H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
396
PENDAHULUAN
Asma didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran
nafas dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast,
eosinofil dan limfosit T. Pada orang yang rentan inflamasi ini
menyebabkan episode mengi berulang, sesak nafas, sempit
dada dan batuk khususnya pada malam atau dini hari. Gejala ini
biasanya berhubungan dengan penyempitan jalan nafas yang
luas namun bervariasi, yang paling tidak sebagian bersifat
reversibel baik spontan maupun dengan pengobatan. Inflamasi
ini juga berhubungan dengan hipereaktivitas jalan nafas terhadap
berbagai rangsangan.
1
Definisi di atas sehari-hari sukar diterapkan. Untuk itu Unit Kerja
Koordinasi (UKK) Pulmonologi PP IDAI merumuskan definisi
asma sebagai batuk dan/atau mengi berulang dengan karakteristik
timbul secara episodik, cenderung malam hari/dini hari (nokturnal),
musiman, setelah aktifitas fisik, serta adanya riwayat asma atau
atopi lain pada pasien atau keluarganya.
2
Diagnosis asma sebenarnya tidak sulit. Pasien umumnya mem-
punyai riwayat serangan yang berulang dan kadang-kadang
hilang secara spontan. Apabila pasien tidak dalam serangan,
pemeriksaan fisik, spirometri dan foto toraks dapat normal
walaupun anamnesis mencurigakan adanya asma. Dalam hal/
keadaan ini perlu dilakukan uji provokasi bronkus.
Uji provokasi bronkus bertujuan untuk mengetahui ada/tidaknya
hipereaktivitas bronkus, suatu kelainan yang mendasari asma.
4,5
Diketahui ada beberapa macam uji provokasi bronkus berdasar-
kan jenis rangsangan dan cara pemberiannya. Cara yang telah
diketahui dan digunakan secara umum adalah menggunakan
histamin dan metakolin serta uji beban kerja; sedangkan cara
lain adalah dengan inhalasi salin hipertonis yang akhir-akhir ini
makin diminati.
4,6,7
Penelitian ini mengenai uji provokasi bronkus dengan inhalasi
salin hipertonis untuk dibandingkan sensitivitas dan spesifisitas-
nya terhadap uji menggunakan histamin.
Uji Provokasi Bronkus dengan
Salin Hipertonis
Bambang Supriyatno, Nastiti N. Rahajoe
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta
ABSTRAK
Prevalensi asma makin meningkat baik di negara maju maupun negara berkembang seperti Indonesia. Diagnosis asma
berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan penunjang baku menggunakan uji provokasi dengan histamin atau metakolin.
Mengingat histamin sulit didapat, maka dicari beberapa alternatif antara lain menggunakan salin hipertonis (NaCl 4,5%).
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan sensitivitas dan spesifisitas uji provokasi salin hipertonis dibandingkan
dengan histamin. Metodologi yang digunakan adalah desain uji diagnostik membandingkan uji provokasi salin hipertonis
dengan histamin. Pasien yang telah didiagnosis asma berdasarkan kriteria Konsesus Nasional Penanganan Asma Anak
manjalani uji provokasi dengan salin hipertonis atau dengan histamin; 30 pasien dengan salin hipertonik dan 22 pasien
dengan histamin. Didapatkan bahwa usia terbanyak adalah 9 tahun dengan perbandingan lelaki dan perempuan adalah
3:1. Yang terbanyak menderita asma episodik jarang (70,0%). 70,0% dengan riwayat atopi pada keluarga sedangkan
atopi pada pasien 66,7%. Uji provokasi bronkus dengan salin hipertonis menghasilkan 53,3% positif, sedangkan uji provo-
kasi dengan histamin 68,2% positif. Berdasarkan derajat asma didapatkan bahwa pada asma episodik jarang 9/21(42,9) %
positif terhadap salin hipertonis dan 9/15(60) % positif terhadap histamin. Sedangkan pada asma episodik sering masing-
masing 7/9(77,8) % dan 6/7(85,7)% positif terhadap salin hipertonis dan histamin. Berdasarkan hasil di atas didapatkan
sensitivitas 86,7% dan spesifisitas 85,7% dengan nilai prediktif positif 92,9% dan nilai prediktif negatif 75,0%. Uji provo-
kasi bronkus menggunakan salin hipertonis dapat digunakan sebagai alternatif untuk diagnosis asma dengan nilai sensitivi-
tas dan spesifisitas masing-masing 86,7% dan 85,7%.
Kata kunci: asma, uji provokasi bronkus, salin hipertonik
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
397
METODOLOGI
Desain penelitian ini adalah untuk membandingkan suatu perangkat
diagnostik dengan baku emas; dalam hal ini uji provokasi dengan
salin hipertonik dibandingkan dengan uji menggunakan histamin.
