CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
251
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
252
TINJAUAN PUSTAKA
PENDAHULUAN
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menye-
babkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) suatu
kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh menurunnya
imunitas tubuh dan dapat berujung pada kematian. Manifestasi
klinis utama dari AIDS adalah imunodefisiensi didapat (acquired
immunodeficiency) disertai infeksi oportunistik seperti skabies
generalisata, kandidiasis oral berat, herpes simpleks rekuren, dan
penyakit infeksi berat lain yang pada orang immunokompeten
hanya menimbulkan manifestasi klinis ringan; keganasan (Sarkoma
Kaposi, Non Hodgkin Lymphoma)
1
; wasting syndrome
2
; dan
progressive encephalopathy
3
.
Infeksi HIV telah menyebar ke seluruh dunia mencapai 33 juta
penderita (30-36 juta), prevalensi terbanyak di benua Afrika
bagian selatan. Meskipun selama ini sudah dilakukan pencega-
han dengan beberapa program penyuluhan, seperti: memper-
baiki perilaku seksual dan penggunaan obat-obat terlarang;
promosi penggunaan kondom; meningkatkan penanganan
penyakit menular seksual; mempromosikan sirkumsisi medis
pada pria dan masih banyak usaha pencegahan lain, namun
jumlah penderita infeksi HIV ini terus meningkat. Tahun 2007,
dua juta orang meninggal karena infeksi HIV.
4
Upaya preventif lain untuk menghentikan epidemi HIV yang
sedang dikembangkan adalah vaksin. Vaksinasi terbukti telah
berhasil menurunkan morbiditas dan mortalitas infeksi campak,
difteri, pertusis, tetanus, dan beberapa infeksi lain, bahkan
mampu membebaskan dunia dari infeksi cacar.
5
Melalui vaksin
kita memasukkan kuman atau bagian dari kuman agar dapat
menginduksi sistem imun tubuh, sehingga terbentuk memori.
Jika di kemudian hari terpapar patogen yang sama, maka tubuh
akan dengan cepat mengeliminasi patogen tersebut.
5,6
Melihat keberhasilan vaksin di atas, timbul harapan yang besar
untuk dapat menemukan vaksin HIV yang efektif. Mungkinkah
vaksin juga dapat mengeradikasi HIV? Sampai di mana usaha
yang sudah dilakukan untuk menemukan vaksin yang efektif untuk
HIV? Berapa lama lagi kita bisa mendapatkan vaksin tersebut?
Hal ini yang akan dibahas lebih lanjut dalam sari pustaka ini.
KLASIFIKASI DAN ANATOMI HIV
HIV merupakan virus RNA, termasuk famili retroviridae dan
genus lentivirus. HIV dibagi menjadi dua tipe, yaitu HIV-1 dan
HIV-2(virologi). HIV-1 dibagi lagi menjadi 3 grup, dan 10 subtipe
(clade). (Gb.1) Sebanyak 90% dari infeksi HIV yang terjadi di
dunia ini berasal dari HIV-1 Clade B.
7,8
HIV-1 berdiameter kira-kira 100-150 nm, terdiri dari membran
lipid, protein envelope gp-120, protein transmembran gp-41,
protein matriks (p17), kapsid (p24) dan nukleokapsid (p7). (Gb.2)
Di dalam kapsid terdapat dua kopi genom RNA rantai tunggal
dan enzim-enzim yang diperlukan saat virus bereplikasi dalam sel
pejamu (reverse transcriptase, integrase, dan protease). RNA rantai
tunggal HIV berisi gen yang mengkode rangkaian protein struktural
(gag, pol, dan env) dan protein non struktural atau dikenal sebagai
regulator [tat, rev, nef, vpr, vpu (atau vpx di HIV-2) dan vif].
5,8,9
Bagian HIV yang bersifat imunogen dan dapat dijadikan
bahan pembuat vaksin
Sejauh ini para ahli hanya mampu memanfaatkan protein-
protein tertentu sebagai antigen untuk menginduksi respon
seluler dan humoral dari adaptive immunity. Protein-protein
tersebut antara lain: bagian envelope (gp 120, gp 41, dan gp
160) yang dapat menginduksi sistem imun humoral dan isi
capsid (gag, pol, dan nef) yang diharapkan menginduksi sistem
imun seluler.
10,11
CARA KERJA VAKSIN HIV
1. Vaksin HIV yang menginduksi imunitas humoral
Vaksin HIV dikembangkan dalam bentuk rekombinan dari struktur
gp120 maupun dari protein prekursor gp160 sebagai imunogen
dalam pembuatan vaksin. Hipotesis yang mendasari adalah
antibodi yang dibentuk terhadap struktur protein permukaan
akan mengikat, menetralisir, dan membersihkan partikel HIV,
sebelum infeksi terjadi.
15
Gambar 3 adalah gambar protein
permukaan HIV yang akan menempel pada permukaan sel B. Sel
B kemudian teraktivasi, berdiferensiasi menjadi sel plasma yang
menghasilkan antibodi spesifik terhadap HIV. Penempelan
protein permukaan HIV pada reseptor sel T helper CD4+ akan
merangsang aktivasi sel B sehingga menghasilkan antibodi.
16
Salah satu ujicoba untuk vaksin yang menginduksi imunitas
humoral ini adalah Vax 004 yang dilakukan pada tahun 1998-
1999. Tujuan utama adalah untuk menentukan efikasi vaksin
rgp 120. Hasilnya efikasi vaksin ternyata tidak bermakna, yakni
sebesar 6 (95% IK; -17 - 24). Artinya vaksin tidak dapat mengu-
rangi risiko infeksi pada resipien.
Hal menarik yang didapatkan pada ujicoba ini adalah jika
resipien dikelompokkan berdasarkan ras dan risiko infeksi, maka
vaksin rgp 120 dapat menunjukkan efikasi yang bermakna pada
kelompok resipien ras non white, dengan efikasi vaksin sebesar
43 (KI 95% 12 - 68) dan pada kelompok resipien dengan risiko
terinfeksi HIV yang tinggi, dengan efikasi vaksin sebesar 43
(95%IK 4 - 66).
