background image
T I N J A U A N P U S T A K A
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
16
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
PENDAHULUAN
Pengobatan kanker hingga sekarang masih merupakan tantangan.
Fatalnya efek samping (Adverse Drug Reaction/ADR) zat kemo-
terapi dan timbulnya resistensi atau tidak responnya pasien terha-
dap kemoterapi adalah gambaran kompleksitas strategi terapi
dalam melawan kanker
(1)
. Secara tradisional, faktor genetik pasien
belum menjadi parameter yang dipertimbangkan dalam memilih
jenis pengobatan kanker
(2)
. Parameter yang umum digunakan dalam
pemilihan dan pemberian dosis kemoterapi adalah jenis tumor,
karakter patologi/histologi, tahapan klinis, umur, berat badan dan
luas permukaan tubuh
(2,3)
.
Namun parameter tradisional tersebut tidak bisa menjelaskan
mengapa respon pasien dan kanker pasien terhadap kemoterapi ber-
beda-beda, walaupun memiliki parameter yang sama. Pengetahuan
biologi molekuler modern menunjukkan bahwa faktor genetik
seseorang dan status genetik di kanker pasien itu sendiri memiliki
peran penting dalam menentukan keberhasilan kemoterapi yang
maksimal dan yang memberikan efek samping minimal. Maka
salah satu cabang ilmu dalam era paska genomik yang mempela-
jari interaksi genetik dengan pengobatan/farmakologi adalah
Farmakogenomik
(1)
.
DEFINISI FARMAKOGENOMIK
Farmakogenomik diartikan sebagai
'
individualisasi pengobatan
melalui seleksi jenis obat atau dosis obat tertentu yang didasarkan
kepada tes profil genetika seseorang terhadap efek obat baik secara
langsung (tes genotip) atau tidak langsung (tes fenotip)
'
(4)
. Dengan
demikian aplikasi farmakogenomik bertujuan untuk mengoptimalisasi
toksisitas obat terhadap kanker dan mengurangi efek samping.
Dengan kata lain, status genetik dari pasien dan dari kanker di
tubuh pasien dianalisis terlebih dahulu guna menyeleksi jenis,
dosis, dan strategi yang optimal sebelum kemoterapi dimulai.
Untuk jenis kanker tertentu seperti kanker payudara atau kanker
paru-paru, prinsip farmakogenomik sudah mulai diterapkan dengan
mendeteksi status ekspresi Estrogen Receptor (ER), amplifikasi gen
Her2/neu, atau mutasi gen EGFR sebelum pengobatan dengan Tamo-
xifen, Trastuzumab (antibodi melawan Her2) atau Iressa (antibodi
melawan EGFR)
(4)
. Artinya, pasien yang jaringan kankernya tidak
mengekspresikan amplifikasi gen Her2 atau tidak mengalami mutasi
di EGFR di permukaan selnya tentu saja bukan kandidat yang tepat.
Di samping mengoptimalkan kinerja jenis obat-obat yang berbasis
antibodi dalam melawan kanker, farmakogenomik juga memberikan
kontribusi dengan mengoptimalkan kemoterapi konvensional yang
sudah ada
(2)
. Dalam rentang 5 tahun terakhir, aplikasi farmakoge-
nomik mulai terlihat dalam perawatan penderita kanker glioblastoma.
Glioblastoma dan Mekanisme Resistensi dengan gen
DNA Repair
Glioblastoma adalah jenis kanker yang sulit dideteksi dini. Prognosis
kanker glioblastoma sangat buruk; mayoritas penderitanya meninggal
sekitar 2 tahun setelah diagnosis
(5)
. Faktor prognosis, yaitu parameter
yang bisa memperkirakan laju perkembangan kanker, adalah
umur, nekrosis, dan skor Karnofsky Performance Status (KPS)
(5-7)
.
Mengenai umur, 50% pasien yang berumur dibawah 40 tahun
bisa hidup selama 18 bulan, 20% untuk pasien berumur antara
40-60 tahun, dan hanya 10% bagi pasien di atas 60 tahun
(5)
.