Penelitian dilakukan di Subbagian Pulmonologi Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FKUI-RSCM sejak November 2000 - November
2001. Setiap pasien asma yang berobat di Poliklinik Pulmonologi
Anak dan berusia di atas 6 tahun menjalani uji provokasi
dengan salin hipertonik dan dengan histamin. Kriteria inklusi
adalah pasien sudah didiagnosis asma berdasarkan Konsensus
Nasional penanganan asma anak, berusia di atas 6 tahun dan
dapat melakukan uji fungsi paru dengan baik dan benar, ber-
sedia mengikuti penelitian dengan mengisi informed consent,
tidak menggunakan natrium kromoglikat, nedokromil, bronko-
dilator kerja cepat atau ipatropium bromida dalam 6 jam
sebelum provokasi, tidak menggunakan bronkodilator lepas
lambat dalam 12 jam sebelum provokasi dan dapat menggu-
nakan spirometer dengan baik. Kriteria eksklusi adalah apabila
nilai FEV1 kurang dari 65%. Uji provokasi salin hipertonik
menggunakan larutan NaCl 4,5% produksi Otsuka, dilakukan
sesuai dengan cara Anderson.
Uji provokasi
Menggunakan nebulizer ultrasonik dengan kecepatan antara
1,5 - 2 ml per menit. Canister diisi dengan 200 ml larutan salin
4,5%, bila berkurang harus diisi kembali agar volumenya tidak
kurang dari 150 ml, canister dihubungkan dengan nebulizer.
Sebelum uji dilakukan canister, tabung aerosol serta penutupnya
ditimbang.
Diberikan pemaparan awal memakai nebulizer ultrasonik selama
30 detik, semenit kemudian dilakukan pemeriksaan FEV1
sebanyak 2 atau 3 kali. Provokasi berikutnya 3 menit setelah
yang pertama. Jika FEV1 menurun sebesar < 20%, maka waktu
paparan ditingkatkan 2 kali lipat. Jika FEV1 menurun 20%
atau setelah pemberian 23 ml salin hipertonis maka provokasi
dihentikan. Periode inhalasi adalah 30 detik, 1 menit, 2 menit, 4
menit dan 8 menit. Setelah uji dilakukan, canister, tabung
aerosol serta penutupnya ditimbang.
Uji provokasi dikatakan positif jika terjadi penurunan FEV1 >
20% nilai prediksi; dikatakan negatif apabila setelah paparan
inhalasi selama 8 menit selama proses tidak terjadi penurunan
FEV1 20% nilai prediksi. Hasilnya dicatat menggunakan
formulir yang telah disediakan. Selain pencatatan uji provokasi,
juga dilakukan penelusuran anamnesis dan pemeriksaan yang
sudah pernah dijalani.
Tanpa mengetahui hasil uji provokasi salin hipertonik sebelum-
nya, minimal 2 minggu kemudian pasien menjalani uji provo-
kasi dengan histamin dengan cara standar. Dikatakan positif
apabila selama proses provokasi terjadi penurunan FEV1 20%
dibanding prediksi. Dikatakan negatif apabila selama proses
provokasi berlangsung tidak terjadi penurunan FEV1 20%
nilai prediksi atau setelah pemberian histamin dosis 8 mg/ml.
HASIL
Karakteristik pasien
Terdapat 22 anak lelaki dan 8 anak perempuan dengan per-
bandingan 3:1. Usia berkisar antara 7 - 15 tahun dengan usia
terbanyak 9 tahun. Asma yang terutama adalah asma episodik
jarang (70,0%), tidak dijumpai asma persisten. Riwayat atopi
keluarga didapatkan pada 70,0%, sedangkan atopi pasien 66,7%.
Gejala yang selalu ada adalah batuk, sedangkan wheezing hanya
dijumpai pada 36,7% pasien asma. Sebagian besar pasien tidak
terganggu baik aktivitas maupun tidurnya (80,0%). Paparan
terhadap rokok dijumpai pada 26,7%, sedangkan kapuk 50%,
obat nyamuk 56,7%, bulu binatang 40,0%. Peningkatan IgE
dan eosinofil total masing-masing dijumpai pada 70,0% dan
73,3% pasien asma. Uji kulit dilakukan pada 20 pasien dengan
hasil uji positif pada 15/20 (75)% pasien, terutama (90%) positif
terhadap tungau debu rumah.
