CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
171
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
172
IKLAN 3
PENDAHULUAN
Gagal jantung merupakan sindrom klinis yang kompleks dengan
gejala-gejala yang tipikal dari sesak nafas (dispneu) dan mudah
lelah (fatigue) yang dihubungkan dengan kerusakan fungsi
maupun struktur dari jantung yang mengganggu kemampuan
ventrikel untuk mengisi dan mengeluarkan darah ke sirkulasi.
1,2
Gagal jantung umumnya didapatkan pada populasi usia tua,
serta pada orang-orang yang selamat dari infark miokard
dengan kerusakan otot jantung persisten.
3
Entitas gagal jantung
mudah sekali diketahui oleh dokter yang berpengalaman, dapat
ditemukan di komunitas masyarakat dan pengobatan yang tepat
dapat mengurangi morbiditas dan mortalitasnya.
4
Walaupun
biomolekuler dan fisiologi yang terintegrasi dengan gagal jantung
masih belum dapat dipahami, beberapa konsep dan prinsip
patofisiologi telah berkembang dalam dekade terakhir ini.
6
Kunci utama gagal jantung adalah ketidakmampuan jantung
untuk bekerja sebagai pompa.
6,7,8
Respon-respon tubuh berupa
respon adaptif sekunder tetap mempertahankan fungsi sirkulasi
jangka pendek, tetapi lama kelamaan akan menjadi maladaptif
dan menjadi gagal jantung kronis.
6,7
Respon-respon adaptasi
pada gagal jantung ini terjadi pada sirkulasi perifer, ginjal
maupun otot jantung. Perubahan ini mengakibatkan timbulnya
sindrom klinis gagal jantung. Pemahaman bagaimana perubahan
ini terjadi menghasilkan pandangan dalam patofisiologi gagal
jantung.
EPIDEMIOLOGI
Prevalensi gagal jantung kronik diprediksi akan makin meningkat
seiring dengan meningkatnya penyakit hipertensi, diabetes melitus
dan iskemi terutama pada populasi usia lanjut. Makin tua populasi
dan makin berhasilnya pengobatan infark miokard akut mem-
buat prevalensi gagal jantung kronik makin meningkat. Insiden
penyakit gagal jantung makin meningkat sejalan dengan mening-
katnya usia harapan hidup penduduk. Di Eropa, tiap tahun terjadi
1,3 kasus per 1000 penduduk yang berusia 25 tahun. Kasus ini
meningkat 11,6 pada manula dengan usia 85 tahun ke atas.
1,3,4,5
Saat ini diperkirakan hampir 5 juta penduduk di AS menderita
gagal jantung, dengan 550.000 jumlah kasus baru terdiagnosis
setiap tahunnya. Di samping itu gagal jantung kronis juga menjadi
penyebab 300.000 kematian setiap tahunnya. Lebih dari 34 milyar
USD dibutuhkan setiap tahunnya untuk perawatan medis penderita
gagal jantung kronis ini. Bahkan di Eropa diperkirakan membutuhkan
sekitar 1% dari seluruh anggaran belanja kesehatan masyarakat.
Prevalensi penyakit ini meningkat sesuai dengan usia, berkisar
dari <1% pada usia <50 tahun hingga 5% pada usia 50-70
tahun dan 10% pada usia >70 tahun.
1,3,4,5
ETIOLOGI
Penyebab gagal jantung dapat diklasifikasikan dalam enam
kategori utama
5
:
1. Kegagalan yang berhubungan dengan abnormalitas miokard,
dapat disebabkan oleh hilangnya miosit (infark miokard),
kontraksi yang tidak terkoordinasi (left bundle branch block),
kurangnya kontraktilitas (kardiomiopati)
2. Kegagalan yang berhubungan dengan overload (hipertensi)
3. Kegagalan yang berhubungan dengan abnormalitas katup
4. Kegagalan yang disebabkan abnormalitas ritme kardiak (takikardi)
5. Kegagalan yang disebabkan anormalitas perikard atau efusi
perikard
(tamponade)
6. Kelainan kongenital jantung
Karena setiap bentuk penyakit jantung dapat mengarah pada
gagal jantung, tidak ada satupun mekanisme kausatif.
5
Studi
populasi di London Selatan mendapatkan bahwa persentase
penyebab gagal jantung yang tidak diketahui pada populasi <
75 tahun turun dari 42% menjadi 10% setelah dilakukan
skintigrafi nuklir dan kateterisasi jantung, sedangkan persentase
penyebab gagal jantung oleh penyakit arteri koroner (CAD) naik
dari 29% menjadi 52%.
3
PATOFISIOLOGI
Gagal jantung dapat dilihat sebagai suatu kelainan yang
progresif, dapat terjadi dari kumpulan suatu kejadian dengan
hasil akhir kerusakan fungsi miosit jantung atau gangguan
kemampuan kontraksi miokard. Beberapa mekanisme kompen-
satorik diaktifkan untuk mengatasi turunnya fungsi jantung
sebagai pompa, di antaranya sistem adrenergik, renin angiotensin
ataupun sitokin.
Dalam waktu pendek beberapa mekanisme ini dapat mengem-
balikan fungsi kardiovaskuler dalam batas normal, menghasilkan
pasien asimptomatik. Meskipun demikian, jika tidak terdeteksi
dan berjalan seiring waktu akan menyebabkan kerusakan ventrikel
dengan suatu keadaan remodeling dan timbullah gagal jantung
yang simptomatik.