Keberadaan nekrosis memberikan prognosis buruk terhadap nasib
penderita. Nekrosis yang mencapai 50% atau lebih dari volume
kanker, memberi kemungkinan untuk bertahan hidup selama 10
bulan saja
(7)
. Selanjutnya, makin tinggi skor KPS, makin baik
prognosis pasien. Tingkat kelangsungan hidup pasien dengan
skor KPS di atas 70 adalah 34% dan di bawah 70 adalah 13%
untuk bertahan hidup selama 18 bulan
(5)
.
Hingga saat ini standar pengobatan terbaik konvensional adalah
tindakan bedah dengan resection atau mengambil jaringan kanker
sebanyak mungkin, diikuti oleh radioterapi dan/atau kemoterapi
(8)
.
Standar ini lahir dari hasil uji klinis secara acak melibatkan sekitar
600 pasien dari berbagai pusat di Eropa yang menunjukkan bahwa
pasien bedah yang diikuti oleh gabungan radioterapi dengan
kemoterapi (temozolomide) memiliki respon yang lebih baik di-
banding dengan radioterapi saja. Tingkat kelangsungan hidup
selama 2 tahun adalah 10% untuk pasien dengan radioterapi,
dan 26% untuk pasien yang mendapatkan kombinasi radioterapi
dan kemoterapi (dengan temozolomide). Namun demikian, tingkat
kelangsungan hidup secara keseluruhan belum banyak berubah,
kurang dari 5% penderita masih bertahan setelah 5 tahun
(8)
.
Temozolomide, sebagaimana mayoritas zat kemoterapi lainnya,
adalah zat bersifat genotoxic (merusak DNA) sekaligus cytotoxic
(penyebab kematian sel)
(9)
. Cara kerja Temozolomide adalah
dengan meng-alkilasi DNA di posisi oksigen yang ke-6 (O6) dari
gugus guanidine, sehingga menghasilkan alkilasi guanidine atau
O6-meG. Contoh lain zat kemoterapi yang mengalkilasi DNA
adalah nitrosourea (seperti BCNU atau carmustine), procarbazine,
dan streptozotocin
(9)
. Terbentuknya gugus O6-meG ini dikenali dan
diperbaiki menjadi gugus guanidine kembali oleh enzim MGMT
(O6 methylguanine DNA methyltransferase)
(9)
.
Normalnya, gugus guanine berpasangan dengan gugus cytosine.
Apabila gugus O6-meG ini tidak diperbaiki, maka ia akan ber-
pasangan dengan gugus thymine. Berpasangannya gugus O6-meG
(yang mirip dengan gugus aslinya yaitu guanidine) dengan thymine
akan merusak struktur helix dari DNA. Struktur ini akan terdeteksi
sebagai pasangan yang mismatch (tidak sepadan) dan akan diperbaiki
oleh sekelompok gen dari jenis Mismatch Repair (MMR)
(9)
.
Ketika gen MMR gagal memperbaiki lesi mismatch tersebut, ia akan
mengaktifkan proses apoptosis (kematian sel) sehingga terjadilah
cytotoxicity. Terjadinya apoptosis ini bertujuan agar sel yang memiliki
potensi perubahan genetik bisa tereliminasi secara alami sehingga
mengurangi kemungkinan tercetusnya kanker. Kegagalan MMR
dalam memperbaiki lesi bisa terjadi apabila gen MGMT yang ber-
tugas mengenali O6-meG dan menggantikannya dengan Guanine
tidak melakukan tugasnya dengan baik
(9)
.
Studi in vitro menunjukkan bahwa sel yang tidak memiliki ekspresi
gen MGMT memiliki sensitifitas yang tinggi ketika dipaparkan
dengan zat kemoterapi yang meng-alkilasi DNA
(10)
. Di lain pihak, sel
yang memiliki ekspresi gen MGMT secara normal atau lebih, akan
memiliki resistensi terhadap zat DNA alkilasi tersebut. Maka, salah
satu mekanisme resistensi sel kanker terhadap kemoterapi adalah
dengan mengekspresikan gen MGMT. Di samping itu, sel kanker
yang sudah tidak lagi memiliki gen MGMT juga akan menjadi
resisten terhadap akibat cytotoxicity apabila ia juga kehilangan
ekspresi gen MMR
(11)
. Hilangnya fungsi gen MGMT dan MMR
sekaligus memberikan efek yang lebih hebat dalam pertumbuhan
kanker karena ia memberikan kemudahan dalam memutasi gen-gen
lainnya, sehingga bisa menjadi jenis kanker yang lebih ganas
(12)
.