Ada empat kemungkinan yang menjelaskan tentang keadaan
ini. (1) Hasil ini merupakan variasi statistik, oleh karena itu tidak
menggambarkan pola efikasi vaksin sebenarnya. (2) Adanya
ketidakseimbangan risiko infeksi karena perbedaan perilaku,
faktor pejamu, dan faktor virologik. Misalnya ternyata pada
kelompok plasebo paparan terhadap HIV-1 lebih besar daripada
kelompok vaksin. (3) Adanya sinergi antara respon imun yang
diinduksi vaksin dan respon imun natural karena paparan yang
sering terhadap HIV-1 tanpa menyebabkan infeksi. (4) Perbe-
daan biologis, misalnya perbedaan respon imun atau perbedaan
marker genetik untuk resistensi terhadap infeksi HIV.
17
2. Vaksin HIV yang menginduksi imunitas seluler
Limfosit T sitotoksik CD8+ merupakan efektor kunci dari imuni-
tas seluler, yang dapat mengenal peptida virus yang terikat pada
molekul Major Histocompatibility Complex (MHC) di permukaan
sel yang terinfeksi virus15 Saat ini sudah terdapat banyak peneli-
tian yang mendukung pentingnya respon imun yang dimediasi
sel T pada kontrol infeksi HIV pada manusia dan SIV pada
primata non manusia (Gb.4).
Gambar 4. Pengaruh CD8 pada SIV
Vaksin HIV: Harapan atau Khayalan?
Evelyn Phangkawira, Kiki MK Samsi
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Tarumanagara,
Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta, Indonesia
ABSTRAK
Untuk mencegah epidemi HIV, sudah banyak usaha yang dilakukan. Salah satunya adalah pembuatan
vaksin. Sampai saat ini sudah banyak vaksin HIV yang melalui uji coba klinis, baik fase I, fase II, dan
fase III sebelum dipasarkan. Artikel ini membahas tantangan dalam pembuatan vaksin HIV,
beberapa vaksin HIV yang sudah diujicobakan, dan hasil uji coba tersebut.
Gambar 1.
Gambar 2.
Gambar 3. Mekanisme induksi imunitas humoral oleh vaksin
Disadur dari Markel, 2005
16
Keterangan : Gambar ini menunjukkan T sitotoksik (CD8) dalam mengontrol viremia
Simian Immunodeficiency Virus (SIV). Pada macaques yang terinfeksi SIV diberikan
antibodi monoklonal spesifik terhadap sel CD8, yang menyebabkan penurunan
sementara jumlah sel CD8 <5% dibandingkan sebelum diberikan antibodi. Selama
periode ini, peran penting limfosit level viremia meningkat pada kedua kelompok
monyet. Dengan penghentian pemberian antibodi, level CD8 meningkat kembali,
dan level viremia kembali turun. (Gambar dikutip dari Nathanson N, 2000
18
)
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
251
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
252
TINJAUAN PUSTAKA
PENDAHULUAN
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menye-
babkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) suatu
kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh menurunnya
imunitas tubuh dan dapat berujung pada kematian. Manifestasi
klinis utama dari AIDS adalah imunodefisiensi didapat (acquired
immunodeficiency) disertai infeksi oportunistik seperti skabies
generalisata, kandidiasis oral berat, herpes simpleks rekuren, dan
penyakit infeksi berat lain yang pada orang immunokompeten
hanya menimbulkan manifestasi klinis ringan; keganasan (Sarkoma
Kaposi, Non Hodgkin Lymphoma)
1
; wasting syndrome
2
; dan
progressive encephalopathy
3
.
Infeksi HIV telah menyebar ke seluruh dunia mencapai 33 juta
penderita (30-36 juta), prevalensi terbanyak di benua Afrika
bagian selatan. Meskipun selama ini sudah dilakukan pencega-
han dengan beberapa program penyuluhan, seperti: memper-
baiki perilaku seksual dan penggunaan obat-obat terlarang;
promosi penggunaan kondom; meningkatkan penanganan
penyakit menular seksual; mempromosikan sirkumsisi medis
pada pria dan masih banyak usaha pencegahan lain, namun
jumlah penderita infeksi HIV ini terus meningkat. Tahun 2007,
dua juta orang meninggal karena infeksi HIV.
4
Upaya preventif lain untuk menghentikan epidemi HIV yang
sedang dikembangkan adalah vaksin. Vaksinasi terbukti telah
berhasil menurunkan morbiditas dan mortalitas infeksi campak,
difteri, pertusis, tetanus, dan beberapa infeksi lain, bahkan
mampu membebaskan dunia dari infeksi cacar.
5
Melalui vaksin
kita memasukkan kuman atau bagian dari kuman agar dapat
menginduksi sistem imun tubuh, sehingga terbentuk memori.
Jika di kemudian hari terpapar patogen yang sama, maka tubuh
akan dengan cepat mengeliminasi patogen tersebut.
5,6
Melihat keberhasilan vaksin di atas, timbul harapan yang besar
untuk dapat menemukan vaksin HIV yang efektif. Mungkinkah
vaksin juga dapat mengeradikasi HIV? Sampai di mana usaha
yang sudah dilakukan untuk menemukan vaksin yang efektif untuk
HIV? Berapa lama lagi kita bisa mendapatkan vaksin tersebut?
Hal ini yang akan dibahas lebih lanjut dalam sari pustaka ini.
KLASIFIKASI DAN ANATOMI HIV
HIV merupakan virus RNA, termasuk famili retroviridae dan
genus lentivirus. HIV dibagi menjadi dua tipe, yaitu HIV-1 dan
HIV-2(virologi). HIV-1 dibagi lagi menjadi 3 grup, dan 10 subtipe
(clade). (Gb.1) Sebanyak 90% dari infeksi HIV yang terjadi di
dunia ini berasal dari HIV-1 Clade B.
7,8
HIV-1 berdiameter kira-kira 100-150 nm, terdiri dari membran
lipid, protein envelope gp-120, protein transmembran gp-41,
protein matriks (p17), kapsid (p24) dan nukleokapsid (p7). (Gb.2)
Di dalam kapsid terdapat dua kopi genom RNA rantai tunggal
dan enzim-enzim yang diperlukan saat virus bereplikasi dalam sel
pejamu (reverse transcriptase, integrase, dan protease). RNA rantai
tunggal HIV berisi gen yang mengkode rangkaian protein struktural
(gag, pol, dan env) dan protein non struktural atau dikenal sebagai
regulator [tat, rev, nef, vpr, vpu (atau vpx di HIV-2) dan vif].
