background image
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
493
HASIL PENELITIAN
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
HASIL PENELITIAN
Pemilihan waktu 6 bulan didasarkan pada penelitian Carpay, dkk
7
dan Arts, dkk
9
yang menyatakan bahwa tercapainya remisi 6
bulan dalam terapi obat anti epilepsi merupakan gambaran
remisi yang baik. Rancangan penelitian ini adalah kohort, sehingga
ukuran risiko yang digunakan adalah Risiko Relatif. Pada penelitian
ini ketepatan pengukuran akan ditunjukkan dengan nilai 95% CI
(interval kepercayaan). Nilai interval kepercayaan menggambar-
kan kemungkinan untuk memperoleh hasil tersebut pada popu-
lasi. Kehadiran faktor perancu pada penelitian ini akan dikendali-
kan dengan analisis multivariat
10
.
HASIL PENELITIAN
Karakteristik subyek penelitian
Hasil penelitian diperoleh dari 110 penderita epilepsi bangkitan
konvulsif dengan usia onset anak-anak dan dewasa muda (2 tahun
sampai dengan 25 tahun). Jumlah subyek laki-laki dan perempuan
hampir seimbang (42,7% vs. 57,3%). Sebagian besar subyek
memiliki bangkitan konvulsif umum (general) (80%) dibanding
hanya 20% dengan bangkitan parsial.
Epilepsi idiopatik didapatkan pada hampir 60% kasus. Bangkitan
epilepsi yang disertai dengan defisit neurologis dijumpai pada
15,5% kasus. Sebagian besar kasus memperlihatkan gambaran
EEG yang abnormal. Kurang lebih 2/3 subyek mendapatkan
terapi obat antiepilepsi setelah lebih dari 10 bangkitan konvulsif.
Tabel 1 memperlihatkan karakteristik dasar subyek penelitian.
Tabel 1. Karakteristik dasar subyek penelitian
Faktor prediktor remisi 6 bulan dalam terapi
Penderita epilepsi yang pernah mencapai remisi 6 bulan berturut-
turut dalam minimal 2 tahun terapi adalah 86 orang (78,2%).
Tabel 2 menunjukkan faktor prediktor tidak tercapainya remisi 6
bulan berturut-turut dalam terapi.
Tabel 2. Faktor prediktor tercapainya remisi 6 bulan berturut-turut
Tabel 2 menunjukkan bahwa faktor prediktor yang bermakna
untuk tercapainya remisi 6 bulan berturut-turut dengan terapi obat
antiepilepsi adalah tipe bangkitan, jumlah serangan sebelum terapi,
dan defisit neurologi.
Subyek dengan tipe bangkitan parsial kom- pleks memiliki kemung-
kinan yang lebih kecil untuk mencapai remisi dibanding dengan
subyek yang memiliki bangkitan general tonik klonik (RR: 0,56,
0,29-0,87, p<0,05).
Penderita epilepsi dengan bangkitan konvulsif yang tinggi dijumpai
pada 33,6%. Pasien dengan jumlah bangkitan yang tinggi
sebelum terapi rutin obat anti epilepsi memiliki probabilitas lebih
kecil untuk mencapai remisi 6 bulan berturut-turut dalam terapi
dibanding dengan subyek yang bangkitannya rendah (< 10 kali).
PENDAHULUAN
Epilepsi merupakan salah satu penyakit neurologis yang utama
1
.
Epilepsi dihubungkan dengan angka cedera yang tinggi, angka
kematian yang tinggi, stigma sosial yang buruk, ketakutan,
kecemasan, gangguan kognitif, dan gangguan psikiatrik
2
. Pada
tahun 2000, diperkirakan penderita epilepsi di seluruh dunia
berjumlah 50 juta orang, 37 juta orang di antaranya adalah
epilepsi primer, dan 80% tinggal di negara berkembang
1
.
Kronsep dasar utama prognosis epilepsi adalah kesempatan
untuk mencapai remisi serangan dan risiko kematian prematur
3
.
Beberapa konsep prognosis lain adalah : kualitas hidup, status
psikososial, fungsi neurologis, dan kemampuan mengikuti
pendidikan
4
.
Batasan remisi yang sering dipakai adalah 2 tahun bebas serangan
(kejang) dengan terapi. Pada pasien yang telah mengalami remisi
2 tahun harus dipertimbangkan untuk penurunan dosis dan
penghentian obat secara berkala
5,6
. Batasan lain yang banyak
pula dipakai untuk menggambarkan remisi adalah bebas serangan
(remisi terminal) minimal 6 bulan dalam terapi OAE7. Pada peneli-
tian ini remisi baik ditunjukkan dengan remisi terminal minimal 6
bulan dengan terapi rutin obat anti epilepsi.
Pengetahuan tentang prognosis akan sangat berguna untuk
pemberian informasi yang adekuat pada penderita epilepsi dan
keluarganya, serta membantu dalam pengambilan keputusan
medis. Data yang lengkap dan teliti tentang prognosis epilepsi
akan sangat penting untuk menentukan terapi yang rasional dan
pemberian penyuluhan dan nasihat yang tepat
3
.
TUJUAN PENELITIAN
Mengukur besar peran berbagai faktor prediktor prognosis untuk
tercapainya remisi dalam terapi. Masing-masing faktor prediktor
prognosis akan dihitung risiko relatif untuk tercapainya remisi
epilepsi.
METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini digunakan rancangan kohort historikal (histo-
rical prospective cohort). Pada rancangan kohort historikal, peneliti
akan melakukan pengamatan pada sekelompok kohort yang
telah didefinisikan di masa lampau
8
.