6,7,8
Patofisiologi Payah Jantung Kronik
Sidhi Laksono
Fakultas Kedokteran Univesitas Sebelas Maret, Surakarta
Dipresentasikan pada One Day Symposium of Chronic Heart Failure:
Diagnosis, Current Management and Cardiopreventive Care, Surakarta, Lor In Hotel, 24 Agustus 2008
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
173
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
174
TINJAUAN PUSTAKA
Mekanisme Neurohormonal
Beberapa ahli menyarankan gagal jantung dilihat dalam suatu
model neurohormonal : gagal jantung berkembang sebagai hasil
ekspresi berlebihan suatu molekul yang secara biologis aktif, yang
dapat memberikan efek merusak jantung dan sirkulasi.
6,7,8
Pengaturan mekanisme neurohormonal ini dapat bersifat adaptif
ataupun maladaptif. Sistem ini bersifat adaptif apabila sistem
dapat memelihara tekanan perfusi arteri selama terjadi penurunan
curah jantung. Sistem ini menjadi maladaptif apabila menimbulkan
peningkatan hemodinamik melebihi batas ambang normal,
menimbulkan peningkatan kebutuhan oksigen, serta memicu
timbulnya cedera sel miokard.
Adapun pengaturan neurohormonal sebagai berikut:
6,7,8
Sistem saraf adrenergik
Pada gagal jantung terjadi penurunan curah jantung. Hal ini
akan dikenali oleh baroreseptor di sinus caroticus dan arcus
aorta, kemudian dihantarkan ke medula melalui nervus IX dan X,
yang akan mengaktivasi sistem saraf simpatis. Aktivasi sistem
saraf simpatis ini akan menaikkan kadar norepinefrin (NE). Hal ini
akan meningkatkan frekuensi denyut jantung, meningkatkan
kontraksi jantung serta vasokonstriksi arteri dan vena sistemik.
7,8
Walaupun NE meningkatkan kontraksi dan mempertahankan
tekanan darah, tetapi kebutuhan energi miokard menjadi lebih
besar, yang dapat menimbulkan iskemi jika tidak ada penyaluran
O
2
ke miokard. Dalam jangka pendek aktivasi sistem adrenergik
dapat sangat membantu, tetapi lambat laun akan terjadi
maladaptasi.
7
Pada gagal jantung kronik akan terjadi penurunan konsentrasi
norepinefrin jantung; mekanismenya masih belum jelas, mungkin
berhubungan dengan exhaustion phenomenon yang berasal
dari aktivasi sistem adrenergik yang berlangsung lama.
6,9
Sistem Renin-Angiotensin.
Apabila curah jantung menurun, akan terjadi aktivasi sistem
renin-angiotensin-aldosteron. Beberapa mekanisme seperti hipo-
perfusi renal, berkurangnya natrium terfiltrasi yang mencapai
makula densa tubulus distal, dan meningkatnya stimulasi simpatis
ginjal, memicu peningkatan pelepasan renin dari aparatus juxta-
glomerular. Renin memecah empat asam amino dari angioten-
sinogen I, dan Angiotensin-converting enzyme akan melepaskan
dua asam amino dari angiotensin I menjadi angiotensin II. Angio-
tensin II berikatan dengan 2 protein G menjadi angiotensin tipe
1 (AT
1
) dan tipe 2 (AT
2
). Aktivasi reseptor AT
1
akan mengakibat-
kan vasokonstriksi, pertumbuhan sel, sekresi aldosteron dan
pelepasan katekolamin, sementara AT
2
akan menyebabkan
vasodilatasi, inhibisi pertumbuhan sel, natriuresis dan pelepasan
bradikinin.
6,10
Angiotensin II mempunyai beberapa aksi penting dalam mem-
pertahankan sirkulasi homeostasis dalam jangka pendek, namun
jika terjadi ekspresi lama dan berlebihan akan masuk ke keadaan
maladaptif yang dapat menyebabkan fibrosis pada jantung, ginjal
dan organ lain. Selain itu, juga akan mengakibatkan peningkatan
pelepasan NE dan menstimulasi korteks adrenal zona glomerulosa
untuk memproduksi aldosteron.
6,7,10
Aldosteron memiliki efek suportif jangka pendek terhadap
sirkulasi dengan meningkatkan reabsorbsi natrium. Akan tetapi
jika berlangsung relatif lama akan menimbulkan efek berbahaya,
yaitu memicu hipertrofi dan fibrosis vaskuler dan miokardium,
yang berakibat berkurangnya compliance vaskuler dan mening-
katnya kekakuan ventrikel. Di samping itu aldosteron memicu
disfungsi sel endotel, disfungsi baroreseptor, dan inhibisi uptake
norepinefrin yang akan memperberat gagal jantung. Mekanisme
aksi aldosteron pada sistem kardiovaskuler nampaknya melibatkan
stres oksidatif dengan hasil akhir inflamasi pada jaringan.
7,8,10
Stres Oksidatif
Pada pasien gagal jantung terdapat peningkatan kadar ROS
(reactive oxygen species). Peningkatan ini dapat diakibatkan oleh
rangsangan dari ketegangan miokardium, stimulasi neuro-
hormonal (angiotensin II, aldosteron, agonis alfa adrenergik,
endothelin-1) maupun sitokin inflamasi (tumor necrosis factor,
interleukin-1). Efek ROS ini memicu stimulasi hipertrofi miosit,
proliferasi fibroblast dan sintesis collagen. ROS juga akan mem-
pengaruhi sirkulasi perifer dengan cara menurunkan bioavail-
abilitas NO.