Hal-hal seperti ini menjadi dasar pertimbangan dalam farmako-
genomik : status genetik dari kanker itu sendiri perlu dijadikan per-
timbangan dalam pemilihan dan penetapan strategi kemoterapi.
Korelasi hipermetilasi gen MGMT dengan respon terhadap
temozolomide
Sejak ditemukannya fenomena hipermetilasi DNA
(13)
, beberapa
gen yang penting dalam metabolisme sel, perbaikan DNA, atau
pencetusan kanker dievaluasi daerah promotornya untuk dilihat
kadar hipermetilasi di daerah tersebut
(12)
. Beberapa laporan me-
nunjukkan bahwa gen MGMT terhipermetilasi di daerah promotor-
nya sehingga menghambat ekspresi gen tersebut. Frekuensi
hipermetilasi di gen MGMT terjadi di berbagai jenis kanker, termasuk
di sekitar 30-40% pasien glioblastoma, kolorektal, nasofaring,
dan rahim. Di sisi lain, jenis kanker seperti payudara, ovarium,
endometrium, hati dan pankreas jarang mengalami hipermetilasi
di gen MGMT
(12)
.
Konsekuensi dari hipermetilasi gen MGMT ternyata memiliki
dampak klinis yang bermakna dalam kemoterapi. Di tahun 2000,
tim yang dipimpin James Herman di sekolah kedokteran Johns
Hopkins, AS menganalisis secara retrospektif hipermetilasi gen
MGMT dari 47 sampel kanker otak dari pasien, sebelum mereka
menjalani tindakan bedah yang diikuti dengan radiasi dan kemo-
terapi dengan Temozolomide
(14)
. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa hipermetilasi promoter gen MGMT terjadi di 40% dari
pasien. Persentase hipermetilasi ini tidak dipengaruhi oleh umur,
skor KPS dan tingkat keganasan kanker. Dalam analisis univariasi,
adanya hipermetilasi berkorelasi dengan respons klinis dan tingkat
kelangsungan hidup (Overall Survival).
17
Implikasi Hipermetilasi
Gen MGMT di Kanker Otak:
Contoh Aplikasi Farmakogenomik
Ahmad R. Utomo, Ferry Sandra
Stem Cell and Cancer Institute, Kalbe Farma Pharmaceutical Company
Jakarta 13210, Indonesia
ABSTRAK
Farmakogenomik bertujuan untuk mengoptimasi strategi pengobatan dengan memperhatikan faktor genetik dan
epigenetik pasien. Hipermetilasi promotor adalah proses epigenetik yang menghambat ekspresi gen. Hipermetilasi
gen MGMT terjadi di sekitar 30-40% pasien glioblastoma. Tindakan bedah yang diikuti dengan kombinasi obat
Temozolomide (obat sitotoksik yang meng-alkilasi DNA) dan terapi radiasi merupakan strategi terbaik saat ini untuk
pasien glioblastoma. Lebih dari itu, pasien yang mengalami hipermetilasi MGMT memiliki respon yang lebih baik dan
median kelangsungan hidup yang lebih lama dibanding dengan pasien yang tidak mengalami hipermetilasi. Menariknya,
lebih dari 70% pasien yang masih hidup selama 3 tahun atau lebih ternyata mengalami hipermetilasi di gen MGMT.
Maka, hipermetilasi di promoter gen MGMT adalah faktor prediktif yang positif dan menjadi paradigma untuk kemoterapi
kanker di masa depan.
Kata-kata kunci: hipermetilasi, glioblastoma, temozolomide, pharmakogenomik
Abbreviations: MGMT: O6-methylguanine (O6-MG)-DNA-methyltransferase
background image
T I N J A U A N P U S T A K A
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
16
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
PENDAHULUAN
Pengobatan kanker hingga sekarang masih merupakan tantangan.
Fatalnya efek samping (Adverse Drug Reaction/ADR) zat kemo-
terapi dan timbulnya resistensi atau tidak responnya pasien terha-
dap kemoterapi adalah gambaran kompleksitas strategi terapi
dalam melawan kanker
(1)
. Secara tradisional, faktor genetik pasien
belum menjadi parameter yang dipertimbangkan dalam memilih
jenis pengobatan kanker
(2)
. Parameter yang umum digunakan dalam
pemilihan dan pemberian dosis kemoterapi adalah jenis tumor,
karakter patologi/histologi, tahapan klinis, umur, berat badan dan
luas permukaan tubuh
(2,3)
.