5,8,9
Bagian HIV yang bersifat imunogen dan dapat dijadikan
bahan pembuat vaksin
Sejauh ini para ahli hanya mampu memanfaatkan protein-
protein tertentu sebagai antigen untuk menginduksi respon
seluler dan humoral dari adaptive immunity. Protein-protein
tersebut antara lain: bagian envelope (gp 120, gp 41, dan gp
160) yang dapat menginduksi sistem imun humoral dan isi
capsid (gag, pol, dan nef) yang diharapkan menginduksi sistem
imun seluler.
10,11
CARA KERJA VAKSIN HIV
1. Vaksin HIV yang menginduksi imunitas humoral
Vaksin HIV dikembangkan dalam bentuk rekombinan dari struktur
gp120 maupun dari protein prekursor gp160 sebagai imunogen
dalam pembuatan vaksin. Hipotesis yang mendasari adalah
antibodi yang dibentuk terhadap struktur protein permukaan
akan mengikat, menetralisir, dan membersihkan partikel HIV,
sebelum infeksi terjadi.
15
Gambar 3 adalah gambar protein
permukaan HIV yang akan menempel pada permukaan sel B. Sel
B kemudian teraktivasi, berdiferensiasi menjadi sel plasma yang
menghasilkan antibodi spesifik terhadap HIV. Penempelan
protein permukaan HIV pada reseptor sel T helper CD4+ akan
merangsang aktivasi sel B sehingga menghasilkan antibodi.
16
Salah satu ujicoba untuk vaksin yang menginduksi imunitas
humoral ini adalah Vax 004 yang dilakukan pada tahun 1998-
1999. Tujuan utama adalah untuk menentukan efikasi vaksin
rgp 120. Hasilnya efikasi vaksin ternyata tidak bermakna, yakni
sebesar 6 (95% IK; -17 - 24). Artinya vaksin tidak dapat mengu-
rangi risiko infeksi pada resipien.
Hal menarik yang didapatkan pada ujicoba ini adalah jika
resipien dikelompokkan berdasarkan ras dan risiko infeksi, maka
vaksin rgp 120 dapat menunjukkan efikasi yang bermakna pada
kelompok resipien ras non white, dengan efikasi vaksin sebesar
43 (KI 95% 12 - 68) dan pada kelompok resipien dengan risiko
terinfeksi HIV yang tinggi, dengan efikasi vaksin sebesar 43
(95%IK 4 - 66).
Ada empat kemungkinan yang menjelaskan tentang keadaan
ini. (1) Hasil ini merupakan variasi statistik, oleh karena itu tidak
menggambarkan pola efikasi vaksin sebenarnya. (2) Adanya
ketidakseimbangan risiko infeksi karena perbedaan perilaku,
faktor pejamu, dan faktor virologik. Misalnya ternyata pada
kelompok plasebo paparan terhadap HIV-1 lebih besar daripada
kelompok vaksin. (3) Adanya sinergi antara respon imun yang
diinduksi vaksin dan respon imun natural karena paparan yang
sering terhadap HIV-1 tanpa menyebabkan infeksi. (4) Perbe-
daan biologis, misalnya perbedaan respon imun atau perbedaan
marker genetik untuk resistensi terhadap infeksi HIV.
17
2. Vaksin HIV yang menginduksi imunitas seluler
Limfosit T sitotoksik CD8+ merupakan efektor kunci dari imuni-
tas seluler, yang dapat mengenal peptida virus yang terikat pada
molekul Major Histocompatibility Complex (MHC) di permukaan
sel yang terinfeksi virus15 Saat ini sudah terdapat banyak peneli-
tian yang mendukung pentingnya respon imun yang dimediasi
sel T pada kontrol infeksi HIV pada manusia dan SIV pada
primata non manusia (Gb.4).
Gambar 4. Pengaruh CD8 pada SIV
Vaksin HIV: Harapan atau Khayalan?
Evelyn Phangkawira, Kiki MK Samsi
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Tarumanagara,
Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta, Indonesia
ABSTRAK
Untuk mencegah epidemi HIV, sudah banyak usaha yang dilakukan. Salah satunya adalah pembuatan
vaksin. Sampai saat ini sudah banyak vaksin HIV yang melalui uji coba klinis, baik fase I, fase II, dan
fase III sebelum dipasarkan. Artikel ini membahas tantangan dalam pembuatan vaksin HIV,
beberapa vaksin HIV yang sudah diujicobakan, dan hasil uji coba tersebut.
Gambar 1.
Gambar 2.
Gambar 3. Mekanisme induksi imunitas humoral oleh vaksin
Disadur dari Markel, 2005
16
Keterangan : Gambar ini menunjukkan T sitotoksik (CD8) dalam mengontrol viremia
Simian Immunodeficiency Virus (SIV). Pada macaques yang terinfeksi SIV diberikan
antibodi monoklonal spesifik terhadap sel CD8, yang menyebabkan penurunan
sementara jumlah sel CD8 <5% dibandingkan sebelum diberikan antibodi. Selama
periode ini, peran penting limfosit level viremia meningkat pada kedua kelompok
monyet. Dengan penghentian pemberian antibodi, level CD8 meningkat kembali,
dan level viremia kembali turun. (Gambar dikutip dari Nathanson N, 2000
18
)
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
253
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
254
TINJAUAN PUSTAKA
Salah satu vaksin yang menginduksi imunitas seluler adalah
vaksin MRKAd5 HIV-1 gag/pol/nef Vaccine yang ujicobanya
disebut STEP Trial. Vaksin ini menggunakan adenovirus 5 sebagai
vektor, yang di dalamnya membawa gen gag, pol, dan nef dari
HIV-1. Tujuan utama STEP trial adalah menentukan efikasi vaksin.
Hasilnya menunjukkan laju infeksi HIV pada kelompok resipien
vaksin dan plasebo ternyata sama tinggi (sebesar 3%). Artinya,
vaksin tidak menurunkan laju infeksi HIV.
Yang menarik dari penelitian ini adalah setelah sukarelawan
dikelompokkan berdasarkan data demografik ternyata terdapat
peningkatan risiko terinfeksi HIV pada orang yang seropositif
Adenovirus 5 [Hazard Ratio (vaksin:placebo): 2,3 (95% IK 1,2 -
4,3)] dibanding yang seronegatif [Hazard Ratio (vaksin:placebo):
1 (95% IK 0,5 - 1,9)]. Begitu juga untuk kelompok yang tidak
disirkumsisi [Hazard Ratio (vaksin:placebo): 3,8 (95% IK 1,5 - 9,3)],
risiko terinfeksi HIV ternyata lebih tinggi daripada kelompok
yang tidak disirkumsisi [Hazard Ratio (vaksin:plasebo): 1 (95% IK
0,6 - 1,7)].