6,7,11
Arginin Vasopressin
Hormon hipofisis posterior ini meningkat pada gagal jantung,
efek selulernya terjadi jika berikatan dengan 3 tipe reseptor, yaitu
V1a, V1b dan V2. Reseptor V1a akan menyebabkan vasokonstriksi,
agregasi platelet dan stimulasi faktor pertumbuhan miokard.
V1b akan memodulasi sekresi ACTH, sedangkan V2 akan menimbul-
kan efek antidiuretik.
6,7,12
Natriuretic peptides
Terdiri dari Atrial Natriuretic Peptide (ANP), urodilantin, Brain
Natriuretic Peptide (BNP), C-type Natriuretic Peptide (CNP) dan
Dendroaspis Natriuretic Peptide (DNP). ANP diproduksi terutama
di atrium jantung, BNP di ventrikel jantung, keduanya diproduksi
sebagai respon terhadap peningkatan tebal jantung. Natriuretic
peptide menstimulasi produksi second messenger cGMP melalui
ikatannya dengan natriuretic peptide A receptor (NPR-A) yang
mengikat ANP dan BNP, dan natriuretic peptide B receptor (NPR-B)
yang mengikat CNP. Kedua reseptor ini berikatan juga dengan
guanylate cyclase. Aktivasi NPR-A dan NPR-B menghasilkan keadaan
natriuresis, vasorelaksasi, inhibisi renin dan aldosteron serta inhibisi
fibrosis. ANP dan BNP mungkin berperan dalam mekanisme penting
untuk mempertahankan homeostasis natrium dan air. Akan tetapi
nampaknya natriuretic peptide menjadi tumpul peranannya pada
gagal jantung, mungkin karena tekanan perfusi ginjal yang rendah,
defisiensi relatif atau perubahan bentuk molekuler natriuretic peptide
atau penurunan fungsi reseptor natriuretic peptide.
6,7,13,14
Endothelin
Terdiri dari tiga tipe, yaitu ET-1,ET-2 dan ET-3, ketiganya berpotensi
kuat untuk menyebabkan vasokonstriksi. Walaupun endotelin
umumnya dikeluarkan oleh sel endotel, namun dapat juga oleh
tipe sel lain, contohnya miosit kardiak. ET-1 merupakan bentuk
yang paling sering terekspresi di antara famili endotelin lainnya.
Dua subtipe reseptor endotelin yang telah ditemukan pada
miokard manusia, yaitu tipe A dan B. Reseptor ET(A) menimbulkan
vasokonstriksi, proliferasi sel, hipertrofi patologis, fibrosis dan
peningkatan kontraktilitas, sedangkan ET(B) berperan dalam
menghilangkan efek ET-1, pelepasan NO dan prostasiklin.
Pelepasan ET dari sel endotel dapat ditingkatkan oleh beberapa
agen vasoaktif (NE, angiotensin II, trombin) dan sitokin (TNF, IL-
1,TGF-_).
1,6,7,15
Neuropeptide Y
Neuropeptide Y merupakan agen vasokonstriktor yang disekresi
bersama NE dari akhiran saraf simpatis. Neuropeptid ini memicu
vasokontriksi perifer serta menimbulkan efek potensiasi terha-
dap efek vasokontriksi oleh alfa adrenergik dan angiotensin. Zat
ini juga menghambat pelepasan asetilkolin dari sistem saraf
simpatis. Pada pasien gagal jantung moderat dan berat terdapat
peningkatan kadar neuropeptide Y yang sejalan dengan pening-
katan kadar NE.
6,7,16
Urotensin II
Pada beberapa pasien gagal jantung ditemukan peningkatan
kadar urotensin II. Urotensin menimbulkan vasokonstriksi sehingga
menimbulkan anggapan bahwa urotensin II ini mempunyai
kontribusi dalam peningkatan resistensi vaskuler.
7,17
Nitric Oxide
Radikal bebas ini dihasilkan oleh tiga tipe isoform sintase, yaitu
NOS1, NOS2 dan NOS3. NOS1 terdapat di jaringan konduksi
jantung, neuron intrakardiak dan retikulum sarkoplasma miosit
jantung, NOS2 terdapat di miokard yang merespon terhadap
sitokin inflamasi, sedangkan yang terakhir terdapat di endotel
koroner, endokard serta sarkolema dan membran tubulus T
miosit jantung. NOS1 dan NOS3 dapat diaktifkan oleh kalsium
dan kalmodulin, sedangkan NOS2 tidak perlu kalsium. NO akan
mengaktifkan guanylate cyclase, kemudian akan menghasilkan
cGMP. cGMP ini menyebabkan relaksasi otot polos vaskuler
sehingga terjadi vasodilatasi. Akan tetapi hal ini tidak terjadi pada
gagal jantung, fungsinya menjadi tumpul karena penurunan
ekspresi dan aktivitas NOS3.
6,18
Bradikinin
Penelitian menunjukkan bahwa bradikinin berperan penting
dalam pengaturan tonus pembuluh darah. Bradikinin akan ber-
ikatan dengan reseptor B1 dan B2. Sebagian besar efek bradikinin
diperantarai lewat ikatan dengan reseptor B2. Ikatan dengan
reseptor B2 ini akan menimbulkan vasodilatasi pembuluh darah.
