CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
407
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
408
TINJAUAN PUSTAKA
PENDAHULUAN
Sklerosis mutipel adalah salah satu kelainan sistem saraf pusat (otak
dan sumsum tulang belakang). Penyakit ini merupakan penyakit
degeneratif yang menyebabkan kerusakan struktur otak baik sel-sel
otak maupun serabut-serabut saraf yang ada di dalamnya. Saat ini
lebih dari 2,5 juta orang di dunia menderita sklerosis multipel.
Kelainan saraf ini menyebabkan kecacatan pada orang dewasa
muda terutama di Amerika dan Eropa. Amerika Serikat memiliki
jumlah pasien sklerosis multipel paling banyak. Kurang lebih 500
ribu orang Amerika menderita penyakit ini dengan rata-rata 200
orang terdiagnosis sklerosis multipel setiap minggunya
(1)
. Di Asia
dahulu diduga jarang terjadi, terutama karena iklimnya yang tropis;
namun ternyata di Jepang, Taiwan Filipina dan bahkan Singapura
telah dilaporkan kasus sklerosis multipel. Penelitian terbaru menun-
jukkan bahwa ras Asia tidak terbebas dari risiko sklerosis multipel
(2)
.
Di Indonesia, pada pertemuan ahli saraf ASEAN di Jakarta (2005)
dilaporkan dua penderita sklerosis multipel pada wanita muda usia
empat puluhan
(3)
.
Ketiadaan studi epidemiologi penyakit ini di Asia menyebabkan
prevalensinya rendah; tercatat kurang lebih 1-9 pasien per 100.000.
Rendahnya prevalensi penyakit ini di negara-negara Asia mungkin
karena tidak terdiagnosis akibat kurangnya kesadaran publik,
kurangnya akses publik ke ahli saraf dan untuk melakukan pemerik-
saan MRI. Pada tulisan ini dibahas definisi, etiologi, patologi,
manifestasi klinis, diagnosis dan penanganan sklerosis multipel.
(1)
DEFINISI
Sklerosis multipel adalah inflamasi dan demielinisasi sistem saraf
pusat. Demielinisasi adalah istilah untuk hilangnya mielin (lapisan
pembungkus serabut saraf). Mielin membantu mempercepat
hantaran impuls saraf. Jika substansi ini mengalami inflamasi dan
hilang, akan terbentuk penambalan jaringan parut atau sklerosis.
Area jaringan parut ini disebut sklerosis multipel. Demielinisasi ini
yang menjadi penyebab timbulnya gejala. karena kecepatan hantar
saraf menjadi lebih lambat. Sklerosis multipel lebih sering terjadi
pada wanita daripada pria dengan perbandingan 3:2 dan lebih
sering pada usia 20-40 tahun.
(4)
ETIOLOGI DAN PATOLOGI
(4,5,6)
Penyebab sklerosis multipel belum diketahui pasti. Kerusakan
mielin pada sklerosis multipel mungkin karena respon abnormal
berlebihan dari sistem imun tubuh yang normalnya melindungi
tubuh melawan invasi organisme (bakteri, virus). Pada proses
autoimun, sistim imun menyerang jaringan dan selnya sendiri dalam
hal ini mielin. Para peneliti tidak tahu pencetusnya, tetapi
merupakan kombinasi beberapa faktor.
Salah satu teori menyebutkan bahwa virus yang hidup dorman di
dalam tubuh mungkin merupakan pencetus proses autoimun ini.
Banyak penelitian telah dilakukan untuk mengidentifikasi virus MS,
tetapi yang ada hanya virus biasa seperti virus measles atau virus
herpes yang mungkin berperan sebagai pencetus.
Deteksi Klinis Sklerosis Multipel
Khrisma Wijayanti
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem dan Kebijakan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Surabaya
ABSTRAK
Penyakit sklerosis multipel dahulu diduga jarang terjadi di Asia karena iklimnya yang tropis, namun saat ini di
beberapa negara di Asia termasuk di Indonesia telah dilaporkan adanya kasus-kasus sklerosis multipel. Karena itu,
penyakit ini perlu mendapatkan perhatian agar dapat dikenali lebih awal. Skerosis multipel adalah salah satu
kelainan neurologi berupa inflamasi dan demielinisasi sistem saraf pusat.
Sklerosis multipel terjadi karena proses autoimun yang dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya oleh virus.
Penyakit ini mempunyai gejala yang sangat bervariasi. Gejala umum yang sering terjadi adalah gangguan pengli-
hatan, diplopia, ataksia, tremor, parestesia, kelemahan spastik anggota gerak, disfungsi kandung kemih, fatigue
dan sebagainya. Diagnosis sklerosis multipel selalu ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, gejala klinis, pemer-
iksaan neurologis dan pemeriksaan tambahan MRI, analisis cairan serebrospinal dan tes potensial cetusan
(evoked potential). Penanganan penderita sklerosis adalah dengan pendekatan tim perawatan kesehatan.
Resistensi yang diperantarai oleh antibodi terhadap botulinum
toksin A ditandai oleh berkurangnya respon relaksasi atau atrofi
pada otot lokasi injeksi; diperkirakan terjadi pada 3-10%
kasus.
16,50
Dosis seminimal mungkin yang menghasilkan efek
klinis bermakna serta frekuensi injeksi yang tidak terlalu sering
akan mengurangi kecenderungan terbentuknya antibodi terha-
dap botulinum toksin A.
52
Efisiensi Biaya Terapi
Studi A.Ward dkk. pada spastisitas fokal (flexed wrist clenched
hand spasticity) menunjukkan terapi oral hanya sukses pada
35% pasien; kesuksesan terapi botulinum toksin A sebagai lini
pertama terapi 73% dan pada kelompok botulinum toksin
sebagai terapi lini kedua adalah 68%.
53
Tabel 5. Tingkat keberhasilan rata-rata untuk terapi spastisitas
post-stroke fokal (flexed wrist clenched hand spasticity)
*95% confidence interval. BTX-A = botulinum toxin type-A.