19
3. Vaksin HIV yang menginduksi imunitas humoral dan seluler
Melihat kegagalan vaksin yang sudah diujicobakan, timbul
pemikiran bahwa vaksin yang dikatakan berhasil mungkin harus
dapat menginduksi baik broadly neutralizing antibodies dan
limfosit T sitotoksik.
20
Hipotesisnya: antibodi yang dibentuk akan
mengikat, menetralisir partikel HIV sebelum infeksi. Selain itu
dapat menetralisir virion yang baru diproduksi dan menyebab-
kan lisis sel-sel yang terinfeksi (gb.5). Limfosit T sitotoksik
berfungsi saat sel sudah terinfeksi dengan mengenal protein
virus yang sudah diproses yang dipresentasikan di HLA kelas I di
permukaan sel melalui reseptor sel T dari limfosit T sitotoksik.
Koordinasi limfosit T sitotoksik dan respon antibodi penetralisir
dimediasi oleh sel T helper CD4+.
21
Gambar 5. Respon imun seluler dan humoral terhadap infeksi HIV
(Disadur dari Walker, 2008
21)
Salah satu contoh vaksin yang menginduksi imunitas seluler dan
humoral adalah vaksin ALVAC yang dikombinasikan dengan
AIDSVAX. Vaksin ALVAC mengandung vektor canarypox yang
membawa gen gag, pol, dan nef sebagai imunogen. Vaksin
AIDSVAX berisi rekombinan glikoprotein 120. Tujuan utama
ujicoba terhadap vaksin ini adalah untuk menentukan apakah
kandidat vaksin tersebut berhasil menginduksi jumlah limfosit T
sitotoksik hingga mencapai target, yaitu sebesar 30% agar dapat
memastikan adanya korelasi imunitas yang diinduksi vaksin
dengan proteksi terhadap infeksi.
Dari penelitian ini didapatkan bahwa pemberian rgp 120 tidak
meningkatkan respon antibodi spesifik secara bermakna. Respon
limfosit T sitotoksik juga tidak mencapai target yang menunjuk-
kan adanya korelasi imunitas, yaitu di bawah 30%.
Saat ini satu-satunya ujicoba vaksin HIV skala besar yang masih
berlangsung dilakukan di Thailand, yang diujicobakan adalah
vaksin vektor canarypox yang mirip dengan rekombinan vCP205
(vCP1521) berisi gen env subtipe E. Ujicoba ini dimulai pada
tahun 2003 dan diharapkan selesai pada bulan Juli 2009.
14
TANTANGAN DALAM PEMBUATAN VAKSIN HIV
Dibandingkan dengan pembuatan vaksin untuk virus-virus lain,
vaksin HIV begitu sulit ditemukan karena HIV merupakan virus
yang memiliki banyak faktor penyulit yang menjadi tantangan
besar untuk para pembuat vaksin. Hal tersebut antara lain:
Banyaknya strain yang berbeda; infeksi dari sel sistem imun;
penghindaran dari sistem imun dengan menutupi epitop untuk
netralisasi, menurunkan ekspresi MHC, mutasi virus, sehingga
dapat lolos dari sistem imun, mekanisme counter immunoregu-
latori; dan latensi.
HIV merupakan virus dengan banyak sekali strain berbeda. Keadaan
ini disebabkan oleh 2 hal. Pertama, enzim reverse transcriptase
kehilangan kemampuan proofreading, yaitu kemampuan untuk
memastikan akurasi transkrip DNA yang dihasilkan, sehingga
mutasi pada RNA berlangsung terus menerus. Jika pada setiap
siklus replikasi terjadi kira-kira 3,4 x 10
-5
mutasi, genom HIV
mempunyai 10
4
pasang basa, dan virus yang dihasilkan setiap
harinya kira-kira 10
10
virion, maka dalam satu hari saja dapat
dihasilkan jutaan varian HIV hanya dari satu orang yang terinfeksi.
Kedua, koinfeksi virus pada satu pejamu juga dapat menghasil-
kan variasi virus baru jika kedua virus tersebut bermultiplikasi
pada sel yang sama.
21,22
Karena terdapat banyak sekali variasi
strain, maka dibutuhkan vaksin yang dapat menginduksi sistem
imun yang memberikan proteksi terhadap semua variasi tersebut.
Hal ini merupakan tantangan terbesar dari pembutan vaksin.
Masalah selanjutnya yang menyulitkan adalah HIV menginfeksi
sel-sel yang merupakan bagian dari sistem imun. Target utama
HIV adalah sel-sel yang mempunyai CD4+, terutama sel T helper
yang penting dalam meningkatkan kerja adaptive immunity.
Sel-sel lain yang dapat terinfeksi HIV adalah sel dendritik, sel
makrofag, sel Natural Killer, yang semuanya merupakan bagian
dari sistem imun tubuh. Contohnya adalah infeksi terhadap sel T
CD4+. Dalam beberapa hari setelah terpapar, akan terjadi infeksi
berat dan penurunan jumlah sel T CD4+ memori, terutama di
gut associated lymphoid tissue. Sel T CD4+ memori sangat
diperlukan untuk mengatur respons imun agar menjadi efektif.
Kehilangan sel-sel tersebut mengakibatkan gangguan imunitas
pada awal infeksi HIV.
Selanjutnya, translokasi bakteri melalui mukosa intestinal yang
rusak akan meningkatkan aktivasi sel T CD4+ dan memfasilitasi
replikasi virus karena replikasi paling efisien terjadi pada sel yang
teraktivasi.
Tantangan yang lain, ternyata HIV mempunyai strategi untuk
menghindari eliminasi sistem imun. Salah satunya adalah protein
nef dapat menurunkan ekspresi Major Histocompatibility Complex
(MHC). MHC merupakan glikoprotein yang diekspresikan di
permukaan sel, yang berfungsi mempresentasikan fragmen
peptida dari HIV setelah antigen didegradasi di dalam sel. Sel T
akan mengenali sel yang terinfeksi melalui fragmen peptida
yang dipresentasikan oleh MHC. Jadi karena penurunan ekspresi
MHC, sel T akan sulit mengenali sel yang sudah terinfeksi.
