan
mengontrol gula darah, dan hipertensi
dengan mengontrol tekanan darah.
Saat terbaik terapi penyakit dasar pe-
nyebab PGK adalah sebelum penu-
runan LFG < 60% sehingga tidak sam-
pai terjadi perburukan fungsi ginjal.
3,6,7
1. Modifikasi Gaya Hidup
Berhenti
merokok
adalah
hal
utama.
4,5,6,10
Merokok diketahui dapat
merusak ginjal.
4,5
antara lain melalui
hiperfiltrasi yang dapat merusak ne-
fron, peningkatan tekanan darah den-
gan hilangnya efek penurunan tekanan
darah nokturnal, peningkatan kadar
aldosteron plasma, dan meningkat-
nya agregrasi platelet.
5
Banyak studi
menunjukkan bahwa berhenti mer-
okok terbukti menurunkan progresi-
fitas PGK.
4,5
Selain berhenti merokok,
diet rendah garam (3-5 gram natrium
per hari), mengurangi konsumsi alko-
hol, gerak badan secara teratur dapat
dilakukan.
6
United Kingdom Prospective Diabe-
tes Study (UKPDS), membandingkan
kelompok pasien DM tipe 2 yang dit-
erapi konvensional (konseling diet)
dengan kelompok yang diterapi in-
tensif (menggunakan sulfonilurea atau
insulin). Pengamatan setelah 10 tahun,
mendapati bahwa kejadian mikroal-
buminuri dan proteinuri lebih sedikit
pada kelompok terapi intensif.
4,5,10
Tar-
get yang harus dicapai untuk pasien
DM tipe 1 atau 2, adalah kadar glu-
kosa darah puasa < 110 mg% dan ka-
dar HbA1C 7% 7.5%
5, 6
; ada yang
menganjurkan nilai HbA1C < 7%.
4,11
Pengendalian ini tetap harus mem-
perhatikan aspek keselamatan, karena
kontrol gula darah yang ketat sering
dikaitkan dengan peningkatan keja-
dian hipoglikemi.
5
3. Kontrol tekanan darah
Pengendalian tekanan darah yang
adekuat diketahui dapat memper-
lambat progresifitas penurunan fungsi
ginjal. Sesuai panduan KDOQI (2003),
target tekanan darah pasien penyakit
ginjal diabetes dan non-diabetes tan-
pa melihat ada tidaknya proteinuria,
adalah < 130/80 mmHg.
4,6,11
National
Kidney Foundation Task Force on
Cardiovascular Disease memberikan
panduan target tekanan darah dan
beragam terapi untuk beragam dera-
jat PGK (tabel 3). Pemilihan kombinasi
obat sebaiknya mempertimbangkan
komorbiditas seperti gagal jantung,
pasca infark miokard, DM atau stroke.
6
Penggunaan ACE inhibitor diketahui
Gambar 2. Patogenesis perburukan fungsi ginjal pada penyakit ginjal kronis.
3
2. Kontrol ketat glukosa darah
Diabetes melitus (DM) merupakan
penyebab utama PGK di Amerika Ser-
ikat. Prevalensinya kian meningkat dari
tahun ke tahun.
5
Kontrol ketat glukosa
darah pada penderita diabetes tipe I
terbukti mengurangi kejadian kerusa-
kan ginjal.
4,7
Penelitian lain oleh the
Tabel 3. Target tekanan darah dan Terapi Farmakologik/ Non-farmakologik
1,5
Populasi
Target tekanan
darah (mmHg)
Terapi non
farmakologik
Terapi farmakologik
Populasi umum
< 140/90
diet garam,
latihan
Penghambat reseptor
,
diuretik
PGK derajat 1 4,
dengan proteinuria atau
penyakit ginjal diabetik
< 125/75
diet garam
ACEi, ARB, atau CCB pada
resipien transplan ginjal
PGK derajat 1 4 tanpa
proteinuria
< 135/85
diet garam
ACEi, ARB, atau CCB pada
resipien transplan ginjal
PGK derajat 5
< 140/90
diet garam,
asupan cairan,
Ultrafiltrasi pada
pasien dialisis
Semua golongan, kecuali
diuretik pada pasien dialisis
ACEi = penghambat enzim pengkonversi angiotensin II; ARB = penghambat reseptor
angiotensin II; CCB = penyekat kanal kalsium; PGK=penyakit ginjal kronik
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK Edisi 176 ok.indd 182
3/22/2010 4:44:08 PM
183
| APRIL 2010
dapat memperlambat progresifitas
PGK; dapat menurunkan hingga 50%
peningkatan kadar kreatinin plasma,
kematian, dan ESRD.