Sampel penelitian diambil dari populasi penderita epilepsi anak-
anak dengan bangkitan konvulsif dengan onset usia anak-anak
(2 tahun ­ 25 tahun) yang berobat ke poliklinik Neurologi Anak
RS Dr. Sardjito. Kriteria inklusi adalah : (1) penderita epilepsi onset
anak-anak (2 tahun-25 tahun), (2) tipe bangkitan konvulsif, (3)
didiagnosis epilepsi dan mulai mendapat terapi rutin obat antiepi-
lepsi minimal 2 tahun saat penelitian dimulai, (4) penderita epilepsi
mendapatkan pelayanan kesehatan di rumahsakit Dr. Sardjito
sejak pertama kali mendapat terapi definitif sampai dengan saat
penelitian dimulai, (5) didampingi oleh orang tua atau keluarga
terdekat pada saat kontrol, dan (6) catatan medik lengkap.
Sementara kriteria eksklusi penelitian adalah (1) menolak ikut
dalam penelitian, (2) penderita dan keluarga yang tidak yakin
akan data karakteristik sebelum terapi rutin obat anti epilepsi.
Pada penelitian ini outcome utama yang dinilai adalah ter-
capainya remisi terminal minimal 6 bulan dan 1 tahun dalam 2
tahun terapi.
Profil Remisi Epilepsi Onset Anak-anak
Rizaldy Pinzon
1
, Harsono
2
, Imam Rusdi
2
1.
SMF Saraf RS Bethesda, Yogyakarta
2
. Bagian Ilmu Penyakit Saraf, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
ABSTRAK
E
pilepsi merupakan penyakit neurologi utama masa anak-anak dengan berbagai permasalahannya. Pengetahuan
tentang prognosis epilepsi diperlukan untuk pemberian informasi dan penatalaksanaan yang lebih baik. Hasil
penelitian diperoleh dari 110 pasien epilepsi, terdiri dari 42,7% laki-laki, dan 57,3% perempuan. Remisi 6 bulan
dalam 2 tahun terapi dicapai oleh 86 pasien (78,2%). Faktor prediktor prognosis bermakna untuk tidak ter-
capainya remisi adalah tipe kejang parsial, jumlah bangkitan yang tinggi sebelum terapi, dan adanya defisit
neurologis penyerta. Remisi 12 bulan hanya dicapai oleh 48 pasien (43,6%). Faktor prediktor prognosis yang
bermakna untuk tidak tercapainya remisi adalah jumlah bangkitan yang tinggi, adanya defisit neurologis penyerta,
dan ketidaktaatan berobat.
494
No
Karakteristik
Jumlah
Persentase
1
Jenis kelamin
-
laki-laki
47
42,7%
-
perempuan
63
57,3%
2
Usia saat onset
- kurang dari 5 tahun
32
29,1%
- 5-12 tahun
38
34,5%
- lebih dari 12 tahun
40
36,4%
3
Tipe bangkitan konvulsif
-
general
88
80%
-
parsial
22
20%
4
- Epilepsi idiopatik
65
59,1%
- Epilepsi simptomatik
45
40,9%
5
Jumlah bangkitan sebelum terapi rutin
- kurang atau sama dengan 10
73
33,6%
- lebih dari 10
37
66,4%
6
Gambaran EEG
-
normal
17
15,5%
-
abnormal
81
73,6%
- tidak ada data
12
10,9%
7
Riwayat kejang demam
-
ada
31
28,2%
- tidak ada
79
71,9%
8
Riwayat keluarga penyandang epilepsi
-
ada
13
11,8%
- tidak ada
97
88,2%
9
Riwayat status epileptikus
-
ada
12
10,9%
- tidak ada
98
89,1%
10
Defisit neurologi
-
ada
17
15,5%
- tidak ada
93
84,5%
1 Jenis
kelamin
-
laki-laki
83% -
-
perempuan
74,6%
0,89
(0,74-1,09)
0,293
2 Usia
saat
onset
- kurang dari 5 tahun
78,1%
-
-
5-12
tahun
76,3%
0,97(0,75-1,24)
0,83
- lebih dari 12 tahun
80%
1,02(0,81-1,36)
0,86
3
Tipe bangkitan konvulsif
- general tonik klonik
81,8%
-
-
parsial
sederhana
81,8% 1,00(0,74-1,34)
0,68
-
parsial
kompleks
45,5% 0,56(0,29-0,87)
0,013*
4 Kausa
epilepsi
-
idiopatik
83,1% -
-
simptomatik
71,1% 0,856(0,69-1,06)
0,135
5
Jumlah bangkitan sebelum terapi
- kurang atau sama dengan 10
84,9%
-
- lebih dari 10
64,9%
0,76 (0,59-0,98)
0,016*
6
- Gambaran EEG normal
70,6%
-
- Gambaran EEG abnormal
77,8%
1,101(0,68-2,34)
0,394
7 Defisit
neurologi
- tidak ada
82,8%
-
-
ada
52,9% 0,63(0,405-0,92)
0,006*
8 Riwayat
keluarga
-
ada
76,9% -
-
tidak
ada
78,4% 1,01(0,74-1,39)
0,907
9
Riwayat kejang demam
-
ada
83,9% -
-
tidak
ada
75,9% 0,904(0,74-1,103)
0,365
10
Riwayat status epileptikus
-
ada
83,3% -
-
tidak
ada
77,6% 0,93(0,70-1,22)
0,488
11 Kepatuhan
terhadap
terapi
-
patuh
80%
-
tidak
patuh
75% 0,938(0,757-1,161) 0,541
Proporsi
remisi
6 bulan
RR (95% CI)
No
Karakteristik
p
background image
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
493
HASIL PENELITIAN
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
HASIL PENELITIAN
Pemilihan waktu 6 bulan didasarkan pada penelitian Carpay, dkk
7
dan Arts, dkk
9
yang menyatakan bahwa tercapainya remisi 6
bulan dalam terapi obat anti epilepsi merupakan gambaran
remisi yang baik. Rancangan penelitian ini adalah kohort, sehingga
ukuran risiko yang digunakan adalah Risiko Relatif. Pada penelitian
ini ketepatan pengukuran akan ditunjukkan dengan nilai 95% CI
(interval kepercayaan). Nilai interval kepercayaan menggambar-
kan kemungkinan untuk memperoleh hasil tersebut pada popu-
lasi. Kehadiran faktor perancu pada penelitian ini akan dikendali-
kan dengan analisis multivariat
10
.