Tabel 1. Karakteristik pasien
Umur (tahun):
· 6-<9
· 9-<12
· 12-<15
· >15
Klasifikasi asma:
· AEJ
· AES
· Persisten
14(63,6)
8(36,4)
0(0,0)
7(87,5)
1(12,5)
0(0,0)
Atopi pasien
· Positif
· Negatif
15(68,1)
7(31,9)
5(62,5)
3(37,5)
Atopi keluarga
· Positif
· Negatif
16(72,7)
6(27,3)
5(62,5)
3(37,5)
3(13,7)
8(36,3)
8(36,3)
3(13,7)
0(0,0)
5(62,5)
2(25,0)
1(12,5)
Jumlah
Lelaki
n(%)
Perempuan
n(%)
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
396
PENDAHULUAN
Asma didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran
nafas dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast,
eosinofil dan limfosit T. Pada orang yang rentan inflamasi ini
menyebabkan episode mengi berulang, sesak nafas, sempit
dada dan batuk khususnya pada malam atau dini hari. Gejala ini
biasanya berhubungan dengan penyempitan jalan nafas yang
luas namun bervariasi, yang paling tidak sebagian bersifat
reversibel baik spontan maupun dengan pengobatan. Inflamasi
ini juga berhubungan dengan hipereaktivitas jalan nafas terhadap
berbagai rangsangan.
1
Definisi di atas sehari-hari sukar diterapkan. Untuk itu Unit Kerja
Koordinasi (UKK) Pulmonologi PP IDAI merumuskan definisi
asma sebagai batuk dan/atau mengi berulang dengan karakteristik
timbul secara episodik, cenderung malam hari/dini hari (nokturnal),
musiman, setelah aktifitas fisik, serta adanya riwayat asma atau
atopi lain pada pasien atau keluarganya.
2
Diagnosis asma sebenarnya tidak sulit. Pasien umumnya mem-
punyai riwayat serangan yang berulang dan kadang-kadang
hilang secara spontan. Apabila pasien tidak dalam serangan,
pemeriksaan fisik, spirometri dan foto toraks dapat normal
walaupun anamnesis mencurigakan adanya asma. Dalam hal/
keadaan ini perlu dilakukan uji provokasi bronkus.
Uji provokasi bronkus bertujuan untuk mengetahui ada/tidaknya
hipereaktivitas bronkus, suatu kelainan yang mendasari asma.
4,5
Diketahui ada beberapa macam uji provokasi bronkus berdasar-
kan jenis rangsangan dan cara pemberiannya. Cara yang telah
diketahui dan digunakan secara umum adalah menggunakan
histamin dan metakolin serta uji beban kerja; sedangkan cara
lain adalah dengan inhalasi salin hipertonis yang akhir-akhir ini
makin diminati.
4,6,7
Penelitian ini mengenai uji provokasi bronkus dengan inhalasi
salin hipertonis untuk dibandingkan sensitivitas dan spesifisitas-
nya terhadap uji menggunakan histamin.
Uji Provokasi Bronkus dengan
Salin Hipertonis
Bambang Supriyatno, Nastiti N. Rahajoe
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta
ABSTRAK
Prevalensi asma makin meningkat baik di negara maju maupun negara berkembang seperti Indonesia. Diagnosis asma
berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan penunjang baku menggunakan uji provokasi dengan histamin atau metakolin.
Mengingat histamin sulit didapat, maka dicari beberapa alternatif antara lain menggunakan salin hipertonis (NaCl 4,5%).
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan sensitivitas dan spesifisitas uji provokasi salin hipertonis dibandingkan
dengan histamin. Metodologi yang digunakan adalah desain uji diagnostik membandingkan uji provokasi salin hipertonis
dengan histamin. Pasien yang telah didiagnosis asma berdasarkan kriteria Konsesus Nasional Penanganan Asma Anak
manjalani uji provokasi dengan salin hipertonis atau dengan histamin; 30 pasien dengan salin hipertonik dan 22 pasien
dengan histamin. Didapatkan bahwa usia terbanyak adalah 9 tahun dengan perbandingan lelaki dan perempuan adalah
3:1. Yang terbanyak menderita asma episodik jarang (70,0%). 70,0% dengan riwayat atopi pada keluarga sedangkan
atopi pada pasien 66,7%. Uji provokasi bronkus dengan salin hipertonis menghasilkan 53,3% positif, sedangkan uji provo-
kasi dengan histamin 68,2% positif. Berdasarkan derajat asma didapatkan bahwa pada asma episodik jarang 9/21(42,9) %
positif terhadap salin hipertonis dan 9/15(60) % positif terhadap histamin. Sedangkan pada asma episodik sering masing-
masing 7/9(77,8) % dan 6/7(85,7)% positif terhadap salin hipertonis dan histamin. Berdasarkan hasil di atas didapatkan
sensitivitas 86,7% dan spesifisitas 85,7% dengan nilai prediktif positif 92,9% dan nilai prediktif negatif 75,0%. Uji provo-
kasi bronkus menggunakan salin hipertonis dapat digunakan sebagai alternatif untuk diagnosis asma dengan nilai sensitivi-
tas dan spesifisitas masing-masing 86,7% dan 85,7%.
Kata kunci: asma, uji provokasi bronkus, salin hipertonik
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
397
METODOLOGI
Desain penelitian ini adalah untuk membandingkan suatu perangkat
diagnostik dengan baku emas; dalam hal ini uji provokasi dengan
salin hipertonik dibandingkan dengan uji menggunakan histamin.