5
4. Penurunan Proteinuria
Penderita PGK dengan mikroalbu-
minuria/ proteinuria meski tanpa hip-
ertensi, harus dikontrol dengan ACE
inhibitor atau ARB. Pemberian obat-
obatan ini harus diikuti dengan pen-
gawasan terhadap tekanan darah, ka-
dar kalium dan kreatinin.
4
Banyak studi
menunjukkan bahwa pemberian ACEi
atau ARB dapat menurunkan progresi-
fitas PGK.
6,10,11
Target penurunan pro-
teinuria diharapkan < 0.5 g/ hari.
11
5. Pembatasan Asupan Protein
Masalah ini masih kontroversial.
5
Mes-
ki sejumlah studi menunjukkan bahwa
pembatasan asupan protein terbukti
dapat memperlambat progresifitas
PGK
6
, hal ini berdampak menimbul-
kan masalah malnutrisi.
5
Malnutrisi
akan menurunkan tingkat daya tahan
hidup (survival) penderita PGK.
4
Asu-
pan protein yang dianjurkan untuk se-
mua pasien PGK adalah 0.8 g/kg bb./
hari, 0.35 0.50 g. di antaranya berupa
protein dengan nilai biologi tinggi.
3,4,6
Pembatasan asupan protein menjadi
0.6 g/kg bb. per hari bila LFG < 25 ml/
menit.
4
Pembatasan dilakukan pada LFG < 60
ml/menit; bila di atas nilai tersebut,
pembatasan asupan protein tidak se-
lalu dianjurkan.
3,4
Pembatasan asupan protein ini
berkaitan dengan pembatasan asu-
pan fosfat untuk mencegah hiperfos-
fatemi.
5
Kondisi hiperfosfatemi dapat
meningkatkan risiko kematian akibat
komplikasi kardiovaskular pada pend-
erita PGK dan ESRD. Oleh karenanya,
asupan fosfat per hari perlu dibatasi
hanya 800 hingga 1.000 mg.
4
6. Kontrol Kadar Lipid
Hubungan dislipidemi dengan PGK
belum sepenuhnya dipahami. Karena
kondisi dislipidemi berhubungan erat
dengan risiko penyakit kardiovaskuler,
maka pemberian obat untuk mengon-
DAFTAR PUSTAKA
1. K/DOQI. Clinical practice guidelines for chron-
ic kidney disease: evaluation, classification, and
stratification. Kidney Disease Outcome Quality
Initiative. Am J Kidney Dis 2004;45(Supp 1):1-
268.
2. Saydah SEE, Burrows NR, Williams DGL. Preva-
lence of chronic kidney disease and associated
risk factors--United States,1999-2004. JAMA
2007;297(16):1767-1768.
3. Suwitra K. Penyakit ginjal kronik. In: Sudoyo
AW, Setiyohadi B, Alwi I, K. MS, Setiati S, eds.
Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. 1 ed. Jakarta:
Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam FKUI; 2006. p. 570-3.
4. Pendse SS, Singh A. Approach to patients with
chronic kidney disease stages 1-4. In: Daugir-
das JT, Blake PG, Ing TS, eds. Handbook of Di-
alysis. 4 ed. Philadelphia: Lippincott Williams
& Wilkins; 2007. p. 3-13.
5. Formica RN. CKD series: delaying the progres-
sion of chronic kidney disease. Hospital Physi-
cian 2003;39(4):24-33.
6. Bakri S. Deteksi dini dan upaya-upaya pence-
gahan progresifitas penyakit ginjal kronik. Jur-
nal Medika Nusantara 2005;26(3):36-40.
7. Hostetter TH. Prevention of the development
and progression of renal disease. J Am Soc
Nephrol 2003;14(Supp):144-7.
8. Penyakit ginjal kronik. In: Rani AA, Soegondo
S, Nasir AUZ, Wijaya IP, Nafrialdi, Mansjoer A,
eds. Panduan pelayanan medik. Perhimpunan
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia.
Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FKUI; 2006. p. 157-9
9. Tomlinson J. How do we re-design the treat-
ment? Nephrol Dial Transplant 2007;22(Supp
9):39-44.