HASIL PENELITIAN
Karakteristik subyek penelitian
Hasil penelitian diperoleh dari 110 penderita epilepsi bangkitan
konvulsif dengan usia onset anak-anak dan dewasa muda (2 tahun
sampai dengan 25 tahun). Jumlah subyek laki-laki dan perempuan
hampir seimbang (42,7% vs. 57,3%). Sebagian besar subyek
memiliki bangkitan konvulsif umum (general) (80%) dibanding
hanya 20% dengan bangkitan parsial.
Epilepsi idiopatik didapatkan pada hampir 60% kasus. Bangkitan
epilepsi yang disertai dengan defisit neurologis dijumpai pada
15,5% kasus. Sebagian besar kasus memperlihatkan gambaran
EEG yang abnormal. Kurang lebih 2/3 subyek mendapatkan
terapi obat antiepilepsi setelah lebih dari 10 bangkitan konvulsif.
Tabel 1 memperlihatkan karakteristik dasar subyek penelitian.
Tabel 1. Karakteristik dasar subyek penelitian
Faktor prediktor remisi 6 bulan dalam terapi
Penderita epilepsi yang pernah mencapai remisi 6 bulan berturut-
turut dalam minimal 2 tahun terapi adalah 86 orang (78,2%).
Tabel 2 menunjukkan faktor prediktor tidak tercapainya remisi 6
bulan berturut-turut dalam terapi.
Tabel 2. Faktor prediktor tercapainya remisi 6 bulan berturut-turut
Tabel 2 menunjukkan bahwa faktor prediktor yang bermakna
untuk tercapainya remisi 6 bulan berturut-turut dengan terapi obat
antiepilepsi adalah tipe bangkitan, jumlah serangan sebelum terapi,
dan defisit neurologi.
Subyek dengan tipe bangkitan parsial kom- pleks memiliki kemung-
kinan yang lebih kecil untuk mencapai remisi dibanding dengan
subyek yang memiliki bangkitan general tonik klonik (RR: 0,56,
0,29-0,87, p<0,05).
Penderita epilepsi dengan bangkitan konvulsif yang tinggi dijumpai
pada 33,6%. Pasien dengan jumlah bangkitan yang tinggi
sebelum terapi rutin obat anti epilepsi memiliki probabilitas lebih
kecil untuk mencapai remisi 6 bulan berturut-turut dalam terapi
dibanding dengan subyek yang bangkitannya rendah (< 10 kali).
PENDAHULUAN
Epilepsi merupakan salah satu penyakit neurologis yang utama
1
.
Epilepsi dihubungkan dengan angka cedera yang tinggi, angka
kematian yang tinggi, stigma sosial yang buruk, ketakutan,
kecemasan, gangguan kognitif, dan gangguan psikiatrik
2
. Pada
tahun 2000, diperkirakan penderita epilepsi di seluruh dunia
berjumlah 50 juta orang, 37 juta orang di antaranya adalah
epilepsi primer, dan 80% tinggal di negara berkembang
1
.
Kronsep dasar utama prognosis epilepsi adalah kesempatan
untuk mencapai remisi serangan dan risiko kematian prematur
3
.
Beberapa konsep prognosis lain adalah : kualitas hidup, status
psikososial, fungsi neurologis, dan kemampuan mengikuti
pendidikan
4
.
Batasan remisi yang sering dipakai adalah 2 tahun bebas serangan
(kejang) dengan terapi. Pada pasien yang telah mengalami remisi
2 tahun harus dipertimbangkan untuk penurunan dosis dan
penghentian obat secara berkala
5,6
. Batasan lain yang banyak
pula dipakai untuk menggambarkan remisi adalah bebas serangan
(remisi terminal) minimal 6 bulan dalam terapi OAE7. Pada peneli-
tian ini remisi baik ditunjukkan dengan remisi terminal minimal 6
bulan dengan terapi rutin obat anti epilepsi.
Pengetahuan tentang prognosis akan sangat berguna untuk
pemberian informasi yang adekuat pada penderita epilepsi dan
keluarganya, serta membantu dalam pengambilan keputusan
medis. Data yang lengkap dan teliti tentang prognosis epilepsi
akan sangat penting untuk menentukan terapi yang rasional dan
pemberian penyuluhan dan nasihat yang tepat
3
.
TUJUAN PENELITIAN
Mengukur besar peran berbagai faktor prediktor prognosis untuk
tercapainya remisi dalam terapi. Masing-masing faktor prediktor
prognosis akan dihitung risiko relatif untuk tercapainya remisi
epilepsi.
METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini digunakan rancangan kohort historikal (histo-
rical prospective cohort). Pada rancangan kohort historikal, peneliti
akan melakukan pengamatan pada sekelompok kohort yang
telah didefinisikan di masa lampau
8
.
Sampel penelitian diambil dari populasi penderita epilepsi anak-
anak dengan bangkitan konvulsif dengan onset usia anak-anak
(2 tahun ­ 25 tahun) yang berobat ke poliklinik Neurologi Anak
RS Dr. Sardjito. Kriteria inklusi adalah : (1) penderita epilepsi onset
anak-anak (2 tahun-25 tahun), (2) tipe bangkitan konvulsif, (3)
didiagnosis epilepsi dan mulai mendapat terapi rutin obat antiepi-
lepsi minimal 2 tahun saat penelitian dimulai, (4) penderita epilepsi
mendapatkan pelayanan kesehatan di rumahsakit Dr. Sardjito
sejak pertama kali mendapat terapi definitif sampai dengan saat
penelitian dimulai, (5) didampingi oleh orang tua atau keluarga
terdekat pada saat kontrol, dan (6) catatan medik lengkap.