Penelitian dilakukan di Subbagian Pulmonologi Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FKUI-RSCM sejak November 2000 - November
2001. Setiap pasien asma yang berobat di Poliklinik Pulmonologi
Anak dan berusia di atas 6 tahun menjalani uji provokasi
dengan salin hipertonik dan dengan histamin. Kriteria inklusi
adalah pasien sudah didiagnosis asma berdasarkan Konsensus
Nasional penanganan asma anak, berusia di atas 6 tahun dan
dapat melakukan uji fungsi paru dengan baik dan benar, ber-
sedia mengikuti penelitian dengan mengisi informed consent,
tidak menggunakan natrium kromoglikat, nedokromil, bronko-
dilator kerja cepat atau ipatropium bromida dalam 6 jam
sebelum provokasi, tidak menggunakan bronkodilator lepas
lambat dalam 12 jam sebelum provokasi dan dapat menggu-
nakan spirometer dengan baik. Kriteria eksklusi adalah apabila
nilai FEV1 kurang dari 65%. Uji provokasi salin hipertonik
menggunakan larutan NaCl 4,5% produksi Otsuka, dilakukan
sesuai dengan cara Anderson.
Uji provokasi
Menggunakan nebulizer ultrasonik dengan kecepatan antara
1,5 - 2 ml per menit. Canister diisi dengan 200 ml larutan salin
4,5%, bila berkurang harus diisi kembali agar volumenya tidak
kurang dari 150 ml, canister dihubungkan dengan nebulizer.
Sebelum uji dilakukan canister, tabung aerosol serta penutupnya
ditimbang.
Diberikan pemaparan awal memakai nebulizer ultrasonik selama
30 detik, semenit kemudian dilakukan pemeriksaan FEV1
sebanyak 2 atau 3 kali. Provokasi berikutnya 3 menit setelah
yang pertama. Jika FEV1 menurun sebesar < 20%, maka waktu
paparan ditingkatkan 2 kali lipat. Jika FEV1 menurun 20%
atau setelah pemberian 23 ml salin hipertonis maka provokasi
dihentikan. Periode inhalasi adalah 30 detik, 1 menit, 2 menit, 4
menit dan 8 menit. Setelah uji dilakukan, canister, tabung
aerosol serta penutupnya ditimbang.
Uji provokasi dikatakan positif jika terjadi penurunan FEV1 >
20% nilai prediksi; dikatakan negatif apabila setelah paparan
inhalasi selama 8 menit selama proses tidak terjadi penurunan
FEV1 20% nilai prediksi. Hasilnya dicatat menggunakan
formulir yang telah disediakan. Selain pencatatan uji provokasi,
juga dilakukan penelusuran anamnesis dan pemeriksaan yang
sudah pernah dijalani.
Tanpa mengetahui hasil uji provokasi salin hipertonik sebelum-
nya, minimal 2 minggu kemudian pasien menjalani uji provo-
kasi dengan histamin dengan cara standar. Dikatakan positif
apabila selama proses provokasi terjadi penurunan FEV1 20%
dibanding prediksi. Dikatakan negatif apabila selama proses
provokasi berlangsung tidak terjadi penurunan FEV1 20%
nilai prediksi atau setelah pemberian histamin dosis 8 mg/ml.
HASIL
Karakteristik pasien
Terdapat 22 anak lelaki dan 8 anak perempuan dengan per-
bandingan 3:1. Usia berkisar antara 7 - 15 tahun dengan usia
terbanyak 9 tahun. Asma yang terutama adalah asma episodik
jarang (70,0%), tidak dijumpai asma persisten. Riwayat atopi
keluarga didapatkan pada 70,0%, sedangkan atopi pasien 66,7%.
Gejala yang selalu ada adalah batuk, sedangkan wheezing hanya
dijumpai pada 36,7% pasien asma. Sebagian besar pasien tidak
terganggu baik aktivitas maupun tidurnya (80,0%). Paparan
terhadap rokok dijumpai pada 26,7%, sedangkan kapuk 50%,
obat nyamuk 56,7%, bulu binatang 40,0%. Peningkatan IgE
dan eosinofil total masing-masing dijumpai pada 70,0% dan
73,3% pasien asma. Uji kulit dilakukan pada 20 pasien dengan
hasil uji positif pada 15/20 (75)% pasien, terutama (90%) positif
terhadap tungau debu rumah.