Pemecahan bradikinin akan dipicu oleh ACE.
6,7,19
Adrenomedullin
Kadar adrenomedullin meningkat pada pasien gagal jantung.
Adrenomedullin ini dikeluarkan sebagai kompensasi efek vaso-
konstriksi beberapa hormon. Kadar adrenomedullin yang tinggi
menyebabkan penurunan tekanan darah, penurunan tekanan
pengisian ventrikel, meningkatkan curah jantung, memperbaiki
fungsi ginjal, serta menurunan kadar aldosteron.
6,20
Apelin
Pada pasien gagal jantung didapatkan penurunan kadar apelin
dalam sirkulasi. Apelin mempunyai efek vasodilatasi dan menurunkan
tekanan darah. Apelin juga mempunyai efek inotropik positif dan
menimbulkan diuresis dengan menghambat hormon ADH.
6,7
Remodeling Ventrikel Kiri
Model neurohormonal yang telah dijelaskan di atas gagal men-
jelaskan progresivitas gagal jantung. Remodeling ventrikel kiri
yang progresif berhubungan langsung dengan bertambah
buruknya kemampuan ventrikel kiri di kemudian hari. Proses
remodeling mempunyai efek penting pada miosit jantung,
perubahan volume miosit dan komponen nonmiosit pada miokard
serta geometri dan arsitektur ruangan ventrikel kiri.
6,7,8
Perubahan Biologis pada Miosit Jantung
Hipertrofi Miosit Jantung
Peningkatan tekanan pada dinding otot jantung akan memicu
timbulnya hipertrofi dan penimbunan matriks ekstraseluler. Jenis
remodeling ventrikel ini tergantung faktor pemicu. Apabila dipicu
oleh peningkatan volume akan terjadi hipertrofi eksentrik, terjadi
pemanjangan miosit dengan penambahan sarkomer secara seri
sehingga menimbulkan pelebaran ventrikel kiri. Remodeling
yang dipicu oleh peningkatan tekanan seperti pada hipertensi
akan menimbulkan hipertrofi konsentrik, terjadi penambahan
sarkomer secara paralel, peningkatan area cross-sectional miosit
dan terjadi penebalan dinding ventrikel kiri.
6,7,8
Perubahan Komplek Kontraksi-Eksitasi
Hal ini ditujukan pada proses biologis yang dimulai dari potensial
aksi kardiak, diakhiri dengan kontraksi dan relaksasi miosit. Pada
gagal jantung, didapatkan potensial aksi yang abnormal di-
perlama, sama halnya dengan penurunan dan ketidakmampuan
relaksasi. Ca
2+
intraseluler pada penderita gagal jantung gagal
meningkat selama depolarisasi, yang menggambarkan lambatnya
pengangkutan Ca
2+
pada aparatus kontraktil (menyebabkan
aktivasi yang lambat), diikuti oleh lambatnya penurunan selama
repolarisasi (menyebabkan relaksasi yang lambat).
6,7,8
Pada penderita gagal jantung didapatkan penurunan SERCA2A
(sarcoendoplasmic reticulum Ca
2+
) yang menyebabkan penurunan
fungsi transient Ca
2+
dan penyimpanan Ca
2+
. Beberapa peneli-
tian mendapatkan SERCA2A yang normal pada penderita gagal
jantung dengan penurunan kontraktilitas, mungkin terdapat
abnormalitas fungsi molekul lain yang mengatur fungsi SR.
21
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
173
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
174
TINJAUAN PUSTAKA
Mekanisme Neurohormonal
Beberapa ahli menyarankan gagal jantung dilihat dalam suatu
model neurohormonal : gagal jantung berkembang sebagai hasil
ekspresi berlebihan suatu molekul yang secara biologis aktif, yang
dapat memberikan efek merusak jantung dan sirkulasi.
6,7,8
Pengaturan mekanisme neurohormonal ini dapat bersifat adaptif
ataupun maladaptif. Sistem ini bersifat adaptif apabila sistem
dapat memelihara tekanan perfusi arteri selama terjadi penurunan
curah jantung. Sistem ini menjadi maladaptif apabila menimbulkan
peningkatan hemodinamik melebihi batas ambang normal,
menimbulkan peningkatan kebutuhan oksigen, serta memicu
timbulnya cedera sel miokard.
Adapun pengaturan neurohormonal sebagai berikut:
6,7,8
Sistem saraf adrenergik
Pada gagal jantung terjadi penurunan curah jantung. Hal ini
akan dikenali oleh baroreseptor di sinus caroticus dan arcus
aorta, kemudian dihantarkan ke medula melalui nervus IX dan X,
yang akan mengaktivasi sistem saraf simpatis. Aktivasi sistem
saraf simpatis ini akan menaikkan kadar norepinefrin (NE). Hal ini
akan meningkatkan frekuensi denyut jantung, meningkatkan
kontraksi jantung serta vasokonstriksi arteri dan vena sistemik.
7,8
Walaupun NE meningkatkan kontraksi dan mempertahankan
tekanan darah, tetapi kebutuhan energi miokard menjadi lebih
besar, yang dapat menimbulkan iskemi jika tidak ada penyaluran
O
2
ke miokard. Dalam jangka pendek aktivasi sistem adrenergik
dapat sangat membantu, tetapi lambat laun akan terjadi
maladaptasi.