Sementara kriteria eksklusi penelitian adalah (1) menolak ikut
dalam penelitian, (2) penderita dan keluarga yang tidak yakin
akan data karakteristik sebelum terapi rutin obat anti epilepsi.
Pada penelitian ini outcome utama yang dinilai adalah ter-
capainya remisi terminal minimal 6 bulan dan 1 tahun dalam 2
tahun terapi.
Profil Remisi Epilepsi Onset Anak-anak
Rizaldy Pinzon
1
, Harsono
2
, Imam Rusdi
2
1.
SMF Saraf RS Bethesda, Yogyakarta
2
. Bagian Ilmu Penyakit Saraf, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
ABSTRAK
E
pilepsi merupakan penyakit neurologi utama masa anak-anak dengan berbagai permasalahannya. Pengetahuan
tentang prognosis epilepsi diperlukan untuk pemberian informasi dan penatalaksanaan yang lebih baik. Hasil
penelitian diperoleh dari 110 pasien epilepsi, terdiri dari 42,7% laki-laki, dan 57,3% perempuan. Remisi 6 bulan
dalam 2 tahun terapi dicapai oleh 86 pasien (78,2%). Faktor prediktor prognosis bermakna untuk tidak ter-
capainya remisi adalah tipe kejang parsial, jumlah bangkitan yang tinggi sebelum terapi, dan adanya defisit
neurologis penyerta. Remisi 12 bulan hanya dicapai oleh 48 pasien (43,6%). Faktor prediktor prognosis yang
bermakna untuk tidak tercapainya remisi adalah jumlah bangkitan yang tinggi, adanya defisit neurologis penyerta,
dan ketidaktaatan berobat.
494
No
Karakteristik
Jumlah
Persentase
1
Jenis kelamin
-
laki-laki
47
42,7%
-
perempuan
63
57,3%
2
Usia saat onset
- kurang dari 5 tahun
32
29,1%
- 5-12 tahun
38
34,5%
- lebih dari 12 tahun
40
36,4%
3
Tipe bangkitan konvulsif
-
general
88
80%
-
parsial
22
20%
4
- Epilepsi idiopatik
65
59,1%
- Epilepsi simptomatik
45
40,9%
5
Jumlah bangkitan sebelum terapi rutin
- kurang atau sama dengan 10
73
33,6%
- lebih dari 10
37
66,4%
6
Gambaran EEG
-
normal
17
15,5%
-
abnormal
81
73,6%
- tidak ada data
12
10,9%
7
Riwayat kejang demam
-
ada
31
28,2%
- tidak ada
79
71,9%
8
Riwayat keluarga penyandang epilepsi
-
ada
13
11,8%
- tidak ada
97
88,2%
9
Riwayat status epileptikus
-
ada
12
10,9%
- tidak ada
98
89,1%
10
Defisit neurologi
-
ada
17
15,5%
- tidak ada
93
84,5%
1 Jenis
kelamin
-
laki-laki
83% -
-
perempuan
74,6%
0,89
(0,74-1,09)
0,293
2 Usia
saat
onset
- kurang dari 5 tahun
78,1%
-
-
5-12
tahun
76,3%
0,97(0,75-1,24)
0,83
- lebih dari 12 tahun
80%
1,02(0,81-1,36)
0,86
3
Tipe bangkitan konvulsif
- general tonik klonik
81,8%
-
-
parsial
sederhana
81,8% 1,00(0,74-1,34)
0,68
-
parsial
kompleks
45,5% 0,56(0,29-0,87)
0,013*
4 Kausa
epilepsi
-
idiopatik
83,1% -
-
simptomatik
71,1% 0,856(0,69-1,06)
0,135
5
Jumlah bangkitan sebelum terapi
- kurang atau sama dengan 10
84,9%
-
- lebih dari 10
64,9%
0,76 (0,59-0,98)
0,016*
6
- Gambaran EEG normal
70,6%
-
- Gambaran EEG abnormal
77,8%
1,101(0,68-2,34)
0,394
7 Defisit
neurologi
- tidak ada
82,8%
-
-
ada
52,9% 0,63(0,405-0,92)
0,006*
8 Riwayat
keluarga
-
ada
76,9% -
-
tidak
ada
78,4% 1,01(0,74-1,39)
0,907
9
Riwayat kejang demam
-
ada
83,9% -
-
tidak
ada
75,9% 0,904(0,74-1,103)
0,365
10
Riwayat status epileptikus
-
ada
83,3% -
-
tidak
ada
77,6% 0,93(0,70-1,22)
0,488
11 Kepatuhan
terhadap
terapi
-
patuh
80%
-
tidak
patuh
75% 0,938(0,757-1,161) 0,541
Proporsi
remisi
6 bulan
RR (95% CI)
No
Karakteristik
p
background image
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
HASIL PENELITIAN
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
496
HASIL PENELITIAN
Faktor prediktor lain yang bermakna adalah adanya defisit neuro-
logi yang menyertai epilepsi. Defisit neurologi dijumpai pada 17
(15,5%) subyek epilepsi dengan bangkitan konvulsif. Penderita
epilepsi yang disertai defisit neurologi memiliki probabilitas yang
lebih rendah untuk mencapai remisi 6 bulan berturut-turut
dengan terapi OAE dibanding penderita tanpa defisit neurologi.
Jenis kelamin, usia saat onset, tipe bangkitan, jenis bangkitan,
riwayat kejang demam, riwayat keluarga penyandang epilepsi,
dan kepatuhan terhadap terapi tidak terbukti sebagai faktor
prediktor yang bermakna untuk tercapainya remisi 6 bulan
berturut-turut. Penemuan ini kurang sesuai dengan beberapa
penelitian terdahulu yang memperlihatkan bahwa penderita
epilepsi simptomatik memiliki probabilitas yang lebih kecil untuk
yang didiagnosis epilepsi simptomatik hanya didasarkan pada
anamnesis.