Terapi botulinum toksin A juga lebih efektif dari segi biaya
dibanding terapi oral. Pada studi ini juga disebutkan bahwa
biaya untuk terapi yang sukses pada kelompok botulinum
toksin tipe A sebagai terapi lini pertama adalah £942, pada
kelompok terapi botulinum toksin A sebagai lini kedua adalah
£1387 dan pada kelompok terapi oral adalah £1697.53
RINGKASAN
Terapi spastisitas otot pada sindrom upper motor neuron (stroke,
cerebral palsy, trauma otak atau cedera medula spinalis, penya-
kit neurodegeneratif seperti sklerosis multipel, atau ensefalopati
hipoksia) masih menjadi tantangan bagi para klinisi. Botulinum
toksin merupakan terapi pilihan untuk spastisitas otot fokal dan
multifokal pada sindrom UMN dengan menyuntikkannya ke
otot sasaran yang spastik. Studi A.Ward dkk. pada spastisitas
fokal (flexed wrist clenched hand spasticity) menunjukkan
bahwa tingkat keberhasilan terapi botulinum toksin A sebagai
lini pertama lebih tinggi dari terapi oral (terapi Botulinum toxin
sebagai lini pertama 73% , Botulinum toksin sebagai terapi lini
kedua 68%, sedangkan pada pasien yang mendapat terapi oral
hanya 35%). Terapi botulinum toksin A juga lebih efektif dari
segi biaya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Mayer NH, Esquenazi A. Muscle overactivity and movement dysfunction in the upper motoneuron syndrome. Phys Med Rehabil Clin N Am
2003;14:855-83.
2. Peltonen M, Stegmayr B, Asplund K. Time trends in long term survival after stroke. Stroke 1998; 29:13581365.
3. Sheean G. Neurophysiology of spasticity. In: Barnes MP, Johnson GR, eds. Upper Motor Neuron Syndrome and Spasticity. Cambridge University Press,
2001:
1278.
4. American Heart Association, Heart Disease and Stroke Statistics. 2009 update. American Heart Association (www.strokeaha.org)
5. Yayasan Stroke Indonesia. Tahun 2020, penderita stroke meningkat 2 kali. www.yastroki.co.id
6. Kelompok Studi SerebrovasculaR & Neurogeriatri Perdossi. Konsensus Nasional Pengelolaan Stroke di Indonesia. Jakarta, 1999.
7. Lamsudin R. Algoritma Stroke Gajah Mada (Tesis Doktor). Yogyakarta; UGM. 1997
8. Mayer NH. Clinicophysiologic concepts of spasticity and motor dysfunction in adults with an upper motoneuron lesion. Muscle Nerve 1997;20:S1-S13.
9. Gracies JM. Pathophysiology of impairment in patients with spasticity and use of stretch as a treatment for spastic hypertonia. Phys Med Rehab Clin N
Am.
2001;12:747-68.
10. Sheean G. Botulinum toxin treatment of adult spasticity. Expert Rev Neurotherapuetics 2003;3:773-85.
11. Ward AB. Spasticity treatment with botulinum toxins. J Neural Transm. 2008;115:607-16.
12. Brin MF. Dosing, administration, and a treatment algorithm for use of botulinum toxin A for adult-onset spasticity. Muscle Nerve 1997;20:S208-S220
13. Ozcakir S, Sivrioglu K. Botulinum toxin in poststroke spasticity. Clin Med Res. 2007;5:132-8.
14. Ward AB (2002) A summary of spasticity management a treatment algorithm. Eur J Neurol (9 Suppl) 1: 4852
15. Goldstein EM. Spasticity management: an overview. J Child Neurol. 2001;16:16-23.
16. Gracies JM, Nance P, Elovic E, McGuire J, Simpson DM. Traditional pharmacological treatments for spasticity part II: general and regional treatments.
Muscle
Nerve.
1997;20:S92-S120.
17. Nance PW, Young RR. Antispasticity medications. Phys Med Rehabil Clin N Am. 1999;10:337-55.
18. Satkunam LE. Rehabilitation medicine: 3. Management of adult spasticity. CMAJ 2003;169:1173-9.
19. Esquenazi A. Falls and fractures in older post-stroke patients with spasticity: consequences and drug treatment considerations. Clin Geriatr. 2004;12:27-35.
20. Gracies JM, Elovic E, McGuire J, Simpson D. Traditional pharmacological treatments for spasticity part I: local treatments. Muscle Nerve 1997;20:S61-S91.
21. Brin MF. Botulinum toxin: Chemistry, pharmacology, toxicity and immunology. Muscle Nerve 1997;20:S146-S68.
22. Bell KR, Williams F. Use of botulinum toxin type A and type B for spasticity in upper and lower limbs. Phys Med Rehabil Clin N Am. 2003;14:821-35.
23. Brashear A, Gordon MF, Elovic E et al for the BOTOX Post-Stroke Spasticity Study Group. Intramuscular injection of botulinum toxin for the treatment of
wrist and finger spasticity after a stroke. N Engl J Med. 2002;347:395-400.
24. Brashear A, McAfee AL, Kuhn ER, Ambrosius WT. Treatment with botulinum toxin type B for upper-limb spasticity. Arch Phys Med Rehabil.
2003;84:103-7.
25. Gordon MF, Brashear A, Elovic E, et al. A multicenter, open-label study of the safety and efficacy of repeated botulinum toxin type A doses in poststroke,
focal, upper limb spasticity [abstract]. Neurology. 2002;58:A221.
26. Brin MF, Hallett M, Jankovic J. Scientific and Therapeutic Aspects of Botulinum Toxin. Philadelphia: Lippincott, Williams & Wilkins; 2002.
27. Simpson DM, Gracies JM, Graham HK, et al. Assessment: Botulinum neurotoxin for the treatment of spasticity (an evidence-based review). Neurology
2008;70:1691-8.
28. Moore P, ed. Handbook of botulinum toxin. Oxford: Blackwell Science, 1995.
29. Brashear A, Gordon MF, Elovic E, et al. Intramuscular injection of botulinum toxin for the treatment of wrist and finger spasticity after a stroke. N Engl J
Med.