Akibatnya HIV dapat terus berkembang biak dalam sel pejamu.
Mekanisme lain adalah protein permukaan envelope yang menun-
jukkan bermacam-macam gambaran untuk menghindari antibodi.
HIV juga cepat menjadi reservoir laten di limfosit yang terinfeksi
dengan melakukan integrasi ke dalam materi genetik kromosom
pejamu. Ini juga merupakan salah satu tantangan berat selain variasi
strain karena selain proses di dalam sel tidak dapat dikenali oleh
limfosit T sitotoksik, proses ini ireversibel dan terjadi segera setelah
infeksi. Virus akan diam di reservoir laten, saat sel menjadi aktif,
partikel virus yang infeksius akan diproduksi lagi. Jika reservoir
telah terbentuk, infeksi akan terus menerus berlangsung, dan
medikasi anti HIV juga tidak dapat mengatasi keadaan ini.
20,21
Mengingat pintarnya HIV dan sulitnya tubuh kita mengeradikasi
virus ini, vaksin harus diusahakan dapat mengenal variasi virus
yang sangat luas dan bekerja cepat sebelum virus tersebut
menjadi reservoir laten di sel pejamu. Jika ini gagal, perlu dipikir-
kan cara meningkatkan respon imun natural yang dapat mence-
gah destruksi semua sel CD4 dan secara imunologis menekan
jumlah virus pada orang yang terinfeksi. Tantangan yang banyak
ini semakin sulit karena pengertian kita tentang respon imun
yang mengontrol replikasi HIV masih sangat kurang.
21
Penyebab kegagalan vaksin yang menginduksi imunitas
humoral
Penyebab kegagalan vaksin yang menginduksi imunitas humoral
adalah kesulitan dalam mendapatkan imunogen yang dapat
menginduksi broadly neutralizing antibodies (bNAbs). Bagian dari
gp 120 yang diharapkan dapat menginduksi bNAbs tertutup oleh
struktur karbohidrat yang tebal. Usaha untuk tetap mendapatkan
imunogen ini adalah dengan membuang bagian hipervariabel
sehingga didapatkan struktur yang stabil. Perubahan bagian hiper-
variabel ini menyebabkan turunnya imunogenitas vaksin jika di-
bandingkan dengan penggunaan protein utuh. Akibatnya, kadar
antibodi penetralisir yang dihasilkan menjadi rendah. Selain itu,
struktur permukaan luar virus (envelope) tidak stabil, sehingga
sulit untuk membentuk rekombinannya.
11,21
Masalah lain adalah respons antibodi penetralisir yang diinduksi
vaksin hanya spesifik untuk strain yang dipakai dalam pembuatan
vaksin, tidak efektif untuk HIV diisolasi secara primer dari infeksi
natural. Padahal terdapat banyak sekali variasi strain HIV; satu
individu bisa menghasilkan jutaan variasi virus baru. Jika antibodi
yang dihasilkan hanya efektif untuk strain dari vaksin, maka
pemberian vaksin menjadi tidak efektif.
11,21
Oleh karena itu, para vaksinologis berpendapat bahwa tidak
mungkin menginduksi imunitas humoral yang dapat mensterilkan
HIV tanpa adanya terobosan-terobosan baru dalam pengetahuan
dasar tentang HIV
21
Penyebab kegagalan vaksin yang menginduksi imunitas
seluler
Vaksin yang diujicobakan ternyata gagal memberikan efek
proteksi terhadap infeksi HIV. Hal ini terlihat pada sukarelawan
yang seropositif terhadap adenovirus
5
.
Mekanisme peningkatan angka infeksi HIV pada sukarelawan
seropositif Ad5 ternyata kompleks. Sel T helper CD4+ terdiri dari
sel T helper 1 dan sel T helper 2. Sel T helper 1 akan meningkat-
kan kerja sistem imun seluler, sedangkan sel T helper 2 mening-
katkan sistem imun humoral. Sel T helper bekerja dalam keseim-
bangan. Jika kerja sel T helper 1 meningkat, maka kerja sel T
helper 2 akan menurun.
Pada para sukarelawan yang sebelumnya pernah terinfeksi
Adenovirus5, jika diberikan paparan ulang terhadap virus yang
sama akan menunjukkan respons imunitas humoral terhadap
vektor
19
yang lebih kuat, sehinggal respons imunitas seluler akan
melemah.
23
Infeksi Adenovirus 5 terjadi melalui nasofaring atau usus, dan
virus dapat persisten di permukaan mukosa selama beberapa
tahun, cenderung menginfeksi limfosit yang ada di mukosa.
Sukarelawan seropositif Ad5 yang menerima vaksin akan menun-
jukkan respons imun yang ditujukan ke permukaan mukosa. Hal
ini tidak terjadi pada sukarelawan seronegatif. Sampai saat ini
sedang diteliti, apakah respons imun yang terjadi di mukosa ini
dapat meningkatkan risiko terinfeksi HIV.
19
Masalah lain terletak pada pemeriksaan respons imunitas seluler
yang digunakan pada penelitian ini. Respon limfosit T sitotoksik
dinilai dengan INF-_ ELISpot Assay, yang ternyata kemampuan-
nya untuk menilai fungsi aktivitas antivirus kurang dibandingkan
pemeriksaan langsung terhadap aktivitas antivirus, seperti cytotoxic
killing of cell by CTL. Tidak hanya gagal dalam menilai fungsi
sitotoksik T limfosit secara langsung, pemeriksaan ini juga meng-
gunakan peptide-pulsed cells yang berarti bahwa langkah-langkah
yang perlu dalam mengolah dan mempresentasikan antigen,
yang secara normal dibutuhkan untuk sensitisasi sel yang terinfeksi
in vivo, tidak dilibatkan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa
respons INF-_ ELISpot Assay tidak berhubungan dengan kontrol
viremia, hal ini menimbulkan keraguan, apakah pemeriksaan ini
dapat digunakan untuk menilai imunitas seluler yang diinduksi
oleh vaksin.