7
Pada gagal jantung kronik akan terjadi penurunan konsentrasi
norepinefrin jantung; mekanismenya masih belum jelas, mungkin
berhubungan dengan exhaustion phenomenon yang berasal
dari aktivasi sistem adrenergik yang berlangsung lama.
6,9
Sistem Renin-Angiotensin.
Apabila curah jantung menurun, akan terjadi aktivasi sistem
renin-angiotensin-aldosteron. Beberapa mekanisme seperti hipo-
perfusi renal, berkurangnya natrium terfiltrasi yang mencapai
makula densa tubulus distal, dan meningkatnya stimulasi simpatis
ginjal, memicu peningkatan pelepasan renin dari aparatus juxta-
glomerular. Renin memecah empat asam amino dari angioten-
sinogen I, dan Angiotensin-converting enzyme akan melepaskan
dua asam amino dari angiotensin I menjadi angiotensin II. Angio-
tensin II berikatan dengan 2 protein G menjadi angiotensin tipe
1 (AT
1
) dan tipe 2 (AT
2
). Aktivasi reseptor AT
1
akan mengakibat-
kan vasokonstriksi, pertumbuhan sel, sekresi aldosteron dan
pelepasan katekolamin, sementara AT
2
akan menyebabkan
vasodilatasi, inhibisi pertumbuhan sel, natriuresis dan pelepasan
bradikinin.
6,10
Angiotensin II mempunyai beberapa aksi penting dalam mem-
pertahankan sirkulasi homeostasis dalam jangka pendek, namun
jika terjadi ekspresi lama dan berlebihan akan masuk ke keadaan
maladaptif yang dapat menyebabkan fibrosis pada jantung, ginjal
dan organ lain. Selain itu, juga akan mengakibatkan peningkatan
pelepasan NE dan menstimulasi korteks adrenal zona glomerulosa
untuk memproduksi aldosteron.
6,7,10
Aldosteron memiliki efek suportif jangka pendek terhadap
sirkulasi dengan meningkatkan reabsorbsi natrium. Akan tetapi
jika berlangsung relatif lama akan menimbulkan efek berbahaya,
yaitu memicu hipertrofi dan fibrosis vaskuler dan miokardium,
yang berakibat berkurangnya compliance vaskuler dan mening-
katnya kekakuan ventrikel. Di samping itu aldosteron memicu
disfungsi sel endotel, disfungsi baroreseptor, dan inhibisi uptake
norepinefrin yang akan memperberat gagal jantung. Mekanisme
aksi aldosteron pada sistem kardiovaskuler nampaknya melibatkan
stres oksidatif dengan hasil akhir inflamasi pada jaringan.
7,8,10
Stres Oksidatif
Pada pasien gagal jantung terdapat peningkatan kadar ROS
(reactive oxygen species). Peningkatan ini dapat diakibatkan oleh
rangsangan dari ketegangan miokardium, stimulasi neuro-
hormonal (angiotensin II, aldosteron, agonis alfa adrenergik,
endothelin-1) maupun sitokin inflamasi (tumor necrosis factor,
interleukin-1). Efek ROS ini memicu stimulasi hipertrofi miosit,
proliferasi fibroblast dan sintesis collagen. ROS juga akan mem-
pengaruhi sirkulasi perifer dengan cara menurunkan bioavail-
abilitas NO.
6,7,11
Arginin Vasopressin
Hormon hipofisis posterior ini meningkat pada gagal jantung,
efek selulernya terjadi jika berikatan dengan 3 tipe reseptor, yaitu
V1a, V1b dan V2. Reseptor V1a akan menyebabkan vasokonstriksi,
agregasi platelet dan stimulasi faktor pertumbuhan miokard.
V1b akan memodulasi sekresi ACTH, sedangkan V2 akan menimbul-
kan efek antidiuretik.
6,7,12
Natriuretic peptides
Terdiri dari Atrial Natriuretic Peptide (ANP), urodilantin, Brain
Natriuretic Peptide (BNP), C-type Natriuretic Peptide (CNP) dan
Dendroaspis Natriuretic Peptide (DNP). ANP diproduksi terutama
di atrium jantung, BNP di ventrikel jantung, keduanya diproduksi
sebagai respon terhadap peningkatan tebal jantung. Natriuretic
peptide menstimulasi produksi second messenger cGMP melalui
ikatannya dengan natriuretic peptide A receptor (NPR-A) yang
mengikat ANP dan BNP, dan natriuretic peptide B receptor (NPR-B)
yang mengikat CNP. Kedua reseptor ini berikatan juga dengan
guanylate cyclase. Aktivasi NPR-A dan NPR-B menghasilkan keadaan
natriuresis, vasorelaksasi, inhibisi renin dan aldosteron serta inhibisi
fibrosis. ANP dan BNP mungkin berperan dalam mekanisme penting
untuk mempertahankan homeostasis natrium dan air. Akan tetapi
nampaknya natriuretic peptide menjadi tumpul peranannya pada
gagal jantung, mungkin karena tekanan perfusi ginjal yang rendah,
defisiensi relatif atau perubahan bentuk molekuler natriuretic peptide
atau penurunan fungsi reseptor natriuretic peptide.