Tabel 1. Karakteristik pasien
Umur (tahun):
· 6-<9
· 9-<12
· 12-<15
· >15
Klasifikasi asma:
· AEJ
· AES
· Persisten
14(63,6)
8(36,4)
0(0,0)
7(87,5)
1(12,5)
0(0,0)
Atopi pasien
· Positif
· Negatif
15(68,1)
7(31,9)
5(62,5)
3(37,5)
Atopi keluarga
· Positif
· Negatif
16(72,7)
6(27,3)
5(62,5)
3(37,5)
3(13,7)
8(36,3)
8(36,3)
3(13,7)
0(0,0)
5(62,5)
2(25,0)
1(12,5)
Jumlah
Lelaki
n(%)
Perempuan
n(%)
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
399
Hasil positif uji provokasi dengan salin hipertonik dijumpai pada
16/30(53,3)% pasien sedangkan pada provokasi dengan
histamin dijumpai pada 15/22(68,2)% pasien. Apabila dirinci
lebih jauh ternyata pada asma episodik jarang dijumpai positif
pada 9/21(42,9)% pasien, sedangkan pada asma episodik
sering pada 7/9(77,9)% pasien (tabel 2). Pada penelitian ini
hanya 22 pasien saja yang diuji provokasi dengan histamin
karena keterbatasan bahan uji.
Tabel 2. Sebaran provokasi dengan salin hipertonik berdasarkan derajat asma
Terdapat 13 pasien yang positif terhadap keduanya (tabel 3).
Tabel 3. Hubungan antara provokasi salin hipertonik dengan provokasi histamin
DISKUSI
Karakteristik pasien
Pada penelitian ini didapatkan perbandingan antara lelaki dan
perempuan adalah 3:1. Hal ini sesuai dengan beberapa peneli-
tian yang mendapatkan bahwa pada asma anak sampai usia
pubertas, lelaki lebih banyak dijumpai. Perbedaan ini sampai
saat ini belum dapat diterangkan, namun diduga karena kaliber
atau ukuran saluran napas pada anak lelaki sampai usia ter-
sebut lebih kecil dibandingkan perempuan.
8
Usia pasien pada penelitian ini di atas 7 tahun mengingat anak
usia di bawah 7 tahun belum dapat menjalani pemeriksaan uji
fungsi paru dengan benar. Kanengiser
9
dan Crenesse,
10
men-
dapatkan data bahwa pemeriksaan spirometri atau uji fungsi
paru pada anak 3-5 tahun harus hati-hati diinterpretasi.
Gejala yang selalu ada adalah batuk dan 36,7 % pasien pernah
mengalami wheezing. Hal ini sesuai dengan definisi asma ber-
dasarkan Konsensus Nasional Penanganan Asma Anak,
2
mau-
pun konsensus internasional.
11
Entri atau gejala awal yang harus
diwaspadai adalah batuk dan atau mengi. Batuknya bersifat
episodik (berulang), terutama pada malam hari, dan kadang-
kadang dapat sembuh dengan atau tanpa pengobatan.
Gangguan tidur maupun aktifitas sehari-hari yang kadang-kadang
saja dapat sesuai dengan diagnosis asma. Sebagian besar asma pada
penelitian ini adalah asma episodik jarang (70,0%), tidak dijumpai
asma persisten. Pada asma episodik jarang biasanya memang tidak
dijumpai gangguan tidur maupun aktifitas sehari-hari.
1,2,11
Peran paparan terhadap rokok, kapuk, obat nyamuk dan bulu
binatang sesuai dengan kepustakaan; hal di atas merupakan
alergen yang sering mencetuskan serangan asma. Tungau debu
rumah merupakan alergen yang tersering. Di antara hasil uji kulit
yang positif ternyata 90,0% positif terhadap tungau debu rumah.
Atopi keluarga merupakan faktor yang penting untuk terjadinya
asma, demikian pula atopi pada pasien itu sendiri. Atopi pada
pasien terutama berupa urtikaria dan rinitis. Hal ini sesuai ke-
pustakaan
8,12
. Kadar Ig E dan eosinofil meningkat pada 70,0%
dan 73,3% pasien. Sebenarnya peningkatan eosinofil total dan
IgE bukan lagi merupakan patokan karena beberapa produk
eosinofi seperti ECP dan EDN diketahui lebih spesifik. Sayangnya
pemeriksaan tersebut belum dapat dilakukan di Indonesia, sehingga
secara kasar peningkatan eosinofil total dapat digunakan, meskipun
tidak berbanding lurus dengan peningkatan ECP maupun EDN.
13
Pada anak di atas 5 tahun biasanya dilakukan uji kulit terhadap
beberapa alergen sebagai kelengkapan pembuktian adanya atopi
pada pasien.
12
meskipun tidak selalu sesuai dengan kenyataan
karena struktur kulit berbeda dengan keadaan saluran nafas.
Pada penelitian ini didapatkan 75,0% uji kulitnya positif yang
identik dengan adanya atopi pada pasien.
Sebagian besar pasien pada penelitian ini adalah asma episodik
jarang, sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa
70-75% asma adalah asma episodik jarang. Adanya asma yang
menetap sampai usia 7 tahun mungkin karena beberapa faktor
yang berperan seperti awitan yang dini, seringnya paparan
terhadap alergen, faktor atopi, dan adanya penyakit penyerta
seperti sinusitis. Untuk itu perlu penelitian lebih lanjut.