21
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
253
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
254
TINJAUAN PUSTAKA
Salah satu vaksin yang menginduksi imunitas seluler adalah
vaksin MRKAd5 HIV-1 gag/pol/nef Vaccine yang ujicobanya
disebut STEP Trial. Vaksin ini menggunakan adenovirus 5 sebagai
vektor, yang di dalamnya membawa gen gag, pol, dan nef dari
HIV-1. Tujuan utama STEP trial adalah menentukan efikasi vaksin.
Hasilnya menunjukkan laju infeksi HIV pada kelompok resipien
vaksin dan plasebo ternyata sama tinggi (sebesar 3%). Artinya,
vaksin tidak menurunkan laju infeksi HIV.
Yang menarik dari penelitian ini adalah setelah sukarelawan
dikelompokkan berdasarkan data demografik ternyata terdapat
peningkatan risiko terinfeksi HIV pada orang yang seropositif
Adenovirus 5 [Hazard Ratio (vaksin:placebo): 2,3 (95% IK 1,2 -
4,3)] dibanding yang seronegatif [Hazard Ratio (vaksin:placebo):
1 (95% IK 0,5 - 1,9)]. Begitu juga untuk kelompok yang tidak
disirkumsisi [Hazard Ratio (vaksin:placebo): 3,8 (95% IK 1,5 - 9,3)],
risiko terinfeksi HIV ternyata lebih tinggi daripada kelompok
yang tidak disirkumsisi [Hazard Ratio (vaksin:plasebo): 1 (95% IK
0,6 - 1,7)].
19
3. Vaksin HIV yang menginduksi imunitas humoral dan seluler
Melihat kegagalan vaksin yang sudah diujicobakan, timbul
pemikiran bahwa vaksin yang dikatakan berhasil mungkin harus
dapat menginduksi baik broadly neutralizing antibodies dan
limfosit T sitotoksik.
20
Hipotesisnya: antibodi yang dibentuk akan
mengikat, menetralisir partikel HIV sebelum infeksi. Selain itu
dapat menetralisir virion yang baru diproduksi dan menyebab-
kan lisis sel-sel yang terinfeksi (gb.5). Limfosit T sitotoksik
berfungsi saat sel sudah terinfeksi dengan mengenal protein
virus yang sudah diproses yang dipresentasikan di HLA kelas I di
permukaan sel melalui reseptor sel T dari limfosit T sitotoksik.
Koordinasi limfosit T sitotoksik dan respon antibodi penetralisir
dimediasi oleh sel T helper CD4+.
21
Gambar 5. Respon imun seluler dan humoral terhadap infeksi HIV
(Disadur dari Walker, 2008
21)
Salah satu contoh vaksin yang menginduksi imunitas seluler dan
humoral adalah vaksin ALVAC yang dikombinasikan dengan
AIDSVAX. Vaksin ALVAC mengandung vektor canarypox yang
membawa gen gag, pol, dan nef sebagai imunogen. Vaksin
AIDSVAX berisi rekombinan glikoprotein 120. Tujuan utama
ujicoba terhadap vaksin ini adalah untuk menentukan apakah
kandidat vaksin tersebut berhasil menginduksi jumlah limfosit T
sitotoksik hingga mencapai target, yaitu sebesar 30% agar dapat
memastikan adanya korelasi imunitas yang diinduksi vaksin
dengan proteksi terhadap infeksi.
Dari penelitian ini didapatkan bahwa pemberian rgp 120 tidak
meningkatkan respon antibodi spesifik secara bermakna. Respon
limfosit T sitotoksik juga tidak mencapai target yang menunjuk-
kan adanya korelasi imunitas, yaitu di bawah 30%.
Saat ini satu-satunya ujicoba vaksin HIV skala besar yang masih
berlangsung dilakukan di Thailand, yang diujicobakan adalah
vaksin vektor canarypox yang mirip dengan rekombinan vCP205
(vCP1521) berisi gen env subtipe E. Ujicoba ini dimulai pada
tahun 2003 dan diharapkan selesai pada bulan Juli 2009.
14
TANTANGAN DALAM PEMBUATAN VAKSIN HIV
Dibandingkan dengan pembuatan vaksin untuk virus-virus lain,
vaksin HIV begitu sulit ditemukan karena HIV merupakan virus
yang memiliki banyak faktor penyulit yang menjadi tantangan
besar untuk para pembuat vaksin. Hal tersebut antara lain:
Banyaknya strain yang berbeda; infeksi dari sel sistem imun;
penghindaran dari sistem imun dengan menutupi epitop untuk
netralisasi, menurunkan ekspresi MHC, mutasi virus, sehingga
dapat lolos dari sistem imun, mekanisme counter immunoregu-
latori; dan latensi.
HIV merupakan virus dengan banyak sekali strain berbeda. Keadaan
ini disebabkan oleh 2 hal. Pertama, enzim reverse transcriptase
kehilangan kemampuan proofreading, yaitu kemampuan untuk
memastikan akurasi transkrip DNA yang dihasilkan, sehingga
mutasi pada RNA berlangsung terus menerus. Jika pada setiap
siklus replikasi terjadi kira-kira 3,4 x 10
-5
mutasi, genom HIV
mempunyai 10
4
pasang basa, dan virus yang dihasilkan setiap
harinya kira-kira 10
10
virion, maka dalam satu hari saja dapat
dihasilkan jutaan varian HIV hanya dari satu orang yang terinfeksi.
Kedua, koinfeksi virus pada satu pejamu juga dapat menghasil-
kan variasi virus baru jika kedua virus tersebut bermultiplikasi
pada sel yang sama.
21,22
Karena terdapat banyak sekali variasi
strain, maka dibutuhkan vaksin yang dapat menginduksi sistem
imun yang memberikan proteksi terhadap semua variasi tersebut.
Hal ini merupakan tantangan terbesar dari pembutan vaksin.
Masalah selanjutnya yang menyulitkan adalah HIV menginfeksi
sel-sel yang merupakan bagian dari sistem imun. Target utama
HIV adalah sel-sel yang mempunyai CD4+, terutama sel T helper
yang penting dalam meningkatkan kerja adaptive immunity.
Sel-sel lain yang dapat terinfeksi HIV adalah sel dendritik, sel
makrofag, sel Natural Killer, yang semuanya merupakan bagian
dari sistem imun tubuh. Contohnya adalah infeksi terhadap sel T
CD4+. Dalam beberapa hari setelah terpapar, akan terjadi infeksi
berat dan penurunan jumlah sel T CD4+ memori, terutama di
gut associated lymphoid tissue. Sel T CD4+ memori sangat
diperlukan untuk mengatur respons imun agar menjadi efektif.