6,7,13,14
Endothelin
Terdiri dari tiga tipe, yaitu ET-1,ET-2 dan ET-3, ketiganya berpotensi
kuat untuk menyebabkan vasokonstriksi. Walaupun endotelin
umumnya dikeluarkan oleh sel endotel, namun dapat juga oleh
tipe sel lain, contohnya miosit kardiak. ET-1 merupakan bentuk
yang paling sering terekspresi di antara famili endotelin lainnya.
Dua subtipe reseptor endotelin yang telah ditemukan pada
miokard manusia, yaitu tipe A dan B. Reseptor ET(A) menimbulkan
vasokonstriksi, proliferasi sel, hipertrofi patologis, fibrosis dan
peningkatan kontraktilitas, sedangkan ET(B) berperan dalam
menghilangkan efek ET-1, pelepasan NO dan prostasiklin.
Pelepasan ET dari sel endotel dapat ditingkatkan oleh beberapa
agen vasoaktif (NE, angiotensin II, trombin) dan sitokin (TNF, IL-
1,TGF-_).
1,6,7,15
Neuropeptide Y
Neuropeptide Y merupakan agen vasokonstriktor yang disekresi
bersama NE dari akhiran saraf simpatis. Neuropeptid ini memicu
vasokontriksi perifer serta menimbulkan efek potensiasi terha-
dap efek vasokontriksi oleh alfa adrenergik dan angiotensin. Zat
ini juga menghambat pelepasan asetilkolin dari sistem saraf
simpatis. Pada pasien gagal jantung moderat dan berat terdapat
peningkatan kadar neuropeptide Y yang sejalan dengan pening-
katan kadar NE.
6,7,16
Urotensin II
Pada beberapa pasien gagal jantung ditemukan peningkatan
kadar urotensin II. Urotensin menimbulkan vasokonstriksi sehingga
menimbulkan anggapan bahwa urotensin II ini mempunyai
kontribusi dalam peningkatan resistensi vaskuler.
7,17
Nitric Oxide
Radikal bebas ini dihasilkan oleh tiga tipe isoform sintase, yaitu
NOS1, NOS2 dan NOS3. NOS1 terdapat di jaringan konduksi
jantung, neuron intrakardiak dan retikulum sarkoplasma miosit
jantung, NOS2 terdapat di miokard yang merespon terhadap
sitokin inflamasi, sedangkan yang terakhir terdapat di endotel
koroner, endokard serta sarkolema dan membran tubulus T
miosit jantung. NOS1 dan NOS3 dapat diaktifkan oleh kalsium
dan kalmodulin, sedangkan NOS2 tidak perlu kalsium. NO akan
mengaktifkan guanylate cyclase, kemudian akan menghasilkan
cGMP. cGMP ini menyebabkan relaksasi otot polos vaskuler
sehingga terjadi vasodilatasi. Akan tetapi hal ini tidak terjadi pada
gagal jantung, fungsinya menjadi tumpul karena penurunan
ekspresi dan aktivitas NOS3.
6,18
Bradikinin
Penelitian menunjukkan bahwa bradikinin berperan penting
dalam pengaturan tonus pembuluh darah. Bradikinin akan ber-
ikatan dengan reseptor B1 dan B2. Sebagian besar efek bradikinin
diperantarai lewat ikatan dengan reseptor B2. Ikatan dengan
reseptor B2 ini akan menimbulkan vasodilatasi pembuluh darah.
Pemecahan bradikinin akan dipicu oleh ACE.
6,7,19
Adrenomedullin
Kadar adrenomedullin meningkat pada pasien gagal jantung.
Adrenomedullin ini dikeluarkan sebagai kompensasi efek vaso-
konstriksi beberapa hormon. Kadar adrenomedullin yang tinggi
menyebabkan penurunan tekanan darah, penurunan tekanan
pengisian ventrikel, meningkatkan curah jantung, memperbaiki
fungsi ginjal, serta menurunan kadar aldosteron.
6,20
Apelin
Pada pasien gagal jantung didapatkan penurunan kadar apelin
dalam sirkulasi. Apelin mempunyai efek vasodilatasi dan menurunkan
tekanan darah. Apelin juga mempunyai efek inotropik positif dan
menimbulkan diuresis dengan menghambat hormon ADH.
6,7
Remodeling Ventrikel Kiri
Model neurohormonal yang telah dijelaskan di atas gagal men-
jelaskan progresivitas gagal jantung. Remodeling ventrikel kiri
yang progresif berhubungan langsung dengan bertambah
buruknya kemampuan ventrikel kiri di kemudian hari. Proses
remodeling mempunyai efek penting pada miosit jantung,
perubahan volume miosit dan komponen nonmiosit pada miokard
serta geometri dan arsitektur ruangan ventrikel kiri.
6,7,8
Perubahan Biologis pada Miosit Jantung
Hipertrofi Miosit Jantung
Peningkatan tekanan pada dinding otot jantung akan memicu
timbulnya hipertrofi dan penimbunan matriks ekstraseluler. Jenis
remodeling ventrikel ini tergantung faktor pemicu. Apabila dipicu
oleh peningkatan volume akan terjadi hipertrofi eksentrik, terjadi
pemanjangan miosit dengan penambahan sarkomer secara seri
sehingga menimbulkan pelebaran ventrikel kiri. Remodeling
yang dipicu oleh peningkatan tekanan seperti pada hipertensi
akan menimbulkan hipertrofi konsentrik, terjadi penambahan
sarkomer secara paralel, peningkatan area cross-sectional miosit
dan terjadi penebalan dinding ventrikel kiri.