Faktor prediktor remisi 1 tahun dalam terapi
Penderita epilepsi yang pernah mencapai remisi 12 bulan ber-
turut-turut dalam 2 tahun terapi adalah sebesar 48 orang (43,6%).
Tabel 3 menunjukkan faktor prediktor tercapainya remisi 12
bulan dalam terapi.
Tabel 3. Faktor prediktor tercapainya remisi 12 bulan berturut-turut
Tabel 3 menunjukkan bahwa faktor prediktor yang bermakna
untuk tercapainya remisi 12 bulan berturut-turut dengan terapi
obat antiepilepsi adalah jumlah serangan sebelum terapi, defisit
neurologi, dan kepatuhan terhadap program terapi. Tidak ada
subyek dengan tipe bangkitan parsial komples yang mencapai
remisi 12 bulan berturut-turut.
Pasien dengan jumlah bangkitan yang tinggi sebelum terapi rutin
obat antiepilepsi memiliki probabilitas yang lebih kecil untuk
mencapai remisi 12 bulan berturut-turut dalam terapi dibanding
dengan subyek yang bangkitannya rendah (RR: 0,587, 95% CI:
0,34-0,92, p: 0,036). Faktor prediktor lain yang bermakna adalah
adanya defisit neurologi yang menyertai epilepsi. Defisit neurologi
dijumpai pada 17 (15,5%) subyek epilepsi dengan bangkitan
konvulsif. Penderita epilepsi yang disertai defisit neurologi memi-
liki probabilitas yang lebih rendah untuk mencapai remisi 12 bulan
berturut-turut dengan terapi OAE dibanding penderita tanpa
defisit neurologi (RR: 0,238, 95% CI: 0,06-0,889, p: 0,004).
Faktor prediktor lain yang bermakna adalah kepatuhan terhadap
program terapi epilepsi. Kepatuhan terhadap program terapi
dijumpai pada 70 (63,6%) subyek epilepsi dengan bangkitan
konvulsif. Penderita epilepsi yang patuh terhadap program terapi
memiliki probabilitas yang lebih tinggi untuk mencapai remisi 12
bulan berturut-turut dengan terapi OAE dibanding penderita
yang tidak patuh (RR: 0,583, 95% CI : 0,345-0,986)). Jenis
kelamin, usia saat onset, tipe bangkitan, jenis bangkitan, riwayat
kejang demam, dan riwayat keluarga penyandang epilepsi
tidak terbukti sebagai faktor prediktor yang bermakna untuk
tercapainya remisi 12 bulan berturut-turut.
Analisis multivariat
Analisis multivariat akan dikerjakan pada faktor-faktor prognosis
yang memiliki RR>1 untuk tidak tercapainya remisi 6 bulan dan
12 bulan, dengan rentang 95%CI tidak melewati (mencakup)
angka 1, dan nilai p<0,05. Hasil analisa multivariat dengan
stepwise regresi logistik dapat dilihat pada tabel 4 dan tabel 5 .
Tabel 4. Analisis multivariat tidak tercapainya remisi 6 bulan dalam
terapi OAE
Tabel 5. Analisis multivariat tidak tercapainya remisi 12 bulan dalam
terapi OAE
Analisis multivariat memperlihatkan bahwa jumlah serangan yang
tinggi sebelum terapi dan adanya defisit neurologis penyerta
merupakan faktor prediktor untuk tidak tercapainya remisi 6
bulan dengan terapi OAE. Adanya defisit neurologis penyerta,
tipe bangkitan parsial, dan ketidakpatuhan terhadap program
terapi merupakan faktor prediktor untuk tidak tercapainya remisi
12 bulan dengan terapi OAE.
PEMBAHASAN
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa defisit neurologis penyerta,
jumlah bangkitan sebelum terapi yang tinggi, dan tipe bangkitan
parsial merupakan prediktor tidak tercapainya remisi dalam
terapi. Hal ini konsisten dengan berbagai penelitian terdahulu.
Pada penelitian ini epilepsi simptomatik tidak bermakna sebagai
faktor prediktor remisi dalam terapi. Hal ini tidak sesuai dengan ber-
bagai penelitian terdahulu; mungkin karena kurangnya pelacakan
epilepsi simptomatik di Indonesia. Sebagian besar kasus hanya
didasarkan pada proses anamnesis saja.
Hasil penelitian memperlihatkan pula bahwa kepatuhan terhadap
terapi merupakan salah satu faktor penentu tercapainya remisi.
Pemahaman yang kurang tentang epilepsi dan program terapi
epilepsi akibat informasi yang tidak adekuat merupakan faktor
utama terjadinya ketidakpatuhan terhadap program terapi
11
.
Penelitian Basuki dan Dikot
12
terhadap 31 orang pasien dengan
epilepsi tak terkendali menunjukkan bahwa ketidakpatuhan me-
rupakan faktor yang sangat berperan untuk terjadinya epilepsi
yang tidak terkendali.
Penelitian prospektif oleh Kaliaperumal, dkk
13
terhadap 95
pasien epilepsi parsial di India menunjukkan bahwa kepatuhan
terhadap terapi merupakan faktor prediktor remisi yang utama
dalam analisis multivariat. Penderita yang teratur berobat
memiliki kemungkinan sebesar 3,42 kali untuk mencapai remisi
2 tahun dibanding penderita yang tidak teratur berobat.
Penelitian lain menunjukkan bahwa pasien yang tidak taat
minum obat memiliki risiko sebesar 23 (95% CI 8,28-63,84) kali
untuk berkembang menjadi epilepsi tak terkendali dibanding
pasien yang taat berobat
14
.
SIMPULAN
Sebagian besar pasien epilepsi akan mengalami remisi 6 bulan
berturut-turut dalam terapi rutin OAE, namun hanya kurang lebih
50% saja yang akan mengalami remisi 12 bulan berturut-turut.