2002;347:395-400.
30. Rosales RL, Chua-Yap AS. Evidence-based systematic review on the efficacy and safety of botulinum toxin-A therapy in post-stroke spasticity. J Neural
Transm.
2008;115:617-23.
31. Pidcock FS. The emerging role of therapeutic botulinum toxin in the treatment of cerebral palsy. J Pediatr. 2004;145:S33-S5.
32. URL : http://clinicaltrials.gov/ct2/results?term=Botulinum+toxin+type+A+for+Spasticity
33. Simpson DM, Alexander DN, O'Brien CF, et al. Botulinum toxin type A in the treatment of upper extremity spasticity: a randomized, double-blind,
placebo-controlled trial. Neurology. 1996;46:1306-10.
34. Hesse S, Reiter F, Konrad M, Jahnke MT. Botulinum toxin type A and short-term electrical stimulation in the treatment of upper limb flexor spasticity after
stroke: a randomized, double-blind, placebo-controlled trial. Clin Rehabil. 1998;12:381-8.
35. Bakheit AM, Thilmann AF, Ward AB, et al. A randomized, double-blind, placebo-controlled, dose ranging study to compare the efficacy and safety of
three doses of botulinum toxin type A (Dysport) with placebo in upper limb spasticity after stroke. Stroke. 2000;31:2402-6.
36. Smith SJ, Ellis E, White S, Moore AP. A double-blind placebo-controlled study of botulinum toxin in upper limb spasticity after stroke or head injury. Clin
Rehabil.
2000;14:5-13.
37. Bhakta BB, Cozens JA, Chamberlain MA, Bamford JM. Impact of botulinum toxin type A on disability and carer burden due to arm spasticity after
stroke: a randomised double blind placebo controlled trial. J Neurol Neurosurg Psychiatry. 2000;69:217-21.
38. Bakheit AM, Pittock S, Moore AP, et al. A randomized, double-blind, placebo-controlled study of the efficacy and safety of botulinum toxin type A in
upper limb spasticity in patients with stroke. Eur J Neurol. 2001;8:559-65.
39. Brashear A, McAfee AL, Kuhn ER, Fyffe J. Botulinum toxin type B in upper-limb poststroke spasticity: a double-blind, placebo-controlled trial. Arch Phys
Med
Rehabil.
2004;85:705-9.
40. Childers MK, Brashear A, Jozefczyk P, et al. Dose-dependent response to intramuscular botulinum toxin type A for upper-limb spasticity in patients after
a stroke. Arch Phys Med Rehabil. 2004;85:1063-9.
41. Suputtitada A, Suwanwela NC. The lowest effective dose of botulinum A toxin in adult patients with upper limb spasticity. Disabil Rehabil. 2005;27:176-84.
42. Burbaud P, Wiart L, Dubos JL, et al. A randomised, double blind, placebo controlled trial of botulinum toxin in the treatment of spastic foot in hemiparetic
patients. J Neurol Neurosurg Psychiatry. 1996;61:265-9.
43. Reiter F, Danni M, Lagalla G, Ceravolo G, Provinciali L. Low-dose botulinum toxin with ankle taping for the treatment of spastic equinovarus foot after
stroke. Arch Phys Med Rehabil. 1998;79:532-5.
44. Kirazli Y, On AY, Kismali B, Aksit R. Comparison of phenol block and botulinus toxin type A in the treatment of spastic foot after stroke: a randomized,
double-blind trial. Am J Phys Med Rehabil. 1998;77:510-5.
45. Johnson CA, Burridge JH, Strike PW, Wood DE, Swain ID. The effect of combined use of botulinum toxin type A and functional electric stimulation in
the treatment of spastic drop foot after stroke: a preliminary investigation. Arch Phys Med Rehabil. 2004;85:902-9.
46. Bayram S, Sivrioglu K, Karli N, Ozcan O. Low-dose botulinum toxin with short-term electrical stimulation in poststroke spastic drop foot: a preliminary
study. Am J Phys Med Rehabil. 2006;85:75-81.
47. Naumann M, Jankovic J. Safety of botulinum toxin type A: a systematic review and meta-analysis. Curr Med Res Opin. 2004;20:981-90.
48. Turkel C, Bowen B, Liu J, Brin M. A pooled analysis of the safety of botulinum toxin type A in the treatment of poststroke spasticity [abstract]. Arch Phys
Med
Rehabil.
2004;85:e8.
49. Klein AW. Contraindications and complications with the use of botulinum toxin. Clin Dermatol. 2004;22:66-75.
50. Simpson DM, Blitzer A, Brashear A, et al. Assessment:Botulinum neurotoxin for the treatment of movement disorders (an evidence-based review):
Report of the Therapeutics and Technology Assessment Subcommittee of the American Academy of Neurology. Neurology 2008;70:1691-8.
51. Borodic GE, Joseph M, Fay L, Cozzolino D, Ferrante RJ. Botulinum A toxin for the treatment of spasmodic torticollis: dysphagia and regional toxin spread.
Head Neck. 1990;12:392-8.
52. Jankovic J, Vuong KD, Ahsan J. Comparison of efficacy and immunogenicity of original versus current botulinum toxin in cervical dystonia. Neurology
2003;60:1186-8.