Namun parameter tradisional tersebut tidak bisa menjelaskan
mengapa respon pasien dan kanker pasien terhadap kemoterapi ber-
beda-beda, walaupun memiliki parameter yang sama. Pengetahuan
biologi molekuler modern menunjukkan bahwa faktor genetik
seseorang dan status genetik di kanker pasien itu sendiri memiliki
peran penting dalam menentukan keberhasilan kemoterapi yang
maksimal dan yang memberikan efek samping minimal. Maka
salah satu cabang ilmu dalam era paska genomik yang mempela-
jari interaksi genetik dengan pengobatan/farmakologi adalah
Farmakogenomik
(1)
.
DEFINISI FARMAKOGENOMIK
Farmakogenomik diartikan sebagai
'
individualisasi pengobatan
melalui seleksi jenis obat atau dosis obat tertentu yang didasarkan
kepada tes profil genetika seseorang terhadap efek obat baik secara
langsung (tes genotip) atau tidak langsung (tes fenotip)
'
(4)
. Dengan
demikian aplikasi farmakogenomik bertujuan untuk mengoptimalisasi
toksisitas obat terhadap kanker dan mengurangi efek samping.
Dengan kata lain, status genetik dari pasien dan dari kanker di
tubuh pasien dianalisis terlebih dahulu guna menyeleksi jenis,
dosis, dan strategi yang optimal sebelum kemoterapi dimulai.
Untuk jenis kanker tertentu seperti kanker payudara atau kanker
paru-paru, prinsip farmakogenomik sudah mulai diterapkan dengan
mendeteksi status ekspresi Estrogen Receptor (ER), amplifikasi gen
Her2/neu, atau mutasi gen EGFR sebelum pengobatan dengan Tamo-
xifen, Trastuzumab (antibodi melawan Her2) atau Iressa (antibodi
melawan EGFR)
(4)
. Artinya, pasien yang jaringan kankernya tidak
mengekspresikan amplifikasi gen Her2 atau tidak mengalami mutasi
di EGFR di permukaan selnya tentu saja bukan kandidat yang tepat.
Di samping mengoptimalkan kinerja jenis obat-obat yang berbasis
antibodi dalam melawan kanker, farmakogenomik juga memberikan
kontribusi dengan mengoptimalkan kemoterapi konvensional yang
sudah ada
(2)
. Dalam rentang 5 tahun terakhir, aplikasi farmakoge-
nomik mulai terlihat dalam perawatan penderita kanker glioblastoma.
Glioblastoma dan Mekanisme Resistensi dengan gen
DNA Repair
Glioblastoma adalah jenis kanker yang sulit dideteksi dini. Prognosis
kanker glioblastoma sangat buruk; mayoritas penderitanya meninggal
sekitar 2 tahun setelah diagnosis
(5)
. Faktor prognosis, yaitu parameter
yang bisa memperkirakan laju perkembangan kanker, adalah
umur, nekrosis, dan skor Karnofsky Performance Status (KPS)
(5-7)
.
Mengenai umur, 50% pasien yang berumur dibawah 40 tahun
bisa hidup selama 18 bulan, 20% untuk pasien berumur antara
40-60 tahun, dan hanya 10% bagi pasien di atas 60 tahun
(5)
.
Keberadaan nekrosis memberikan prognosis buruk terhadap nasib
penderita. Nekrosis yang mencapai 50% atau lebih dari volume
kanker, memberi kemungkinan untuk bertahan hidup selama 10
bulan saja
(7)
. Selanjutnya, makin tinggi skor KPS, makin baik
prognosis pasien. Tingkat kelangsungan hidup pasien dengan
skor KPS di atas 70 adalah 34% dan di bawah 70 adalah 13%
untuk bertahan hidup selama 18 bulan
(5)
.
Hingga saat ini standar pengobatan terbaik konvensional adalah
tindakan bedah dengan resection atau mengambil jaringan kanker
sebanyak mungkin, diikuti oleh radioterapi dan/atau kemoterapi
(8)
.