6,7,8
Perubahan Komplek Kontraksi-Eksitasi
Hal ini ditujukan pada proses biologis yang dimulai dari potensial
aksi kardiak, diakhiri dengan kontraksi dan relaksasi miosit. Pada
gagal jantung, didapatkan potensial aksi yang abnormal di-
perlama, sama halnya dengan penurunan dan ketidakmampuan
relaksasi. Ca
2+
intraseluler pada penderita gagal jantung gagal
meningkat selama depolarisasi, yang menggambarkan lambatnya
pengangkutan Ca
2+
pada aparatus kontraktil (menyebabkan
aktivasi yang lambat), diikuti oleh lambatnya penurunan selama
repolarisasi (menyebabkan relaksasi yang lambat).
6,7,8
Pada penderita gagal jantung didapatkan penurunan SERCA2A
(sarcoendoplasmic reticulum Ca
2+
) yang menyebabkan penurunan
fungsi transient Ca
2+
dan penyimpanan Ca
2+
. Beberapa peneli-
tian mendapatkan SERCA2A yang normal pada penderita gagal
jantung dengan penurunan kontraktilitas, mungkin terdapat
abnormalitas fungsi molekul lain yang mengatur fungsi SR.
21
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
175
TINJAUAN PUSTAKA
Didapatkan juga penurunan kanal kalsium tipe L (L-type calcium
channel) yang mengurangi kekuatan dan homogenitas pemasukan
Ca
2+
dan efeknya pada pelepasan Ca
2+
SR.
20
Selain itu didapatkan
peningkatan Na
+
/Ca
2+
exchanger, sebagai kompensasi penurunan
ambilan Ca
2+
karena penurunan aktivitas SERCA2A.
22
Perubahan Miokard
Perubahan akibat hilangnya miosit secara progresif melalui
proses nekrosis, apoptosis atau autofagi, akan menyebabkan
disfungsi kardiak yang progresif dan remodeling ventrikel kiri.
Nekrosis
Merupakan suatu bentuk kematian sel akibat injury miosit yang
parah. Bentuk nekrosis adalah ruptur sel, yang didahului oleh
distensi berbagai organel seluler, degradasi DNA nukleus dan
pembengkakan sel yang menyebabkan gangguan membran
plasma. Ruptur sel membran yang terjadi pada nekrosis melepas-
kan komponen intraseluler yang akan meningkatkan reaksi
inflamasi: terjadi peningkatan sel granulosit, makrofag serta fibroblas
yang mensekresi kolagen di sekitar area injury. Hasil akhir berupa
skar fibrotik, yang akan mengubah komponen struktural dan
fungsional miokard. Nekrosis miosit jantung dapat disebabkan
oleh penyakit jantung iskemik, injuri miokard, zat toksin (seperti
daunorubicin), infeksi dan inflamasi. Mekanisme neurohormonal
(konsentrasi NE, angiotensin II maupun ET) juga dapat menyebab-
kan terjadinya proses nekrosis miosit.
23
Apoptosis
Apoptosis atau kematian sel terprogram, merupakan suatu proses
yang dapat menghilangkan sel secara selektif dengan cara bunuh
diri. Sel dapat melakukan apoptosis karena sudah terprogram
dalam kode genetiknya. Walaupun demikian, keadaan patologis
seperti iskemi akut maupun kardiomiopati dilatasi dapat memicu
apoptosis secara tidak tepat. Apoptosis membutuhkan energi
dan aktivasi biokimia spesifik sebagai pemicu kematian sel
melalui pola intrinsik maupun ekstrinsik yang akan mengaktivasi
protein kaspase. Apoptosis miosit jantung dapat terjadi karena
aksi katekolamin pada reseptor beta1 adrenergik, angiotensin II,
reactive oxygen species, NO, sitokin inflamasi; semua hal tersebut
dapat memicu kematian sel terprogram.
24
Autofagi
Merupakan proses seluler homeostatik: organel ataupun protein
tertentu diisolasi oleh vesikel membran ganda, isi vesikel akan
didegradasi oleh lisosom. Jika proses autofagi terjadi pada
seluruh sel, dinamakan kematian sel karena autofagi. Beberapa
studi menyebutkan terjadinya proses autofagi pada penderita
gagal jantung.
25
Perubahan Struktur Ventrikel Kiri
Perubahan struktur ini akan memperburuk keadaan penderita
gagal jantung. Perubahan ini tidak hanya membuat jantung
lebih besar akan tetapi juga mengubah bentuk jantung menjadi
lebih sferis, akibatnya ventrikel membutuhkan energi lebih banyak,
hasil akhirnya terjadi peningkatan dilatasi ventrikel kiri, penurunan
cardiac output maupun peningkatan hemodynamic overloading.
26
PENUTUP
Gagal jantung merupakan suatu keadaan struktur atau fungsi
jantung abnormal yang menyebabkan ketidakmampuan jantung
memompakan darah untuk memenuhi kebutuhan vaskularisasi
jaringan. Ini dapat diterangkan dengan konsep model patofisio-
logi; yang dibahas dalam makalah ini adalah model neurohormonal
dan remodeling ventrikel kiri. Masing-masing model memiliki
keunggulan dan kelemahannya dalam memahami konsep pato-
fisiologi gagal jantung.
DAFTAR PUSTAKA
1. Mann DL. Heart Failure and Cor Pulmonale. In: Fauci AS, Braunwald E, Kasper DL, et al. Harrison製
Principles of Internal Medicine. 17th ed. Vol 2. 2008. USA: McGraw Hill. pp:1443-1453.