8,14
Sensitivitas : 13/15 (86,7%)
Spesifisitas : 6/7 (85,7%)
PPV :
13/14
(92,9%)
NPV :
6/8
(75,0%)
AEJ
9(42,9)
12(57,1)
9(60,0)
6(40,0)
AES
7(77,8)
2(22,2)
6(85,7)
1(14,3)
Asma
persisten
0(0,0)
0(0,0)
0(0,0)
0(0,0)
Salin hipertonik (n=30)
Histamin (n=22)
Positif (%)
Negatif (%)
Positif (%)
Negatif (%)
Salin
Positif
13
14
hipertonik
Negatif
2
8
Total
15
1
6
7
22
Histamin
Positif
Negatif
Total
H A S I L P E N E L I T I A N
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
400
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
401
Hubungan salin hipertonik dan histamin
Diagnosis asma pada anak yang berusia di bawah 5 tahun agak
sulit meskipun kadang-kadang gejalanya sangat jelas. Pada anak di
atas 5 tahun, biasanya lebih mudah apabila terdapat fasilitas
spirometri untuk uji fungsi paru dan uji provokasi. Uji provokasi
dapat dilakukan dengan zat farmakologis seperti histamin dan
metakolin atau cara lain non farmakologis seperti beban kerja,
udara dingin, dan salin hipertonik.
15-17
Uji provokasi dengan histamin atau metakolin dianggap sebagai
baku emas untuk diagnosis asma; tetapi mengingat histamin
dan metakolin sulit didapat dan mungkin dilarang, beberapa
ahli mencoba dengan salin hipertonik
4
. Dasar penggunaan salin
hipertonik adalah bahwa keadaan hiperosmoler saluran nafas
dapat mengakibatkan terjadinya bronkokonstriksi. Mekanisme
tersebut di atas telah diketahui sebagai penyebab asma yang
terinduksi oleh latihan (exercise induced asthma/EIA); selama
hiperventilasi terjadi kehilangan cairan di jalan nafas sehingga
mengakibatkan hiperosmolaritas airway lining fluid yang bisa
berperan sebagai stimulus terjadinya bronkokonstriksi.
7,18,19
Mekanisme yang tepat mengapa rangsangan hiperosmoler akan
menyebabkan bronkokonstriksi masih belum jelas; diduga karena
hiperosmolaritas memprovokasi pelepasan mediator dari sel mast
mukosa yang mengakibatkan bronkokonstriksi. Selain itu rusaknya
epithelial tight junction akibat perbedaan gradien osmotik akan
mengakibatkan terpaparnya ujung-ujung saraf sensoris di jalan
nafas yang akan menginduksi terjadinya refleks bronkokonstriksi.
20
Hipotesis di atas didukung oleh penelitian-penelitian in vitro yang
memperlihatkan adanya pelepasan histamin dari sel mast akibat
pemberian salin hipertonis, dan bronkokonstriksi yang diinduksi
oleh salin hipertonis ini dapat dihambat dengan pemberian
obat-obat yang menstabilkan sel mast seperti sodium kromoglikat
dan terfenadin.
21
Histamin ini dapat secara langsung menyebabkan
bronkokonstriksi maupun secara tidak langsung menyebabkan
refleks bronkokonstriksi melalui nervus vagus.
16
Pada penelitian
ini didapatkan sensitivitas 86,7% dan spesifisitas 85,7%. Hal ini
sesuai dengan kepustakaan yang mendapatkan sensitifitas
72-85%, sedangkan spesifisitas 85-100%. Dengan hasil tersebut
maka tampaknya uji provokasi salin hipertonik dapat dilakukan
sebagai alternatif untuk diagnostik asma. Bila ditelusuri lebih jauh, uji
provokasi dengan salin hipertonik yang negatif ternyata sebagian
besar pada asma episodik jarang. Hal ini sesuai dengan kepusta-
kaan bahwa salah satu kelemahan uji provokasi salin hipertonik
adalah kurang sensitif terhadap asma episodik jarang.
22
Hasil uji provokasi dengan histamin dapat dibagi menjadi ringan,
dan berat berdasarkan PC20 (konsentrasi histamin yang dibutuh-
kan untuk menurunkan nilai FEV1 sebanyak 20 persen) yaitu
kurang dari 2 mg/ml disebut berat sedangkan di atas 2 mg/ml
dianggap ringan. Pada uji provokasi dengan salin hipertonik belum
ada patokan serupa.
16
PENDAHULUAN
Gastrooesphageal Reflux Diseases (GERD) adalah penyakit yang
didapatkan pada 60% penderita asma bronkial.
(1)
Gejala GERD
disebabkan oleh aliran balik asam lambung dan isi lambung
lainnya ke esophagus akibat inkompetensi sawar/barrier pada
batas (junction) esophagus dan lambung. GERD dapat menye-
babkan gejala ekstra esofageal yang sering luput dari perhatian.