Kehilangan sel-sel tersebut mengakibatkan gangguan imunitas
pada awal infeksi HIV.
Selanjutnya, translokasi bakteri melalui mukosa intestinal yang
rusak akan meningkatkan aktivasi sel T CD4+ dan memfasilitasi
replikasi virus karena replikasi paling efisien terjadi pada sel yang
teraktivasi.
Tantangan yang lain, ternyata HIV mempunyai strategi untuk
menghindari eliminasi sistem imun. Salah satunya adalah protein
nef dapat menurunkan ekspresi Major Histocompatibility Complex
(MHC). MHC merupakan glikoprotein yang diekspresikan di
permukaan sel, yang berfungsi mempresentasikan fragmen
peptida dari HIV setelah antigen didegradasi di dalam sel. Sel T
akan mengenali sel yang terinfeksi melalui fragmen peptida
yang dipresentasikan oleh MHC. Jadi karena penurunan ekspresi
MHC, sel T akan sulit mengenali sel yang sudah terinfeksi.
Akibatnya HIV dapat terus berkembang biak dalam sel pejamu.
Mekanisme lain adalah protein permukaan envelope yang menun-
jukkan bermacam-macam gambaran untuk menghindari antibodi.
HIV juga cepat menjadi reservoir laten di limfosit yang terinfeksi
dengan melakukan integrasi ke dalam materi genetik kromosom
pejamu. Ini juga merupakan salah satu tantangan berat selain variasi
strain karena selain proses di dalam sel tidak dapat dikenali oleh
limfosit T sitotoksik, proses ini ireversibel dan terjadi segera setelah
infeksi. Virus akan diam di reservoir laten, saat sel menjadi aktif,
partikel virus yang infeksius akan diproduksi lagi. Jika reservoir
telah terbentuk, infeksi akan terus menerus berlangsung, dan
medikasi anti HIV juga tidak dapat mengatasi keadaan ini.
20,21
Mengingat pintarnya HIV dan sulitnya tubuh kita mengeradikasi
virus ini, vaksin harus diusahakan dapat mengenal variasi virus
yang sangat luas dan bekerja cepat sebelum virus tersebut
menjadi reservoir laten di sel pejamu. Jika ini gagal, perlu dipikir-
kan cara meningkatkan respon imun natural yang dapat mence-
gah destruksi semua sel CD4 dan secara imunologis menekan
jumlah virus pada orang yang terinfeksi. Tantangan yang banyak
ini semakin sulit karena pengertian kita tentang respon imun
yang mengontrol replikasi HIV masih sangat kurang.
21
Penyebab kegagalan vaksin yang menginduksi imunitas
humoral
Penyebab kegagalan vaksin yang menginduksi imunitas humoral
adalah kesulitan dalam mendapatkan imunogen yang dapat
menginduksi broadly neutralizing antibodies (bNAbs). Bagian dari
gp 120 yang diharapkan dapat menginduksi bNAbs tertutup oleh
struktur karbohidrat yang tebal. Usaha untuk tetap mendapatkan
imunogen ini adalah dengan membuang bagian hipervariabel
sehingga didapatkan struktur yang stabil. Perubahan bagian hiper-
variabel ini menyebabkan turunnya imunogenitas vaksin jika di-
bandingkan dengan penggunaan protein utuh. Akibatnya, kadar
antibodi penetralisir yang dihasilkan menjadi rendah. Selain itu,
struktur permukaan luar virus (envelope) tidak stabil, sehingga
sulit untuk membentuk rekombinannya.
11,21
Masalah lain adalah respons antibodi penetralisir yang diinduksi
vaksin hanya spesifik untuk strain yang dipakai dalam pembuatan
vaksin, tidak efektif untuk HIV diisolasi secara primer dari infeksi
natural. Padahal terdapat banyak sekali variasi strain HIV; satu
individu bisa menghasilkan jutaan variasi virus baru. Jika antibodi
yang dihasilkan hanya efektif untuk strain dari vaksin, maka
pemberian vaksin menjadi tidak efektif.
11,21
Oleh karena itu, para vaksinologis berpendapat bahwa tidak
mungkin menginduksi imunitas humoral yang dapat mensterilkan
HIV tanpa adanya terobosan-terobosan baru dalam pengetahuan
dasar tentang HIV
21
Penyebab kegagalan vaksin yang menginduksi imunitas
seluler
Vaksin yang diujicobakan ternyata gagal memberikan efek
proteksi terhadap infeksi HIV. Hal ini terlihat pada sukarelawan
yang seropositif terhadap adenovirus
5
.
Mekanisme peningkatan angka infeksi HIV pada sukarelawan
seropositif Ad5 ternyata kompleks. Sel T helper CD4+ terdiri dari
sel T helper 1 dan sel T helper 2. Sel T helper 1 akan meningkat-
kan kerja sistem imun seluler, sedangkan sel T helper 2 mening-
katkan sistem imun humoral. Sel T helper bekerja dalam keseim-
bangan. Jika kerja sel T helper 1 meningkat, maka kerja sel T
helper 2 akan menurun.
Pada para sukarelawan yang sebelumnya pernah terinfeksi
Adenovirus5, jika diberikan paparan ulang terhadap virus yang
sama akan menunjukkan respons imunitas humoral terhadap
vektor
19
yang lebih kuat, sehinggal respons imunitas seluler akan
melemah.
23
Infeksi Adenovirus 5 terjadi melalui nasofaring atau usus, dan
virus dapat persisten di permukaan mukosa selama beberapa
tahun, cenderung menginfeksi limfosit yang ada di mukosa.
Sukarelawan seropositif Ad5 yang menerima vaksin akan menun-
jukkan respons imun yang ditujukan ke permukaan mukosa. Hal
ini tidak terjadi pada sukarelawan seronegatif. Sampai saat ini
sedang diteliti, apakah respons imun yang terjadi di mukosa ini
dapat meningkatkan risiko terinfeksi HIV.