Standar ini lahir dari hasil uji klinis secara acak melibatkan sekitar
600 pasien dari berbagai pusat di Eropa yang menunjukkan bahwa
pasien bedah yang diikuti oleh gabungan radioterapi dengan
kemoterapi (temozolomide) memiliki respon yang lebih baik di-
banding dengan radioterapi saja. Tingkat kelangsungan hidup
selama 2 tahun adalah 10% untuk pasien dengan radioterapi,
dan 26% untuk pasien yang mendapatkan kombinasi radioterapi
dan kemoterapi (dengan temozolomide). Namun demikian, tingkat
kelangsungan hidup secara keseluruhan belum banyak berubah,
kurang dari 5% penderita masih bertahan setelah 5 tahun
(8)
.
Temozolomide, sebagaimana mayoritas zat kemoterapi lainnya,
adalah zat bersifat genotoxic (merusak DNA) sekaligus cytotoxic
(penyebab kematian sel)
(9)
. Cara kerja Temozolomide adalah
dengan meng-alkilasi DNA di posisi oksigen yang ke-6 (O6) dari
gugus guanidine, sehingga menghasilkan alkilasi guanidine atau
O6-meG. Contoh lain zat kemoterapi yang mengalkilasi DNA
adalah nitrosourea (seperti BCNU atau carmustine), procarbazine,
dan streptozotocin
(9)
. Terbentuknya gugus O6-meG ini dikenali dan
diperbaiki menjadi gugus guanidine kembali oleh enzim MGMT
(O6 methylguanine DNA methyltransferase)
(9)
.
Normalnya, gugus guanine berpasangan dengan gugus cytosine.
Apabila gugus O6-meG ini tidak diperbaiki, maka ia akan ber-
pasangan dengan gugus thymine. Berpasangannya gugus O6-meG
(yang mirip dengan gugus aslinya yaitu guanidine) dengan thymine
akan merusak struktur helix dari DNA. Struktur ini akan terdeteksi
sebagai pasangan yang mismatch (tidak sepadan) dan akan diperbaiki
oleh sekelompok gen dari jenis Mismatch Repair (MMR)
(9)
.
Ketika gen MMR gagal memperbaiki lesi mismatch tersebut, ia akan
mengaktifkan proses apoptosis (kematian sel) sehingga terjadilah
cytotoxicity. Terjadinya apoptosis ini bertujuan agar sel yang memiliki
potensi perubahan genetik bisa tereliminasi secara alami sehingga
mengurangi kemungkinan tercetusnya kanker. Kegagalan MMR
dalam memperbaiki lesi bisa terjadi apabila gen MGMT yang ber-
tugas mengenali O6-meG dan menggantikannya dengan Guanine
tidak melakukan tugasnya dengan baik
(9)
.
Studi in vitro menunjukkan bahwa sel yang tidak memiliki ekspresi
gen MGMT memiliki sensitifitas yang tinggi ketika dipaparkan
dengan zat kemoterapi yang meng-alkilasi DNA
(10)
. Di lain pihak, sel
yang memiliki ekspresi gen MGMT secara normal atau lebih, akan
memiliki resistensi terhadap zat DNA alkilasi tersebut. Maka, salah
satu mekanisme resistensi sel kanker terhadap kemoterapi adalah
dengan mengekspresikan gen MGMT. Di samping itu, sel kanker
yang sudah tidak lagi memiliki gen MGMT juga akan menjadi
resisten terhadap akibat cytotoxicity apabila ia juga kehilangan
ekspresi gen MMR
(11)
. Hilangnya fungsi gen MGMT dan MMR
sekaligus memberikan efek yang lebih hebat dalam pertumbuhan
kanker karena ia memberikan kemudahan dalam memutasi gen-gen
lainnya, sehingga bisa menjadi jenis kanker yang lebih ganas
(12)
.
Hal-hal seperti ini menjadi dasar pertimbangan dalam farmako-
genomik : status genetik dari kanker itu sendiri perlu dijadikan per-
timbangan dalam pemilihan dan penetapan strategi kemoterapi.