53. Ward A, Roberts G, Warner J, Gillard S. Cost-effectiveness of Botulinum Toxin type A in the treatment of post-stroke spasticity. J Rehabil Med. 2005; 37:
54. Sheean G. Botulinum toxin treatment of adult spasticity: a benefitrisk assessment. Drug Saf 2006;29:3148
Terapi
Tingkat keberhasilan (%)
Oral therapy
BTX-A as first-line
therapy
BTX-A as second-line
therapy
Mean
35
73
68
Min
10
55
40
Max
80
85
85
95% CI*
24-46
68-78
60-76
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
409
TINJAUAN PUSTAKA
Faktor pencetus ini akan mengaktifkan limfosit di peredaran darah
yang masuk ke otak dan membuat mekanisme pertahanan otak
menjadi lemah. Suatu ketika di dalam otak sel ini mengaktifkan
unsur-unsur lain pada sistem imun sebagai jalan bagi mereka
untuk menyerang dan menghancurkan mielin. Beberapa peneliti
men- duga virus campak (rubeola) sebagai virus penyebab
penyakit ini. Serum dan cairan serebrospinal penderita sklerosis
multipel ternyata mengandung berbagai antibodi campak dan
ada bukti bahwa zat anti tersebut dihasilkan dalam otak. Peneli-
tian lain menyebutkan kemungkinan adanya faktor genetik
sehingga ada orang-orang yang lebih rentan terhadap serangan
berbagai virus pada sistem saraf pusat. Virus ini mempunyai masa
inkubasi yang lama dan mungkin hanya berkembang dalam
kaitannya dengan status imun yang abnormal atau terganggu.
Antigen histokompatibilitas tertentu (HLA-A3 dan HLA-A7)
ternyata juga banyak ditemukan pada penderita sklerosis
multipel. Adanya antigen ini berkaitan dengan defisiensi
imunologis terhadap infeksi virus.
Beberapa keadaan lain yang dianggap sebagai faktor pencetus
di antaranya adalah kehamilan, infeksi (terutama yang disertai
demam), stres emosional dan cedera. Serangan pertama biasanya
dapat sembuh sempurna. Remisi biasanya terjadi dalam waktu 1
sampai 3 bulan dan disusul dengan serangan- serangan berikut-
nya. Akhirnya penyembuhan tidak lagi sempurna dan pasien
akan menderita kerusakan permanen tambahan pada setiap kali
serangan. Lesi sklerosis multipel terjadi hanya di substansia alba
susunan saraf pusat. Hasil pemeriksaan otopsi memperlihatkan
lesi yang paling nyata ditemukan pada traktus piramidalis; juga
di kolumna posterior medula spinalis, sekitar ventrikel-ventrikel
otak, traktus optikus, batang otak, pedunkulus serebeli dan di
sekitar vena-vena besar. Pada fase akut, tempat-tempat yang
terkena mengalami edema, radang dan berwarna merah muda,
diameternya berkisar antara beberapa milimeter sampai beberapa
sentimeter. Makrofag membersihkan daerah-daerah yang
mengalami degenerasi mielin dan saat fase aktif mereda terjadi
gliosis reaktif. Akhirnya terdapat daerah-daerah demielinisasi
yang mengkerut yang disebut plak. Silinder akson dan badan
selnya tidak mengalami kerusakan meskipun jaringan parut dapat
merusak serabut akson di bawahnya sehingga menganggu fungsi
penghantaran serabut saraf. Gejala-gejala sklerosis multipel
akibat demielinisasi menjadi ireversibel dengan berlanjutnya
penyakit. Manifestasi patologi yang menonjol adalah proses
inflamasi dan demielinisasi multifokal dan multifasik.
MANIFESTASI KLINIS
(4,7)
Sklerosis multipel merupakan suatu kondisi yang bervariasi dan
gejala yang timbul tergantung pada area sistem saraf pusat yang
terkena. Tidak ada pola tertentu; setiap penderita sklerosis
multipel mempunyai gejala yang berbeda, bervariasi dari waktu
ke waktu dan dapat berubah tingkat keparahannya walaupun
pada orang yang sama. Tidak ada sklerosis multipel yang tipikal;
semua orang yang menderita sklerosis multipel akan mengalami
lebih dari satu gejala; walaupun ada gejala yang umum namun
tidak semua orang akan mengalaminya.
Gejala-gejala umum yang sering timbul adalah:
1. Gejala visual. Sejumlah besar pasien menderita gangguan
penglihatan sebagai gejala awal. Dapat terjadi kekaburan
penglihatan, lapang pandang abnormal dengan bintik buta
(skotoma) baik pada satu maupun pada kedua mata. Salah
satu mata mungkin mengalami kebutaan total selama
beberapa jam sampai beberapa hari. Gangguan-gangguan
visual ini akibat neuritis saraf optikus. Selain itu juga ditemu-
kan diplopia akibat lesi batang otak yang menyerang
nukleus atau serabut-serabut traktus otot-otot ekstraokuler.
2. Tanda-tanda serebelum. Gejala yang sering ditemukan
adalah nistagmus (gerakan osilasi cepat bola mata dalam
arah horisontal atau vertikal). Ini menunjukkan bahwa
traktus serebelaris dan traktus kortikospinalis juga ikut
terserang. Gejala lain adalah ataksia serebelar, intention
tremor, gangguan keseimbangan dan disartria.
3. Gangguan sensorik ; dapat terjadi paraestesi yang berbeda-
beda tingkatannya dari hari ke hari, tingling, rasa terbakar,
nyeri seperti nyeri wajah dan nyeri otot. Jika lesi terjadi di
kolumna posterior medula spinalis servikalis, fleksi leher
menyebabkan sensasi seperti syok yang menjalar ke bawah
(tanda Lhermitte). Gangguan proprioseptif sering menimbul-
kan ataksia sensorik dan inkoordinasi lengan. Sensasi getar
seringkali menghilang. Karena gangguan sensorik tidak
dapat diperagakan secara obyektif maka gejala-gejala
tersebut dapat disalahduga sebagai histeria.
4. Kelemahan spastik anggota gerak. Keluhan yang sering
didapat adalah kelemahan satu anggota gerak pada satu sisi
tubuh atau terbagi secara asimetris pada keempat anggota
gerak. Pasien mungkin merasa lelah dan berat pada satu
tungkai dan saat berjalan terlihat jelas tugkai terseret dan
kurang terkontrol. Keadaan spastis yang lebih berat disertai
spasme otot yang nyeri. Refleks tendon hiperaktif dan
refleks-refleks abdominal tidak ada. Tanda Babinski positif.
Tanda-tanda ini merupakan indikasi terserangnya lintasan
kortikospinal.
5. Bicara abnormal yaitu bicara pelan, kata-kata tidak jelas,
perubahan ritme bicara dan disfagi (sulit menelan).