19
Masalah lain terletak pada pemeriksaan respons imunitas seluler
yang digunakan pada penelitian ini. Respon limfosit T sitotoksik
dinilai dengan INF-_ ELISpot Assay, yang ternyata kemampuan-
nya untuk menilai fungsi aktivitas antivirus kurang dibandingkan
pemeriksaan langsung terhadap aktivitas antivirus, seperti cytotoxic
killing of cell by CTL. Tidak hanya gagal dalam menilai fungsi
sitotoksik T limfosit secara langsung, pemeriksaan ini juga meng-
gunakan peptide-pulsed cells yang berarti bahwa langkah-langkah
yang perlu dalam mengolah dan mempresentasikan antigen,
yang secara normal dibutuhkan untuk sensitisasi sel yang terinfeksi
in vivo, tidak dilibatkan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa
respons INF-_ ELISpot Assay tidak berhubungan dengan kontrol
viremia, hal ini menimbulkan keraguan, apakah pemeriksaan ini
dapat digunakan untuk menilai imunitas seluler yang diinduksi
oleh vaksin.
21
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
255
TINJAUAN PUSTAKA
Penyebab kegagalan vaksin yang menginduksi imunitas
humoral dan seluler
Alasan kegagalan vaksin yang menginduksi baik imunitas
humoral dan seluler adalah sama seperti yang sudah dijelaskan
di atas, bahwa T helper bekerja dalam keseimbangan. Saat kerja
sel T helper 1 meningkat, maka kerja sel T helper 2 akan menurun.
Usaha merangsang respons imun humoral dan seluler secara
bersamaan adalah seperti mencoba mengaktivasi sistem saraf
simpatis dan parasimpatis secara simultan. Pada infeksi virus
secara alami, antibodi akan dikeluarkan terlebih dahulu, baru
kemudian diikuti oleh pengembangan imunitas seluler. Respons
imun seluler dan humoral dapat dirangsang secara bersamaan,
tetapi menjadi tidak natural.
23
Selain itu juga, pemeriksaan yang
dipakai untuk menilai imunitas seluler juga sama - INF-_ ELISpot
Assay - yang masih diragukan keberhasilannya dalam menilai
aktivitas imunitas seluler yang diinduksi oleh vaksin.
21
TANGGAPAN TERHADAP KEGAGALAN PEMBUATAN VAKSIN
Perlu diingat bahwa pengembangan vaksin adalah berdasarkan
keberhasilan sistem imun natural dalam mengatasi penyakit.
Respons imun maksimal yang dapat diinduksi oleh vaksin, hanya
akan menyamai respon imun pada infeksi natural. Jika infeksi
natural tidak memproteksi pejamu terhadap risiko reinfeksi
dengan virus yang sama, seperti pada HIV, maka keberhasilan
vaksin tersebut akan dipertanyakan.
18
Pada tahun 2005, investasi dana untuk penelitian dan pengem-
bangan vaksin secara global di seluruh dunia diperkirakan
sebesar 759 juta US$. Sumber dana tersebut 88% dari pemerin-
tah, 10% dari perusahaan komersil dan 2% dari para donatur.
Dalam satu tahun, National Institute of Health (NIH) menghabis-
kan dana sebesar 600 juta US$ untuk meneliti vaksin HIV. Pada
bulan Maret tahun 2007, NIH mendukung biaya ujicoba 99
vaksin, yang terdiri dari 55 produk, 22 adjuvan dan lebih dari
26000 sukarelawan.
24
Antara tahun 2000 sampai dengan tahun 2006 peningkatan
investasi untuk penelitian pengembangan vaksin HIV adalah
sebesar 153%, yaitu dari sekitar 300 juta US$ pertahun menjadi
hampir 800 juta US$ pertahunnya. Selama periode ini, dana yang
diinvestasikan untuk penelitian dan pengembangan pencegahan
biomedis lain seperti sirkumsisi, supresi Herpes Simplex Virus tipe
2, barrier serviks untuk pencegahan transmisi HIV dan profilaksis
antiretroviral sebelum paparan hanya sebesar 67 juta US$.
25
Mengingat rumitnya HIV dibandingkan virus lain yang menyebab-
kan sistem imun tubuh gagal mengatasinya, kurangnya pema-
haman menyeluruh tentang cara merangsang respon imun yang
efektif dalam melawan HIV, pemeriksaan yang dipakai selama ini
ternyata tidak adekuat untuk menilai respons imun yang di-
induksi oleh vaksin. banyaknya kegagalan vaksin yang sudah terjadi,
dan besarnya dana yang sudah dihabiskan, semakin membuat
kita pesimis terhadap harapan akan adanya vaksin HIV. Bahkan
Anthony Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious
Disease mengatakan bahwa Kalau kita mau terus terang terhadap
diri sendiri º. Kita harus tetap mempersiapkan diri untuk meng-
hadapi kemungkinanº. bahwa dunia ini tidak akan pernah
mempunyai vaksin HIV. Selama ini orang-orang mungkin takut
mengakui hal ini karena mereka takut dikatakan menyerah.
Kami tidak menyerahº Kami akan terus berusaha sebisa
mungkinº Tetapi tetap saja ada kemungkinan besar... bahwa
itulah kenyataannya.
24
Jadi apakah kita harus tetap mengusahakan vaksin HIV? Masing-
masing orang pasti punya pendapat sendiri. Klinisi merasa bahwa
setiap kali sebuah vaksin dinyatakan gagal, kegagalan itu semakin
menjauhkan harapan untuk mendapatkan vaksin HIV yang efektif
minimal 10 tahun lagi, dengan catatan jika proses pembuatan
vaksin yang baru bisa berjalan lancar. Sayangnya sampai saat ini
proses penelitian dan pembuatan vaksin ini masih mengalami
banyak hambatan. Jadi sampai kapan kita akan berharap?
Aaron White dari Duke University Medical Center juga meng-
ingatkan, Jangan menjadi orang keras kepala dengan tetap
mempertahankan paradigma yang memandang vaksin sebagai
satu-satunya cara proteksi terhadap infeksi.
23
Oleh karena itu,
yang harus dilakukan adalah tetap mencegah transmisi HIV
dengan menjalankan program yang sudah ada, seperti modifi-
kasi perilaku seksual dan penggunaan obat-obatan terlarang,
edukasi, promosi penggunaan kondom, dan pencegahan lain
yang efektif, yang meskipun tidak sempurna mencegah infeksi,
tetapi sudah dapat dilakukan mulai sekarang. Jangan terus menerus
berharap pada vaksin yang sampai sekarang masih merupakan
khayalan.
DAFTAR PUSTAKA
Rincian daftar pustaka ada pada redaksi.