Korelasi hipermetilasi gen MGMT dengan respon terhadap
temozolomide
Sejak ditemukannya fenomena hipermetilasi DNA
(13)
, beberapa
gen yang penting dalam metabolisme sel, perbaikan DNA, atau
pencetusan kanker dievaluasi daerah promotornya untuk dilihat
kadar hipermetilasi di daerah tersebut
(12)
. Beberapa laporan me-
nunjukkan bahwa gen MGMT terhipermetilasi di daerah promotor-
nya sehingga menghambat ekspresi gen tersebut. Frekuensi
hipermetilasi di gen MGMT terjadi di berbagai jenis kanker, termasuk
di sekitar 30-40% pasien glioblastoma, kolorektal, nasofaring,
dan rahim. Di sisi lain, jenis kanker seperti payudara, ovarium,
endometrium, hati dan pankreas jarang mengalami hipermetilasi
di gen MGMT
(12)
.
Konsekuensi dari hipermetilasi gen MGMT ternyata memiliki
dampak klinis yang bermakna dalam kemoterapi. Di tahun 2000,
tim yang dipimpin James Herman di sekolah kedokteran Johns
Hopkins, AS menganalisis secara retrospektif hipermetilasi gen
MGMT dari 47 sampel kanker otak dari pasien, sebelum mereka
menjalani tindakan bedah yang diikuti dengan radiasi dan kemo-
terapi dengan Temozolomide
(14)
. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa hipermetilasi promoter gen MGMT terjadi di 40% dari
pasien. Persentase hipermetilasi ini tidak dipengaruhi oleh umur,
skor KPS dan tingkat keganasan kanker. Dalam analisis univariasi,
adanya hipermetilasi berkorelasi dengan respons klinis dan tingkat
kelangsungan hidup (Overall Survival).
17
Implikasi Hipermetilasi
Gen MGMT di Kanker Otak:
Contoh Aplikasi Farmakogenomik
Ahmad R. Utomo, Ferry Sandra
Stem Cell and Cancer Institute, Kalbe Farma Pharmaceutical Company
Jakarta 13210, Indonesia
ABSTRAK
Farmakogenomik bertujuan untuk mengoptimasi strategi pengobatan dengan memperhatikan faktor genetik dan
epigenetik pasien. Hipermetilasi promotor adalah proses epigenetik yang menghambat ekspresi gen. Hipermetilasi
gen MGMT terjadi di sekitar 30-40% pasien glioblastoma. Tindakan bedah yang diikuti dengan kombinasi obat
Temozolomide (obat sitotoksik yang meng-alkilasi DNA) dan terapi radiasi merupakan strategi terbaik saat ini untuk
pasien glioblastoma. Lebih dari itu, pasien yang mengalami hipermetilasi MGMT memiliki respon yang lebih baik dan
median kelangsungan hidup yang lebih lama dibanding dengan pasien yang tidak mengalami hipermetilasi. Menariknya,
lebih dari 70% pasien yang masih hidup selama 3 tahun atau lebih ternyata mengalami hipermetilasi di gen MGMT.
Maka, hipermetilasi di promoter gen MGMT adalah faktor prediktif yang positif dan menjadi paradigma untuk kemoterapi
kanker di masa depan.
Kata-kata kunci: hipermetilasi, glioblastoma, temozolomide, pharmakogenomik
Abbreviations: MGMT: O6-methylguanine (O6-MG)-DNA-methyltransferase
background image
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
18
Waktu median kelangsungan hidup pasien yang memiliki
hipermetilasi dan yang tidak mengalami hipermetilasi adalah 21
bulan dan 8 bulan. Lebih jauh lagi, 63% dari pasien yang mengalami
hipermetilasi memiliki respon parsial atau seluruhnya terhadap
kemoterapi, dibandingkan dengan hanya 1% dari pasien yang
tidak memiliki hipermetilasi
(14)
.
Fungsi hipermetilasi gen MGMT sebagai faktor prediktif terhadap
respon pasien terhadap standar terapi glioblastoma terulang
secara prinsip oleh grup di Eropa yang melibatkan 206 pasien
glioblastoma
(15)
. Hipermetilasi promotor gen MGMT terjadi di
sekitar 45% pasien. Pasien yang mengalami hipermetilasi di gen
MGMT mendapatkan median tingkat kelangsungan hidup selama
22 bulan dengan tingkat respon 46% untuk 2-tahun ketika
dirawat dengan radioterapi dan kemoterapi, dibanding dengan
15 bulan dan tingkat respon 23% untuk 2-tahun di pasien yang
dirawat dengan radioterapi saja. Dengan demikian pasien yang
mengalami hipermetilasi di promotor gen MGMT mendapatkan
keuntungan ketika dirawat dengan kemoterapi Temozolomide.