6. Fatigue/Kelelahan : adalah salah satu gejala yang sering
terjadi pada MS berupa macam-macam kelelahan pada
general fatigue yang tidak dapat diprediksi atau tidak sesuai
dengan
beratnya
aktivitas.
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
411
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
412
TINJAUAN PUSTAKA
7. Bladder dan bowel syndrome (disfungsi kandung kemih).
Lesi traktus kortikospinalis sering menimbulkan gangguan
pengaturan sfingter sehingga timbul gangguan berkemih
berupa gangguan frekuensi dan urgensi yang menunjukkan
berkurangnya kapasitas kandung kemih yang spastis. Selain
itu juga timbul retensi akut dan inkontinensia.
8. Gangguan afek. Banyak pasien menderita euforia, perasaan
senang yang tidak realistik; diduga disebabkan terserangnya
substansia alba lobus frontalis.
9. Seksual; dapat terjadi impotensi, ejakulasi dini, serta kehilangan
sensasi.
10. Kognitif dan emosional : kehilangan memori sementara,
kehilangan konsentrasi, pertimbangan dan pemikiran.
Beberapa gejala dapat terlihat nyata tetapi yang lainnya
seperti kelelahan, pengurangan sensasi, masalah memori
dan konsentrasi sering tersembunyi.
PERJALANAN PENYAKIT
(4,8)
Bukan saja gejala sklerosis multipel yang bervariasi, perjalanan
penyakitnya pun juga demikian. Walaupun sebagian besar
penderita mengalami cacad ringan selama hidup mereka dapat
hidup normal dan mempunyai harapan hidup yang mendekati
normal, kasus tertentu dapat berkembang menjadi malignant.
Tipe perjalanan penyakit sklerosis multipel adalah:
1. Relapsing / Remitting Multiple Sclerosis
Kira-kira 80% pasien pada awalnya akan memperlihatkan
bentuk ini : ada serangan yang tidak dapat diprediksi berupa
gejala baru dan gejala yang sudah ada akan bertambah berat.
Serangan dapat terjadi dalam periode yang bervariasi
(hari/bulan) dan ada fase penyembuhan total atau sebagian.
Walaupun secara klinis tidak aktif selama beberapa bulan atau
tahun, studi MRI menunjukkan adanya aktivitas inflamasi yang
asimtomatis. Penyakit ini dari waktu ke waktu gejalanya akan
menjadi lebih berat dengan fase penyembuhan yang makin
singkat setelah setiap serangan. Hal ini terjadi karena gliosis dan
kehilangan akson secara berulang yang akan mempengaruhi
terjadinya plaque. Penderita MS kemudian akan masuk pada
fase progresif.
2. Secondary Progressive Multiple Sclerosis
Ditandai dengan progresivitas dan tidak berhubungan dengan
relaps. Kira-kira 50% pasien relapsing/remitting MS akan ber-
kembang menjadi secondary progressive MS dalam waktu 10
tahun dan 80% dalam 20 tahun setelah onset.
3. Primary Progressive Multiple Sclerosis
Menyerang sekitar 10-15 % pasien MS, ditandai dengan
ketiadaan serangan yang bervariasi, tetapi dengan onset yang
lambat dan mantap akan menyebabkan perburukan gejala.
Pada fase ini ada akumulasi defisit dan kecacatan dan akan
menetap atau berlanjut selama bertahun-tahun.
4. Benign Multiple Sclerosis
Diagnosis jenis ini adalah retrospektif. Studi lanjutan memperli-
hatkan bahwa sebagian besar pasien tipe ini akan secepatnya
masuk pada fase secondary progressive.
DIAGNOSIS
(9)
Gejala, tanda dan perjalanan penyakit dari sklerosis multipel
sangat bervariasi, menyerang bagian tubuh yang berbeda dan
dengan derajat yang berbeda-beda menimbulkan potensi mis-
diagnosis. Tidak ada tes yang langsung dapat membuktikan
sklerosis multipel. Diagnosis sklerosis multipel selalu didasarkan
pada gejala klinis. Besarnya variasi gejala, tanda dan perjalanan
penyakit sklerosis multipel menuntut adanya kriteria diagnosis.
Beberapa peneliti telah mengembangkan kriteria diagnosis yang
menggolongkan pasien ke dalam subkategori berdasarkan kepastian
diagnosis. Pada tahun 1965, Schumacher mengembangkan kriteria
diagnosis untuk sklerosis multipel; Diagnosis pasti sklerosis
multipel harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Tidak hanya memperlihatkan gejala tetapi juga harus
menunjukkan bukti obyektif keterlibatan susunan saraf pusat.
2. Mempunyai riwayat yang mengindikasikan dua atau lebih
lesi terpisah pada susunan saraf pusat.
3. Mempunyai tanda, terutama pada substansia alba
(keterlibatan traktus motorik dan sensorik).
4. Mengalami sedikitnya dua kali relaps pada satu bulan
terpisah dan lamanya sedikitnya 24 jam.
5. Telah mengalami gejala antara usia 10 - 50 tahun
6. Telah diuji oleh ahli saraf yang kompeten yang menyimpulkan
bahwa tidak ada penjelasan lain untuk gejala dan tanda tersebut.
Pada tahun 1983, Poser mengklasifikasikannya menjadi 4
kategori yaitu:
1. Clinically
definite
multiple
sclerosis
Terbukti dari riwayat penyakit dan pemeriksaan neurologi
terdapat lebih dari satu lesi dan dua episode gejala dari satu
lesi dan bukti lesi pada MRI atau evoked potential.
2. Laboratory supported definite multiple sclerosis
Terbukti ada dua lesi dari riwayat penyakit dan pemeriksaan
neurologi. Jika hanya satu lesi yang terbukti maka lesi lain ter-
bukti dari MRI atau evoked potential dan kadar Ig G abnormal
3. Clinically
probable
multiple
sclerosis
Jika hanya dari pemeriksaan atau anamnesis dan bukan dari
keduanya, terbukti ada lebih dari satu lesi. Jika hanya terbukti
satu lesi dari anamnesis dan hanya satu dari pemeriksaan
neurologi,
evoked potential atau adanya bukti pada MRI dan
pemeriksaan Ig G CSF normal.