2. Hunt SA, Abraham WT ,Chin MH, et al. ACC/AHA 2005 Guidelines Update for the Diagnosis and
Management of Chronic Heart Failure in the Adult : A Report of the American College of Cardiology/
American Heart Association Task Force on Practice Guidelines (Writing Committee to update the 2001
Guidelines for the Evaluation and Management of Heart Failure) Available at http: //www.acc.org. Accessed
July 24, 2008.
3. Fox KF, Cowie MR, Wood PA, et al. Coronary Artery Disease as the cause of incident heart failure in the
population. Eur Heart J 2001; 22: 228-236.
4. Bundkirchen A, Schwinger RHG. Epidemiology and economic burden of chronic heart failure. Eur Heart J.
2004;
57-60.
5. Cowie MR, Dar O. The Epidemiology and Diagnosis of Heart Failure. In: Fuster V, Walsh RA, O舞ourke RA,
Poole-Wilson P. Hurst製 The Heart. 12th ed. Vol 1. 2008. China: McGraw Hill. pp: 713-723.
6. Francis GS, Sonnenblick EH, Tang WHW, Poole-Wilson P. Pathophysiology of Heart Failure. In: Fuster V, Walsh
RA, O舞ourke RA, Poole-Wilson P. Hurst製 The Heart. 12th ed. Vol 1. 2008. China: McGraw Hill. pp: 691-712.
7. Mann DL. Pathophysiology of Heart Failure. In: Libby P, Bonow RO, Mann DL, Zipes DP. Braunwald製 Heart
Disease A Textbook of Cardiovascular Medicine. 8th ed. 2008. Philadelphia: Saunders Elsevier. pp:541-560.
8. Shah RV, Fifer MA. Heart Failure. In: Lilly LS. Pathophysiology of Heart Failure A Collaborative Project of
Medical Students and Faculty. 4th ed. 2007. Philadelphia: Lippincott Williams&Wilkins. pp:225-251.
9. Floras JS. Sympathetic Activation in Human Heart Failure: Diverse Mechanisms Therapeutic Opportunities.
Acta Physiol Scand 2003; 177: 391.
10. Dell膏talia L, Sabri A. Activation of the Renin Angiotensin System in Hypertrophy and Heart Failure. In: Mann
DL. Heart Failure: A Companion to Braunwald製 Heart Disease. Philadelphia: Saunders Elsevier. 2004. pp:
129-143.
11. Grieve DJ, Shah AM. Oxidative Stress in Heart Failure more than just damage. Eur Heart J 2003; 24: 2161.
12. Tang WH, Bhavnani S Francis GS. Vasopressin Receptor Antagonists in the Management of Acute Heart
Failure. Expert Opin Investig Drugs 2005; 14: 593.
13. Cea LB. Natriuretic Peptide Family: New Aspects. Curr Med Chem Cardiovasc Hematol Agents 2005; 3:87.
14. Cataliotti A, Burnett JC. Natriuretic Peptides: Novel Therapeutic Targets in Heart Failure. J Invest Med 2005;
53:378.
15. Podesser BK, Siwik DA, Eberli FR et al. ET(A) Receptor Blockade Prevents Matrix Metalloproteinase Activation
Late Post Myocardial Infarction in the Rat. Am J Physiol Heart Circ Physiol 2001; 280: H984.
16. Feng QP, Hedner T, Andersson B et al. Cardiac Neuropeptide Y and Noradrenaline Balance in Patients with
Congestive Heart Failure. Br Heart J 1994; 71:261.
17. Lim M, Honisetti S, Sparkes CD et al. Differential Effect of Urotensin II on Vascular Tone in Normal Subjects and
Patients with Chronic Heart Failure. Circulation 2004; 109: 1212.
18. Damy T, Ratajczah P, Shah AM et al. Increased Neuronal Nitric Oxide Synthase-Derived NO Production in the
Failing Human Heart. Lancet 2004; 363:1365.
19. Sharma JN, Sharma J. Cardiovascular Properties of the Kallikrein-Kinin System. Curr Med Res Opin 2002; 18: 10.
20. Rademaker MT, Cameron VA, Charles CJ et al. Adrenomedullin and Heart Failure. Regul Pept 2003; 112: 51.
21. Houser SR, Margulies KB. Is Depressed Myocyte Contractility Centrally Involved in Heart Failure? Circ Res
2003; 92: 350.
22. Margulies K, Houser SR. Myocyte Abnormalities in Human Heart Failure. In: Mann DL. Heart Failure: A
Companion to Braunwald製 Heart Disease. Philadelphia: Saunders Elsevier. 2004. pp: 41-56.
23. Guerra S, Leri A, Wang X et al. Myocyte Death in the Failing Human Heart is Gender Dependent. Circ Res
1999; 85: 856.
24. Wencker D, Chandra M, Nguyen K, et al. A Mechanistic Role for Cardiac Myocyte Apoptosis in Heart Failure.
J Clin Invest 2003; 111: 1497.
25. Kostin S, Pool L, Elsasser A et al. Myocytes Die by Multiple Mechanisms in Failing Human Heart. Circ Res 2005;
92:
715.
26. Mann DL. Left Ventricular Size and Shape: Determinants of Mechanical Signal Transduction Pathways. Heart
Fail Rev 2005; 10: 95.