Faktor prediktor buruk untuk tercapainya remisi adalah bangkitan
parsial, adanya defisit neurologis penyerta, jumlah bangkitan
yang tinggi sebelum terapi, dan ketidakpatuhan pada program
terapi.
KEPUSTAKAAN
1. WHR. Epilepsy in The World Health Report, Mental Health : New Understanding, New
Hope. WHO, 2001.
2. Shafer PO. Improving The Quality of Life in Epilepsy: Non Medical Issues Too Often
Overlooked. Postgraduate Medicine, January 2002.
3. Harsono. Epilepsi. Edisi Pertama. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2001
4. Dreifuss FE. Prognosis of Childhood Seizure Disorders : Present and Future, Epilepsia 1994;
35 (suppl 2): s30-s34
5. Gilliam F. Epilepsy Outcomes : Prognosis and Predictive Factors. Epilepsy Quarterly 2001; 9 (2).
6. Smith D, Chadwick D. The Management of Epilepsy. J Neurol Neurosurg Psychiatry 2001 ;
70(Suppl 2) ( June )
7. Carpay HA, Arts WFM, Geerts AT, Stroink H, dkk. Epilepsy in Childhood : An Audit of Clinical
Practice. Arch Neurol 1998;55(5): 668-673
8. Page RM, Cole GE, Timmreck TC. Basic Epidemiological Methods and Biostatistics;
A Practical Guide Book, Jones and Bartlet Publisher. London, 1996
9. Arts WFM, Geerts AT, Brouwer OF, Peters ACB, Stroink H, Donselaar CAV. The Early
Prognosis of Epilepsy in Childhood : The Prediction of Poor Outcome. The Dutch Study of
Epilepsy in Childhood. Epilepsia 1999;40 (6): 726-734
10. Laupacis A, Wells G, Richardson S, Tugwell P. User's Guide to The Medical Literature; How
to Use an Article About Prognosis. JAMA 1994;272(3): 234-237
11. Kyngas H. Predictors of Good Compliance in Adolescents with Epilepsy. Seizure 2001; 10:
549-553
12. Basuki A, Dikot Y. Evaluasi Penatalaksanaan pada Penderita Epilepsi yang Tidak Terkendali.
Epilepsi 1998 ;3(1): 44-49
13. Kaliaperumal VG, Sundararaj N, Mani KS. Seizure Prognosis for Partial Epilepsies in India.
Epilepsy
Res.1989(3):86-91
14. Amang A. Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan Pengobatan Epilepsi di RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta, Laporan Penelitian Akhir IP Saraf FK UGM Yogyakarta, 1990
1 Jenis
kelamin
-
laki-laki
53,2%
-
-
perempuan
36,6%
0,686(0,45-1,04)
0,081
2 Usia
saat
onset
- kurang dari 5 tahun
40,6%
-
-
5-12
tahun
60,5%
1,49(0,91-2,44)
0,096
- lebih dari 12 tahun
30,0%
0,74(0,39-1,39)
0,347
3
Tipe bangkitan konvulsif
- general tonik klonik
50%
-
-
parsial
sederhana
36,4% 0,73(0,32-1,63)
0,039
-
parsial
kompleks
0% NA
4 Kausa
epilepsi
-
idiopatik
47,7% -
-
simptomatik
37,8% 0,792(0,503-1,246) 0,303
5
Jumlah bangkitan sebelum terapi
- kurang atau sama dengan 10
50,7%
-
- lebih dari 10
29,7%
0,587(0,34-0,92)
0,036*
6
- Gambaran EEG normal
35,3%
-
-
Gambaran
EEG
abnormal
46,9% 1,32(0,82-2,12)
0,214
7 Defisit
neurologi
- tidak ada
49,5%
-
-
ada
11,8% 0,238(0,06-0,889)
0,004*
8 Riwayat
keluarga
-
ada
53,8% -
-
tidak
ada
42,3% ,79(0,43-1,473)
0,429
9
Riwayat kejang demam
-
ada
38,7% -
-
tidak
ada
45,6% 1,17(0,71-1,94)
0,514
10
Riwayat status epileptikus
-
ada
33,3% -
-
tidak
ada
44,9% 1,34(0,58-3,11)
0,446
11
Kepatuhan terhadap terapi
-
patuh
51,4%
-
tidak
patuh
30,0% 0,583(0,345-0,986) 0,029*
Proporsi
remisi
12 bulan
RR (95% CI)
No
Karakteristik
p
495
Jumlah serangan
tinggi sebelum
terapi 1,104
0,493
3,017
1,149-7,924
0,025*
Bangkitan parsial
kompleks 1,323
1,036
3,755
0,811-13,903
0,202
Adanya defisit
neurologis 1,440
0,578
4,220
1,359-13,101
0,013*
Faktor
B
SE
Exp (B)
/ RR
95% CI
p
Adanya defisit
neurologis penyerta
2,086
0,817
8,056
1,623-39,975
0,011*
Tipe bangkitan parsial 1,440
0,639
4,222
1,207-14,766
0,024*
Jumlah bangkitan
konvulsif yang
tinggi 0,548
0,465
1,730
0,682-4,387
0,248
Ketidakpatuhan
pada program
terapi 1,071
0,475
2,917
1,173-7,257
0,021*
Faktor
B
SE
Exp (B)
/ RR
95% CI
p
background image
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
HASIL PENELITIAN
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
496
HASIL PENELITIAN
Faktor prediktor lain yang bermakna adalah adanya defisit neuro-
logi yang menyertai epilepsi. Defisit neurologi dijumpai pada 17
(15,5%) subyek epilepsi dengan bangkitan konvulsif. Penderita
epilepsi yang disertai defisit neurologi memiliki probabilitas yang
lebih rendah untuk mencapai remisi 6 bulan berturut-turut
dengan terapi OAE dibanding penderita tanpa defisit neurologi.