10. Fadem SZ. Slowing the progression of kidney
disease. [cited 2008 September 5]. Available
from URL: http://www.aakp.org/aakp-library/
Kidney-disease-progression/
11. Taal M. Slowing the progression of adult
chronic kidney disease: therapeutic advances.
Drugs 2004;64:2273 - 89.
12. USRDS. ESRD incidence and prevalence an-
nual report 2007. [cited 2008 September 5].
Avalaible from URL: http://www.usrds.org/adr.
htm .
13. Suhardjono. Anemia pada penyakit ginjal kro-
nik: antara target pengobatan optimal atau
Hb yang normal. Dalam: Mansjoer A, Setiati
S, Syam AF, Laksmi PW, eds. Naskah Lengkap
Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Penyakit Da-
lam 2008. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Pe-
nyakit Dalam FKUI; 2008. p. 138-44.
trol kadar lipid plasma perlu dilakukan.
Target penurunan kadar LDL adalah <
100 mg/dL (< 2.6 mmol/L).
4,5,6
7. Koreksi Anemia
Mortalitas PGK akan makin tinggi
apabila disertai anemia.
12
Anemia um-
umnya terjadi pada penderita PGK
derajat 3.
4
Pemberian Erythropoietin
Stimulating Agents (ESA) sebagai tata
laksana anemia terbukti dapat menu-
runkan progresifitas PGK.
4,12
Eritropoietin hendaknya mulai diberi-
kan pada kadar hemoglobin (Hb) < 10
g/dL dengan tujuan pemeliharaan Hb
pada kisaran 11 12 g/dL.
1,4
Penelitian
CHOIR (The Correction of Haemoglo-
bin and Outcomes in Renal Insufficien-
cy) mendapatkan dengan target Hb
sampai 13.5 g/dL kejadian komplikasi
kardiovaskular yang lebih banyak bila
dibandingkan dengan target Hb yang
lebih rendah.
13
Hasil sama juga didap-
atkan oleh Singh dkk, dengan target
Hb > 13 g/dL.
4
8. Hindari Obat Nefrotoksik
Penggunaan obat-obatan seperti anti
inflamasi non-steroid, antibiotik amin-
oglikosid, dan bahan kontras untuk
pemeriksaan radiologi, sebaiknya di-
hindari pada penderita PGK.
6,10
PENUTUP
Penanganan PGK yang baik akan
membantu mengurangi risiko gagal
ginjal.
Tatalaksana yang baik hendaknya
mampu melibatkan kerjasama antara
dokter umum sebagai penyedia pe-
layanan kesehatan primer, dengan
dokter spesialis penyakit dalam atau
sub-spesialis ginjal hipertensi. Pema-
haman yang baik akan penyakit ini oleh
para dokter umum, akan membuat
upaya-upaya penurunan progresifitas
PGK dilakukan lebih dini. Dengan de-
mikian, penderita PGK yang dirujuk ke
dokter spesialis/ sub-spesialis ketika
fase PGK derajat akhir (upaya pence-
gahan progresifitas tidak mungkin
lagi dilakukan) dapat berkurang atau
mungkin, tidak perlu lagi ada.
TINJAUAN
PUSTAKA
Tabel 3. Target tekanan darah dan Terapi Farmakologik/ Non-farmakologik
1,5
Populasi
Target tekanan
darah (mmHg)
Terapi non
farmakologik
Terapi farmakologik
Populasi umum
< 140/90
diet garam,
latihan
Penghambat reseptor
,
diuretik
PGK derajat 1 4,
dengan proteinuria atau
penyakit ginjal diabetik
< 125/75
diet garam
ACEi, ARB, atau CCB pada
resipien transplan ginjal
PGK derajat 1 4 tanpa
proteinuria
< 135/85
diet garam
ACEi, ARB, atau CCB pada
resipien transplan ginjal
PGK derajat 5
< 140/90
diet garam,
asupan cairan,
Ultrafiltrasi pada
pasien dialisis
Semua golongan, kecuali
diuretik pada pasien dialisis
ACEi = penghambat enzim pengkonversi angiotensin II; ARB = penghambat reseptor
angiotensin II; CCB = penyekat kanal kalsium; PGK=penyakit ginjal kronik
CDK Edisi 176 ok.indd 183
3/22/2010 4:44:08 PM