Asma bronkial adalah penyakit inflamasi kronik saluran napas
dengan banyak sel dan elemen seluler yang memegang peranan
penting terutama mastosit, eosinofil, T limfosit, makrofag, netrofil
dan epitel; inflamasi ini menyebabkan episode mengi, sesak napas,
dada terasa penuh, batuk, terutama pada malam atau pagi hari.
Episode ini biasanya berhubungan dengan obstruksi saluran
pernapasan yang bisa berubah dengan atau tanpa pengobatan
(spontan). Inflamasi ini menyebabkan hipersensitifitas bronkus
terhadap berbagai stimulasi. Bukti terakhir menyatakan adanya
fibrosis
'
subbasement
'
pada beberapa pasien asma dan ini
memberi kontribusi pada kelainan faal paru yang persisten.
PATOFISIOLOGI
Pada keadaan normal terdapat mekanisme anti refluks lower
esophageal sphincter yang terdiri dari otot sphincter esofagus
bagian bawah (LES) diafragma dan dari lokasi anatomis/batas
gastroesofageal di bawah hiatus diafragma. Refluks biasanya
terjadi jika perbedaan tekanan antara LES dan laring tidak ada
lagi (hilang); hal ini dapat disebabkan oleh menurunnya kekuatan
otot LES yang kadang-kadang tak diketahui sebabnya.
Asma bronkial GERD dapat menyebabkan gangguan traktus
respiratorius, jantung dan otot laring melalui tiga mekanisme
utama :
Refluks gastroesofageal dengan atau tanpa aspirasi dapat
menyebabkan reaksi inflamasi (teori Crausz refluks).
Stimulasi pada refleks esofagopulmonaris/esofagolaringeal;
refleks dari esofagus bagian distal menstimulasi refluks vagal
yang menyebabkan bronkhokonstriksi (reflux theory).
Mekanisme lain adalah refluks esofagobronkhial: asam dari
esofagus dapat menstimulasi reseptor asam yang sensitif di
saluran napas bagian atas, menimbulkan bronkhospasme.
Mekanisme lain yang memegang peranan adalah reflux
esofagobronkhial. Mekanisme ini untuk mencegah reflux ke
larings-farings, dapat menyerupai gejala ekstraesofageal
sama seperti yang ditemukan pada GERD.
Asam di esofagus bagian bawah akan merangsang reseptor
asam yang sensitif, menimbulkan reaksi saraf bagian atas.
Saat ini banyak hal belum diketahui apakah serabut aferen
pada manusia dapat menyebabkan nyeri dada, batuk dan
asma. Teori ini didukung oleh studi pemberian sedikit asam
ke dalam traktus respiratorius akan menyebabkan spasme
bronkhus.
Menurut Gastal refluks ke dalam esofagus distal (GERD)
sering ditemukan pada asma bronkial dan batuk kronik,
dapat menyebabkan spasme bronkial; tetapi jika asam
tersebut mengenai esofagus bagian proximial dapat menye-
babkan nyeri dada.
Sebab lain GERD adalah inkompetensi LES dengan obstruksi
intestinal kronik, pseudo obstruksi, kehamilan, merokok,
obat-obat anti kolinergik, obat relaksan otot polos (beta
adrenergik) aminofilin, nitrat, calcium channel blocker,
inhibitor fosfodiesterase yang meningkatkan siklus cAMP,
siklus GMP (sildenafil), operasi yang merusak LES, esofagitis
atau kontraksi esofagus karena tonus reflex vagal akibat
berkurangnya relaksasi LES oleh distensi lambung. Pening-
katan tonus LES berhubungan dengan GERD. Refleks yang
sama bila terjadi kembung; selain inkompetensi batas (barrier),
mudah terjadi refluks isi lambung.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Asma Bronkial -
Asma Bronkial -
Hubungannya dengan GERD
Hubungannya dengan GERD
A. Dina Abidin H. Mahdi
A. Dina Abidin H. Mahdi
Sub Bagian Alergi - lmunologi - Bagian llmu Penyakit Dalam RSUPN Dr. Cipto Mangunkusurno Jakarta
Sub Bagian Alergi - lmunologi - Bagian llmu Penyakit Dalam RSUPN Dr. Cipto Mangunkusurno Jakarta
Asma Bronkial -
Hubungannya dengan GERD
A. Dina Abidin H. Mahdi
Sub Bagian Alergi - lmunologi - Bagian llmu Penyakit Dalam RSUPN Dr. Cipto Mangunkusurno Jakarta
SIMPULAN
Uji provokasi bronkus dengan salin hipertonis 4,5 % meru-
pakan uji yang mudah dilakukan, mudah didapat, aman, cepat,
dapat diulang, mudah diterima oleh subyek dan memberikan
hasil yang sama atau tidak jauh berbeda dengan uji provokasi
yang sudah lebih dahulu sering dilakukan.