Jenis kelamin, usia saat onset, tipe bangkitan, jenis bangkitan,
riwayat kejang demam, riwayat keluarga penyandang epilepsi,
dan kepatuhan terhadap terapi tidak terbukti sebagai faktor
prediktor yang bermakna untuk tercapainya remisi 6 bulan
berturut-turut. Penemuan ini kurang sesuai dengan beberapa
penelitian terdahulu yang memperlihatkan bahwa penderita
epilepsi simptomatik memiliki probabilitas yang lebih kecil untuk
yang didiagnosis epilepsi simptomatik hanya didasarkan pada
anamnesis.
Faktor prediktor remisi 1 tahun dalam terapi
Penderita epilepsi yang pernah mencapai remisi 12 bulan ber-
turut-turut dalam 2 tahun terapi adalah sebesar 48 orang (43,6%).
Tabel 3 menunjukkan faktor prediktor tercapainya remisi 12
bulan dalam terapi.
Tabel 3. Faktor prediktor tercapainya remisi 12 bulan berturut-turut
Tabel 3 menunjukkan bahwa faktor prediktor yang bermakna
untuk tercapainya remisi 12 bulan berturut-turut dengan terapi
obat antiepilepsi adalah jumlah serangan sebelum terapi, defisit
neurologi, dan kepatuhan terhadap program terapi. Tidak ada
subyek dengan tipe bangkitan parsial komples yang mencapai
remisi 12 bulan berturut-turut.
Pasien dengan jumlah bangkitan yang tinggi sebelum terapi rutin
obat antiepilepsi memiliki probabilitas yang lebih kecil untuk
mencapai remisi 12 bulan berturut-turut dalam terapi dibanding
dengan subyek yang bangkitannya rendah (RR: 0,587, 95% CI:
0,34-0,92, p: 0,036). Faktor prediktor lain yang bermakna adalah
adanya defisit neurologi yang menyertai epilepsi. Defisit neurologi
dijumpai pada 17 (15,5%) subyek epilepsi dengan bangkitan
konvulsif. Penderita epilepsi yang disertai defisit neurologi memi-
liki probabilitas yang lebih rendah untuk mencapai remisi 12 bulan
berturut-turut dengan terapi OAE dibanding penderita tanpa
defisit neurologi (RR: 0,238, 95% CI: 0,06-0,889, p: 0,004).
Faktor prediktor lain yang bermakna adalah kepatuhan terhadap
program terapi epilepsi. Kepatuhan terhadap program terapi
dijumpai pada 70 (63,6%) subyek epilepsi dengan bangkitan
konvulsif. Penderita epilepsi yang patuh terhadap program terapi
memiliki probabilitas yang lebih tinggi untuk mencapai remisi 12
bulan berturut-turut dengan terapi OAE dibanding penderita
yang tidak patuh (RR: 0,583, 95% CI : 0,345-0,986)). Jenis
kelamin, usia saat onset, tipe bangkitan, jenis bangkitan, riwayat
kejang demam, dan riwayat keluarga penyandang epilepsi
tidak terbukti sebagai faktor prediktor yang bermakna untuk
tercapainya remisi 12 bulan berturut-turut.
Analisis multivariat
Analisis multivariat akan dikerjakan pada faktor-faktor prognosis
yang memiliki RR>1 untuk tidak tercapainya remisi 6 bulan dan
12 bulan, dengan rentang 95%CI tidak melewati (mencakup)
angka 1, dan nilai p<0,05. Hasil analisa multivariat dengan
stepwise regresi logistik dapat dilihat pada tabel 4 dan tabel 5 .
Tabel 4. Analisis multivariat tidak tercapainya remisi 6 bulan dalam
terapi OAE
Tabel 5. Analisis multivariat tidak tercapainya remisi 12 bulan dalam
terapi OAE
Analisis multivariat memperlihatkan bahwa jumlah serangan yang
tinggi sebelum terapi dan adanya defisit neurologis penyerta
merupakan faktor prediktor untuk tidak tercapainya remisi 6
bulan dengan terapi OAE. Adanya defisit neurologis penyerta,
tipe bangkitan parsial, dan ketidakpatuhan terhadap program
terapi merupakan faktor prediktor untuk tidak tercapainya remisi
12 bulan dengan terapi OAE.
PEMBAHASAN
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa defisit neurologis penyerta,
jumlah bangkitan sebelum terapi yang tinggi, dan tipe bangkitan
parsial merupakan prediktor tidak tercapainya remisi dalam
terapi. Hal ini konsisten dengan berbagai penelitian terdahulu.
Pada penelitian ini epilepsi simptomatik tidak bermakna sebagai
faktor prediktor remisi dalam terapi. Hal ini tidak sesuai dengan ber-
bagai penelitian terdahulu; mungkin karena kurangnya pelacakan
epilepsi simptomatik di Indonesia. Sebagian besar kasus hanya
didasarkan pada proses anamnesis saja.
Hasil penelitian memperlihatkan pula bahwa kepatuhan terhadap
terapi merupakan salah satu faktor penentu tercapainya remisi.
Pemahaman yang kurang tentang epilepsi dan program terapi
epilepsi akibat informasi yang tidak adekuat merupakan faktor
utama terjadinya ketidakpatuhan terhadap program terapi
11
.
Penelitian Basuki dan Dikot
12
terhadap 31 orang pasien dengan
epilepsi tak terkendali menunjukkan bahwa ketidakpatuhan me-
rupakan faktor yang sangat berperan untuk terjadinya epilepsi
yang tidak terkendali.
Penelitian prospektif oleh Kaliaperumal, dkk
13
terhadap 95
pasien epilepsi parsial di India menunjukkan bahwa kepatuhan
terhadap terapi merupakan faktor prediktor remisi yang utama
dalam analisis multivariat. Penderita yang teratur berobat
memiliki kemungkinan sebesar 3,42 kali untuk mencapai remisi
2 tahun dibanding penderita yang tidak teratur berobat.