Menariknya lagi, pasien yang masih hidup setelah 3 tahun, 74%
dari mereka memiliki MGMT hipermetilasi
(16)
.
Metoda deteksi hipermetilasi MGMT
Meski secara prinsip hipermetilasi gen MGMT berbanding lurus
dengan tingkat ekspresi gen MGMT, jenis pemeriksaan gen MGMT
untuk menimbang manfaat yang akan diterima pasien sebelum
kemoterapi dengan temozolomide adalah penting
(17)
. Hipermetilasi
mengakibatkan hambatan ekspresi gen MGMT sehingga mem-
buat sel kanker menjadi sensitif terhadap paparan temozolomide
(11)
.
Akibatnya ekspresi gen MGMT dalam bentuk protein yang biasanya
dideteksi dengan metoda immunohistokima pun bisa berkurang
di sel yang mengalami hipermetilasi di promotornya. Akan tetapi
sinyal protein MGMT yang terlihat dengan metoda immunohisto-
kimia (teknik umum di laboratorium patologi anatomi pada umum-
nya) bisa berasal dari sel non-kanker, seperti sel leukosit
(17)
. Maka
teknik PCR (polymerase-chain reaction) adalah teknik yang lebih
akurat karena ia hanya mendeteksi adanya hipermetilasi di sel
kanker (di mana hipermetilasi gen MGMT tidak ditemukan di sel
normal), suatu bentuk sinyal yang tidak bisa dibedakan dengan
teknik immunohistokimia
(17)
.
Molekul penghambat MGMT
Dalam kondisi alternatif pengobatan terhadap glioblastoma sangat
terbatas, timbul pertanyaan apakah pasien yang gen MGMT-nya
tidak termetilasi, tidak perlu diberi temozolomide atau kehilangan
harapan untuk perbaikan? Saat ini beberapa uji klinis sedang di-
lakukan untuk menghambat ekspresi gen MGMT dengan mem-
berikan molekul kecil O6-Benzylguanine (O6-BG)
(18).
O6-BG bekerja
dengan menon-aktifkan protein MGMT dengan mengikat daerah
aktif protein MGMT tersebut dan berkompetisi terhadap lesi O6-
MeG
(18)
. Maka pasien yang awalnya mengekspresikan gen MGMT
diharapkan akan juga menjadi sensitif terhadap kemoterapi yang
menggunakan Temozolomide, sebagaimana pasien yang mengalami
hipermetilasi gen MGMT
(11)
.
Dengan bertambah dalamnya pengetahuan tentang kinerja genetik
yang berkaitan dengan timbulnya kanker, beberapa strategi kemo-
terapi muncul dengan memanfaatkan kombinasi berbagai obat.
Promotor dari gen PTEN, misalnya, juga sering terhipermetilasi
dengan frekuensi sekitar 35%
(19)
. Beberapa uji praklinis
(20)
telah
memberikan gambaran bahwa sel yang kehilangan fungsi PTEN
memiliki sensitifitas yang khas terhadap Rapamycin. Dengan
demikian, kombinasi Rapamycin dengan temozolomide bisa di-
gunakan untuk pasien glioblastoma yang memiliki hipermetilasi
di gen MGMT dan PTEN.
PROSPEK MASA DEPAN
Untuk saat ini, uji prospektif klinis masih sangat diperlukan untuk
menvalidasi efektifitas farmakogenomik sehingga bisa menjadi
praktik yang bisa diadopsi secara meluas. Maka di samping para-
meter klinis dan histologis, masa depan pemeriksaan glioblastoma
khususnya, dan kanker pada umumnya akan juga melibatkan para-
meter genetik secara rutin untuk melihat profil beberapa gen di saat
yang bersamaan dan menentukan kombinasi terapi yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA
1. Phillips K, Veenstra D, Oren E, Lee J, Sadee W. Potential role of pharmacogenomics in reducing
adverse drug reactions: a systematic review. JAMA 2001;286: 2270-79.