4. Laboratory supported probable
Saat ini pedoman kriteria diagnosis sklerosis multipel yang
diterima dan digunakan secara luas adalah kriteria Mc.Donald.
Kriteria ini menyajikan petunjuk spesifik menggunakan penemuan
MRI, analisis cairan serebrospinal dan visual evoked potential
sebagai bukti serangan kedua pada individu yang telah mempunyai
episode demyelinating tunggal (yang disebut clinically isolated
syndrome); dengan demikian dapat mengkonfirmasikan hasil
diagnosis dengan cepat. Petunjuk ini juga memudahkan proses
diagnostik pada pasien dengan progresivitas kecacatan yang
mantap tanpa serangan yang bervariasi.
Pada tahun 2005 panel internasional untuk diagnosis sklerosis
multipel mengemukakan revisi kriteria McDonald. Fokusnya
pada demonstrasi obyektif penyebaran lesi. MRI diintegrasikan
dengan metode diagnosis klinis dan paraklinis lainnya. Kriteria
revisi ini memudahkan diagnosis sklerosis multipel pada pasien
dengan gejala yang bervariasi termasuk penyakit monosimp-
tomatik yang mengarah ke sklerosis multipel, penyakit dengan
tipe relapsing-remitting, dan penyakit dengan progresivitas yang
tersembunyi tanpa serangan yang jelas dan tanpa remisi. Termi-
nologi sebelumnya menggunakan kriteria diagnosis seperti
sklerosis multipel definite dan sklerosis multipel probable, saat ini
sudah tidak direkomendasikan lagi.
(10)
Magnetic Resonance Imaging (MRI)
(11)
MRI adalah metode pencitraan (imaging) yang disukai untuk
mendeteksi adanya plaque atau scar yag disebabkan oleh sklerosis
multipel. Teknologi ini dapat mendeteksi lesi yang berbeda di
susunan saraf pusat dan membedakan lesi lama dari yang baru
atau aktif. Namun diagnosis sklerosis multipel tidak dapat semata-
mata dibuat hanya berdasarkan MRI karena ada penyakit lain
yang menyebabkan gambaran lesi atau kerusakan yang serupa.
Bisa juga ditemukan pada orang sehat terutama pada orang tua.
Di sisi lain hasil MRI yang normal tidak bisa mengesampingkan
diagnosis sklerosis multipel. Sekitar 5% pasien yang telah
dikonfirmasi menderita sklerosis multipel berdasarkan kriteria
diagnosis, tidak menunjukkan gambaran lesi pada MRI.
Pasien ini mungkin mempunyai lesi di tulang belakang atau
tidak dapat terdeteksi oleh MRI. MRI otak tidak dapat mem-
bedakan antara plak pada sklerosis multipel dan infark multi-
pel pada vaskulitis serebral atau arteriosklerosis. Meskipun
dilaporkan MRI memiliki sensitifitas 90-100% tetapi spesifisi-
tasnya rendah yaitu 57-80%. Bagaimanapun kebanyakan
penderita sklerosis multipel mempunyai lesi pada otak atau
tulang belakang yang dapat dideteksi dengan dengan MRI.
PEMERIKSAAN KLINIS
Riwayat Penyakit dan Tes Fungsi Saraf
Riwayat penyakit dahulu harus dicari dengan seksama yang
mungkin mengindikasikan penyakit sklerosis multipel. Jenis kelamin,
sejarah keluarga, dan umur pada saat awal gejala muncul juga
dipertimbangkan. Tes fungsi saraf mengevaluasi fungsi mental,
emosional, bahasa, koordinasi dan gerakan, penglihatan, ke-
seimbangan, dan fungsi pancaindra.
Tes lain yang mungkin perlu.
Jika diagnosis sklerosis multipel masih meragukan maka
diperlukan tes tambahan yaitu tes evoked potentials, cairan
serebrospinal dan tes darah.
Evoked potentials merekam respon listrik sistem saraf pada
perangsangan jalur sensorik spesifik misalnya pada jalur saraf
visual, pendengaran dan jalur sensorik umum; demielinisasi akan
menyebabkan respon saraf menjadi lambat. Tes ini menyediakan
bukti adanya scar pada jalur saraf yang tidak tampak pada uji
neurologi. Visual evoked potential paling bermanfaat untuk
mengkonfirmasi diagnosis sklerosis multipel. Analisis cairan
serebrospinal adalah untuk mengetahui tingkat protein tertentu
pada sistem imun dan untuk mencari adanya oligoclonal bands
yang mengindikasikan adanya respon imun di dalam susunan
saraf pusat. Oligoclonal bands ditemukan di dalam cairan spinal
90-95 % penderita sklerosis multipel, namun juga bisa terdapat
pada penyakit lain sehingga tidak dapat dijadikan bukti positif
sklerosis multipel. Meskipun tidak ada tes darah untuk mendiag-
nosis pasti sklerosis multipel, tes darah dapat mengesampingkan
penyebab lain. Beberapa kondisi yang menyerupai sklerosis
multipel adalah penyalit Lyme, penyakit kolagen vaskular,
kelainan herediter dan AIDS.
PENANGANAN
(7)
Penanganan sklerosis multipel bersifat simtomatik. Selama fase
akut pasien harus beristirahat, tetapi jangan sampai tirah baring
total. Hormon adrenokortikotropik atau glukokortikoid dipakai
selama fase akut untuk mempercepat remisi. Manfaat pengobatan
sulit dinilai karena sifat episodik penyakit dan kerjanya mungkin
tidak spesifik atau berdasarkan efek antiinflamasi. Agen-agen
imunosupresif dan plasmaferesis dilaporkan bermanfaat dalam
menstabilkan pasien dan memperlambat kerusakan. Pasien
mengalami perubahan dalam semua fungsinya penglihatan,
mobilitas dan koordinasi, nutrisi, kebersihan, dan komunikasi
sehingga dibutuhkan pendekatan tim perawatan kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Rincian Daftar Pustaka ada pada Redaksi.