Berdasarkan hasil penelitian ini, uji provokasi dengan salin hiper-
tonik dapat digunakan sebagai alternatif untuk diagnosis asma
dengan sensitivitas 86,7% dan spesifisitas 85,7%. Disarankan
untuk melakukan penelitian yang sama dengan jumlah sampel
yang lebih besar.
DAFTAR PUSTAKA
Taking a new look at asthma. Disampaikan pada Global strategy for athma manage-
ment and prevention NHLBI/WHO Workshop: Asthma management and prevention, Global
initiative for asthma.
Unit Kerja Koordinasi (UKK) Pulmonologi PPIDAI Indonesia. Tinjauan ulang konsensus nasional
penanganan asma pada anak. Disampaikan pada Konsensus nasional asma UKK
Pulmonologi IDAI, Bandung, Desember 1998.
Nishimura H, Mochizuki H, Tokuyama K, Morikawa A. Relationship between bronchial
hyperresponsiveness and development of asthma in children with chronic cough. Pediatr
Pulmonol 2001; 31:412-8.
Araki H, Sly PD. Inhalation of hypertonic salines as a bronchial challenge in children with mild
asthma and normal children. J Allergy Clin Immunol 1989; 84:99-107.
Spector SL. Bronchial provocation test. Weiss EB, Stein M, penyunting. Bronchial asthma:
Mechanism and therapeutics; edisi ke-3. Little, Brown; 501-12
Riedler J, Reade T, Dalton M dkk. Hypertonic saline challenge in an epidemiologic survey of
asthma in children. Am J Respir Crit Med 1994; 150:1632-9.
Smith CM, Anderson SD. Inhalational challenge using hypertonic saline in asthmatic subjects:
a comparison with responses to hyperpnoea, metacholine and water. Eur Respir J 1990:
3:144-51.
Martinez FD. Risk factors for the development of asthma. Dalam: Naspitz CK, Szefler SJ,
Tinkelman DG, Warner JO, penyunting. Textbook of Pediatric Asthma. London: Martin
Dunitz; 2001. h.62-82.
Kanengiser S, Dozor AJ. Forced expiratory maneuvers in children aged 3 to 5 years. Pediatr
Pulmonol 1994; 18:144-9.
Crenesse D, Berlioz M, Bourrier T, Albertini M. Spirometry in children aged 3 to 5 years:
Reliability of forced expiratory maneuvers. Pediatr Pulmonol 2001; 32:56-61.
Warner JO, Naspitz CK, Cropp GJA. Third international pediatric consensus statement on the
management of childhood asthma. Pediatr Pulmonol 1996; 25:1-17.
Woolcock A, Keena V, Peat J. Definition, classification, epidemiology and risk factors. Dalam:
O
,
Byrne PM, Thomson NC, penyunting. Manual of asthma management, edisi ke-2. London:
WB Saunders, 2001.h.3-18.
Reijonen TM, Korppi M, Kuikka L, Savolainen K, Kleemola M, Mononen I, et al. Serum
eosinophil cationic protein as a predictor of wheezing after bronchiolitis. Pediatr Pulmonol
1997; 23:397-403.
Warner JO. Prediction and prevention of asthma. Dalam: Naspitz CK, Szefler SJ, Tinkelman
DG, Warner JO, penyunting. Textbook of Pediatric Asthma. London: Martin Dunitz; 2001.
h.359-76.
Schoor JV, Joos GF, Pauwels RA. Indirect bronchial hyperresponsiveness in asthma:
mechanisms, pharmacology and implications for clinical research. Eur Respir J 2000; 16:514-33.
American Thoracic Society. Guidelines for methacoline and exercise challenge testing-1999.
Am J Respir Crit Care Med 2000; 161:309-29.
Avital A, Godfrey S, Springer C. Exercise, methacoline, and adenosine 5"-monophosphate
challenges in children with asthma: Relation to severity of the disease. Pediatr Pulmonol 2000;
30:207-14.
Anderson SD, Robertson CF, Riedler J. The use of hypertonic saline aerosol for evaluating
bronchial hyperresponsiveness for paediatric epidemiological studies. New York. 1994:1-13.
Marker HK, Walls AF, Goulding D dkk. Airway effects of local challenge with hypertonic saline
in exercise-induced asthma. Am J Respir Crit Med 1994; 149:1012-9
Strauch E, Neupert T, Ihorst G, Vans Gravesande KS, Bohnet W, Hoeldke B, et al. Bronchial
hyperresponsiveness to 4,5% hypertonic saline indicates a past history of asthma-like
symptoms in children. Pediatr Pulmonol 2001; 31:44-50.
Silber G, Proud D, Warner J dkk. In vivo release of inflammatory mediators by hyperosmoler
solutions. Am rev respir Dis 1988;137:606-12.
Riedler J, Gamper A, Eder W dkk. Prevalence of bronchial hyperresponsiveness to 4,5% saline
and relation to asthma and allergy symptoms in Austrian children. Eur Respir J 1998; 11:355-60.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.