2. Weinstein J. Teaching Old Drugs New Tricks. N Engl J Med. 2000;343: 1408-1409
3. Ezzeldin H, Diasio R. Genetic Testing in Cancer Therapeutics. Clin Cancer Res. 2006;12: 4137-41.
4. Swen JJ, Huizinga TW, Gelderblom H, de Vries EGE, Assendelft WJJ, Kirchheiner J, Guchelaar
H-J. Translating Pharmacogenomics: Challenges on the Road to the Clinic. PLoS Medicine
2007;4:
e209
5. Grossman S, Batara J. Current management of glioblastoma multiforme. Semin Oncol.
2004;31:
635-4
6. Ohgaki H, Kleihues P. Epidemiology and etiology of gliomas. Acta Neuropathologica 2005;
109:
93-108.
7. Raza S, Lang F, Aggarwal B, Fuller G, Wildrick D, Sawaya R. Necrosis and glioblastoma: a friend
or a foe? A review and a hypothesis. Neurosurgery 2002;51: 2-12.
8. Stupp R, Hegi ME, Gilbert MR, Chakravarti A. Chemoradiotherapy in Malignant Glioma:
Standard of Care and Future Directions. J Clin Oncol. 2007;25: 4127-36.
9. Kaina B, Christmann M, Naumann S, Roos W. MGMT: key node in the battle against
genotoxicity, carcinogenicity and apoptosis induced by alkylating agents. DNA Repair (Amst).
2007;6: 1079-99 .
10. Gerson S. Clinical relevance of MGMT in the treatment of cancer. J Clin Oncol. 2002;20:
2388-99.
11. Liu L, Gerson SL. Targeted Modulation of MGMT: Clinical Implications. Clin Cancer Res. 2006;
12:
328-31.
12. Esteller M, Herman J. Generating mutations but providing chemosensitivity: the role of O6-
methylguanine DNA methyltransferase in human cancer. Oncogene 2004; 23: 1-8.
13. Herman J, Baylin S. Gene silencing in cancer in association with promoter hypermethylation. N
Engl J Med. 2003;349: 2042-2054.
14. Esteller M, Garcia-Foncillas J, Andion E, Goodman SN, Hidalgo OF, Vanaclocha V, Baylin SB,
Herman JG. Inactivation of the DNA-Repair Gene MGMT and the Clinical Response of Gliomas
to Alkylating Agents. N Engl J Med. 2000; 343: 1350-54.
15. Hegi ME, Diserens A-C, Gorlia T, Hamou M-F, de Tribolet N, Weller M, Kros JM, Hainfellner JA,
Mason W, Mariani L, Bromberg JEC, Hau P, Mirimanoff RO, Cairncross JG, Janzer RC, Stupp
R. MGMT Gene Silencing and Benefit from Temozolomide in Glioblastoma. N Engl J Med.
2005;352:
997-1003.
16. Krex D, Klink B, Hartmann C, von Deimling A, Pietsch T, Simon M, Sabel M, Steinbach JP,
Heese O, Reifenberger G, Weller M, Schackert G, for the German Glioma Network. Long-term
survival with glioblastoma multiforme. Brain 2007;130: 2596-2606
17. Stupp R, Hegi ME. Methylguanine Methyltransferase Testing in Glioblastoma: When and
How? J Clin Oncol. 2007; 25: 1459-1460.
18. Rabik C, Njoku M, Dolan M. Inactivation of O6-alkylguanine DNA alkyltransferase as a means
to enhance chemotherapy. Cancer Treat Rev. 2006;32: 261-276.
19. Baeza N, Weller M, Yonekawa Y, Kleihues P, Ohgaki H. PTEN methylation and expression in
glioblastomas. Acta Neuropathologica 2003;106: 479-485.
20. Wang MY, Lu KV, Zhu S, Dia EQ, Vivanco I, Shackleford GM, Cavenee W. K, Mellinghoff IK,
Cloughesy TF, Sawyers CL, Mischel PS. Mammalian Target of Rapamycin Inhibition Promotes
Response to Epidermal Growth Factor Receptor Kinase Inhibitors in PTEN-Deficient and PTEN-
Intact Glioblastoma Cells. CAN-04-4392. Cancer Res. 2006;66: 7864-69