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
411
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
412
TINJAUAN PUSTAKA
7. Bladder dan bowel syndrome (disfungsi kandung kemih).
Lesi traktus kortikospinalis sering menimbulkan gangguan
pengaturan sfingter sehingga timbul gangguan berkemih
berupa gangguan frekuensi dan urgensi yang menunjukkan
berkurangnya kapasitas kandung kemih yang spastis. Selain
itu juga timbul retensi akut dan inkontinensia.
8. Gangguan afek. Banyak pasien menderita euforia, perasaan
senang yang tidak realistik; diduga disebabkan terserangnya
substansia alba lobus frontalis.
9. Seksual; dapat terjadi impotensi, ejakulasi dini, serta kehilangan
sensasi.
10. Kognitif dan emosional : kehilangan memori sementara,
kehilangan konsentrasi, pertimbangan dan pemikiran.
Beberapa gejala dapat terlihat nyata tetapi yang lainnya
seperti kelelahan, pengurangan sensasi, masalah memori
dan konsentrasi sering tersembunyi.
PERJALANAN PENYAKIT
(4,8)
Bukan saja gejala sklerosis multipel yang bervariasi, perjalanan
penyakitnya pun juga demikian. Walaupun sebagian besar
penderita mengalami cacad ringan selama hidup mereka dapat
hidup normal dan mempunyai harapan hidup yang mendekati
normal, kasus tertentu dapat berkembang menjadi malignant.
Tipe perjalanan penyakit sklerosis multipel adalah:
1. Relapsing / Remitting Multiple Sclerosis
Kira-kira 80% pasien pada awalnya akan memperlihatkan
bentuk ini : ada serangan yang tidak dapat diprediksi berupa
gejala baru dan gejala yang sudah ada akan bertambah berat.
Serangan dapat terjadi dalam periode yang bervariasi
(hari/bulan) dan ada fase penyembuhan total atau sebagian.
Walaupun secara klinis tidak aktif selama beberapa bulan atau
tahun, studi MRI menunjukkan adanya aktivitas inflamasi yang
asimtomatis. Penyakit ini dari waktu ke waktu gejalanya akan
menjadi lebih berat dengan fase penyembuhan yang makin
singkat setelah setiap serangan. Hal ini terjadi karena gliosis dan
kehilangan akson secara berulang yang akan mempengaruhi
terjadinya plaque. Penderita MS kemudian akan masuk pada
fase progresif.
2. Secondary Progressive Multiple Sclerosis
Ditandai dengan progresivitas dan tidak berhubungan dengan
relaps. Kira-kira 50% pasien relapsing/remitting MS akan ber-
kembang menjadi secondary progressive MS dalam waktu 10
tahun dan 80% dalam 20 tahun setelah onset.
3. Primary Progressive Multiple Sclerosis
Menyerang sekitar 10-15 % pasien MS, ditandai dengan
ketiadaan serangan yang bervariasi, tetapi dengan onset yang
lambat dan mantap akan menyebabkan perburukan gejala.
Pada fase ini ada akumulasi defisit dan kecacatan dan akan
menetap atau berlanjut selama bertahun-tahun.
4. Benign Multiple Sclerosis
Diagnosis jenis ini adalah retrospektif. Studi lanjutan memperli-
hatkan bahwa sebagian besar pasien tipe ini akan secepatnya
masuk pada fase secondary progressive.
DIAGNOSIS
(9)
Gejala, tanda dan perjalanan penyakit dari sklerosis multipel
sangat bervariasi, menyerang bagian tubuh yang berbeda dan
dengan derajat yang berbeda-beda menimbulkan potensi mis-
diagnosis. Tidak ada tes yang langsung dapat membuktikan
sklerosis multipel. Diagnosis sklerosis multipel selalu didasarkan
pada gejala klinis. Besarnya variasi gejala, tanda dan perjalanan
penyakit sklerosis multipel menuntut adanya kriteria diagnosis.
Beberapa peneliti telah mengembangkan kriteria diagnosis yang
menggolongkan pasien ke dalam subkategori berdasarkan kepastian
diagnosis. Pada tahun 1965, Schumacher mengembangkan kriteria
diagnosis untuk sklerosis multipel; Diagnosis pasti sklerosis
multipel harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Tidak hanya memperlihatkan gejala tetapi juga harus
menunjukkan bukti obyektif keterlibatan susunan saraf pusat.
2. Mempunyai riwayat yang mengindikasikan dua atau lebih
lesi terpisah pada susunan saraf pusat.
3. Mempunyai tanda, terutama pada substansia alba
(keterlibatan traktus motorik dan sensorik).
4. Mengalami sedikitnya dua kali relaps pada satu bulan
terpisah dan lamanya sedikitnya 24 jam.
5. Telah mengalami gejala antara usia 10 - 50 tahun
6. Telah diuji oleh ahli saraf yang kompeten yang menyimpulkan
bahwa tidak ada penjelasan lain untuk gejala dan tanda tersebut.
Pada tahun 1983, Poser mengklasifikasikannya menjadi 4
kategori yaitu:
1. Clinically
definite
multiple
sclerosis
Terbukti dari riwayat penyakit dan pemeriksaan neurologi
terdapat lebih dari satu lesi dan dua episode gejala dari satu
lesi dan bukti lesi pada MRI atau evoked potential.
2. Laboratory supported definite multiple sclerosis
Terbukti ada dua lesi dari riwayat penyakit dan pemeriksaan
neurologi. Jika hanya satu lesi yang terbukti maka lesi lain ter-
bukti dari MRI atau evoked potential dan kadar Ig G abnormal
3. Clinically
probable
multiple
sclerosis
Jika hanya dari pemeriksaan atau anamnesis dan bukan dari
keduanya, terbukti ada lebih dari satu lesi. Jika hanya terbukti
satu lesi dari anamnesis dan hanya satu dari pemeriksaan
neurologi,
evoked potential atau adanya bukti pada MRI dan
pemeriksaan Ig G CSF normal.