Penelitian lain menunjukkan bahwa pasien yang tidak taat
minum obat memiliki risiko sebesar 23 (95% CI 8,28-63,84) kali
untuk berkembang menjadi epilepsi tak terkendali dibanding
pasien yang taat berobat
14
.
SIMPULAN
Sebagian besar pasien epilepsi akan mengalami remisi 6 bulan
berturut-turut dalam terapi rutin OAE, namun hanya kurang lebih
50% saja yang akan mengalami remisi 12 bulan berturut-turut.
Faktor prediktor buruk untuk tercapainya remisi adalah bangkitan
parsial, adanya defisit neurologis penyerta, jumlah bangkitan
yang tinggi sebelum terapi, dan ketidakpatuhan pada program
terapi.
KEPUSTAKAAN
1. WHR. Epilepsy in The World Health Report, Mental Health : New Understanding, New
Hope. WHO, 2001.
2. Shafer PO. Improving The Quality of Life in Epilepsy: Non Medical Issues Too Often
Overlooked. Postgraduate Medicine, January 2002.
3. Harsono. Epilepsi. Edisi Pertama. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2001
4. Dreifuss FE. Prognosis of Childhood Seizure Disorders : Present and Future, Epilepsia 1994;
35 (suppl 2): s30-s34
5. Gilliam F. Epilepsy Outcomes : Prognosis and Predictive Factors. Epilepsy Quarterly 2001; 9 (2).
6. Smith D, Chadwick D. The Management of Epilepsy. J Neurol Neurosurg Psychiatry 2001 ;
70(Suppl 2) ( June )
7. Carpay HA, Arts WFM, Geerts AT, Stroink H, dkk. Epilepsy in Childhood : An Audit of Clinical
Practice. Arch Neurol 1998;55(5): 668-673
8. Page RM, Cole GE, Timmreck TC. Basic Epidemiological Methods and Biostatistics;
A Practical Guide Book, Jones and Bartlet Publisher. London, 1996
9. Arts WFM, Geerts AT, Brouwer OF, Peters ACB, Stroink H, Donselaar CAV. The Early
Prognosis of Epilepsy in Childhood : The Prediction of Poor Outcome. The Dutch Study of
Epilepsy in Childhood. Epilepsia 1999;40 (6): 726-734
10. Laupacis A, Wells G, Richardson S, Tugwell P. User's Guide to The Medical Literature; How
to Use an Article About Prognosis. JAMA 1994;272(3): 234-237
11. Kyngas H. Predictors of Good Compliance in Adolescents with Epilepsy. Seizure 2001; 10:
549-553
12. Basuki A, Dikot Y. Evaluasi Penatalaksanaan pada Penderita Epilepsi yang Tidak Terkendali.
Epilepsi 1998 ;3(1): 44-49
13. Kaliaperumal VG, Sundararaj N, Mani KS. Seizure Prognosis for Partial Epilepsies in India.
Epilepsy
Res.1989(3):86-91
14. Amang A. Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan Pengobatan Epilepsi di RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta, Laporan Penelitian Akhir IP Saraf FK UGM Yogyakarta, 1990
1 Jenis
kelamin
-
laki-laki
53,2%
-
-
perempuan
36,6%
0,686(0,45-1,04)
0,081
2 Usia
saat
onset
- kurang dari 5 tahun
40,6%
-
-
5-12
tahun
60,5%
1,49(0,91-2,44)
0,096
- lebih dari 12 tahun
30,0%
0,74(0,39-1,39)
0,347
3
Tipe bangkitan konvulsif
- general tonik klonik
50%
-
-
parsial
sederhana
36,4% 0,73(0,32-1,63)
0,039
-
parsial
kompleks
0% NA
4 Kausa
epilepsi
-
idiopatik
47,7% -
-
simptomatik
37,8% 0,792(0,503-1,246) 0,303
5
Jumlah bangkitan sebelum terapi
- kurang atau sama dengan 10
50,7%
-
- lebih dari 10
29,7%
0,587(0,34-0,92)
0,036*
6
- Gambaran EEG normal
35,3%
-
-
Gambaran
EEG
abnormal
46,9% 1,32(0,82-2,12)
0,214
7 Defisit
neurologi
- tidak ada
49,5%
-
-
ada
11,8% 0,238(0,06-0,889)
0,004*
8 Riwayat
keluarga
-
ada
53,8% -
-
tidak
ada
42,3% ,79(0,43-1,473)
0,429
9
Riwayat kejang demam
-
ada
38,7% -
-
tidak
ada
45,6% 1,17(0,71-1,94)
0,514
10
Riwayat status epileptikus
-
ada
33,3% -
-
tidak
ada
44,9% 1,34(0,58-3,11)
0,446
11
Kepatuhan terhadap terapi
-
patuh
51,4%
-
tidak
patuh
30,0% 0,583(0,345-0,986) 0,029*
Proporsi
remisi
12 bulan
RR (95% CI)
No
Karakteristik
p
495
Jumlah serangan
tinggi sebelum
terapi 1,104
0,493
3,017
1,149-7,924
0,025*
Bangkitan parsial
kompleks 1,323
1,036
3,755
0,811-13,903
0,202
Adanya defisit
neurologis 1,440
0,578
4,220
1,359-13,101
0,013*
Faktor
B
SE
Exp (B)
/ RR
95% CI
p
Adanya defisit
neurologis penyerta
2,086
0,817
8,056
1,623-39,975
0,011*
Tipe bangkitan parsial 1,440
0,639
4,222
1,207-14,766
0,024*
Jumlah bangkitan
konvulsif yang
tinggi 0,548
0,465
1,730
0,682-4,387
0,248
Ketidakpatuhan
pada program
terapi 1,071
0,475
2,917
1,173-7,257
0,021*
Faktor
B
SE
Exp (B)
/ RR
95% CI
p