4. Laboratory supported probable
Saat ini pedoman kriteria diagnosis sklerosis multipel yang
diterima dan digunakan secara luas adalah kriteria Mc.Donald.
Kriteria ini menyajikan petunjuk spesifik menggunakan penemuan
MRI, analisis cairan serebrospinal dan visual evoked potential
sebagai bukti serangan kedua pada individu yang telah mempunyai
episode demyelinating tunggal (yang disebut clinically isolated
syndrome); dengan demikian dapat mengkonfirmasikan hasil
diagnosis dengan cepat. Petunjuk ini juga memudahkan proses
diagnostik pada pasien dengan progresivitas kecacatan yang
mantap tanpa serangan yang bervariasi.
Pada tahun 2005 panel internasional untuk diagnosis sklerosis
multipel mengemukakan revisi kriteria McDonald. Fokusnya
pada demonstrasi obyektif penyebaran lesi. MRI diintegrasikan
dengan metode diagnosis klinis dan paraklinis lainnya. Kriteria
revisi ini memudahkan diagnosis sklerosis multipel pada pasien
dengan gejala yang bervariasi termasuk penyakit monosimp-
tomatik yang mengarah ke sklerosis multipel, penyakit dengan
tipe relapsing-remitting, dan penyakit dengan progresivitas yang
tersembunyi tanpa serangan yang jelas dan tanpa remisi. Termi-
nologi sebelumnya menggunakan kriteria diagnosis seperti
sklerosis multipel definite dan sklerosis multipel probable, saat ini
sudah tidak direkomendasikan lagi.
(10)
Magnetic Resonance Imaging (MRI)
(11)
MRI adalah metode pencitraan (imaging) yang disukai untuk
mendeteksi adanya plaque atau scar yag disebabkan oleh sklerosis
multipel. Teknologi ini dapat mendeteksi lesi yang berbeda di
susunan saraf pusat dan membedakan lesi lama dari yang baru
atau aktif. Namun diagnosis sklerosis multipel tidak dapat semata-
mata dibuat hanya berdasarkan MRI karena ada penyakit lain
yang menyebabkan gambaran lesi atau kerusakan yang serupa.
Bisa juga ditemukan pada orang sehat terutama pada orang tua.
Di sisi lain hasil MRI yang normal tidak bisa mengesampingkan
diagnosis sklerosis multipel. Sekitar 5% pasien yang telah
dikonfirmasi menderita sklerosis multipel berdasarkan kriteria
diagnosis, tidak menunjukkan gambaran lesi pada MRI.
Pasien ini mungkin mempunyai lesi di tulang belakang atau
tidak dapat terdeteksi oleh MRI. MRI otak tidak dapat mem-
bedakan antara plak pada sklerosis multipel dan infark multi-
pel pada vaskulitis serebral atau arteriosklerosis. Meskipun
dilaporkan MRI memiliki sensitifitas 90-100% tetapi spesifisi-
tasnya rendah yaitu 57-80%. Bagaimanapun kebanyakan
penderita sklerosis multipel mempunyai lesi pada otak atau
tulang belakang yang dapat dideteksi dengan dengan MRI.
PEMERIKSAAN KLINIS
Riwayat Penyakit dan Tes Fungsi Saraf
Riwayat penyakit dahulu harus dicari dengan seksama yang
mungkin mengindikasikan penyakit sklerosis multipel. Jenis kelamin,
sejarah keluarga, dan umur pada saat awal gejala muncul juga
dipertimbangkan. Tes fungsi saraf mengevaluasi fungsi mental,
emosional, bahasa, koordinasi dan gerakan, penglihatan, ke-
seimbangan, dan fungsi pancaindra.
Tes lain yang mungkin perlu.
Jika diagnosis sklerosis multipel masih meragukan maka
diperlukan tes tambahan yaitu tes evoked potentials, cairan
serebrospinal dan tes darah.
Evoked potentials merekam respon listrik sistem saraf pada
perangsangan jalur sensorik spesifik misalnya pada jalur saraf
visual, pendengaran dan jalur sensorik umum; demielinisasi akan
menyebabkan respon saraf menjadi lambat. Tes ini menyediakan
bukti adanya scar pada jalur saraf yang tidak tampak pada uji
neurologi. Visual evoked potential paling bermanfaat untuk
mengkonfirmasi diagnosis sklerosis multipel. Analisis cairan
serebrospinal adalah untuk mengetahui tingkat protein tertentu
pada sistem imun dan untuk mencari adanya oligoclonal bands
yang mengindikasikan adanya respon imun di dalam susunan
saraf pusat. Oligoclonal bands ditemukan di dalam cairan spinal
90-95 % penderita sklerosis multipel, namun juga bisa terdapat
pada penyakit lain sehingga tidak dapat dijadikan bukti positif
sklerosis multipel. Meskipun tidak ada tes darah untuk mendiag-
nosis pasti sklerosis multipel, tes darah dapat mengesampingkan
penyebab lain. Beberapa kondisi yang menyerupai sklerosis
multipel adalah penyalit Lyme, penyakit kolagen vaskular,
kelainan herediter dan AIDS.
PENANGANAN
(7)
Penanganan sklerosis multipel bersifat simtomatik. Selama fase
akut pasien harus beristirahat, tetapi jangan sampai tirah baring
total. Hormon adrenokortikotropik atau glukokortikoid dipakai
selama fase akut untuk mempercepat remisi. Manfaat pengobatan
sulit dinilai karena sifat episodik penyakit dan kerjanya mungkin
tidak spesifik atau berdasarkan efek antiinflamasi. Agen-agen
imunosupresif dan plasmaferesis dilaporkan bermanfaat dalam
menstabilkan pasien dan memperlambat kerusakan. Pasien
mengalami perubahan dalam semua fungsinya penglihatan,
mobilitas dan koordinasi, nutrisi, kebersihan, dan komunikasi
sehingga dibutuhkan pendekatan tim perawatan kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Rincian Daftar Pustaka ada pada Redaksi.